
18 Desember 2022
Lena terbangun saat tubuhnya terjebak sesuatu yang membuatnya sesak. Dia membuka mata dan ketiak David sudah di depan matanya. Ketiak itu saja berbau harum. Dari semalam kau tak memakai jubah. Pantas saja lebih anget dari kemarin.
"Mas berat." Lena mendorong lengan itu, tetapi David kembali memeluk kepalanya. "Aku bukan guling, huh!" Lena berusaha berulangkali sampai lengan dan kaki itu menyingkir dari badannya. Pria itu mengulet dan memunggunginya dengan memeluk guling sesungguhnya.
Selepas buang air kecil, Lena mencabut ponsel yang sudah full charge dan membawa ke tempat tidur. Dia membuka rentetan pesan masuk dari kakaknya dan screenshoot orang-orang yang menghujatnya. Ada kata-kata: 'Dia memalukan anak-anak volunter saja. Bukannya mengharumkan nama bangsa malah datang-datang ke negara orang untuk merebut kekasih orang!'
DEG. Lena merasa sakit hati bukan main. Ya, mungkin bila dilihat dari satu sudut memang dia tampak merebut. Entahlah pusing! Lena mengetikkan sesuatu.
-Abang, aku baru buka hp. Nanti aku ceritakan di rumah tentang siapa itu David- ( Lena )
Lena miring ke arah David, dan mengusap tato inisial SL, pria itu justru makin menjauh, mungkin terganggu tidurnya. Lena memeluk David dari arah belakang. Mas, aku akan terus merindukanmu. Bisakah aku melupakanmu?
Tak terasa Lena sempat tertidur lagi dan bangun jam setengah tujuh. Lagak-lagaknya David masih terlelap. Lena duduk dan merasakan pergerakan tubuh David yang kini menghadapnya.
"Nyalakan AC nya , panas Sayang," suara David serak. Lena menarik remote dan mengatur suhu 16 derajat. Dia tidur miring kanan, dan menyibak rambut David yang halus, mata itu masih terpejam.
Lena sampai menjepit-jepit hidung David dan lelaki itu mengkerutkan hidung dengan kening berkerut dalam, lalu menyingkirkan tangan mungil. Berulangkali Lena memencet hidung, lalu sudut bibir David itu dijahili Lena dengan dinaik turunkan, tetapi pria itu masih terpejam. Lena senyum-senyum sendiri. Dia mengusap alis David yang disukainya. "Mau sampai kapan kamu tidur?"
"Aku akan bangun kalau sudah bikin baby," serak David khas bangun tidur. Dia meraba-raba pinggang Lena dan ditariknya hingga rapat. Dia masih enak tidur tak mau membuka mata dan kini justru menekan miliknya yang gagah, yang setiap pagi bangun.
Lena terdiam dan meringis pada sesuatu panas yang menekan pahanya. "Mas, aku sayang kamu."
"Kalau gitu bikin baby."
Lena mendowel hidung milik David begitu kuat sampai David bernapas dari mulut. "Baby terus yang kamu ungkit?"
"Baby Lena dan David," lirih David. Dia membuka mata yang terasa berat dan masih menahan miliknya tetap menempel di paha Lena. "Kamu sudah bangun, Sayang?"
"Huh, aku sudah bangun dari jam Lima." Lena meringis lagi karena 'kegagahan' milik David yang berkedut. Walau terhalang celana tipis tetapi begitu panas dan keras.
"Kamu ingin apa hari ini?" David bertanya dengan nada manja. Dia merasakan usapan kasih sayang Lena, di telinga dan juga rambutnya. Setiap pagi seperti ini, otakku pasti encer.
"Aku ingin seharian bersamamu. Ini hari terakhirku jaga di Stadion. Bisakah kita membuat hari ini indah, lebih indah dari pada hari lainnya?" Lena ingin melakukan yang terbaik sebelum perpisahan.
David melirik ke samping karena coba memikirkan apa yang bisa membuat Lena bahagia, tetapi dia tidak menemukan caranya. Dia kembali menatap sang kekasih. "Caranya?"
"Aku hanya ingin bersamamu, sudah itu saja." Lena memegangi telinga David dan mengecup pipi kiri, lalu pipi kanan David dengan senyum hangat dan penuh kelembutan.
"Ih! Kamu kenapa si?" David merasakan kecupan di seluruh wajahnya yang bertubi-tubi sampai David kesal karena rambut Lena membuat wajahnya terasa geli.
"Lena .... " David termenung saat kepala mungil itu mendusel di ceruk lehernya. "Mau tidak bila kita mandi bersama?"
"Tidak mau," gerutu Lena sambole menusuk pinggang David menggunakan jarinya.
"Berendam bersama? Ayo, sayang." David kini merangkak di atas gadis itu. "Mau ya?"
David berbinar saat pacarnya mengangguk. Dia bangun dan terus memegangi jemari mungil.B bahkan tak pernah melepasnya sampai ke kamar mandi.
"Sudah, lepas." Lena menggoyangkan tangan yang masih digenggam David. Dia melirik David yang memberikan sikat gigi yang sudah diberi pasta.
Lena akan memasukan sikat gigi itu ke mulut sendiri, tetapi terhenti karena David menggendong Lena, lalu mendudukkan di westafel.
"Gosok gigiku, Sayang." Pria itu menarik tangan Lena.
Dengan hati-hati Lena mengikuti kemauan David dan menggosok dari sisi luar. Dia malu karena tatapan mata David sangat tajam dan tidak berkedip. Lena terkejut karena David telah meraih sikat gigi baru dan diberi pasta.
"Aku akan menggosok gigi milik calon istriku tersayang." David memegangi dagu Lena. Dia menyipitkan mata saat Lena akan berbicara.
"Akkh koh bi-saw." Lena meringis karena David tak mau dibantah. Dia menahan tangan David dan menarik sikat dimulutnya. "Aku tadi dah sikat gigi jam lima loh, Mas."
David lalu menggosok gigi sendiri dan berkumur-kumur. Tampak Lena masih menyikat gigi bagian dalam. "Ma'af, aku tidak tahu, Sayang."
__ADS_1
Lena menunduk dan tak sengaja melihat celana pendek David yang ngepres. Dia buru-buru berkumur, lalu membilas bathup dan menutup saluran air saat David ke ruang bilas yang cuma kelihatan bagian betis. Entah apa yang dilakukan David karena terdengar menyalakan kran.
Lena duduk di pinggiran bathup. Dengan perasaan semeringah, tangannya menuangkan garam mandi. Lalu minyak esensial dengan bau kayu cedar. Tidak lupa bubble bath di air mengalir.
Lena membeku begitu melihat David dalam keadaan celana telah basah semua. Yang membuat lebih kaget karena jemari David itu mulai melepas satu-persatu kancing piyama milik Lena, mulai dari bagian atas dan Lena hanya terperangah. "Aku pakai komplit saja mas!"
"Mana ada berendam pakai komplit? dimana-mana berendam pakai bik1ni, Sayang. Atau tidak usah pakai apa-apa?" David menahan pinggang Lena, kekasihnya itu akan kabur. "Kamu sudah menyanggupi. Jadi, tidak boleh dibatalkan."
"Aku hanya mau kalau-" Belum Lena menyelesaikan kalimatnya, tangan David sudah bergerak lebih cepat pada semua kancing. Lena melongo karena b.r.a hitam jadi tampak, lekas dia menutupi dengan dua tangan. Namun, David justru sudah melorotkan celana piyamanya. "Mas!"
"Sudah cepat." David dengan suara berat dan mendongak. Tangannya mengangkat kaki Lena agar terlepas dari celana berbahan satin. Kekasihnya itu justru sekarang menutupi bagian celana inti berwarna pink menggunakan satu tangan, dengan wajah memerah. David menyeringai licik saat kekasihnya lalu buru-buru masuk ke dalam bathup.
"Mas, jangan liat ke sini." Lena meringis dengan malu, rasanya ingin menangis. Dia menjadi teringat tragedi kamar mandi. Beruntung air cepat terisi sampai ke bagian dada dan tertutupi oleh busa.
"Mengapa kamu terus tertutup soal keluargamu, Sayang?" David protes. Kakinya dia selonjor kan, dan jari kakinya itu menempel di pinggang Lena.
Lena melihat keluar jendela pada pemandangan laut. "Aku tidak punya cerita. Selain Abang ku yang nyebelin."
"Abang? apa itu Abang?"
"Panggilan Kakak dalam bahasa tradisional."
"Oh, apa Papa Sujatmiko dan Ibu Sumarni bisa bahasa Inggris?" David menyipitkan mata, dia tidak tahu cara berkomunikasi dengan keluarga Lena. Rasanya lucu, bila dia harus bawa penerjemah. Namun, Lena menggelengkan kepala. Fix, dia harus bawa Axel yang bisa bahasa Indonesia. "Kemari sayang, aku gosok punggungmu."
Lena membulatkan mata dengan waspada. Anehnya, tubuh itu menurut secara otomatis, lalu mendekat ke dada kekasihnya yang sudah memegangi spon berwarna biru. Perempuan itu meringis merasakan sesuatu kaku dan panas di b0k0ngnya.
Lena merasakan sentuhan David, yang terasa lebih hangat dibanding suhu air rendaman. Busa lembut bergerak di sepanjang bahunya. Lena merinding tak tertahankan hingga Lena terus tertawa setiap jari panjang itu tak sengaja menyentuh di bahunya yang licin karena sabun.
"Hih! santai dong, Sayang." David dengan gemas karena Lena bergerak ke kanan-ke kiri seperti cacing.
"Geli, Mas!" Lena berbalik karena perintah David. Pria itu tiba-tiba berhenti berbicara dan Lena semakin salah tingkah karena tatapan David yang mulai codong ke arahnya.
Lena dan David diam membeku, sama-sama waspada. Karena tak tahan pada tatapan maut, Lena memilih terpejam. Ketika Lena membuka mata, dia merasakan hembusan panas di wajah saat lalu David menggigit keras di bibirnya hingga Lena bergumam dengan kesal.
David menarik pinggang Lena ke dalam pangkuan. Cium4n itu begitu menggetarkan jiwa dan masuk me relung jiwanya yang terdalam. David bersandar dan tak sadar punggungnya menekan kran, lalu air dingin dari shower, jatuh mengucuri mereka berdua.
"Mas!" Lena mendorong wajah David dengan napas masih memburu dan juga sangat malu. Dia berdiri karena tak tahan debaran jantungnya. Ruang bilas dikunci Lena, matanya terpejam dan menyalakan shower dengan air dingin. Dia begitu kebingungan dengan reaksi tubuhnya yang seperti terbakar.
"Jangan lama-lama, Sayang." David melempar kepala ke sandaran bathup dan terpejam. Dia berusaha mengatur napasnya yang masih tak terkendali. Bibirnya menyunggingkan senyuman pada moment ini, teringat bagaimana barusan memeluk Lena dengan sangat erat, membuatnya bernapas seperti orang gila.
Mata deepblue terbuka saat Lena keluar dari ruang bilas dan segera meraih handuk kering dari laci. Jarang-jarang sekali David bisa melihat wanita itu berb1k1ni.
"Cepat Mas, aku laper banged." Lena melirik sebentar pada sang kekasih yang masuk ke dalam ruang bilas. Sempat matanya menangkap objek gundukan di dalam celana David, yang baru pertamakali dilihatnya, sampai Lena mengences dan mengelap liur di dagunya.
Lena telah siap berpakaian gaun musim panas, pemberian David berwarna hijau daun pisang dengan gambar banyak buah Lemon. Dia menghanduki rambut saat David keluar dengan jubah mandi. Tanpa aba-aba lelaki itu memeluk begitu erat hingga wangi segar memerangkap dengan kehangatan dan kecupan penuh kehati-hatian membuat Lena tersenyum.
"Sayang, bikin baby, yuk," rayu David dengan sangat lembut dan begitu menginginkan olahraga, karena h4str4t yang telah dipendamnya sejak awal bertemu dengan Lena.
"Enggak. Sudah cepat pakai baju. paman dan bibi pasti sudah nungguin." Lena melepas pelukan David, lalu berjalan ke meja rias. Wanita itu mengeringkan rambut dengan terburu-buru karena rayuan David yang lagi- lagi tangan kekar itu bergerilya penuh s3nsual.
Lena mematikan pengering rambut. "Ingat loh, Mas. Peringatan ku semalam."
"Sayang, mah gitu." David dengan kesal lalu berjalan menjauh. Dia memakai pakaian inti dengan jubah masih terpakai. "Pelit."
"Biar!" gerutu Lena sambil menyisir rambut hingga rapih. Dia mencoba membantu David supaya cepat, saat pria itu memakai celana jeans yang telah siap di atas tempat tidur. Juga kaos biru.
"Bikin Baby, yuk," lirih David dengan wajah paling memelas sedunia. "Itu kan biar Romeo ada temannya.
"Iya, kalau kita udah nikah!" Lena mendorong lembut punggung David, agar cepat mengatur rambut. Karena pria itu berdandan sangat lama bila sudah mengatur rambut dengan pomade. Bagian rambut David untaian panjang pada bagian depan , lalu bagian samping-belakang lebih rendah.
Lena keluar lebih dulu dan menjumpai di luar tenda perkemahan para orang tua sudah berkumpul di meja. Dengan mata berbinar, Lena menghampiri Romeo, yang sedang asik di meja terpisah dengan dua mainan mobil dan dua karakter dari Lego. "Selamat pagi, Romeo."
"Tante, selamat pagi." Romeo melirik sebentar, lalu kembali tangan mungil sibuk membuat gerakan balapan mobil biru dan mobil merah.
__ADS_1
"Bagaimana tidurmu, nyenyak?" Stefanie yang baru datang, duduk berhadapan dengan Lena.
"Nyenyak, Kak. Bagaimana kabar kakak hari ini?" tanya Lena dengan tatapan penuh penghormatan.
"Seperti biasa, selalu lebih indah saat melihat wajah Romeo setiap pagi." Stefanie mengelus pucuk rambut putranya, lalu menatap Lena dalam-dalam. "Terimakasih karena usahamu menghibur Romeo kemarin. Aku sangat terbantu, dia jadi makan dengan lahap dan makan sendiri lagi."
"Romeo sudah besar, jadi Romeo makan sendiri Mami." Romeo membela diri dan maminya tersenyum sangat cantik dan kembali mengusap pipi mungilnya.
"Sama-sama, Kak Stef." Lena memandangi Romeo, dia melirik di kejauhan David baru keluar dari tenda. Para pelayan memanggil para anggota keluarga untuk berkumpul.
Rasanya ini hal baru untuk Lena. Saat mau makan, semua orang harus berkumpul lebih dulu. Kemudian saat Kakek Leora sudah menyuapkan makanan ke mulut, maka yang lain baru mulai menyentuh sendoknya. Lena membeku karena di samping kanannya ada Marcho. Dia berusaha terus menoleh ke kiri. Namun, Lena dapat merasakan saat Marcho dengan sengaja menyentuh kakinya hingga Lena bergeser sedikit lebih dekat dengan David.
Sebenarnya, di tengah-tengah acara makan, semua tampak normal. Lena mengamati cara mereka berbicara yang rata-rata berbicara keras. Memang para pria sepupu David semua suaranya bernada bass dan keseringan mereka juga menggunakan gesture kedua tangan untuk melengkapi cara mereka berkomunikasi. Sejenak ini tampak menarik baginya. Semua paman dan bibi diberi pertanyaan oleh Kakek Leora tanpa membeda-bedakan dan Kakek tampak menyimak semua pendapat setiap orang.
Mata Lena membulat saat Marcho tangannya mendarat di paha. Kakaknya David itu benar-benar keterlaluan. Lena memasukan tangan ke bawah meja, lalu menyingkirkan tangan Marcho dan pria itu justru merem4s jemarinya. Saat David berbincang asik dengan dengan Bianca, Marcho justru berbisik pada Lena.
"Ingat ingat ingat. Ini harimu terakhir. Sampai besok aku masih melihatmu. Lihat saja Len," bisik Marcho, lalu cengkeraman pada Lena dilepaskan. Dia kembali memakan roti dengan gerakan halus tanpa membuat curiga semua orang.
⚓
Saat waktu Lena berjaga akan berakhir, Dia menjumpai David yang datang dan langsung mengecupnya tiba-tiba di pipi. Lena melirik ke samping dan matanya membulat karena semua keluarga dari David memborong tiket Final bola malam ini.
"Sayang, Marcho hari ini mentraktir kami semua dan kamu." David mengedipkan satu mata dengan nakal.
"Banyak sekali." Lena membalas senyuman David. Semua tiket keluarga David telah diperiksa yang terakhir tiket Kakek.
"Kamu sudah selesai kan? cepat bergabung. Saya membawakan roti dan permen coklat untukmu." Leora berbicara dengan ramah, karena Lena sudah membantu cicitnya mau makan banyak.
Lena melirik jam dinding. "Lima menit lagi, Kakek. Apa kakek juga akan menawariku air mineral?" Lena bercanda dengan nada menghormati.
"Pasti, Nak. Banyak makanan yang kami bawa juga." Leora tertawa ringan, lalu menscan barcode tiket milik kakek sendiri.
"Siapa itu?" tanya Ika setelah kepergian mereka.
"Kakek dan keluarga nya David." Lena dengan gerakan cepat memeriksa tiket pengunjung.
"Wow, enak ya kamu, Len. Coba Rafa begitu juga." Ika tersenyum dengan penuh harap.
"Semoga Ika, Aamiin."
Setelah Lena berganti pakaian dan cuci muka, dia kini antri panjang dan memegangi tiket yang diberikan David.
Marcho baik banged beliin tiket sebanyak itu, tetapi juga kejam. Untung aku nggak berita tahu dia soal kepulanganku. Males banged ngomong sama Marcho soal itu. Kepikiran aja bikin kesel!
Sesampai di kursi penonton, Lena menggigit bibir bawah kenapa selalu ada Marcho didekatnya. Lena duduk dengan kaku dan disambut kecupan David di pipi kiri. Sepanjang pertandingan bola, David terus menggenggam tangan mungil, seperti memberi kehangatan dari suhu 18 derajat stadion. Akhirnya Lena sekarang menggigil seperti para penonton lain yang menggerutu dengan AC Stadion yang dinginnya nggak wajar kaya di frezeer bagi Lena.
Argentina keluar sebagai juara, setelah memenangi babak adu penalti dengan skor 4-2. Lena menitihkan air mata dalam kegelapan saat semua orang berteriak dalam kegembiraan.
Ya Tuhan, aku iklash. Bila David bukan jodohku.
Rasanya ini begitu menyakitkan. Meski begitu aku mencoba selalu tersenyum di depanmu, Mas. Tiketku kepulanganku telah terpesan dan aku takkan bisa melihat mu lagi. (Lena)
Marcho banyak merenung. Dia duduk dan melirik ke samping pada Romeo yang belum tidur dan ikut pesta Hura. Sementara dia memikirkan Anna yang belum membalas pesan dan telepon.
Marcho memikirkan cara kabur, tetapi pengawal terus mengawasinya. Padahal, dengan dia membeli tiket untuk semua anggota keluarga, maka dia kira semua pengawal sibuk mengawasi keluarganya. Ternyata rencananya gagal, karena saat ke kamar mandi, masih saja terus diikuti pengawal.
Ayolah, Ann. Kenapa kau tak membalas teleponku. Apa kamu marah? Atau kakek memberitahumu soal kedatangan Stef. Oh, Kakek , yang benar saja! (Marcho)
⚓
Setiap detik demi detik terlalu cepat rasanya bagi Lena. Dia sangat takut dan bahkan tak berani menatap kakek Leora saat tadi pulang dan semobil dengan Kakek.
Kenapa juga hanya berdua dengan kakek di mobil saat pulang. Apa kakek tahu rencanaku? Mengapa Kakek ingin waktu hanya berdua.
__ADS_1
Lena duduk di pinggir bathup sambil menggosok gigi sebelum tidur. Teringat pada kata-kaka Kakek yang penuh misteri.
Kakek nggak mungkin tahu kan?