Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 91 : Penyamakan kulit buaya


__ADS_3

Tiga perempuan Italia-pegawai Lena, berjalan beriringan dengan penerjemah di penangkaran buaya. Sementara dibarisan tengah, Emma tengah berbicara dengan Axel. Sedangkan di baris paling belakang, ada Lena dan Sujatmiko, tampak diam santai menikmati cuaca hangat yang membuat mereka mulai berkeringat.


Mereka melewati jalan setapak yang kanan-kirinya kolam buaya, dengan dipagar beton setinggi satu meter setengah. Pandangan mereka pun terhalang melihat buaya dari titik ini.


Mereka berhenti sejenak di beranda saat empat lelaki yang berpakaian safety sedang mencelupkan kulit buaya mentah ke dalam berbagai larutan kimia.


Pak Daniel selalu kepala operasional menunjuk bak semen, di dalamnya ada selembar kulit buaya lengkap dengan tonjolan-tonjolan dan motif khasnya. Kulit itu terendam larutan kimia.


"Ini harus pakai kaos tangan. Kalau tidak, kulit kita bisa terkelupas," kata Pak Daniel yang sudah memakai sarung tangan karet kuning.


Semua orang juga sudah memakai sepatu boots karet karena banyak area basah. Pak Daniel menunjukkan tabel larutan kimia di pojok. Ada 15 jenis bahan kimia.


Penerjamah asal italia, sedang menjelaskan di depan pegawai Lena, tentang semua yang dikatakan Pak Daniel. Para pegawai Lena begitu antusias dan sedikit mencondongkan bahu, melihat ke dalam bak berisi cairan keras.


Kemudian Pak Daniel mengangkat kulit buaya yang warnanya sudah membiru. Dikatakannya proses itu belum final, masih ada beberapa larutan lagi yang perlu digunakan si kulit untuk mandi.


"Fungsi larutan ini untuk melemaskan kulit buaya, membersihkan sisik halus, membersihkan kulit dari daging. Paling bahannya itu asam formiat. Kalau terkena kulit manusia, kulit itu bisa melepuh. Fungsinya sendiri untuk melunakkan kulit. Bahkan 'tulang juga bisa jadi seperti spons,' " ujar Pak Daniel, yang di angguki Lena dan Emma.


Mereka bergeser ke sudut serambi, yang terdapat delapan orang sedang menginjak-ngijak kulit yang terlihat kekel. Pak Daniel kembali menjelaskan . "Biasanya kami menggunakan mesin, tetapi mesinnya pas sedang di servis. Dengan menginjak-nginjak maka bahan kimia bekerja efektif. Setelah itu, barulah diangin-anginkan supaya kering. Tak perlu dijemur di bawah terik sinar matahari langsung, karena itu malah bisa membuat kulit mengeras."


Lena dan Emma berjalan berdampingan melewati deretan kulit buaya yang tengah dijereng di tempat terbuka dengan atap seng.


Lena dan Emma mengangguk-angguk saat kepala operasional itu bercerita bahwa perusahaan penangkaran ini menghasilkan 2500 ekor buaya per tahun. Itu artinya ada sekitar 6 buaya perhari dikuliti.


Para wanita meringis saat pria itu menceritakan bahwa ada pengepul daging buaya, ada yang beberapa dipasok untuk langganan rumah makan sate.


Kepala operasional juga menjelaskan bahwa penangkaran ini sudah berdiri ada sejak dua dekade. Mereka juga memiliki usaha lain, yaitu peternakan ikan dan ayam, yang nantinya untuk dijadikan pakan buaya.


...****************...


Seharian di penangkaran buaya membuat Lena kelelahan. Dia baru saja sholat magrib dengan kelopak mata mau menutup terus. Niat awal sekadar rebahan dan belum sempat melepas mukena. Namun, dia justru ketiduran dan kini sudah tengah malam, tak terasa sudah tujuh jam dia tidur.


Cuci muka dan wudhu, Lena bergegas sholat isya, untuk meredakan kegundahan karena kerinduan pada sang suami. Dia yang terbiasa bergantung setiap hal spele kepada David, atau sekadar bertanya pendapat dan merengek sesuka hati, kini harus berjauhan.


Baru dia selesai berdoa untuk kesehatan David, ponselnya lalu terdengar bergetar. Ada 35 riwayat panggilan. Lena membalas chat :


-Ma'af mama ketiduran sejak sholat magrib. Papa, sudah di rumah? Jangan lupa makan malam, walau dikit. Mama kangen Papa❤️ Semoga urusan Papa di kantor cepat beres, yah-


Belum ada satu menit, Lena langsung menerima balasan:


-Oh, Mama ketiduran, terus mimpiin Papa nggak? Ini Papa baru pulang bar makan malam dengan Kakek. Dingin tidur sendirian, tidak ada yang dipeluk dan gulingnya tidak sehangat Mama. Kangen sekali!😘-


Lena senyum-senyum sendiri. Sudah empat bulan menikah, tetapi jantungnya selalu berdebar dan sangat malu setiap membaca chat dari David untuknya. Seakan-akan dirinya merasa menjadi wanita paling dicintai, dibutuhkan dan dihargai.


Rasa rindu melanda hatinya, yang sudah begitu mendambakan pelukan sang suami. Beberapa malam yang sangat kosong tanpa ada belaian dan pelukan yang kokoh dari dada David di tempat tidur membuat wanita itu ingin cepat-cepat pulang ke Italia- yang kini adalah rumah yang membuat dia betah dan merasa aman di sana.


Perempuan itu menyalakan lampu balkon yang belum menyala, dan terpaku ke bayangan gelap di balik kaca jendela. Lena menyibak tirai dan mengintip keluar. Seketika matanya terkejut, di samping jendela ada pria yang duduk meringkuk. Jantungnya hampir copot, dia kira penampakkan setan.


Lena mengucek mata dengan jantung berdebar kencang. Pria itu mendongak dan mata Lena hampir mencelos keluar. Bukan kepalang lebih terkejut, Lena mundur ketika melihat ada Niko yang juga terlihat syok.


Bibir Niko tersenyum dan mendekati pintu. Lena diam membeku saat Niko menunjuk kunci balkon dengan telunjuk dan meminta agar membukakan pintu.


"Len, buka!" Niko dengan mata berseri-seri sambil mengetuk kaca.


Perempuan itu menolak dengan menggelengkan kepala. Ketakutan menyelusup ke dalam jiwa begitu tahu ini jam satu pagi dan didatangi oleh sang mantan di kamarnya. Ponselnya terus berdering, Lena melirik ada sebuah panggilan yang dia tahu itu David. Lena melihat Niko lagi, dia maju ke dekat balkon dengan gemetar seperti melihat penampakan hantu, memastikan pintu dikunci. Mata hazel terus terpaku, dia dan Niko terpisah oleh kaca.


"Aku kangen banget, buka! Pedih menahan lebih lama lagi! Buka Len," rengekan Niko yang tidak sabar seakan menuntut. Telapak tangan kekar itu menempel di kaca dan mata berkaca-kaca membuat Lena makin ketakutan.

__ADS_1


"Tidak boleh, aku sudah menjadi istri David. Inipun aku dosa. Setan bisa menjerumuskan kita dalam bingkai keindahan, loh. Aku takut." Lena meremas mukena.


"Aku beneran sayang sama kamu, Mita. Aku serius, tidak akan terjadi sesuatu padamu, jadi cepat buka."


Lena membeku karena mengira pemuda itu selama ini tengah sibuk mendekati Emma. Kini dia menemui fakta bahwa itu semua salah.


"Sayang buka. Kupikir, oke. Selama ini aku mencoba lebih dewasa kuat, dan mengesampingkan perasaanku lalu menjadi temanmu. Ternyata aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Len!"


Perasaan iba merasuk ke dalam kalbu Lena. Bagaimanapun Niko dulu baik padanya. Kunci pintu itu diputar dan digeser selebar satu kilan dan melihat mata Niko yang merah dengan kelopak mata basah.


"Jangan buka lagi," kata Lena cepat saat Niko memegangi pintu. "Jangan masuk, tetaplah di situ."


Niko mengangguk. "Ijinkan aku memegang tanganmu, please."


"Enggak boleh."


"Aku kangen, Lena!" Niko dengan gemas tidak tertahankan.


"Darimana kamu bisa masuk sini?" Lena mengalihkan pikiran Niko. Dia melongok di balik tirai, terlihat antar balkon kamar tidak ada yang menyambung.


"Aku memanjat .... "


"Gila ini lantai 20! Kamu bisa jatuh dan bahaya loh! Kalau kau ada apa-apa gimana?"


"Biarin bagus." Niko meringis maju perlahan agar Lena tak menyadari.


"Katamu bagus? Nggak ngerti lagi deh ama kamu." Lena menggaruk kepala. "Iko, tidak ingat bagaimana aku meninggalkanmu sendirian di Qatar. Bahkan tidak mengasihanimu sebelum kamu pulang ke palembang dan kita bertengkar saat itu di rumah ku, kan? Aku sudah bilang aku menyerah denganmu."


"Lalu apa, Len? Kamu tetap orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Kita berbicara setiap sore saat aku masih tinggal di Bali.


Lalu kita belum menemui kesepakatan adalah bahwa ketika kamu meninggalkanku maka kamu berjanji tidak akan berhubungan dengan orang lain sebelum aku menemukan penggantimu! Kau justru sudah menikahi orang lain."


Kamu adalah seorang pria baik hati, aku percaya dan untuk seorang pria bertanggungjawab sepertimu selalu ada perempuan yang jauh lebih baik dari aku! Suatu hari kamu akan menyadari bahwa kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku yang sudah meninggalkanmu! Aku pergi karena tak melihat hatiku akan sepenuhnya kembali padamu-"


"Tetapi apa yang kamu lakukan menyebabkan luka dalam di sini." Niko mendesis, terduduk dan memandangi kaki mungil yang cantik dengan menekan dada yang terasa ada lubang besar. "Sampai hari ini, itu masih satu-satunya hal yang menghantuiku."


Kemudian perempuan hamil itu turut duduk dengan masih memakai mukena. Sejenak dia memandang Niko yang tertunduk.


"Aku memahami sakit hatimu lebih dari yang kamu bayangkan. Suatu hari kamu akan menyadari bahwa kamu tidak memikirkanku sepanjang hari, itulah saat-saat paling membebaskanmu, seperti dibebaskan dari penjara. Aku menantikan itu, Nik?"


"Tapi, Len, kita sangat cocok, sangat peduli tentang hubungan. Kita berdua ... berinvestasi di dalamnya, berkorban untuk hubungan kita, berkompromi dan bekerja untuk dan mendasarkan hidup kita di sekitar .... mewujudkan masa depan!


Waktu kita bersama adalah beberapa yang terbaik dalam hidupku. Kita saling mendorong untuk menjadi orang yang lebih baik.


Kita menanamkan satu sama lain secara mendalam ke dalam hidup kita, dan kita berdua sangat bahagia karenanya."


Niko terus menjelaskan semua keyakinannya dan Lena terdiam sejenak, memandangi Niko dengan kebingungan.


"Maaf, pembicaraan ini terlalu jauh, aku sudah menikah." Lena menunduk dan melihat perutnya. Ada buah cinta di sana yang makin memperkokoh tali kasatmata kepada sosok David yang dia tidak temukan pada diri Niko.


"Aku bisa memberimu uang yang banyak." Niko meringis dan menatap penuh luka ke dalam mata hazel yang memasang wajah datar.


"Seberapapun banyak uang yang kau berikan takkan bisa mengalihkan perasaanku dari David. Itu lebih dalam dari sekadar uang."


Beginilah perasaan Niko, ketika dia ditinggalkan setelah menjalin hubungan, rasanya jiwa di dalam itu telah dilucuti. "Aku merindukanmu, Mita. Aku kangen! Aku kangen, Sayang."


Hati Lena berdenyut, terharu, tetapi tidak bisa lebih jauh dan harus menjaga diri dengan tidak termakan omongan Niko. "Aku rasa kamu merindukan bagian dari dirimu. Dirimu di masa depan, lebih dari apa pun. 

__ADS_1


Sepertinya kamu memiliki seluruh hidup yang pernah dibangun saat kita bersama. Kamu membayangkan bagaimana kita berdua akan menjadi tua bersama dan menetap. Saat hubungan kita yang tidak terselamatkan, masa depanmu-kita, itu pergi dan mati.


Kamu harus merasakan pedih sendirian. Bukan hal yang mudah untuk melepaskan mimpi indah kita. Itu juga tergantung dari seberapa intens usaha kita melepaskan .... nya.


Berhentilah bertanya pada dirimu apakah kamu tidak bisa melupakan aku dan mencintai orang lain lagi. Mulai dari awal, Nik, dengan sedikit latihan, kesepian akan berubah menjadi kesendirian. Ingat hal-hal indah tentang KAMU dan aku siap membantumu?


Kamu secara keseluruhan, sampai impian kamu terfragmentasi dan dibagi dengan orang lain - perempuan yang menurutku sangat tipemu-melebihi aku.


Terkadang kita harus melewati sakit. Akupun pernah berharap padamu dan berakhir kecewa saat kau bersama Marsha, membohongiku. Perasaanku berubah sejak saat kau naik unta dengan Marsha. Hatiku mati karena terlampau sakit. Angan-angan masa depan kita langsung lenyap," ucapan wanita itu dengan menatap tajam ke mata Niko yang berkaca-kaca, seakan tidak menerima kata-katanya.


Lena ingat akan perasaan cemburunya dia di gurun melihat Niko menutupi kaki Marsha dengan baju putih yang tersingkap ketika Marsha naik ke punggung ke unta.


Sakit itu membuatnya kehilangan respect. Dia berpikiran terlalu percaya diri pada hubungan dengan Niko dan berakhir pahit, meninggalkan trauma mendalam setiap melihat Niko. Dia tidak mempercayai Niko lagi.


"Nik, hatimu yang terluka akan memunculkan pertahanan, lalu seolah berbicara, 'Kamu baru terluka dan tidak akan membiarkanmu jatuh cinta lagi. TIDAK.'


Tapi Nik, aku tidak mau kamu berlarut barang sendirian. Jodoh Kita memang cukup sampai saat perkelahianmu dengan Mas David di mes Qatar pagi itu saat Marsha menunjukkan cincin berlian itu." Lena tersenyum getir.


Niko menggeser pintu kaca dengan cepat dan tatapan dingin, tangan membekap mulut Lena dari jeritan tiba-tiba.


Baru kali ini Lena tahu kekuatan yang dimiliki Niko. Dia ngilu di kedua pergelangan tangannya yang tertahan oleh satu tangan milik Niko.


Dengan segala macam cara, Lena bermaksud membuat keributan saat mereka melewati ruang tengah yang menghadap ke kamar Axel yang tertutup. Namun, Niko menjauhkan dari segala akses keributan hingga Lena berhasil dibawa ke tempat hiburan malam.


Wanita hamil itu tidak bisa berkutik setelah mencoba bangkit dari sofa untuk berniat pergi. Dua pria bertubuh besar, menahannya di luar pintu, dan membawa Lena duduk kembali. Niko tersenyum seperti menang lotre.


Masih susah diterima otak Lena, dengan sikap sang mantan. Lena mencengkeram pinggiran sofa, dia hanya memakai baju tidur berbahan rayon yang bagian atasnya telah ditutupi sebuah mantel, entah milik siapa, yang ditutupkan oleh Niko.


Niko bilang mantel hitam ini untuknya?


"Kamu membuang-buang uang dengan pergi ke sini dan siapa dua orang itu, Niko?" Lena menarik gelas berisi minuman keras yang akan menyentuh bibir Niko. "Apa ini kamu kenapa menyentuh barang haram ini!"


Niko mengatubkan bibir dan mengambil botol *****.


Lena merebut botol itu dan menyembunyikan di balik punggung. "Kenapa kamu terus diam?"


"Habisnya kamu tidak mau denganku," ketus Niko dengan suara seperti anak kecil. "Lena Paramita. Susah sekali membujukmu!"


Lena menganga, dimana Niko yang dulu selalu dewasa dan menakutkan karena aturan yang terlalu lurus. Kini menjadi kanakan dan bandel, tetapi ada sosok lain yang tidak dikenali Lena dalam diri itu, menakutkan dan asing.


"Biar aku telepon Kakak. Kamu sudah kelewatan." Lena meraba saku celana Niko, tetapi pergelangannya ngilu karena dicekal tangan Niko hingga dia meringis. "Sakit, Niko!"


"Tanganmu itu bahaya dan kau asal sentuh-sentuh, yah?" Niko mengurangi jarak wajah mereka.


Lena menjauh hingga punggungnya kini menekan botol dibelakang. Tangan kekar membuat Lena ketakutan saat menyusuri pinggangnya, dan botol minuman itu telah berpindah ke tangan Niko.


Lelaki itu menenggak minuman keras langsung dari botol membuat Lena bingung karena dua tangannya di tahan Niko hingga tak bisa menghalangi Niko yang tampak memaksakan minum walau Niko seperti tidak nyaman dengan rasanya.


"Kakak pasti akan marah besar padamu," ketus Lena dengan mengerutkan bibir. Dia menebak kakaknya akan sedih saat menjauh dari Niko karena sikap Niko ini.


Mata Lena membesar, tangannya meronta, menolak ujung botol yang diarahkan pada bibirnya. Niko benar-benar sedang gila!


"Minum," geram Niko tak bisa menahan lagi kemurkaannya karena Lena terus membela David.


"Emhhh-nggak! Huk! Uhuuk!" Lena memuntahkan cairan dan mendorong minuman pahit itu dengan lidahnya. Namun, dorongan kuat botol itu membuat gigi Lena yang terkatub rapat lalu terbuka. Dia menangis dengan penuh kekecewaan pada pandangan mata iblis Niko yang baru dijumpainya. Tidak pernah menyangka, Niko memiliki sisi kejam, padahal tahu dia hamil tetapi memaksanya menelan hingga beberapa teguk.


Lena duduk membungkuk, menangis saat Niko diam dengan meremas botol tanpa menyentuh Lena lagi. Lena mulai mati rasa ketika pintu terbuka dari luar dan melihat empat pria asing masuk dan berdiri di depan Niko yang tampak berbicara, tetapi Lena sudah tidak bisa mendengar dengan jelas.

__ADS_1


Yang Lena tahu, dia melihat wajah Niko dekat .... lorong dan suara sayup nama Shinta disebut.


__ADS_2