
"Cinta?" David mengatubkan bibir, tubuhnya bergetar menahan gejolak amarah saat teringat Shinta. "Omong kosong dengan cinta."
"Yah, omong kosong," imbuh Lena getir karena perkataan David mengingatkan pada Niko. Dia melihat kepergian David yang makin suram. Sepertinya David tidak suka mendengar nama itu. Lena menyusul David keluar dari ruang bioskop, dengan membawa sepiring anggur dan ponsel milik David yang ketinggalan.
"Huft!" Lena menjadi kikuk saat berduaan dengan David karena tampang itu begitu menyeramkan. Tangan kekar itu membawa konsol game dari lemari di bawah TV, ruang tamu.
"Kamu bisa bermain game?" tawar David dengan nada dingin seraya menyalakan TV. Dia langsung duduk di tepi sofa. "Kemari aku akan ajari kamu bila tidak bisa."
"Aku pernah main, tapi saat kecil." Ponsel David diletakkan di meja bersama anggur. Kemudian Lena duduk di samping pria yang baru menyalakan TV.
"David, apa aku tidak boleh lagi untuk menemui kamu setelah ini?"
Akhirnya Lena lega setelah merealisasikan kata-katanya. Dia memilih terbuka pada keinginannya. Jari-jarinya mencopot sneaker dari kakinya, lalu duduk bersila sambil memeluk bantal.
"Nah, kamu takut berpisah dariku?" David menatap Lena dengan seringai lebar, menikmati wajah kekhawatiran Lena.
"Enggak! siapa yang takut," gerutu Lena sambil mendorong dagu David dengan pelan, tetapi kepala pria itu kembali menghadapnya dengan senyuman percaya diri membuat jantung Lena berdebar-debar.
"Biar kuperjelas. Kita memang tidak bisa bersama di tempat umum, tetapi kamu masih bisa mendatangi pria gagah ini dengan sembunyi-sembunyi." David menyikut lengan Lena dan mengedipkan mata. "Lagipula kamu masih hutang 9 hari."
"Iya, aku akan mendatangi mu!" Lena menggigit bibir bawah dan tertunduk malu. Hatinya yang beku, itu terasa sedikit menghangat. Dia terhibur dan mendoakan kebaikan untuk David di dalam hati.
"Uh'huh?" David senyum-senyum sendiri dan kembali menyikut tangan Lena sambil memilih game balapan.
__ADS_1
"Ah! David jangan senggol-senggol." Lena kemudian ternganga saat David merangkul bahunya. Dia terperangkap oleh aroma citruz yang mampu menenangkan selang-selang otak yang tegang. Terlebih jari panjang nan hangat menyentuh jari mungilnya dan mulai memperkenalkan fungs dari masing-masing i tombol konsol.
Suara dan sikap David sangat tenang seperti instruktur profesional, tetapi Lena jadi kesulitan mengontrol kedekatan itu. Dia bernafas lebih sering karena David dalam posisi sangat membungkuk. Pipi mereka saling menempel hingga membuat hati Lena terbakar oleh perasaan luar biasa.
"Uh, iya aku tahu." Tanpa menoleh, Lena memiringkan kepala ke kanan dan menjauhkan diri, saat napas David terdengar makin meningkat. "Dav, aku besok libur."
"Aku ingin membawamu ke rumah papa, tetapi kamu harus pergi sendiri. Nanti aku beri alamatnya. Aku akan menunggumu di rumah papa. Kau setuju?"
Dua sudut bibir itu terangkat, David senyum-senyum sendiri. Hatinya menghangat kembali berbunga-bunga. Terlihat Lena menggerakkan jari-jari mungil pada konsol terlalu serius dengan tetap menjaga laju mobil agar tidak menabrak. Lucu sekali, dia lebih seperti bayi dari pada perempuan dewasa.
Getaran di console saat mobil milik Lena menggesek pembatas, sangat membuatnya tegang. Ini sangat seru. Dia jadi teringat saat dirinya jadi Marshal di Mandalika. Dia sangat mencintai tentang balap, sirkuit, pertandingan bola. Ini benar-benar menyenangkan. "Aahhh Aahhh Aahhh! Tidak! Jangan! Ah nabrak!"
David tertawa lepas, bukan karena dia menang balap, tetapi karena wajah Lena yang merah padam sambil mengayunkan tangan mungil yang terkepal dengan kejengkelan. Itu begitu menggemaskan. Dia jadi teringat pada adiknya, yang 11 - 12 dengan Lena bila menyangkut game. Mereka pasti sangat cocok bila bertemu.
"Dav! aku mau lagi." Lena hanyut dalam dunia game dan terus kalah melawan David. Nona cantik itu seperti ratu, karena David terus menyuapi Lena yang sibuk main games sampai anggur sepiring itu habis. David geram karena dia jadi diabaikan, lalu mematikan PlayStation.
"Aku mau berangkat," gerutu Lena dengan dongkol. Dia ingin memakan David Karena dia yang dipenuhi keinginan untuk menenangkan game balapan, tetapi kalah terus. Rasanya kaya kebelet, tetapi nanggung. Sangat tidak enak.
"Aku akan bagikan alat rumah papa ke nomermu. David pergi ke brangkas, lalu meraih tas Lena yang terdapat di atas brangkas. Mungkin Lena lupa menaruh. Dia membuka tas Lena dan memasukan seamplop uang, soalnya, dia tidak tahu cara memberikan nya pada Lena, karena takut tersinggung.
Lena tertegun, dia batal mengenakan sneaker dan berjalan ke kamar mandi, lagi-lagi melihat pria itu membuka brangkas. "Dav, aku pinjam kamar mandi!"
Ketik Lena keluar dari kamar mandi, dia mendapati David memandanginya. Karena tidak punya waktu, Lena segera memakai sneakers.
__ADS_1
"Besok kamu naik taksi, bisa, kan?"
"Bisa. " Lena selesai memakai sneakers. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya melangkah dan melangkah seolah ada yang kurang. "Aku pulang, ya. Sampai jumpa besok. Lena berbalik menghadap David yang berdiri di garis pintu.
"Makasih untuk gamenya." Lena tersenyum dengan penuh ketulusan, tidak rela berjauhan dengan David yang membuatnya sangat nyaman dan aman. Sejujurnya, dia belum pernah menemukan kenyamanan seperti itu. "Dav, kamu akan menelpon ku atau tidak, nanti malam?" tanya Lena dengan ragu dan sedikit berharap.
David menyipitkan mata dengan penuh tanya, lalu tersenyum mengejek. "Tidak."
"Uh, ya sudah," ketus Lena sambil meremas tasnya. Dia enggan pergi. "Kamu mau apa setelah ini?"
David terkekeh karena wajah Lena yang memerah. Dia menyentil kening Lena sampai pekikan Lena membuat jantungnya berdegup kencang. "Huh, kamu mau tahu? Kamu bisa tidur di kamar sebelah nanti malam, jika kamu mau tahu kegiatanku."
"David!"
"Kamu menyebalkan begini," geram David langsung merengkuh tubuh Lena di depan pintu, dan gadis itu tak menolak, tak mendorong dadanya lagi. Bahkan kini tangan mungil itu merambah di punggungnya. David terbelalak, tetapi berikutnya dia menyadari Lena tengah terisak. Hal itu diketahuinya karena tubuh Lena makin gemetar dan suara Isak yang makin jelas.
"Aku ada untukmu, cantik," gumam David yang dapat di dengar Lena.
"Aku lelah, aku capek, aku marah, aku benci Niko, Dave," Isak Lena dengan lemah, bahu mungil terguncang meredam amarah yang kian membuncah dan airmata berlinang membasahi jubah David yang sehalus beludru. Dada kokoh itu memang tempat paling cocok untuk menumpahkan semua keperihan hatinya.
"Kupikir aku spesial baginya. Ternyata aku ini terlalu percaya diri dan aku bukan apa-apa bagi Niko," kata Lena bergetar dengan ribuan rasa sakit yang menikam seluruh tubuhnya hingga Lena tak sanggup lagi menahan semuanya.
Lena jatuh di pelukan David, dan pria itu terkejut karena Lena tak sadarkan diri dan merosot ke lantai dengan tas terbanting ke lantai.
__ADS_1
...----------------...