
Niko memandangi lautan di depannya, pahanya bersentuhan dengan pagar rumput, di tengah malam. Dia masih kepikiran pada terakhir kali Lena online kemarin siang. Semakin hari rindunya pada Lena makin menjadi. Ingin melawan tak tahu caranya. Dia menoleh pada suara bergemerisik dan derak ranting terinjak. "Emma?"
"Ahh! Niko?" Kenapa kau di sini?"
"Tunggu."
Niko mengatur jarak lalu melompati pagar sebelah dengan mudah, kali ini tidak jatuh. Tampak wanita itu masih takjub padanya. Niko lalu berjalan ke dekat rumput di pinggir tebing. "Aku tidak bisa tidur, Em."
"Kenapa?"
"Kamu sendiri kenapa belum tidur jam satu pagi?"
"Aku .... emang ini kebiasaan di malam bulan purnama. Aku senang melihat bulan bulat dengan nyala tak biasa, apalagi malam tanpa awan. Lalu, kamu?"
"Aku hanya merindukan mantanku. Dahulu, aku sering melihat keindahan langit malam, bedanya dulu banyak nyamuk dan saat kami masuk ke dalam rumah, lalu bentol-bentol." Niko tertawa getir.
"Kenangan indah, ya?" ledek Emma dengan tawa pelan dan syarat akan simpati.
"Ya, itu, kenangan itu sangat indah dengan Lena. Dan aku sulit melupakan setiap momentnya."
"Lena? Lena yang kamu maksud bukan-"
"Ya, dia adik Sean, itu yang kumaksud."
"Oh, Apa Kak David tahu kamu di sini selama beberapa hari?"
"Dia yang menemuiku tempo hari," suara Niko tertahan.
"Oh?" Emma tak bisa berkata-kata. Setahu dia, saat David dulu masih bersama Shinta, tetangganya itu tipe posesif dan pencemburu. Dia sama sekali tak percaya pada kata Sean. "Jadi, rencana kapan kamu akan keluar dari rumah itu?"
"Aku akan tinggal bersama Sean, jadi kami akan pergi sebelum Lena dan David pulang, itu perjanjianku dengan David. Tolong, jangan cerita ini pada Lena.
Emma meninju lengan Niko yang terasa dingin. "Kamu dan Kak Sean? Maksudmu Kak Sean akan tidak tinggal di depan kamarku lagi? Tidak di rumah David lagi?"
Niko tertawa ringan. "Ya, dari dulu kami sulit berjauhan. Kenapa? Kamu tidak sedang menyukai Sean kan?"
Emma menggelengkan kepala cepat.
__ADS_1
"Oh syukurlah, karena aku dan Sean akan berlomba-lomba mencari pacar lebih dulu." Niko dengan satu alis terangkat.
"Apa Pacar?" Bibir Emma terus berkedut. "Kenapa harus cari Pacar?"
"Kami butuh mood booster tahu. Apa kamu ada rekomendasi teman kamu? Kenalkan dua teman wanita mu dong, Em. Daripada kami harus mengadakan kencan buta."
"Apa? Aku tidak mau!" suara Emma menjadi berat, dia memeluk lengan dan menatap laut. Kini dia jadi tak berselera mengobrol dengan Niko. "Memangnya, kalian sudah mengatur jadwal kencan buta?"
"Sudah! Nanti saat aku habis tes wawancara." Niko melirik Emma yang sepertinya, wajah itu kian tertekuk.
"Memangnya kamu mau tes wawancara di perusahaan apa?"
"Keamanan, Giant World Securities (GWS)"
"Wow! Keren kau, bagaimana kamu bisa mendaftar di sana? Dari mana kau dapat rekomendasi?" tanya Emma penasaran, karena GWS memiliki cabang di sekitar 125 negara.
Niko terkekeh, dia enggan menyebutkan itu rekomendasi dari Axel. Mungkin atas masukan David. David datang padanya dengan ditemani Axel. Jika dia mau menemui Sean, sesuai janji Axel, dia rekomendasikan ke perusahaan keamanan yang legal.
Bukanlah hal mudah untuk memasuki rumah Lena, di dalam dadanya seperti tidak ada ruang untuk bernafas. Namun, dia telah memasang kamera tersembunyi di balkon kamar Lena. Setidaknya, dia ingin melihat wajah Lena lebih sering walau dari awal David memintanya dengan nada dingin untuk tidak muncul di depan Lena.
...----------------...
David menurunkan Lena dari gendongan belakang, di jalan setapak di perbukitan. Dia tak merasa capek sedikitpun, baginya Lena sangat ringan seperti kapas. Matahari terasa sedikit hangat . Lena mengulurkan botol kecil yang tadi terkalung di punggungnya.
"Papah, lain kali semoga kita bisa kesini lagi bersama anak-anak, Kak Sean dan Kak Stef." Lena mengecilkan suara, dia menunggu David menyelesaikan minum.
"Kenapa tidak ajak Bapak Sujatmiko dan Ibu Sumarni sekalian?"
"Kasian mereka, takut ga kuat jalan."
"Kalau gitu cari yang sedikit jalan dan banyak naik kereta." David menarik Lena duduk ke pangkuan saat ada ada tempat lebih lebar, hingga para wisatawan tetap bisa melewati mereka.
"Bapak aja baru sembuh karena tak terbiasa dengan suhu udara dan makanan di Naples. "Lena tertawa pelan. Dia mendongak, kemudian dia justru tak tahan pada tatapan David yang tak berkedip seolah, pandangan itu tengah mengebornya. "Jangan lihatin aku terus dong, Mas," geram Lena, wajahnya menghangat karena malu.
"Habis gimana, setiap melihat Mamah nggak pernah puas dan terus ketagihan."
__ADS_1
"Mas ..... "Lena mengerucutkan bibir dan menutup mulut David dengan telapak tangan kanannya. Sebuah kecupan hangat justru dirasakannya, membuat Lena nyaris terpejam karena geli. "Biarkan, aku jalan. Aku kuat kok Papah!"
"Tapi, kalau capek bilang, Ya?" David berdiri dan menunggu sang isteri sedang mengeluarkan ponsel baru yang barusan dibeli. Sang istri mulai memfoto pemandangan lagi, dan selfie. "Mah, hati-hati, kamu bisa tergelincir, jangan minggir-minggir. Ayo, jalan lagi."
David sedikit mendorong pinggang Lena. Sebetulnya, David paling menghindari tempat ini karena kenangan buruknya dengan George, tetapi ini tempat paling cantik di Bern. Dia bela-belain agar istrinya tahu tempat ini, mungkin bayi dalam kandungan sang istri juga merasakan keeksotisan tempat ini.
...⚓ Goa ST Beatus⚓...
Tak kurang dari satu jam, Lena kembali dibuat terpukau pada warna biru danau di depannya. Kini dia berada di sebuah Gua yang kata David cantik, di dalamnya penuh aroma dengan bau batu dan lembab. Ternyata memang cantik.
Pantas, David suka warna biru. Apakah karena keindahan ini? Lihat Nak! itu sangat cantik. Jika bukan karena papahmu yang memburu-buru waktu, Mamah ingin sekali tetap di sini. Walau baunya Mama tak suka.
David menuntun sang istri dengan hati-hati untuk jalan lebih jauh. Waktu liburannya sebenarnya cukup mepet, tetapi dia tak mau Lena tahu bila dia sedang ditunggu pegawainya. Ya, pria itu memundurkan meeting online hingga satu jam untuk membiarkan Lena dalam menikmati siang yang penuh warna ini. Seperti halnya hati David yang kembang-kempis setiap menunggu reaksi Lena, dia mempelajari dengan begitu detail, tak ingin rasanya berpaling dari wajah penasaran sang istri.
Lena langsung menganga dengan lebarnya, pupil itu kian membesar. Lena memegangi pagar di samping kuat-kuat dan dadanya bergetar oleh kesenangan. "Mashallah Tabarakallah, Mas! Sungguh indah ciptaan Allah."
Bibirnya lalu tertekuk, jantungnya berdebar karen merasa berdosa. Dia tak pernah sholat jika tidak ada bapak. Dia merinding akan takut dia dia terlena pada gemerlap dunia yang selalu melenakan mata dan hatinya.
"Mas .... "
"Ya, Sayang!" David merapatkan dadanya ke punggung sang istri.
"Mas, aku ingin bekerja lebih serius!"
"Loh, kenapa tiba-tiba?" David mengerutkan kening.
"Ya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan dalam hidup kita, itu banyak sekali. Aku mau bekerja sebagai bentuk rasa syukur dan tak mau membuang waktuku, walau satu menit pun." Lena bersemangat dan bertekad.
"Mengapa kamu berkeyakinan seperti kau membuang waktumu? Apa kau menyesal Mah? Selalu di dekatku selama ini?"
"Bukan begitu, Papah! Pokoknya setiap Papah di rumah, Mamah janji waktu mamah sepenuhnya buat Papah, Ya? Aku hanya ingin lebih produktif. Itu juga bagus untuk otak biar otakku tetap terlatih untuk kreatif!"
"Baiklah, Mamah. Asal itu membuatmu bahagia, Papa setuju aja. David melepas pelukan Lena dan kembali menuntun sang istri dengan penuh cinta.
__ADS_1
Lena sangat bersyukur pada menit ini. Dia ingin bekerja dan banyak bersedekah untuk temannya di Indonesia, yang sekarang sedang kesusahan. Namun, dia ingin itu dari hasil jerih payahnya sendiri.