Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 30 : BALKON


__ADS_3

Rasa perih dan panas yang tajam membuat Lena meringis saat buang air kecil. Pandangannya mengitari ke dinding kamar mandi mewah dan mencoba mengingat hal semalam, tetapi ingatannya justru melayang saat dia mati rasa sembari bersandar pada meja bar. Siapa yang membawaku ke hotel.Ya Tuhan kenapa pakaianku sudah terlepas semua dari badanku!


Lena melirik pakaiannya yang berserakan, di lantai sekitar tempat tidur. Dia bergegas mengenakan dengan pikiran bingung bukan kepalang. Ini sangat fatal dan salah.


Setelah tiba di di mess, Lena melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Tubuhnya langsung berkeringat dingin kerena tatapan mata coklat. Niko akan menyentuhnya, tetapi Lena menarik diri dan berpandangan sangat lama. Mengapa berada di dekat Niko menjadi begitu tak nyaman.


"Kemana kamu semalam," gumam pelan Niko mengikuti ke kamar. Dia tak suka pada perubahan sikap tak terkendali Lena, David membawa pengaruh buruk untuk Lena.


"Rumah teman." Lena berusaha menjawab senormalnya saat melirik kamar Ika yang masih tertutup.


"Kenapa jalanmu pincang? kakimu sakit?" Niko Masi berdiri di garis pintu dan terus mengamati saat Lena masuk ke dalam kamar dan menaruh tas di nakas.


"Tidak, aku baik-baik saja. Tolong pergi, aku ingin sendiri," lirih Lena sambil membuka ponsel dan berjalan ke arah Niko. Bagian kewanitaannya sakit. Dia berusaha berjalan normal, tetapi Niko sepertinya masih mengetahuinya.


"Coba kamu lihat pesan semalam. Kamu mabuk, ya? kenapa kau di tempat terkutuk itu! Semalam aku sudah tidur, jadi begitu bangun aku langsung kemari. Ada apa kamu tidak menjawabku teleponku?" Satu alis Niko terangkat saat Lena baru membuka pesan dan langsung membulatkan mata.


"Aku menemani teman dan hanya itu.Tidak ada minuman alkohol yang masuk ke dalam perutku. Tolong pergi saja kamu, tak usah sok perhatian, hubungan kita sudah selesai." Lena terus mendorong pinggang Niko, tetapi tubuh pria itu memang kuat hingga Niko tak bergeser sedikit pun.


"Oke." Niko dengan sorot mata tajam, Lena bahkan tak berani memandangnya dan terus menyembunyikan sesuatu. "Aku akan melaporkan kelakuanmu pada kedua orang tuamu."


"Jangan!" Lena meringis dengan wajah kian tertekuk. Ngeri membayangkan orang tuanya akan kecewa, padahal dia tidaklah nakal. "Pergi sana urusi Marsha!"


Niko menelan Saliva kasar. "Putuskan David! lalu aku takkan melaporkan ini pada kedua orangtuamu." Dia menatap serius pada mata hazel yang berkedut. Niko bergeser karena Lena memaksa menutup pintu.


"Kamu sekarang mengancam ku? Aku akan laporkan perselingkuhan mu pada ibu bapak. Mereka akan lebih mendengarkanku!" Lena berlari ke tempat tidur dan menutup dirinya yang gemetar dengan selimut. Entah oleh takut dengan Niko, atau takut pada apa yang terjadi semalam.


...----------------...


Marcho terbaring di kamar yang dia sewa dan bibirnya senyum-senyum sendiri. Dia terpaksa melakukan hal menyenangkan semalam. Satu pukulan dan gadis itu langsung ambruk. Sayangnya karena melirik jam dan terdapat pesan dari sang istri, dia pergi begitu saja dan meninggalkan gadis itu.


Bahkan dia belum sempat melihat wajah gadis manis itu, karena kamar yang gelap. Padahal pasti sangat seksi seperti racauan yang menari-nari indah di telinganya. "Mengapa belum apa-apa kamu memanggil aku dengan 'sayang'? sungguh sangat nakal!"


Sementara di tempat lain, Shinta yang barusan mandi, terasa begitu segar. Dia menatap dirinya di cermin dan wajahnya semakin berkilau. David memang tak bersuara, pria itu pasti malu. Dua sudut bibirnya terangkat penuh, saat terbayang betapa kuatnya David semalam, walau dia tak mengingat semua karena terlalu banyak minum.


Sebuah kamera tersembunyi diambil dan filenya langsung di kirim ke layar ponselnya. Saat dia memutar video, bagian inti tak tampak karena lampu mati, hanya berupa siluet. "Bodoh! kenapa aku tak ingat dengan lampunya! pasti karena begitu senangnya ada David! Ah yang penting wajah David sudah terekam saat kembali dari kamar mandi."


Pada waktu yang sama, di tempat lain, tengah duduk seorang CEO dari hotel PEARL ISLAND. David memandangi ponsel, karena Lena belum menjawab pesannya. Hatinya tak nyaman, karena kejadian semalam. Dia bahkan takut mencari tahu siapa gadis yang bersamanya semalam.


David melempar kepala ke belakang pada sandaran kursi. Mata terpejam dan teringat kembali saat masuk ke dalam kamar yang terbuka, yang dia kira kamar kosong. Betapa ceroboh si pemilik kamar itu karena tak menutup pintu dengan rapat dan memberinya kesempatan untuk masuk.

__ADS_1


Saat itu selepas David keluar dari kamar mandi,dia begitu pusing karena benih ya tak kunjung terbebas di kamar mandi. Sampai matanya terbelalak begitu mendapati orang di tempat tidur. David berjalan lebih dekat, dan mengamati siluet buah dada menonjol, yang artinya seorang perempuan.


Pikirannya tersesat dan dia menutup pintu kamar. David tak bisa berpikir karena aroma kenanga Lena membayangi pikirannya. Dia naik ke tempat tidur perlahan dan meraba kaki mungil yang dingin, sampai ke titik vital. Sungguh dia tak mengira akan sehina itu, tetapi siapapun diposisinya pasti tak bisa melawan karena kepalanya saat itu sangat sakit dan tak mau berpikir, jantungnya seperti meledak dan butuh pelepasan.


Sampai dia tak sengaja limbung dan hampir menjatuhi gadis itu, tetapi ada yang salah. Saat dia masih menunggu reaksi gadis itu dengan ketakutannya sendiri karena akan ketahuan. Nafas gadis itu masih saja teratur, bahkan saat dia mulai menyentuh leher, telinga dan coba membel4i area-area vital, gadis itu diam tak bereaksi.


Si4l dia bahkan melucuti semua pakaian gadis itu. Mengapa juga tidur menggunakan jaket? hal itu justru mengingatkannya pada Lena. yang selalu memakai jaket. Oh dia sangat hina karena dia meraba-raba jaket tadi, dan menutupkan jaket itu pada kelelakiannya yang telah terbebas dari celana.


"Maaf, gadis," serak David. Satu tangannya mencoba menggenggam tangan gadis itu. Dia mulai terbaring di samping dan terpejam untuk membayangkan Lena. Aroma kenanga begitu kuat, itu dia yakini karena halusinasinya. hingga David merasakan nikmat walau hanya meminjam tangan mungil itu yang besarnya juga sama seperti tangan Lena.


Sampai akhirnya benih itu terbebas pada jaket gadis itu. Ribuan rasa bersalah seketika menjalari perasaan David, memang dia tak sampai menyentuh langsung area Vital bagian bawah gadis itu. Oh ini menjijikan! Aku telah mengkhianati Lena!


Seketika David memakai pakaiannya dan pergi begitu saja. Sepanjang mengemudi perjalanan pulang, dia terus berteriak, ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Dia berbalik dan langsung menuju rumah sakit karena tubuhnya begitu tak terkendali.


"Tuan!" Axel berteriak karena tuannya membuka mata, tetapi pikirannya entah kemana dan hanya melihat langit-langit ruang kerja. "Anda melamun?"


David menyipitkan mata dan duduk tegap. Dia sungguh lelah karena dihantui rasa bersalah sejak semalam. "Jemput Mamah Bilqis, lalu mampir ke tempat Lena. Mamah ingin Lena menemaninya saat menjemput Bianca di bandara."


"Anda tidak ikut?" Axel heran kenapa tuan yang biasanya semangat soal Lena, tumben untuk menyebut nama Lena aja baru jam 10 ini. Dari pagi juga uring-uringan. Apa mereka sedang bertengkar?


"Kau tidak lihat? Aku sedang banyak pekerjaaan?" David mengusir Axel dengan tangannya. Dia lalu menerima telepon dari pihak rumah sakit. Matanya membulat saat mendengar penjelasan bahwa dalam darahnya mengandung obat perangs4ng dalam jumlah tinggi. "Damit!"


Kau benar-benar menjijikan, kau sudah bersama Tara dan menginginkanku!


Sebuah potongan video 15 detik baru saja masuk dari nomer Shinta. Wajah David terekam saat memberi minum untuk Shinta, lalu David meminumnya sendiri. Astaga, ini bisa untuk bukti melawan Shinta, tetapi di sini tampak aku yang salah, karena aku mencoba memberi Shinta minuman lebih dulu.


...----------------...


Lena siang itu sibuk berkecimpung di dapur bersama mamahnya David, saat mempersiapkan makan siang. Dia melirik ke ruang keluarga saat Shinta tertawa keras dengan Bianca-adik David. Matanya terpaku pada semangkuk pasta.


Kenapa David belum kemari. Apa yang akan ku katakan pada David bila benar seseorang telah memperk0saku. Apa aku harus mundur dari pernikahan ini?


"Lena, kenapa kamu melamun? Kamu sedih karena Shinta tiba-tiba ada di Bandara dan ikut kita kemari?" Bilqis mengusap kedua bahu Lena dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa Tante. Lena yakin David tidak akan menyakiti Lena, walaupun ada Shinta di sini." Lena tersenyum hangat, menyembunyikan rasa bersalahnya karena kejadian semalam.


Ketika makan siang, David yang duduk diantara Lena dan Shinta makin bergidik karena ulah Shinta yang sok-sok mengambilkan pasta. Sementara di depannya ada papa yang tersenyum licik, dan mamahnya yang terus memperhatikannya. Dia tepaksa memberitahu Shinta bahwa Bianca tiba di bandara hingga membuat Shinta langsung pergi ke bandara tadi jam 11an. Apa karena ini Lena dari tadi marah padaku?


David mengulurkan tangan kekar ke pangkuan Lena dan menggenggam jemari mungil. Dia menatap penuh kelembutan pada sang kekasih. "Suapin aku, Sayang." Tampak sekali Lena menghindar dari tatapannya.

__ADS_1


"Apa kau tak bisa makan sendiri?" Ardian bergidik saat melihat Lena menyuapi David dengan canggung dan wajah muram. Meskipun demikian kedatangan Shinta disini dianggap bagus


Dia tak ingin memiliki menantu orang Asia, semoga Lena cepat-cepat pergi dari hidup putranya.


"Dia kan calon istrinya, ya wajar," sindir Bilqis pada Shinta. Dia sudah menyuruh perempuan hamil itu pulang, walau secara tak langsung. Namun, gigih juga karena Shinta tak mengindahkan ucapannya.Mungkin rasa malu wanita hamil itu telah hilang.


Sampai di ruang keluarga saat Shinta terus membahas masa lalu bersama David dengan Bianca, membuat pria itu tak nyaman dan menarik tangan Lena ke lantai atas. David tak peduli dengan wajah Shinta yang merah padam, karena perempuan itu memang tak diharapkan kedatangannya.


"Sayang, ada apa dan kamu terus diam? karena Shinta? aku tak peduli lagi dengannya dan prioritas ku hanya kamu," kata David di pinggir balkon. Angin berhembus pelan dan menerbangkan rambut panjang beraroma kenanga ke belakang membuat jantung David berdetak dengan tidak terkendali.


"Aku tidak masalah dengan Shinta." Lena menggigit bibir bawah. Dia terus berpikir untuk mundur dari rencana pernikahan ini. David sangatlah baik tak cocok untuknya yang telah kotor. Huh pusing sekali memikirkan ini! Tapi aku tak mau jauh darimu, David.


David menggeser tangan kekar dan menyentuh ujung jemari Lena, tetapi entah sengaja atau tidak, Lena justru mengikat rambut atau menghindarinya. "Besok kita jadi bertemu, Kakek, Sayang?"


Lena mengangguk dengan pelan dan melirik sebentar ke arah David. Matanya terbelalak karena David langsung meraih pinggang mungil hingga menempel pada paha milik David. Dia mendongak dan bertumpu pada perut David dengan perasaan bersalah.


"Aku ingin menciummu, Sayang. Jangan banyak diam, aku kan jadi sedih. Mending kita jalan-jalan setelah ini. BERDUA." David tak kuasa pada tatapan sayu Lena. Dia mengusap bibir mungil yang tertekuk dan memutar tubuh Lena hingga menghimpit Lena ke pagar besi.


"Dav, aku bukan wanita yang baik. Kamu bisa mencari perempuan yang lebih pintar dan lebih baik." Lena dengan lesu dan nafasnya kian memburu karena pagar besi menekan di atas pinggang, dan dia terjebak tak bisa mundur lagi, hingga kepala ini makin ke belakang karena David diatasnya makin mendekat.


"Aku menginginkan kamu, Sayang. Aku mengundang Wedding Organizer langsung dari Italia dan sudah terbang ke Indonesia untuk menyiapkan semuanya dan tinggal menentukan tanggal pernikahan setelah bertemu Papa Sujatmiko dan Mamah Sumarni." David menggigit bibir bawah mengapa Lena tak yakin pada pernikahan ini.


"Tapi, aku-" Lena langsung terbius pada sorot mata tajam David yang baginya menjadi sangat indah. Dia terpejam dengan pasrah saat sesuatu lembab yang hangat menggelitik bibirnya. Kepala Lena diluar lantai balkon, bahkan dia tak takut jatuh, saat David terus membuat kepalanya melayang di udara, karena rasa manis liur David yang kini menjadi kesukaannya. Gerakan lidah rasa mint sangat lamban seakan menelusuri semua bagian mulutnya.


Nafas dua insan saling memburu, ujung lidah saling bertemu, menggelitik dan berputar sangat lambat mengolak-alik dengan perlahan-meresapi setiap moment dengan kehati-hatian.


"Aku butuh kamu dalam hidupku, Sayang," serak David dengan mengeram karena sentuhan jemari mungil yang hangat di dada. Matanya menangkap keindahan wanita ayu yang berjarak hanya satu inchi.


"Kau membuatku gila dengan kecantikanmu dan semua tentang kamu. Kamu mengambil semua perhatianku dan duniaku, hingga aku takut bila tak melihatmu walau sebentar," imbuh David pada wajah memerah Lena yang sangat menggemaskan.


Aku juga semakin menyayangimu, David! batin Lena, pikirannya berkecamuk. Jika saja tak mengikuti Ika, dia pasti sekarang tak tersiksa seperti ini.


"Mas, I Miss you," kata itu spontan keluar dari mulut Lena. Entah, dia hanya ingin saat ini tak menyiakan-nyiakan waktunya dengan David. Mungkin dia harus cerita yang sejujurnya soal semalam. Dia pasrah dengan apa yang akan dilakukan David setelahnya.


Bibir manis David kembali menyelam ke dalam bibirnya, jari-jari mungil merem4s kemeja biru David karena kewalahan dengan napas panas David. Dia berharap bukan pencium yang buruk untuk kekasihnya.


Sementara itu Shinta yang baru sampai di lantai dua, merem4s gagang pagar di dekat tangga. Padahal, David semalam begitu bersemangat dengannya, tetapi kenapa sekarang dengan Lena tampak penuh kelembutan menahan leher Lena, seakan takut melukai Lena. Bahkan David tak pernah melakukan seperti itu dengan ku!


__ADS_1


__ADS_2