
Axel memarkirkan kendaraan, dan mengoper tuas gigi ke posisi P. Dia mencabut kunci dan pandangannya mengitari di kejauhan. Lalu terkesiap sampai tubuhnya membeku beberapa detik saat menangkap objek sangat manis.
Dia keluar dari dalam mobil, dengan jantung berdebar. Tanpa menutup pintu, tangannya mengambil ponsel dari saku di dalam jas. Entah kagum pada tuannya yang tampak sangat gentle. Atau ini hal yang paling langka.
Seumur-umur selama 20 tahun menjaga David, dia melihat David besar kini sangat berbeda. Maxudnya di sini David terlihat lebih SANTAI. Ini hal luar biasa hingga Axel merekam di kejauhan dalam mode di Zoom. Sepertinya, bagus untuk di kirimkan ke Nyona Sakha.
"Benarkah Anda terkena sihir?" kata Axel di earpiece. "Saya kira perkataan Anda ada benarnya. Saya mengingatkan Anda, si sini Anda terlalu berlebihan. Kaki Anda bisa lelah jika menggendong nona. Lalu nanti nona bisa salah sangka dan berpikir Anda menyukainya. Ah Tuan, saya bawakan kopi dan sarapan ke situ."
Axel tidak mendengar jawaban, sepertinya tuan tidak berniat menjaga sikap dan mengabaikan Axel. Tuannya malah terdengar tertawa karena cerita nona yang mengaku mendapat -pin yang ada namanya- dari sesama volunter, yang berasal dari Brazil. Tadi malam sampai pagi tuannya begitu dingin, tetapi sekarang setiap mengajukan pertanyaan terdengar nada keingintahuan dan senyuman tertahan.
Axel mengekor seperti obat nyamuk dengan menjijing kotak roti dan mendengar cerita Lena soal tiket keberangkatan Lena yang hangus. Tuannya akhirnya menurunkan Lena dari gendongan dengan keringat sebesar biji jagung meleleh di keningnya. Suruh siapa pake jas dobel.
Axel terjebak saat diminta sarapan bersama. Bahkan gadis itu meminta tuannya duduk di pasir, tanpa alas. Alas kain yang dibawa Axel jadi tidak terpakai. Syukurlah, tuannya seolah seperti melupakan Shinta. Hanya saat seperti ini, tampaknya lebih baik daripada tuan sendirian dan banyak melamun.
Lena mengulurkan roti yang telah diolesi mentega pada David dengan senyuman cantik membuat David terpanah dan akan menggerakkan tangannya. Kepala David tertekuk ke kiri, mata deepblue mendelik karena kalah cepat dengan serobotan Axel. Dia meringis dengan menahan kesal karena Axel langsung menggigit roti yang di siapkan Lena untuknya. "Xel?" geramnya.
"Tuan, Anda tidak terbiasa makan roti pakai selai. Biar ini saya saja." Axel tanpa merasa bersalah sedikit pun, langsung memandangi Lena dengan nada menggurui. "Nona, yang seperti ini bukan kebiasaan negara kami. Kami terbiasa makan roti tanpa selai, dan makan pasta tanpa toping. Pasta hanya dimakan sendirian. Apa yang Anda lakukan ini sangat tabu untuk kami. Jadi, sebaiknya anda belajar."
Deheman keras membuat Axel langsung membeku dan tersadar. Dia lupa ada tuannya di samping. Axel menoleh ke sang tuan dan mengangguk dengan penuh rasa bersalah memasukan semua roti ke dalam mulutnya hingga tuan kembali memandangi Lena dengan tatapan berubah lembut.
"BIKINKAN LAGI, SAYANG."
"Apha?" Axel langsung menutup mulutnya yang penuh makanan. Lagi tuannya melirik tajam ke arahnya. Dia bingung karena 'panggilan sayang'.
Ini sudah kelewat batas, Tuan! Anda benar-benar lupa dengan wangsit semalam ! (Axel)
"Katanya, itu bukan kebiasaan mu. Sudahlah aku ikuti saja kebiasaan mu." Lena menggerutu dan menarik roti dari kotak, lalu membawa roti ke dalam mulutnya sendiri. Mulut David sudah diujung roti milik Lena, ikut menggigit dan mengunyah perlahan dengan tatapan intimidasi.
Glek. Hati Axel langsung berd3s1r. Tuan tadi merangkak di atas makanan, dan kini tepat mereka di depannya saling pandang terpanah seakan dunia milik mereka berdua. Huh. Membuat kepalanya pusing saja. Tuan, pasti sedang menghukum aku.
Benar saja pandangannya terhalang oleh telapak tangan tuannya yang baru saja menutupi mata Axel hingga pandangannya berubah gelap, mana tangan tuannya penuh pasir membuat wajahnya kini merasakan butiran pasir kasar. "Maaf Tuan." Axel mundur dan membawa roti tersisa dan membawa kopi miliknya, lalu berjalan menjauh.
"SAYANG LENA, BIKINKAN atau aku yang bikinin untuk kamu, jika aku yang bikin, kau tahu? aku .... akan membuatnya langsung di bibir kamu dengan selai khusus."
__ADS_1
"Iya-iya!" Lena menggeser b0k0ng dan David kembali duduk tegap. Lena melirik bekas gigitannya dan bekas gigitan David yang berhadapan, lalu menyeringai. "Dav! lihat, gigitanmu besar. Kamu seperti - "
"Apanya yang besar?" David menyeringai, mata deepblue menyipit dengan licik pada perempuan dengan pipi mungil itu yang langsung memerah. Wanita itu mungkin berpikiran bisa dengan mudah mengejeknya tanpa diketahui. Lena salah karena David lalu mengejek balik.
"Bukankah kamu pernah memegangnya, sayang? Milikku yang besar." David tertawa di dalam hatinya, tetapi bibirnya hanya tersenyum sangat kecil saat Lena jadi tampak kesal karena gagal mengejeknya. "Suapin."
Lena mendorong roti dengan banyak mentega sepenuhnya hingga memenuhi mulut David dan langsung tertawa karena David butuh waktu untuk mengunyah. Namun, sepertinya ini adalah kesalahan. Tawanya langsung pudar begitu pinggangnya ditarik tangan kekar itu dan pasir berterbangan ke makannya. "David makanannya!"
Satu roti bekas gigitan David dan Lena tak terselamatkan, untuk yang lain masih di dalam kotak masih aman. Namun, yang lebih tak terselamatkan karena dirinya sudah didudukkan di pangkuan David dimana ada sesuatu keras di bawsh B0k0ng dan menganggu pikirannya. "Lepas, Dav!"
Tangan kekar melingkar di pinggang mungil dan David berusaha menelan kasar roti yang penuh mentega sampai membuatnya eneg. "Kamu yang nakal, aku harus menghukum mu. Semakin kamu nakal semakin kamu harus dihukum."
Nafas David mulai memburu karena bau kenanga bercampur keringat gadis itu. Pikirannya tak tahan melihat Lena yang sedang kesal justru membuatnya semakin gereget dan apa yang ada di dalam dadanya seolah menuntut. Dia membungkuk untuk meraih bibir Lena dengan bibirnya yang lengket dan menahan dua tangan mungil yang memberontak.
Lena terbelalak pada rasa asin mentega berlemak dan liur manis yang dia yakini milik David. Angin berhembus sedikit kencang hingga membuat beberapa helai rambut Lena menimbrung diantara pipinya dengan David dan sedikit mengenai lum4t4n David yang makin membering4s. Angin seharusnya membawa kesegaran dan sejuk, tetapi Lena justru semakin gerah dan semua di dalam dirinya terasa terbakar. Entah terbakar oleh marah atau sebuah keinginan lain yang tidak Lena diketahui, tetapi dia berusaha waras dan wajah Niko berkelebat di depannya bergantian dengan wajah David hingga membuatnya dalam kebingungan beberapa saat.
Otak gilanya mengira itu Niko, hingga Lena membalas pagutan dan saat mata deepblue membelalak, Lena tersadar bahwa itu David. Nafas Lena berubah pendek cepat, dan masih diserbu udara panas dari hidung David. "Mmmhh!" Lena menggigit bibir David, yang masih lengket oleh lemak mentega. Dia bergidik telah melakukannya dengan orang asing yang tidak tahu asal-usulnya.
"Ahhw Lena!" David menggeram, lalu mencengkeram pinggang mungil dan memandangi bibir Lena yang jontor dengan sedikit darah yang dia yakini adalah darah David sendiri. "Kenapa kamu menggigitku? Perih tahu."
"Tapi, kamu suka akhirnya?" David menyeringai.
"Tidak! Dasar m3sum!" Lena menggigit bibir bawah dan mengayunkan kepala dengan sangat keras hingga membentur kening David. Cengkeraman kuat pun terlepas, David mengelus kening yang terbentur dan mengadu.
Lena mengabaikan ngilu di kening, dengan gerakan cepat memasukan kotak mini ke dalam kotak jinjing, lalu membawa satu minuman miliknya. "Bawa minuman mu sendiri dan bawa selimutnya!"
David meninju pasir sambil memandangi kepergian Lena yang sedikit berlari. "Lena, Lena, Lena, kau kasar!" Dadanya mendidih dan tanpa pikir panjang membawa selimut dan minumannya. Sambil jalan dia menyeruput Coffe Late yang sudah dingin dan baru sadar ada yang janggal hingga mata deepblue langsung mendelik saat ada selimut di dalam genggamannya.
Kenapa juga aku menurutinya! (David)
Axel meny3ringai dan sudah mendokumentasi saat posisinya sudah di dekat kendaraan. Di dalam hati tertawa tapi begitu tuannya sampai, dia membelalakkan mata karena selimut kain terbang ke wajahnya setelah dilemparkan sang tuan.
Dua orang duduk saling berjauhan, Axel melirik ke spion tengah di sepanjang perjalanan. Sang asisten menyalakan musik romantis dan orang di belakang tidak ada tanda-tanda mau mengakhiri perang dingin. Padahal baru beberapa menit lalu dia pikir ada perkembangan.
__ADS_1
Lena berusaha menahan bola api yang sedang memakan hatinya. Dia ingin menangis. Perasaan bersalahnya pada Niko kian menjadi, apa yang harus dikatakan pada pacarnya bahwa dia telah mengkhianati Niko. Ponsel berdering, Niko menelpon, mau tak mau Lena menengok ke David yang juga melihat ke arahnya dengan pandangan tak bisa ditebak.
Diantara bingung memutuskan, Lena langsung memencet layar dan menerima panggilan. "Halo, Nik .... " Lena menganga ponselnya terbang dan sudah ditangan David yang kini menekan tombol speaker. Dia merebut tapi ditarik David.
"Honey, kamu masih tidur apa?" Niko bertanya dari balik telepon.
"Ya, Iko .... Ehm." Lena mendelik dan berusaha meraih ponsel yang terus diayunkan David untuk menjauh. Hingga Lena menyerah dan ponsel itu terhenti di depan David, Lena menggeser b0k0ng dan pahanya sedikit menempel di paha David. "Gimana, Iko?"
"Kamu sedang apa? Sibuk ya? Atau baru bangun karena semalam aku menelponmu sampai jam 2."
Mata David berkedut dan menatap protes pada Lena yang memelintir bibir. Jadi, itu alasan Lena masih ngantuk sampai pagi. Kok bisa, seharusnya Lena telepon aku bukan Niko !
David seakan lupa bahwa Lena tidaklah memiliki nomor David. Lagipula jika Lena memiliki nomernya pun jelas Lena takkan menelpon David yang bukan siapa-siapa. Atau bahkan wanita itu langsung memblokir. Jelas, bagi Lena, David hanyalah pengganggu yang menyusahkan dari awal dan selalu membuatnya dongkol.
"Aku .... " Lena meraih pegangan David, tetapi tangan itu menempel di jendela kaca. Dia menarik tangan David dan tak berhasil. Lena mencondongkan tubuh ke jendela dengan lutut bertumpu di jok, dua tangannya berpegangan di kaca dan jok depan. "Iko, nanti saja aku telepon, ya. Nyawaku belum kumpul."
"Uh'huh cium dulu, honey."
TUT. David menekan simbol telepon berwarna merah.
"David! Kenapa kau mematikannya!"
"Baca kontrakmu!" David melirik Axel yang memberikan salinan kontrak ke Lena barusan. Tatapan keheranan bercampur api, berkedut lagi dari netra hazel ke arahnya.
Lena menyerobot ponsel dengan kasar, apa yang ada di dalam dirinya bergetar dan kepalanya mendidih karena kemarahan. Salah apa dirinya di masa lalu hingga dia harus ditakdirkan bertemu orang gila seperti David, dan apa sulit melepaskan diri! Sumpah demi apa Lena ingin pergi sejauh-jauhnya dan tak melihat David lagi.
Seperti sekarang, gadis itu duduk menempel pintu. Seakan-akan jika bergeser sedikit saja maka David akan menularkan sebuah virus mematikan. Tangan mungilnya bergetar karena menahan gejolak amarah, mengotak-ngatik ponsel di atas map. Dia mengirim pesan pada Niko tersayang, untuk memberi alasan yang masuk akal karena mematikan ponsel mendadak. Lena sampai sedikit terisak, karena tak terima David telah menciumnya.
David melirik ke sebelah, muka Lena begitu tertekuk dan merah padam. Dia mengepalkan tinju di pangkuan, tak tahu apa yang membuat gadis itu bersikap aneh. Dia hanya ingin menjauhkan Lena dari tukang selingkuh.
Jadi, apa salahku ? (David)
...----------------...
__ADS_1