Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 42 : PULANG KE INDONESIA


__ADS_3

"David Leora, kamu buka semuanya dulu dan cari tahu sendiri isinya." Ika menggigit bibir bawah dan gemetar, lalu meraih sebuah kunci dari saku dan mengulurkannya pada David. "Kunci kamar Lena."


David terkekeh dengan kegirangan. "Oh kalian sedang bermain game?"


Aku kabur saja deh! Batin Ika saat tubuhnya terus diselimuti gelombang dingin. Beruntung, David tanpa banyak tanya membuka kunci. Tanpa membuang waktu lalu Ika masuk ke dalam kamar saat David menutup pintu kamar Lena.


Ika berlari keluar dengan berjinjit tanpa menimbulkan suara. Dia sampai mundur beberapa langkah, saat hampir menabrak Axel di pintu depan. "Ah .... "


Axel mengernyitkan kening saat melihat wajah wanita itu langsung pucat pasi, karena mata wanita itu terbelalak dan begitu kaget. Ada yang tidak beres.


Axel berbicara pada anak buahnya untuk mengikuti Ika. Dia berjalan ke dalam dan belum sampai di ruang tengah. Suara gaduh mengguncang hati Axel yang terkejut. Jantungnya seperti mau copot.


"LENAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"


Mata Axel melotot dan langsung berlari. Dia membuka pintu karena teriakan memilukan tuannya. Begitu membuka pintu, baru dua detik melihat tuannya, sesuatu terbang begitu cepat dan tepat mengenai matanya. Hidung Axel terasa pengar dan kepalanya langsung sakit. Dia melirik kebawah pada segepok uang dollar Qatar yang baru mengenai wajahnya.


Uang kertas lain bertebaran juga dan teronggok di lantai. Dua lembar kertas berlabel maskapai penerbangan baru jatuh dari tangan David. DEG. Jantung Axel begitu tersakiti hanya karena mendengar rintihan kesakitan tuannya. Padahal dia belum mampu mencerna, tetapi dengan pintu lemari terbuka yang tampak kosong, dia langsung menarik kesimpulan yang ditakutkannya selama ini. Apa nona pergi tanpa sepengetahuan tuan?


"Dia pergi dari tadi pagi Axel! Dia membatalkan rencana pernikahan kami! Dia membatalkan tiket penerbangan! Dan kau tahu? dia memintaku tak mendatangi rumahnya karena dia bilang akan memaafkan Niko dan akan menerima lamaran Niko.


Kau tahu? Niko telah bercerita pada Lena bahwa hubungan Niko dan Marsha hanya karena perjanjian! Apa kau tak mencari tahu itu Axel! Kau tak tahu rupanya, soal perjanjian Niko dengan saudaranya Marsha? Tetapi kenapa dia mempermainkanku saat aku bisa melupakan Shinta. Katakan apa salahku, Axel! Jawab! Kenapa dia memalingkan perhatiannya saat aku telah berpaling padanya?


Hatiku sakit Axel! Ini jauh lebih sakit daripada saat aku tahu Shinta bercinta dengan Tara! Sekarang aku harus kemana Axel? Apa aku harus menikahi Shinta agar tak merasakan kecewa dan sakit hati lagi. Tolong aku Axel! Hatiku sakit sekali ...."


Glek. Axel berjalan pelan dan membungkuk. Pandangan mata tuannya begitu suram. "Tuan berdirilah. Jangan jatuhkan harga diri anda karena orang tak penting."


"Dia orang penting, Bodoh!"


"Bangun dan jangan pedulikan orang yang tak peduli dengan Anda." Axel akan memapah tuannya yang kini semua otot itu meregang dan sangat kaku. Axel kecewa pada dirinya sendiri karena terlena pada kepolosan wanita itu. Terlihat baik, tetapi sangat tidak sesuai ekspektasi.


"Aku tak mampu berdiri Axel," jerit David karena beban di hatinya begitu besar, dia bagai ditimpa runtuhan tembok hingga membuatnya tak bertenaga walau hanya untuk mengedipkan kelopak mata.


Air mata kepahitan mulai berjatuhan dan membasahi punggung tangannya. Tangannya, yang terkepal kuat seperti tak bisa dikembalikan. Dadanya terguncang mengapa Lena harus kembali kepada Niko. David jatuh kebelakang tak sadarkan diri hingga membuat Axel menelpon para anak buahnya.



"Apa kau bilang tadi?" Suara Leora bergetar saat baru pulang dari rumah sakit dan akan bertanya pada Marcho, justru mendengar Marcho meneriakkan nama Lena dari dalam kamar Marcho.


"Tidak ada kek!" Mata Marcho membesar.


"Kau menyebut nama Lena kan? kenapa? apa kau penyebab Lena meninggalkan David!"


"Tidak, untuk apa? tidak penting." Marcho memutar mata gugup dan otot-otot di wajah menegang saat mata biru kakek menyipit. Tongkat kayu jatuh, dan dua tangan keriput memegangi bahu Marcho.


Marcho yang kaget dan begitu takut tiba-tiba ponsel yang disembunyikan di pinggang terlepas


dari tangan Marcho dan membentur lantai. Mata Marcho mendelik dan wajahnya makin pucat, membuat Leora mengangkat satu alis dan dengan cepat Leora melirik anak buah yang baru datang. Kakek itu menembakkan pandangannya dengan sedikit gerakan ayunan kepala ke arah pengawal.


"Jangan kakek!" Marcho akan membungkuk tetapi langsung membeku saat kakeknya bergumam 'Diam!' dengan cara yang menyeramkan.


Marcho berusaha mengalihkan fokus kakek. "Jangan! jangan ganggu hubunganku dengan Anna!"


Leora membuat gerakan agar anak buahnya menahan Marcho. Loera keluar dari kamar, lalu Marcho dikunci di dalam di kamar. Jimmy menerima ponsel Marcho dari anak buah yang lain dan mengikuti Marcho yang menuju ke ruang kerja. Setelah Jimmy memeriksa aplikasi yang baru dibuka Marcho, Jimmy menarik kesimpulan.


"Tuan, cucu anda baru membuka foto nona Lena saat pertama ke rumah ini. " Jimmy menunjukkan kelima jepretan di ponsel Marcho, foto saat Lena tak melihat ke arah kamera. "Foto Nona Lena di pemeriksaan tiket, jika dilihat dari pakaian yang dipakai Tuan Marcho, ini sehari sebelum Nona Lena ke rumah ini."


Leora mengamati slide demi slide pada ponsel yang dipegang Jimmy. "Marcho sudah bertemu Lena sebelum Lena datang ke rumah ini?"


"Seorang pelayan melapor ke kepala pelayan, bahwa dihari dimana Tuan Marcho terkena iritasi mata, ada pelayan wanita yang sempat memergoki Nona Lena menyemprotkan sesuatu hingga mata Tuan Marcho iritasi."


"Kamu baru melaporkan ini sekarang? Panggil Pete!" Leora mengelus dagu saat Jimmy memangil kepala pelayan yang bernama Pete. Jadi karena itu Lena selalu lebih canggung saat di sekitar Marcho.


"Baik, Tuan." Jimmy diliputi rasa bersalah karena tidak melaporkan itu. Sebelumya, dia pikir ini bukanlah masalah. Namun, tuan besar selalu lebih teliti darinya, bahkan pada hal-hal terkecil.


Tentu saja Leora selalu mencari tahu alasan dan niat dari setiap orang, termasuk latar belakang orang-orang di sekitarnya.


Leora menyipitkan mata pada rekaman suara cctv yang baru dilihatnya. "Kenapa Marcho begitu kurang ajar pada Lena? Marcho mengira awal mulanya bahwa Lena adalah mata-mataku? Dia bilang mereka bertemu di club? Cari tahu di club mana!"


Jimmy mengangguk. "Saya baru mendengar laporan baru kemarin, bahwa ada yang tak sengaja melihat Tuan Marcho ke klub terbesar di kota. Harinya tepat sesuai yang disebutkan Tuan Marcho di CCTV."


Leora berdiri dan berjalan ke kamar Marcho dengan geram sambil memerintahkan Jimmy. "Dapatkan salinan cctv club dan segala hal yang berhubungan dengannya. Pergi sana sekarang."


Kunci kamar Marcho diputar, dia masuk ke dalam dan kunci itu di simpan di saku. Tampak cucunya sedang minum alkohol di beranda balkon. Angin dingin telah memenuhi kamar. "Masuk, kau bisa sakit."


"Apa yang boleh sakit cuma David? Biarkan aku saja yang sakit! Agar kakek mengasihankku juga." Marcho menangis dengan putus asa. "Pergi saja sana dan pedulikan David! Jaga David! Sayangi David! Restui hubungi David! Jual saham David. Semua tentang adikku Kakek selalu memenuhinya? Bahkan aku hanya untuk ingin menikahi Anna itu saja kakek tak pernah mendengarkanku!"

__ADS_1


Rahang Marcho sangat sakit saat terus menahan kekecewaan yang begitu pahit. Sumpah demi apa rahangnya tak bisa digerakkan karena sangat sakit seperti patah rahang. Oh dia ingin marah pada kakeknya, percuma baginya seperti berbicara dengan tembok.


"Bukan begitu, masuklah dulu."


Marcho menyeringai dan mengabaikan sang kakek. Dia menggelegak vod*ca sampai setengah botol, lalu tertawa. "Kakek tahu kan? itu ulah kakek yang merebut semua kebahagiaanku, kini kakek rasakan! Kakek tahu kan sekarang kan? cucu kesayangan Kakek itu biar rasakan! begitulah aku! Bedanya kakek tak peduli padaku dan cucu Kakek di dunia ini cuma satu- David! Seenggaknya kalau tak menganggap aku ini cucumu , tak usah deh kakek menyuruh pengawal-pengawal busuk kakek itu untuk mengikutiku!"


"CUKUP." Leora menarik botol itu dan membuang ke luar balkon dan berikutnya terdengar pecahan. Leora menceritakan semua alasan selama ini penolakannya pada Anna dengan tangan memegang pagar pintu. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan otomatis Marcho masuk dengan limbung ke dalam kamar. Leora menutup pintu balkon, lalu naik ke tempat tidur.


"Kemari!" Leora duduk di kepala tempat tidur dan Marcho ragu-ragu tidur memeluk paha kakek.


"Aku tahu kakek sangat membenciku." Marcho menangis seperti anak kecil.


"Aku membencimu, karena itu seharusnya kau membuatku percaya padamu? Begitu saja tak tahu?" Wajah Leora sangat kaku, tulang pipinya terasa begitu pegal. Tangan kekarnya menyibak rambut Marcho. "Ceritakan, di mana kau bertemu Lena, sebelum aku mencari tahu sendiri?"


"Akan kuceritakan asal aku boleh menetap di negara ini."


"Lalu Stefanie? Kau yang menikahinya dan kau yang membawanya masuk ke keluarga ini."


"Stefanie setuju bila aku menikahi Anna. Asal aku tak pernah menceraikan Stefanie, lalu menjadikan Romeo selalu nomer satu."


"Stefanie mengatakan itu?"


"Kemarin .... kakek bisa mempertanyakan itu pada Stef."


Leora mengelus dagu. "Sekarang ceritakan soal Lena dan apa yang kakek tidak ketahui?"


"Aku boleh menetap di sini?"


"Tergantung."


"Ya sudah aku takkan cerita."


Leora terdiam cukup lama. "Lalu posisi anggota Dewan mau kau apakan? bila kamu menetap di sini."


"David lebih cocok. Aku sangat tidak berminat ke politik dan melihat wajah-wajah bermuka dua. Itu tidak cocok untukku. Apa kakek mau, bila aku mempermalukan keluarga Xavero karena kinerja burukku di pemerintahan?"


"Lalu kamu mau jadi apa?"


"Pengekspor kurma dan semua produk makanan berbahan kurma. Aku akan membuat pabrik camilan dan merilisnya dengan produk coklat-kurma! Lalu kupikir aku akan kerja sama dengan perusahan minuman David, karena kupikir aku akan menirunya. Hanya saja aku ingin mendirikan perusahaanku bersama dengan Anna dengan resep minuman kurmanya yang membuatku makin jatuh cinta padanya setiap aku menikmatinya, Kakek."


"Apa kakek akan marah?" Suara Marcho makin mengecil. Dia duduk di pinggir bed, tempat paling jauh dari Kakek.


"Katakan .... "


"Aku tak sengaja .... Saat itu Lena diberi obat oleh seseorang. Aku menolongnya, menyewakan kamar dan aku langsung keluar. Kemudian, kunci mobilku ketinggalan jadi aku kembali ke kamar. Dia menggodaku dan aku dalam godaannya kakek, sungguh!"


" Apa maksudmu?" Leora masih mengira Marcho bercanda karena efek mabuk, cucunya ini keseringan membual sampai dia tak tahu mana yang serius atau tidak.


"Kami bersatu."


Leora terdiam dan menatap datar pada Marcho. "Lalu?"


"Aku meninggalkannya. Besoknya aku bertemu dia di stadion, lalu aku bertemu dengannya lagi di sini." Marcho belum mengatakan semuanya, tetapi sang kakek telah berjalan pergi ke luar kamar.


Huh membingungkan saja. Marcho memutar mata dan terbaring dengan asal sambil memeluk bantal. "Sebentar lagi pasti Lena sampai Indonesia. Apa kakek akan marah pada sesuatu yang bukan kesalahan ku? Lena kan yang menggodaku. Benar, kan?"



Beberapa jam lalu ....


Lena melirik jam tangan waktu doha. Dia bangun dan begitu terkejut. "Sejak kapan kamu di sini, Niko? kok bisa tahu .... "


Niko tersenyum ramah. "Satu jam-an lalu waktu kamu tidur. Aku juga tak tahu kamu naik penerbangan yang sama."


Niko berbohong, dia yang seharusnya pulang besok, lalu dimajukan setelah dikabari Sean tanggal kepulangan Lena. Ternyata benar apa kata Amar, pria Italia itu takkan mengganggu Lena saat pesta piala dunia selesai.


Lena mengangguk, dan permisi ke toilet. Setelah membasuh wajah dan buang air kecil, Lena berbalik ke tempat duduknya. Kursi penumpang banyak yang kosong.


"Len .... "


Lena diam saja, keberadaan Niko membuatnya semakin sesak.


"Aku minta ma'af."


"Untuk apa?" Lena mendengar soal Marsha yang sudah diceritakan sang kakak tadi pagi. "Ya sudah, aku sudah memaafkanmu."

__ADS_1


"Bisakah kita kembali?" Niko menatap Lena penuh harap.


"Maaf .... "Lena menghela napas berat. "Aku tidak bisa lagi."


"Karena pria Italia?"


"Bukan." Lena kembali menghela nafas berat. Karena aku sudah tak pantas lagi.


Niko tersenyum tipis. Dia yakin pasti hubungan mereka telah berakhir. "Baiklah aku takkan tanya soal ini lagi."


"Terimakasih." Lena mengernyitkan kening. "Tolong, kamu bisa kembali ke kursimu?" Lena merasakan dadanya tidak nyaman seperti ingin marah, seperti berdebar setelah minum kopi. Pokoknya dadanya tidak nyaman.


"Ceritakan, Lena. Kamu ada masalah apa? dengan cerita kamu lebih tenang. Okey, aku masih bisa jadi teman kamu kan?"


"Aku tidak apa-apa. Sungguh."


Niko berniat mengelus kepala Lena, tetapi gadis itu menghindari duluan. "Lena."


"Jangan membuatku tak nyaman seperti ini. Jangan asal pegang-pegang," lirih Lena dengan kesal. Dia bangkit dari kursi dan mencari kursi kosong. Duduk di pinggir jendela, matanya dipaksa terpejam dengan nafas masih tersengal dan begitu kesal.


Niko mencari Lena, sampai dia melihat Lena, dia lalu duduk di kursi terjauh yang masih bisa melihat Lena. Dia menjadi tak mengenali Lena. Kekasihnya yang dulu selalu tersenyum malu-malu dan berkata lembut, kini justru menatapnya dengan datar, bahkan terlihat tak nyaman saat diajak bicara. Bagaimana bisa kamu berbicara secepat itu, Len?



Niko benar-benar tak mengenali sosok Lena lagi. Sampai sekarang menunggu jemputan, perempuan itu tak menganggapnya ada, seolah Lena sibuk sendiri dengan dunianya sendiri. Mobil Xenia hitam menepi. Sean turun dari mobil dan langsung memeluk Lena yang memeluk abangnya sangat lama.


"Sudah, Dek. Kamu kenapa sih? Nggak malu sama Niko?" Sean menyipitkan mata saat wajah itu langsung cemberut. Adiknya itu justru menaikan koper ke mobil belakang dan menepis tangan Niko yang akan membantu.


Sean memandang dengan bingung pada Niko, dan sahabatnya hanya menggedikan bahu. Lena duduk ke jok depan dan menutup wajah dengan jaket. Sejujurnya, Lena tak bermaksud bersikap seperti itu pada Niko. Kepalanya sangat sakit dan dia sulit mengatasi kesedihannya. Dia bahkan tak sanggup berpikir, walau Niko membawa koper milik Niko ke kamar Abang.


Beruntung, jam setengah malam kedua orangtuanya sudah tidur. Lena cuci tangan dan kaki, setelah berganti daster. Dia melirik jengah pada Niko saat berpapasan di depan kamar mandi.


"Len .... " lirih Niko dengan tatapan penuh cinta. Dia memandangi perempuan itu yang seharusnya sudah hampir jadi calon istrinya.


"Selama kamu di sini, jangan berbicara denganku. Maaf, Niko. Aku sedang butuh waktu sendiri. Jangan terus memancing kemarahanku. Tolong mengerti." Lena berbisik dengan penuh penekanan.


"Apa ada kesempatan kau akan kembali padaku?"


Lena menatap mata Niko beberapa detik, lalu berlalu tanpa membalas. Dia bergegas ke tempat tidur. Dia tak mau melihat hp. Sebuah obat paracetamol sakit kepala di minumnya. Biasanya dia tidak pernah tidur gelap, sekarang dia mematikan semua lampu.


Sean baru berganti kos oblong dan celana kolor. Dia langsung melanjutkan tidurnya lagi. Baru terlelap, dia terbangun karena dorongan tangan.


"An, bangun dong." Niko mematikan lampu. Dia memasang telinga, sepertinya Lena langsung tidur karena kamar Lena di sebelah tampak senyap. Dia tidur di samping Sean, setelah mendorong Sean agar bergeser. "An, kamu sudah tidur?"


"Curhatnya besok saja. Aku ngantuk," lirih Sean dan berbalik, kini menghadap tembok. Sementara Niko tak bisa tidur cukup lama, sampai matanya mulai berat dan terpejam.


Suara ayam akan bertelur sangat berisik dan mengusik kenyamanan telinga. Lena masih berat hati untuk membuka mata, karena suara rame di ruang makan. Dia jadi penasaran karena tawa Ibu dan Abang. Setelah mencolokkan steker charger ponsel, Lena keluar dengan membawa handuk keluar kamar. Dia membersihkan kotoran di mata dan melirik sudah jam 9 pagi.


"Eh! anak Ibu sudah bangun!" Ningsih berjalan dan memeluk putrinya yang dibalas Lena. "Kamu masih ngantuk, ya ndok?"


Sujatmiko senyum semeringah, dia melirik Niko di kanannya yang juga tersenyum penuh kasih sayang. "Assalamualaikum .... "


"Ayah, walaikum salam." Lena menuju ke sang ayah, dia mencium tangan dan mengecup kening ayah.


"Wah, mana oleh-oleh untuk Ayah?" Sujatmiko mengerutkan kening karena Niko berjalan ke kamar dan meminta menunggunya.


"Ayah mau oleh-oleh apa sih?" Lena langsung duduk di samping kiri ayah. Masih berusaha mengumpulkan nyawa. Hidungnya berkerut saat Niko membawa teko Arab. Dia jadi mikir, sekarang Niko cari muka pada ayahnya. Dulu saja saat dia bertanya pada Niko kapan ke rumah, selalu beralasan sibuk. Kenapa sekarang jadi main ke sini.


"Om, ini tekonya adalah pilihan Lena langsung. Kalau sorban ini pilihanku untuk Om Sujatmiko." Niko memberi sorban ala Arab. Sujatmiko langsung senyum-senyum dan mencoba memakai sorban itu.


"Bapak tambah ganteng." Sumarni memuji suaminya.


"Jelas siapa dulu, Sujatmiko."


Lena tertawa bahagia melihat ayah senang. "Ibu aku beli permen, tetapi masih di koper."


"Ya, sudah, nanti saja. Kamu nggak malu ada Nak Niko?" Sumarni mengingatkan sang putri. Padahal dulu kalau mau ketemu Niko sudah dandan dengan heboh. Kenapa sekarang jadi masa bodo.


"Tidak apa-apa, Tante." Niko menggaruk tengkuk karena Lena langsung melengos walau secara halus.


"Katanya mampir ke tempat Amar?" Sean mengingatkan Niko. Aku siapin motor. Nanti kamu yang bawa mobil rental itu."


Niko pamit pada Tante dan om untuk siap-siap. Setelah Niko dan Sean pergi, Lena dicegat sang ibu, Lena memasukan baju kotor ke mesin cuci. Kemudian membantu ibu memotongi pisang yang sudah dikupas begitu tipis.


"Ndok, tadi ibu tanya pada Niko kapan rencana pernikahan kalian. Eh Niko jawabannya, supaya Ibu menanyakan padamu. Jadi, kamu kapan siapnya? Kecil-kecilan dulu saja, selametan. Ibu nggak sabar pengen punya cucu. Sean kan masih belum dapat calon."

__ADS_1


Lena makin tertekuk di wajah nya. Kalau dulu senang. "Ibu, Lena sebenernya .... "


__ADS_2