
Niko yang sedang melakukan pengawalan di jam dua pagi, hanya menatap nanar pada majikan perempuan yang tengah bertemu sang kekasih. Majikan perempuannya bertemu di malam hari untuk bersembunyi dari media massa. Hubungan percintaan mereka harus ditutupi karena peraturan management yang tak mengijinkan ada hubungan percintaan selama kontrak kerja berlangsung.
Dari kejauhan Niko membeku, setelah sepintas melihat mereka duduk di pinggir bukit berdampingan. Tampaknya berbagi cerita dan keluh-kesah mereka. Si kekasih itu mencubit hidung majikannya dengan gemas dan majikannya protes lalu mereka tertawa dan saling memeluk.
Suara tawa mereka menyengat hatinya yang merana. Terbayang pada ingatan masa lalu, dia dan Lena saat dulu di halaman belakang rumah Lena.
Niko meraba dada dengan telapak tangannya yang gemetar, menekan sakit yang merayap dari kiri ke kanan, bergantian. Dia yakin semuanya begitu sakit. Hatinya kini memberontak. Dia kira kini baru mengerti ini yang dinamakan emosi cinta tak terbalaskan. Hati lelah yang terus memberontak entah kemana, asal bisa terbebas dari kesakitan yang tak pernah ada usainya.
Memenjarakan luka-luka, luka-luka itu seperti mahluk hidup yang berdiri sendiri dan sulit sekali dikendalikan. Sesak dan sesak yang bertambah dan bukan berkurang seiring bertambah waktu.
Dirinya yang hampir tenggelam dalam kehancuran nyata dan tak tertolong.
Bersikap biasa di luar, terus membohongi diri sendiri di dalam. Bukannya hati malang ini terkecoh, tetapi membuatnya tidak mengenal dirinya yang aslinya. Mengapa dia di sini dan masih di negara ini. Sesuatu menahannya. Lalu dia minta tolong pada siapa? Dimana Niko yang dulu pantang menyerah sekalipun kemiskinan menjerat keluarganya.
Dia terombang-ambing bagaikan hilang di telan ganasnya samudra tanpa tujuan. Dia tak tahu kemana dia harus pulang.
Niko mengarahkan mobil dan melirik ke spion tengah pada majikannya yang berteriak histeris akan kesenangan yang seperti sulit di kontrol. Dia pernah merasakan.
~Kalaulah cinta saja itu cukup untuk segalanya, tak ada kata perpisahan atau perceraian di dunia ini. Namun, mencintai saja tak cukup. Kau harus punya uang yang banyak dan memastikan pasanganmu tidak lagi melihat lelaki lain di luar sana.
Kupikir hanya orang bodoh yang mau meninggalkan konglomerat demi seorang insinyur mesin. Karena itu dia pintar.
Memang cinta adalah kebodohan. Bodoh karena selalu mencintai orang yang jelas tak mencintai kita.~
Niko menguplod status di instagram di akun barunya dengan foto sebuah kunci mobil. Kunci mobil milik majikannya.
Niko mennyentuh notifikasi komentar di atas layar.
-Kau harus memiliki uang yang banyak, Bro. Rebut dia kembali. Itu baru namanya berjuang- Reza21
-Cari uang yang banyak, lalu cari wanita yang banyak dan pamerkan padanya.^^- Ara3
-Move on, Bang. Jodohmu masih mencarimu❤️- Steveneagle
-Kita tidak akan tahu bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kita, Dek😂- Verasetya
-Mending bikin YouTube, siapa tahu nyantol cewek cantik. Eh tahu-tahu nikah. Jangan lupa undang😀- Bagaspily
Niko tersenyum kecil. Ada-ada saja komentar mantan-mantan kliennya.
...----------------...
Tangannya yang gemetar ditahan Jefri, Stef seolah terbius saat pria itu meraih senjata dari tangannya. Seorang datang menyusul Jefri dan menerima uluran senjata tadi.
"Kamu mau masuk ke dalam tapi terhalang tidak tahu sandi?"
Stef menganggukkan kepala.
"Jika aku membawa pemabuk ini ke hotel, gimana?"
"Tidak perlu." Stef saja tidak membawa identitas diri.
Jefri menghadap Stef dan menyuruh anak buahnya. Stef berdiri karena orang itu mengotak-ngatik pintu kamar Sean.
"Apa yang kalian lakukan? Itu ilegal!" Stefanie mendorong pengawal itu, tetapi lengannya ditarik ke belakang dan ditahan. "Berhentilah, atau aku teriak! Jangan merusaknya!"
"Aku membantumu. Kau senang, kan?" Jefri menyeringai saat anak buahnya berhasil membuat pintu itu terbuka tanpa merusaknya.
"Itu terbuka?" Stef memeriksa pintu memang tidak ada yang lecet dan rusak. Stef lekas ke Sean, dengan susah payah memapahnya dan nyaris jatuh , tetapi pengawal Jefri membantu.
"Biar saya saja, nyonya." Pengawal itu mengambil alih tubuh Sean dan membaringkan di sofa.
Stef mengantar pengawal itu ke pintu dan berterimakasih. Dia langsung mendorong pintu tanpa berbicara dengan Jefri. Buru-buru Stef mencari kamar, sdan akan membangunkan Niko. Namun, kamar itu kosong. Pantas Niko tak membuka pintu, ternyata sedang pergi.
Jefri masuk ke dalam ruang dan menutup pintu. Stef melongo karena saat kembali dari kamar mandi, Jefri sudah duduk di samping Kepala Sean yang terbaring.
Sudah berkali-kali Stef mengusir lelaki itu, tetapi Jefri tidak mau beranjak dari sofa sampai Stef tak bisa menahan kantuk lagi. Dia juga tak tahu akan sampai kapan menunggu Niko pulang.
"Kenapa kamu tidak pulang, Stefanie?" tanya Jefri dengan menahan senyum karena wajah lucu yang mengantuk.
"Aku, aku, akan menunggu dia sebentar." Stef melebarkan mata, menahan kantuk.
"Kenapa menunggu? menunggu sampai jam?" tanya Jefri dengan rasa penasaran. "Dia bukan suamimu, memang kau tidak dicari suamimu?"
"Dia tak terbiasa mabuk, siapa tahu temannya akan pulang." Stef menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Tidurlah, Stefanie." Jefri memandang wanita di depannya yang seperti tak bisa lagi diajak mengobrol.
"Pergi, kau tidak boleh terlihat oleh mereka." Stef dengan lirih dan sepertinya dia tak bisa menjawab lagi. Dia takut karena Marcho belakangan cemburuan. Nanti dikira dia selingkuh dengan Jefri, lalu dia gagal untuk memegang hak asuh Romeo.
__ADS_1
Ketukan mengagetkan Stef yang sempat tertidur di sofa. Dia beranjak dan melihat sekitar, mencari Jefri ke kamar mandi dan kamar, sepertinya sudah pergi. Stef mengintip di lubang pengintip ada Marcho, David dan Paolo.
Stef membuka pintu dan tiba-tiba Marcho memeluknya dengan erat di depan David dan Paolo. "Marcho, lep-pas."
"Kupikir kamu kenapa-kenapa!" suara Marcho serak sambil meremas rambut belakang Stef dengan khawatir. Dia bergeser sedikit saat David lewat untuk masuk ke dalam apartemen.
Paolo masuk ke dalam melewati suami istri itu dan saling pandang dengan David, setelah David memeriksa kondisi Sean. Paolo berjalan ke kamar dan memeriksa kondisi kamar, lemari, kamar mandi, balkon, tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada Niko.
"Kak Se, kau bisa mendengar suaraku?" David berlutut dan bertanya di depan telinga Sean. "Jawab kalau mendengarku?"
"Tidak ada siapa-siapa," kata Paolo dengan masih memeriksa sekitar. "Tak ada botol minuman."
David memapah Sean dan memindahkan ke kamar. "Sepertinya, dia sedang ada masalah sampai mabuk begini. Sean mungkin ke bar, apa karena Stef, dia jadi minum?"
Paolo berdiri di garis pintu kamar menunggu David membaringkan Sean. "Semoga dia tak membuat masalah."
"Kau perlu tidur, Ayo pulang." Marcho selesai memeriksa istrinya, dia takut Stef terbuka. Lalu menggenggam tangan Stef dan menarik lembut, tetapi Stef melihat ke belakang.
"Sudah ada David dan Paolo. Kita pulang, kau tak mencemaskan dia, kan? Cemaskan nasib perkawinan kita saja." Marcho menambahkan tenaga dalam menarik Stef.
"Ponselku .... "
"Kamu taruh dimana? Biar aku ambil, kamu sini saja."
"Meja depan sofa." Stef dengan wajah masih mengantuk melihat Marcho masuk ke dalam dan Marchopun tak memakan waktu lama sudah keluar membawa ponsel.
"Aku tak akan berbicara apapun." Marcho dengan suara datar. "Kamu dan bayi kita butuh istirahat. Biar aku telepon kakek supaya kamu besok libur."
Stef terdiam dengan perasaan sedih. Marcho mungkin tidak tahu tentang Jefri yang beberapa kali mendatanginya dan membuat dirinya takut. Sebenarnya, ingin menceritakan ketakutannya ini, tetapi ... sepertinya mengobrol dengan Marcho adalah percuma.
Stef langsung cuci kaki dan muka begitu sampai rumah, lalu tidur di kamarnya. Dia miring kanan, memunggungi pintu kamar begitu suaminya masuk kamar. Begitu Marcho selesai bersih-bersih, lalu tidur di sampingnya walau menjaga jarak.
Stef yang tadi mengantuk sekali, mungkin efek habis menangis tadi malam atau terlalu lelah dan sempat tertidur sebentar, tetapi kini dia menjadi tidak nyaman hingga wanita itu bangkit dan tidur di sofa.
Marcho tidak berani berbalik badan. Dia ingin memberi waktu pada Stef. Tak apa, selama Stef masih satu ruangan dengannya, dia masih bisa bernafas lega.
...****************...
"Mengapa kita harus tidur di tempat orang yang kita benci," gerutu Paolo, memunggungi David. "Kamu tak bisa tidur kan? Berbaring di atas tempat tidur musuhmu." Marcho menertawakan David.
"Dia bukan musuhku, Paol." David ikut memunggungi Paolo sambil memandangi Sean di depannya.
"Ini hanya kecil, tidak kumuh." David kini terlentang. "Aneh, ya, kenapa orangtua Shinta menemui paman ketiga."
"Mungkin dia minta bantuan pamanmu. Atau mereka bekerja sama untuk merebut posisi Marcho? Semenjak tidak ada kamu di perusahaan kakekmu, kulihat adik-adik ayahmu semakin gencar mendekati para pejabat perusahaan. Kupikir mereka berlima memiliki tujuan masing-masing walau sama-sama ingin menguasai perusahaan kakek."
"Paol, ada hubungannya tidak menurutmu. Orang tua Shinta mendekati paman ke tiga. Shinta mendekati Marcho."
"Apa Shinta mengejar Marcho demi menjadi bagian keluarga besar Leora. Sepertinya, tidak ada kalangan jajaran konglomerat yang masuk kriteria gadis itu selain keluargamu. Mungkin karena Shinta tahu Marcho orangnya lemah pada perempuan dan mudah dirayu?"
David mengelus perutnya yang mual tiap kali membicarakan soal Shinta. "Semoga dugaanku salah bila Shinta dan orang tuanya, memiliki niat buruk pada keluargaku."
"Emang kau tak cemburu, kakakmu dan Marcho sempat ke Jepang bersama?"
"Cemburu untuk apa? Aku cemburu kalau Lena ke butik Emma lalu bertemu Niko. Belum apa-apa Lena saja ngambek mau ke sini dengan alasan bertemu Sean. Coba, bagaimana aku tidak berpikiran kalau Lena masih ingin bertemu Niko? Padahal, Sean ke rumah kan bisa, toh nggak ada yang ganggu mereka. Kenapa Lena ngotot ke sini?"
"Curhat?" sindir Paolo meringis dengan senyuman menggoda dan David hanya membuang muka dengan kesal.
"Kau tak penasaran? Mungkin Shinta melakukan ini agar kamu cemburu, jangan-jangan kalau dia berhasil menjadi istri Marcho lalu dia curi-curi kesempatan mendekatimu- Awh!" Paolo tak meneruskan ucapannya. Dia mendorong bantal yang baru di lempar David ke wajahnya dan David menekan bantal itu membuatnya tak bisa bernapas.
"Jangan menyebut Shinta lagi dengan omong ngelantur. Sudah kubilang aku tak peduli. Jangan asal bicara gitu lagi, kalau Lena dengar dia bisa marah lagi." David menghantam Marcho dengan bantal dan Paolo langsung duduk melempar bantal itu hingga jatuh ke lantai.
Parolo terengah-engah berusaha mengambil napas.
"Rasakan ini!" Paolo naik ke atas perut David dan mengeteki wajah David.
"Paol! Kamu tidak sopan!" David memukuli punggung dan pinggang Paolo sebisanya. Dia paling geli sama ketiak walaupun ketiak yang bau wangi sekalipun. "Minggir Paol!"
"Emma, sini!" suara tinggi Sean menggema di kamar.
Paolo dan David, langsung terperanjat karena suara barusan. Jantung mereka berdebar. David mendorong ketek Paolo dan menjauh dari Paolo.
Mereka terpaku pada Sean yang memeluk guling. David tercengang dan geli sendiri, dia melirik Paolo yang mengerutkan kening dan wajah tiba-tiba kesal.
"Ayo, naik dulu. Kamu pasti suka." Sean mengigau dengan suara parau dan menjadi tontonan, David dan Paolo yang kini duduk di pinggir tempat tidur.
"Yang dia sebut, Emma yang mana?" tanya Paolo dengan tidak suka dan David menggelengkan kepala dengan wajah polos.
"Jangan takut, aku akan memegangimu. Kemarin siapa yang bilang mau naik permainan ekstrim? Ayo mumpung kita disini! Ini sudah romantis seperti Lena ke David. Ini romantis seperti katamu, kan?"
__ADS_1
"Ha! Apa dia bilang? Romantis? Kemarin" Paolo bangkit dan langsung duduk berlutut di samping Sean, tangannya menggubet kaos Sean. "Kau berani mendekati Emma!"
"Paol! Dia hanya mabuk!" David melingkarkan lengan di leher Paolo. "Lepas, dia mabuk, kau mau apa!"
"Orang mabuk biasanya, jujur!" Paolo tak menyerah dan mulai meninju dada Sean hingga kepala Sean terus terayun. David makin mencengkeram leher Paolo. Sedangkan Sean, justru tertawa dalam suara parau.
"Nah, aku bilang seri, hahahha aku sampai seperti tercekik. Aaaaaaaaaaaa! Awas Em menunduk!"
"Sialan kau mimpi apa! Bajingan." Paolo menghentak-hentak dada Sean dan cekalannya terlepas setelah David menutup matanya dan menarik lehernya ke belakang.
Paolo pun terjengkang ke belakang, jatuh dari kasur dan menimpa David yang makin erat menjerat Lehernya. "Ah, sial, kau mencolok mataku!"
"Aku tidak sengaja, Paol! Minggir kau berat! Oh burungku!" David meringis ngilu karena miliknya terlindas sikut Paol. Dia menarik Paolo keluar dari kamar dan mendudukkan Paolo di sofa dengan tangan masih memegangi miliknya yang panas.
"Awas kalau dia dan Niko berani macam-macam dengan Emma! Aku menghabisi mereka sendiri."
"Kenapa?" David menantang Paolo. "Sampai kapan kau mengurung Emma? Dia sudah dewasa, bebas memilih dan mengenal sosok pria. Aku tahu kau trauma, tetapi dia juga ingin bebas dan bangun dari keterpurukannya!"
"Tahu apa kau soal Emma? Gara-gara kau-" Paolo tak meneruskan kalimatnya dan mendengus kesal, membuang muka saat David duduk di sampingnya.
"He, kau juga harus tahu. Dia ingin punya rumah sendiri. Nggak melulu kamu terus ikut campur dengan kesehariannya," gerutu David.
"Aku sudah beri privasi!"
"Kau mau biarkan dia sampai tua tak memiliki pasangan? Kau tak ingin dia bahagia?"
"Aku tak mau dia sakit."
"Paol! kalau kau dan aku mati duluan, siapa yang akan jaga dia?"
"Romeo."
"Kalau Romeo sibuk dengan kehidupannya, belajar di luar negeri, hayo."
"Ya, pengawal lah, gitu aja kok repot!"
"Kalau pengawalnya nakal."
"David!" Paolo menghadap David dengan wajah merah padam.
"Kita bicara yang terburuk. Bagus sekarang dia mencari pasangan selama kau bisa mengawasi dari jauh, kau masih bisa menjaganya dan menghabisi pasangannya kalau memang tak benar. Kau kan bisa ajak pasangan Emma, ke rumah nanti, jika kau ingin mengawasi sepuasmu."
"Sudahlah, aku mau pulang." Paolo berdiri sambil mengipasi telinga adgar semua kata-kata David dikepalanya lekas terbang, lalu dia enggan memikirkannya.
"Aku belum selesai-" David berbicara serius.
"Terserah lanjutkan saja sendiri. Ngomong-ngomong, aku itu sudah memilih pasangan untuknya. Bangsawan dan tahu etika. Penyayang dan jauh dari kriminal. Juga, masih dalam keluarga kerajaan."
David geleng-geleng kepala. Memang Paolo keras kepala kalau sudah menyangkut Emma. David ke toilet setelah Paolo pergi. Dia duduk di sofa, daripada harus di kamar Niko. Benar kata Paolo, di sini membuatnya sesak! Terutama bau parfum Niko membuatnya jadi berpikir Lena peluk-peluk Niko.
Tablet dibuka David, dia menelpon balik para sekretarisnya di negara lain yang sempat menelponnya. Sial, padahal aku ingin tidur sejenak.
...****************...
Sean bangun dengan tenggorokan begitu kering dan sakit, dia bingung karena sudah di tempat tidurnya. Dia mengambil minuman di kulkas dan menggelegak setengah botol untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan sakit. Dia mandi air hangat untuk menghilangkan sakit kepala, tetapi pusing itu tak hilang-hilang.
Sambil mengeringkan rambut, Sean mencari ponsel dan justru bingung karena bunyi ponsel asing yang berdering. Sepertinya itu bukan milik Niko. Asal suara dari ruang tamu. Matanya melotot karena ada David. Apa David yang semalam menjemput aku dari tempat George?
Matanya dikucek-kucek, David menyipitkan mata dan meraba ke atas meja, meraih telepon pribadi dengan dering khusus.
"Hallo, Mah." David kembali membaringkan kepala di sofa. "Sorry, aku di kantor .... Hu'um ada kerjaan di kantor, Mah. Bentar lagi Papa pulang. Muach muach muachh .... "
David mengecup telepon dan matanya jadi tak mengantuk lagi karena nada khawatir Lena. Dia memandang Sean yang membawakan kopi untuknya.
"Makasih, Kak. Sorry aku baru bangun." David menyesap kopi buatan Sean dengan perlahan. Masa bodoh walau belum sikat gigi, dia butuh tenaga.
"Kau, dari kapan di sini, Dav?" tanya Sean dan duduk canggung.
"Kak Sean, kau sedang ada masalah? Kalau kamu ingin minum, di rumahku banyak wine berusia 1 abad, koleksi Kakek."
"Aku tanya, sejak kapan kau di sini?" tanya Sean lagi dengan nada lebih dewasa daripada David, padahal David dia tahun di atasnya.
David menaruh cangkir kopi, mengulet ke kanan-kiri. "Jam setengah tiga."
"Kau menjemputku?"
"Menjemput-"
"Menjemputku dari Bar?"
__ADS_1