Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
MAKAN MALAM


__ADS_3

Setelah selesai makan, Marcho berjalan ke arah balkon, pria dengan kemeja pendek berwarna krem dan celana jeans itu melihat ke arah Lena yang sedang menggelap mulut dengan serbet. Dia mengundang Lena dengan jarinya, sampai gadis itu menyusul. Tampak Sean asyik bermain HP sambil makan.


Marcho menarik nafas dalam sambil menikmati pemandangan lautan gelap yang hanya tersinari cahaya bulan. Jari-jarinya terus mengetuk pagar besi dengan gelisah. Aroma kenanga menerpa hidungnya hingga membuat Marco pun menoleh ke arah gadis di sebelahnya yang begitu sederhana, tetapi mampu membuatnya menjadi salah tingkah.


"Lena .... " serak Marcho setelah melihat Lena dari atas ke bawah.


"Ya? Memang mau ngomong apa lagi, Kak?"


Jantung Marcho terasa begitu mengkerut, ternyata begitu lebih sulit memiliki keberanian untuk berbicara dengan Lena, timbang dengan Shinta. Dia mendorong bahu mungil hingga duduk di kursi balkon, sementara dia berlutut di depan Lena dengan memegangi kedua tangan Lena.


"Lena, ternyata, aku sudah salah masuk kamar orang, tetapi aku justru berkata kurang pantas kepadamu. Padahal bukan kamu yang menghabiskan malam denganku malam itu."


"Apa maksudmu, Kak? Lalu siapa yang masuk kamarku?" Lena menggigit bibir bawah, ternyata jika itu bukanlah Marcho, justru semakin gelap rasanya.


"Soal itu .... " Marcho berdebar dan enggan menceritakan soal David yang masuk ke dalam kamar Lena. "Memang apa yang terjadi padamu?"


Lena menggelengkan kepala. Dia beranjak dari tempat duduk, tetapi pinggangnya ditahan oleh Marcho hingga duduk lagi.


"Kamu memaafkanku, kan?" Marcho tersenyum dengan penuh harap dan takut-takut.

__ADS_1


"Kak, aku tidak marah bila kakak memang tak melakukan apapun malam itu. Jadi, kakak tidak perlu merasa bersalah." Lena menggigit bibir bawah, banyak sekali hal yang ingin ditanyakan pada Marcho tentang David. Apa artinya aku boleh menghubungi David?


Dua insan saling tatap, Lena tersenyum dan mata Marcho kian berbinar. Pria itu sontak memeluk Lena dalam-dalam. Karena dengan Lena memaafkannya, dia akan mendapatkan hotel Pearl Island.


"Kak, lepas!" Lena sesak karena tak bisa bernafas, aroma musk begitu kentara dari bau dada bidang. Sungguh membingungkan bagi Lena, dirinya menjadi bertanya ulah siapa yang melucuti pakaiannya malam itu. Rasanya ingin menanyakan hal itu pada Marcho, tetapi sepertinya itu tak sopan.


Marcho melepas Lena dan langsung menarik gadis itu ke meja makan. Sean menyipitkan mata dengan galak, karena adiknya asal dipeluk-peluk. Lena kini kesulitan untuk menyembunyikan ledakan kegembiraan, dia terus mengamati kontak David yang terus online. Ingin sekali mengirimi pesan pada pria itu.


Sebuah suara Familiar mengalihkan perhatian Lena dari sudut ruangan. Semua para pengunjung di ruangan itu tertuju ke bagi LAN dekat panggung. Begitu pun Lena, dia sampai menatap Marcho yang mengangguk seraya tersenyum hangat, seolah Marcho telah mengetahui soal itu


Sean yang masih bingung pun langsung melongo mendengar lantunan lagu yang dia tahu bahwa logat pria itu Italia mirip dengan Marcho. Wajah pria di panggung itu .... Sean termangu seraya mengelus dagu pada mata Lena yang berbinar ke arah pria yang mirip di foto wellpaper hp milik Lena.


🎶🎵Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku.


menantikan kehadiran dirimu.


Entah sampai kapan aku harus menunggu, sesuatu yang sangat sulit 'tuk kujalani.


Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu.

__ADS_1


Kadang ku berpikir cari penggantimu,


saat kau jauh di sana.


Gelisah sesaat saja tiada kabarmu, ku curiga.


Entah penantianku takkan sia-sia.


Dan berikan satu jawaban pasti,


S ntah sampai kapan aku harus bertahan


Saat kau jauh di sana, rasa cemburu,


Merasuk ke dalam pikiranku, melayang


Tak tentu arah tentang dirimu


Apakah sama yang kau rasakan?🎵

__ADS_1


Mata Lena memanas dan air mata mendesak ken sudut mata dan mengalir di pipinya. Dia tahu David tak tahu bahasa Indonesia. Namun, bagaimana bisa pria menyebalkan ini, kini telah berdiri di depannya dan menyanyikan lagi Aishiteru dalam bahasa Indonesia.


David duduk berlutut mengulurkan tangan dengan tatapan paling melelehkan siapapun yang melihatnya. David mengecup tangan mungil yang baru diulurkan, tepat di cincin berlian yang dulu diberikannya dan ternyata masih dipake Lena. "Lena, aku mencintaimu... "


__ADS_2