Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 92 : HUTAN


__ADS_3

Axel keluar dari kamar untuk mengambil makanan, tetapi justru mendapati pintu kamar Nyonya dalam keadaan terbuka. Bunyi bel pintu luar kembali terdengar, Axel berjalan ke arah pintu luar dan membiarkan petugas masuk.


Setelah petugas memindahkan makanan dari meja dorong besi ke meja ruang makan, Axel menadatangani Bill. Dia menunggu petugas pergi, lalu ke kamar nyonya dan mengetuk pintu yang terbuka. Tampak pintu kamar mandi terbuka, mungkin nyonya di dalam kamar mandi.


"Nyonya Lena, saya ijin masuk, ya?" Axel menunggu sekitar satu menit, tetapi tidak ada jawaban.


Dengan setengah berlari, Axel menebak-nebak, mungkin nyonya pingsan di kamar mandi atau terpeleset. Dia ngeri kalau sampai nyonya jatuh di kamar mandi, pendarahan lalu keguguran. Sedikit kelegaan karena apa yang dibayangkan ternyata salah. Dia pun menuju kamar Emma.


"Apa si ketuk-ketuk? Kamu tidak lihat jam. Ini jam setengah empat pagi, menyebalkan!" Wajah Emma begitu mengantuk.


"Maaf, Nona. Apa Nyonya Lena bersama anda?"


"Enggak tuh." Emma mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda. Dia masih berdiri di garis pintu saat Axel berpaling darinya.


Mendengar keributan, Sujatmiko keluar dari kamar dengan mengenakan sarung dan kaos putih. Lalu tertegun pada Axel yang menghampirinya. "Kalian belum pada tidur?"


"Kami sudah tidur. Nyonya Lena apa bersama anda, Tuan?" Axel menaruh harapan terakhirnya pada Sujatmiko yang kini mengerutkan kening.


"Dia tidak bersama denganku. Kenapa Memang?" Sujatmiko melirik ke sisi seberang pada pintu kamar Lena yang terbuka. "Bukannya dia di kamar?"


"Tidak ada di kamar, kemana Nyonya ya? Apa keluar malam-malam. Satu jam yang lalu, kulihat pintu itu masih tertutup."


"Mungkin dia ke bawah. Tapi untuk apa juga, malam-malam."


"Coba aku telepon, Nyonya." Axel mulai melangkah ke kamar sendiri dengan jantung berdebar. "Kenapa perginya tidak bilang. Pintu balkon juga tidak ditutup."


"Itu makanan Lena?" Tanya Sujatmiko seraya menunjuk dua baki berisi makanan utuh di atas meja. Dia cuma mendapati gelengan Emma yang seolah tidak tahu.


"Itu makanan yang saya pesan barusan, Tuan. Maka dari itu saya heran melihat pintu kamar nyonya terbuka," ucap Axel sebelum hilang dibalik pintu.


Emma dan Sujatmiko duduk bersebelahan. Mereka menunggu Axel yang mencoba menelpon Lena. Dering telepon terdengar keras dari kamar Lena, membuat Sujatmiko langsung berdiri dan mengikuti Axel.


Sujatmiko memeriksa tas hermes orange dan mengeluarkan dompet yang dari kemarin terus dipakai Lena. Dia berpandangan dengan Axel yang memegang ponsel Lena. "Dompetnya masih ada."


"Kita tunggu sepuluh menit. Mungkin Lena sedang ke bawah, mencari udara segar," ucap Sujatmiko. Dia bisa bilang begitu kadang putrinya suka pergi tanpa memberitahu.


"Biar aku telepon anak-anak." Axel Lalu pergi ke lobby dengan was-was.


Emma kembali ke kamar karena perutnya mulas.


Sujatmiko terus menunggu di sofa sambil memandangi makanan yang dipesan Axel. "Apa dia nyidam lalu pesan makanan di luar? Ah, pasti seperti itu! Bikin khawatir saja," gumamnya lalu tersenyum.


Satu jam kemudian, jantung Axel seperti mau copot setelah bekerja sama dengan pihak hotel. Karena rekaman cctv menangkap sosok Niko. Namun, tidak ada rekaman waktu Niko masuk ke kamar Lena. Axel menunjukkan rekaman cctv ke Sujatmiko. Ayah Lena jauh lebih syok, juga Emma.


"Niko memaksa Lena?" Sujatmiko setengah tidak percaya. Tidak mungkin pemuda yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri sejak Niko sering menginap di rumah, bisa nekat. Apalagi latar belakang keluarga Niko yang begitu santun. "Tapi Lena dibawa kemana?"


"Aku coba telepon Kak Niko!" Emma berlari ke kamar. Dia akan kebingungan karena hubungan Lena dan Niko selama ini sangat baik.


Axel kembali ke kamar sendiri. Dia melihat jam di layar tv yang menyala, menunjukkan pukul lima. Di Italia pasti masih jam sepuluhan malam.


"Tuan, maaf menganggu waktu tidur anda," suara Axel bergetar saat panggilan terhubung. Dia mondar-mandir di depan tv takut tuannya marah besar.


"Aku belum tidur. Kenapa?" David menaruh handuk di sofa, setelah mengelap wajah basah seusai mandi.


"Tuan, Niko membawa kabur Nyonya! Rekaman cctv sudah saya kirimkan barusan. Niko memanfaatkan kelengahan para penjaga-"


"Kau serius?" David mencerna apa yang dikatakan Axel barusan. Dia butuh waktu beberapa detik untuk paham. "Cepat, cari ke seluruh kota. Minta bantuan Jefri agar mengerahkan semua anak buah dan preman setempat. Aku akan terbang sekarang." David mematikan telepon dan memeriksa video kiriman Axel. Tampak Lena begitu tak berdaya oleh jeratan tangan kuat Niko.


Axel memandangi layar telepon, yang barusan mati. masih tidak menyangka bahwa tuannya tidak marah, tetapi bosnya terdengar syok hingga tidak banyak bicara.


David memeras ponsel dengan wajah kaku. Dengan background Niko yang mendapat pelatihan khusus dari perusahaan tempat bekerja, membuat Niko semakin pintar. Kemungkinan kecil Niko tidak bergerak sendiri, melainkan ada orang besar dibaliknya


Inikah balasan Niko padaku setelah aku mencoba bersikap baik. Aku yakin pandangan mata Niko selama ini, yang penuh sesuatu, karena dia telah menyiapkan ini.


Melempar ponsel ke kasur, David mengambil tali dari lemari khusus. Dia menuju balkon. Tali itu ditembakkan ke pagar kamar tetangganya. Tiga menit kemudian dia sudah di kamar Paolo.


Sahabatnya itu tidak mengunci pintu. Digeser pintu kaca dan tampak Paolo tertidur di sofa dengan headphone di telinga. David menarik headphone dan pria itu terkejut lalu duduk. "Paol ...."


"Sialan, sudah menikah saja kau seperti ini! Jika aku yang seperti ini, kamu pasti marah. Karena aku bisa melihat Lena." Paolo tertawa.


"Niko membawa pergi Lena," suara David dengan ragu.


Ketika melihat David dengan wajah bagai kertas kusut, Paolo berhenti tertawa. "Apa?"


"Pakai pesawatmu, ayo antar aku. Kamu ikut bersamaku."


"Tunggu." Paolo bangkit dari kursi untuk menelpon anak buah, agar bersiap.


David membuang napas kasar. Dia meraup wajah dengan tidak sabar. "Lena, anakku .... "


...****************...


Sean yang baru mendapat kabar dari ayah, langsung menelepon David. Dia bilang ingin ikut ke Indonesia, tetapi David bilang akan menangani sendiri.


Keluar dari kamar, Sean akan mengetuk kamar Stefanie. Beberapa hari ini Stef mendiamkannya, entah apa yang membuat wanita itu marah. Diketuknya beberapakali sampai Stef membuka pintu dan wajah ayu itu tampak sulit di tebak.


"Kapan kita akan pulang, Kak?"


"Sean, ternyata kamu marah denganku, lalu ingin pulang?" Stef makin gelisah. Sepertinya Sean tidak nyaman dengannya.


"Tidak ada yang marah. Bisa Kakak handle sendiri pekerjaan ini?"


"Kamu pasti marah."


"Bukan itu, Ka. Tapi ada masalah dengan adikku. Aku harus pulang ke Indo." Tanpa basa-basi Sean memberitahu Stef.


"Katakan ada apa dengan Lena?" Stef mendadak khawatir. Rasa malunya akibat ciuman dari Sean tempo hari, langsung hilang begitu saja. Walau dia masih bingung apa Sean tidak ingat atau melupakan itu semua.


"Aku tak yakin bila Niko menculik Lena, walau David bilang begitu." Sean terdiam sejenak dengan wajah frustasi. "Aku juga bingung, Niko membohongiku dengan bilang dinas di luar kota. Nyatanya, sekarang di Indonesia."


"Niko .... " Stef mengigit telunjuk, mencoba berpikir dan masih berdiri di garis pintu. Dia masih belum tahu duduk permasalahannya. "Mungkin, aku telepon Kakek Leora dulu."


Sean mengangguk. Dia bersandar di kusen pintu dengan tangan melipat di depan dada. Pikirannya menebak-nebak apa yang dilakukan Niko, semoga tidak sampai melukai Lena.


...****************...


Dini hari, Stef menjauh dari kasur. Dia kesulitan tidur, karena Kakek Leora melarang Sean ke Indonesia. Masalahnya, pada David yang sudah terbang ke Indonesia tanpa pamit Kakek Leora. Ya, Kakek Leora mengutus orang untuk ke rumah David, sayangnya David sudah pergi.


Ponselnya berdering. Tanpa sadar, Stef telah menekan tombol terima. Mana itu telepon Jefri.


"Berhenti menelponku, dasar pengganggu, tidak tahu ini sudah malam!"


"Saya harus ke Indonesia. Ada pekerjaan untuk mencari adik iparmu yang hilang. Temui aku sekarang"


"Apa .... Eh, kamu tahu Lena menghilang!"

__ADS_1


"Kami masih mencari tahu. Wah, kalau begini saja kamu mau berbicara denganku?"


"Apa kamu bisa menemukan Lena? Tolong bantu kami." Stef langsung berubah melunak ditengah hatinya yang mendadak cemas.


"Temui saya sebentar di bawah, di resto hotel."


Panggilan langsung terputus. Stef menelpon balik. Karena tidak kunjung mendapat balasan, dia berganti baju tertutup. Di ruang tengah, Stef menemukan Sean yang tampak duduk terpejam, jadi dia mengendap-ngendap.


"Kak Stef, mau ke Club lagi?"


"Ah!" pekik Stef. Terkejut dengan suara kesal Sean yang tiba-tiba. Dia harus beralasan apa. "Masa pakaian tertutup seperti ini ke Club hahahaha. Aku ke bawah sebentar."


"Ikut .... "


"Oh, tidak Sean! Aku sedang ingin sendiri. Jangan berani-berani ikut. Cuma sebentar!"


Sean mengerutkan kening. Sikap Stef selalu aneh. Dia berbaring lagi karena kepalanya pusing memikirkan nasib sang adik. Dia memegangi ponsel, menjawab semua chat ayah yang memberondong dengan pertanyaan seputar Niko.


Di lantai satu, dengan ragu Stef memasuki restoran. Huh, menemui lelaki asing malam-malam membuatku merasa bersalah. Siapa lelaki ini bisa tahu soal Lena.


Stef melihat meja, ada roti bakar keju dengan susu coklat hangat, kesukaannya. Terlihat Jefri meminum minuman soda berwarna lalu tersenyum sangat manis. Tunggu sejak kapan itu manis. Biasanya tengil atau menakutkan!


"Tidak terasa waktu berlalu cepat, ya Stef? Kini saya harus kembali, padahal masih ingin terus mengejarmu." Jefri mengedipkan satu mata dengan genit


Hi, orang gila! Mengejar katamu! Stef berdeham. "Apa kamu bisa menemukan Lena?"


"Jika saya menemukan Lena. Apa kamu bisa memberikan hadiah untukku?" Tanya Jefri dengan ragu.


"Hadiah apa maksudmu ?" Stef dengan nada tidak ramah. "Jika uang , barang, tentu aku akan memberikan itu. Yang terpenting temukan Lena dulu."


"Satu kali makan malam denganku, Stef." Jefri to the point. "Jangan kaget begitu dong. Anggap saja ini hubungan bisnis."


"Bukannya kamu bilang mendapat pekerjaan untuk mencari Lena. Apa ... David yang memberikan pekerjaan seperti itu?" Stef menganga saat Jefri mengangguk. "Kalian saling mengenal?"


"Lihat, kamu mulai tertarik dengan saya!" Jefri tersenyum dengan berseri-seri. "Buktinya, kau ingin tahu tentang saya?"


Stef kehabisan kata-kata, suaranya mengecil, "apakah David mengetahui bila anda sering menemui saya?"


"Masih aman, dia belum tahu soal kita. Jangan khawatir, lagipula bukannya, kamu sudah memproses kasus perceraianmu? Jadi, tidak masalah bila kita kepergok bertemu, kan?"


"Kamu yang selalu mengikutiku! Orang kan bisa salah paham tentang kita." Stef menggaruk punggung tangan di pangkuan. "Saya ingin keselamatan Lena. Jika, anda mengharapkan hadiah untuk makan malam bersama, aku setuju." Stef berdiri dan memandangi roti.


"Makan malam, ya!" Jefri tersenyum sangat manis dan maju ke depan Stef. Dengan gerakan cepat menarik punggung tangan Stef dan mengecup dua kali.


Sean tercengang melihat adegan barusan, dibalik ukiran kayu pintu masuk. Dia lekas menjauh dari restoran. Lagi-lagi pria itu. Apakah Stef memiliki hubungan dekat dengan pria asing itu?


...****************...


"Kumohon, katakan aku dimana!" Lena dengan suara tinggi putus asa saat seorang ibu mengantar makanan.


Ibu berusia lima puluhan itu, tidak mau menatap mata Lena dan memilih menaruh baki berisi makan siang, di atas meja besi. Lallu pergi.


Lena berdecak, melihat ke dinding yang serba kayu berwarna coklat ke maroon. Bau lembab, meski daun jendela itu dalam keadaan terbuka. Hanya langit biru yang bisa dilihat. Kedua kaki dirantai di kursi rotan yang berat.


"Aku ingin ke toilet! Tolong!" Lena terdiam begitu melihat pintu terbuka lagi. Dia melihat Niko dengan aura sangat gelap. "Bawa aku ke toilet, cepat, dari semalam aku belum pipis."


Niko melangkah dan memutar kunci gembok di kedua rantai di pergelangan kaki Lena. Pria itu menjauh dengan mengabaikan semua ucapan, kemarahan, kekesalan Lena.


Terus melangkah, dengan diikuti Lena di belakang. Niko menuruni tangga kayu pintu belakang dan mengulurkan tangan untuk membantu Lena. Awalnya Lena menolak, tetapi karena anak tangga terakhir cukup tinggi, perempuan itu akhirnya mau dibantu.


Lena terpaku pada sebuah sumur tua yang airnya jernih dengan pembatas sumur setinggi lutut, di dekatnya terdapat satu timba. Niko keluar dari pagar anyaman bambu yang mengelilingi sumur, hingga aktifitas di dalam tidak terlihat.


Lena bergegas menurunkan celana tidur. Dia dengan was-was karena dulu masa kecilnya seperti ini, tempat mandi tanpa atap dan beberapa mendapati seseorang mengintip, membuatnya trauma. Dia melirik ke arah pintu dan bergeser di titik tersudut, agar tidak terlihat dan bergegas menuntaskan hajat.


Perempuan itu berpikir apa harus berlari saat Niko lengah, tetapi terlalu banyak penjaga. Sepertinya ada dua puluh orang penjaga yang terlihat seperti preman-preman bule Italia. Bagaimana Niko yang baru beberapa bulan di Italia sudah banyak mengenal orang-orang dengan aura mengerikan.


Keluar dari bilik anyaman bambu, Lena menatap tajam ke mata Niko sesat. Lalu Niko melangkah dan otomatis Lena mengikutinya.


"Hanya ada sua rumah." Lena bergumam putus asa, memandang ke sekitar pada banyaknya pohon yang tinggi menjulang membuat ngeri, dari diameter phonnya Mungin itu nyaris berumur atau abad. Sementara di bawahnya di kelilingi semak belukar. Apa ini masih di kalimantan.


"Itu rumah masa depan kita." Niko melirik Lena sesaat dan kembali berjalan.


"Apa maksudmu-"


Niko menunjuk rumah yang tadi untuk menyekap Lena. "Itu rumah kamu." Telunjuknya lalu diarahkan ke rumah yang lebih kecil. "Sebelahnya rumahku. Tapi, kamu tidak boleh memasuki rumahku. Kita tinggal di sini, mulai hari ini dan selamanya."


"Tidak akan! Aku Lebih baik pergi!"


"Pergi saja! Banyak ular di sana. Besar, panjangnya bisa lima meter. Mereka bisa melilitmu dan meremukanmu hingga ke tulang-tulangnya."


Niko kembali berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dia menajamkan pendengaran. Daun dan ranting yang terinjak Lena berderak, semakin menjauh, tetapi terdengar mulai pelan dan akhirnya berhenti. Seperti dugaannya, wanita itu takkan berani jauh-jauh.


Tanpa berhenti, Niko kembali ke rumah. Dia berhenti setelah melewati tangga tanpa menoleh kebelakang.


"Jangan ada yang mengikuti Lena," titahnya dengan suara dingin.


"Tapi, Bos Besar bilang kita tidak boleh kehilangan wanita itu."


"Kau tahu siapa bosnya, di sini? Laporkan saja apa adanya pada George. Aku tidak peduli," bentak Niko pada anak buahnya yang dibawah tangga.


Niko masuk kamar terdepan. Duduk di tikar. Dia jadi teringat saat membelah biji ketapang yang telah dibakar, di belakang rumah Lena.


"Niko, kamu tidak akan meninggalkanku, hanya karena melihat perempuan yang lebih cantik-kaya di luar sana, kan?" Tanya Lena sambil meniup biji ketapang yang telah dibakar. Kotoran serbuk arang terbang bebas hingga Niko yang baru melihat ke arah Lena langsung kelilipan.


"Agh mataku!" Niko menjatuhkan golok, dengan masih berjongkok hendak mengucek mata. Namun, dia kalah cepat karena dua tangan mungil menyentuh di pipi. Tak ada waktu Niko berpikir dan tangan mungil itu semakin mendekat ke kelopak mata, menahannya.


"Diam- aku akan meniup ini. Jangan kedip-kedip ntar iritasi. Nah, aku melihat butiran pasir hitam. Tahan."


Niko merintih karena matanya terganjal butiran kecil yang terasa memenuhi di balik kelopak mata kanan. Dia merasakan tiupan hangat, tetapi berungkali tiupan itu gaga dan Niko menitihkan air mata. "Cepat, Len."


Niko melihat Lena yang mengelapkan tangan mungil- kotor itu ke kaos putih. "Kau mau apa?" Tanya Niko tidak berdaya.


"Tunggu, aku akan mengambil kotoran di matamu."


"Tapi kan tanganmu itu kotor-"


"Diam, pasirnya sudah di ujung mata."


"Emhhh." Pandangan mata kanan Niko tertutupi ujung jari manis Lena yang tampak hitam dan berikutnya terasa gelap sesaat. "Len, tanganmu kotor!"


"Eh, aku dapat!" pekik Lena. "Coba kedipkan! Wah, mata kamu jadi merah !"


Niko mengedipkan mata beberapa kali dan benar, sudah tidak ada yang mengganjal walaupun masih terasa panas. Dia menatap Lena sejenak, lalu tertawa. "Yah, pipimu dan bajumu jadi hitam tuh! Hahaha." Niko mengerutkan kening karena Lena tertawa. "Kenapa?"


"Ini juga kotor. Biar aku hapus." Lena tampak gugup mengusap pipi Niko dengan kedua jempol. "Loh, malah jadi tambah lebar. Hahahaha!"

__ADS_1


"Lena!" Niko kesal tiga detik tetapi lalu ikut tertawa lepas. "Awas ya, jangan pakai tiup-tiup lagi." Pria itu kembali meraih golok dan membelah biji ketapang. "Jatahku lagi ini, karena kamu kamu membuatku jadi kelilipan."


"Ah, Niko. Ini punyaku." Lena merebut biji itu sebelum sampai masuk ke bibir Niko. Lalu memasukan cepat ke dalam mulut sendiri. "Eh, ini enak banged! Untung nggak ada abang. Coba kalau ada dia, bisa-bisa ini dibawa kabur."


"Kalau Sean mau membawa kabur, aku mau merebutnya."


"Lalu untuk aku ya, Niko?" Wajah Lena memerah.


"Buat aku sendiri, hahahaha." Niko melirik ke arah lain ke pekarangan. "Becanda, jangan cemberut gitu. Jelas, buat kamulah. Kan kesayangan!"


"Niko wajahmu merah! Lihat sini aku mau lihat!"


"Pipi kamu juga merah!" Niko makin tersipu dan tidak berani melihat Lena karena jantungnya sedang lari maraton.


"Kalau ada perempuan Di luar sana, yang pipinya memerah karena kamu, apa kamu jadi ingin terus melihat perempuan itu dengan hati senang?" Tanya Lena dengan mode serius.


"Loh?" Niko kembali menatap perempuan di depannya yang kini wajahnya tampak cemberut. "Kenapa aku harus melihat perempuan lain dengan hati senang? Kalau di depanku saja ada satu perempuan yang sudah selalu membuatku senang. Aku justru jadi khawatir .... "


"Khawatir ?"


"Khawatir kalau tidak ada perempuan di luar sana yang semenyangkan kamu. Lalu aku justru semakin mencintai...mu." Niko mengerutkan kening karena Lena mencoba menahan senyuman.


"Aku khawatir kamu meninggalkanku dan melupakanku lalu-" Jantung terasa berdenyut, "aku dalam kesengsaraan," suara Niko bergetar.


"Mengapa aku harus meninggalkanmu, kalau kita bisa sampai tua ?"


Niko terdiam sesaat, dia yakin tidak beralih pada Lena karena sudah menemukan dambaan hati yang sebenarnya. Akan tetapi, energi positif yang dipancarkan Lena ke sekitar, membuatnya menjadi tidak yakin ...


Sebuah ketakutan besar mengintipnya, adalah bila ada lelaki yang memiliki banyak hal- datang diantara dia dan Lena. Akankah Lena masih mau menerimanya walau latar belakang keluarganya yang pas-pasan.


Harga dirinya semakin rendah, nyali menciut setiap melihat pemuda lain dengan nilai lebih, berusaha mengajak mengobrol Lena-yang sudah didapuknya untuk dinikahi.


Siapa pemuda yang tidak menginginkan Lena? Di SMA, banyak laki-laki setingkat dengannya, adik kelas Lena, anak-anak sekolah lain, bahkan para anak kuliahan, mengidolakan Lena. Itu gara-gara ajang perlombaan judo tingkat nasional dan ada Lena di sana. Semua orang yang mengira Lena adalah pacar Sean, lalu berusaha mendekati, setelah tahu Lena masih jomblo.


Untungnya, Sean berhasil mengancam setiap pria yang terlihat akan PDKT dan hingga mereka tidak ada yang berani mendekati Lena karena takut dipatahkan tulang rusuknya.


"Sampai tua?" Niko tersenyum sangat manis. "Akankah kita 'berumur panjang' .... " Dalam benak hati Niko, maksudnya berumur panjang adalah hubungan cintanya.


"Kita harus saling berjanji," kata Lena dengan senyuman polos dan mengulurkan jari kelingking. "Kamu ingatkan aku kalau aku lupa, dan sebaliknya aku akan menagih janjimu."


"Aku tidak bisa." Niko berkedip penuh arti dan wajah Lena lalu cemberut sambil melihat jari kelingking yang masih di udara.


"Kita lihat ke depan, Len. Namanya janji itu sulit ditepati. Aku tidak mau kita berjanji kalau kita tidak menepati pada akhirnya. Mari berusaha bersama untuk hubungan kita." Niko mengedipkan satu mata dengan penuh keyakinan, lalu kembali membelah kulit biji ketapang, yang terakhir.


Angin sepoi menerbangkan rambut Lena bagian samping yang tidak ikut terkuncir. Matahari sore mengintip dari celah dedaunan ketapang membuat Lena menjadi lebih cantik akibat terkena angus arang. Kontras dengan kulitnya yang bening kemerahan seperti mutiara.


"Niko, kamu belum jawab! Kamu menerima coklat dari temen aku!"


"Cokelat? Ya ampun, bukan aku, itu Sean yang menerimanya! Dia malah makan sendiri coklat itu."


"Tapi kan temenku jadi tahunya kamu yang makan!"


Niko tersenyum dengan semeringah. "Ada yang lagi cemburu."


"Iyalah, pacarnya digodain, masa tidak cemburu!"


"Apa kamu mau beritahu mereka semua, soal hubungan kita? Biar Sean tidak asal menerima hadiah para perempuan dan memakannya sendiri dengan mengambinghitamkan aku?"


Lena menggelengkan kepala. "Jangan," suaranya mengecil. "Nanti, kakak marah, lalu melarangmu datang kemari."


Niko mengangguk. "Apapun maumu aku turuti, Tuan Putri! Padahal, aku inginnya semua orang tahu, jadi tidak ada lagi yang ngajak kamu PDKT." Niko mengulurkan biji ketapang terakhir ke mulut Lena membuat wanita itu makin tersipu dan saat Lena membuka mulut. Niko langsung membelokan itu ke mulut sendiri dan berlari.


"Nikoo! Curang!"


"Ye, kan sama delapan seri!" Niko berlari lebih kencang ke pohon Cemara di lapangan. Dia membuang golok ke pasir dan secepatnya memeluk pohon Cemara. Mulai naik dan mencapai dahan pertama yang setinggi atap sekolah. Dia melirik ke bawah ke arah Lena yang menyusul.


Naik ke dahan lebih tinggi, Niko berusaha tiduran tengkurap sambil memeluk dahan seperti guling, lalu tersenyum pada Lena. Angin semilir semakin menyenangkan, memandangi Lena yang duduk di dahan. Tangan mungil lain memeluk dahan di depan dada Lena, sambil terus menggoyangkan kaki seperti anak kecil.


"Niko .... Aku takut kamu meninggalkanku."


Hati Niko berdenyut. 'Aku yang lebih takut kamu meninggalkanku.'


"Tidak akan ada yang mencintaimu seperti aku." Niko tersenyum masam. "Aku yakin kamu tidak ingat itu."


"Ingat apa?"


Niko tersentak dan menoleh ke kanan, mendapati Lena yang berdiri di depan kamarnya dengan wajah judes. "Aku sudah bilang kau jangan masuk ke rumahku dan membuat hatiku terluka .... " Hati Niko berdenyut melihat perut hamil berbentuk bundar itu. Dia pernah dengar kalau kandungan berbentuk bundar, pasti nanti anak itu laki-laki. "Kau meninggalkanku."


"Tunjukkan aku jalan pulang, aku bisa pulang sendiri."


"Kupikir karena kau takut ular dan babi hutan." Niko tersenyum masam. "Keluar dari rumahku, atau aku akan memanggil mereka untuk menarikmu!"


"Aku ingin pulang! Tunjukan jalannya. Mereka semua bisu dan tidak menjawab satu kata pun!" Lena terus berbicara keras membuat harga diri Niko semakin terpukul.


"Silahkan pergi, Len! Aku sendiri akan mengirimkan David ke alam barzakh lebih awal dari waktunya, jika kau masih memaksa pulang."


"Niko?" Mata Lena melotot maksimal. Kepalanya bagaikan baru pecah seperti buah kelapa yang dihantam menjadi dua bagian. Bibir Lena berkedut saat melihat mata Niko terlihat tidak ada empati simpati. Pandangan mata itu seperti zombie, kosong.


"Ingatkah kamu, Len? Saat aku tidak bisa berjanji perihal obrolan kita agar saling mengingatkan, di hari kau meniup mataku yang kelilipan saat membuka biji ketapang. Seperti dugaanku. Kau yang tidak tahan menghadapi dunia yang menggiurkan dan penuh hingar bingar, mengorbankan perasaanku padamu. Sudah dari dulu kupikir kamu yang akan meninggalkanku, karena aku sadar aku tak memiliki kekuatan yang bisa menahanmu. Jika aku kaya dan pintar, mungkin aku bisa sedikit sombong, dan menurutimu, saat kau membuat janji 'SALING MENGINGATKAN'. Kekhawatiran terbukti kan? Bila aku terlalu mencintaimu, lalu sedang aku tidak bisa berpaling." Hati Niko berdenyut. Lagi, cairan bening melesak, menggenangi peluk mata dan membuat pandangan kabur. "Pengorbananku sia-sia. Mana ada perempuan seperti A**u, mau mengertiku!"


Bergetar tubuh Lena mendengar kata kasar, yang seumur-umur baru di dengar dar Niko. Dia tahu Niko sakit hati. Namun, kata kasar itu benar-benar menampar jiwanya dan membuat Lena kehilangan dirinya sesaat.


"Keluar dari rumahku. Keluar dari hutan ini, dan silahkan lewati trek cukup curam. Mungkin jalan yang belum pernah dilalui manusia." Niko tertawa sinis. "Butuh bermil-mil kau menapaki semak berduri. Bahkan sebelum kamu bisa keluar dari tempat ini, mungkin kamu terluka oleh laba-laba mematikan atau kalajengking."


Bergidik, Lena merinding. "Mengapa kita bisa sampai


sini kalau jalanan itu belum tersentuh manusia. Apa kita teleportasi?" suara Lena meninggi.


"Bagaimana dengan helikopter."


Apa-" suara Lena retak.


"Aku membawamu ke tempat ini dengan hati-hati. Memeluk tandu, tempat kamu berbaring, menjaganya tetap stabil saat anak buahku menurunkan kita ditengah hutan dari helikopter. Mereka meninggalkan kita di sini, terasing dari dunia." Niko melebarkan mata dan pandangannya berubah bersinar. "Hallo, Sayang! Tidak ada yang menganggu kita di sini dan orang-orang di luar rumah itu seperti patung, dan taat pada perintahku."


DEG. Lena menelan saliva dengan kasar. Wajahnya langsung memucat. Dunia terasa gelap seketika. Apa tidak ada jalan untuk kembali pada keluarganya. Lena yakin pasti ada, sekalipun ini hutan. Harapannya ada pada wanita pengantar makanan. Selain wanita itu, semua orang di sini laki-laki. Itu begitu mengerikan.


Lalu dengan bayi ini? Lena mengelus perutnya. Kamu pasti akan secepatnya mendapat elusan tangan papa, Sayang.


"Keluar," suara Niko kembali dingin dan terus maju hingga Lena terus mundur sampai diujung pintu di rumah panggung itu.


"Kalau ada sesuatu dengan bayiku?" Suara Lena samar. Pikirannya langsung ke mana-mana.


"Ada dukun bayi, kau tahu wanita tua yang mengantarkan makanan? Dia wanita bisu, tetapi benar-benar pengalaman dalam mengurus bayi dan tahu aneka obat di hutan ini. Jadi, jika kau mau melahirkan, tidak perlu kuatir lagi." Niko tersenyum penuh arti walau hatinya seperti retak.


"Gila, kau gila," gumam Lena bergidik. Dia teringat wanita tadi pagi, ternyata bisu. Lalu bagaimana cara berkomunikasinya? Apa karena bisu, jadi wanita itu tidak bisa menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Untuk mendapatkanmu harus gila dulukan? Untung aku gila." Niko condong ke depan dan membungkuk. "Keluar dan makan makananmu. Jika kau tak mau makan, Lihatlah lihat kandunganmu itu, mungkin menuntut minta makan."


Lena tertawa getir.


__ADS_2