Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Tendangan Bayi


__ADS_3

Tangan Niko terkepal dan terus menahan Lena, begitu marah. Sampai letusan senjata tidak terdengar lagi, lalu ketukan pintu mengejutkan Niko.


"Bos, ini saya Pecco."


Niko masih diam. Pecco tak berani mendorong pintu, yang dia dengar hanya rintihan suara wanita. Entah ada apa dengan mereka, dia berjalan menjauh dan menunggu di pintu depan dengan melirik terus ke arah ruang belakang.


Paginya, Lena mengangkat dagu. Lelah berjam-jam duduk dan entah sejak kapan duduk di depan Niko, sepertinya dia baru sadar karena semalam suasana mengerikan. Dia melepas tangan Niko dari perutnya dan menjauhkan wajah Niko dari bahu.


Berdiri seraya melihat mata Niko yang merah. Tatapan itu mengerikan. Lalu Niko ikut berdiri dan justru melewatinya lebih dulu. Dia mengikuti Niko yang bertemu Pecco. Namun, Niko dan Pecco melihat ke Lena sesaat. Lalu mereka meninggalkan rumah besar ini.


Lena dengan gemetar menuruni tangga. Umai Maharati juga tidak terlihat. Para anak buah berjaga seperti biasa, tetapi tanah yang biasa tertutup rumput kini tertutupi taburan tanah. Lalu semak-semak di sekitar semua rusak seperti terinjak banyak orang. Dia berjalan ke kamar mandi dan buang air kecil cuci muka dengan pikiran terus mencerna.


Wanita itu menarik handuk di lemari yang tergantung, di kayu luar bilik pemandian. Rasanya ingin menangis tanpa tahu alasannya . Apa mereka membunuh David? Langkahnya terasa tak bertenaga, matanya terpaku pada noda merah menghitam di rumput hijau. Berjalan lagi, ada lintangan noda merah gelap di rerumputan dan tanah. Noda itu cukup banyak. Lalu terdengar teriakan dari rumah sebelah.


Lena bergegas melangkah cepat, dia yakin apa yang dia lihat itu darah. Ternyata, teriakan itu dari dua orang yang berbeda..Entah apa yang terjadi. Lena dihalangi masuk oleh penjaga. Dia meringis takut pada suara teriakan, dia menduga mereka disiksa. Itu bukan suara David. Lalu David dimana?


...****************...


Hujan mengguyur deras, di jam sepuluh pagi. Niko menyibak jaketnya, walau dia memakai payung tetap saja basah. Dia memakai sandal rumah dan melirik dua pegawai yang masih setia berdiri di serambi rumah hingga kaki mereka terciprat air.


"Aku di sini cukup lama. Jadi, pergilah berteduh." Niko sedikit berteriak di tengah gemuruh angin.


"Siap Bos. Terimakasih." Dua orang itu mengangguk, lalu lari ke rumah sebelah tanpa memakai payung dan membuat jas mereka langsung basah.


Niko menutup pintu rumah itu agar angin tidak masuk. Tampak Umai Rati di ujung. Kira-kira dua puluh meter dari tempatnya berdiri, sedang menyetrika baju. Tenaga listrik di sini menggunakan sel surya. Umari Rati sendiri tidur di ruangan sebelah Lena, agar bisa mendengar bila Lena memanggil.


Dilirik ke dalam kamar, Lena duduk di kursi, di depan meja kayu persegi. Niko mengetuk pintu dan Lena mendongak lalu berusaha berdiri.


"Diam di situ." Niko melangkah dan menutup jendela kamar. "Nanti, kamarnya lembab, kamu bisa masuk angin."


"Gelap .... " Lena terpaku pada Niko yang mengambil sesuatu di atas lemari. Ternyata lampu emergency itu kini dibawa ke meja, menerangi sekitar saat Niko melepas jaket.


"Lihat, kamu bermain dengan kertas?" Niko duduk di kursi samping Lena dan menaruh jaket di meja.


"Iya .... " Lena sibuk melipat kertas sampai membentuk bintang, berdiameter 2 cm. Dia melakukan ini karena teringat Kakek Leora yang suka membentuk kertas. "Ini cukup membuang hal-hal sedih, walau tak sepenuhnya." Lena hampir mati rasa dan tidak tahu harus berharap apa lagi.


"Apa kamu ingin kertas warna-warni?" Niko mendapat gelengan kepala wanita itu.


"Seperti inilah hidupku, kosong tidak berwarna."


Niko menyentuh dagu Lena, dan wanita itu menepis.


"Aku sedih karena kamu asal pegang-pegang. Aku sangat tidak suka," kata Lena datar dan melihat Niko datar. Di titik hati terdalam merasa jijik terhadap dirinya sendiri, saat pria selain David menyentuhnya.

__ADS_1


"Maaf." Niko menjauhkan tangan dengan kecewa. "Coba ajari aku cara membuatnya."


Lena melirik mata Niko sesaat dan mulai mengajari Niko. Keberadaan Niko kadang terdistorsi dengan bayangan David, membuat kepalanya pening. Dia bingung, pria di depannya itu David atau bukan, tetapi mustahil David ada di sini?


Ini pertama kali hujan sejak tujuh bulan berada di hutan ini. Gemuruh dahan pepohonan mengerikan. Lena melipat kertas demi mengalihkan pikirannya yang takut akibat mendengar suara dahan di atas pohon yang seperti akan patah, tetapi untung ada pria itu datang.


Mengetuk pintu, Umai Ratih lalu membawa susu kehamilan untuk Lena dan kopi pahit untuk Niko. Juga, ubi rebus, coklat dan Marsh Mallow berwarna pink.


Umai tersenyum melihat Niko yang selalu berusaha sabar walau dia tahu sebenarnya pemuda itu sering kebakaran jenggot. Meski demikian, Niko tak menunjukkan emosi itu di depan Lena. Dia keluar dari kamar membiarkan dua orang itu dengan harapan semoga Lena mau membuka hati. Lalu semua orang bisa keluar dari hutan ini. Dia pun bisa segera berkumpul dengan keluarganya.


"Aku sudah mendapatkan satu gelas." Lena menatap penuh arti ke dalam gelas berisi bentuk bintang-bintang.


"Ini melelahkan ya." Niko melirik gelas miliknya yang hanya berisi setengah gelas berbentuk bintang.


"Aku sangat lelah." Lena dengan wajah memelas dan putus asa, saat kemudian pria itu memegang dagu, dia tak tak kuat lagi untuk menepisnya.


"Kenapa?"


"Apa yang kemarin malam. Siapa yang mereka tembak? Katakan siapa!"


Niko mendekat dan melirik bibir Lena yang pucat. "Apa itu penting bagimu. Maukah kamu melupakan David?"


"Tidak-"


Perasaan hancur melebur di dalam hati meremukan pikiran Lena. Dia sesenggukan dan tulang-tulang di tubuh tubuh terasa lolos dari tubuhnya membuat bumi berputar di depan pandangan dan Niko berada di atasnya.


"Aku tidak mampu melewati hidupku tanpanya."


Niko menyangga kepala Lena di dadanya. Dia melihat Lena yang syok. Wanita itu meraung-raung dengan tidak berdaya dan tak sadarkan diri. Pria itu membaringkan Lena dengan hati bergetar.


Tiga hari berlalu ... Lena tidak mau makan dan minum. Dia memasuki kamar Lena, wanita itu duduk di sudut kamar dengan pandangan kosong. Dia membawa sepiring makanan dan menyuapinya, menjejalnya paksa karena bibir itu tertutup rapat dan saat sesendok makan itu berhasil masuk Lena menyemburkan makanan itu hingga mengenai wajah Niko tanpa perubahan ekpresi.


"Pah .... Bawa aku ..... " Dalam pandangan Lena hanya berputar bayangan seputar David. Dia tidak percaya David meninggalkannnya di dunia ini. Bahkan sebelum sang bayi memiliki kesempatan untuk melihat ayahnya. "Bawa aku, tolong aku tak mampu."


"Makan." Tangan Niko gemetaran saat memegangi sendok di dekat mulut Lena. Namun, tangan mungil itu menarik sendok dan memukulkan tak terkendali ke dada wanita itu dengan pandangan masih kosong.


"Bawa aku, Pah! Jangan tinggalkan aku sendiri di dunia ini! Kau berjanji! Takkan pergi. Kembali, bawa aku hah!" Jeritan Lena menggema di ruangan, membuat miris Umai Rati yang mendadak pikiran itu menjadi gelap.


Ini takkan berhasil, batin Umai Rati.


"Kalau kau tidak makan, aku akan pergi, kau mengerti! Jadi makanlah!" Bentak Niko mengambil sendok yang barusan dibuangnya karena perilaku Lena.


Sendok itu dilapkan ke baju Niko yang bersih, dia melirik punggung tangan Lena, yang melintang goresan dan berdarah. Dijilatnya darah itu. Lalu Lena menoleh ke arahnya, seakan mencoba mengenali siapa dia.

__ADS_1


"David ..... "


"Persetan," cebik Niko menahan geram sampai tangan Lena terlepas dari genggaman dan jatuh terkulai. Berikutnya tangan wanita itu menyentuh pipinya. Sentuhan yang dulu hanya miliknya, kini Lena bahkan tak mau menyentuhnya sebagai Niko.


"David ini kamu, sungguhan?"


Niko dengan napas tersengal saat Lena memegangi bibirnya, dan menatap lekat-lekat pada pandangan berbinar Lena, wanita itu tertawa dengan air mata mengalir. Kemarahan bercampur kasihan menjadi satu, membakar kepalanya.


"Makan." Niko mencoba tenang.


"Kamu kembali David?" lirih Lena lalu terkikik.


"Cepat makan." Niko mengambil nasi dan potongan Salmond kukus dan mengulurkan ke ujung mulut Lena. "Ini bagus untuk untuk kamu dan bayimu."


"Bayi kita, David." Lena tersenyum simpul dan membuka mulut, dia melahap dengan mengelap embun bening yang jatuh di pelupuk mata lelaki itu.


Suapan demi suapan penuh siksaan bagi Niko, akhirnya terlewati. "Minum susu." Niko melirik ke belakang dan menerima uluran segelas susu dari Umai Rati.


"David, kapan kamu datang? Kamu tidak lihat Niko, awas nanti dia melihatmu." Lena tersenyum simpul dan meminum susu yang di sodorkan. "Kamu haus juga, kan, minumlah."


Bibir Niko berkedut, hati hancur luluh lantah. Seperti ada belati berkarat menancap dipunggungnya, merobek jantung sampai pembuluh aorta, mengiritasi seperti kanker. Namun, dia tak kunjung mati rasa. Karena dia sangat mencintai Lena. Dia mengembalikan gelas itu ke mulut Lena.


"Cepat untuk kamu. Aku sudah minum." Niko berkedip pelan menghembuskan napas kasar saat menerima uluran gelas kosong dan Lena tertawa. Dia memberikan gelas itu ke Umai dan saat berbalik Lena mendekapnya.


Pandangan Niko meredup dan mengelus rambut Lena yang acak-acakan dan bau asam karena tidak mau mandi. "Mau aku seka badanmu?"


"Jangan pergi, David. Jangan pergi dariku lagi, aku takut dengan Niko," suara Lena tercekik dengan bahu gemetar.


"Umai bawakan air kompresan." Niko berbicara dengan pikiran melamun, sambil menggerakkan tangan. Wanita bisu itu lekas pergi.


Kompresan datang, Niko memeras handuk kecil dan mengelapi pipi Lena yang kotor karena kemarin mencoba melarikan diri dan duduk bersembunyi di balik pohon. Untung anak buahnya lekas menemukan. Sekarang l, dia harus mengurung Lena.


"Dav .... "


"Rambutmu harus dicuci, banyak tanah. Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Niko mengelap telinga Lena dan wanita itu cekikikan kegelian dengan mata hazel tidak pernah mengalihkan pandangan. Sekarang tangan Niko merambat ke tulang selangka dan Niko terkejut karena Lena melepas kancing dan menampakkan pakaian inti.


Pandangannya meredup dan menahan tangan Lena dan pusar itu terlihat. Perut besar. Pikiran tentang seorang bayi menghancurkan seluruh angan-angan indahnya. Tangan Niko bergetar dan mencengkeram handuk dalam pegangan.


"Len!"


"Dav, dia menendang, anak kita pasti merasa senang." Lena menahan tangan kekar itu di perut bagian kiri bawah. "Suka?"


Niko terus terkejut saat telapak tangannya tertekan gerakan konstan dari perut Lena yang panas. Dia merasakan bayi itu menendang-nendang tangannya. Dia bernapas cepat, dan pandangannya lebih tajam pada kulit perut Lena yang tercetak sedikit bentuk Kaki mungil tiap kali ada tendangan. Bibir Niko bergerak-gerak, kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2