
"Emmmaaaaa!" teriak Lena. Dia bergidik histeris dengan menghalangi diri dengan bantal sofa.
"Charlie! Charlie!" Paolo mengejar anjing Labrador dan menghalanginya hingga dia terjatuh dan menahan anjing yang terus menggonggong ke arah orang asing.
Emma berlari dari dapur dengan membawa daging shirloin mentah. "Charlie! datang, Nak! Ya, kemari!" Kemudian Charlie datang saat Emma membuka pintu kaca. Dia melewati pintu kaca bersama anjingnya yang senang bukan kepalang.
"Fuh!" Paolo masih berbaring saat Emma menutup pintu taman bagian selatan. Dia mendongak pada perempuan Asia yang masih berjongkok di atas sofa sembari memeluk bantal. "Siapa kamu? Terapis pijatnya Emma?"
Lena menggelengkan kepala dengan masih gemetar. "Tetangga sebelah. Saya tinggal di sebelah dan baru berkenalan dengan Emma."
"Ops Sorry! Ku kira kamu terapis. Terapis Emma juga orang Asia, loh." Paolo bangkit, lalu berjalan sambil melirik pada perempuan yang masih ketakutan. "Charlie , a maksudku, anjing itu, takkan bisa kembali."
Lena menggigit bibir bawah dengan terus melihat ke arah pintu, sampai Emma kembali, dan menutup pintu kaca. Dia lalu di ajak ke atas menuju kamar Emma. Di kamar Emma, dia dapat menebak. "Sepertinya, kamar ini berhadapan dengan kamar kakakku."
"Kakak? Oh, aku baru ingat. Pria Asia tempo hari sepertinya. Itu kakakmu?" Emma lalu mengamati foto yang barusan ditunjukan Lena dari layar ponsel. "Ya benar! Oh! Itu Kakakmu."
Emma terdiam sesaat dan mengamati Lena yang humble, dia jadi ingin kenal lebih. Jika wanita ini istri David, artinya bukan wanita sembarangan. "Gimana besok kita jalan-jalan?"
"Aku tanya ke suami dulu, ya? Apa boleh atau tidak." Lena mengamati foto Emma yang wisudawan. Dinding itu terlapis wellpaper dengan gambar pohon zaitun yang berbuah.
"Emma, Kakek ini, pendiri mobil merek 'CHERO'? Pabriknya berdiri dari tahun 1994, kan?"
"Kok bisa tahu? Itu kakekku." Emma mendapati Lena berbalik badan dengan senyuman yang mengembang. Dia sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu.
"Wow, aku ngefans banged sama kakek Chero-"
"Banchero namannya. Biasa dipanggil-"
"Kakek Ben," timpal Lena yang langsung dibalas anggukan ringan Emma.
"Namun, pabrik milik kakek dari suamimu, itu jauh lebih duluan sukses."
"Sebentar. " Lena berjalan mendekat ke tempat tidur. "Apa kakekmu yang memiliki pabrik mobil itu?" Mata Lena berbinar.
"Maksudku, Anda cucu dari Kakek Ben?" Lena memekik kegirangan. Tak menyangka bisa melihat keturunan dari orang terkenal yang dulu dia kagumi. Dia takjub pada etos kerja dan inovasi Kakek Ben yang sangat brilian, terutama sekarang sedang jayanya pada inovasi mobil listrik dengan teknologi tercanggih.
__ADS_1
"Ya, benar pabrik mobil. Bulan lalu, kakek baru ganti desain logo terbaru." Emma menghempaskan diri ke kasur dan terpejam. "Berapa usiamu Lena?"
"26. Kalau kamu?"
"25." Emma terkikik. "Lena, batikmu bagus. Gimana kita bikin brand fashion." Emma masih teringat batik tadi, bila dia membuat desain baru dengan campuran batik .... Pasti, saingannya akan kalah kali ini.
"Brand fashion?" Mata Lena melotot. "Itu sangat keren!"
"Kamu tahu tidak? Negara kami selalu mencari kulit buaya dari Malaysia, Thailand, dan Kalimantan. Tiap tahun paling tidak butuh 200.000 unit, dan sekarang jauh lebih dari itu."
"Kalimantan-Indonesia? Wow!" Lena baru mendengar ini. Dia menyadari dunianya sendiri sangat sempit, padahal dia masih perlu banyak belajar tentang kekayaan dan potensi Indonesia dari segala penjuru dan pelosok.
"Iya peternakan buaya di Kalimantan, negara asalmu. Aku senang mengenalmu, Lena. Dari dulu aku ingin ke Indonesia, tetapi ingin tinggal dengan penduduk lokal bukan di hotel. Aku ingin mempelajari cara hidup mereka. Aku juga penasaran pada peternakan buaya dari Kalimantan."
Emma tersenyum lebar langsung bangkit, dia merasa sangat lapar kalau sudah berbicara soal bisnis. Bisnis menyenangkan, apalagi jika bisa diberbagai sektor berbeda. Otaknya akan semakin kreatif, bila dia terus mengasah dengan bidang dan dunia baru. Ya, selain juga karena tak mau kalah dari keeksis-an Paman Paolo.
"Lena, aku mau menginvestasikan biaya besar, untuk mendapat produk kulit buaya yang memiliki kualitas tinggi. Kita bisa melakukan ini, sepertinya. Asal kita memiliki tim solid. Bagaimana, Lena?"
"Aku suka. Aku suka ... bekerja." Lena mangut-mangut karena tatapan Emma yang sangat menyakinkan tanpa keraguan sedikitpun. Beda sekali dengannya. "Aku belum pernah berbisnis, Emm? Gimana dong."
"Tenang, tenang, Lena .... Itu sambil jalan-"
"Besok saja, Paol! Ini aku ada rapat penting. Anda pergi dulu sana, sana .... " Emma berjalan gesit, lalu mendorong bahu Paolo hingga di luar garis pintu kamar. "Minta Chef A saja dulu."
Lena jadi kaget sampai kepalanya terayun karena bantingan pintu. "Itu kakak kamu?"
"Paman. Dia pamanku. Heran, ya? Usianya, memang masih 35. Dia adik bungsu Mami. Dia menyebalkan jauh dari kelihatannya. Jangan terkecoh. Dia penuh kejutan?"
Lena mengangguk dengan pelan, lalu mendekati Emma. "Jadi, kita, tadi sampai mana?"
"Aku akan membuat proposal nanti malam. Tapi, mari kita pikirkan nama Brand dulu biar semangat." Emma berjalan bolak-balik di depan Lena, teman barunya pun ikut bolak-balik.
"Pakai nama kita?" tanya Lena, lalu menggigit kuku telunjuk sambil bolak-balik dengan gugup. Masa iya sih, aku bisa turun dan mencoba dunia mode?
"Ya, iyalah. Masa nama paman atau atau nama Kakeku dan kakek mu! Ntar dikira mereka merger perusahaan, dong?" Emma bercanda dengan muka sangat imut.
__ADS_1
"Aha!" celetuk Lena, bersamaan dengan Ema yang berkata, "aku ada ide!"
⚓
David baru keluar dari lift khusus, kantor induk dari pabrik minuman instannya. Dia langsung mundur saat Shinta hampir menghambur padanya. "Shinta .... "
Sontak security langsung menghadang dan meminta Shinta untuk menjaga jarak. Namun, Shinta menatap David dalam-dalam. Dia terdiam sejenak dengan berkedip pelan.
"Kenapa, Shinta? Hati-hati, perut kamu sudah mulai membesar. Kamu bisa jatuh."
"David, tolong maafkan aku. Mari kita makan malam."
"Untuk ...? Maaf Shinta." David menarik nafas dalam dan berusaha tenang , mengetahui Marcho sudah tidur dengan Shinta membuatnya semakin tidak nyaman saat melihat Shinta. Dia merasa bersalah karena dia yakin itu terjadi karena Shinta mengira pria itu adalah dia.
"Istriku sudah menungguku untuk makan malam." David dengan wajah datar, matanya menyipit saat Shinta memegangi kepala. Dia melirik security wanita, hingga security wanita itu langsung datang dan menangkap Shinta yang sempoyongan.
"Pastikan dia baik-baik saja menggunakan dokter, minta supir kantor untuk mengantarnya kemanapun dia ingin pergi." David maju dua langkah, lalu berpaling ke belakang. "Shinta, jika kamu mau akting menggunakan bayi itu, nikmati pertunjukan mu sendiri. Maaf, aku terburu-buru."
Shinta mengguncang lengan security wanita dari tangannya. Dia mengumpat di dalam hati karena David tahu triknya dan meninggalkannya tanpa ada rasa kasihan. Ya ampun! Mengapa pria setampan dia dulu aku sia-siakan. Apa aku harus menggunakan Marcho untuk menghancurkan mereka?
David memasuki mobil yang baru dibuka. Dia melirik jam 7 kurang 15 menit saat Axel langsung mengemudi. "Semua beres?"
"Nyonya bermain di tempat nyonya Emma, dan pulangnya dalam keadaan wajah yang sangat bersinar seolah dari mata itu nona menyimpan banyak keinginan dan rencana brilian." Kemudian Axel mendapat laporan dari earpiece.
"Aa ada kabar baru, Tuan David. Barusan, Sean mengejar pencopet dan menghajarnya."
"Copet?" David tertawa dan wajahnya menghangat. Dia menatap kota malam Naples yang menjadi indah karena keberadaan seorang istri yang sedang menunggu dan sudah memasakkan menu makan malam untuknya. "Lalu?"
"Sean tak terluka dan copetnya telah dibawa ke kantor polisi."
"Uhum? Bagus. Setidaknya, aku tidak perlu mengkhawatirkan dia."
"Tuan, Paolo sudah kembali dari luar negeri."
"Huh?" Pupil David langsung melebar. Bibirnya terkatub dan rahangnya makin mengeras.
__ADS_1
"Apa kita perlu menjamu dan mengundangnya untuk makan malam sebagai pengenalan istri Anda?" Axel melirik ke spion.
Sang asisten tahu, mereka bermusuhan bertahun-tahun. Namun meskipun demikian, Solah tidak ada yang berniat untuk saling pindah dan masih tetap memiliki tempat tinggal yang bersebelahan. Jantung Axel berdegup kencang, berharap tidak ada pertumpahan darah lagi seperti terakhir kali sebelum perpecahan mereka.