Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
CIUMAN


__ADS_3

Menyeka tangan kaki Lena dengan pikiran terus berkecamuk. Lama memandang perut bundar itu membuat emosi sulit dikuasai. Dia memilih untuk mengambil terusan hijau dari lemari. “Sekarang kamu ganti baju dulu.”


Terkejut Niko dengan apa yang di depan mata. Lena berdiri hanya memakai pakaian inti atas-bawah. Pakaian terlepas dari tangannya.


"Dav? Bukankah kita biasa tertidur seperti ini?" Lena menggigit bibir bawah, mengejutkan Niko dan memporandak-porandakan hati lelaki itu.


"Mengapa kamu masih berpakaian?" Lena melirik bingung pada bayangan David yang mengambil terusan hijau yang barusan jatuh. Tampak pria itu syok.


"Kemari, Dav. Apa kamu lelah seharian meeting? Malam ini jangan ada meeting!" Lena menarik pergelangan pria itu. Mendudukan pria yang dia kira David. "Kenapa wajahmu pucat, Pah? Kamu sakit?"


Pandangan meredup, Niko tidak bisa berkata-kata. Takjub merasakan tangan mungil itu membebaskan pakaian atasannya. Lalu berhasil membebaskan kancing dari kaitan di celana jeansnya. Ia sadar ini salah dengan memanfaatkan kondisi Lena, tetapi penasaran membakarnya dengan apa yang biasa Lena lakukan pada David.


Suara resleting berderit, Niko gemetar saat Lena melihat ke dalam boxernya lalu mata hazel itu menatapnya dengan pandangan tak bisa ditebak. Niko membelalak karena Lena memanyunkan bibir dan menunduk, dia memegangi kening Lena dan syok. Benarkah Lena akan mencium miliknya.


"Dav?" Tatapan mata hazel protes.


"Naiklah ke tempat tidur." Niko menangkup boxernya dengan perasaan malu. Tidak sepantasnya dia berlaku seperti itu pada wanita yang dicintainya. Niko menaikan resleting saat Lena naik ke tempat tidur, dia terkejut karena pelukan Lena di pahanya.


"Tidakkah kamu ingin tidur memeluk kami?" suara Lena terdengar lesu. Niko mengelus kepala Lena sambil tangan lain melepas pegangan kuat tangan Lena.


"Kami?"


"Aku dan anak kita." Lena duduk dengan susah payah dengan tatapan memohon dan menahan ujung jari berotot. "Kami kesepian tanpa pelukanmu, Pah."


"Bisa kamu panggil aku Niko?" protesnya.


"Mengapa kau sebut dia yang biasa kau benci?"


Kepala Niko mendidih, ingin sekali dia keluar dari kamar ini. Tapi tarikan lembut itu membuatnya tak berdaya hingga di duduk di samping Lena.


"Peluk Kami .... "


"Sebentar .... " Niko meraih terusan hijau di ujung kasur dan memasukan lubang baju itu ke kepala Lena, membantu wanita yang dicintainya berpakaian meski tatapan wanita itu protes. Sebesit kebencian muncul dalam benak hati Niko pada Lena karena benar-benar merasa terkhianati seluruhnya, tetapi dia tak berdaya dan masih terjebak sendiri pada perasaan ini


Diselimuti Lena yang telah memakai terusan hijau, dia tidur di samping Lena dengan bertelanjang dada saat wanita itu menyembunyikan wajah di dadanya. Niko mengelus rambut belakang Lena dengan pandangan penuh luka. “Sekarang, kamu tidur dan aku akan menunggumu di sini.”


Lena mendongak dan menatap wajah itu lekat-lekat, tak biasanya David bersikap dingin. Apa pria itu marah padanya.


“Hei, tidur. Kenapa kau terus melihatku?” Niko semakin tidak tenang karena jantungnya berdegup lebih kencang


“Aku takut kamu pergi.”


Niko menangkup mata Lena dengan tangannya. "Tidur atau aku menggigitmu?"


Lena terkikik. "Apa kamu mau menceritakan anak kita dongeng, Dav?"


"Dongeng?" Hati Niko tersentil. Apa dia harus menceritakan dongeng untuk anak orang lain? Tidak kah cukup semua ketidak-adilan ini untuknya.


"Ayah yang baik itu, terlihat dari kepedulian dengan salah satunya menceritakan dongeng .... "


"Kamu jangan tertawa ya?"


"Iya .... Cepat."

__ADS_1


"Jaman dahulu kala .... hiduplah seorang gadis kecil yang cantik dan anak laki-laki yang terpaut usia tidak jauh. Bertetangga, sering menghabiskan waktu bersama.. Mereka dianugrahi banyak cinta dari lingkungan walau mereka berasal dari keluarga biasa.


Lalu mereka tumbuh dewasa, merantau mencari penghidupan yang membuat mereka harus terpisah satu sama lain.


Suatu hari mereka kembali ke desanya. Anak laki-laki itu tumbuh menjadi pemuda tampan yang dicintai banyak gadis. Sedangkan anak perempuan itu telah menjadi gadis jelita yang menjadi kembang desa.


Cinta anak laki-laki itu bertepuk sebelah tangan, saat gadis itu menerima lamaran saudagar kaya. Lalu larilah pemuda tadi ke lautan dan terjun dari atas kapal dan terombang-ambing di lautan sampai dia terdampar dan masih dalam keadaan hidup.


Ketika bangun, ditangan pemuda itu terdapat mutiara yang sangat indah. Dengan berbekal mutiara langka itu, pemuda itu kembali ke desanya. Dia menemui saudagar kaya itu, menukarkan mutiara langka dengan gadis itu.


Wanita itupun terkejut, karena saudagar itu lebih memilih mutiara. Pemuda itu membawa si wanita dan langsung menikahinya, wanita itu mau tak mau menerimanya. Sampai lahirlah seorang anak perempuan yang membuat wanita itu mulai mencintai si pemuda. Merekapun hidup bahagia."


Niko menghembuskan napas lega mengetahui Lena sudah dalam keadaan terlelap. Dia mundur sedikit. Mengecup kening sehalus beludru dalam-dalam dan hati bergetar. "Selamat tidur .... Lena Paramita. Aku mencintaimu selalu seperti itu. Ijinkan aku yang hanya boleh di sisi mu."


Bersenandung, Niko keluar dari kamar sambil memakai kaos. Dia meriah rokok yang baru dikeluarkan Pecco dan menjepit di antara bibirnya.


Dengan terkejut, Pecco reflek menyalurkan api dari korek ke rokok itu. Baru kali ini, melihat Bos merokok. Dia mengikuti Niko ke halaman. Sang bos melihat sekitar pada suara rumput ilalang yang bergemerisik.


“Bos, di luar berbahaya. Mereka bisa kembali.” Pecco waspada dengan dua laras senjata dalam gendongan. “Lompatan mereka sangat cepat.”


“Pecco, aku harus segera ke Italia. Kau bisa menjaga Lena bila hewan buas itu datang lagi?”


“Jadi, anda memajukan jadwal? Ya, saya akan menjaga dengan sepenuh hati.”


“Bagusllah. Terlalu berbahaya lama-lama di sini. Aku harus menyelesaikan misi itu. Kita harus membangun kekuatan kita sendiri di tempat yang lebih baik.” Niko melirik ke arah kegelapan pada sisi yang dibilang anak-anak, datangnya hewan buas.


Niko melirik ke belakang. “Mana kaca mata pendeteksi radar panas milikmu. Jangan pernah lepas itu malam-malam.”


“Baik, Bos. Lalu nanti bagaimana jika nona bersikeras menanyakan anda?”


“Baik, Bos.”


“Lakukan tugas cuci otak itu. Kumohon, jangan sakiti dia, apalagi kurang ajar." Niko menatap dalam pada Pecco,l dengan pengharapan besar.


“Saya mengerti, Bos. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan memegang kepercayaan anda.” Pecco berkata dengan penuh ketulusan. “Saya akan membalas kebaikan anda, yang telah menyelamatkan adik saya.”


“Cukup dua orang yang mengantarku ke perbatasan. Sisanya, awasi mereka.”


“Siap. Bos, apakah saya boleh minta satu hal? Adik saya ulang tahun. Kebetulan anda di sana, saya hanya ingin sebuah kue Red Velvet, untuknya.”


“Aku akan mengirimkannya langsung ke Lili.” Niko melihat ke rumah panggung itu sambil mengisap asap pahit yang perlahan merasuk ke dalam paru-paru, lalu dihembus perlahan lewat mulut. Di sini, kuharap kau bisa diandalkan. Aku menolak keras ketidaksetiaan."


*


Lena terjaga, keluar dari kamar untuk mencari David dengan gelisah bila mereka melukai suaminya.


“Nona ....”


Lena menoleh ke ruang belakang. “Pecco .... Dimana Niko?” Lena berpikir David mungkin disakiti Niko.


Lelaki berambut keriting itu terdiam dengan wajah serius sekitar satu menit. “Bos sedang bersiap untuk pergi. Ngomong-ngomong Bos aka pergi untuk waktu cukup lama."


“Apa?" Lena sedikit berlari, menerobos penjaga di rumah sebelah. Tampak para anak buah yang sedang sarapan. Dia memutar handle pintu kamar Niko. Bergetar , melihat mantan kekasihnya menghentikan aktifitas dan tampar perut kotak-kotak seksi, apalagi ujung baju itu yang sebagian menutupi dada. Maxud Lena, itu fase favorit para pelanggan baju di perusahaanya, setiap kali melihat Niko salam pose seperti itu.

__ADS_1


Lena berlinangan air mata lalu menghampiri Niko.


Niko yang kebingungan lalu mengernyitkan kening saat melihat Peco tersenyum kekanak-kanakan di pintu dan menarik pintu hingga tertutup.


Niko mensejajarkan tinggi badan dan menatap lekat-lekat mata Lena yang memerah seperti anak kecil yang menangis ditinggal orangtuanya.


“Aku tidak suka kamu pergi,” kata Lena dengan kesal. Tidak tahu kenapa. Namun, dia seolah tidak nyaman dengan kepergian Niko. Seolah akan terjadi sesuatu besar bila Niko pergi.


“Kenapa tiba-tiba." Dengan gemas, Niko tersenyum simpul. "Biarkan aku memakai baju dulu. Kamu membuatku malu.”


Tanpa berkedip, Lena memandang Niko yang menarik ujung kaos hitam itu hingga menutupi pusar. Dia baru sadar Niko hanya memakai kolor. Tampak pria itu berbalik dan memakai celana kain dan Lena melihat lekuk pinggang Niko, dimana pinggang itu terdapat bekas luka. Lena menyentuh itu.


Detik berikutnya Niko tersentak dan merasakan aliran listrik dari sentuhan itu dan membuat semua darah menuju ke area kelelakiannya, miliknya berkedut, tepat saat resleting tertutup.


Tangan kekar itu meraih jari Lena dari pinggang lalu berbalik dan menghadapnya. Tampak wajah tampan itu memerah lalu tersenyum.


“Apapun yang kamu lakukan kali ini, pasti bukanlah sesuatu sederhana.” Lena mengehembus napas kasar.


DEG. Senyum Niko langsung pudar. Apa wanita ini merasakannya?


“Itu hanya pikiran burukmu.” Niko menjauh dan menarik tas jinjing. “Ayo, kita makan bersama.”


Semua anak buah keluar, Lena duduk di kursi saat Umai Maharati menyajikan sarapan di atas meja panjang. Niko mulai menyuapi Lena, sesekali menyuapi diri sendiri dengan sendok berbeda walau dari piring yang sama. Sepanjang makan, Niko terus memandang Lena dengan penuh arti.


Saat Niko berpamitan, lelaki itu berjongkok. Dengan ranting digoreskan ke tanah hingga menggambar bentuk bintang. Mendongak, Niko tersenyum simpul. "Aku janji akan cepat kembali. Gambarlah ini jika kau menungguku."


Lena memandang bingung lalu tersenyum kecil. "Mengapa aku perlu menggambar itu?"


"Karena kamu menyukai bintang. Kuharap kau juga menyukaiku." Niko berdiri melirik para anak buahnya sesaat, mereka langsung berbalik memunggungi keberadaannya, termasuk Pecco yang berdiri di belakang Lena.


Sebuah sentuhan di dagu mengejutkan Lena. Dia berkedip pelan. Niko. David. Penglihatannya membingungkan. Jika David seharusnya sangat tinggi, tetapi ini jelas melihat tubuh di depannya hanya sedikit di atasnya, bukan tubuh David, tetapi wajah itu jelas David.


Lamunan Lena terbuyar saat merasakan sakit di bibirnya diikuti sesuatu basah yang menangkup mulutnya. Dia menatap lekat-lekat mata biru di depannya. "Dav-vid?" suara Lena serak dan nafas tersengal saat bibir pria itu kembali menjelajahi bibirnya, tidak tergesa-gesa.


Ciuman David berbeda. Lebih lembut dan terasa seperti susu almond. Lena mencoba membalas pagutan lidah David yang menyapu langit mulutnya, dia menangkup bahu pria itu karena tubuhnya hampir oleng ke belakang.


Ada yang janggal dirasa, Lena kali ini tidak harus berjinjit penuh. Juga, David biasanya menahan pinggangnya sampai pria itu menunduk maksimal. Satu tangan Lena kemudian meraba ke punggung pria itu yang tak begitu menekuk, tak seperti biasa. Apa tubuh David menyusut.


Pandangan Niko meredup. Beginikah? Manis jeruk. Sekali lagi, memperdalam ciuman dan tiba-tiba dia mengerti dengan jelas bahwa dia sangat menyukai rasa air liur itu. Begitu alami sehingga dia ingin meresapinya.


Perasaan malu menghantui pikiran Niko pada sisi pengecut dalam dirinya saat memanfaatkan situasi ini. Merutuki diri sendiri karena ciumannya dengan Lena harus diperoleh saat wanita itu terus memanggil nama David. Menjengkelkan, tetapi dia menjadi kecanduan hingga dia sulit sekali untuk melepaskannya.


Dengan ragu-ragu beradaptasi dengan gerakan malu-malu, lebih membungkuk dan kontak lidah yang panas dan lebih intens. Niko menghirup udara di sekitar menjadi sangat panas dan menempel di kulit.


Aroma kenanga yang memabukkan, langsung membangkitkan kehidupan. Niko lebih dekat dari sebelumnya untuk kehilangan kendali atas naluri yang terburu-buru. Pikiran yang benar tenggelam dalam kegembiraan yang melonjak dan itu tak tertahankan.


Niko menarik pinggang Lena, memelintir semakin dalam, air matanya tanpa sadar meleleh karena perasaan bersalah.


Membuka mata, saat merasakan aliran dingin di pipinya, padahal pipinya terasa panas. Ternyata itu dari air mata .... Lena terkejut dan mendorong bahu pria itu. Mengapa berubah jadi wajah Niko! Dunia terasa membeku, saat Lena mendapati air liur tampak di antara mereka. Niko! Dia mengucek mata tidak percaya. Elusan pria itu di pucuk kepalanya, membuatnya tertegun daripada marah.


Lena menyentuh bibir bawah yang basah. Semua terjadi begitu cepat dan dia bahkan tak menyadari bila di sekitarnya sudah banyak para pengawal. Ini sangat memalukan. Di sudut halaman, Niko melambaikan tangan dan Lena masih tidak bergeming.


Pecco menarik tangan Lena dan membuat wanita itu terkejut. Saat otak Lena ngeblank dan belum sempat berpikir. Buru-buru di detik ke empat, Pecco berkata dengan mantab, “tidur!”

__ADS_1


Detik berikutnya tubuh wanita itu terkulai dan Pecco langsung menangkap, menggendong wanita hamil itu di depan dan membaringkannya di tempat tidur.


__ADS_2