
Pagi-pagi, Lena sudah mematut dirinya di depan cermin dan entah pagi ini moodnya sangat baik karena akan bertemu Kak Stef. Dia langsung menuju ruang kerja suaminya. Pas sekali, suaminya selesai meeting dengan kantor di luar negeri.
"Papa, berangkat yuk!"
David melirik jam 8 pagi, tangan kekar menarik perut sang istri hingga pantaat semok itu duduk dipangkuan. Mereka saling pandang dengan mata berseri-seri hingga Lena membuang muka demi menahan rasa malu. Dengan lembut David mengusap pipi Lena, masih saja dia suka berdebar bila istrinya bertingkah seperti ulat bulu di depannya.
Dengan tak sabar, David menarik dagu Lena dan diarahkan hingga menghadapnya, wow dia mendapati perubahan warna kulit Lena yang tadinya putih mulai memerah. "Tatap aku, Mah! Dipandangi oleh suami itu harusnya senang, kok ini Mama malah malu. Cantiknya ini kalau bukan tuk Papa lalu buat siapa?" tanya David dengan nada seksi.
Merinding menjalar ke tulang punggung, Lena meringis oleh belaian telapak tangan kekar yang panas. Dia maju, dan mulai menggigit bibir suaminya dan jari panas David mulai menurunkan resleting belakang gaunnya hingga sebatas pinggang.
"Wangi sekali hmmm.... " David menekan hidung mancungnya, menyusuri leher jenjang nan mulus dan isterinya merem-melek karena disitulah titik sensitif yang dia tahu. Siapa suruh sang istri menghiasi bibir itu dengan lipstik merah yang menggoda. Rambut dengan style bergelombang itu diremas-remas dan diacak-acak.
"Papah kita kan, udah ditunggu, ih!" Lena merasakan dirinya melayang dalam gendongan David. Tatapan mata biru suaminya menjadi gelap dan berkilau seolah dipenuhi keinginan. Tangan kekar itu, membuka pintu kamar di ruang kerja. David bahkan kuat menggendongnya dengan satu tangan di depan, saat menekan kunci pintu.
Satu jam kemudian. Lena menatap langit kamar setelah sempat tertidur karena lemas luar biasa. Dia melirik suaminya yang baru keluar dari kamar mandi, dengan dililit handuk di pinggang, sampai mempertontonkan daerah pinggang langsing dan panggul yang menggoda.
"Pah, kita telat .... " Lena menggigit bibir bawah, saat David menggendongnya dan .... suaminya yang sudah bau harum sabun, lalu memandikannya dan ikut mandi lagi.
⚓
Stefanie meletakan sendok garpu dengan menghela napas dengan kasar. Keluarga Besar Leora telah berkumpul, sepertinya Marcho menghindari mereka, tetapi ini kan di rumah sendiri. Stefanie semakin jadi bulan-bulanan bibi dari keluarga suaminya yang menertawakan ketidakhadiran Marcho. Sindiran dari keluarga Marcho juga sangat menyakitkan.
Kakek dan Nenek Leora, Hans dan Bilqis juga tak berniat membela menantunya karena tak mau bila acara kumpul itu menjadi kacau. Stef berdiri dan keluar dari meja makan karena kupingyanya begitu panas pada saat pamannya Marcho bercerita bahwa salah seorang teman telah melihat Marcho di Jepang bersama Shinta.
"Duduk!" Kakek Leora dengan tegas dan menatap tajam Stefanie dan mampu membuat semua anak Leora tidak membicarakan Marcho lagi. Namun, Stef yang terlanjur sakit hati, tak dapat menguasai dirinya dan mengabaikan ucapan Leora, dia menjauh dengan mata berkaca-kaca karena di tempat ini seperti tak punya harga diri lagi.
"Kakek ..... "David protes, tetapi Papa Hans menatapnya tajam sambil menggelengkan kepala agar tidak ikut campur.
Lena teringat mata kak Stef yang merah. Dia menganggukan kepala ke kakek Leora, lalu berdiri dan pergi menyusul Stef. Lena mengembus napas panjang sambil mendekat ke Kak Stef yang berada di taman.
“Kak Stef ….” Lena tersenyum tak tega saat Stef menatapnya. Dia berdiri di samping dan mencium wangi manis bunga dari tubuh Kak Stef. "Kak, Ikan koi nya banyak."
“Len … “ Stef kembali melihat ikan khoi, tangannya menggenggam pakan ikan lalu melempar ke kolam berbentuk bundar. "Kenapa ikut kemari?"
“Aku sudah kenyang. Ngomong-ngomong, Kakak yang selalu kasih makan ikan ini?” tanya Lena.
"Kadang-kadang."
Lena melirik perut buncit Kak Stef. “Berapa bulan usianya kak?”
“Dua.”
“Aku juga kak, kata dokter baru satu bulan.” Lena tersipu malu dan makin tertunduk.
Stef memiringkan kepala dan melepas senyuman yang tak terduga. “Seriously?” Stef langsung tertawa, lalu memegang perut Lena. “Hahaha, selamat ya, Sayang!”
“Terimakasih, kak.” Lena tersenyum malu. "Kita akan sama-sama melewati masa kehamilan. Aku senang, Kak."
Stef memandangi Lena dengan terharu. "Ya, kau dan aku. Stefanie tertawa lepas sambil mengusap-usap punggung Lena dengan tangan kiri yang tak terkena pakai. Wow seru, kita harus belanja bareng hahahaha."
Sean mendekat dengan hati berbunga-bunga karena Stef bisa tersenyum lepas, beda saat berkumpul dengan belasan keluarga dari Leora yang semua menyudutkan Stefanie, dia jadi kasian.
"David kecil akan seperti apa, ya? Kupikir dia akan lebih nakal dari pada Romeo." Stef tersenyum membayangkan itu karena David aslinya nakal saat kecil.
__ADS_1
"David kecil?" tanya Sean, berdiri di samping Stef sambil meraup pakan ikan dari wadah yang dipegangi Stef.
"Kamu akan menjadi Paman, Lena hamil." Stef menatap mata Sean yang kini berbinar dan beralih memeluk Lena.
"Kakak akan jadi Paman." Lena menyunggingkan senyuman penuh arti dan dia mendapat hadiah kecupan Sean di kening.
"Kapan lahirnya? Kakak udah tak sabar ingin mengajaknya main."
"Da*sar sabar! Masih 8 bulan lagi, Sean." Stef melempar sisa pakan dan menaruh wadahnya di meja.
"Lama sekali," ujar Sean sambil duduk.
“Besok, dua hari lagi aku ada kunjungan ke Praha, Sean. Kau tak dengar? Kata Kakek Leora kamu diikutkan untuk mengunjungi distributor di sana."
“Wow!” Mata Lena berbinar. “Keren Kak Sean!”
“Serius?” tanya Sean sembari menatap Stef. “Huh keren, akhirnya aku kecipratan ke luar negeri juga, hahaha.”
“Hih! Kakak, kemarin diajak ke Swiss nggak mau!” gerutu Lena dengan penuh antusias, dia ingin juga membahagiakan Sean.
“Enak aja! Aku harus jadi obat nyamuk diantara kalian? Gua mah ogah!” Sean menjitak dahi Lena sampai kening itu memerah dan Lena mengelus kening.
Stef tertawa ringan pada ulah kakak beradek itu. Lumayan, anggota baru dalam keluarga ini membuatnya masih bisa bernapas, dan sedikit menghiburnya.
Lena menatap Stef dalam-dalam.
“Kak Stef, tolong jaga kakakku di sana.”
“Menjaga?” Stef mengerutkan alis.
“Oh, ya?” Stef tak percaya dan makin tertawa. “Sungguh tak di sangka, ya!”
“Dek! Jangan buka kartu Abang! Entar, kesenangan Kak Stef!”
Stef geleng-geleng kepala dan mulutnya terbuka lebar karena menatap wajah Sean yang semerah seperti kepiting rebus. “Nggak apa-apa, Sean. Itu nggak aneh, wajar. Orang bilang, lelaki semakin tak kawin-kawin semakin mahal harganya. Hahaha.”
“Tuh dengar, Kak! Nggak apa-apa, kan! Ngeyel mah, Kakak."
Sean menggedikan bahu, dia semakin menahan malu, kalau Kak Stef sampai menganggapnya nggak laku. “Terserah kalian, lah. Mentang-mentang kalian udah menikah, ya?” Sean mengerucutkan bibir dengan mata membesar dan makin memasang wajah memelas.
Berikutnya tangan Lena justru mendorong bibirnya. "Kakak! Ntar tambah cakep! Jangan begitu!”
“HAHAHA Kalian kocak deh!” Stef bersandar pada kursi besi sambil memandang ke langit biru.
“Cantik ….” ujar Sean.
Stef menoleh ke kanan dan mendapati Sean tengah memandanginya tanpa berkedip. Sedangkan Lena menunduk karena melihat layar ponsel. “Apanya yang cantik?”
Mata Sean membesar. “Mamahnya Romeo.”
Stef mengangguk dan tersenyum dengan tulus. “Trimakasih, Se. Kalau begitu, akan semakin cantik, kalau besok tugasku dikerjain kamu saja, ya?”
“Okey.” Sean dengan suara dan nada gentle.
__ADS_1
“Serius?” Mata Stef membesar, padahal dia hanya bercanda.
“Hanya untuk hari besok.”
“Semuanya, ya, Se?”
“Lah ngelunjak!” Sean menatap tajam Stef.
“Plis,” Stef menekuk bibir hingga hidungnya makin mengkerut. Tampak Sean menghela napas kasar dengan wajah datar.
“Makasih, Abang Sean,” ucap Stef dengan wajah dibuat sangat manis. Alis stef terangkat tinggi karena Sean melakukan salam dua jari. “Apa itu?”
“Dua cup kopi.”
“Siap BOS SEAN!” Stef megacungkan jempol pada Sean.
“Senang banged, Kak Stef,” ujar Lena. Dia bersyukur, kakaknya berhasil membuat kak Stef tersenyum lepas, tidak seperti di meja makan tadi. Kini Kak Stef menarik Lena ke dalam rumah, dan meninggalkan Sean di taman.
⚓
Setelah berkendara selama lima belas menit, mobil yang dikendarai sopir berhenti di sebuah butik 'Lena Emma Boutiqe' . Lena dan Sean turun dari mobil, dan masuk ke dalam Boutiqe. Beberapa pakaian musim panas dan musim dingin terpajang di etalase.
Lena masuk lebih dalam melewati lorong dengan banyak pintu. Dia berhenti di pintu bertuliskan Studio, lalu masuk ke dalam. Ketika masuk ke ruang pemotretan untuk mencari Emma, Lena melihat Niko- sang mantan sedang dalam pemotretan. Lena sontak mundur saking kagetnya dan membentur perut Sean. Lena langsung berbalik untuk keluar dan mengabaikan lirikan sang kakak. Akan tetapi tangannya ditarik Sean.
"Niko sedang pdkt sama Emma. Tak usah cemas. Dia takkan mengganggumu." Sean meyakinkan Lena dengan tatapannya.
"Aku tidak mau membuat David berpikiran macam-macam, kak." Lena menekuk bibirnya dan tatapan penuh kecemasan.
"Percayalah, nanti aku yang akan sampaikan ke David." Sean mengangguk agar Lena paham. Dia menarik tangan Lena dengan satu tangannya. Semua orang di ruangan itu menatap ke arah tangan kanan Sean yang sebatas sikut.
⚓
Pemotretan berakhir, Niko turun dari panggung dan menghampiri Sean. Niko berusaha tak menatap Lena, tetapi dalam hati lelaki itu senang bukan main. Dia sengaja berdiri ke samping Emma dan sedikit menempel ke lengan Emma, dia tahu dirinya diperhatikan Lena. Niko berharap Lena cemburu.
"Loh, kakak ikut jadi model," gumam Lena saat Sean dibantu dipakaikan atasan musim panas oleh dua perempuan. Sean juga. dimakeup oleh satu orang pria yang sangat stylish.
"Dia bersamaku, Lena." Niko sulit sekali menyembunyikan senyum.
"Jangan salah, Len. Aura kakakmu itu bersinar seperti bintang besar," timpal Emma sambil bekerja dari tablet. "Dia punya bakat."
"Wow ... " Lena melongo pada saat kakak naik panggung dan mengikuti arahan Emma.
Niko baru selesai melihat hasil foto di kamera, lalu mendekat ke belakang Lena. "Jangan khawatir, Sean tak Lemah seperti kelihatannya."
Lena mendongak ke arah Niko. "Aku takut kakak sakit hati bila ada yang menghina fisiknya."
"Tidak akan. Kau tahu, dia sebenarnya bangga karena menyelamatkanmu. Sean tidak menyesal pada kecelakaan itu karena dia masih bisa melihatmu hingga kini." Niko tersenyum manis dan Lena mengangguk dengan senyum tipis.
"Terimakasih telah datang untuk menghibur di masa-masa tersulit kakak, Niko."
"Sama-sama. Tapi siapa yang kau curigai? Sampai sekarang itu tak ada kejelasan?" Niko dengan nada serius, dia juga sedang mencari tahu siapa yang menculik Lena.
"Aku tidak tahu, apa ada yang tidak suka dengan suamiku, dan berusaha merencanakan sesuatu?"
__ADS_1
Lena menatap Niko dengan cara biasa karena perasaannya telah tawar. Dia pikir akan canggung berbicara dengan Niko pasca terakhir telepon di malam pernikahannya, ternyata semua berjalan seperti biasa.