Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 84 : Stef minta cerai


__ADS_3

Sean berhenti di alun-alun tengah malam, yang dilewati beberapa lelaki mabuk. Dia benar-benar frustasi memikirkan perasaannya pada Emma. Seperti merengkuh bulan, sangat tidak mungkin.


Ujung sikut kirinya dipandangi. "Jika bukan karena kamu, aku tak perlu malu pada Emma dan keluarganya!" Sean mengumpati tangannya yang buntung. Dia menghela napas panjang.


"Tidak, tidak, tidak! Aku tidak apa-apa, lebih baik seperti ini dan adikku selamat." Niko meremas keras rambutnya, merutuki dirinya.


"Sean Sujatmiko, sepertinya sedang ada banyak masalah ya."


Sean mendongak terpaku pada lelaki kaya yang sedikit gendut. Dia baru ingat nama George adalah orang ini setelah dia dan Paolo kemarin memasukan orang ini yang kemungkinan besar, menyuruh orang untuk menyusup dan mengutak-atik komputer Stef.


"Terlalu kelihatan, ya?" Sean mencoba bersikap biasa, pada orang yang baru diketahuinya berbisnis dengan cara kotor.


"Mau ikut denganku?" George duduk di samping. "Mencari keindahan malam?"


"Aku berniat pulang setelah dari sini. Sepertinya, anda tidak datang khusus untuk menemuiku, kan?" Sean memasang wajah rileks, walau sebetulnya jantungnya berdebar kencang karena orang ini bukan orang sembarangan.


"Kau belum mengenal bunga-bunga cantik kota ini. Kau pasti akan senang, lihat-lihat saja dulu." George mengeluarkan cerutu dan mulai menyalakan korek api dan didekatkan ke ujung cerutu.


"Sudah kutemukan yang cantik. Jauh lebih cantik dari semua orang yang pernah kutemui. Sayangnya, latar belakang keluarganya terlalu sempurna," ucap Sean dalam hati.


"Kau takkan menyesal." George mengisap asap ke dalam mulut. Lalu menghembuskan ke wajah Sean dengan senyum misterius. "Tak usah khawatir, itu gratis."


"Banyak sesuatu di dunia ini gratis, namun selalu ada tujuan dibaliknya, kan? Apa tujuan anda menebar madu lalu membuat semut-semut terjebak sampai mati?"


George tertawa pada nada dingin barusan. "Aku memiliki banyak bisnis menguntungkan yang bisa kita kerjakan sama-sama tanpa menjerat. Kalaulah aku menjerat, tidak ada orang yang mau menaruh kepercayaannya denganku, kan?"


"Bisnis anda banyak, saya rasa saya tak berpengaruh signifikan pada perkembangan bisnis kotor anda? Jadi, anda salah memilih orang." Alih-alih menjawab, Sean menyindir George.


George kembali dibuat tertawa karena Sean yang tak pernah basa-basi.


"Maaf Tuan George, tak peduli sehebat atau sekaya apapun anda berkuasa di banyak tempat. Anda tetap tidak akan berhasil membawa saya untuk terjun ke dunia kotor. Jika anda mau mengancam keluargaku termasuk keluarga David? Aku sendiri yang akan menghabisimu." Sean berdiri dan menatap lekat-lekat mata George yang seakan terkejut.


Sebuah suara senjata terdengar dikokang di belakang, Sean berhenti. "Lakukanlah apa yang anda mau? Karena David dan Paolo takkan diam saja, bukan?"


Tanpa menunggu jawaban, Sean berjalan dan tiba-tiba terdengar suara letusan menggema. Sean melirik ke seluruh tubuhnya tanpa menggerakkan kepala dan tetap bersikap tenang. Dia merasakan George berjalan mendekatinya dan Sean tak menoleh, lalu terbengong saat sebuah senjata dimasukan ke dalam jaketnya.


Pria itu tersenyum misterius sambil meninggalkannya.


"Hei tunggu!" Sean mengambil senjata dan berjalan cepat.


Suara letusan senjata api kembali menggema. Sean berbalik badan karena suara gedebuk di belakangnya. Matanya melototi seorang pria yang baru jatuh dan sekitar tubuh mulai bersimbah darah.


"Kau mau ikut atau? menjadi tersangka?"


Sean berbalik badan lagi dan melihat George sedang menunjuk ke arah tangannya. Dia berkedip pelan memandangi senjata api di tangannya, lalu melihat kebelakang, pada seseorang tertembak.


"Kau menjebakku?" Sean dengan wajah murka dan tangannya gemetar karena marah hingga senjata api ditangannya terjatuh.


"Kamu tidak mau kan? Di deportasi karena membunuh orang? Ikuti aku," suara George menunjukkan dominasinya. "Ayo cepat, selama dua menit kau akan jadi tersangka jika kau tak ikut denganku dan ambil senjatamu."


Sean memandang kosong di jalanan Napoli, saat mobil yang membawanya entah kemana. Tawa George yang terus menggema seolah menertawakan kemenangan pria itu. Siapa sangka Sean terjebak hanya dalam beberapa detik karena tak sengaja mengeluarkan senjata dari dalam jaket.


Tentulah, tidak akan ada yang percaya jika Sean tak menembak orang itu. Yang belakangan Sean tahu, bahwa korban tembak adalah pengawal George sendiri.


Pikirannya seolah ditembak tekanan dan ancaman dalam waktu singkat, hingga Sean tak bisa berpikir jernih. Ada jejak sidik jarinya di pegangan senjata. Sean juga tak sempat mencari tahu siapa penembak kedua. Yang jelas dia tak membunuuh orang.


Sebuah tempat hiburan malam adalah tujuan George. Sean bersikeras takkan minum minuman beralkohol, lebih baik dia mati. Namun, George selalu menyebut kata deportasi dan mengancam bahwa Sean akan berurusan dengan hukum.


...****************...


Stefanie mendorong tubuh Marcho dari atasnya. "Minggirlah, apa kau tak puas setelah dengan Shinta?"


"Sudah berapa kali kubilang, aku tak menyentuh Shinta."


"Pembohong!" Stef duduk dengan wajah merah padam, menghempaskan tangan Marcho yang menahan kedua tangannya agar tidak pergi dari tempat tidur.


"Stef! Mengapa kau berubah sekali?"


"Aku tak berubah. Kau yang tak pernah berubah, mata keranjang! Tukang selingkuh!"

__ADS_1


Marcho menghentak tangan Stef dengan kasar tanpa melepas tangan Stef. "Kau menuduhku selingkuh?"


"Apa namanya lah terserah. Aku tak peduli pendapatmu. Aku muak Marcho!" Stef merasakan aliran hangat air mata di kedua pipinya, setelah sentakan tangan Marcho mengenai perutnya. Bahkan pria itu tak lembut saat dia hamil. "Aku minta cerai!"


"Stef, diam?" suara Marcho serak dan matanya buram oleh embun bening yang menggenang di pelupuk matanya. Bagai disambar petir, dan kesadaran yang selama ini entah hilang kemana kini tengah berkumpul hingga kepalanya bergetar.


Apa salahnya? Baru kali ini Stef bisa mengatainya mata keranjang, tukang selingkuh, bahkan minta cerai.


"Stef- jangan berbicara aneh."


"Apa?" Stef mengayunkan kepala ke depan, menantang Marcho yang kini duduk menghadapnya. Marcho dengan tubuh polos tak memakai sehelai benangpun dan dia yang memakai Cardigan telah melorot ke sikut dan tali braaaa yang terlepas karena ulah Marcho. "Apa Marcho? Bagus begitu kita hidup masing-masing. kau bebas dengan Anna Shinta atau siapapun-"


Bahu Stef bergetar, memberontak saat Marcho memeluknya. "Aku benci kamu Marcho! Kamu seperti orang asing dan aku tak mengenalmu. Kau terus tidak menghormatiku dan aku seperti sampah di matamu. Aku pernah mencintaimu, tetapi sekarang cintaku telah berganti sepenuhnya menjadi benci! Cukup Marcho! Aku merasa benar-benar gila sekarang dan tidak akan ada yang bisa mengobatiku? Sialan? Suami sialan kau! Lepaskan aku!"


Tetes embun berjatuhan dari pelupuk mata Marcho. Dia tidak ingin berada di posisi ini. "Aku tak mau berpisah. Kau hidup dan matiku, Stef."


"Omong kosong!" Suara Stef bergetar dengan dada dan tenggorokan terasa panas melontarkan kemurkaan. Dia tertawa lepas ditengah tangis pilu merutuki dirinya sendiri yang bodoh selama hampir tujuh tahun lamanya.


"Aku bebas hahahaha. Aku bebas dari lelaki mesum sepertimu. Lelaki mesum yang tak pernah menyentuh istrinya selama lima tahun. Dan hanya meniduriku karena merayu untuk menikahi Anna. Brengsek kau memang! Romeo adalah kesalahan menurutmu. Jangan rebut dia dariku, karena aku akan memenangkannya di pengadilan. Aku mengumpulkan bukti semua perselingkuhanmu Sial!"


Teriakan Stef menggema di ruangan sampai wanita itu batuk-batuk. Marcho melepaskan pelukan tetapi kini menahan kedua lengan Stef.


"Aku tidak selingkuh Stef? Kau boleh mengatakan apa saja. Aku memang pantas kau marahi? Tapi aku tidak selingkuh Stef. Aku sudah bilang-"


"Selingkuh!"


"Stef diam! Beri aku waktu untuk berbicara!" Akhirnya Marcho membentak Stefanie sampai wanita itu diam dari memberontak.


"Demi apapun, aku hanya tidur satu kali dengan Shinta tanpa kesengajaan."


Mata Stef membesar dan langsung lemas. "Kau tidur dengan dia, benarkan!" Hati yang hancur anehnya masih merasakan perih tidak terkira sampai seluruh tubuhnya yang tadi panas karena amarah. Kini begitu dingin.


Stef menggelengkan kepala dan menepis tangan Marcho. Dia turun dari tempat tidur dengan dunia yang terasa hancur gelap. "Aku mau cerai," suaranya tanpa tenaga.


Marcho sesenggukan dan menangis tanpa bisa ditahannya saat melihat Stef keluar dari kamar dengan membawa ponsel. "Aku baru sadar, kalau kau wanita terbaik, dan aku tak mau kita pisah," katanya dengan suara parau dan tersengal.


Stefanie keluar dari kamar dan berpapasan dengan pembantu yang lewat. Dia mengabaikan walau pembantu itu melihatnya beruraian air mata. Stefanie ke kamar Romeo dengan pikiran kosong.


"Halo .... " ucapnya serak. Stefanie mematikan ponsel dan mencerna apa kata orang asing dibalik telepon.


Kasian sekali. Bagaimanapun Sean selama ini membantunya. Stef meraih mantel yang ada di kamar Romeo, dia enggan melihat tangisan buaya Marcho. Dia pikir Marcho hanya akan seperti itu saat Stef marah, lalu mengabaikannya lagi nanti.


Setelah titip Romeo, agar Bibi tidur di kamar Romeo, Stef lalu mengarahkan mobil ke diskotik terbesar di kota ini. Dia tak membawa dompet, karena dompetnya ada di kamar.


Mobil telah parkir di depan, Stef menelpon ponsel Sean dan seseorang menerima telepon itu dengan posisi sudah berdiri di depan Bar. Wanita itu mengikuti petunjuk orang itu.


"Dia di ruangan ini, Non." Petugas Bar menunjuk sebuah ruangan.


Stef melototi Sean yang mabuk. Dia tak mengira, anak ini bisa seperti ini. Padahal, kalau makan di luar selalu tanya lebih dulu, jangan sampai menggunakan babi dan alkohol. Tetapi kenapa ini malah minum alkohol, sendirian pula.


"Sean?" Stef duduk di samping Sean, dia melirik sebotol minuman dengan alkohol kadar 60 persen yang tinggal setengah. Dan ada satu gelas. Tangannya menepuk bahu Sean.


"Apa aku telepon David? Ah jangan! Nanti, takutnya Sean marah. Mungkin dia sedang ingin menenangkan diri. Kalau Niko gimana, ya? Kalau kesini saja nggak dengan Niko, tandanya sedang tidak mau ada orang lain tahu kalau dia sedang seperti ini? Apa aku tanya Axel saja. Lagipula Axel selalu menawarkan bantuan." Stef terus bergumam dengan kepala pusing.


"Ah, bawa ke hotel dulu saja, daripada kesalahan." Stef menutup hidungnya, karena bau alkohol dari mulut Sean. Wanita itu keluar lagi dan meminta bantuan agar security memapah Sean sampai ke mobil.


"Se, kamu kenapa, kalau ada masalah cerita, kok malah gini?" Stef mengarahkan mobil, dan memutuskan ke apartemen Sean.


Dengan susah payah dia memapah Sean ke nomor kamar yang pernah disebut Sean.Stef tak kuat memapah Sean dan Sean terlepas dari papahannya. Dia yang menahan tangan Sean ikut ambruk ke atas tubuh Sean. Beruntunglah perutnya hamilnya tidak membentur lantai.


"Kamu benar-benar menyusahkan Se, awas aja besok pagi!" Stef bangun dengan susah payah dan menekan bel pintu berulang-kali. Dia pun menelpon Niko lewat hp Sean tetapi tidak di angkat.


Stef duduk bersandar di pintu apartemen Sean. "Ah Sial banged aku hari ini!" teriak Stef sambil menjejak-jejakkan kakinya yang selonjor. "Kenapa semua orang menyebalkan! Sean! Aku ingin tidur!"


Stef melirik putus asa ke kanan, melihat Sean yang tiduran di lantai dan .... muntah. "Ih, jijik!"


Wanita itu bingung bukan main, tak tega meninggalkan Sean ke mobil untuk ambil tisu. Dibuka mantel miliknya. Dia membuka kardigan tidur berbahan sutra, lalu dia memakai mantel ke badannya lagi dengan rapat.


Cardigan sutra itu digunakan untuk mengelap ujung mulut Sean. "Menyebalkan!" Stef mengelap bibir Sean dari muntahan, lalu muntahan itu ditarik menggunakan kardigan hingga .jauh dari wajah Sean. Kepala itu ditariknya dengan susah payah hingga Sean duduk. Stef terengah-engah dan duduk di samping Sean sambil menyeka keringat di kelopak matanya. Matanya perih terkena asinnya keringat.

__ADS_1


Ponsel Sean kembali dibuka, Stef mengirimi Niko pesan :


-Nik, bantu aku cepat. Sean mabuk dan muntah. Aku dan dia sudah di depan apartemenmu. Cepat keluar. Ini aku Stefanie Ailiy.-


"Se, apa sandi apartemen mu? Masa kita nggak bisa masu?" Stef meneplak-neplak lengan Sean dan terus berusaha bertanya. "Eh, jaketmu juga kotor itu?"


Jaket pria itu dilepas Stefanie dengan susah payah dan berhasil terlepas. Suara benda jatuh mengalihkan perhatian Stef yang sepertinya dari jaket. Matanya mendelik dan mendapati senjata api. Tubuhnya gemetar hebat.


Dari sudut lorong terdengar langkah seseorang. Stef kembali gemetar karena Jefri tengah berjalan ke arahnya.


"Sial lagi!" batin Stef dan jantungnya berdebar karena langkah keyakinan orang itu. Dia melirik senjata itu. Stef condong ke depan dan menyeret senjata itu ke arahnya, diantara Sean dan dia. Tangannya merayap ke bawah jaket untuk memegangi gagang besi senjata yang terasa dingin.


Pria itu berdiri di depannya. Stef yang masih duduk waspada, melirik Sean dengan kesal. Kenapa Sean tak bisa diandalkan.


"Aku sudah bilang jangan ganggu aku?" Stefanie dengan bahu gemetar membuka suara, dan berusaha tidak takut, tetapi tubuhnya panas dingin karena malam ini dia jelas takkan bisa minta tolong.


"Kau mencari pengacara?" Jefri dengan senyuman gemas tetapi dengan aura mendominasi, mulai berjongkok di depan wanita yang kini pucat pasi. "Sudah kuduga, kau mulai mendengarkan nasehatku untuk menceraikan Marcho? Aku akan membantumu dan selanjutnya kau menjadi milikku."


"Tidak! tidak akan. Sekalipun aku tak bersama Marcho, aku akan takkan mau menikah denganmu! Cari saja wanita lain."


Jefri tersenyum gereget bukan main. Nada galak itu membuatnya semakin tertantang untuk menaklukkan wanita keras kepala ini. Walau wanita itu takut, tetap saja tak menyerah. "Cepat atau lambat aku tahu, kau akan menerimaku."


"Tak akan! Pergi sana!"


Jefri mengerutkan kening dan matanya membelalak melihat senjata api yang baru muncul dari balik jaket silver dan tangan wanita yang gemetar itu mengacung pada bibirnya. Sontak Jefri menahan tawa. "Tembak saja, Baby."


"Aku bukan bayimu! Jangan panggil aku Bayi! Pergi atau aku tembak kamu! Pergilah dan jangan pernah kembali! Kalau kamu berani kembali aku akan menembakmu dengan senjataku."


Jefri mengatubkan bibirnya kuat-kuat dengan alis mengkerut, menahan tawa. Aduh lucunya.


"Jangan senyum-senyum, aku serius!" Stef stress bukan main, kepalanya bagai mau pecah. Takut sekaligus marah, kenapa nasibnya menyedihkan begini, tak ada yang menolong dan mengkhawatirkannya.


"Pergi!" Mata Stef mulai buram oleh genangan air mata. Tangan perlahan mengarahkan senjata ke pelipisnya sendiri dan berhasil membuat pria itu pucat pasi dan melotot.


"hei, a-a-pa itu," suara Jefri tercekik dan tangannya terulur ke depan tetapi tertahan karena jari telunjuk mungil itu di depan penarik pelatuk


"Diam! Aku tembak diri sendiri saja! Buat kamu puas dan tak bisa menggangguku lagi."


Jefri mengerutkan bibir dan dua tangannya penuh waspada angkat tangan di depan bahu. "Aku menyerah, tenang, okey Baby."


"Jangan panggil aku Bayi!" teriak Stef histeris dengan murka


"Okay-okay maaf!" bentak Jefri, baru kali ini ada orang biasa berani membuat tekanan padanya sampai pusing sakit kepala. "Turunkan jangan main-main itu bahaya," suara Jefri rendah terdengar khawatir.


"Pergi! Pergi pergi!" Stef dengan tak terkendali membuat Jefri cemas.


Pikir Jefri wanita itu gila atau tak tahu betapa bahaya senjata api, mana itu terlihat otomatis. Gila wanita itu main-main dengan nyawa, pikirnya. Ngeri-ngeri sedap.


"Iya aku akan pergi, aku akan pergi, ya."


Stef merasakan seluruh ototnya yang menegang tiba-tiba mengendur. "Benar?"


"Iya, ini ak berdiri. Jauhkan telunjukmu dari sana. BERBAHAYA."


Stef mengangguk dan telunjuknya kembali gemetar saat menjauh dari lubang penarik pelatuk.


"He, fokus tenanglah. Kau diam, biar aku bantu, kalau kau takut?" Jefri dengan suara sangat rendah dan serak karena tangan mungil itu gemetaran. Diapun takut bila wanita itu teledor dan salah gerak sedikit, peluru itu bisa meletus dan bisa mengenai wanita hamil yang berwajah sembab dan pucat malam ini.


...----------------...


Di rumahnya, Marcho dengan pikiran akan menyerahkan seluruh hidupnya malam ini pada sang istri dan berjanji tak akan membantah dan melanggar setiap omongan dan harapan Stef. Pokoknya Marcho bertekad sudahlah pasrah pada semua kemauan Stef asal tetap hidup bersama.


Dia mencari ke kamar Romeo dan bingung karena justru Bibi bilang, Stef keluar rumah sebentar. Marcho cemas bukan main, dia kembali ke kamar dan menelpon Stef. Dia ingat Stef bilang merasa gila karenanya, Marcho jadi takut Stef melakukan hal membahayakan diri.


Teleponnya tidak aktif. Marcho menelpon David yang belum tidur karena sedang meeting dini hari. David bilang akan kemari membawa Paolo. Tiba-tiba pikirannya teringat Sean, yang kata kepala pelayan, belakang Sean terus menjemput dan mengantar Stefanie, walau Sean tak menyetir.


Jangan-jangan isterinya curhat dengan Sean. Marcho semakin berpikiran buruk Kaka Sean tidak mengangkat telepon. "Jika tidak dengan Sean, kemana Stef."


Yang Marcho tahu, Stef bukanlah orang yang pernah keluar malam seperti ini. Bisa dibilang, Stef tidak memiliki teman main, karena selalu di rumah dan menolak ajakan para teman-teman untuk nongkrong.

__ADS_1


"Pasti Sean." Marcho merutuki diri saat tidak tahu lebih luas tentang kebiasaan isterinya, bila saat-saat Stef sedih seperti ini.


Baru kali Marcho mencari Stef, karena selama ini Stefanie adalah isteri yang sangat patuh. "Stef, angkat dong!"


__ADS_2