
Malam itu malam terakhir berada di Swiss, David menyudahi pekerjaannya. Belum selesai dia memeriksa analisis kemajuan perusahaannya, tetapi dia sudah pusing karena keinginan yang terpendam.
Kakinya melangkah cepat ke kamar mandi, dan mencoba membebaskan benihnya dengan membayangkan tubuh sang istri, tetapi tak berhasil. Dia keluar dari kamar mandi dan menatap sang istri yang hanya memakai singlet dan celana inti. Mata biru itu kian berbinar dan semangatnya kian membuncah.
Dengan perlahan, David merangkak ke tempat tidur dan menggoda sang istri dengan segala upaya. Sang istri melenguh, tetapi kelopak mata itu masih tertutup. "Mah, olahraga, yuk."
"Uhm... Sepatunya taruh ditempat, Pah. Jangan dibawa masuk, kotor!"
David menepuk pipi sang istri yang mengigau. "Mah.... Papah pingin." Pria itu mengecup kelopak mata Lena sampai wanita itu memerjapkan mata berulangkali.
Lena membuka mata dan langsung duduk, tampak sang suami senyum-senyum di depannya. "Minggir, Pah. Mau pipis."
David mengangguk lalu menyingkir. Pria itu pun duduk di ujung tempat tidur dengan gaya cool dan memandangi sang istri yang berjalan seperti zombie.
David melorotkan celana tidur dan menutupinya dengan selimut. Ditunggu - tunggu sang istri tak kunjung keluar. "Mah, lama amat...."
David memakai celana kolor lagi, lalu menyingkap selimut dan menyusul sang istri. "Oh!" David duduk di pinggiran bathtube dan menepuk pipi mungil . "Malah tidur di kamar mandi?"
"Mau pipis, ngantuk....." suara Lena parau, matanya tak bisa terbuka saking ngantuknya.
David berdiri sambil memapah tubuh sang istri, lalu melorotkan celana inti berwarna salem dan mendudukkan di closet. "Sudah cepat pipis."
Suara air seni mengucur dan masih saja Lena terpejam. kejantanan David langsung ke dalam mode off, karena tak tega pada Lena yang begitu mengantuk. "Bisa bersihin sendiri gak?"
Lena menggelengkan kepala. Dia membuka mata dan menemukan dirinya sudah di tempat tidur. Perasaan dia tadi di kamar mandi. Lena melirik jam dinding sudah jam empat pagi, tampak David tidur sambil mengorok. Lena pergi untuk pipis ke kamar mandi, lalu membasuh wajah. "Apa tadi papah cebo**kin aku, ya?"
Sambil mengelapi wajah dengan handuk, dia menuju kulkas. Handuk dikalungkan di leher, dia meraih kue ke dalam piring, lalu membuat teh chamomile. Dengan cepat Lena membawa teh dan kue ke Sofa dan menyalakan TV. Setengah kotak kue telah dimakannya. Mendadak perutnya mual.
__ADS_1
"Mah...." David langsung duduk saat mendengar Lena muntah-muntah. Dia memaksa membuka mata dan mendapati sang istri kelimpungan di depan westafel.
Pagi-pagi sekali, David dibuat kelimpungan pergi mencari buah zaitun matang. Setelah memasuki mall ke 5, dia baru menemukan apa yang dicarinya.
Siang itu Lena senyum-senyum sendiri memakan buah Zaitun dan kacang almond sambil memandang salju yang dilewati di luar kereta. Saat Lena ke kamar mandi, sang suami mengikutinya, bahkan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Lena selesai pipis dan membersihkannya. "Papah, mau pipis?"
David memeluk sang istri dan memagut bibir sang istri dengan penuh keinginan terpendam. Dia terus menggoda karena sudah tak tahan lagi. Pemandangan latar pegunungan bertutup salju, membuat David bersemangat dalam memandangi kecantikan istrinya yang dipeluknya dari arah belakang. Kamar mandi di kereta luas dan bersih, David terus menciumi sang istri dan mulai melorotkan celana sang istri.
15 menit Kemudian, Lena berjalan tertunduk dengan perasaaan sangat malu. Meski kursi yang dilewatinya kosong, baginya adalah hal bodoh melakukan hal 'ITU' di sarana publik. Dia duduk dengan gugup, menutupi wajahnya dengan tangan yang masih bau sabun dengan aroma strawberry.
Berikutnya Lena merinding saat mendapat pelukan di bahu. Sang suami mengecupi kepalanya dan berusaha agar Lena tak menutupi wajah. Akan tetapi Lena hanya menggelengkan kepala.
"Terimakasih, Mah? Lemes deh .... " bisik David sambil menggoda sang istri dan tertawa kecil karena melihat wajah Lena memerah seperti tomat.
Lena sampai di destinasi terakhir Gunung Matterhorn. Gunung paling terkenal di pegunungan Alpen dengan bentuk Piramida. Lokasinya yang terletak di perbatasan Swiss dan Italia, menjadi tempat strategis untuk para turis mampir ke tempat indah ini. Terutama siluetnya yang anggun menghadap desa Zermatt di Swiss.
"Papah, lapar, ya? Mau milikku?" Lena melihat miliknya, yang satunya lagi masih utuh dan tertutup di dalam aluminium voil, untuk menjaga tetap panas.
"Kan, tadi habis 'Itu' jadi sekarang laper."
"Papah nakal ...." Lena menyodorkan mienya dan David cepat-cepat menyeruput. Lena mengamati suaminya dengan gugup. Dia mendapat kabar dari Emma bahwa David mengundang Niko untuk membantu Sean yang terus mengurung diri di kamar dan itu berhasil.
Lena mengusap lengan sang suami dengan gemas. Padahal, David itu cemburuan. Akan tetapi, masih berusaha memikirkan perasaan Abang Sean.
__ADS_1
Sorenya, Lena menginap di sebuah Villa. Dia letih sekali, karena sejak sampai di Villa, David telah meminta jatah dua kali. Padahal saat di kereta sudah satu kali. Kini sang suami tidur dengan pulas, mungkin kalau ada kebakaran, Lena yakin suaminya takkan bangun.
Tablet kerja milik David diraih Lena dan di charger. Sebuah notifikasi masuk mengganggu perhatian Lena karena tampak foto PP Shinta. Api cemburu membakar jiwa Lena karena Shinta mengirim foto, dengan memakai baju tradisional Jepang, dan wajah dimakeupin ala perempuan Jepang.
-Dav, tempat Impian kita. Kau ingat?-
"Apa sih, maksudnya? Ingat-ingat, itu urusan elu." Dengan menunjuk-nunjuk layar dengan gemas Lena akan memblokir, tetapi sebuah foto bu*gil mampu menunda niatnya. Astaga ini perempuan! Sengaja deh!
Sebuah video masuk, langsung diputar Lena dengan tangan gemetar. Shinta yang memakai pakaian tradisional Jepang, lalu dilepaskan itu satu-satu sampai menampakkan perut hamil. Pakaian inti atas telah dibuka dan Shinta membelai diri sendiri dengan cara yang sangat menggoda. Sampai kemudian sebelum Lena melihat celana inti itu dilepas, dia langsung menekan pause dan menghapus video. Memblokir nomer Shinta, lalu menaruh tablet itu di kasur.
Di kamar mandi Lena muntah-muntah. Kenapa dia jadi jijik. Dia kembali dengan badan sangat lunglai dan langkah terseret. Selain karena semua isi perutnya terkuras, dia juga kena mental.
Apa Shinta sering seperti itu? Aku selama ini hanya membuka ponsel David, tak sampai tabletnya. Jangan-jangan di laptop David ada ....
David terbangun setelah meraba-raba di sekitarnya tidak ada sang istri. "Mah .... " David bangun sambil mengucek mata. Dia tidur dari petang setelah berhubungan dan belum sempat membersihkan diri, kini sudah jam 11 malam saja.
Dia melirik tablet di nakas, dan diraihnya. Saat layar dinyalakan, terlihat nomor baru tak dikenal, tetapi PP tampak foto Shinta. Alis David terangkat, karena perasaan dia tidak membuka chat. Dia semakin terkejut pada tulisan blokir, perasaan dia belum memblokir nomor ini. Kalau nomer Shinta yang lama, sudah diblokir. Tunggu, jangan-jangan Lena memblokir karena ....
David masuk ke kota penyimpanan. Dia memulihkan riwayat chat dan video. Pikirannya jadi merajalela jangan-jangan Lena membuka foto yang tidak harus dilihat.
"Pah? Kamu ngapain!"
Tablet terlepas dari tangan David karena kaget dan sang istri yang wajahnya begitu kisut seperti kertas lecek dan sangat pucat, datang mendekatinya. David mematung karena tangan mungil terlebih dulu meraih tablet dari kasur.
"Eh!" David meringis dan otaknya berpikir cepat.
__ADS_1
...----------------...