
Sejak menghabiskan banyak waktu bersamamu, membuat perasaanku pada Shinta berubah, lalu beralih padamu. Saat aku mengatakan bahwa aku menyayangimu dan kamu mengatakan hal yang sama, aku merasakan itu hal paling luar biasa dalam hidupku.
Tapi lalu kamu pergi dengan kata-kata yang menyeramkan dan itupun tak kau ucapkan langsung. Detak jantungku kian meningkat setiap mengingat kamu dengan Niko, itu sangat membuatku sesak.
Sepertinya ada yang salah denganku saat ini. Aku masih menunggumu di tengah kemarahanku. Aku tak mau mempercayai ucapanmu tentang kau menerima lamaran Niko. Seiring berjalannya waktu, ternyata kau sama sekali tak mengirimiku pesan, padahal aku menunggu setiap pagi, malam dan sepanjang hari. Aku sangat berharap hubungan kita tak hancur begitu saja dan berharap kamu mencoba meneleponku beberapa kali seminggu, tetapi mengapa ... kamu melupakan ku begitu saja, Lena.
David menatap sang kakek dengan sendu. "Aku tidak tahu, kek. Bagaimanapun dia telah kembali pada Niko " David meraup wajahnya dan duduk membungkuk. Di berusaha tegar di depan sang kakek. Lantai saja menjadi berisi bayang-bayang akan manisnya senyuman Lena, yang tak bisa disingkirkan dari kepalanya.
"Siapa bilang?" Leora menganggukkan kepala pad Jimmy. Asisten nya itu lalu menunjukkan foto kepulangan Niko ke Palembang dan hanya seminggu di rumah Lena.
"Menurut informasi anak buah di sana, hubungan mereka benar-benar putus, Tuan Muda. Kemungkinan, itu hanya alasan Nona Lena untuk menutupi rasa malunya karena dia menganggap telah tidur dengan Tuan Marcho," kata Jimmy dengan tenang. "Sebaiknya, anda tanyakan langsung pada Nona Lena."
Tanpa banyak kata-kata, David langsung berdiri. "Aku akan ke Bali Malam ini."
Leora menyipitkan mata lalu tertawa semeringah. Padahal, kemarin cucunya bersumpah takkan pernah menginjakkan kaki di pulau Bali dan takkan mau melihat foto Lena. Namun, tadi saat melihat rekaman cctv saja, cucunya sudah lupa dan begitu antusias, bahkan seperti tersulut api saat tahu Marcho menggendong Lena ke dalam kamar hotel.
⚓
__ADS_1
Seminggu kemudian di Indonesia ....
Lena menuju ke parkiran motor. Dia baru pulang lembur karena ada rekap dari pabrik yang baru turun. Gadis itu mengemudikan motor dengan perasaan campur aduk. Siapa lagi kalau bukan karena pria itu ...
Kenapa kamu tidak kunjung berbicara denganku? Lalu berbaik hati untuk memberitahuku, sekadar berkata bahwa kamu tidak ingin berbicara lagi atau semacamnya? Kamu harusnya marah dan caci maki aku saja!
Tetapi menyebalkan! Karena hatiku tak bisa berbohong! Aku butuh kamu, Dav. Kumohon datanglah dan tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti itu lagi. Komohon, Dav!
Lena mendongak karena dia terlalu kencang menarik gas motor. Matanya membulat dan langsung menarik rem secara mendadak, karena tampak mobil berhenti di lampu merah. BRAK! Dalam beberapa detik tampak orang-orang telah mengelilinginya di sekitar kakinya.
Lena merasakan tas punggung menjadi bantal pada punggungnya di aspal. Kesadarannya terganggu tetapi dia tahu di depan matanya adalah ban mobil. Seseorang terdengar berteriak sambil menggebrak body mobil di atasnya.
⚓
"Lena .... "
Lena memerjapkan mata beberapa kali, tampak di kananya Sean yang masih mengelus rambutnya. Dia menatap ruangan yan terasa dingin dan infus terpasang di tangan kanannya. Pakaiannya pun terlah berganti baju pasien.
__ADS_1
"Lena, syukurlah kau tidak apa-apa!"
Sebuah suara familiar mengalihkan pandangan Lena, di kirinya ada seorang pria yang yang kini tersenyum padanya. Butuh waktu untuk Lena mengenali pria itu. "Kak Marcho!"
"Kau mau aku mengusirnya?" Sean mendapati Lena menjadi pucat pasi, seolah sangat tidak nyaman dengan keberadaan pria itu, sampai membuat Lena mundur ke tempat tidur bahkan nyaris jatuh dan untung ditangkap Sean.
Jantung Marcho berdebar mengapa Lena menjadi takut padanya hingga dia terpaksa keluar dari ruangan. Tadi sore dia menunggu di depan kantor Lena dari dalam mobil. Namun, Lena tidak kunjung pulang, sampai dia memilih pulang lebih dulu.
Dalam perjalanan pulang, mobil yang dikendarai Marcho ditabrak dari arah belakang di lampu merah. Ternyata saat pengemudi motor ditarik dari kolong mobil, korban itu adalah Lena yangmana mata hazel itu sedikit terpejam. Marchopun dibantu orang-orang membawa Lena ke rumah sakit terdekat.
⚓
Satu Minggu terlewati, boro-boro Marcho bisa minta maaf dengan Lena, wanita itu terus menghindar setiap ditemuinya. Kini dia sampai datang ke rumah Lena, tetapi mendapati wajah galak orang tua Lena. Untung dia bisa bahasa Indonesia.
Cukup lama Marcho berada di rumah Lena dan berbincang dengan ayahnya Lena. Tentu saja dia bilang sebagai teman, juga tak menceritakan soal David. Sampai Lena pulang dengan Abangnya, barulah tampak Lena tak bisa berkutik karena ayah Lena itu menyuruh Lena untuk menemui tamunya, yang jauh-jauh dari Qatar.
"Aku ingin berbicara, tetapi jangan di sini, tolong." Marcho menggaruk tengkuk. "Ayolah, tolong aku demi masa depanku dengan Anna."
__ADS_1
Lena menggigit bibir bawah karena tak tahu apa yang akan dikatakan Marcho. Jantungnya berdebar dan dia sebetulnya sangat takut pada Marcho karena teringat yang sudah-sudah. Lena pun terpaksa mau dengan syarat Sean ikut pergi.
Mereka bertiga pun pergi untuk makan malam, di restoran termahal. Sean sampai bingung dari mana Lena bisa mengenal orang seperti ini.