
Keributan antara Marcho dan Stefanie makin menjadi. Kata-kata tajam terlontar yang tidak sepantasnya di ucapkan di depan anak kecil hingga situasi itu membuat Lena terusik. Dia tidak mengerti karena semua orang diam dan pura-pura menyibukkan diri. Sementara itu Kakek dan Nenek Leora juga cuma menonton keributan mereka.
Lena berdiri, dia menepis tangan David yang menahannya, lalu menuju Romeo. Tanpa takut, Lena berjongkok di samping Romeo yang berdiri sesenggukan di genggaman tangan Stefanie. Dia menatap sendu pada mata coklat yang memerah. Sebuah permen coklat diberikan Lena pada Romeo dan mendadak perseteruan dua orang itu berhenti. "Romeo, kamu mau coklat? ambil kita makan ini, yok?"
"Apa yang kau berikan? Lancang sekali kamu!" Marcho menatap tajam Lena dengan penuh kebencian. "Dia tidak boleh makan manis!"
"Sekarang kamu berlaku menjadi ayah yang sok peduli? Kemana saja kamu selama ini! Biarkan dia memakan coklat untuk menghiburnya karena kau sudah membuatnya sedih." Stefanie tersenyum dengan sinis.
"Aku sudah bilang jangan memberinya makanan manis! Kau tuli?" Marcho berdecak pada Lena, lalu merebut permen itu dari tangan mungil dan seketika sang putra menangis.
Lena begitu merasakan ngilu dengan tangan kasar barusan, dia menyentuh tangan mungil anak itu yang memerah akibat berusaha mempertahankan coklat. Lena mengusap hati-hati di kepala mungil itu yang terus meneteskan air mata kebingungan.
"Marcho! Bisakan kamu lembut sedikit?" gumam Stefanie dengan penuh penekanan dengan tangan terkepal di samping paha.
"Romeo mau ikut tante bermain air?" tanya Lena pada anak kecil yang tampak begitu terluka. Lena tersenyum manis saat anak kecil itu mendongak pada sang mamah, dan sang mamah melepas genggaman, pertanda memberi ijin.
Anak kecil itu berpaling memandang Lena dan melangkah dengan ragu dan perasaan takut akan dimarahi sang papah. Perlahan dia menggengam tangan orang dewasa itu yang hangat dan terlihat baik.
Stefanie melihat kepergian putranya yang lalu digendong Lena. Stef berdecak pada Marcho dan begitu muak dengan kesemena-menaan suaminya. Dia berjalan masuk dan membatalkan untuk berkumpul dengan keluarga Marcho yang bermuka dua.
"Tunggu, kau mau kemana? aku belum selesai," gumam Marcho, ikut menyusul Stefanie ke dalam rumah.
David mengelus dagu dan melirik kakeknya yang juga memandangnya, setelah tontonan klise barusan yang terjadi selama bertahun-tahun. Hingga seluruh anggota dibuat tidak nyaman setiap mereka berseteru. Kakek Leora mulai menyendokkan pasta ke mulutnya, lalu semua anggota keluarga besarnya pun ikut makan. Sementara David berdiri akan menyusul Lena di tepi pantai yang masih menggendong Romeo.
"Baby Leo!" Leora memberi isyarat supaya David duduk kembali. Orang-orang memandangi David yang berani protes. Para paman dan bibi semakin tidak suka, karena walau David tidak patuh, tetapi Leora selalu menaruh perhatian pada David.
Bahkan kini Leora membiarkan saja David yang meninggalkan meja makan. Padahal kalau cucu yang lain sampai berani melakukan itu, pasti Leora memberi hukuman keras dengan mencabut jabatan para cucu yang bandel dari anak perusahaan.
Sebuah bungkus coklat diraih dari tas mini berwarna biru. Lena menurunkan Romeo dan mengajak anak kecil itu duduk di pasir. Dia tersenyum dan menatap pada bibir kecil yang begitu tertekuk walau sudah tak menangis. "Tante masih punya lagi. Kamu mau makan permen ini?"
"Daddy nanti marah." Romeo menggelengkan kepala dengan sedih. Dia menelan liurnya yang mengental pada permen yang hanya boleh dimakannya setiap tanggal 1. Itupun hanya mamanya yang akan memberi itu.
"Nanti, Tante yang akan bilang pada Daddy kamu biar tidak marah lagi. Sekarang tante buka ini untuk kamu." Lena mengulurkan permen coklat ke ujung bibir mungil, tetapi anak itu terus menggelengkan kepala. Lena tahu dari mata coklat itu terlihat Romeo sangat menginginkan permennya.
"Aaeemmmm!" Lena menghisap permen itu sendiri, lalu matanya terpejam. "Wow, emmmmhhhh yummy."
"Tante! kok dimakan?" Romeo mengernyitkan kening dengan tidak terima. Dia mengguncangkan lengan itu dengan kedua tangan mungilnya. Namun, Tante itu masih sangat menikmati permen kesukaannya. "Itu katanya buat aku, Tante. Aku mau permennya, Tante."
Lena menyengir kuda dengan satu alis terangkat. "Tadi katanya nggak mau?"
"Kan Tante tadi bilang mau bilang ke Daddy. Sekarang Romeo tidak bisa makan permen lagi karena permennya sudah dimakan Tante." Romeo dengan lesu dan siap menangis, tetapi matanya lalu berbinar saat Tante itu membuka satu permen lagi dan menaruh di mulut mungilnya.
Lena menyengir saat Romeo tersenyum dengan penuh arti. Dia mengusap dengan lembut rambut coklat Romeo. Lena memekik karena pelukan tiba-tiba dari arah belakang, saat dia menoleh, David tepat didepan wajahnya.
Dua orang dewasa itu terpesona pada objek di depannya. Anak kecil itu tertawa lepas karena kekagetan Tante Lena yang menurutnya sangat menghibur. Dengan canggung Lena tersenyum tulus ditengah jantungnya berdebar karena aroma Citrus, dia beralih ke Romeo yang masih tertawa.
"Paman, kenapa yang dipeluk hanya Tante?" protes Romeo. Padahal dulu pamannya hanya memeluknya.
"Eh, iya sampe lupa." David menggelitiki Romeo sampai keponakannya cekikikan karena tak tahan geli.
"Paman, asah ah ah! " Romeo memekik sampai wajahnya memerah. Dua tangan mungil itu berusaha menjauhkan tangan besar itu dari perutnya. "Tan-te to-long ah ah!"
__ADS_1
"Mas, dia bisa keselek permen!" Lena masih ngeri, tangan kiri David di perutnya, tetapi tangan kanan David itu terus menggelitiki sang keponakan.
"Paman, sudah! Ha ... ha ... ha .... " Romeo kembali tertawa karena pamannya kini menggelitiki Tante sampai kegelian, yang berakhir sampai Tante menangis karena tak tahan geli. Romeo sampai ikut berlari setelah Tante menyuruhnya berlari.
Dari lantai dua Marcho berdiri di atas balkon, pada sang putra yang berlarian dengan bergandeng tangan dengan Lena, saat David pura-pura mengejar. Dua orang dewasa itu sepertinya kompak menghibur Romeo. Mereka bertiga tertawa membuatnya iri. Seharusnya dia di posisi mereka tetapi dengan Anna. Dia jadi berpikir anaknya dengan Anna seperti apa bila dulu jadi menikah dengan Anna.
"Haiya!" David mencapit pinggang mungil bocah kecil dan mengangkatnya setinggi-tingginya sampai membuat Romeo memekik kegirangan.
Lena tertawa dengan begitu semeringah, pada sosok David yang penyayang pada anak kecil. Bahkan dalam sekejap Romeo seperti melupakan kesedihan itu. Kini Romeo duduk dibahu David yang kokoh dengan memegangi kening David. Sementara Lena merasakan rangkulan tangan kiri David di bahu kirinya saat memandangi laut.
"Paman, kata Mami, Paman mau menikah dengan Bibi?"
Pertanyaan Romeo itu membuat Lena mendongak dan mendapati senyuman hangat David ke arahnya. Bahkan lelaki itu mengedipkan satu mata dengan cara nakal membuat hati Lena menghangat. Lena merapat dan merangkul pinggang David, lalu mencubitnya tajam sebagai ajang balas dendam, sampai lelaki itu meringis tanpa suara dan Lena tersenyum penuh kemenangan.
"Boy Tante Lena akan menjadi Bibimu karena kami akan menikah. Apakah kamu suka dengan Tante Lena?" David bertanya dengan rasa penasaran.
"Apa Tante akan sering memberiku permen? Jika Tante mau memberikan permen, maka Tante baru boleh menikahi pamanku."
Lena membulatkan mata karena tak percaya dengan apa yang didengarnya. David tersenyum bangga pada keponakannya yang selalu cerdas. Anak kecil itu mengulangi syaratnya lagi. David tertawa kecil dan merasakan ketenangan karena usapan tangan Lena di dadanya.
"Jawab, Sayang. Dia ingin tahu," kata David pada Lena yang masih membisu dan tampak kebingungan.
"Iya Romeo, Tante akan sering memberimu permen coklat dengan seizin Mami Stef." Lena tak punya alasan lain dan menjawab dengan terpaksa.
"Janji permen coklat, Tante?" Romeo mengulurkan jari kelingking dengan penuh harap. Dia berharap besar ada yang memberinya permen selain sang mama. "Kita sedang berbisnis, Tante."
David menahan tawanya karena sikap polos sang keponakan. "Apa boleh Paman ikut berbisnis dan janji permen coklat?"
"Paman juga mau mendapat permen coklat dari Tante. Padahal, kalau paman dapatkan permen itu, niat Paman mau diberikan pada Romeo." David masih menahan tawa saat Lena mengernyitkan kening dengan senyum tanda tanya.
"Oh! Kalau begitu Paman boleh! asal permennya untuk Romeo." Romeo berubah pikiran. Dia sangat suka permen coklat Xaverio dari pabrik kakek. Namun, semua orang melarangnya memakan itu, padahal temannya di sekolah juga sering memakan coklat Xaverio.
Lena mengulurkan jari kelingking dan mengaitkan pada jari mungil, begitu juga David ikut-ikutan.
"Janji permen coklat!" teriak Romeo dengan kegirangan. Lena dan David tersenyum. David berdebar, baru di mal sudah mengecup bibir Lena, sekarang nafasnya telah memburu lagi dan menginginkan nya.
Ini terlihat sangat bodoh bagi Lena. Dia semakin merasa berdosa karena berbohong pada anak kecil yang pasti selalu ingat pada janji orang dewasa. Padahal dia tidak bisa menepati janji, karena mungkin ini pertemuan terakhir.
Saat kembali ke rumah, Romeo dengan kegirangan menghambur ke paha mamanya. Stefanie membawa Romeo untuk makan dulu karena Leora masih menunggu saat semua orang sudah bubar dari meja makan di halaman belakang. Sebuah pasta dan bola-bola ayam disiapkan Stefanie pada piring putih. Kemudian.diletakan di depan putranya.
"Makan dengan perlahan, Romeo." Leora dengan nada lembut pada sang cucu yang duduk di sebelah kirinya dan sang cucu mengangguk dengan takut-takut. Dia mengamati sang cucu karena kini lahap makan. Padahal kemarin-kemarin tidak mau makan apapun sampai jatuh sakit. Leora memerintahkan pengawal agar memanggil Marcho untuk makan.
Suasana makin hening saat kedatangan Marcho. Marcho duduk di samping kanan Leora dan makan dengan tidak selera. Sementara Stefanie yang duduk di samping putranya berusaha menghindari tatapan Marcho.
Di lantai tiga, David yang baru menarik kekasihnya lalu memblokir bibir sang kekasih dengan bibirnya begitu memasuki lorong sepi tanpa pelayanan. Lena yang tak siap, bernafas cepat dari hidungnya. Perempuan itu kewalahan akibat serbuan beringas dari sang pacar yang sudah terpejam.
Bahkan Lena tak sadar saat David membuka pintu di belakangnya, dan kini menarik Lena ke dalam ruangan yang belum diketahui Lena karena tertutupi tubuh tinggi David. Gadis itu tak bisa memikirkan apapun, begitupun saat terdengar suara pintu dikunci di belakangnya. Dia tidak mengerti kenapa jari-jari pria itu sangat membuatnya tak terkendali. Merinding luar biasa,
Setiap Lena akan menolak, setiap kali itu David menyerang ke tempat yang lebih intim yang otomatis membuat tubuh mungilnya men3g4ng. Jemari panjang menyatukan rambut Lena ke sisi lain, disusul serbuan kecupan. Padahal Lena sudah menutupi bekas gigitan itu dengan fondation tebal. Kini justru David sudah melepas satu persatu kancing di depan dada.
"Jangan, Mas-" Lena mendorong wajah David yang netra deepblue itu sudah sangat gelap dengan serbuan napas. Tenaga Lena kalah jauh, ini hal baru dan mengerikan baginya. Jika dia sampai melewati batas itu, dia tidak akan tahu apa lagi yang terjadi setelahnya.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
"David, kau di sini? Aku tahu kau di dalam keluar!" Marcho tahu ini satu-satunya ruangan kosong sekarang, terlebih pelayan bilang David tadi ke lantai 3. "Cepat keluar, aku butuh bantuanmu!"
David menggeram begitu lagi-lagi mendengar suara Abangnya. Lena meringis sekaligus lega, karena David nyaris memelorotkan pakaian inti bagian atasnya. Tampak wajah maskulin pria itu kini merah padam sembari memasangkan empat kancing gaun musim panas Lena. David lalu menyuruh Lena diam dengan isyarat telunjuk di depan bibir.
"Apa sih?" tanya David sambil mengatur napas yang masih memburu, setelah membuka pintu dan keluar.
"Kita bicara di dalam." Marcho mendorong tubuh David, tetapi adiknya itu tak bergeser. Marcho bergeser dan mendorong pintu, tetapi adiknya menahan pintu. "Kita bicara di dalam. Ah ada Lena ya?" Marcho mengerutkan kening dengan melongo saat mendapati David berusaha berbohong.
"Lepas, aku juga ada perlu dengan calon istrimu itu. Ini soal Anna." Marcho dengan nada serius dan seketika David masuk lebih dulu. Marcho masuk ke ruang perpustakaan, dan melirik ke dalam, tetapi tidak ada siapa-siapa. Sampai David memanggil Lena dan gadis itu keluar dengan canggung dan wajah sangat merah dengan satu buku di tangan mungil.
"Apa yang kau baca?" tanya Marcho saat melihat cover buku bertuliskan aksara Rusia. "Kau bisa membaca itu?" Marcho duduk di meja kayu sambil mengambil ponsel dari saku celana.
"Bisa," ucap Lena tanpa melihat buku dalam tangannya dan David tertawa, lalu duduk di samping abangnya.
"Keren juga pacarmu bisa bahasa Rusia," ujar Marcho tanpa melihat ke Lena. Tangannya sibuk membaca pesan dari Anna.
"Rusia?" Lena langsung melihat buku di genggaman. Dia meringis dan merasa bodoh, terlebih David menertawakannya. Lelaki itu masih saja mengedipkan mata dengan cara nakal.
"David, kamu tolong jemput Anna bersama Lena. Dia siang ini keluar dari rumah sakit
Kau tahu kan Dav, pegawainya sibuk dengan pelanggan. Orangtuanya di luar kota. Kasihan jika dia sendirian." Marcho dengan penuh keseriusan.
"Tolong, Len." Marcho kali ini mau memohon pada gadis itu dengan nada serius.
"Aku akan menjemputnya dengan satu syarat." David lalu berbisik ke telinga Marcho, "selama Romeo di sini, kamu harus membuatnya tersenyum."
"Damit!" Marcho menatap tajam pada David yang mulai ikut campur.
"Terserah kamu sih." David memutar mata malas. "Kami si sibuk menyiapkan rencana pernikahan kami. Jadi untuk apa kami menjemput Anna, apalagi kakek selalu mengawasi. Yang ada Kakek jadi menyalahkan ku-"
"DEAL! Cepat pergi sana. 15 menit kau sudah harus di sana." Marcho mendorong David agar segera bangkit, lalu menatap tajam Lena. "Tolong, Len. Jangan ceritakan kedatangan Stef pada Anna. Aku tak mau membuatnya terluka."
Giliran butuh aja, minta tolong. Batin Lena menahan kesal karena kesemena-menaan Marcho.
⚓
Malam itu Lena siap dengan piyama yang dibawa dari mes. Dia teringat tadi siang saat menjemput Anna yang terlihat begitu sedih, walau Wanita itu berusaha menyembunyikannya. Dia jadi kasihan pada Anna, tetapi juga kasihan pada Stefanie dan dia juga sangat mengasihani dirinya sendiri.
Lena naik ke tempat tidur dan mengubur diri di dalam selimut, saat mendengar suara gemericik dari kamar mandi.
Besok adalah malam terakhirku bersama David. Mengapa rasanya sangat sebentar. Aku sangat ingin memiliki David, bukan untuk n4fsu jasmani atau materi, tetapi juga untuk menjadi teman hidup. Berbagi rasa sepanjang usia, adakah jalan lain yang bisa kutempuh. Tuhan mengapa ini terjadi padaku disaat aku mulai menyukainya.
"Sayang." David menyeringai pasti pacarnya pura-pura tidur. Dia melepas jubah mandi dengan perasaan segar dan masuk ke bawah selimut dan mengecup punggung kaki mungil dan ke betis. David dapat merasakan bulu-bulu kaki Lena yang tegak meremang dan jemari kaki mungil yang saling mencengkram.
"Mashh! sini naik." Lena menarik ke dua kakinya, tetapi pria itu justru mencengkeram pergelangan kakinya dan menit berikutnya, sesuatu basah mengenai setiap jari kakinya. "Mash! Apa! Itu kotor! jangan begituuuh!" Lena meringis karena lidah itu menggelitik di bawah jari kelingking kakinya hinggan Lena meng3j4ng tak tahan.
"Tolong sini Mash." Badan Lena menjadi begitu gerah semua otot tubuhnya terasa mendidih oleh gelombang aneh. Dia tak bisa menahan dan merintih setiap lidah David melalang buana dan telah melorotkan celana piyama. Lena menutupi bagian paling vital dengan kedua tangan karena gigitan berbahaya David yang mulai meninggalkan lutut.
Panas dingin akibat ulah David. Serbuan napas panas itu dan kini David mengecup punggung tangannya. "Mas jangan!" Lena merint1h karena David sudah mengangkat satu tangannya "Pokonya kalau kamu melakukan itu, aku nggak jadi nikah sama kamu!" ancamnya dengan nafas menderu.
__ADS_1
David mengecup telapak tangan Lena yang baru diangkat, dan pria itu langsung menurut hingga kini di depan wajah Lena dengan tatapan tajam. David lalu tenggelam dalam ceruk leher Lena yang berbau kenanga dan menarik pinggang Lena erat-erat untuk menempel padanya, hingga dia yakin Lena merasakan miliknya yang gagah. "Ancaman mu jahat sekali?"