Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 9 : CHEERS PIALA DUNIA


__ADS_3

Ketika ciuman terlepas, Lena dan David bersitatap tanpa bisa berkata apa-apa. Seolah mereka baru bangun dari pingsan dan kebingungan. Lena entah bagaimana caranya sudah duduk sangat jauh. Perempuan itu berusaha menutupi rasa malu dan kegugupan dengan makan es krim dalam sendokan besar sampai mulutnya mati rasa sambil terus melihat ke luar jendela.


Axel bersyukur karena melihat tempat tujuannya sudah sampai. Dia bahkan tak berani melihat ke belakang. Apalagi membalikan spion tengah.


David menyerobot es krim dari tangan Lena. Dia tidak sampai hati karena Lena terus mangap-mangap, tersiksa sendirian sampai meniup-niup asap putih dingin yang keluar dari bibir mungil yang kini jontor.


Setengah kotak es krim dihabiskan oleh David. Dalam keadaan seperti ini, dingin menyelamatkan semua otot yang tegang lagi kepanasan hingh kembali normal. Begitu mobil memarkirkan kendaraan, David langsung loncat sebelum kendaraan sepenuhnya berhenti dan ternyata Lena juga sudah loncat.


Axel tertawa garing, sampai garuk-garuk kepala. Dia berpikiran mereka janjian keluar pada detik yang sama kali, ya. David dan Lena berbalik bersamaan karena merasa ada yang janggal dan mata mereka mendelik saat bertemu. Rona merah menyebar di pipi dan berpikir siapa yang ikut-ikutan.


Lelaki itu berdeham karena di sini dia harus memegang kendali. Pria itu berjalan dan meraih tangan Lena dengan lembut, dan berjalan bersama ke sekumpulan orang di dekat Motor Paralayang. David dapat merasakan tangan Lena yang tegang dan berkeringat. Sekarang perbedaan tinggi di sini sangat menguntungkan hingga mereka tak perlu bertemu pandang.


Seolah terhipnotis, Lena entah menjadi penurut. Si Pemandu Paralayang mengatur tempat duduk Lena di samping David. Perempuan itu pun tak banyak bertanya, justru makin membeku seperti mau bertemu maut.


Model Paralayang Motor ini terdapat tiga tempat duduk. Satu di depan untuk pengemudi dan dua kursi dibelakang untuk penumpang. Namun, juga ada model motor berpenumpang satu.


Sekejap pikiran Lena melayang, dia yang agak ngeri pada ketinggian sampai tidak sanggup bersuara. Setelah mencerna semua peristiwa yang mengejutkan dan menguras otaknya hari ini, dia kini seperti seonggok semen, tak bertenaga. David seolah merasakan ketidaknyamanan tubuh Lena, lalu menggenggam tangan mungil yang dingin.


Angin menerpa tubuh Lena setelah suara mesin konstan berjalan. Roda kecil melewati daratan pasir yang tidak rata, sensasi diguncang kendaraan memang biasa dan menyenangkan. Namun, Lena makin terpejam tak siap menghadapi apa yang menunggunya.


Gadis itu mendengar suara angin bergemerisik, menggesek lembaran paralayang. Dia juga dapat merasakan bahwa parasut makin mengembang karena suara berisik dari parasutnya makin berkurang. Dia mulai terasa mual, keringat dingin mulai bercucuran.


"David!!!!" pekik Lena pada angin yang makin kuat menerpa wajahnya. Dia telah memakai penutup telinga anti kebisingan, tetapi tetap bising, kendaraan pun terasa melayang terbawa angin bergoyang. Jantungnya mengembang maksimal, lalu langsung mengkerut.


"Lena, buka matamu." David mendekat ke pipi Lena. Dia tak tega pada air mata Lena yang meluncur dari sudut mata dan tersapu cepat ke pelipis oleh angin. Cengkeraman Lena makin kuat dan kuku panjang menusuk hingga David meringis karena perih. Tali rambut lena makin merosot. "Len, dengar, buka matamu!"


"Aku takut! Tolong turun saja, Dav!" Lena memegangi satu tangan David dan menangis saat Si Pengemudi ikut berbicara dan berusaha menenangkan Lena. Walau sudah mendapat arahan di bawah, karena keberadaan David terus disampingnya, membuat Lena menjadi tak memperhatikan arahan.


"Buka," kata David di telinga Lena. Bibir itu menyentuh telinga Lena yang merah. "Percaya padaku."



Jantung Lena sudah terpompa cepat. Dia yakin pasti, deguban jantungnya akan berhenti atau serangan jantung. Mata hazel memerjap, lalu menyipit sebentar. Kemudian menutup sambil menggelengkan kepala cepat-cepat.


"Turun," rengek Lena dengan merem4s lengan kekar, lalu membuka mata lagi dengan kengerian. "Oh! Abang! Turunkan Aku! Aku tinggi sekali! Aku belum nikah Abang! Adikmu belum nikah! Ya ampun!"


"Ya, betul, terus keluarkan semua, Lena!" David berteriak karena suara dan tekanan angin begitu kuat. Dia menikmati semua moment perubahan di wajah Lena. Dia tahu ada kamera merekam dari depan.


Di sini melihat Lena langsung jauh lebih berarti. Pipi semu-semu merah dengan otot yang menegang. Teriakan histeris Lena yang lalu disusul kelegaan, lalu muka mungil itu kembali tegang sampai otot biru begitu tercetak di wajah putih. Semua keindahan itu tengah diukir melalui mata dan disimpan ke dalam memori kepala David.


Axel yang sedang beristirahat, jantungnya seperti mau copot. Dia langsung berdiri dan memberi hormat pada kakek Leora yang datang tanpa pemberitahuan. Kakek tua yang memakai jubah putih produk penduduk setempat, berdiri dengan berpegangan pada tongkat kayu bergambar naga merah.


Axel yang tadi enak-enak ngopi, tidak menyangka pria yang dilihatnya sejak turun dari parkiran adalah benar, tuan besar. Axel memberikan ponsel miliknya ke bos utama. Anak buah Axel memberikan satu kursi portable, lalu Kakek Leora duduk dan melihat semua video disertai penjelasan langsung dari Axel.


Leora juga sempat meneropong keberadaan sang cucu. Sementara Axel gemetar dan sering mengedipkan mata dengan cemas. Dia sama sekali tidak bisa menebak tanggapan dari tuan besar. Sampai tuan besar pergi, Axel masih menggaruk pelipisnya karena video yang merekam tuan telah lenyap.


Tidak ada di galeri, bahkan di dalam sampah memori ponsel. Baru beberapa menit ponsel ini ditinggalkan saat mengambil salinan kontrak hubungan sang tuan dengan nona Lena yang diminta kakek Leora. Kini video kemesraan tuan dan nona Lena sudah hilang.


"Kita tidak akan jatuh?" Lena memandang David yang tatapan deepblue itu kian bersinar.


"Tidak akan jatuh." David mengecup punggung tangan mungil Lena dan sepertinya Lena tak sadar karena Lena terpejam menghadap ke langit pagi. Sinar matahari mulai terik tetapi di atas anginnya kencang, tidak panas. Lena mulai tertawa, walau wajah itu sedikit tegang, persis seperti tawa orang mabuk. "Lalu, moment ini diberi judul apa, Len?"


"KENGERIAN DI LANGIT QATAR. Aku harap aku tidak akan takut lagi." Rasanya, dada Lena seperti ditarik ke bawah. Dia tidak jatuh, tetapi mengapa ada sensasi terjun bebas setiap melihat ke bawah. Kaki mungil kesemutan dan begitu dingin, walau dia memakai kaus kaki dan sneaker hijau, rasanya bagai terjebak di dalam kolam es.


"Lena, bukankah kita harus bersyukur karena masih diberi mata. Gunakan matamu untuk melihat ke bawah. Ada Laut dan Gurun pasir. Biru dan Coklat. Itu sangat sayang untuk dilewatkan."


Lena membuka mata dengan bulu kuduk meremang, tetapi dia membenarkan perkataan David. Warna kontras ciptaan Tuhan. Biru Coklat. Sekarang dia terbang diatasnya, di Qatar. "Indah, Dave! Memukau!"


"Katakan jika kau suka?"


"Aku suka, David!" Siapa yang tidak suka ini, kecuali yang pobia ketinggian. Sepertinya, dia bukan phobia. Tetap saja ini mengerikan, bila jatuh kepalanya hancur tak berbentuk.


"Apa kau mau lain waktu kita ke sini lagi?"


Lena langsung berpaling dan menatap David. "Ada yang perlu kita perjelas di sini David. Garis batas yang jelas. Saat kau bisa menepatinya, aku akan jawab : aku sangat ingin naik ini di hari ke 13."


Pandangan David meredup. "Dan setelahnya?"


"SELESAI."

__ADS_1


Tubuh David lemas seketika. Baru juga tadi di daratan senang karena balasan ciuman Lena yang membuatnya seakan melayang


Sekarang giliran di ketinggian justru bagai dijatuhkan dari ketinggian pada pahitnya kenyataan.


David menarik kepala dengan loyo. Pria itu membuang muka dan melihat ke bawah dengan tatapan kosong. Sepertinya, lagi, di sini dia yang salah. "Aku berharap seorang diri pada hubungan ini. Sedang, kamu tidak ingin lebih lama dari ini."


"Kau bilang apa, David? Aku tak mendengarmu?" Lena tak mendapat balasan lagi.


Mulut mereka lalu terkunci. Lena terpaku ditengah ketakutan akan ketinggian ( berpikiran negatif bila dirinya jatuh). Sementara David, tidak bisa membayangkan apa yang dilakukannya setelah kembali ke Italia.


Kembali dengan Shinta? Diam saja melihat Shinta dan Tara bersama? Atau menjadi orang yang menyedihkan dan terpuruk sendirian. ( David )


Motor Paralayang mendarat dengan mulus di daratan pasir. Lena tertawa lepas sambil berjalan dengan gemetar hingga terjatuh, lalu bersujud sambil mencengkeram pasir. Gadis itu bersyukur masih diberi kesempatan menginjak daratan dan masih bernyawa walau lututnya kedinginan saking lemasnya.


Axel menangkap tampang tuan yang makin dingin. Lena sampai dibantu David untuk berdiri. Celana Lena di bagian lutut terdapat banyak pasir, lalu dikibas-kibas dengan lembut oleh tangan David saat perempuan itu terus saja tertawa. Perempuan itu saja kesulitan menangani luapan adrenalin yang dihadapi barusan, jadi Axel memaklumi bila nona mungkin tidak bisa melihat kemuraman di wajah David.


Mobil pun sampai di Stadion Lusail. Lena menatap David yang sangat dingin tak menoleh walau mobil telah berhenti. Dia mengulurkan tangan. "Dav, berikan ponselmu?"


"Untuk apa?" David merasa keberatan. Dia tidak menoleh dan berharap Lena cepat keluar hingga dia bisa memiliki waktu untuk mengevaluasi dirinya sendiri.


Lena meraba dada David, lalu pandangan David meredup dan menyerah pada Lena. Pria itu langsung mengeluarkan ponsel dari saku jas, bahkan membuka kunci ponsel dengan sidik jarinya.


Lena langsung mematung karena layar foto menampilkan kemesraan David mencium pipi Shinta. Shinta yang menghadap layar, mungkin Shinta yang mengambil gambar selfie. Di sini tangan David memegang kepala dan leher Shinta dengan tampak penuh gereget. Jelas bukan, David sangat mencintai Shinta? Tatto di dada kanan David saja mirip gambar foto disini karena rambut Shinta yang pas keriting. Tampaknya ini foto sudah lama.


"Hei," suara David meninggi dan akan menarik ponselnya karena perubahan raut wajah Lena. Dia sudah menebak sebelumnya. "Apa yang kau lakukan?" David masih mempelajari Lena.


"Dia cantik."


"Sangat cantik. Perempuan tercantik di bumi ini," timpal David tanpa ragu-ragu. "Jadi, kau mau apa?"


Axel meraup wajahnya, dia masih bingung urusan kakek Leora. Saat melirik ke belakang, matanya langsung melotot. Ponsel yang tak boleh ada seorangpun yang menyentuh kecuali nona Shinta, justru dipegang Lena. Jadi dari tadi, apa yang mereka bicarakan?


Tangan Lena gemetar, lalu membuka menu telepon. Hatinya mengapa mengkerut pada tatapan dan sikap David di foto wellpaper. Emang apa yang salah jika David begitu tampak menyayangi pacarnya sendiri. Dia sedikit menjadi tidak fokus sampai terus membulirkan tangan di jendela menu, lupa dengan apa yang dicarinya.


"Lena, sayang?" panggil David gemas, akan merebut ponselnya. Namun, tangannya di dorong Lena. Jadi, di sini David mencoba mencerna kenapa Lena seperti ini.


Kamu tahu nomerku darimana, Dav? Kok bisa? Apa ini .... Amore. Namaku Lena bukan Amore. (Lena)


"Sudah?" tanya David sambil menekuk sikut tangan. Dia melirik jam tangan. "Sudah jam sembilan lebih, Len. Atau kamu mau ikut dengan kami lagi?"


"Udah," Sura Lena pelan dan mengembalikan ponsel David dengan sedikit kasar dan David menangkap ponsel di tangan kanan.


David menarik dengan cepat pinggang mungil, hingga mereka saling menempel. "Jadi, beritahu untuk apa seorang Lena memerlukan ponsel milikku?" Pria itu mencengkeram wajah mungil yang kini seperti kertas kusut. Dia mengangguk dan membuat perintah dengan suara dingin. "Jawab."


"Jangan datang tiba-tiba seperti hantu." Lena merasakan di dalam hatinya nyut-nyut karena sakit, tak bertenaga. "Kamu kirim pesan ke aku dulu sebelum ketemu. Juga, nanti malam aku mau tidur lebih awal. Jadi, hari ini cukup. Ketinggian tadi, sudah menguras seluruh tenaga ku untuk hari ini."


Juga otak dan kewarasanku telah terkuras ( Len)


"Siap Tuan Putri." Nada David berubah sangat lembut dan penuh dengan senyum keramahan.


Lena memasuki gerbang Volunter dan menscan kartu, dia masih dalam keadaan linglung karena situasi yang seringkali berubah. Dia cuma menghabiskan lima jam dengan David, tetapi rasanya begitu berarti seperti berpergian dengan orang yang kita sayangi.


Hari mulai sore saat beberapa penonton kesilauan karena sinar kuning matahari yang menerpa sebagian lapangan. Kedatangan pengunjung di bagian ticketing mulai berkurang dan seorang teman meminta Lena untuk istirahat. Lena pun berjalan sambil memutar kepalanya dan merenggangkan tangan.


Perempuan itu duduk di kursi penonton, di bagian belakang, di sana ada deretan kursi kosong. Seorang kakek berulangkali ketangkap basah menatapnya. Lena lalu tersenyum ramah meski dalam keadaan lelah parah.


Sebuah roti diulurkan kakek itu dari kejauhan dengan air minum, lalu Lena menoleh ke belakang dan kembali menatap sang kakek, kemudian Lena menunjuk dada sendiri. Sontak Lena mengurangi jarak dengan mata berbinar dan meneguk salivanya kasar setelah mendapat anggukan sang kakek.


"Habiskan, kau kelelahan?" Sang kakek tersenyum dengan sangat elegan, saat sang volunter yang baru duduk langsung melahap roti pemberiannya sampai memenuhi mulut mungil itu.


Perempuan itu tersenyum malu dan mengangguk. Dia menghabiskan sebungkus roti kurma yang sangat lezat dengan cepat untuk menopang keletihannya. "Terimakasih, Kakek. Anda dari mana?"


"Italia."


Lena tersenyum garing, mengapa ada banyak orang-orang Italia yang berputar di dalam otaknya.


"Cara, kau punya pacar?" tanya Kakek tidak pernah lepas dari senyum sangat ramah.


"Teman pria. Iya. Dia sekarang di sini. Seorang insinyur mesin. Apa itu arti dari 'Cara', kakek? Ah saya Lena Paramita." Lena mengulurkan tangan, tetapi kakek itu tidak langsung membalas, seolah ragu-ragu hingga Lena akan menarik tangannya baru sang kakek mau membalas jabatan tangan.

__ADS_1


"Ouhh .... Cara itu cara kami memanggil sayang, seperti Amore. Hanya saja Cara ini kuno, di jaman saya." Kakek terkekeh.


"Kalau Amore ?" Lena meninggikan suara karena penasaran.


"Yeah ! Amore mia like My Love. And Mia Cara like My dear," kata Sang kakek dan Lena tersenyum dengan malu-malu. Dia jadi teringat dari cara David menamainya di ponsel. Amore artinya cinta. Cinta. Mata Lena berputar. Lalu mengayunkan kepala ke depan , membuang pikirannya yang kepedean.


Lalu senyuman Lena memudar ketika mulai berpikir realistis. Hanya sebuah kata-kata 'Amore' Jadi kenapa? Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dia malu mengakui, bahwa dia merasa senang, sangat senang walau hanya penamaan. Tidak tidak. Dalam hatinya terus berkecamuk. Semua pikirannya lalu berakhir pada penyesalan. Lena menilik pesan Niko, kemudian memandangi foto Niko dengan menggigit bibir bawahnya.


"Apa itu pacarmu?"


Lena menoleh ke kanan, dia lupa masih ada kakek. "Yah, Kek."


"Tampan."


Lena mengangguk dengan senyum getir. Dia menjadi bingung.


"Apa yang kamu pikirkan? Sepertinya kamu sakit?"


"Tidak, kakek."


"Lalu kau ada masalah?"


"Sepertinya, Ah. Saya telah berbohong pada pacar saya dan sangat menyesal. Seandainya ada cara menebus ini. Saya pasti memilih tidak datang ke negara ini." Lena serong kanan karena kakek itu mengelus punggung tangan Lena.


Mata biru itu mengingatkan pada David. Mata kakek yang indah seakan banyak menyerap pengalaman kehidupan hingga kebijaksanaan memercik dari sana. Tidak ada pandangan mengintimidasi. Kakek itu lalu memandang ke seluruh stadium seperti mencari seseorang, lalu kembali menatapnya.


"Apa Anda menyesal memberi banyak kebahagiaan pada para penggemar sebanyak ini? Apa jadinya kami tanpa orang-orang seperti Anda yang sukarela menyumbangkan waktu, tenaga dengan hati hingga pesta besar ini tercipta dengan penuh kelancaran. Berkat kalian."


Lena menggigit bibir bawah sangat tersentuh. "Tidak kek!" Lena langsung menutup mulutnya karena berteriak dan kakek itu tertawa karena kecerobohannya hingga Lena sangat malu. "Saya senang menjadi bagian ini, yang saya impikan sebelumnya, dan .... Saya senang memiliki banyak teman baru dan bertemu orang hebat," suara Lena makin mengecil saat teringat David.


"Kita hanya perlu memperbaiki kesalahan. Tidak ada manusia yang bisa luput dari kesalahan. Anda mengerti? Perbaiki."


Lena mengangguk, lalu tersenyum. "Terimakasih Kakek .... ?"


"Xavero."


"Kakek Xavero .... " Lena mengernyitkan dahi saat dia sudah berdiri karena sang kakek tiba-tiba sudah mengada dua tangan yang berisi bungkusan kecil-kecil.


"Ambilah. Anak manis harus makan yang manis-manis."


"Apa semuanya?" Lena tertawa ringan membalas tawa sang kakek. Dia membuka resleting tas mini, lalu duduk lagi untuk menjereng bukaan tas dan mengarahkan ke kakek hingga pria berambut ikal hitam menuangkan beberapa bungkusan mini ke dalam tas milik Lena.


Lena mengubek-ngubek isi tas dan meraih sebuah permen lolipop arab. "Kakek ini memang hanya satu buah, tetapi ini sangat berarti bagi Lena. Jadi, Lena mau membagikan untuk Kakek Xavero."


Kakek itu tersenyum dengan mangut-mangut. "Kamu yakin, Amore?"


Lena makin berbinar. "Ya! Saya sangat ingin berbagi kebahagiaan dengan kakek. Walau itu hanya satu."


"Bisa kita makan bersama?"


"Maxud kakek?"


Kakek tua itu mengambil sesuatu dari tas mini, yang berada di samping kanan setelah menyingkirkan tongkat bergambar naga merah. Lalu menyobek bungkus kecil hingga otot hijau tampak di tangan keriput itu. Kakek mengulurkan pada Lena."Please .... "


Lena mengambil permen coklat dari kakek, sekaligus menarik permen lolipop susu kurma dari tangan kiri kakek, dan membuka bungkusnya, lalu mengulurkan permen bulat yang terbebas dari bungkus ke tangan kakek lagi. "Untuk Kakek Xavero."


"Cheers Piala Dunia Qatar," kata Kakek dengan senyum bijaksana sambil menggoyangkan lolipop.


"Cheers Piala Dunia Qatar," ulang Lena sambil mengikuti gerakan kakek. Mereka melahap dalam waktu bersamaan lalu tertawa bersama.


Satu gol dan teriakan penggemar menggema diikuti yel-yel. Berikutnya saat yel-yel selesai dikumandangan, lalu sedikit senyap karena para penggemar fokus pada menit-menit menegangkan akan berakhirnya babak 1 karena skor menjadi satu sama.


"KAKEK LEORA .... "


Jantung Lena berdebar karena tiba-tiba mendengar suara samar-samar familiar. Lena beralih dari kakek yang masih tersenyum, saat mata keriput itu berkedut.


"Kakek Leora."


Lena yang sudah memunggungi sang kakek, lalu membeku. Wajahnya berubah pucat pasi saat memandang ke belakang kursi penonton, pada asal suara barusan.

__ADS_1


__ADS_2