
David mengedipkan mata perlahan saat mendengar suara muntah-muntah. Tampak mamah Bilqis memegangi plastik dimana Lena muntah-muntah..
Perawat wanita datang buru-buru dan mengambil alih tugas saat mama Bilqis mengikat kresek, lalu membuang ke tong sampah. Entah. Bilqis ke kamar mandi dan cuci tangan dengan sabun sebanyak-banyaknya, dia mual karena masih teringat aroma kecut pahit amis dari muntahan Lena yang warna-warni. Dia bahkan hampir ikut muntah, lalu mencoba berkumur.
Bilqis mengelap tangan dan wajah dengan handuk, ingin rasanya mengganti pakaiannya. Kakinya melangkah mendekati David yang masih memandangi Lena. Sebuah parfum diraih Bilqis dari tas, dan menyemprotkan ka bawah ranjang dan di tepian ranjang gadis itu. Wanita itu sekarang terpejam lemah.
"Tidak, apa-apa. Dokter sudah menyuntikan anti mual," bisik Balqis di telinga sang putra sambil mengusap rambut ikal itu. "Tidurlah, biar tenagamu cepat pulih."
David kembali terpejam. Waktu berlalu, keluarga Lena dan David berulangkali menjenguk bergantian saat pengantin itu seperti tidak merespon walau mata mereka terbuka. Sampai Lelaki itu terjaga oleh usapan yang ternyata tangan Marcho. David mendengar bisikan Marcho di depan wajahnya.
"Kamu membuatku khawatir setiap masuk rumah sakit." Marcho menelisik kedalam mata sayu sang adik. "Ini jam 1 malam, tidurlah lagi."
"Minum .... " David mengelus leher menggunakan tangan kiri karena tenggorokan seperti tercekik dan gatal. Kemudian melirik ke samping, terdapat Lena yang terbaring dengan mata terpejam, dia berusaha bangun, tetapi diurungkan saat dia masih lemas. "Dimana aku?"
"Kalian habis ditabrak orang. Lena mendapat jahitan di kening. Sedangkan tanganmu retak, kau tak ingat?"
"Aku, tidak kerasa apa-apa, loh." David melirik jendela yang tertutup. "Mama dan kakek sudah di sini?"
Marcho menyodorkan ujung Aqua ke dekat mulut David. Adiknya itu minum sampai berkurang sepertiga. "Mama mengajakmu ngobrol tadi siang. Kamu beneran tidak ingat?"
David menggelengkan kepala, dia tidak ingat apa-apa. Tangan kanan telah dalam balutan plester putih dan di gips. Dia memakai baju rumah sakit. Saat pan**tat bergeser rasanya tidak nyaman sepertinya dipasangi kateter.
"Sudah ... tidurlah lagi. Atau kau mau makan kurma?" Marcho mendapati David geleng-geleng kepala begitu lema, seolah tak bertenaga. "Ya, sudah, beristirahatlah ... "
Pandangan Marcho menjelajah ke langit kamar. Hatinya tiba-tiba perih karena tatapan sayu David kini memicu ingatannya saat berlibur di pulau terkenal di Karibia. David kecil yang berusia 10 tahun menjerit dari pinggir pantai dan semua orang sontak berlari mengejar David yang akan ditarik ke laut.
Kaki kiri itu sangat mungil didalam mulut buaya. Marcho tak tahu pasti, tetapi David bilang menusuk Mata dan hidung buaya hingga keajaiban terjadi, buaya itu membuka mulut.
Paman menyeret David dari mulut buaya yang hampir terbenam air, ke e tepi pantai, membiarkan terbaring di sana dan memeriksa luka yang berdarah. Lalu paman menggendong dan meletakkan David, di atas meja piknik untuk menghentikan pendarahan dengan dibantu petugas pantai. Sementara penjaga pantai lain mengamankan pantai, karena beberapa orang masih berenang.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah sakit, Dokter menemukan bahwa lutut kiri popliteal dan paha di dekat bagian lutut mungil David, terdapat luka sobek. Sejak saat itu David sering tiba-tiba pingsan saat berenang di laut. Itulah mengapa Kakek selalu tidak tenang saat David berada di laut, tetapi sayangnya, mau berapa kali pun dilarang, kecintaan David adalah laut dan sangat senang bermain dengan air asin.
⚓
Suara familiar membangunkan Lena, dia memerjapkan mata, di tengah sakit kepalanya. Tampak Bapak akan menyeka tubuh David, tetapi David menolak. "Bapak ...." Lena merasakan pegal dan sangat kaku untuk membuka rahangnya
"Biar bapak, menyeka badanmu." Sujatmiko dengan tulus menawarkan diri pada David yang masih menghalangi dada.
"Dingin, bapak." David beralasan, dia tidak ingin memperlihatkan bahwa dadanya dipenuhi tatto.
"Sudah cepat buka, biar kamu cepat sehat," titah Sujatmiko saat mata David terus berkedip. "Jangan malu."
"Bapak, Mas David tidak mau." Lena memaksa rahangnya untuk bergerak, walau begitu ngilu. Dia menatap seluruh ruangan dan baru sadar ini bukan di rumah. Tangannya pun telah terinfus. "Mas, tanganmu kenapa? kenapa kita di sini?"
"Kemarin katanya kita ditabrak." David menutupi tali bajunya dengan tangan kiri.
Sujatmiko belum mau menceritakan perihal sopir mobil box yang meninggal karena serangan jantung, hingga menyebabkan mobil box melaju tak terkendali, lalu menabrak mobil yang dikendarai David. "Katanya nanti sore kalian boleh pulang. Untung tidak ada cedera parah dqri hasil pemeriksaan di tubuh kalian."
David pasrah pada bapak yang membuka tali baju dan mata Sujatmiko langsung mendelik dengan bibir mulai berkedut saat melihat penampakkan tatto. "Bapak, ini sedang dihapus. Bapak jangan marah sama David."
Lena yang memiringkan tubuh pegalnya ke kiri, lalu tertegun pada tatapan tidak suka Bapak. Dia mengangkat kepala dan mengintip ke arah pandangan mata Bapak. Bapaknya dengan wajah merah padam menyeka dada David. "Pak, itu sudah di hapus Mas David saat di Qatar, katanya butuh waktu 6-12 bulan baru bisa hilang semua tattonya."
"Beneran dihapus semua?" tanya Sujatmiko pada Lena dan itu lebih terdengar seperti perintah dari pada pertanyaan.
"Iya, bapak, Mas David sudah berjanji, dan itu sudah dalam proses kok."
"Benar, bapak. Tolong jangan benci David karena ini." David dengan penuh ketulusan, berharap sang mertua tidak sekaku ini.
Sujatmiko menghela nafas panjang. "Insyaallah, bapak percaya pada menantu Bapak, yang sedang berjuang ke arah yang lebih baik."
__ADS_1
David mengulum senyuman, begitupun istrinya. "Terimakasih, mau mempercayaiku, Bapak."
"Kamu bisa duduk? Biar bapak seka yang belakang."
Lena dan David saling tatap, seolah pemikiran mereka sama, karena tatto David di bagian punggung jauh lebih banyak daripada bagian depan.
"Depan saja, Bapak. Soalnya, punggung David masih pegal banged. Jadi, sakit untuk bangun." David berasalan.
Sumarni masuk ke dalam dengan membawa puding dan sup hangat, lalu memaksa Lena memakan banyak. Namun, putrinya beralasan rahangnya agak sakit pada kunyahan pertama.
⚓
Langit yang tadinya berwarna orange mulai gelap, saat Lena tiba di rumah dengan model bangunan lama yang penuh dengan nuansa kayu jati. Dia menuntun sang suami yang di gips, lalu mendapati Romeo yang bermain di ruang tamu langsung menghambur ke paha David.
Lena tak bisa bercengkerama lebih lama dengan keluarga David, dia harus berkerja saat kakaknya baru datang. Di lantai dua Lena membacakan daftar rekapan sementara Sean mengetikan pada laptop Lena.
David menyusul jam 10 malam ke ruang santai di lantai dua. Dari luar pintu kaca, dia mendapati Lena sampai mendelosorkan kepala di meja.
Sean melirik ke arah adiknya yang tak bersuara. Dia meraih kertas ponsel Lena, dan melirik lembar kerja Axcel di ponsel Lena, lalu kembali meneruskannya memilah bayaran truk milik bos Lena, dengan truk milik orang lain yang ikut pada perusahaan bos Lena. "Sedikit lagi, Si4l banyak banged."
"Bar Axel yang akan meneruskannya," ujar David pada Sean. Dia duduk di samping Lena dan tangan kirinya menyikirkan rambut Lena, yang menutupi wajah.
"Aku sudah biasa dengan ini. Ehm ... "Sean menatap David. "Aku akan ikut ke Napoli, tetapi hanya untuk pertama-tama tinggal di rumah kalian. Aku akan menyewa apartemen atau sejenisnya." Sean ingin hidup sendiri mandiri tanpa embel-embel kekayaan David. "Kamu, jangan campuri kehidupan pribadiku. Uangmu takkan bisa membuatku patuh padamu."
David menyipitkan mata heran lalu tertawa. "Tentu, kak. Aku akan menyiapkan rumah sendiri untuk kakak, bila kakak mau."
"Aku akan mencari tempat tinggal sendiri," balas Sean dingin.
Aku akan meminta Niko menyusul ke Napoli, mungkin kehidupan di sana lebih bagus untuknya. (Sean)
__ADS_1