
Lena mengulas senyuman dan menarik tangannya dari perut David dengan malu-malu. Mengapa dia harus jatuh menimpa perut keras David. Itu begitu mendebarkan.
"Sorry, Dav." Lena mendongak dan mendapati senyuman terindah pria itu. Dia tidak mengerti sejak kapan senyuman itu menjadi berkesan dihatinya.
"Tidak masalah." David melepaskan sarung tangan Lena dan membawa Lena langsung ke mobil dan meminta gadis itu memberitahu Ika lewat chat saja. David tidak ingin Lena bertemu Niko lagi.
Lena ingin melepaskan emosinya, bukan dengan cara melupakan pengkhianatan Niko karena melupakan adalah hal tersulit baginya. Dia mengingat kembali, mengakui kejadian buruk tersebut, dan memilih mengekpresikan dengan keterbukaan hatinya untuk orang lain. Walau tak semudah kelihatannya, minimal dia meyakini dengan sepenuhnya hubungannya dengan David.
Sesampai di sebuah tempat di pusat kota, Lena turun dari mobil, lalu berjalan beriringan masuk ke dalam Studio Tatto. Dia mencoba memeluk lengan David, awalnya ragu, tetapi begitu melihat senyuman David dan elusan tangan kekar di punggung tangannya, dia menjadi berdebar-debar, tetapi sangat nyaman.
Lena terus mengamati apa yang akan dilakukan David di rumah tatto, dan mendengar dengan seksama percakapan David hingga para petugas toko masuk ke dalam lagi. "Kamu mau hapus semua tatto?"
"Tidak, hanya tertentu saja, Sayang." David dengan penuh kelembutan. Dia akan menghapus tatto yang bergambar Shinta di dada kanannya.
Lena mengangguk canggung. Dia tidak tahu yang mana yang akan dihapus, tetapi besar harapan Lena untuk David menghapus tatto dengan inisial nama Shinta di punggung David, dan juga gambar di dada kanannya pria itu.
Satu jam pun berlalu, setelah menunggu dengan sabar, akhirnya David keluar dari ruang Laser. Mereka berjalan ke mobil dengan saling diam, sampai Lena di dalam mobil, lalu gatal untuk tidak bertanya.
"Aku mau lihat mana yang kamu hapus, Mas?" Lena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat David tersenyum lalu membuka kancing kemejanya dan menampakkan seluruh dada kekar itu. Lena menghela napas kecewa, karena tidak ada yang terlihat dihapus, gambarnya semua masih utuh.
"Ini." David menunjuk dada kanan. "Sama di punggung."
"Kok masih ada tattonya?" tanya Lena, sambil melirik David yang menggeser sebuah bungkusan yang dibawa dari tempat tatto dari dashboard tengah,blalu dipindahkan ke jok belakang.
"Ini kan laser Sayang, tidak langsung hilang. Ini kulit luar akan mengering setelah beberapa hari, lalu mengelupas. Hanya saja butuh beberapa kali dilaser untuk menghilangkan keseluruhannya."
Lena mengangguk-ngangguk, karena dia baru tahu. "Apa dilaser rasanya sakit?"
"Tidak ada rasanya, hanya sedikit seperti tersengat matahari setelah selesai." David mengacak-ngacak rambut Lena dengan gemas, lalu menjalankan mobilnya. "Mama nanti sore sampai di rumah. Dia ingin bertemu kamu, Sayang?"
"Oh kamu bercanda, Mas!" Lena menutup mulutnya yang terus melongo dan jantung seperti mau keluar dari tempatnya. Dia tidak pernah merasakan bertemu orang tua pacar. "Lalu aku harus apa nanti? Aku takut!"
"Mamahku tidak akan gigit kamu." David terkekeh sambil menggelengkan kepala, betapa lucu ekspresi Lena yang gugup. David menarik tangan Lena dari depan mulut Lena. "Jangan gigiti kukumu."
Lena masih termangu menatap ke luar jendela pada gurun pasir. Dia berpikir apa tidak terlalu cepat untuk bertemu orang tua David. Sepanjang menjalankan tugasnya di Stadion, Lena terus memikirkan apa yang akan dia katakan pada Tante Bilqis nanti. Bagaimana jika mereka tidak setuju dengan hubungannya.
Di tempat lain David yang akan pulang ke rumah dan bertemu sang mama, justru ditelepon oleh pihak rumah sakit. Tak perlu waktu lama, setengah jam kemudian, dia menunggui Shinta yang terbaring lemah, dengan tangan terus terkepal di pangkuan.
Layar ponsel milik Shinta terus digulir. Dia membaca chat tiap chat Shinta dengan Tara. Kemudian di teleponnya nomor Tara dengan gemetar.
"Hallo, Honey. Aku sudah menunggu satu jam loh? Kamu dimana?" tanya Tara di balik telepon begitu tersambung.
David merem4s ponsel karena nada Tara yang lemah lembut membuat dadanya panas, dikarenakan terbakar api cemburu. "Datanglah ke rumah sakit. Axel akan share lok."
"David! Kenapa Shinta? Gimana dia bisa denganmu!"
David terkekeh dan langsung mematikan telepon. "Bukankah wajar dia denganku? aku tunangannya," gumamnya kesal.
Saat akan kembali ke layar utama, matanya tertuju pada nama Niko. Jarinya gemetar karena marah. Dia membaca chat itu dan ternyata Shinta terus membujuk Niko untuk menjauhkan Lena dari David.
Ponsel milik Shinta diletakan di atas nakas, lalu dia berjalan ke pintu dan menunggu Tara di luar dengan tatapan sangat dingin. Lima belas menit berlalu, tampak Tara dengan khawatir datang mendekatinya. Begitu didepannya, David melayangkan tinjunya hingga mengenai rahang Tara dan pria itu tersungkur.
"Apa yang kamu lakukan pada tunanganku selama ini?" David menggertakkan gigi dan kembali meninju, kini pipi kiri Tara menerima bogeman keras hingga bibir itu mengeluarkan darah. Orang-orang mengelilinginya. Security bahkan tak berani menghentikan amukan David.
"Kamu salah paham, Davuid." Tara mencoba bersikap tenang tanpa melawan, walau dalam dirinya tak menerima penghinaan ini.
"Kamu selingkuh! kamu meniduri tunanganku, dan kamu menghamilinya!" David berdiri dan terus menendangi wajah Tara dengan sepenuh tenaga, sampai wajah itu babak belur merah ungu, dan sedikit berdarah.
Axel yang baru datang, berusaha menahan kemarahan Tuannya yang tak terkendali, tetapi dirinya juga terkena dorongan David hingga punggungnya membentur dinding. Axel berusaha berdiri, lalu melotot ke ujung lorong saat Tuan Luigi berjalan cepat ke mari dengan diikuti Nyonya Luigi yang setengah berlari.
"Hentikan, jangan membuat keributan seperti binatang!" Luigi menyentak dan mendorong dada David, hingga David tak menghajar Tara yang sudah batuk-batuk mengeluarkan darah dan tak berdaya.
"Tan-te Luigi," lirih Tara saat mendapat tatapan tajam tidak suka dari mamanya Shinta.
David menggertakkan gigi saat Luigi menariknya masuk ke dalam kamar, saat Shinta baru sadar. Tampak tante Luigi menghambur dan menoleh ke anaknya. David berusaha mengatur napasnya yang seperti habis lari maraton.
__ADS_1
"David ... " lirih Shinta dengan mata berbinar, setelah mama-papanya menciuminya wajahnya dengan kekakhawatiran. Shinta duduk dibantu mamanya, dan akan turun tetapi dicegah sang mamah. Luigi melirik David dengan tatapan memohon.
David yang seakan tahu berjalan ke dekat kaki Shinta dan menatap nanar. Hatinya makin hancur lebur pada tatapan sayu Shinta. Dia beralih memandang perut Shinta dan dada terasa panas tak tertahankan. Pintu berderit terbuka, David menahan napas saat mendengar langkah terseret, yang David yakini itu Tara karena bau amis yang baru tercium.
Tara dengan tubuh ngilu, mendapat tatapan tajam dari Tuan Nyonya Luigi, terutama Shinta. Shinta mengabaikannya dan justru mengundang David agar lebih mendekat, tetapi David tak mengindahkan hingga David berbalik dan menatapnya tajam dengan tatapan penuh luka ke Tara.
"Tante, Om Luigi. Saya mengembalikan Shinta, dia bukan menjadi tanggung jawab saya lagi."
"Apa maksud kamu Leo!" kata Shinta dalam isak pada David Leora.
"Kamu jangan katakan itu, kenapa kau mengatakannya padahal pernikahan kita dalam enam bulan lagi?" Shinta lalu beralih menatap papa dan mamanya secara bergantian untuk meminta bantuan. "Ya, kan Mah, Pah? kalian datang ke sini untuk kami kan? aku dan David?"
"Pernikahan?" David tertawa getir saat mengingat penjelasan dokter, hingga dia menelpon orang tua Shinta yang juga baru datang ke Qatar dan menyampaikan kehamilan Shinta via telepon. "Kamu bisa tanyakan itu pada Tara, Shinta."
"Kenapa harus tanya dia? kan itu pernikahan kita?" Tangisan Shinta makin menjadi-jadi dan pipinya terus berlinang air mata.
Luigi menahan panas di dada karena perlakuan putrinya yang berzina bahkan di kamar tunangannya. Dia tidak tahu mau ditaruh dimana wajahnya di depan David, saat mendapat rekaman cctv kelakuan bejat putrinya.
"Kamu membuat aku kecewa padamu, Shinta. Mengapa kau tak menghargai cintaku yang tulus? Dan memilih hamil dengan temanku? Aku akan melepaskanmu mulai sekarang dari hidupku sepenuhnya. Terakhir kali ini aku menemuimu karena setelah ini takkan ada pertemuan keluarga lagi," suara David bergetar dengan setengah tak terima.
"Hamil? Hamil apa?" Isak Shinta yang bingung. "Siapa yang hamil?"
David tertawa sampai memenuhi ruangan. Dia berbalik menatap tajam ke nyonya dan tuan Luigi agar memberitahu putri mereka, tetapi mereka terus membisu. Pria yang matanya memerah itu lalu tersenyum kecut seperti habis mengunyah lemon, sangat asam dan masih saja Shinta menggelengkan kepala. "Kau pembohong hebat!"
"Aku tidak bohong!" sanggah Shinta, dia takkan hamil karena minum pencegah kehamilan.
David tersenyum menghina pada Tara yang yang juga menatapnya tajam padanya. "Selamat Tara! kau mendahului ku Ha ... ha ... ha ...."
"Leo! jangan pergi!" Isak Shinta, meronta melawan pegangan mama dan papanya. "Aku tidak hamil, Leo!"
"Diamlah putriku!" bentak ayah Shinta.
"Jangan bentak-bentak putriku! kau tidak lihat dia sedang lemah begini?" sentak ibu Shinta pada suaminya.
"Kau terlalu membebaskannya, lihat ulahmu!" Tuan Luigi langsung berjalan menjauh berusaha mengejar David dan mengacuhkan Tara yang menjadi penyebab semuanya.
"Pergi kamu, Tara! aku membencimu!" Shinta melempar bantal ke wajah Tara dengan kesal, tak peduli dengan wajah Tara yang terluka. Dia yakin pasti Tara menjadi penyebab David meninggalkannya.
"Aku akan bertanggung jawab, Shinta," geram Tara karena Shinta tidak mau tenang.
"Aku tidak mau menikah denganmu! Kamu pasti menjebakku!"
Tara tertawa pelan. Mengapa kini Shinta menyalahkannya. Bukankah perempuan itu yang menciumnya terlebih dulu.
"Keluar kamu manusia bejat!" Mama Shinta menatap penuh kebencian pada putra dari sahabatnya itu. Dia pikir selama ini Tara mendekati putrinya hanya karena sebatas teman. Jika tahu akan seperti ini, pasti dia melarang Tara main ke rumahnya.
Tara menggelengkan kepala pada penghinaan ini. Dia keluar dengan sumpah serapah dan penuh kebencian. "Kau lihat nanti, Shinta! jangan sampai kau mencari ku dengan alasan anak itu."
"Aku takkan mencari mu!" Shinta dengan murka terus merutuki, sebelum Tara keluar dari ruangan.
Sementara di parkiran mobil, David dengan tangan terlipat menatap tajam Luigi. Udara malam itu terasa panas atau efek dari dadanya yang sangat panas. "Anda bilang apa?"
"Kamu harus bertanggungjawab karena tidak menjaga putriku dengan baik! Dia di rumah mu dan seharusnya dibawah pengawasan mu."
"Oke, saya akan bertanggungjawab, dengan syarat saya akan menyebarkan video itu ke publik terlebih dulu? Gimana?"
"Kau takkan melakukannya! Kau tak bisa hidup tanpa dia!"
"Percaya diri sekali Anda. Saya padahal bisa melakukannya dengan mudah bahkan detik ini jika saya menghendakinya." David dengan nada tenang dan menggertak, walau sebetulnya dia takkan melakukan itu. Dia terlalu menyayangi Shinta, tetapi juga begitu kecewa.
"Lalu, akan kutunjukkan bahwa anak itu bukan darah daging ku. Lalu, kemana publik mendukung? pasti mereka lebih peduli pada saya -pria terkhianati yang masih mau menikahi seorang perempuan yang telah selingkuh, bahkan sampai hamil."
Luigi mengepalkan tangan, ingin meninju David karena kata-kata pria itu. Dia tidak mau dicap buruk oleh publik. Nama baiknya yang telah dibangun oleh keluarganya sejak bertahun-tahun adalah diatas segalanya.
"Jangan menyinggung keluargaku, Tuan Luigi. Anda sebagai orang tua yang berpengalaman dan tokoh yang digemari publik, seharusnya sadar jika masalahnya ada pada putrimu sendiri. Baiklah, kali ini saya mengambil jalan tengah, Jika Anda berhasil membuat Marco-kaka lk saya itu masuk ke dewan pemerintahan. Saya akan mempertimbangkan untuk menjaga nama baik Shinta." David terkekeh dengan cara menyeramkan hingga bulu kuduk Luigi meremang. "Sebagai bonusnya, saya tidak akan membuka kasus korupsi Anda, di depan publik. Deal kan?"
Luigi menelan Saliva kasar dengan perasaan tidak terima. Dia melihat kepergian langkah David yang sangat dingin hingga mobil itupun lenyap diikuti mobil Axel dibelakangnya. "Si4L4N! darimana anak bau kencur itu tahu semuanya!"
__ADS_1
Lena membeku, sepanjang pulang dari stadion, David menjemputnya dengan tatapan dingin dengan diam seribu bahasa. Bahkan saat dia protes karena David membawanya ke hotel bukan ke mess. Dia bingung, lagi-lagi pintu kamar modern itu tak bisa dibuka dari dalam. "Kenapa nggak bisa terbuka si?"
Jantung Lena berdebar kencang saat David sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah yang tak ditali. Itu sangat menyeramkan. Lena berjalan ke tempat tidur karena tidak ada tanda-tanda David akan mendekatinya. Dia menemui David sudah pada posisi tidur miring dengan mata terpejam.
"David?" Lena duduk berlutut menghadap dada David yang bertato. Dia mengusap pelan pipi kanan David. "Kamu sedang ada masalah? mengapa matamu sembab. Jamu habis nangis, ya?"
Sudah berulangkali Lena berbicara, tetapi pria itu tak bergerak walau hanya untuk membuka mata. "Jika kamu cuma diam dan tak ingin diganggu. Untuk apa kamu menjemputku dan membawaku ke mari?" Lena berjalan ke nakas dan mengambil ponsel David yang terus berdering. "Ini mamahmu telepon, kamu tidak mau angkat?"
"David!" Lena membelalakkan mata, karena tubuhnya tertarik dan berputar hingga melayang menimpa David. Suara gaduh terdengar dari ponsel David yang terlepas dari tangan Lena dan membentur lantai. Pria itu memutarnya hingga Lena kini terbaring miring di tengah kasur.
"Bajuku kotor!" Lena membeku karena David membenamkan wajah itu hingga menekan punggungnya. Napas panas itu bahkan menelusup melewati jaket dan kaosnya.
"Len, bawa aku pergi."
"Pergi kemana? bukannya kalau kamu mau pergi tinggal pergi?" Lena mengerutkan alisnya karena suara David yang bertenaga.
"Bawa aku jauh-jauh dari tempat ini. Ke Bali sekarang." David menggigit bibir bawah, dia begitu terluka dan sakitnya tidak ketulungan. Bahkan untuk bernapas rasanya juga tidak bertenaga.
"David, nggak bisa gitu dong. Kan aku belum selesai bertugas."
"Yaudah, kamu pindah hotel saja dan temani aku tiap malam."
Lena menghembus nafas pelan karena suara David makin lesu. "Eh bajuku ini kotor, kena keringat. Aku pinjam bajumu boleh? Aku risih, Dav?"
"Huh, apa kamu pacarku? kenapa panggilanmu selalu itu?"
"Jadi aku harus panggil apa?" Lena melunakkan suaranya seperti berbicara dengan anak kecil.
"Mas Sayang."
Lena membulatkan matanya. "Ih lengkap sekali, Mas Sayang."
"Nadamu kaku sekali," gerutu David makin mengeratkan pelukan.
"Mas Sayang," kata Lena penuh kelembutan. "Aku harus mandi, apa bisa aku meminjam pakaianmu?"
"Ambil sendiri, kamu tahu cara membuka tempat pakaian, kan." David melepaskan jeratan tangan kekar hingga Lena duduk di depannya. Dia yang terpejam tahu bahwa Lena memandangi dia begitu lama.
Setelah mandi, Lena mengendap-ngendap dengan tubuh hanya dililit handuk. Dia ke ruangan pakaian David. Meraih celana boxer David dan kaos putih yang kebesaran. Celana boxer itu agak longgar dan hampir melorot ke panggul, jadi dia harus terus memegangi di bagian pinggang saat jalan.
"Kemari .... "
"Ah?" Lena menggigit bibir bawah setelah selesai menyisir rambutnya yang baru di keringkan di kamar mandi. Ternyata walau posisi David tidak berubah, pria itu belum tidur. "Ah, tetapi itu tidak boleh."
"Kemari ..." geram David saat hidungnya makin menangkap bau segar dari sabun beraroma citruz.
"David, aku tidak memakai itu!" Lena menggigit bibir bawah, dia tak nyaman tanpa memakai b.r.a. Namun b.r.a itu sudah lengket oleh keringat seharian hingga tak mungkin dipakai.
"Kemari, Sayangku. Haruskah aku mengulangi 1000x lalu aku akan memakanmu utuh-utuh?"
"Maaf, Mas Sayang. Kamu tidak seperti itu." Lena meninggalkan David tanpa rasa bersalah menuju ke sofa tamu. Dia membuka ponsel dan mengabari Ika bahwa dia masih bersama David.
-Apa kau bersamanya karena dia lebih unggul dalam hal finansial?- Niko
Sebuah pesan dari Niko diabaikan Lena. "Huh, padahal sudah perhatian dengan Marsha, masih juga ganggu-ganggu."
Lena terbelalak saat menoleh ke kanan karena David sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan dada dengan wajah sangat suram, tetapi mata yang sangat tajam. "Aku mengabari Ika! Jadi, kapan kamu antar aku pulang?"
David tak menggubris ucapan Lena dan langsung menggendong Lena sampai gadis itu terus memekik tidak mau ke atas tempat tidur. Lena semakin memohon dan mulai terisak saat David mengikat kedua tangan mungil ke belakang, bahkan dua kali mungilpun ikut di ikat jadi satu.
"Ini kenapa begini? Hu! Aku nggak mau datang ke sini lagi, pokoknya, Mas Sayang,"isak Lena saat merasakan jempol panjang, menghapus air mata ketakutannya. Tatapan David kali ini sangat menakutkan, dia belum pernah melihat David sekelam ini.
Lena yang terbaring miring ke kiri, berusaha membebaskan ke dua tangannya dari belitan ikat pinggang, saat jemari David kini mencapit dagunya dan menatap dengan tatapan dalam. "Mas sayang, aku mau pulang! Ini sudah malam."
David tersenyum karena terhibur pada gerutuan Lena. "Maukah kamu menjadi istriku, Lena Sayang?"
__ADS_1