Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 82 : NYIDAM MENYEWA WAHANA PERMAINAN


__ADS_3

Ketika Emma pulang ke rumah, dia merasa heran pada lampu ruang tamu yang menyala. Masuk lebih dalam ke ruang tengah, juga lampu besar menyala terang benderang, seolah ada tamu datang.


"Ada tamukah, Bi?" tanya Emma curiga.


"Tuan Paolo kedatangan Tuan Sean, Non."


Mendengar kabar itu, Emma langsung ke ruang kerja Paolo. Dia menempelkan telinga ke pintu coklat. Suara musik hip-hop menyamarkan percakapan mereka.


Suara berdecit gagang pintu, membuat Emma terkejut dan tak siap. Emma pun kehilangan keseimbangan hingga miring ke kanan dan melayang. "Ahhhgghh!"


Emma pikir akan membentur lantai. Dia membuka mata saat musik berhenti dan merasakan kehangatan di dada. Emma mengumpulkan fokusnya. Aroma parfum Sean membuat dia baru sadar, bahwa tubuhnya kini berada di pelukan Sean. "Kak .... "


“Emma, kau …. “ Sean menelan saliva dan mendorong bahu Emma hingga wanita itu berdiri.


“Ah! Aku baru, mau masuk!” Emma jadi salah tingkah. dan merapikan rambutnya.


“Kau tak sedang menguping, kan?” tanya Paolo karena tahu kebiasaan Emma yang suka menguping.


“Enak saja! Siapa yang menguping.” Emma menunduk dengan jantung berdebar, lalu menatap Sean dengan wajah menghangat karena malu. “Kak Sean, mau kemana?”


“Ini mau ke bawah. Ambil jus jeruk.”


“Biar aku saja!” Emma mendorong pinggang Sean hingga masuk ke ruangan. “Kakak di sini saja!”


Sean mengelus hidung dan menatap kepergian Emma. Dua sudut bibirnya terangkat penuh hingga membentuk senyuman. Apa benar yang dikatakan Niko bahwa .... Emma menyukaiku ?


“Malam ini menginap saja di kamarku,” kata Paolo dengan wajah serius. Jemarinya begitu piawai dengan keyboard, jadi meski tak melihat langsung, dia sudah hafal tata letak huruf itu, diluar kepala. “Bantu aku mengidentifikasi daftar orang-orang ini.”


Sean duduk di kursi samping Paolo dengan mata terpukau pada kemahiran Paolo. “Tapi aku pulang subuh, ada kerjaan yang harus kugarap.”


“Beres, Man.”


Sean fokus pada laptop milik Paolo, sedangkan Paolo masih memakai komputer rakitan. Mereka saling berdiskusi di satu meja yang sama. Sebenarnya, bagi Sean, apa yang dilakukannya ini adalah hal ilegal pada perusahaan tempat dia bekerja.


"Aku membantumu mencari penyusup di komputer Stefanie. Kau bantu aku mengenali orang-orang ini. Sean, kemungkinan, ada pengkhianat di dalam perusahaan Kakek Leora. Kita cari tahu apa rencana mereka, ya."


Emma pun kembali, membuat Sean dan Paolo, menutup daftar client yang bekerja sama dengan perusahan milik kakeknya David.


"Mumpung dingin diminum dulu,” pinta Emma sambil meletakkan minuman ke atas meja. . Dia melirik ke arah komputer dengan tampilan huruf angka, sepertinya mereka tengah coding.


“Kak Sean, Donna rajin memberi makan ikan pemberian kakak. Sekarang itu, ikannya sudah tumbuh walau sedikit.” Emma lalu mengikuti langkah Sean.


Sean menengok menghabiskan minuman dan memperhatikan wajah Emma yang merona. Sangat cantik. "Dia kelak akan jadi anak bertanggung-jawab, karena sudah pintar menjaga ikannya."


"Semoga begitu, ya Kak. Emma menyentuh tangan Sean. "Ayo, lihat Donna."


Paolo berdeham beberapa kali dan berhasil membuat dua orang itu jadi semakin canggung. “Jangan lupa, selimut milik Sean, dikembalikan.”


“Ayo kita ambil selimutmu?” ajak Emma, lalu keluar lebih dulu.


“Jangan lama-lama, Se. Kita harus lembur malam ini.” Paolo mengingatkan sebelum Sean keluar dari ruangan.



Mata Emma berkaca-kaca, karena memimpikan sosok suami seperti Sean untuk menjadi pasangan hidupnya. Susah sekali mendekati Sean, seperti merobohkan gedung pencakar langit dengan beton kuat. Mungkin dia harus menggempur hati Sean dengan granat cinta, baru Sean mau melihatnya.


Seperti saat ini, melihat Sean duduk di tempat tidur berseprei biru dengan gambar kartun Frozen. Sean membungkuk dan mengusap kening Donna. Jari panjang itu menyingkirkan rambut lembut anak perempuan itu ke arah pelipis.


"Hai, Sayang, Paman Sean sudah pulang. Mimpilah indah dan kita ketemu besok pagi, ya," ucap Sean yang terdengar tulus.



Di balkon lantai dua, Emma memandangi laut berombak, yang secara harafiah berjarak 100 meter dari tempat dia berdiri. Angin sedikit kencang berhembus, membuat kulit merinding karena rasa dingin.


“Kak, bulan purnamanya indah.” Emma menghirup aroma asin. Entah, suasana malam ini beda dari biasanya.


“Emma, di mataku kamu jauh lebih indah dari bulan purnama.” Sean terpesona karena Emma menoleh ke arahnya, membuat hatinya terpukau.


“Benarkah?” Emma menganga dan


tak percaya. “Aku jadi malu, Kak Se.”


“Kalau bulan purnama itu pasti munculnya cuma beberapa kali dalam satu bulan." Sean menatap dalam-dalam mata ingin tahu Emma. "Sedangkan kamu ….”


“Aku kenapa?” Mata Emma membesar dengan tidak sabar, menunggu jawaban. Napasnya menjadi lebih pendek dan cepat.


“Sedangkan, kamu itu muncul setiap waktu, di pikiranki." Sean mengetuk dua kali pelipis sendiri.


"Percaya atau tidak .... Sering aku menemui diriku ini. Saat-saat aku butuh memfokuskan perhatianku, terhadap sesuatu. Lalu bayangan wajahmu itu muncul tak terduga ... seolah menggodaku .... hingga akupun gatal untuk memanggil namamu, di dalam hati dan pikiranku, di sela kegiatanku. Huft! Itu .... benar-benar hal baru dalam hidupku, Emma?"


Kepala Emma miring ke kiri. Dia menelan saliva yang mendadak mengental. “Benarkah? Kenapa bisa begitu? Apa aku berbuat salah padamu dan membuat Kakak tak nyaman?”


“Aku serius, Emma. Kamu mengambil fokusku. Pasti karena kamu sangat menarik, hingga aku sering penasaran tentang apa yang ada di pikiranmu, di setiap waktu."


Emma beralih dan melihat ke arah laut, tersenyum malu. Apa maksud Sean sebenarnya? Kenapa tidak to the point hingga aku bisa mengerti apa yang dia ingin sampaikan.


Perempuan itu mundur dua langkah dan Sean menahan pinggangnya hingga membuat Emma mendongak. "Kak?"


Tangan Emma terkepal karena gugup. Sean menyetarakan tinggi hingga mata mereka kini saling tatap. Mereka mempelajari arti tatapan mereka satu sama lain, mencoba meyakinkan diri dengan dugaan mereka masing-masing. Emma bernapas lebih cepat dan memegangi tangan hangat Sean yang melingkari pinggangnya.


Benarkah yang di depanku Kak Sean atau orang lain ? (Emma)


“Tidurlah, sudah malam,” bisik Sean dengan tatapan penuh kasih sayang. Tangan kanannya terlepas perlahan karena cengkraman kuku Emma.


Sean mengacak-acak pucuk rambut Emma dengan penuh kelembutan. “Semoga selimut milikku, mampu menghangatkan malammu dengan baik.”


Bahu Emma merosot setelah Sean mengusap pipinya dengan lembut, lalu pria itu pergi begitu saja.


Sudah? Begitu saja. Tidak menciumku? Tidak ada ciuman! Kok, tidak sama dengan pikiranku? Kupikir dia mau, mencium, mencium. Seharusnya, seperti itu ! (Emma)


“Ihhhh!” Emma memukul-mukul dengan gemas ke pagar balkon. Ingin sekali memanggil Sean kembali.


“Huh!" Emma kembali ke kamar dan kembali teringat pada pujian Sean. Jujur saja hatinya yang lemah ini meleleh.


Apa dengan wanita lain, Kakak seperti itu juga?Oh tidak, pasti tidak! Kak Sean boleh berbicara manis begitu, hanya padaku saja !


(Emma)


Di kamarnya, Emma mengambil selimut milik Sean dari dalam lemari dan memeluknya. Sejujurnya, dia melarang pelayan mencuci sprei itu karena ada aroma tubuh Sean. Dia mematikan lampu besar dan berbaring di samping Donna dalam semi kegelapan, lalu memakaikan selimut untuk mereka berdua.


“Terimakasih, Kak Sean, telah muncul di dalam hari-hari kami yang malang ini.”

__ADS_1


...🌅...


Keesokannya, matahari mulai terbenam, saat Emma mondar-mandir dengan gelisah menunggu Sean. Dia menatap bianglala di depannya.


"Mana sih, Kak Sean?" Emma melirik jam di layar ponsel, sudah pukul lima sore.


"Paman datang, Mommy!" seru Dona dan membuat Mommynya berbalik menghadap pintu masuk. Donna turun dari jok depan, lalu dengan membawa tas punggung bergambar Marsha & Bear.


Emma menahan tangan putrinya agar menempel padanya. Mobil sedan mewah hitam itu, parkir di dekatnya. Emma membuka pintu mobil bagian belakang, dan terkejut karena mendapati Stefanie bukan Sean. Sean tidak bilang, kalau Stefanie ikut kemari.


"Hai Emma. Apa kabarmu?" Stef memeluk Emma.


"Hai, Kak Stef. Kabar Emma baik." Emma mengelus bahu Stef dan melepaskannya dengan mata terus terpaku pada Sean yang menggandeng Romeo.


Kalau dulu tangan Sean dua, bisa menggandeng Donna dan Romeo. Namun sekarang, bila tangan Sean cuma satu, lalu siapa yang akan digandeng Sean?


"Mas, kok di sini sepi sekali?" tanya Lena pada David setelah turun dari jok depan. "Masa cuma ada mobil kita?"


"David telah menyewa satu wahana sampai nanti Malam. Ya iyalah, begitu sayangnya Si Bapa ini dengan keluarganya!" Stef mendekat ke David sambil menggoda adik iparnya hingga wajah David memerah.


"Oh, gila kamu Papa, pemborosan!" gumam Lena dengan mata protes.


"Ayo, kita main sepuasnya. Biar anak kita bangga pada papahnya," balas David dengan tatapan penuh arti.


Mereka masuk ke dalam dengan dikawal manager tempat rekreasi itu, yang menservis mereka dengan begitu Ramah. Pilihan pertama adalah kereta mini yang mengelilingi wahana.


David dan Lena duduk di kursi nomer dua dari depan. Di belakang mereka, ada Stefanie dan Romeo. Di belakangnya lagi, Sean berdampingan dengan Emma. Tadinya, Sean akan duduk sendiri paling belakang, tetapi Donna sedang manja dan meminta agar Sean duduk di samping sang mama.


Kereta melaju pelan, melewati aneka patung hewan di taman. Lalu ada patung orang dengan cosplay pakaian tradisional Italia. Kereta terus berjalan dan menambah kecepatan hingga rat-rata 30 km per jam.


Melewati gua buatan dengan cahaya remang, kereta itu pun keluar melewati jembatan, di atas danau dengan pemandangan bebek-bebek yang sedang mandi. Romeo begitu bersemangat, rambutnya berdiri karena tersapu angin saat menoleh ke belakang, lalu memanggil Sean.


"Paman, aku ingin makan ikan bebek seperti di tempat Paman di Bali."


"Ikan bebek?" Sean berpikir sebentar, lalu tertawa. "Sate bebek? Bebek goreng? Bebek bakar?" tanya Sean dengan rasa penasaran.


"Itu loh, Mih. Bebek yang dihabisin Papih terus Romeo sedih." Romeo menjelaskan pada sang Mamih.


"Oh, Bebek yang dibawain Nenek Sumarni, lalu dihabiskan oleh Papi itu, ya?" Stef mencoba mengingat nama masakan itu. "Bebek be ... tu .... Betu-"


"Betutu?" Sean meneruskan kata-kata Stef.


"Bebek betutuuuuu-" Romeo tersenyum sangat lucu dengan bibir mungil begitu mengerucut saat mengucapkan akhiran Betutu.


"Apa itu?" tanya Emma dengan bingung.


"Itu bebek yang diolah dengan bumbu rempah khas Bali. Kau pasti akan suka bila mencobanya," balas Sean.


Emma mengangguk. "Aku jadi ingin cepat ke Bali." Dia membayangkan keseruan David tiap kali menceritakan pergi ke Bali di jaman David sebelum bertemu Lena.


"Kau harus mampir ke rumahku, yang tradisional." Sean menatap Emma dalam-dalam.


"Sayangnya kau tak ikut trip besok saat aku ke sana." Emma menggigit bibir bawah ada perasaan sedih di dalam hatinya.


Stef memandangi kereta yang mulai menuruni rel gantung, dia sedikit menguping percakapan mereka. Ingin memberi tahu Emma betapa cantiknya Bali, tetapi rasanya tidak etis bila ikut menimbrung ke obrolan mereka.


Pikiran Stef pun melayang, ke sikap Marcho di kamar Lena. Begitu lembut, hingga dia akhirnya melunak. Siang yang indah itu berbuah kehamilan ini. Dia kira saat itu, Marcho benar akan berubah dan dia akan memberi kesempatan terakhir. Huft.


.


Sean menyeringai pada Emma yang terus memandang ke arah Lena. "Adem, ya? Enak banged kayanya bersandar di bahu kekasih."


"Ya, jelas enaklah."


"Kamu, mau seperti itu?" tanya Sean pada Emma, sembari menyodorkan bahu. "Ada bahuku, kamu boleh pinjam."


"Hih, engga! Ngapain," gumamnya semakin menjaga jarak dengan bahu kekar.


"Sudah sini," titah Sean dengan lirikan tajam hingga Emma pun menyandarkan kepala itu di tangan kiri Sean. "Gimana, enak nggak?"


"Biasa aja," Jawab Emma dengan dengan nada tertahan, tetapi matanya berbinar.


"Kau ingin naik wahana apa?"


"Kalau ada kesempatan ke depannya, aku mau naik wahana ekstrim denganmu, Kak. Kau berani tidak?"


"Siapa takut." Sean tersenyum semeringah. Matanya berkedut saat merasakan sentuhan hangat tangan mungil dibelakangnya, hingga Sean sedikit condong ke depan. Mereka lalu saling tatap, seakan ada magnet diantara mereka.


Perlahan jemari mungil itu bergerak, terasa ragu-ragu di sepanjang melewati pinggang Sean, dan berakhir melingkar di belakang pinggang. Sean sontak tersenyum dengan mata menyipit dan bibir tertutup, disebabkan pipi Emma yang memerah.


"Nakal," bisik Sean ke telinga Emma. Sean masih menangkap senyuman nakal Emma, sebelum pada akhirnya wajah menggemaskan itu berpaling.


Tangan kanan Sean, ke belakang, lalu menangkup punggung tangan Emma. Mereka pun bermain dengan jari yang saling menaut hingga menggetarkan sesuatu di dalam dada dan hati mereka.


Emma seolah lupa daratan karena usapan jari Sean di punggung tangannya yang membuat merinding. Momen langka dan mendebarkan untuknya, membuat kepalanya bergetar karena senang bukan kepalang. Sean, sepertinya sedang kesurupan, hingga hari ini dia dan Sean seolah sefrekuensi.


Stef menghela napas berat dan menoleh ke belakang. Terlihat bahu dua orang itu yang saling menempel. Lalu mendadak saling menjauh. Itu terlihat jelas, hingga Stef menghadap depan lagi karena perasaan sungkan. Dadanya menjadi tak nyaman.


Emma refleks menarik tangan dari genggaman Sean, lalu memegangi dadanya yang berdebar kencang. Dia tak melakukan kesalahan, tetapi pandangan kak Stef ke Sean membuatnya jadi tak tenang.


Jari-jari Emma, kini gemetar dan bersentuhan dengan paha hangat disampingnya. Tiba-tiba muncul keinginan di hatinya, untuk mendapat pelukan Sean. Mungkin, akan semenyenangkan seperti semalam.


Kereta mini berhenti, Emma turun dan menerima uluran Donna dari Sean. Tiba-tiba Romeo menarik Sean. Emma berpandangan dengan Stef selama beberapa detik. Tak tahu apa yang dipikirkan Kak Stef yang tampak banyak beban dari mata indah itu.


"Tolong Se, aku di sini saja." Stefanie memberi jawaban saat Sean menunggunya. Stef sudah mulai kesulitan duduk di kursi di penampangan sempit karena pantaatnya mulai melebar. Kehamilannya pun mengharuskan dia tidak terlalu banyak gerak.


"Ya Tuhan, Lena terlihat senang bukan kepayang." Stefanie terharu dan memegangi pipinya yang terasa berminyak. Dia duduk di kursi pengunjung.


"Iya, Nyonya Lena tertawa dengan begitu lepas, sepertinya itu sejak menikah. Beda dengan dulu, ketika saya sering melihat Nyonya melamun dengan wajah sedih. Kasian si wajahnya, waktu di Qatar. " Axel tertawa miris karena masa lalu Lena, yang naif dan mau dibodohi Niko.


Axel terbayang raut wajah Lena yang menabrak Tuan waktu pertama kali. Hatinya bergetar, mengingat raut wajah tuannya, juga seolah terkejut dan terpaku pada mata Lena.


Axel berhenti tertawa, lalu berdeham karena lirikan tajam Stefanie. Dia kembali melihat David yang naik kuda-kudaan di samping kuda yang dinaiki Lena. "Syukurlah, mereka sekarang bahagia ya, Nyonya Stef."


"Hu'um. Baguslah. Apa jadinya jika David benar menikahi Shinta. Untunglah belang mantan David itu ketahuan," ketus Stef. Semakin membenci Shinta, karena pergi ke luar negeri dengan Marcho.


"Nyonya Stef, apa belakangan ini, anda merasa diikuti seseorang? Atau menemukan hal janggal saat di luar rumah?"


Axel ingat dengan sebuah mobil hitam, yang sering melintas di sekitar mobil Stef, seolah membuntuti. Bahkan ketika Stef pergi mengantar Romeo ke sekolah.


"Sepertinya ... tidak. Kenapa memang?" tanya Stef, tidak mau mengambil pusing dengan pertanyaan Axel. Dari dulu Axel selalu saja menanyakan hal ini.

__ADS_1


" Bila ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman. Tolong, beritahu saya."


"Iya, aku tahu. Terimakasih perhatiannya."


"Tuan David sangat mengkhawatirkan anda."


"Aku pasti akan menghubungimu. Lagipula aku sudah hafal nomermu, bukan?" Stef tersenyum ramah pada asisten David, lalu melempar tatapan galak dan berubah tegas "Sana pergi! Kau membuatku tidak bisa bernapas, untuk apa memayungiku?"


"Nyonya Stef, mungkin cahaya matahari yang menyilaukan itu akan membuat mata anda tidak nyaman."


"Sudahlah minggir. Jauh-jauh!" Stef dengan nada ketus seperti biasa yang dia lakukan kepada semua asisten.


Axel menjaga jarak, dia kira Stef berubah. Tak tahunya ... Kembali dingin seperti mamanya David. Memanglah keluarga Leora, semua bersikap begitu. Kecuali Lena, tentunya. Padahal dia manusia, yang juga ingin diajak mengobrol, bukan hanya tempat untuk berkeluh kesah. Nasib-nasib, nasib jadi pegawai.


...🎡...


David, Lena, Sean, Emma dan anak-anak, bahagia menikmati pemandangan dari ketinggian Bianglala.


Stefanie sudah duduk di dekat pintu antri Bianglala. Wajahnya memucat dengan tangan menggeser foto demi foto yang baru masuk di kotak chat. Tak tahan, dia langsung melakukan panggilan video.


"Mama ..... Mama tak pernah mau tahu urusan tentang Marcho. Ketika Marcho bersama Anna, manapun tak peduli? Sekarang kenapa harus mengirim foto-foto Marcho dan Shinta?" tanya Stef pada mamanya, sambil satu tangan memegang kening.


"Mama sudah bilang, tinggalkan Marcho. Banyak lelaki yang bisa mama pilihkan. Asal tak mata keranjang dan tahu menghargai hati perempuan."


"Tapi, Mah, Romeo-"


"**Apa yang kau lihat lagi dari Marcho yang tukang selingkuh? Menjatuhkan harga dirimu sendiri, untuk orang yang tak pantas kau bela? Sampai kapan?


Ingat Stef, Romeo mulai pintar menilai. Kau tak tahu kan, anakmu tak nyaman dengan kedekatan mereka sampai bertanya pada mamah cara menjauhkan Shinta dari Marcho? Insting seorang anak mungkin jauh lebih kuat, karena dia masih suci? Sedangkan kamu bertahun-tahun apa cuma bisa diam**?"


"Mah, Stef tahu Mamah sayang Stef. Tetapi, Stef juga menyayangi Romeo. Romeo tak mau jauh-jauh dari Marcho. Aku pun tak mau jauh dari Romeo. Aku ingin Romeo bahagia, karena dekat papa-mamanya."


"Buka matamu. Kau bukan Manequin! Cuma jadi pajangan berstatus isteri, tetapi lihat ke dalam? Apa kau mendapat hak batinmu? Rasa aman-nyaman? Sekali saja pikiran dirimu! Kau akan menua! Dan mungkin Marcho akan terus mencari yang lebih muda!


Jadi, pulanglah ke rumah. Papamu itu mengancam akan menjemput kamu dengan paksa, sampai kamu keluar dari rumah mereka.


**Lagipula, apa yang kau segani dari keluarga mereka yang bermuka dua dan selalu menyudutkanmu, Stef!


Peranmu di sana adalah menantu dan istri. Kamu lahir dari keluarga bangsawan! Mereka tak pantas memperlakukanmu seperti pelayan**!"


Stef bernapas lebih cepat dan dadanya turun naik dengan cepat. Meski, mamanya tak pernah menginjakkan kaki di rumah keluarga Marcho, tetapi entah .... mamanya tahu darimana tentang perlakuan mereka. "Mah, bukan seperti itu. Itu semua kemauanku. Aku ingin menyiapkan segala sesuatunya sendiri dengan tanganku."


"Hidup untuk orang-orang yang mau menghormatimu. Titik. Keluar dari sana dan bangun harga dirimi. Padahal kau anak mama. Pulanglah, Ai!


Pulang, Ai .... Mamah mohon, kali ini saja. Satu kali, dengarin Mamah. Insting Maman takkan salah. Aku yang mengandungmu, Sayang. Mengapa kau tak mau mendengarkan Mama? Pulang ya?"


Setetes air mata jatuh ke layar ponsel mahal. "Maaf, Mah. Maaf," Isak Stef , langsung memutuskan panggilan. Bibirnya mewek dan bahunya terguncang karena sesak di dada, menjalar keseluruh tubuh membawa kesakitan tak berdarah. Dia terus menunduk, bersembunyi, sampai air matanya tak menetes lagi.



Lena masih di dalam kursi Bianglala. Dia ngebet ingin naik satu putaran lagi, hingga David dengan penuh kasih sayang masih setia duduk berhadapan dengannya ketika yang lain turun.


"Apa kau mau kita, bikin Bianglala di depan rumah, jadi pemandangan pantai."


"Enggak! Nanti ada angin besar, lalu Bianglala itu jatuh menimpa kamar kita, Papa." Lena mengembungkan mulut dengan waspada. "Jangan loh, nggak boleh. Itu halaman tercantik yang pernah aku lihat. Lagipula, di inggir tebing adalah tempat favorit Kak Sean dan Emma."


"Kalau gitu, di sisi selatan rumah-"


"Nggak mau, Papah." Lena melipat tangan di depan dada. "Padahal, saat perjalanan ke sini, Mamah sudah membayangkan, ingin naik ini sambil mengantri, kan seru. Tapi Papah malah sewa semua tempat ini. Jadinya kan sepi, nggak ada suara histeris anak-anak dan para orang dewasa."


"Mau kudatangkan mereka sekarang? lalu mereka akan sorak-sorak .... "


"Ah, nggak! Papa pasti mau membayar mereka dengan menyusahkan mereka, menyuruh ini-itu-"


Sebuah kecupan gemas, mendarat dengan tiba-tiba di bibir sang isteri yang sangat cerewet. "Lalu, maunya gimana, Hem?"


Lena menggelengkan kepala dengan malu. "Maunya itu Papah, perbaiki waktu istirahat Papa. Bisa tidak, jangan terlalu sibuk? Setidaknya, atur untuk jam tidur Papa dulu. Masa jam 12 sampai jam empat pagi terus-menerus terima telepon, meeting. HOLLA, PAPA, ITU NAMANYA PAPAH DIJAJAH PEKEJAAN!"


David menyipitkan mata dan tersenyum penuh cinta, lalu menganggukkan kepala.


"Apa? Apa itu cuma angguk-angguk, dan Tuan Axel juga kasihan, nanti jantungnya bermasalah karena kurang tidur."


"Jadi, Axel, nih?" David memutar mata kesal.


"Bukan! Ya Papahlah. Jangan angguk-angguk. Uang Papah sudah banyak-"


"Sayang." David menepuk pahanya dan Lena pindah ke pangkuan David. "Terimakasih ya, untuk perhatian Mama. Kalau nggak ada Mama, yang baik hati, nggak tahu siapa yang akan mengerti Papa."


"Hu'um?" jawab Lena dengan waspada.


"Sayang, Istriku yang paling baik. Pap tuh kan saat ini, memang lagi harus terus memantau anak perusahaan baru, langsung. Papa tak mau, jika hasil kerja keras mereka tak memuaskan untuk mereka semua. Tapi Papa nih janji, saat mereka sudah cukup mampu, menghandle sendiri, Papa akan luangin waktu untuk waktu istirahat Papa biar lebih banyak. Intinya, ini yang harus Papa bayar, agar nanti, ketika Baby sudah lahir ke dunia ini. Papa bisa meluangkan waktu Papa lebih banyak untuknya dan untuk Mama. Hayo, Bagaimana?"


"Uhhh." Lena merengek dan memainkan merah kemeja abu-abu David.


"Mereka menaruh harapan besar pada perusahaan papa. Mereka berkerja dengan baik dan Papa juga ingin memberi yang terbaik."


"AKU BERUNTUNG BERTEMU PAPA!" teriak Lena lalu terbatuk-batuk.


"Jangan teriak-teriak, nanti dedeknya kebingungan." David mengelus denga lembut punggung Lena dan mencium pipi Lena begitu lama, menghirup bau kenanga. "Terimakasih, Mah. Jika, tidak ada kamu, yang mengingatkanku, mungkin aku akan seperti mumi. Bergerak tanpa merasakan indahnya hari-hari luar biasa ini."


Tangan Lena mengelus pipi David. "Iya, Papah. Aku jadi kangen masakan Kak Sean."


"Lah, kok jadi Kaka Sean?"


"Aku besok ingin dimasakan hati sapi lombok ijo buatan kakak. Tapi -"


"Tapi apa?"


"Aku ingin main ke tempat kakak."


"Tempat kakak, tempat Niko." David melepas ciuman dari pipi Lena dan menatap tajam ke dalam mata hazel.


"Pah dengar dulu, itu kalau nggak ada Niko. Tapi kata Emma, Niko belakangan masuk jam tujuh malam. Jadi, mungkin besok aku ke tempat kakak jam delapan malam."


"Sayang, aku cemburu." David tersenyum dipaksakan.


"Pah, demi dedek, ya? Lagian apa yang Papahcemburuin. Kalau suamiku ini begitu sempurna, di mataku. Berpaling sedikitpun, aku tak mau."


"Kali ini enggak. Biar Kak Sean masak di rumah kita."


Lena menggigit bibir bawah dan mata sayu. Dia tak memikirkan Niko sama sekali. "Tetapi, aku hanya kangen berduaan dengan Abang Se." Lena meringis dan mengelus keningnya yang kena sentilan David. Suaminya lalu mencium lembut di bekas sentilan.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Nyidamnya, minta yang lain saja." David bersikeras, hatinya terlampau takut walau hanya membayangkan Lena ke tempat Sean yang banyak ada peralatan seputar Niko. Dia terlalu trauma dengan masa lalu yang terlalu menyakitkan.


__ADS_2