
Sean duduk di kursi auditorium dengan perasaan was-was, memperhatikan Leora yang mengumumkan pengalihan pimpinan sementara kepada Marcho, cucu pertama dari anak pertama.
Terlihat sekali pesona Marcho yang menampilkan sosok sempurna. Namun, siapa sangka kehidupan pribadinya tak semulus karirnya, yang ada Marcho sering membuat patah hati Kak Stefanie. Itu sudah menjadi berita umum di kantor bahwa hubungan mereka seolah seperti hubungan bisnis dan tidak seperti pasangan pada umumnya.
Semua orang berdiri, Sean ikut berdiri dan ikut bertepuk tangan sebagai bentuk penghormatan mereka pada pimpinan barunya. Semua pun kembali ke ruang di jam istirahat setelah menikmati makanan yang ada dan hiburan kecil.
Langit mulai gelap ketika, Sean sampai di apartemennya. Dia memakan sepotong telur ikan goreng yang sama sekali tak disentuh Niko, padahal sup buatannya, yang mengandalkan resep google sudah habis. Sepertinya, Niko beneran marah dengan Lena, sampai tak mau menyentuh makanan kesukaan mereka.
Selepas berdandan, Sean turun ke bawah dan menunggu sebentar sampai mobil Emma muncul di dekat lobby. Dia masuk dengan canggung, karena Emma yang seorang wanita justru menjemput dan menyetir kendaraan.
Ketika selesai makan malam, Sean terus menggaruk tangannya yang gatal karena gugup ingin menyatakan isi perasaan pada Emma, yang malam ini sangat cantik, membuatnya jadi makin salah tingkah saja.
"Aku ke toilet dulu, Kak." Emma membawa tas dan bergegas ke toilet tanpa menunggu jawaban Sean. Tatapan Sean itu membuatnya cemas apa ada sesuatu di wajahnya yang barangkali mengganggu pemandangan. Atau dandanannya tidak rapih.
Sebuah TV restoran memutar berita bisnis. Beberapa pengunjung terfokus pada TV dengan pandangan kagum pada berita, yang membahas kesusksesan Kakek Banchero yang dinyatakan dalam majalah bisnis sebagai orang terkaya nomer 10 di dunia. Hal naik satu tingkat dibandingkan tahun lalu.
Bingung, melihat berita yang langsung membuat kepercayaan dirinya menciut, Sean menggigit bibir bawah dan berpikir untuk membatalkan niatnya. Tidak masuk akal, Emma jelas takkan menerima pernyataan cintanya. Dia cuma asisten manager yang mungkin gajinya masih jauh bahkan dari satu item barang branded yang dikenakan Emma.
...****************...
"Cie ada yang lagi seneng.”
Emma yang keluar dari kamar mandi terburu-buru langsung berhenti dan berbalik badan mencari asal suara. Tampak pria dengan busana formal ngepas badan, itu berdiri dengan melipat tangan di depan dada dan bersandar pada tembok luar toilet wanita.
“Niko? Eh! Rupanya kamu di sini. Ini jam kerjamu, kan?" Emma dengan mata berbinar mendapati Niko mengangguk. “Kamu masih marah sama aku?”
Niko diam memandangi Emma yang mendekatinya . Dia menyipitkan mata dan tangannya mengibas-ngibas sesuatu dari gaun biru di bahu mungil sampai bersih. "Kukira ketombe, Emm?"
“Oh, masih ada, ya? Ini waktu aku ambil lipstik di lantai, tak sengaja bedak tabur menumpahiku." Emma melirik bahu, senyumnya membekukarena hempasan angin di depannya saat wajah Niko mendekat.
Karena tak kunjung kembali, Sean menyusul Emma takut bila Emma membutuhkan bantuan. Di lorong menuju toilet, Sean menahan langkah karena ada Niko menyentuh hidung Emma dalam jarak mereka yang dekat. Dia diam mencari tahu apa yang dilakukan mereka dengan jantungnya berdebar.
“Ini apa sih, merah-merah?” Niko menjewel hidung Emma dan melihat bekas merah di jarinya yang berasal dari hidung Emma.
“Itu perona, kaya nggak tahu aja.”
“Kamu jelek pakai itu, kaya badut. Ngapain menor begitu.” Niko meraih sapu tangan dari saku dan menggosok hidung mungi. Sekarang yang ada hidung putih itu merah karena dia menjewel terlalu keras. "Ini dihapus, Sean suka natural daripada menor gini. Kamu itu sudah cantik tanpa beginian. Ini juga .....”
Niko memegang dagu Emma yang lancip dan mengelap lipstick pink seperti tempo hari yang menempel di gelasnya. Namun, bibir itu tetap pink, maksudnya pewarna itu tak mau hilang dari bibir asli Emma yang lebih bagus tanpa lipstik. Niko menjatuhkan sapu tangan ke wajah imut itu sambil sedikit menelenyor. "Lain kali tak usah pake begitu."
"Sakit Niko, biar aku hapus sendiri." Emma akan masuk ke dalam toilet. "Apa kamu sudah makan masakanku?”
“Sudah.”
“Pintar. Kalau gitu aku besok datang lagi.”
“Jangan,” kata Niko sambil mendekati Emma dengan tatapan datar.
Emma mengangguk canggung. ”Jadi kamu sudah sembuh?”
“Apa aku tampak sakit kalau sudah bekerja begini?”
Emma tertawa. “Tapi kenapa kamu kemarin marah?"
"Sudah sana cerewet!” Niko mendorong bahu Emma ke kamar mandi
“Kamu tidak cerita padaku, Niko,” protes Emma. “Dasar sok misterius. Emang kau pikir James Bond- eh-eh” teriak Emma, menahan lengan kuat di lehernya dan merasakan kehangatan dada Niko juga jeratan kuat di leher. “Ampun, Naik, sakit!”
“Kamu berani menyamakan aku dengan actor yang sudah tua? Coba mengatakan itu lagi? Katakan kamu bilang apa?" Niko menghirup wangi manis yang menyeruak dari rambut Emma ke hidungnya.
“Anu itu kamu menyebalkan!" Emma menahan tangan Niko di pucuk kepala. “Jangan-jangan ... acak-acak rambutku! Aku sudah ke salon sampai dua jam.”
“Dua jam? Dua jam!”
“Iya dasar!” Emma berhasil melepaskan diri sambil merapikan rambut. “Awas kau kalau berani!"
Tangan Sean terkepal, dia kembali ke meja makan dengan perasaan makin campur aduk. Ketika Emma kembali, Sean jadi sering menatap emma, kenapa Emma bisa tertawa selepas itu bersama Niko, beda saat bersamanya.
“Kakak, ayo kita pergi.”
“Yah, ayo.” Sean menghindar saat Emma akan menggenggam tangannya.
“Kakak? Kakak marah?”
“Tidak, Emma.”
Emma berjalan dengan bingung, sepanjang keluar parkiran restoran sampai di bukit, Sean terus diam. “Kakak sedang ada masalah?”
“Sedikit pekerjaan.” Sean mengambil napas panjang dari hidung berusaha melegakan sesak di dadanya. “Emma .... ” Ingin Sean memeluk Emma.
“Ya, Kak?’
“Bisa kamu duduk di depanku?”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku sedikit kedinginan.”
“Atau Kakak mau pulang kalau di sini dingin?”
“Tidak.” Sean membeku saat Emma menurutinya dengan duduk membelakanginya. ”Boleh aku bertanya soal Donna?”
Emma langsung menoleh ke belakang dan memandangi wajah Sean di bawah cahaya lampu temaram. “Boleh dong.”
“Maksudku, tentang ayah Donna?”
Emma mengerutkan kening dan kembali menatap ke pemandangan kota. “Kenapa, Kak?”
“Apa kamu menunggunya?”
“Aku ….sulit mengatakan itu kak." Emma berpikir sejenak sambil berbicara. "Itu seperti, bila di negara kaka itu dinamakan ‘AIB’ Tapi Donna adalah hadiah terindah untukku."
Emma menarik napas dalam dalam-dalam dan mengembuskan dari mulut, kembali melanjutkan sesuatu yang disimpannya rapat-rapat selama ini. "Tidak ada yang bisa kulakukan saat mengetahui bahwa diriku mengandung seorang bayi. Aku tak memberi tahu Paman Paol, tetapi dia perlahan tahu sendiri dan mendiamkan aku berbulan-bulan, menghilang, alih-alih memarahiku membuatku begitu terguncang dan mulai mengurung diri."
Memelintir bibir, Emma merasakan genggaman tangan kekar yang hangat di tangan kanannya. "Aku tak ingin ayah Donna tahu soal kehamilanku, tetapi paman Paol diam-diam selalu menemuinya dan minta pertanggung jawaban ayah Donna. Sepertinya, Paman Paol gagal, buktinya dia tak pernah memasuki negara ini. Aku tak mencarinya, tetapi sepupuku selalu memberi tahu setiap apa yang Paman usahakan membawa lelaki itu menemui Donna."
Tawa terdengar pahit dari bibir Emma. "Mungkin, Paman, sedih setiap kali Donna mencari dan menanyakan mengapa papa tak pernah pulang untuk mengunjungi Donna." Emme memeras dada, menekannya, karena mendadak hati ini terasa perih.
“Lalu jika dia kembali?” tanya Sean terdengar serak.
“Kak ….” Emma kembali menatap mata Sean dalam-dalam. Bibirnya berkedut karena mendadak amarah terpendam menyeruak dari dari dalam dada.
“Apa kamu masih menunggunya, Emma?” tanya Sean dengan tidak dapat menebak arti tatapan Emma padanya. Tangan Sean menyentuh punggung tangan Emma.
"Aku tak menunggunya,” kata Emma lancar tanpa ada beban karena memang tak menunggu pria yang tak ada itikad baik selama lima tahun ini walau untuk menemui Donna. Emma menghela napas berat. “Bagaimana mungkin aku menunggunya? Justru aku, kini tak mau melihat dia lagi.”
Kepala Sean maju perlahan hingga dagu sudah menyentuh pelipis Emma. “Aku malu karena aku bukanlah terlahir dari keluarga dengan nama hebat. Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin sekali mempunyai kesempatan terlahir dari keluarga kalangan hebat, lalu aku bisa …. Dengan tanpa beban datang ke rumahmu …. “
Emma serong ke kanan dan kakinya naik ke atas dataran paving, menekuk lutut di antara paha Sean, dan lutut menempel di paha Sean. ”Apa kau ingin menikah denganku, Kak? Yang memiliki anak satu.’’
“Emma.” Sean menarik dan mengembuskan napas perlahan, menghilang kecemasan yang datang tiba-tiba. “Aku sangat ingin,” suaranya bergetar.
“Kak, untuk menikahiku, tidak harus terlahir dari keluarga kaya, tetapi hanya dengan keberanian Kakak untuk mau bertemu papa-mama.”
“Yang kuinginkan seperti itu." Sean melirik seluruh kota yang penuh kelap-kelip lampu. "Tapi tak semudah itu Emma.”
“Besok, sehabis kakak pulang kerja, aku jemput ya? Aku ajak kenal papa-mamaku? Mereka pasti senang," kata Emma sambil mencubit pinggang Sean dengan penuh harap. Sementara satu tangannya terus meremas pakaiannya karena gugup.
“Emang ... kenapa dengan ini, ha?" suara Emma seolah retak dan tidak nyaman pada apa yang barusan didengar. Mungkinkah itu yang selama ini menahan pria itu hingga selalu menjaga jarak dengannya. ”Itu bukan masalah!”
“Selalu ada jalan keluar kak,” suara Emma lantas melunak. “Kakak bisa menggunakan menggunakan tangan prostetik. Aku dengar kak David memesan prostestik dengan mobilitas yang jauh lebih baik dan 80 persen mirip pergerakan tangan asli. Lalu apalagi, masalah nya?" tanya Emma sambil mengusap-usap pinggang Sean. Dia menjatuhkan kepalanya, di dada Sean yang baunya sangat memabukkan dan membuat terlena. ”Aku mencintai Kakak.”
Mata Sean berkedut..Benarkah yang keluar dari mulut Emma? Perlahan tangan kanan Sean, meraba pinggang mungil, lalu naik ke lengan Emma dengan gemetar. Ditariknya tubuh wangi manis itu ke dalam rengkuhan hingga merasakan sesuatu kenyal yang menempel di dadanya yang makin berdebar. Inilah pertama kalinya dia memeluk Emma. “Aku juga mencintaimu, Emma.”
Sean terpejam dan kelopak mata gemetar, punggungnya terasa berat. Jika dia menghadapi ujian apapun dia akan tangguh. Mengapa untuk melihat kehidupan cintanya sendiri, dia begitu pesimis membayangkan anggota keluarga kaya itu mengitari dengan melontarkan banyak pertanyaan akan kemampuan apa yang dimilikinya untuk pantas membawa Emma menjadi seorang isteri.
Kalaulah anak presiden mungkin dia masih berani mendekati. Tapi ini keluarga milyader, pemroduksi mobil mewah terkenal di dunia. Memimpikan saja itu hal gila, dia cukup tahu diri, setidaknya fisik kan harus sempurna?
Berkelud dengan pikiran masing-masing, mereka saling merengkuh tanpa suara. Meresapi setiap moment sentuhan yang mendebarkan di pinggang dan punggung mereka yang diidamkan selama ini.
Sean mengantar Emma pulang, meski itu mobil Emma, karena di belakang ada taksi mengikuti. Jalan setapak menuju rumah Paolo yang berjarak satu kilometer dari gerbang selalu membuat nyali Sean menciut. Entah berapa hektar luas tanah ini. Bandingkan dengan tanah orang tuanya yang tidak lebih dari 350 meter persegi? Tidak, ini tidak mungkin, dia tak mungkin mendapat restu dari orang tua Emma.
Kecupan mendarat di pipi kiri Sean, membuat Sean menganga dan langsung menatap mata Emma dalam semi kegelapan. “Emma, kau nakal sekali,” bisik Sean senang seperti mendapat duren jatuh. Wajahnya menghangat karena malu.
“Selamat malam, ka! Selamat beristirahat, mimpiin aku, ya,” ujar Emma dengan kepercayaan diri tinggi saat Sean langsung keluar dari mobil Emma dan pindah ke taksi.
“Cie. ada yang senang sekali rupanya,” gumam sopir taksi langganan yang membuat Sean cuma tersenyum tanpa membalas godaan yang membuatnya kian didera malu.
Pintu mobil ditarik hingga tertutup dan taksi itu meninggalkan halaman rumah setelah Emma masuk ke dalam rumah.
Setiba di apartemennya, Sean cuci kaki lalu tidur tanpa cuci muka karena teringat akan bekas kecupan di pipi yang masih terasa hingga kini.
Sean memeluk guling, dengan bajunya masih bau parfum manis Emma. Berguling-guling di kasur karena teringat kecupan dan pelukan Emma yang terus membuatnya berdebar-debar. Energi di dalam dadanya bagaikan pecah dan memberinya banyak tenaga, hingga dia kelabakan menangani rasa senangnya.
*
Stefanie pagi-pagi sudah di kantor. Dia sebagai manajer pemasaran, menjadi garda terdepan menangani masalah ini setelah menerima surat dari badan pengawasan makanan setempat yang menggemparkan seluruh perusahaan. Itu soal kandungan kasus kontaminasi salmonella yang terdapat pada batang coklat membuat ratusan anak masuk ke rumah sakit. Terutama di wilayah Roma dengan kasus terbanyak 80 kasus yang kebanyakan anak-anak.
Adik-adik dari ayah mertua, seolah mencari celah kesalahannya. Stefanie tidak senang walau Marcho membantah omongan para paman yang mencari muka di depan Kakek Leora. Dia sudah terlalu membenci Marcho, hingga bantuan Marcho itu membuat tidak nyaman.
Para paman seolah kaget dan tampak syok di raut wajah mereka yang memucat karena bantahan Marcho. Biasanya Marcho yang selalu bertengkar dengannya, memarahinya di depan keluarga besar Leora, kini melihat Marcho begitu membelanya membuat para paman kian sinis karena pergerakan mereka semakin banyak batu halangan.
Keluar dari ruang meeting, Stefanie berjalan dengan sigap di usia dua bulan. Hatinya kesal karena Marcho mengikuti dan duduk di meja kerjanya. “Bapak Marcho yang terhormat, bisakah anda keluar dari ruangan saya? Karena saya akan menelpon manajer pabrik.”
“Sayang.” Marcho dengan dua tangannya ingin menyentuh Stef tetapi diurungkan karena lirikan orang-orang di luar kaca transparan. “Apa kau marah dengan ucapan paman, lalu kamu marah padaku?”
“Bapak Marcho, sepertinya ruang direktur di sana.” Stefanie menunjuk ke arah kiri, ruang direktur yang satu ruangan dengan Pak Ketua. Di sana, juga memakai kaca transparan hingga tampak Kak Leora yang sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
“Lihatlah itu Pak Ketua menunggu,” ucap Stef dengan gemas sambil menunjuk Kakek Leora. “Anda harus meningkatkan kepercayaannya di hari pertama-tama anda bekerja, kan? Jangan karena anda di sini lalu saya kena marah pamanmu lagi.”
Marcho turun dari meja dan membungkuk, condong ke istrinya dengan tatapan penuh cinta. Stef mau tak mau bersandar di sandaran kursi ekslusif, demi menjauh dari Marcho.
"Stef, jangan menghabiskan kesabaranku, karena aku takkan menceraikanmu. Aku bisa melakukan sesuatu agar kau mengerti dan tak mengucap kata cerai lagi. Atau bila kau memaksa .... Kujamin! Kalau kau tak bisa menemui Romeo dan calon adiknya ini. Mengerti?”
“Pergi!” bentak Shinta, tanganya dengan kasar menyingkirkan elusan tangan Marcho dari perutnya. Tatapan wanita itu dipenuhi kebencian dan dendam akibat pengabaian Marcho bertahun-tahun, sekolah menyembul ke permukaan dan sulit disembunyikan lagi.
Marcho menarik napas dalam dan mengembuskan kasar. Dia meninju meja dan melirik tajam sekilas pada orang-orang di luar yang mengintip hingga para pegawai itu langsung kembali pada pekerjaan masing-masing dengan wajah pucat karena ketahuan menonton.
Sean yang menunggu di depan tersentak karena bukaan dan bantingan pintu saat Marcho lewat. Dia dengan ragu masuk ke dalam ruang kerja, setelah dari tadi menahan diri untuk tidak masuk karena ada Marcho. Dilihatnya wajah merah padam Stefanie, membuat Sean menarik napas dalam-dalam karena takut kena semprot.
Lelaki itu duduk dengan hati-hati di kursi dan mulai menyusun surat pernyataan penarikan semua produk. Dadanya tersentak karena bantingan gelas yang langsung pecah bercecer di dekat sepatu flatnya. “Kak Stef?” Terlihat wanita itu menarik napas dalam-dalam dan mengatur napas dan jengkel bukan main.
“Telepon manager pabrik! Kita akan meeting sepuluh menit lagi. Aggggh menyebalkan sekali Marcho!” teriak Stefanie menghancurkan moodnya ke titik paling buruk. Dia menggaruk dan meremas kepala dengan bibir manyun akan anacam Marcho.
Sean tanpa banyak bertanya langsung menekan tombol interkom di depannya. Stef jadi sering jengkel karena Marcho dan dia jadi sasaran sejak hari kemarin Marcho mulai memimpin perusahaan ini menggantikan Kakek Leora. Sean berpikir mungkin Stef marah begitu karena hormon kehamilan, jadi dia harus banyak sabar.
.
.
Niko memandangi Emma di depannya. “Pulang sana, ngapain kamu ke sini? Enak banged hidup elo kerjanya main-main?”
Emma yang memotongi sayur, memutar bola mata dengan malas lalu kembali fokus masak sampai setengah jam. Ketika dia membuka microwave, matanya membulat melihat tumpukan telur ikan goreng di atas nampan .“Eh, ini kok ada telur ikan?”
“Milik tetangga yang numpang dihangatin karena microwave mereka sedang dibenerin. Nggak usah pegang-pegang,”ucap Niko memilih berbohong.
“Oh, aku keluarin bentar, aku mau memanggang kentang.” Emma kembali masak hingga setengah jam lamanya.
Niko terus memperhatikan dari lihainya jari-jari lentik itu menyentuh peralatan dapur. Juga, kaki mungil itu tak menggunakan sandal membuat tumit dan jari-jari mungil terekspos indah.
“Kemana aja kalian semalam?" tanya Niko setelah selesai makan, sambil menumpuk piring mangkuk yang sudah kosong.
“Bukit,” kata Emma sambil mencari nomor sopir. Emma menelpon sopir minta dijemput.
“Ngapain di bukit? Sean ngapain?” goda Niko dengan penasaran pada sikap seorang Sean pada perempuan.
“Mau tahu apa mau tahu? Kami ... duduk lalu Kak Sean …. Memelukku,” ucapnya dengan tatapan seperti orang mabuk, lalu menjerit kesenangan sampai tangannya meremas-meremas udara.
“Apa?” Niko membeku sesaat. Matanya lalu membesar. “Serius? Sean melakukannya?” Niko lalu tertawa dan memukul-mukul meja. "Aaihh gemesnya anak itu! Nnggak pernah deket-deket cewek apalagi pacaran. Begitu kenal cewek langsung-”
“Apa itu namanya kami udah jadian?” tanya Emma mendadak bingung, memotong ucapan Niko.
“Kalau sudah pelu-peluk, bukannya sudah pacaran?" Niko mengerutkan kening bingung pada pertanyaan Emma. Yang pacaran siapa, malah tanyanya ke siapa. "Memang dia tidak bilang, 'maukah kamu jadi pacarku' ?”
Emma menggelengkan kepala dengan ragu dan tatapan berubah sayu. “Dia cuma bilang mencintaiku.”
“Waooow, kau senang sekarang!” Niko dengan mata berbinar.
“Senang si, tapi dia terlihat ragu. Aku jadi bingung, Kak?”
“Ragu-ragu, gimana? Yang penting, dia kan sudah menyatakan perasaannya.”
“Saat aku bilang akan mengajaknya ke rumah mama-papa ... dia terlihat tak ingin menemui mereka. Dia beralasan karena tangan. Padahal, aku tak masalah dengan itu.”
Wajah Niko seketika suram, dia tahu betul perasaan Sean waktu terpukul karena kondisi itu. Dia jadi ingat saat pertama datang, Sean bilang tak berani mengungkapkan perasaan pada seseorang karena kondisi tangannya. Jadi, oh, selama ini yang dimaksud ternyata Emma!
Mata Niko membulat, merutuki dirinya, yang dulu bilang akan mendekati Emma. Ah, betapa malunya aku. Kenapa Sean tak jujur saat itu. p
Pasti gara-gara kondisi tangan itu.
Sekepergian Emma, Niko beristirahat. Bersyukur dia memiliki teman seperti Emma, yang walaupun ngotot tetap mau peduli padanya, menyiapkan makanan dan obat untuknya. Cocoklah untuk jodoh Sean, dia mendukung Emma dan Sean kalau begitu, sama-sama baik dan peduli padanya.
Belum lama Niko tertidur sampai dia terbangun karena suara. Niko kembali terpejam saat merasakan pintu kamar terdorong dan matanya terbuka karena suara kokangan senjata. Dia bangun dengan jantung berdebar kencang karena George menodongkan senjata api padanya sambil berjalan, lalu duduk di sampingnya. Apa karena aku tak pernah menjawab pesan George, lalu dia akan menghabisiku?
“Sepertinya berbicara baik-baik denganmu, tidak bisa, ya?” Geroge dengan aura mendominasi begitu kuat hingga Niko dibuat merinding dan merasa kedinginan.
“Apa lagi?” Niko menurunkan kaki ke lantai dan kini duduk di pinggiran kasur. Dia melirik seorang berpakaian hitam masuk ke kamar membawa koper king size warna silver yang terlihat berat dan menaruh di tempat tidur Sean, lantas menunjukan isi tumpukan dollar poundsteling dan Niko tersenyum miring dengan tatapan kagum sesaat.
“Kau tak suka dengan David, kan?”
Mata Niko membesar, kembali menunduk melihat jari-jari kakinya yang saling meremas. Dia diam sejenak dan tangannya terkepal, merasakan getaran di dada akibat sebuah kebencian yang kembali menyeruak dan membingungkannnya.
“Kudengar, David akan ke Kalimantan. Kau bisa menyingkirkannya selamanya! Kemudian dirimu menghilanglah dan muncul saat aku memberimu signal untuk kembali menjemput cintamu,” ucap George dengan suara seolah penuh kepedulian.
Niko memerjapkan mata pelan sambil berpikir dalam dan memandang wajah George dengan raut yang tak bisa ditebak. Singkirkan ?
George memiringkan kepala dengan senyuman menantang. “Kau lihat uang itu. Dengan itu kau bisa melakukan segalanya. Bahkan bisa mendekati cintamu setelah David hilang dari bumi ini. Kau akan menggantikan posisi David sebagai ayah dari anak yang dikandung sekarang, dan tak ada yang akan mengganggumu lagi, karena penghalang terbesar telah kau singkirkan. Benar?”
Niko menggaruk-garuk dengan kasar kepalanya dan meremas rambut frustasi melihat uang yang belum pernah dilihatnya sebanyak itu. Kapan lagi bisa kerja dan mendapatkan uang semudah ini. Menyingkirkan David bukanlah hal sulit baginya. “Kau akan membantuku segalanya?”
“Tentu. Tidak hanya itu, kau juga akan menduduki tempat kepercayaanku, di wilayah ini. Menjadi penguasa. Semaumu apa pun bisa kau lakukan. Membuat semua orang patuh di bawah kakimu.” George terus meyakinkan Niko. “Bahkan tidak ada rugi sedikitpun di posisimu, karena kau lihat uang itu? Ini hanya permulaan. Kau bisa menerima ini setiap bulan dari anak buahmu nanti. Tentunya, kita bagi rata.”
__ADS_1
Niko menelan saliva dengan kasar. Sangat menggiurkan bukan? Lalu dia akan mendekati Lena dengan tidak secara langsung. ‘Jika Lena tanya uangku darimana? Aku harus menjawab apa?’