
David mendengar suara tembakan ditengah suara keributan. Dia membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ranjang dengan infus tertanam di tangan.
Segerombolan orang di sekitarnya membentuk lingkaran. Matanya berkedut melihat ada Niko di tengah kerumunan pria. Salah satunya segerombolan orang itu adalah anak buah paman ketiga. Tangannya coba digerakkan tapi tak bisa.
Tidak mengerti situasinya, tetapi mereka semua mengeroyok Niko sampai tak berdaya dan berlumuran darah.
Selanjutnya, David tak bisa melawan saat seseorang mencekik lehernya dengan kuat. Dia meringis merasakan sakit di tenggorokan, , tubuhnya yang tak memiliki tenaga .
David sesak napas, nyaris kehabisan oksigen, kakinya menendang-nendang. Ketika terakhir hampir tak tertolong ... Lalu orang itu terlempar, dia melihat Niko memukuli orang itu. Otaknya tak dapat berpikir, tetapi anak buah paman itu semua tumbang, dia melihat kepergian Niko ke arah balkon.
Kenapa dia di sini? Apa dia mencoba menolongku?
...****************...
Di sisa tenaga dan pikiran yang hampir melayang, Niko menggedor pintu balkon dengan pandangan berkunang-kunang. Begitu pintu itu bergeser, Niko jatuh loyo tepat ke kaki Ema.
"Niko!" Emma berjongkok, memegangi pipi Niko yang lengket dan bau amis, lalu berlari menyalakan lampu. Kegelapan kamar berubah menjadi terang, tampak Niko berlumuran darah. Ditarik Niko dengan susah payah sampai badan pria itu terbaring di karpet. Dia menutup pintu dan tirai jendela.
Pertama, Emma menekan darah di lengan yang masih meneteskan darah, menggunakan kapas dan pria itu merintih. Noda merah hati dibersihkan menggunakan kapas yang diberi cairan infus. Emma pikir luka itu tidak terlalu dalam, dia terpaksa menetesi betadine di luka melintang panjang terbuka, lalu menutup kain kasa. Jam segini dia takkan bisa menelpon temannya yang seorang dokter, dia terpaksa melakukan apa adanya. Walau sepertinya luka di lengan itu harus dijahit.
Kain kasa yang membalut kesepuluh jari itu penuh noda darah, juga diganti, tampak luka akibat cairan keras iti belum sembuh. Emma merasa kasian sekali pada wajah lebam itu. Dia bertanya dan Niko juga tak merespon, membuat khawatir. Ingin sekali bisa memanggil dokter, tapi Niko pasti tidak mau.
"Minum." Emma mengulurkan air bening yang diberi sedotan setelah pria itu bangun. Pria itu cuma bisa membuka mata sedikit akibat bengkak di kelopak mata. Niko minum sampai setengah gelas dan memandangi diri sendiri yang bertelanjang dada.
"Pindah ke atas, jangan tidur di bawah. Kamu harus melepas celanamu, kotor! Lalu bajumu, aku terpaksa menggunting dan membuangnya."
Niko berusaha duduk dan bersandar di tempat tidur. "Aku akan pergi," katanya dengan suara parau.
"Enggak! Kamu jangan pergi dulu! Tenaga juga belum pulih, mau ke mana lagi? Setiap kamu datang, selalu terluka! Luka kok jadi hobi Tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana, haruskah kamu selalu terlukaaa!" Teriak Emma dengan marah dengan hati menyusut.
Niko menunduk karena tidak nyaman melihat kekhawatiran Emma. "Bila aku mencoba menolong David, apa kamu percaya?"
Alis Emma perlahan naik semakin tinggi.
Niko mengembus napas kasar. "Ya, kamu tidak percaya."
"Aku ambil makanan dulu," ketus Emma dengan dada terasa mendidih.
"Berikan baju untuk aku pakai," kata Niko berusaha. "Dingin."
Emma menatap dengan kasian. Dia mundur, menuju walking closet. Deretan pakaian diamati, pilihannya jatuh ke kaos hello Kitty berwarna putih. Ini ukuran paling besar. Lalu kain pantai dengan model lilitan di rasa cukup menutupi.
Berjongkok, Emma menaruh baju di pangkuan Niko. "Pakailah ini dulu, aku akan cari pakaian di kamar paman. Jangan pergi!"
Niko mengelus dagu sambil berpikir haruskah dia mengenakan apa yang diberikan Emma. Badannya menggigil, dia lekas mengenakan kaos bergambar hello Kitty yang sangat pas ukuran dan terlihat area pinggul. Lalu kain Bali itu dijadikan sarung. Celana panjangnya yang penuh darah dilepas.
Aku tidak tahu sampai batas mana menyingkirkan orang yang berusaha menggangu David itu. Tapi kenapa aku justru melindungi dia? Bukannya bagus jika dia mati. Ah!pasti karena aku tahu rencana orang-orang jahat jadi aku kasian pada David. Harusnya , aku fokus menyingkirkan Paman Keempat karena dia tahu soal aku.
.
.
Emma masuk ke dalam kamar dengan baki di tangan berisi makanan, dan menjinjing paper bag berisi pakaian. Dia menyunggingkan senyuman melihat Niko memakai kaos miliknya. Feminim.
"Manis sekali." Emma terkikik sambil menaruh baki di meja. Melihat Niko yang tampak tidak senang justru membuat Emma tertawa pelan.
"Terus saja tertawa kalau itu membuatmu senang," gerutu Niko sambil pindah ke sofa. Dia mulai makan nasi sup ayam agar tenaganya cepat pulih. Dia tidak tahu lagi bila tidak ada Emma yang pengertian. "Kenapa terus melihatku?"
"Kamu belum jawab, kamu lari kemana saat David masuk ke kamar ini?"
"Kenapa? Kamu tak perlu tahu lah."
"Aku kangen Lena, ingin mendengarnya." Emma menekuk wajah. "Dia akan sedih mengetahui David di rumah sakit, terlebih bila tahu ada orang jahat yang hendak melukainya."
"Kau tak bawakan aku minum?" Niko mengalihkan obrolan. Tampak wanita itu menatapnya lalu berjalan ke sisi lain kamar, menuangkan air dari dispenser dan menaruh di dekatnya.
"Terimakasih, telah melindungi David."
Niko menunduk dengan melanjutkan makan dan mengunyah perlahan karena rahangnya kaku. Dia tak mau menjawab soal musuhnya.
"Beritahu aku siapa yang mencelakai David .... "
"Aku tidak tahu."
"Tapi kamu seperti tahu sesuatu."
"Aku tidak tahu." Niko fokus makan membiarkan Emma mengoceh dan melempari banyak pertanyaan tanpa digubrisnya. Selesai makan, dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah terbatas karena kain itu.
Emma menyusul membawa paper bag dan tersenyum menyengir saat Niko akan menutup pintu kamar mandi. "Ini , punya paman."
"Terimakasih." Niko meraih paper bag dengan tatapan dingin.
Bergegas ke sofa, Emma melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Mencoba meraba-raba kantong celana Niko dan meraih sesuatu. Ponsel Nokia model lama lalu dibuka di utak-atik, sementara dia tetap waspada menajamkan pendengaran pada suara kucuran air di closed.
Ayo, tunjukan sesuatu tentang Lena.
-Mereka melakukan pergerakan di rumah sakit, sekitar pukul dua siang. Kuperingatkan mungkin lebih dari sekitar lima orang, jangan melawan mereka sendirian atau kamu dipastikan terluka.-
Wajah Emma tertekuk. Rumah sakit? Emma membuka dan membaca deretan pesan. Siapa yang dimaksud 'mereka'. Lalu siapa orang yang dimaksud di rumah sakit, apa Marcho .... atau David. Tangan Emma meremas ponsel karena penasaran.
-Bos, Nona Lena telah dihadiahi nama baru, nama panggilan kesayangan anda. Nona telah melupakan namanya sendiri. Nona juga terlihat sangat membenci David setiap mendengar nama David-
DEG. Emma menarik laci dan meraih pensil dan kertas, mencatat nomer itu. Dia menyimpan kertas kembali di laci dan langsung memasukan ponsel kembali ke celana panjang, mengaturnya seperti semula di sofa.
Kamar mandi mulai sunyi, Emma berlari ke arah meja rias dan menyisir rambut. Detik berikutnya, Niko melongok. "Bantu aku keramas, jariku .... "
__ADS_1
Emma berlari ke dalam kamar mandi, dia melirik Niko yang sudah berganti se set baju longgar milik paman. Lelaki itu membungkuk ke westafel, memposisikan kepala di bawah kran dengan sikut bertumpu di meja.
"Pelan-pelan, ya."
"Iya, kalau sakit, bulang." Emma menyalakan kran, dibantu gelas untuk menyiramkan air hangat ke seluruh rambut Niko yang kotor oleh darah kering, tampak noda merah melirih bersama air dan bau amis. Dia menyentuh kulit kepala itu, memastikan basah.
Wanita itu terdiam sesaat karena merasakan ada dua benjolan mungkin karena pukulan benda tumpul. Dia ngilu saat Niko merintih. Bergegas dia membersihkan dengan shampo, dengan gerakan lembut.
Meraih handuk, Emma mengeringkan dan melilit handuk, dia keluar saat Niko berdiri tegak. Emma termenung.
Apa tadi maksudnya! Kenapa Lena harus membenci David! Batin Emma. Dia semakin berdebar saat Niko berdiri di belakang. Niko menatap matanya dari pantulan cermin.
"Kenapa kamu bernapas cepat?" Niko mendaratkan dagu di bahu mungil bau lavender. Mata Emma terlihat menghindarinya.
"Menurutmu kenapa?"
"Kau menyembunyikan sesuatu?" Niko melirik ke wajah tegang itu.
"Tiba-tiba aku seperti tidak bisa bernapas. Aku kadang memang seperti ini. Apa jantungku bermasalah!" Emma mencari alasan sebisanya.
"Aku ingin mendengarnya."
"Apa?"
"Aku ingin dengar detak jantung itu di dadamu." Niko tersenyum simpul saat Emma langsung memasang tampang protes
"Rambutmu basah."
"Kalau begitu, bantu aku." Niko semakin tersenyum. "Kamu kenapa tidak mengijinkanku memeriksa detak jantungmu di dada."
"Niko!" Emma memutari Niko dan menatap punggung kokoh itu. Dia memegang bahu Niko, mengarahkan ke kursi. "Duduk dan jangan senyum-senyum."
"Sepertinya, jantungmu semakin bermasalah." Mata Niko berbinar melihat Emma yang salah tingkah. Wanita itu membungkuk dan mencolokkan stop kontak hairdryer di dekatnya dan Niko menarik pinggang itu hingga Emma duduk di pangkuan.
"Niko!" Emma tergagap saat melihat wajah Niko di depannya persis. Kakinya gemetar karena merasakan paha Niko yang panas.
"Panggil Kakak! Kenapa memanggil dengan sesuka hati!" Tatapan Niko berubah tajam dan gadis itu membuang muka dengan wajah memerah.
"Sudah cepat biar aku keringkan," lirih Emma dengan malu.
"Aku seperti mendengar detak jantungmu, Emma."
"Nikooooo!" rengek Emma ingin sekali menangis.
"Apa," kata Niko dengan serak di depan telinga wanita itu, tampak wanita itu bergidik membuat Niko tertawa pelan. Dia memundurkan kepala saat Emma kembali menghadapnya dan mencoba mengamati wajahnya. "Panggil, aku Kakak."
"Kamu seperti bukan Niko."
"Wajahku yang lebam? Apa aku terlihat seperti Hulk?" Niko tersenyum tipis mendengar tawa renyah Emma.
"Memang .... aku bagaimana sekarang, sikapku padamu?" Niko merasakan napasnya menjadi pendek dan sering karena aroma bunga yang terhirup lubang hidungnya.
"Terlalu dekat," ucapnya dengan malu.
"Dan kau tidak suka?" Niko menatap lekat-lekat ke dalam mata Emma. Entah sejak kapan bibirnya terlalu dekat dengan bibir Emma hingga dia merasakan suhu dan gerakan itu walau tidak menempel. Membuat jantungnya dag dig dug. Antara takut dan ingin tahu.
Emma menggelengkan kepala dengan mencengkeram hairdryer di tangannya, yang di tangan kiri. "Aku tidak tahu."
"Why ? Mungkin kamu suka, tetapi merasa bersalah pada Sean?"
"Ya!" Emma menggigit bibir bawah.
"Apa? Suka!"
"Bukan-"
Kau tidak menyukaiku?"
"Bukan begitu-"
"Kau merasa tidak nyaman saat bersama aku?"
"Tidak juga. Sejujurnya, tidak begitu." Emma menahan perut Niko dengan tangannya, mendorong sedikit agar menjauh. Matanya tercengang saat tak sengaja bersentuhan hidung panas itu. "Wajahmu terlihat buruk saat ini."
"Biasanya, aku tampan."
"Niko," suaranya tercekik dan wajahnya mendadak terasa hangat. Pahanya sedikit terangkat hingga dia hampir bergeser, mendadak tangan Niko menahan pinggangnya.
"Kau yang bilang begitu. Lupa? Karena itu kau memperkerjakanku, Right?"
Emma melirik samping dengan sedikit mulut terbuka. "Itu menurut kaca mata publik."
"Oh, ya, sekarang kau tak mengakui?" Niko tersenyum tipis karena gelengan Emma disertai pipi itu makin memerah. "Masih tampanan Sean kan?"
"Ya!"
"Tapi lebih nyamanan siapa?"
"Kenapa kau terus membandingkan dengan Kak Se?"
"Karena kamu rakus. Kamu ingin Sean dan menginginkanku juga," tegas Niko dengan mata menyipit.
"Aku tidak-" Mata Emma menyipit, mulutnya ternganga.
"Pembohong yang buruk." Niko mengedipkan satu mata dengan tatapan buas. Hati terasa mengkerut lalu seakan mendidih di dalam. Semua dadanya dipenuhi energi yang tidak dia mengerti. "Emma ...."
__ADS_1
"Kakak ...." bisik Emma, bibirnya saling memelintir begitu melihat mata Niko tercengang. Dia membeku merasakan tarikan Niko yang mendadak di pinggangnya.
Emma menarik tangan begitu saja, hingga tidak ada jarak yang memisahkan perutnya dengan perut datar pria itu yang terasa panas. Penasaran besar menyelimuti, tubuhnya makin memperdalam pelukan. Ada beberapa detik, Emma merasakan kehangatan dada, perut, dia ternganga mendapat dekapan makin kuat, memabukkan. Matanya terpejam merasakan usapan di punggungnya, kedua tangan itu merayap di punggungnya
Tubuh dan pikirannya tak singkron, Emma menoleh kanan dengan membuang muka. Itupun masih merasakan pipi Niko yang panas. Hembusan panas terasa di belakang telinganya. Emma berkedip bingung, selang-selang otaknya terasa pecah menerima sengatan yang berasal dari pendaratan bibir lembut Niko di sana.
"Kak ... Apa-" katanya merasa bodoh. Ingin dia menolak, tetapi tak ingin menjauh.
Menekan telinga belakang Emma dengan hidung, Niko menghirup dalam-dalam. "Aku tak ingin terlepas," suaranya parau. "Kenapa tak ingin terlepas. Apa senyaman ini."
Emma membelalakkan mata sesat, seluruh tubuhnya seperti tersengat oleh gigitan di lehernya, lelaki itu menyesapnya.Tangannya mencengkeram pinggang Niko. Jari-jari kaki saling memelintir geli pada embusan napas pendek dilehernya, atau oleh sesapan bibir Niko yang membuatnya kehilangan pikiran.
"Manis... " Niko merasakan suhu di tubuhnya yang kian meningkat. Dengan tak sabary dia menjejalkan lidah ke telinga Emas, menari di cuping itu bersamaan gerakan Emma yang membuatnya semakin ingin mencium telinga wanita itu. "Emma," bisiknya saat wanita itu menggigit bibir bawah dan makin terpejam.
Kelopak Mata Niko bergetar melihat kelopak Emma terpejam dan napas wanita itu. Niko berkedip beberapa kali dan bibirnya menjauh dari telinga. Emma membuka mata dan tampak bingung.
"Sorry," kata Niko saat Emma menatapnya dengan wajah seksi. Dia menjauhkan tangan dari punggung Emma, dan Emma refleks berdiri dan meninggalkan hair dryer di meja rias. Niko dapat melihat Emma setengah berlari dengan syok dan berbaring lalu menutupi diri dengan selimut.
Niko mengeringkan rambut dengan terbengong-bengong apa yang sebenarnya dia baru lakukan. Mengapa dia melakukannya. Membuatnya canggung. Aroma bunga pada shampo mirip bau rambut Emma. Rambutnya kering dan Niko berjalan ragu ke tempat tidur. Dia naik dan condong ke arah Emma. "Aku pergi ya."
"Ya," kata Emma dengan serak, membuat Niko menarik selimut itu dan mendapati Emma berlinangan air mata.
"Emma .... " Niko menarik dagu wanita itu agar menghadapnya, dan kelopak mata itu bergetar. "Sorry." Semakin merasa bersalah karena gelengan Emma.
"Beristirahatlah sebentar," lirih Emma ragu. "Jangan langsung pergi dan membuat kita canggung. Lupakan tadi."
Niko mendadak merasa sangat buruk karena perkataan Emma. "Ya, tak usah dipikirkan. Tidurlah, bukankah besok pagi kamu harus mengantar Donna," katanya dengan tidak ramah seolah ada sesuatu mengganjal di hati.
Niko menghapus air mata dari pipi wanita itu. "Tidak perlu menangis, mungkin kita tidak salah. Kita jujur pada perasaan diantara kita. Itu hanya sebatas kenyamanan, tidak lebih dan tidak ada yang spesial dari itu. Kau dan Sean, sedangkan aku dan Lena. Ya tetap seperti itu."
Emma terkesiap karena nada dingin itu, Niko langsung menjauh dari atasnya dan tidur di samping dengan memunggungi. Katanya lelaki itu berniat akan pergi, tapi justru tidur? Emma tak berani berkomentar, dan memilih ikut memunggungi.
Niko terpejam. Alih-alih memikirkan Emma, dia bimbang dengan waktu kelahiran Lena. George telah dibereskan, Shinta ditahan di kantor polisi, tetapi dia belum tahu lokasi kedua orangtuanya. Dia justru tak sengaja membantu melindungi David dan Marcho dari orang-orang berbahaya itu .....
Lelaki itu berbalik dengan gelisah dan mendapati Emma yang terpejam dengan napas tampak sering ditahan. Niko menangkup kelopak mata Emma. "Kita cuma berteman, jadi maaaf. Lupakan tadi," katanya dengan penuh sesal.
"Aku terlalu frustasi, Em. Aku sangat merindukan Lena," imbuhnya.
"Berhenti bertindak gila. Lena itu istri orang!" Emma mendekati Niko, lalu duduk di atas Niko. Emma tercengang merasakan kelelakian pemuda itu yang sudah keras. Dia tidak ingin terlihat takut. "Kamu menyakiti diri sendiri, memanipulasi dirimu apa menyenangkannya. Lena tidak menyukaimu!"
Niko menarik jarinya yang panas dari tertindih lutut Emma, dia mengibaskan tangan sedikit dan tetap menatap Emma. "Lalu apa?"
"Em, sebelum itu," suara Niko parau, dia menjatuhkan telapak tangannya di lutut Emma, menyusup di balik dress dan membuat pola rumit di paha itu dan yakin Emma merasakan miliknya yang berubah. Jarinya semakin naik ke atas sampai membelai pinggang itu. "Kenapa, diam Emma Sayang? Kau merasakan kasarnya kain kasa dikulitmu? Bahkan ujung jariku kesakitan, tetapi bagaimana bisa kau membuat aku bergairaaaah," suara Niko serak.
"Kamu idiot," kata Emma dengan penuh penekanan dan kalimat itu mampu menghentikan belaian Niko. Lelaki itu terpejam dan bibir bengkak kemerahan keunguan akibat pukulan itu tampak bergetar.
"Aku payah." Niko menghela napas kasar, dia membuka mata dan merasakan Emma mendekatinya. Wanita itu tidur di atasnya. Niko tak berkata-kata lagi, bahunya bergesekan dengan kening Emma.
"Kau kekasih Sean, berselingkuh denganku," kata Niko dan tertawa getir.
Emma merasakan deguban kuat jantung Niko. "Aku tak ingin beranjak dari orang idiot ini!" Emma merasakan ciuman bibir bengkak itu di keningnya, sebelum Niko menggulingkannya ke samping, pria itu menarik pinggangnya hingga merapat.
"Kau harus mulai berpikir untuk memutuskan Sean." Niko menggeser tangannya ke punggung dan mendekap Emma.
"Kamu .... Lepaskan Lena," tegas Emma menyentuh leher Niko.
"Apa kau mau jika menukarnya dengan hidupmu?" Niko menatap mata Emma. Dia tersenyum mendapatkan kebingungan di wajah Emma. "Itu artinya, menjauhlah dari Sean."
"Ya, asalkan kau pulangkan Lena kalau begitu."
Pandangan Niko meredup, dari tatapan yang tampak tidak ada keraguan. "Cium aku dan panggil aku Kakak."
"Kamu harus janji dulu pulangkan Lena."
Mengatubkan bibir, Niko gemetar. "Dia hidupku, Emma!" Niko lalu berbisik. "Tapi aku kini tak pantas untuknya."
"Dia sudah bersuami! Hapus cintamu. Semua itu semu. Tolong jangan manipulasi dirimu sendiri!"
Emma duduk dan meraba pinggul Niko. "Kau mau ini? Kau mau aku putuskan Sean?" ..... Sebenarnya hubungannya dengan Sean masih abu-abu, dia belum resmi menjadi pacar Sean. "Aku juga mau kau lupakan Lena dan beralih padaku!"
Niko tersentak merasakan tangan wanita itu masuk ke dalam celananya. "Emma!" Dia terpejam dan melenguh. Menahan tangan itu, tetapi .... Ini pertama kalinya dan itu tak tertahankan. Wanita itu tetap keras kepala dan Niko merintih, bernapas tersengal dan menyerah membiarkan Emma.
Pikirannya berkecamuk, tetapi Niko mengalami pelepasan.tanpa di duganya. Emma menarik tangan itu keluar dengan tangan basah berbau pandan, lalu ang langsung dilapkan ke selimut di samping. Wanita itu tidur di atas dadanya dan memeluk lengannya.
Niko mengatur napas saat Emma terus memandanginya. "Kamu nakal sekali."
"Berjanjilah, lupakan Lena! Perbuatanmu jauh lebih tidak benar."
Niko memejamkan mata dengan hati sangat sedih. Dia tak pantas untuk Lena setelah membunuh George, apalagi karena kesalahan dengan Emma. Hatinya begitu tak tenang, menguras mentalnya. Haruskah dia menyerahkan diri kepada polisi. Dirinya menjadi tak siap menemui Lena.
Ciuman lembut mengejutkan tidur Niko, pria itu mendapati Emma yang bernapas sering dan menyentuhnya di mana-mana. Awalnya, dia akan marah tapi saat membaringkan wanita itu ke samping, ternyata wanita itu dalam kondisi tidur.
...****************...
Dua hari kemudian .... Ketika David baru sampai rumah.
Emma memberikan sebuah nomer pada David dan lokasi Lena. Dia menatap David dalam-dalam. "Kamu berhutang padaku, Kak David."
David beruraian air mata dan memeluk Emma. "Aku tak perlu bertanya darimana kamu mendapatkan ini, aku berhutang padamu, Sayang." David mengecup kening Emma, wanita yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
David merasa beruntung karena dia tidak ada cedera termasuk juga Axel saat seseorang menembakkan basoka kemarin dan menargetkan nyawanya.
"Axel, siapkan penerbangan Kalimantan Tengah. Ahhhhhh, pinjam jet pribadi milik Paolo." David tersenyum bahagia.
Oh, benarkah aku akan menemukan Lena dan bayiku! Semoga kandungan istriku baik-baik saja. Semoga aku bisa melihatnya saat melahirkan.
__ADS_1