Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 83 : Kepulangan Marcho


__ADS_3

Sekembali dari kamar mandi, Sean berpapasan dengan Axel yang juga akan ke kamar mandi. Sean memesan dua es krim, karena tadi melihat wajah Stef yang tampak tidak baik-baik saja.


"Kak Stef, es krim coklat kesukaanmu .... " Sean mengapit dua cone di antara jepitan jempol dan telunjuk kanan.


Stef mengambil yang paling luar dengan rasa coklat. "Makasih, Se."


"Paman, itu buat Romeo, ya?" tanya Romeo, melihat Paman Sean mau memberikan es krim satunya rasa strawberry ke Tante Emma.


"Ini untuk Romeo, kan Romeo suka rasa coklat," timpal Stef memberikan ke tangan putranya, tetapi ditolak.


"Romeo mau rasa strawberry, Mih." Romeo dengan wajah sedih.


"Ini buat Romeo, nanti Tante gampang." Emma menarik es krim dari tangan Sean dan memberikan pada Romeo, anak laki-laki itupun senang bukan main.


"Donna mau es krim juga, kan? Ikut Paman, yuk." Sean mengelus bahu mungil Donna.


"Endak mau." Donna duduk di kursi mini, sejujurnya tadi dia ingin naik bianglala lagi, tetapi tak berani bilang pada mamanya. Donna menatap putaran Bianglala. "Donna mau di sini sama Romeo."


"Ya sudah, aku dan mommy beli es krim dulu, ya?" tanya Sean dan Dona menganggukkan dengan polos..


Sean berjalan beriringan dengan Emma sejauh 14 meter, lalu memesan es krim sambil melihat Stef dari kejauhan karena Axel belum kembali.


"Chat siapa si?" tanya Sean dengan mata menyipit mencoba melirik layar ponsel di depannya, tetapi tak terlihat sama sekali.


"Em, itu anak-anak." Emma mendongak dan tersenyum pada Sean yang menatapnya dengan penuh perhatian. "Mereka tanya keperluan yang dibutuhkan saat ke Kalimantan."


Sean mengambil es krim strawberry. "Sibuk banget kelihatannya."


"Enggak kok, bentar." Emma menyelesaikan chat lalu memasukan ponsel ke dalam tas. Dia menerima Es krim itu. "Makasih, Kak."


"Eem." Sean mengambil es krim rasa coklat untuknya sendiri. "Emma, duduk sini, pegang es krimku."


"Mau apa?" Emma menuruti bahkan saat Sean menyuruhnya membelakangi Bianglala. Dia tersenyum penuh arti saat Sean memfotonya.


"Backgroundnya bagus, biar aku kirim ini ke kamu." Sean duduk di samping Emma dan ponselnya ditaruh di pangkuan, lalu mengirim foto itu ke Emma. "Sudah!"


"Kita nggak selfie?"


"Aku malu, nanti fotonya bisa rusak gara-gara aku ikut foto." Sean dengan dengan sedikit bercanda, menyembunyikan rasa tidak percaya diri saat di depan Emma.


"Ah, kok gitu?" Emma menatap Sean sejenak dengan kecewa, lalu membuang muka karena Sean memasukan ponsel itu tanpa selfie bersama. Kenapa dengan Stef mau selfie, tetapi dengannya, Sean tidak mau.


Sean memesan dua eskrim lagi. Dia melihat Stef didekati seorang pria misterius. Tingkah pria di samping Stef membuat Sean curiga. "Em, tolong nanti bawakan eskrimnya untuk Lena."


"Kak Stef," panggil Sean sambil memegang bahu Stef yang gemetar. Dia melihat kepergian pria itu dan mengejarnya, tetapi pada akhirnya kehilangan pria itu.


Sean kembali ke Stef. "Apa Kakak ingin pulang? Biar kupesan taksi?"


"Tidak usah, Romeo juga masih ingin main." Stef memelintir bibir dengan perasaan gelisah. Bagaimana Jefri bisa tahu dia disini.


Sean membayangkan wajah pria asing barusan yang tidak ada di dalam daftar pencarian orang-orang yang dicurigai Paolo dan David. Mengapa juga Stef sampai memasang wajah ketakutan begini.


.


Mereka makan malam bersama. Lena tampak begitu romantis dan penuh perhatian pada David. Sean mengambilkan Lauk untu Stef karena wanita itu terus melamun setelah Stef mengambil makanan untuk Romeo. Emma dibakar api cemburu, karena Sean bahkan tak mengambilkan makanan untuknya.


"Makanlah dulu, Ka. Jangan banyak melamun," lirih Sean saat menghadap Stef dan wanita itu hanya mengangguk.


Sean beralih memandangi adiknya dengan gemas. Sejak kapan Lena tak tahu malu begitu, umbar kemesraan di depan umum.


"Kau tak bisa seromantis adikmu?" bisik Emma yang membuat Sean langsung tersadar dan tersenyum tersipu.


"Kau bicara apa, sih? Kau mau aku mencontek dia? Lihat, adekku itu karena hormon, masa kau samakan aku dengannya?"


"Romantis juga tak perlu hormon, tergantung niat orangnya aja," gerutu Emma sambil menunjuk pelan pinggang Sean.


"Kau mau aku romantis padamu, begitu ya?" lirih Sean dengan senyuman menggoda dan Emma hanya menggedikan bahu.


"Mami, Papi belum sampai?" tanya Romeo pada Mommy yang menyuapinya.


"Besok, Nak. Sabar, ya?" Stef mengelap dagu Romeo yang terkena lelehan kuah saus jamur.


"Besok, Romeo ingin main ke sini dengan Papi. Boleh ya, Mih," ucapnya di sela makan.


"Iya, besok, Mamih bilang Papih, ya." Stef mendorong untaian pasta ke dalam mulut mungil Romeo yang lahap makan.


"Kak, gimana jalan-jalannya, enak?" tanya Lena dengan nada manja sambil menatap Sean yang senyum-senyum sendiri sambil makan.


"Enak dong, gratis!" Sean dengan tatapan kasih sayang pada adeknya.


"Kau tahu Len, tidak ada hariku yang tenang tanpa ada gangguan dia. Aku mau libur satu hari dan beristirahat di hotel. Namun, dia merengek dan memaksaku untuk menjadi pemandu wisatanya. Keterlaluan dia!" Stef dengan muka kesal lalu melirik galak pada Sean yang tersenyum sangat imut. "Biar adekmu tahu kelakuanmu, Se."


"Wah, Kaka bisa juga merepotkan orang." Lena dengan geleng-geleng kepala.


"Lalu aku harus tidur di hotel 24 jam?" Sean membela diri.


"Nggak gitu juga kali, kakak," timpal Lena.

__ADS_1


"Aku sudah panggilin dia pemandu wisata, pelajar asal Indonesia yang kuliah di sana. Eh, dia malah membayar mereka lalu menyuruh mereka pergi


begitu saja," timpal Stefanie dengan wajah mulai merah karena marah.


David tertawa karena tingkah Sean mampu membuat Stefanie menjadi tidak terlalu kaku. "Kau tidak kasian dengan kehamilan Kak Stef, Kak Sean?"


Emma ikut tertawa, walau kedua tangannya saling meremas pakaian di atas pangkuan, di bawah meja. Cemburu membakar hatinya pada Kak Stef, yang seakan menampakan kedekatan dengan Sean.


"Kasian, karena itu aku memintanya berolahraga hehe. Jalan-jalan kan olahraga, lagipula, jalannya tidak jauhkan?" Sean menatap Stef di kirinya.


"Dasar! Ini anak egois." Stef membalas dengan tatapan tajam.


"Egois demi kewarasan," timpal Sean tak mau kalah. Lalu dia sama-sama membuang muka, begitu juga dengan Stef. Sean membeku karena wajah Emma yang tertekuk.


Emma melototi makanannya saat merasakan sentuhan hangat Sean. Emma meremas jari telunjuk kanan Sean yang memakai cincin. Cincin persahabatan.


Dahulu, Sean memberi dua cincin padanya dengan bentuk yang sama dengan yang dipakai Sean sekarang. Untuknya dan untuk Donna. Sean juga masih memakai itu sekarang. Tangan hangat Sean menggenggamnya lebih erat.


Ternyata Sean masih memikirkannya. Perlahan Emma tersenyum tulus saat dua tangannya memainkan jemari kanan Sean di atas pangkuan. Walau, Sean kembali menimpali perkataan David dan Stef, tetapi dia senang Sean masih peduli secara diam-diam padanya.


Stef ke kamar mandi, mengantar Romeo pipis. Lena sibuk dengan David, yang sedang mengobrol mesin penyeteril yang eror di rumah. Sean serong kanan dan menatap wajah Emma yang masih menunduk.


Sebuah serbet milik Sean diberikan pada tangan Emma, Sean berbisik di telinga Emma. "Lapi bibirmu, ada sesuatu di sana."


Emma mengelapi mulutnya dengan perlahan dan perasaan malu luar biasa. Dia melihat serbet putih yang jadi terkena sedikit bekas lipstik berwarna pinknya, tetapi perasaan, tidak ada sesuatu kotor atau apapun. "Masih ada?"


"Sudah." Sean tersenyum sambil mengedipkan satu mata, tangannya merebut serbet itu dari pangkuan Emma, lalu dimasukkan di saku jas kiri.


"Sean," Emma condong ke telinga Sean. "Kau mencuri itu .... "


"Biar saja, kali ini, David membayar denda ini."


"Tapi untuk apa?"


"Kau kan sudah mengotorinya."


"Tapi itu fungsinya kan memang untuk dikotori "


"Ssstt .... "


Sampai perjalan pulang, Emma dibuat bingung kenapa Sean mencuri serbet restoran. Dia jadi melambaikan tangan pada David dan Lena. Sayangnya, dia tak bisa melihat Sean lagi, karena Sean mengantar Stef dengan taksi.


"Kenapa juga Sean repot-repot mengantar Kak Stef," lirih Emma dengan putus asa dan berjalan sambil menggendong Donna yang tidur.


Charlie, anjing Labradornya menggonggong dan berlari ke arahnya. Emma mengabaikan anjing kesayangannya dan masuk ke dalam rumah.


...****************...


Manager itu berterima kasih pada Sean dan mengatakan tidak perlu dipermasalahkan soal serbet itu, yang harganya tak seberapa, karena David telah membayar 5x dari tarif sewa hariannya.


"Buset, pemborosan," batin Sean.


"Tuan David sudah terbiasa dermawan, tidak hanya pada kami. Lagipula perilaku keluarga besarnya juga mayoritas seperti itu." Manager itu tersenyum seolah membaca pikiran Sean.


"Apa Lena mencintai David karena David bisa membeli apa saja. Apa itu yang disukai para wanita. Lalu, Emma .... Bagaimana denganku yang tak bisa melakukan hal seperti itu? Bagaimana juga nanti seserahan untuk Emma, sebesar apa, untuk menikahinya? Tidak mungkin keluarga bangsawan mau mempermalukan dari menerima lelaki cacat seperti," batin Sean saat di dalam taksi. Ini membuatnya galau saja.


...****************...


Niko pulang kerja terkejut dan berteriak saat mendapati Emma dengan kemeja putih dan rok pendek. "Emma!"


"Kak Niko!"


"Apa yang kau kenakakan itu?" Niko masuk ke dalam dengan marah meraih kain pelapis sofa dan menggubet ke pinggang Emma sampai wanita itu berputar. "Ikat sendiri."


"Kak Niko, kupikir tadi Sean."


Nikomengerutkan kening pada lilin di atas meja, lalu meniupnya. "Kau mau membakar apartemenku? Bagaimana kalau terjadi kebakaran?"


"Kamu seperti tidak pernah romantis saja?" Emma mendorong Niko agar jauh-jauh dari meja makan.


"Romantis? Kau masuk rumah seorang pria dan kau bilang itu romantis? Itu namanya tidak sopan! Tidak punya attitude? Atau kau sengaja menikmati rasanya memberontak dari kebiasaan keluarga kaya yang serba penuh aturan?"


"Apa sih, kok jadi marah nggak jelas, kemana-mana? Kau kan temanku, seharusnya kau bantu mendukungku mendekati Kak Sean!"


"Mendukungmu dengan Sean dengan rok pendek? Kau benar-benar keterlaluan!"


"Apa yang keterlaluan? Semua ini kulakukan hanya untuk Kak Sean. Kau saja yang pulang tanpa bilang-bilang."


"Ini tempatku juga Emma! Dan Sean tidak suka cewek murahan." Niko menghela napas kasar dengan tangan terkepal di samping paha, melototi wajah cantik itu yang menyebalkan. Bahkan kenapa hari ini Emma tanpa riasan?


"Aku tidak murahan! Kami para wanita di negara ini biasa saja memakai seperti ini, masih di atas lutut sedikit, itu sopan. Biasanya juga bikini-"


"Diam! Dengarkan aku ya. Aku tak mau Sean menilamu buruk. Dia membenci hal seperti itu, dan jangan sekali-kali melakukan itu didepannya jika kau mau dia melihatmu. Lagipula kau tak boleh seperti itu."


"Kenapa? Kenapa kau ikut mengatur? Ini tubuhku."


"Seseorang bisa saja berbuat jahat padamu." Niko masuk ke dalam kamar. "Keluar dari tempat tinggal kami! "

__ADS_1


Niko menaruh tas dan melirik wajah sedih Emma . "Plis, Emma. Kenapa kau juga bisa masuk ke dalam apartemen? Kau pasti membayar pemilik gedung?"


"Tidak! Aku kan pernah melihat sandi pintu saat kau membuka pintu pagi itu. Aku hanya ingin membuat surprise untuk Kak Sean."


"Oke, biar kuberi kau waktu dua jam dan aku akan pergi. Dengan catatan kau tak boleh memakai rok pendek itu."


"Iya, aku akan membeli celana online."


"Sebelum itu." Niko membuka lemari milik Sean dan mencari celana panjang. Lalu sesuatu jatuh karena tak sengaja tertarik dan bertebar banyak foto polaroid .


Emma melihat ke lantai kayu dan melihat gambar satu persatu pada foto Stef dan Sean.


"Pikiranmu tak sependek itu kan? Poloroid kecil, otomatis mereka harus dekat untuk masuk frame." Niko menjelaskan karena tangan Emma gemetar saat melihat dan mengumpulkan foto Sean satu demi satu.


"Sudah pakai ini , jaga-jaga bila Sean datang duluan daripada belanjaan onlinemu." Niko menjatuhkan celana training ke kepala Emma hingga menutupi wajah cemberut wanita itu. Dia menarik foto yang digenggam erat tangan Emma dan mengembalikan ke tempat semula, di bawah tumpukan baju.


Niko membawa laptop keluar kamar dan melirik ke makanan yang disiapkan Emma. Niko buah jeruk yang telah dikupas.


"Kembalikan itu Niko!"


"Enggak!" Niko memasukan semua jeruk hingga memenuhi semua mulut dan memakannya sambil memakai sneaker putih.


Emma duduk di samping Niko. "Jika Kak Sean datang lebih awal dan melihatku pake celananya lalu aku harus beralasan apa?"


Niko terdiam dan mengunyah jeruk, dan menelan kasar. "Kamu bilang aja, celanamu ketumpahan noda saat kamuasak, lalu kamu cuci dan jemur. Eh, tetapi terbawa angin." Niko tersenyum miring.


"Ya! Makasih Niko, alasan yang masuk akal!"


"Dua jam dari sekarang, kau harus sudah pergi dan ini terakhir kali kau menggunakan sandi itu!"


"Siap!"


...****************...


Niko kembali dan matanya terkejut saat mendapati Emma tertidur dengan duduk di kursi meja makan dengan makanan masih utuh. Dia masuk perlahan ke kamar dan menghubungi Sean.


"He, kau dimana sudah jam 8 malam, kau lembur apa?" tanya Niko


["Aku sedang membantu Romeo mengerjakan PR."]


"Kau pulang jam berapa? Emma menelpon mu tidak?"


"Aku belum tahu pulang jam berapa. Emma? Kenapa dengan Emma? Dia tak ada kabar itu seharian? Katakan ada apa, Niko?]


"Oh .... enggak apa. Kali aja Emma menelponmu." Niko mematikan telepon dan terdiam sejenak, merasa begitu kasian pada Emma. Dia pun membangunkan Emma dan meminta Emma pulang.


"Tidak, aku mau nunggu kak Sean pulang. Mungkin dia masih di kantor." Emma dengan tatapan polos.


Menit berlalu sampai jam sepuluh malam. Niko kesal karena melihat wajah cemberut Emma, membuatnya tidak nyaman saja. "Sini biar aku makan masakanmu, lalu aku antar kamu pulang. aku harus kerja. mungkin Sean banyak kerjaan di kantor.


"Aku antar makanan ini saja ke kantor." Emma berdiri dengan wajah lelah tetapi penuh keyakinan.


"Jangan, jangan berlebih-lebihan. Kau wanita tak boleh mengejar pria. Cuek sedikit begitu loh." Niko merebut dua piring yang dipegang Emma dan melahap makanan itu sampai habis.


Malam itu Niko mengantar Emma menggunakan mobil Emma. Dia melihat gadis itu tertidur. "Cantik bangun, sudah sampai."


Niko condong ke Emma dan menepuk pipi itu hingga Emma membuat mata dan mengucek perlahan.


"Besok, aku boleh kasih surprise seperti tadi untuk Kak Sean?" tanya Emma dengan suara parau.


"Tidak, jangan ditempatku. Kalau mau, aku bantu kamu di luar apartemen. Nanti, aku undang Sean diam-diam, biar kamu tak menunggu seperti tadi, ya?"


"Makasih Kak Niko, sudah makan masakanku."


"Ya sudah, cepat masuk." Sean turun dari mobil Emma, lalu berjalan dan masuk ke taksi yang telah diteleponnya.


...***************...


Sean merentangkan badan dan begitu lelah, baru selesai dari pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah Stef. Dia keluar dari ruang kerja itu dan mendapati Marcho berdiri di depannya dengan tatapan tajamm


"Kau sudah pulang. Aku juga mau pulang-" Mata Sean membelikan dan lehernya tercekik karena jeratan tangan Marcho di kerah kemejanya.


"Kiperingatkan padamu, untuk tidak terlalu dekat-dekat Romeo." Marcho pipinya mengecil dengan wajah merah padam. "Lihat batasanmu orang luar," geramnya.


"Ma'af, aku tak bermaksud begitu. Tetapi kamu juga kurang pantas berbicara begitu kalau kamu sendiri tidak pernah ada untuk Romeo." Sean dengan tatapan penuh peringatan. "Dia selalu mengharapkanmu, tetapi kau tak pernah ada untuknya. Jadi, jangan salahkan aku ya, jika Romeo lebih sering menghabiskan waktu bersamaku?"


"Bedebah. Jangan mentang-mentang adikku selalu membelamu, kau jadi berasa di atas angin."


"Siapa yang diatas angin? Mari tak usah seperti anak kecil? Kau tak perlu cemburu, kau bisa mulai sering bersama Romeo hingga dia bisa melupakanku dan tak menelponku lagi saat kesepian."


"Marcho, lepaskan dia!" Stef dengan suara rendah tetapi penuh penekan. Dia terkejut karena Marcho baru pulang, bukannya menemui anaknya yang belum tidur, justru malah disini.


Tangan Stef menarik lengan Marcho karena wajah Sean telah ungu akibat cengkeraman Marco. Dia meneplak tangan suaminya dan menarik tangan suaminya hingga Marcho seperti melepaskan Sean dengan tidak rela.


"Aku belum selesai denganmu!" ketus Marcho sambil melihat ke belakang saat menariknya. "Keluar dari rumahku, dan jangan pernah ke mari lagi!"


Sean menghela napas panjang sambil mengelus lehernya yang panas. Kuat juga cekikan Marcho sampai membuatnya sulit bernapas. Dian melangkah dengan sungkan karena kepala pelayan baru mengantarnya karena perintah Marcho.

__ADS_1


__ADS_2