Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 52 : PERNIKAHAN


__ADS_3

"Ndok, Keluar, ada temanmu."


Lena yang barusan tidur karena kelelahan, langsung terbangun. Kamarnya sudah di dekor cantik dengan bunga warna warni, tetapi sprei putih akan diganti besok pagi. Begitu keluar dari kamar, teman-teman kerjanya sudah langsung memberondongi pertanyaan, terutama Yuni.


Sore itu, Lena kembali duduk di halaman rumah yang sudah dipasang Tratag. Seharian dia terus mengobrol dengan keluarga dari ayah-ibu, sekarang teman kerja. Setelah teman kerja, datang pula teman SD, SMP, SMA terus berdatangan. Mereka bilang tahu dari grup sekolah, lalu tak lekas pulang memenuhi Tratag.


Lena yang sudah letih, masih berusaha terus tersenyum. Matanya terasa begitu berat, dia membawa 15 orang teman perempuan ke dalam kamar, yang jadinya tambah pengap. Mereka ada yang tiduran di bawah, ada yang empet-empeten di sampingnya, ada yang metikin kembang yang sudah di dekor.


Terserah deh. Kok temannya tidak tahu diri banged sudah empat jam tak pulang-pulang. Padahal besok dia harus siapin tenaga. Mana musik di depan juga keras. Iya kalau rumahnya berdinding bata di bagian dalam, sepertinya akan bisa meredam. Pokoknya disini, bising ngalahin pasar tradisional. Untung Marcho datang menjemput Kak Stef, kasihan kalau di sini pasti nggak bisa tidur. Tumben, David hari ini tidak SMS, telepon atau datang. Kata Kak Stef, David sedang sibuk.


Lena bangun karena ada suasana yang berbeda, ternyata teman-temannya sudah pergi. Dilihatnya jam 8 malam, dia sudah tidur satu jam lumayan, tetapi .... ponselnya bergetar. Lena mengangkat telepon Kak Stef. "Hallo, kak, aku baru bangun." Namun, panggilan telepon itu mati.


Suara musik rebana mati, hanya terdengar suara mesin diesel di kejauhan. Sampai dia mengenali suara David yang menggema dengan mic, diapun berhenti dari mengulet untuk menyimak.


“Ada tempat di dunia ini, di mana jantung berdetak kencang, di mana Anda tetap terengah-engah karena emosi yang Anda rasakan, di mana waktu berhenti dan Anda tidak lagi berusia. Tempat itu ada di pelukanmu di mana hati tidak menua, sedangkan pikiran tidak pernah berhenti bermimpi.


Tidak ada orang yang bahagia seperti, orang yang tahu bahwa mereka dicintai. Seperti itulah aku, bahagia karena cintamu.


Menjadi milik seseorang berarti memasukkan idenya sendiri ke dalam idenya, dan menarik napas kebahagiaan darinya.


Dibutuhkan cinta yang besar untuk tinggal di sebelahmu, Nanaku.


Kamu kadang-kadang bagai 'jendela' tempat aku mengucapkan kata-kata di malam hari, saat hatiku bersinar.


Berbahagialah mereka yang akan selalu mencium melampaui bibir, melintasi batas kesenangan, untuk memakan mimpi.


Cinta, aku di samping jendela kamarmu .... Aku tahu kau mendengarkanku. Lihatlah aku di samping kamarmu dengan kecerdikan perasaanmu.


Kamu akan melihat tanah yang penuh dengan bunga ajaib dan aku akan menjadi pria tertinggi di sini untuk memberimu kesejukan malam ini ....


Wahai sayangku Lana Paramita, hal terindah dalam hidup. Perkenankan Aku David Leora, untuk membuatmu tersenyum di malam bersejarah ini.


Bersama teman-teman, keluarga dan tetangga kita, bersenang-senang bersama dengan pizza Itali, cola-cola dan hiburan kecil menurut tradisi SERENADE kami. Buka jendelamu, Nana .... "


Lena mengerutkan kening dengan jantung berdebar kencang. Dengan perasaan campur aduk. Lena siap marah, karena David membuatnya malu. Begitu jendela kamar dibuka, mata Lena ... membulat dengan sempurna seakan mau lepas dari tempatnya, dia ternganga dengan takjub.


Tampak wajah David menawan, dibelakang David ada para tetangga dan sepertinya pria-pria dan perempuan Italia telah berdiri di sekitar David. Mereka semua memegang lampu LED dan balon warna-warni. Halaman samping rumahnya menjadi terang benderang dan juga semua temannya yang jago tadi kini menggoyang-goyangkan lampu LED ke atas.


"Apa ini?"Lena masih terkejut karena tanah rumput menjadi penuh bunga mawar merah dan lampu warna-warni, dia serem kalau itu keinjak.Ya ampun itu berapa duit? Kenapa bagus banged. Warna-warni.


Stefanie mengulas senyum pada tradisinya yang berhasil membuat Lena terkejut. Acara Serenade ini berhasil menarik perhatian Lena dan lingkungan sekitar. Semua orang menikmati puisi yang dibacakan Davd.


"Oh seperti ini?" tanya Sean yang duduk di samping Stef. Sean dan Stef duduk di kursi yang berada halaman,.sembari menyaksikan dari layar proyektor yang menampilkan wajah Lena dan David yang terekam jelas.


"Itu simbolis bagi calon suami untuk membuat komitmen yang serius kepada calon istrinya, sehingga mendapat persetujuan pasti, dari ayah mempelai wanita. Pada dasarnya pernyataan cinta di depan umum, di depan keluarganya tetapi juga di depan sesama warga desa atau orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar sini."


"Waktu pesta pernikahan Anda juga begitu?" Sean menatap dalam curiga pada wanita itu. Seminggu lalu, Marcho memeluk adiknya, lalu Marcho memegangi tangan Anna dengan bernyanyi di depan panggung restoran, kemarin justru membawa Anna ke rumah sementara ada istrinya. Jangan-jangan Lena akan mengalami nasib serupa seperti Stefanie. Awas kalau berani aku buat kamu lumpuh seumur hidup, Dav.


Stef mengangguk dan tersenyum, terutama saat Lena baru keluar dari ruang tamu dengan diikuti Sumarni. Semua mata tertuju pada Lena yang terus melotot dan berbinar, terutama saat David memberikan tujuh balon warna mejikuhibiniu.


"Bahkan hari ini adalah momen yang memberikan emosi yang sangat kuat. Ini adalah ritual khusus yang jauh lebih bebas, tetapi selalu dengan kecintaan yang besar pada karakteristik 'cerita rakyat' Italia. Ini adalah momen penuh kegembiraan yang menggabungkan emosi dan kesenangan. Mereka pasti takkan melupakannya," imbuh Stefanie. Dia juga teringat saat Marcho membawa teman-teman satu kampus untuk malam Serenade.


"Ini sangat istimewa! Ini sebuah kesempatan untuk menceritakan kisah pernikahan mereka dari sudut pandang yang tidak biasa dan menarik pada anak cucu kelak." Marcho yang baru datang menimpali. "Stef pindah duduk sini." Marcho tak suka Stef dekat-dekat Sean.


"Sini saja." Stef dengan dingin. Sean melirik ke belakang ingin menertawakan pria mata keranjang ini. Kemudian Sean makin tertawa karena Marcho pindah ke sebelah kiri, justru Stef pergi dengan melewati Sean.


"Kau menertawakan ku?"


"Kepedean," balas Sean lalu berdiri dan mendekati Stefanie. Sean sadar betul tampang tidak kesukaan Marcho saat dia mendekati Stefanie.


"Apa ini tradisi penting?" tanya Sean penasaran dan Stef meliriknya sebentar, seolah baru sadar bahwa dia menyusulnya.


"Serenade itu pasti kejutan. Jadi sangat penting bagi mempelai pria, untuk memiliki saksinya sebagai sekutu. Makanya itu sebelumnya acara ini berlangsung, kami memimn izin dulu kepadamu, terutama ibu dan ayah untuk bekerjasama memberi kejutan. Emosi besar pertama dari serenade itu adalah melihat keterkejutan tergambar di wajah Lena!"

__ADS_1


"Adikku benar-benar terkejut Hahaha."


"Romeo, ajak Mamimu ke sini dong?" pinta Marcho pada Romeo yang asik dengan mainan lampu LED.


"Papi, aku mau pergi ke Tante dan Paman."


"Jangan dulu, Nak. Paman dan Tantenya nanti aja. Coba kamu tanya sama Mami, boleh tidak ke Paman dan Tante?" Marcho menunggu sang putra yang langsung berlari ke maminya. Namun, itu tidak sesuai harapan. Bukannya, Romeo mengajak maminya ke sini. Justru Romeo memberikan balon warna merah ke Lena, lalu David menggendong Romeo sambil bernyanyi.


Rombongan box-box pizza baru turun dari mobil box dan ditata prasmanan yang ditata di halaman rumah tetangga yang julid. David melalui Axel sudah memberikan sejumlah uang pada tetangga agar tidak julid beberapa hari lalu dan untuk menyukseskan acara ini. Untung mereka senang dan justru menawarkan segala bantuan.


Serenade juga merupakan kesempatan untuk bersenang-senang di malam hari bersama teman, kerabat, dan tamu. Leora dan orang tua David datang tepat saat Lena tadi keluar dari rumah. Mereka duduk di kursi di jalanan yang sudah di Tratag tak mau mengganggu kesenangan David dan Lena.


Balon warna-warni, buket bunga mawar merah sebagai hadiah untuk Lena masih digenggam Lena. Suasananya ceria dan penuh warna. Lena menggoyangkan kaki ke kanan dan ke kiri sambil memegang tangan mungil Romeo.


Para pengiring wanita, yang adalah sepupu Lena, turut menari bersama sembari streaming Instagram. Tak ketinggalan teman-teman Lena. Mereka terus bergantian karena mendapat arahan dari anak buah Axel, agar tak memenuhi depan rumah, dan memastikan pergerakan Lena dan David tetap nyaman.


Bagi Lena ini adalah kejutan mutlak. David bernyanyi sambil menyewa musisi lokal dan sebagian penyanyi dari Italia. David menyanyikan dengan sempurna dan menjadi hiburan bagi semua orang, karena pesona yang begitu kuat, layaknya Dewa Eros yang terkenal tampan dalam mitos Yunani.


Sedangkan dari pihak Lena menyiapkan puding, jenang, bubur ketan santen untuk menemani santapan malam.


Pesta bersama orang tersayang dan tetangga dengan kesederhanaan dan suka cita


serenade pun berakhir jam 11 malam. Waktu sangat diatur Axel atas arahan Kakek Leora, agar semua bisa beristirahat.


Lena sampai minum obat flu yang bikin mengantuk, karena dia pasti tidak akan tidur menunggu harus besok. Sebelum sempat tidur, bapak memasuki kamar dan duduk di kursi menghadapnya.


"Jadilah istri yang berbakti pada suami kamu, Ndok. Terima segala kekurangannya. Kalau dia marah kamu diam, ingat pepatah api tak boleh disiram bensin nanti meluap-luap membakar semua, kalau kalian berantem hebat menjauh dulu sampai emosimu surut, baru berbicara lemah lembut walau kau marah," kata sang ayah.


"Baik, bapak. Aku ingat-ingat."


"Satu lagi. Apa yang baik dari David, kamu ikuti. Yang buruk, jangan diikuti. Kalau kamu tidak terima akan sesuatu yang menurut kamu benar, jangan dipendam di hati, nanti jadi penyakit. Ingat, Nak, niat semua dari Allah. Bapak senang karena terlihat bahagia. Semoga Allah selalu melindungimu. Bapak selalu mendoakan dimanapun kamu berada." Sujatmiko memeluk putranya, dia menggosok matanya yang meneteskan air mata kebahagiaan. "Kamu cepat sekali tumbuh, ya, padahal kemarin masi segini."


Lena tertawa dengan mata berkaca-kaca saat ayah memperagakan dia setinggi kursi yang di duduki bapak. Bapak pun keluar dari ruangan setelah mengecup kening. Dia mendapat hadiah tasbes kesayangan bapak, katanya dia harus banyak berdzikir dan mengingat Allah untuk ketenangan rumah tangannya.


Lena melihat kepergian ibunya yang masih terisak, padahal dia belum sempat menjawab. Dia jadi menangis sendiri dan mewek. Saat Abangnya baru masuk , Lena yang berdiri dan menangis di dalam pelukan Abang. Tidak seperti ayah ibu, wajah Sean sangat datar, malah jauh terlihat galak.


"Kamu mau nikah kok cengeng, sudah batalin saja."


"Kakak Sean Sujatmiko .... " rengek Lena sambil mengeluarkan ingus di kaos bagian perut kakak. Lena sampai menarik kakak duduk di kursi dan Lena sendiri duduk di lantai. "Kakak tidak mau bilang apa-apa?"


"Tinggalkan saja David. Kalau sampai dia macam-macam aku patahkan tilang rusuk dan pahanya."


"Kakak .... "


Sean tak bergeming, dia meraih ponsel. "Niko mau minta maaf sama kamu. Belum sempat Lena menjawab, panggilan itu berlangsung. Sean meninggalkan hp di pangkuan Lena dan dia keluar.


"Lena," panggil Niko dengan isak menatap dagu sang kekasih yang telah diserobot bule.


Lena menghadapkan wajahnya tampak mata Niko merah. Niko yang tak pernah menangis kini begitu suram dan seperti anak kecil yang begitu kecewa. Mulut Lena terkunci, susah dijelaskan. Dia tak membenci, tapi tak lagi mencintai. Hanya saja Niko sesuatu yang berbeda, tetapi tak sampai untuk menjadi sosok suami. "Niko .... "


"Aku tetap mencintaimu ... dan mungkin menunggumu, Mita."


"Jangan menungguku .... aku tak mencintaimu lagi." Lena dengan datar walau sebetulnya dia sakit hati karena menurutnya kalimat ini terlalu kasar.


"Aku ingin datang, tetapi tak mampu."


"Kamu tak perlu datang, karena akan menjadi kecanggungan untukku dan semuanya, terutama calon Suamiku yang mungkin akan marah dan menjadi tak nyaman di hari kebagiaan kami."


"Len .... "


"Marsha juga wanita baik ... aku pernah cemburu padanya. Sudah, ya, Mas."


"Dengar dulu! Aku tak bisa membelikan mu hadiah, tolong terima tabungan kita untuk kamu membeli hadiah sendiri yang kamu inginkan. Biarkan aku tetap mengiriminya setiap bulan."

__ADS_1


"Tidak Mas, Maaf. Aku akan mengambil bagian tabunganku sendiri. Rekening itu akan kututup agar kamu tak dapat mengirimkannya lagi, dan uangnya akan kutitipkan pada Abang."


"Kumohon Lena, aku tidak bisa tanpa-"


"Niko, maaf akan kumatikan. Aku mencintai David dan itu tak bisa berubah. Kamu akan mendapat lebih baik." Lena memutus panggilan.


Niko di kamarnya melihat nanar ponselnya. Dia membanting-banting ponsel itu, meremas dan melemparnya ke sembarang arah. Suara pecahan terdengar runtuh mungkin itu cermin atau kaca entahlah. Kepalanya tersembunyi di balik tangan dan kembali dalam tangisan kepedihan.


...----------------...


Sumarni membawa membawa baju pengantin pagi itu saat Lena mandi. Dia memasang seprai halus dan merapikan tempat tidur. Lalu menempatkan beras, gandum, dan kelopak mawar di atasnya. Sesuai arahan Stefanie.


Bilqis datang jam 7 pagi, lalu memberikan karangan bunga ke Lena. Dia menyematkan kerudung pengantin yang dibelinya, ke kepala Lena yang telah berhijab. Stefanie bilang Lena mengikuti adat dengan tidak melihat cermin.


Semua tamu undangan telah memenuhi halaman dan jalanan. Layar proyektor besar di lapangan yang selisih tiga rumah di sisi kiri, juga terdapat satu layar proyektor yang menampilkan pernikahan mereka. Makanan juga terus dipenuhi di sana untuk orang lewat.


Axel sudah memastikan bahwa tidak ada tamu yang mengenakan pakaian hitam atau putih yang memasuki area. Bahkan ada satu tukang masak, lalu diberi kaos selain warna tadi. Ketika ada lima pengunjung yang melanggar, langsung diberi batik untuk mengganti pakaian putih mereka. Padahal sudah jelas ditulis dalam undangan dilarang memakai baju hitam dan putih.


Lena keluar dari pintu dengan diapit bapak ibu, dan dibelakangnya diikuti enam pengiring yang juga tak kalah ayu dari Lena.


Bagi keluarga David, celakalah tidak memiliki pengiring pengantin. Orang Mesir kuno percaya bahwa pada hari pernikahan, roh jahat berkumpul di tempat pernikahan untuk merusaknya. Kehadiran pengiring pengantin yang mengenakan pakaian anggun dan berkumpul di sekitar mempelai wanita berfungsi untuk membingungkan dan mencegah roh untuk mengidentifikasi mempelai wanita.


Semua mata tertuju ke arah Lena karena pengantin pria dan keluarga David telah duduk di tempat masing-masing. Keluarga Ardian duduk di bagian depan dengan warna pakean senada, tepatnya di belakang meja akad.


Bibir David bergetar, begitupun hatinya. Dia terus mengatur nafasnya berulangkali. Tampak Lena seperti Dewi, jalannya sangat pelan, tegap anggun dan terus tersenyum, sepertinya tidak terlihat gugup, layaknya putri kerajaan keraton. Dia terpesona dan hatinnya semakin berdenyut dengan tak tertahankan.


Sampai Lena duduk di samping David, David memanggil Lena dengan berbisik dengan memberi tahu, dia seperti akan mati tenggelam karena terlalu nervous. Dia mencengkeram kuat-kuat tangan Lena di antara mereka, sambil mengelapkan keringat dingin di telapak tangannya. Ternyata dia tidak sendirian, karena telapak tangan mungil itu juga sama-sama berkeringat. David tak pernah mengira bahwa pernikahan akan semendebarkan ini.


"Mas, tenanglah sedikit. Tidak apa, " bisik Lena dengan meyakinkan saat penghulu menyiapkan berkas di atas meja. Micpun terdengar berbunyi makin membuat David terus berkedip dengan gugup, beruntung dia tidak jatuh pingsan.


Sebenarnya Lenapun rasanya tidak bisa bernafas karena tatapan semua orang. Dia menatap cincin di atas meja, dimana terdapat nama pasangan dan tanggal pernikahan yang diukir di dalam cincin kawin, khas Italia.


Kemarin sempat berdebat, menurut keluarga David cincin harus dikenakan DI JARI MANIS KIRI karena ini juga merupakan kebiasaan orang Mesir kuno. Menurut mereka, jari manis kiri adalah jari yang terhubung dengan perasaan melalui pembuluh darah yang langsung menuju jantung. Namun, untung David membelanya, karena bila di kiri pasti bapak takkan setuju.


Kak Stefanie juga bilang, cincin kawin tidak boleh dibeli bersamaan dengan cincin pertunangan, karena akan membawa banyak kesialan. Jika cincin jatuh ke tanah selama upacara, harus petugas yang mengambilnya dan bukan pengantin, pokoknya mereka sama banyak aturan.


David menarik nafas panjang saat tangannya menjabat tangan bapak Lena yang menjadi wali Nikah. Sujatmiko menatap dalam-dalam David, dengan di dalam hati terus mendoakan kebaikan jangan sampai David seperti oknum bule-bule lain yang banyak mencampakkan perempuan setelah di nikahnya.


"Saya nikahkan engkau ananda David Leora bin Ardian Leora dengan Lena Paramita binti Sujatmiko dengan mas kawin perhiasan seberat 30 gram , uang tunai 1.300.000 dan Satu buah Pabrik PT. Mutiara Pangan Indonesia karena Allah, dibayar tunai," ucap Sujatmiko.


"Saya terima nikahnya Lena Paramita binti Sujatmiko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Alhamdulillah," balas para tamu muslim menyambut haru.


Air mata Lena, David dan keluar mendesak ke sudut mata, dan jatuh di pipi mereka dalam keharuan. David mengenakan cincin pada Lena dan sebaliknya. Lena mencium tangan suaminya dengan penuh kegembiraan.


David memandang Lena yang berhijab dengan hati bergetar. Tak tergambarkan lagi betapa lepas semua perasaan yang selama ini berkecamuk dan ketakutan bila Lena menikah dengan Niko. Dia bahkan selalu terngiang saat hari kedua bertemu dengan Lema, bagaimana gigihnya wanita itu mempertahankan kesuciannya untuk Niko, yang membuatnya selalu dihinggapi api cemburu sampai sekarang.


Dia mencium kening perempuan ayu yang kini menjadi halal baginya. Dia menelan Saliva dan gugup akan seperti apa malam pertamanya nanti.


Mereka melakukan prosesi sungkeman pada orang tua mereka, karena adat dari ayah Lena. David dan Lena lalu memotong kue, sebagai simbol, lalu membagikannya pada keluarga terdekat dengan nampan, dengan mendatangi satu persatu. Kemudian sisanya dibagikan oleh petugas pada para pengunjung.


Petugas mengaturkan pada para tamu undangan bisa membawa kantong almond manis di masing-masing meja. David dan Lena berkeliling membagikan almond manis di atas nampan dan Lena yang akan menyajikannya kepada para tamu dengan sendok perak, dengan bilangan ganjil sampai keluar dari Tratag ke pak security penjaga pesta. Dimana di belakang Lena selalu ada orang yang membawa nampan berisi Almond untuk menggantikan nampan yang sudah kosong. Banyak anak- kecil yang senang memegangi nampan mini dari kertas dan berebut minta Almond dulu


David dan Lena tertawa riang, sampai memasuki dapur dan membagikannya untuk tukang masak yang akan mereka makan langsung.


Buket pemberian Mama Bilqis tadi pagi, dilemparkan Lena dari atas panggung di akhir siang. Secha yang sedang telepon, bingung dan meraih buket yang jatuh di ujung sepatu. Dia melihat sekitar dengan bingung mengapa orang memandanginya.


"Secha kamu dapat!" Sean yang masih duduk langsung berlari mendekati wanita itu.


"Dapat apa?" tanya Secha bingung dan mendapati Sean melihat tangannya.


"Kamu akan menikah!"

__ADS_1


"Pacarku baru putus dan selingkuh .... "Secha mengernyitkan kening, melihat senyum polos Sean. Dia lalu tertawa "Bagaimana bila menikah denganmu Hahahaha ... "


__ADS_2