Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
102 : Hanya Teman


__ADS_3

"Lena." David meringis mendapati orang yang dicintainya, sedang duduk di lantai dengan tampak asik dengan dunia sendiri.


Pria itu terdiam selama dua puluh detik, mengamati dari ujung rambut Lena, perut, kaki. Melangkah penuh arti dan berjongkok dengan jantung berdegup kencang. Digenggam tangan sang kekasih dengan lembut. "Ini benar kamu, Sayang?"


"Niko, kamu pulang ...." Lena memerjapkan mata saat melihat pria berhodie di depan, membandingkan dengan foto-foto di dinding, seketika kebencian terbentuk di hati. "David?"


"Ya, Mah, ini aku." David bersuara sangat lembut dengan 0enuh kerinduan, lantas memandang dinding pada deretan fotonya. Matanya lalu berkedut saat melirik sebuah foto di tangan sang istri yang adalah foto Niko! Hatinya mengkerut melihat Lena yang kemudian memeluk foto Niko, seakan itu sesuatu yang sangat berharga.


"David?" Lena mendelik dengan rahang mulai mengeras. "Pergi dari rumahku! Pergi menjauh! Sanaaaa!" Lena menjauh dengan bergeser susah payah dan geleng-geleng kepala ketakutan.


"Pergi?" Apa dirinya salah mendengar, tangannya terkepal melihat foto Niko. David menoleh ke belakang pada keributan. Sean menerobos Axel dan Jefri. Tampak mata Sean berkaca-kaca saat memeluk Lena dan mendapat balasan pelukan lebih dalam, membuat David diliputi rasa cemburu.


"Kak," suara Lena mengi. "Kakakkkkkk .... Aku kangen, Kakak ke mana saja?" Dia mulai sesenggukan, mencengkeram lengan sang kakak atas luapan emosionalnya yang sulit dikendalikan.


Sean makin mendekap bahu Lena. "Ibu sakit, Dek. Dia mengkhawatirkan kamu," kata Sean dengan serak tak mau melepas dekapan. "Kami itu semua kangen kamu."


David menyentuh bahu Lena hingga wanita yang masih dalam pelukan Sean lalu menggerakkan kepala ke arahnya dan menatap seakan penuh kebencian.


"Menjauhlah! Kamu jahat! Sudah memisahkan aku dengan Niko! Pergi!" cebik Lena dengan nafas tersengal.


"Dek, apa yang kau bilang?" Sean menoleh ke David yang begitu syok. Dia menangkup pipi Lena agar menghadapnya, dan mata hazel itu masih melirik David dengan tajam.


"Dek, Niko yang menculikmu, kenapa kau memarahi suamimu sendiri!"


"Dia bukan suamiku! Aku istri dari Niko!"


"Kau bilang apa, Dek! Apa kau kesurupan? Suamimu itu David! Maafkan Abang karena kau harus melewati ini semua. Mari kita pulang dulu, Sayang."


"Tidak mau! Ini rumahku dan aku akan menunggu suamiku!" Lena mengerutkan bibir, memelototi David.


"Ini, aku David, suamimu, Sayang," suara David parau. Ini benar hal gila untuknya. Jadi, benar kata Axel, ada yang tidak beres dengan Lena.


"Niko suamiku! Jangan mengaku-ngaku kamu!"


Sean melongo mengapa Lena ngegas setiap berbicara dengan David. Dia jadi tidak enak hati.


"Kau apakan Niko! Kamu pasti menyakitinya dan memisahkan kami. Dasar Jahaaaat! Pergi, beritahu dimana kau menyembunyikan Niko! Penjahat!" Lena berusaha terbebas dari rengkuhan kakak, tangan mengepal dan meninju-ninju ke arah David, tetapi ditahan sang kakak.


"Tidak seperti itu, Lena. Kamu istriku, sayang-" David memekik, hampir gila rasanya. Ingin berteriak dan berharap Lena mengerti.


"Tinggalkan aku, jangan katakan apapun! Cepat, pergi sanaa, bedebah!" mengi Lena begitu muak, memukuli tangan David yang berusaha menyentuh tangannya.


"Ayo, sayang, kenapa kau memarahiku. Apa salahku, aku tidak melakukan apapun, ada apa denganmu .... Kau melupakan semuanya, membenciku? katakan apa yang harus aku lakukan? Aku sudah mencarimu berbulan-bulan, meski tidak berhasil, dan syukurlah kau tidak terluka." David menghembus kasar dan menatap sedih pada sang pujaan hati.


"Abang suruh dia pergiiiii!" suara teriakan Lena pecah dan gemetar karena amarah, mencengkeram kulit David karena berani memegangnya.


Tatapan mata hazel terlihat seperti menikam mata David. Karena David tak melepaskan pegangan, wanita itu membenamkan wajah di dada sang Abang dengan tangisan putus asa. "Kumohon usir dia, Abanggggg... Hhksh! hksh! Hkss! Biar kita nunggu Niko pulang, dia pasti pulang sebentar lagi."


Perut Lena mendadak keram. Dia meringis, sakit di seluruh permukaan perut, sampai menahan napas.


Semua orang panik. Wanita tua yang mendengar teriakan kesakitan Lena menerobos masuk dan menyentak orang yang mau menghalanginya.


"Biarkan dia masuk," titah Axel dengan wajah panik begitu mendengar anak buahnya yang bilang bahwa wanita itu yang bertugas untuk membantu kelahiran Lena.


Pintu kamar ditutup, Umai Maharati menghamparkan selimut empuk di di lantai. David menggendong Lena yang merintih panjang dan sempat menggigit lengan David karena tidak kuat akan rasa sakitnya. Setelah Lena dibaringkan, David memegangi bahu sang isteri, tetapi ditolak Lena.


Umai Maharati berbicara dengan gerakan tangan pada David, tetapi David tidak bisa memahami. Axel membawa seseorang yang bisa berkomunikasi dengan tangan. Ternyata Umai Maharati meminta agar David membebaskan satu anak buah Niko yang bertugas membantu selama proses melahirkan.


Pecco merebus air setelah diminta Umai Maharati sambil mengamati sekitar. Di sini David tak tahu bahwa dia wakil pimpinan, karena semua anak buah telah dia hipnoterapi agar menuruti perintahnya.


Di lantai beralas selimut, Lena tertutupi sarung di bagian perut sampai ke lutut yang tertekuk saling berjauhan. Umai menarik napas panjang sambil mengayunkan tangan ke atas agar Lena mengikuti instruksi sesuai tempo.


Sean di sisi kepala sang adik, dimana tangan menguatkan genggaman pada remasan sang adik. Sementara, David seperti orang bodoh begitu sakit merasakan kesakitan Lena, di belakang Sean, mencoba tidak terlibat Lena agar wanita itu fokus.


Axel dan Jefri mondar-mandir di luar pintu dengan wajah pucat karena gelisah. Mendadak suasana mencekam.


Berkeringat dingin, David mengelap kening. Bibir saling memelintir, saat hati sakit bagai ditikam ribuan belati karena Lena yang memanggil Niko. Dia terus berdoa untuk keselamatan sang bayi dan Lena, di dalam hati.


"Ya, Allah beri anak dan isteri ku selamat. Tolong maafkan aku yang menjadi suami yang tidak baik dalam menjaganya selama ini," kata David dalam hati dengan penuh harap. Dia rela menukarkan nyawanya demi keselamatan dua orang yang dicintainya.


Bau amis semakin kentara, jauh lebih amis daripada darah biasanya. Sean beruraian air mata, dirinya bagai terbelah setiap mendengar Lena mengejan dengan sekuat tenaga lalu bernapas cepat pendek.


Umai Maharati terus mengintip ke bawah sarung, sampai akhirnya lebih membungkuk bersamaan terdengar suara tangisan bayi yang pecah, menggema membuat semua orang yang mendengarnya sempat terkesiap beberapa detik lalu tersenyum semeringah.


Selang-selang otak David, seperti ada bolam lampu yang menyala dan pikirannya mendadak terang melihat dua tangan mungil bayi itu terkepal, gemetar, seakan bayinya itu protes ingin dipeluk. Sang bayi diserahkan Umai Rati pada sang papa yang berlinangan air mata bahagia. Tampak Umai Rati memotong tali pusar dan David makin meringis gemetaran karena ngilu melihatnya, tak rela bayinya merasakan sakit.


Dua sudut bibir Sean terangkat, air mata mulai berjatuhan, dia mencium kening Lena yang basah kuyup. "Dek, dia cantik seperti kamu saat lahir, hkks hkss."


Anak perempuan ..... David mengadzani dengan penuh keharuan. Mengecupi pipi sang putri, terpesona pada rambut tebal hitam, tetapi terselimuti samar sesuatu putih-putih lengket. Mata bibir mungil itu masih ungu, dan bayinya merah tersamar sesuatu putih lengket, serta sedikit darah. "Sayang .... Putri saljuku ..... "


David menciumi anak perempuan saat Umai Maharati membersihkan darah di sekitar kewanitaan Lena. Axel yang barusan masuk memberitahu sang tuan bahwa sang bayi akan dibersihkan. Bayi itu digendong Axel dengan hati-hati keluar dari kamar, diikuti Umai.


Sean keluar dari kamar dan menemui anak buah Niko di depan rumah, untuk mengajukan pertanyaan.


David menarik selimut, menutupi tubuh sang istri yang terlihat lemas dan kini terpejam. "Maaf, Maaf. Ini berat bagimu. Maaf. Terimakasih melahirkan putri kita dengan selamat. Oh, Ya ampun kita memiliki seorang putri, Mah."


"Pergi dari ku," lirih Lena, tak mempunyai kekuatan menyingkirkan tangan David dari wajahnya. Dia menolak dengan mengatubkan bibir saat David memberikan sedotan dan segelas air, walau dia sangat haus.


Jari-jari Lena tak berdaya dalam genggaman tangan David. Matanya berat, ingin menutup mata karena semua energinya habis.


...****************...


"Aaaaahhhh! Aghhhh! Aggg!" Lena berteriak memilukan tak terkendali. "Buka pintunya! Kau semena-mena! Apa bisamu memaksa!" Lena menggeram seperti orang kesurupan.


Emma mondar-mandir di depan kamar Lena, sudah seminggu sejak kepulangan Lena. Dia jadi tidak mengenal Lena. Psikiater bahkan mendapat amukan dari Lena yang sangat marah.


"Kamu jahat, Dav!" Lena tertawa getir, rasanya tenggorokannya begitu pahit, padahal dia tak makan biji mahoni. "Kau mengurungku seperti hewan. Oh," teriakan putus asa diikuti getaran pintu akibat tendangan Lena.


Emma membeku sesampai di kamar lain. Tampak David coba memberi susu formula pada sang bayi. Lena tidak mau memberi asi bahkan tak mau melihat bayi yang tak berdosa itu.


Mendengar rintihan David, membuat Emma tak berdaya. Seorang David bahkan bisa putus asa seperti itu.


Kembali ke rumah, Emma termenung di kamar. Laptopnya dibuka, dia bisa melacak keberadaan Niko dari nomer yang dulu diam-diam dicatatnya. Niko benar-benar marah karena tidak menghubunginya.


Emma sedih teringat kalimat terakhir Niko yang terasa menikam jantungnya sampai begitu sakit, sebegitu kecewanya kah Niko saat tahu bahwa dia yang memberi tahu keberadaan Lena. Tapi dari mana Niko tahu?


Di tempat lain, Niko terjebak di depan paman keempat, dia baru melihatnya secara langsung wajah itu. Siksaan mereka tak sesakit dibandingkan saat Emma mengkhianatinya. Luka hatinya begitu dalam setelah Emma yang dia anggap bisa dipercaya, justru membuat kecewa.


"Saya harap kau menyesali kata-katamu, berubah pikiran. Bunuhlah Marcho dan David!" Pria berjas dan berjam tangan mahal dengan rambut putih dan wajah kotak itu memasang wajah geram sampai merah padam.


Niko menggeleng kepala, tubuhnya seketika ditarik, melayang. Dia menarik napas dalam dan berikutnya dingin menyelimuti wajah. Suara blubuk-blubuk air terdengar ditelinga yang tetasa tersumpal saat dia berusaha terbebas dari air yang menenggelamkan kepalanya.


Jegalan tangan para penjagal begitu kuat. Dia mulai kehabisan oksigen, dada mengembang maksimal membutuhkan udara. Tapi dia keselek air asin dan sakit menyelimuti tenggorokan dan hidung saat air otomatis tersedot, masuk ke paru-parunya, menyakitkan.


"Ahhhhhh!" Niko menganga saat kepalanya ditarik ke udara. Dia cepat-cepat menghirup oksigen di udara sebanyak yang dia bisa, mengabaikan sakit dadanya. Dia harus tetep hidup! Menakutkan dia orangtuanya!


Belum menghirup ke empat kali, saat dia juga batuk-batuk menumpahkan air asin. Kepalanya terasa melayang dan sakit di rambutnya karena jambakan keras dua tangan di belakang.


Suara blubuk-blubuk kembali menyelimuti telinga. Niko menjejak kedua kakinya yang terantai, berusaha membebaskan diri dengan dua tangan yang dirantai di belakang, berusaha meraih salah seorang dari mereka tetapi dia justru merasakan kepalanya semakin tenggelam sampai kini seluruh tubuhnya terselimuti air yang sedingin es.


Sementara dia tenggelam masih mendengar suara tawa jahat paman ke empat diikuti tawa orang lain. Niko mengelengkan kepala, dadanya menciut maksimal bagai belati terus menunsuk tenggorokan dan paru-parunya. Asin di mulutnya, pedas di mata tenggorokan dan sakit di telinganya, kakinya menghentak tak bertenaga. Oh mungkin ini akhir dari hidupnya sebelum sempat tahu keselamatan kedua orang tuanya.


.


.


Menekan bel berulangkali, Emma sempat syok saat melihat seorang wanita muda yang sangat manis begitu pintu itu terbuka. "Maaf, saya mencari Niko. Saya tahu dia di sini."


Menyipitkan mata dengan selidik, Lili menatap wanita itu dari bawah. "Kak Niko sudah seminggu lebih tidak ke sini."


"Bohong, dia pasti menyuruhmu diam, kan!" Emma melesak masuk dan memeriksa apartemen tipe studio membuat Lili marah karena ketidaksopanan tamu itu.


"Mana Kak Niko? Dibilang, kok enggak percaya!"


"Ponselnya, di rumah ini!"


Lili mengerutkan dahi. "Sebentar." Dia masuk ke dalam kamar, dan masih saja wanita asing itu ikut melesat masuk ke dalam kamar..


Lili meraih kunci cadangan untuk membuka lemari bagian kiri. Dia berjongkok dan melihat barang-barang Niko, ditariknya ransel itu dan lagi-lagi dirampas wanita asing. Eh! Dia bukannya pemilik butik terkenal itu? Tempat Kak Niko dulu jadi brand ambassador!


"Apa boleh, saya minta tanda tangan Kak Emma! Saya suka produk-produk dari butik Kakak." Lili dengan malu karena wanita itu menatapnya tajam di sela memeriksa isi ransel.


"Itu gampang! Ada yang lebih penting. Sepertinya ada sesuatu terjadi pada Niko?" Emma melirik wanita itu lalu mengeluarkan ponsel Niko yang baterainya tinggal satu.


"Oh, pakai acara mau mati." Emma meraba-raba ke dalam, meraih charger. Dia mencolokkan stop kontak di tempat yang ditunjuk Lili. Hatinya tidak tenang akhir-akhir ini.


...****************...


Berita penembakan muncul di televisi di kediaman Paman Ke empat menggemparkan publik soal Alfonso yang tewas ditempat setelah ada laporan pembantu rumah yang melarikan diri karena terjadi baku tembak.


Rumah itu kini dijaga ketat polisi untuk investigasi. Kakek Leora, yang adalah sang ayah bahkan dilarang memasuki area perkara. Pelakunya masih dalam kejaran.


Leora mengerahkan anak buah untuk menemukan anak ketiganya -Josh, stelah menghilang pada saat kematian George. Dia juga sudah memperketat penjagaan dibantu kepolisian di seluruh kediaman keluarga.

__ADS_1


David dan Paolo menuju rumah sakit, menuju sebuah kamar rawat intensif yang dijaga pihak kepolisian. Ya, mereka syok karena Niko ditemukan terluka mengenaskan di rumah belakang, di rumah Paman Keempat.


Begitu mendapat ijin masuk, dua sahabat itu masuk ke dalam ruang intensif. Dimana Niko menggunakan alat bantu pernapasan karena masalah di paru-paru yang membuat lelaki itu tak bisa bernapas normal. Dokter bilang Niko baru melewati fase kritis.


Paolo melirik ke belakang pada seorang petugas polisi yang tetap mengawasi. Karena Niko kemungkinan akan menjadi salah satu saksi, dalam tragedi baku tembak di rumah Paman Keempat.


Sementara, di rumah sakit yang sama. Marcho termenung. Baru tiga hari sadar, kemarin dia melihat bayinya terakhir dan Stefanie kini terbang ke luar negeri membawa kedua anaknya. Sungguh hatinya terasa hancur berantakan.


Anna berdeham dan mengulurkan sendokan makanan ke mulut Marcho. Kakek Leora duduk di sofa, mungkin sudah menyerah atau lelah memberi peringatan padanya. Kakek tua itu tak berkomentar, meski sempat meliriknya selama lima detik dan kini hanya memandangi Marcho yang sering melamun. Suasana ruangan itu begitu dingin bagi Anna, bukan karena AC, tetapi karena Anna begitu gugup.


"Saya ingin ke luar negeri, Kek." Marcho melirik ke arah Leora.


"Qatar?" Leora mencengkeram tongkat di tangannya, dia melirik Anna yang makin tertunduk.


"Entah .... Terlalu banyak tragedi. Saya rasa tidak akan bertahan dalam kewarasan jika tetap di sini?"


"Kamu akan menyusul Stef?" suara Leora datar, walau dalam hatinya itu yang diinginkan.


"Tidak .... " Marcho melirik Anna. "Terlalu berat ... Aku benar-benar trauma dengan semua orang yang kutemui belakangan."


Anna menunduk, mencengkeram piring dalam genggaman. Dia melirik tangan Marcho yang mengusap punggung tangannya, seakan memberi sinyal bahwa tidak ada ada yang perlu dicemaskan.


"Kamu tidak bisa pergi sampai proses pengadilan selesai. Dan menemukan semua pelaku kejahatan yang berputar di lingkungan kita." Leora mengembuskan napas kasar, dia lelah menyembunyikan semua beban. Walau sebenarnya dia ingin menangis dan tak mempercayai kematian putra keempatnya.


...****************...


"Kamu berarti bagiku, Mah. Aku janji tidak akan ada yang pernah menyakitimu lagi. Maaf, maaf," kata David dengan nada rendah, bergetar.


Dalam keheningan lama yang secara harafiah 15 menit. David menggenggam tangan Lena, nafas sang isteri tersengal dan wajah ayu itu yang seperti kertas kusut.


"Sayang, maukah kamu mendengarkan ku?" David mencoba mengecup punggung tangan itu tetapi mendapat tamparan.


"Kamu telah di cuci otak." David mengelus-ngelus telapakntangan yang bergetar itu. "Coba pikirkan, lihat semua foto kita di sana tampak bahagia." David menunjuk semua foto di kamar dan wanita itu menatap kosong ke deretan bingkai, wajah ayu itu seketika berubah murung.


"Kita saling menyayangi. Adalah pukulan besar saat kamu menghilang dari hotel. Aku langsung kehilangan pikiranku saat itu. Banyak masalah di keluargaku. Aku semangat semangat ingin menemukanmu. Mengapa kamu jadi membenciku. Membenci harus ada alasannya? Pikirkan itu ya, Sayang. Ayo kita berpikir bersama. Gunakan otak mu, Mah. Kalau dulu kamu membenciku, kenapa kau begitu bahagia di foto? Cepat pikirkan."


Lena menekuk bibir saat David bilang seperti itu. Dia hanya ingin mendengar dan melihat Niko. Tidak mau berpikir. Ah, apa itu berpikir.


.


.


Siang yang cerah ....


Suara Niko terus menggema di pikiran Lena. Membuat wanita itu melarikan diri saat semua orang lengah di taman. Dia kini bersembunyi di balik pepohonan, duduk dengan menggambar bintang. Jika dia merindukan Niko, kata pria itu dia hanya perlu menggambar ini.


Semua pelayan kebingungan dan ketakutan mencari Lena ke seluruh sudut rumah. David yang memasang pelacak di gelang Lena sontak memberitahu Axel bahwa Lena baru keluar gerbang, tampaknya Lena memangfaatkan situasi saat semua scurity berkumpul di pelataran rumah.


Di pinggir jalan, Lena terus melangkah, melihat orang-orang sekitar dengan penuh jeli. Dia lalu berlari ke tengah jalan membuat mobil yang tengah jalan mau tak mau mengerem mendadak.


"Gila, ya! Kalau mau mati jangan di jalanan!" bentak seorang pengemudi. Lalu mundur, lewat di sisi jalan berlawanan. "Gila!"


Lena melihat pria itu bukan Niko. Dia kembali merentangkan tangan sampai membuat kemacetan. Orang-orang mengira wanita itu gila. Hingga membuat beberapa pengemudi yang tak tega mengarahkan Lena ke pinggir jalan.


"Di mana Niko?" Tanya Lena dengan penuh harap dan memandang ke semua pria yang mengerumuninya.


"Bawa ke kantor polisi saja," ucap yang lain.


Lena mendorong salah satu dari mereka dan melewati begitu saja karena tak melihat Niko. Dia berjalan lagi dengan keyakinan pasti menemukan Niko.


Beberapa tempat makan di datangi. Namun, tidak ada yang tahu keberadaan Niko. Mereka ada yang memberi makanan tetapi diletakan makanan itu di meja, setelah memastikan tidak ada Niko di sana.


Di pinggir jalan, Lena menangis dan duduk putus asa, memukul diri sendiri, menarik kalung, gelang dengan kesal dan melemparkannya tak terkendali.


Wanita itu coba menghentikan mobil lagi dan bertanya soal Niko, wanita itu bilang tahu di mana Niko. Lena tersenyum kegirangan dan mengikuti arahan wanita itu masuk ke dalam mobil.


Sekepergian Lena, Axel dan David berhenti di titik GPS. Mereka melihat sekitar tetapi tidak melihat Lena. Jadi, mereka bertanya ke kafe di sekitar situ dan melihat rekaman cctv kafe. Terlihat Lena dibawa mobil SUV merah.


.


.


Di sebuah rumah besar, Lena tersenyum dan menunduk malu saat wanita bernama Jenny itu bilang dia harus berdandan untuk menemui Niko, lalu itu bisa membuat Niko semakin mencintainya.


Tidak lama setelah itu, datang perwakilan dari butik membawa banyak setelan pakaian feminim. Mata Oliv membelalak melihat ada ibu wakil dirut. Dia menunduk membungkuk memberi hormat, tetapi bosnya itu langsung menghadap ke arah Mami Jenny.


Mami Jenny adalah seorang pelanggan tetap yang biasa dipanggil Mami. Pekerjaan wanita itu adalah merekrut gadis belia untuk dijadikan pekerja malam. Oliv bingung, jadi dia memilih diam. Mengira mungkin Mami Jenni dan ibu wadirut saling kenal.


Koper pakaian itu di taruh di lantai kamar, Oliv terus melirik pimpinannya yang tampak begitu polos, beda dari biasanya yang ceria. Setelah ditemukan dari penculikan itu, pimpinannya itu tidak pernah masuk kantor. Kata Emma, Lena sakit dan membutuhkan waktu istirahat sementara waktu, tetapi pimpinan di sini terlihat fit dan bersemangat.


"Ibu Lena .... " Oliv kembali memanggil untuk ke tiga kali dan wanita itu tak beralih dari memandangi diri sendiri di pantulan cermin dengan takjub.


"Niko pasti menyukai ini!" gumam Lena dengan senyum malu-malu sambil mengayunkan ujung dress sebetis ke kanan dan kiri.


"Maaf, Ibu? Niko .... Anda bertemu Niko?" Tanya Oliv yang tahu berita di kantor, bahwa Niko diisukan keluar dari kantor tanpa alasan jelas.


"Eh, kamu kenal Niko?" Mata Lena berbinar. Namun, lalu cemberut. "Kamu siapa nya suamiku? Kamu tidak menggoda suamiku kan!"


"Ha, maksud anda Tuan David? Ah, saya saja tidak pernah ketemu Tuan David, Ibu ...." Oliv jadi panik kenapa dia jadi dituduh.


"Kamu tidak menggoda Niko suamiku kan!" Lena maju dan memasang wajah galak dengan tangan melipat di depan dada.


"Ha, sejak kapan Niko jadi suami Ibu?"


"Aku hanya menikah dengan Niko! Kau pasti wanita licik! Pergi dari sini!" Lena mendorong wanita itu sampai keluar dari kamar. "Jangan berani-berani nakal dan mendekati Niko! Aku peringatkan!"


Brak!


Oliv berkedip beberapa kali. Dia lebih syok saat Mami Jenny di belakangnya.


"Kenapa di luar? Jadi, mana yang paling pantas untuknya? Buatlah dia tampil paling elegan di mata para pria!"


"Mami Jen, apa maksud anda?" Oliv masih tidak mengerti.


"Dia anakku." Jenny mengedipkan satu mata. Lalu berbicara dengan elegan. "Anak Mami di Bar."


"Apa?"


"Dia memang sedikit .... " Jenny lalu berbisik. "Seperti, tidak waras. " Wanita itu tertawa dengan ditutupi bibirnya. "Tetapi, bukan berati tidak ada yang mau."


Oliv menganga dan bibirnya gemetaran. "Saya ingin ke toilet." Dia langsung menuju ke toilet di luar kamar yang ditunjukan Mami Jenny.


Lekas, Oliv menelepon Direktur utama. Tak perlu waktu lama, Oliv langsung melaporkan semuanya. Seketika dia syok saat pimpinan memberitahu bahwa ibu wakil direktur memang sedang tidak baik-baik saja. Dia diminta Emma agar menunggu di situ tanpa membuat keributan dan memberi segala alasan.


Sorenya, David dan Emma telah tiba di rumah Mami Jenny saat Lena telah cantik dan siap akan dibawa pergi. Oliv semakin pucat pasi begitu melihat tatapan tajam David yang seperti membunuh.


"David!" Lena berpindah ke belakang Mami Jenny berusaha bersembunyi, padahal David sudah melihat.


"Selamat sore, Mami Jenn. Maaf mengganggu kenyamanan anda-" Emma dengan ramah, tetapi dia terdiam saat David berjalan dan berdiri di samping Lena yang langsung memasang wajah tidak suka.


"Hei, Tuan .... " Jenny melirik lelaki itu dari atas ke bawah lalu berbinar.


"Tidak kah kau tahu siapa yang kau sentuh?" Bisik David dengan aura menyeramkan membuat nyali wanita itu seketika menciut.


"Tuan, apa yang salah?" Jenny merasakan dingin menyelimuti tubuhnya.


"Mami Jenn, ayo cepat kita temu Niko, jangan buang waktu untu orang ini," bisik Lena di belakang Mami Jenn. Membuat semua wanita disitu langsung membeku karena melihat perubahan pipi David yang tadinya putih kini memerah dengan bibir terkatub rapat, bahkan tangan pria itu terkepal!


"Maaf, Mami Jenn. Yang dibelakang anda, adalah istri Tuan David." Emma melirik terkejut karena Lena sedang memelototi dengan kebencian. Apa salahnya.


"Bohong! Aku bukan istrinya. Jangan percaya Mami Jenn, aku istri Niko. Mereka mengaku-ngaku-"


"Diam Lenaaaa!" Bentak David menggema ke ruangan besar itu membuat semua wanita mendadak merinding, terkecuali Lena.


"Kamu yang diam! Aku bukan Lena!" Bentak Lena balik dan kini justru melewati Mami Jenn, mendorong kasar dada pria itu. "Dan berhenti mengaku-ngaku bahwa aku adalah isterimu? Menyuruh orang-orangmu menangkapku!"


Tangan David terkepal gemas sekali oh dia ingin memukul apa saja sampai hancur tak bersisa.


Lena menarik tangan Mami Jenny dan berjalan, tetapi dia kesulitan karena Mami Jenny tidak bergerak sedikitpun, seolah kaki wanita itu terlah dicor ke lantai. "Ayo, Mami Jenn, antar aku ke Niko," suara Lena berubah melembut dan memandang bingung ke wajah wanita yang kini pucat pasi.


"Apa maksudmu, hei kau pendatang baru di kota ini. Tidak tahu siapa aku?" David menyipitkan mata dengan mata merah.


Jenny mengelengkan kepala dan pria itu menyeringai dengan aura menakutkan.


"Tidak, Tuan. Saya tidak tahu, tapi pasti Anda orang penting di kota ini, dan saya tidak akan berani menyinggung anda lagi. Tolong ampuni saya."


"Tidak semudah itu, dasar. Kau memanfaatkan wanita sakit untuk mencari pundi-pundi dollar? Kau pantas di pen-ja-ra," geram David dengan bibir berkedut. "Sial, kau berani akan menawarkan istri ku pada hidung belang? Bahkan pelangganmu akan takut lebih dulu mengetahui siapa yang kau tawarkan, wanita gila! Mati saja kau!"


"Kak Dav, cukup! Dia tidak tahu!" Emma memeluk David yang akan memukul wanita itu, hingga pukulan itu tak sampai mengenai Jenny. "Tolong, ini semua salahku, Kak!".


David, Emma, dan Oliv, serentak melihat ke arah Lena yang berlari. Namun, wanita itu berikutnya ditahan Axel.


"Lepas!"

__ADS_1


"Maaf, Nyonya." Axel menahan tangan Lena dan berikutnya dia mendapat tendangan Lena di tulang keringnya.


Lena berlari saat terbebas dan berikutnya, dia tertahan sebuah tangan kekar dan bau familiar. Pandangannya melayang, bumi terasa berputar dan bergerak. Lena merasakan pantaaaatnya ditahan dan kepalanya pusing. Dia berusaha memberontak tetapi cengkeraman kekar makin kuat.


Emma melongo melihat Lena yang dipanggul seperti karung beras, dia tidak mengerti mengapa David bisa jadi seperti itu! Dia pun lekas menyusul David takut terjadi sesuatu dengan Lena.


Sedangkan, Oliv menjelaskan sesuatu yang tidak wanita itu tahu, tetapi berikutnya salah satu anak buah Axel menyuruh Oliv pulang.


Jenny merinding, melihat seorang pria sangar menyuruhnya duduk dan merasa terintimidasi di rumahnya sendiri. Pria itu jelas takkan bisa digoda ataupun ditawari gadis belia. Pasti urusannya menjadi runyam. Dia pikir wanita yang ditemukan di jalan bisa menjadi lahan uangnya karena kecantikannya, tetapi kini membuatnya jadi dalam masalah.


.


.


"Aku akan lapor ke polisi! Kau akan ditangkap karena kasus penculikan!"


"Oh begitu?" David mengeram dan masih menahan kedua tangan Lena di pangkuan wanita itu. "Axel, ke kantor polisi!"


"Apa, Tuan?" Axel seperti salah mendengar. "Tapi untuk apa?"Berpikir cepat. "Oh! Melaporkan Mami Jenn? Anda tidak perlu repot-repot, biar-"


"Kau tidak dengar aku bilang apa!"


"Ya, kantor polisi!" Nada suara Lena lebih tinggi daripada David. "Biar lelaki ini masuk penjara!"


"Baik," kata Axel dengan lirih. Masih bingung.


Mobil berhenti di parkiran kantor polisi, David turun dari mobil dan Lena berlari lebih dulu. Dia berkata tegas pada Axel yang akan mengejar. "Biarkan .... "


Axel mengangguk saat melihat Lena masuk ke kantor aduan. Emma yang dari tadi membisu, masih diliputi penasaran dengan apa yang akan dilakukan David.


"Kenapa dia selalu bilang, menikah dengan Niko-" Lena meringis takut karena lirikan tajam David. "Ya, begitulah."


"Kenapa kau mendatangi kamar .... Niko?" tanya David, dari kemarin ingin tanya ini dan merasa sangat tidak senang.


"Dia sakit! Kau tidak kasian?"


"Kasian?" David berhenti sejenak dan Emma membuang muka. Dia menyusul Emma yang berjalan lebih cepat. "Kau tidak lihat apa yang dilakukan Niko itu gila!"


"Aku tahu!" Emma balik membentak. "Tapi, aku punya hak menjenguk Niko! Dia temanku!"


"Oh! Oh! Oh!" David mengelus dagu dan meludah ke samping.


"Maksudku, dia tak punya keluarga di sini! Dan butuh support!"


David memiringkan kepala dengan jengah. Da menggelengkan kepala dan tidak tahu jalan pikiran Emma. Suppppport?


Begitu memasuki ruang pengaduan, David dan Emma saling pandang, saat melihat Lena sibuk menulis sesuatu di kertas aduan.


"Dia penculiknya! Mengaku-ngaku suamiku! Tangkap dia, cepat!" teriak Lena meyakinkan polisi sambil berdiri dan berlari ke arah David, mencengkeram tangan pria itu. "Cepat aku sudah memegangnya, dia akan kabur!"


Emma mengelengkan kepala dan dia mendapati, David menatapnya dengan tajam seolah memperingatkan. "Lena, dia suamimu .... "


"Diam, kau! Kau pasti terlibat!" Lena memutari David, kini memegangi tangan Emma juga. "Aku memegang mereka!" katanya dengan hati puas. "Jangan biarkan mereka menggangguku lagi!"


"Nyonya .... "Axel garuk-garuk kepala saat dua polisi sudah sudah mendekat dan petugas lain ikut mendengar teriakan Lena.


"Ah, ini satu lagi.Mereka bertiga sekongkol!"


Polisi yang baru membantu wanita itu saat melapor, baru sadar jika wanita itu istri dari konglomerat ini. Dia bingung sendiri setelah melihat Konglomerat itu sempat meneteskan air mata dan tampak seperti sedang buntu pikiran.


David mengulurkan kedua tangan. "Borgol saya, Pak."


"Apa!" Polisi itu bingung diikuti para rekannya yang semakin bingung.


"Ya!! Benar!" Raut wajah Lena bersinar. "Sekarang, aku boleh pergi?" Lena berbalik dan meninggalkan ruangan meninggalkan orang-orang di dalam yang masih melongo.


Kecuali David yang dada itu tampak bergetar. David itu menurunkan tangan lalu menatap tajam si polisi. "Anda sekarang tahu, kondisi istri saya tidak baik-baik saja? Dia seperti itu setelah diculik oleh pemuda yang menjadi pantauan kepolisian. Anda pasti tahu siapa pria Asia yang terluka di rumah Paman Ke empat saya? Saya curiga, dia adalah pembunuh paman ke empat saya."


"Tidak, Kak Dav!" Sentak Emma. David lalu menatapnya sejenak dan kembali berbicara dengan polisi.


"Lelaki asia itu sangat berbahaya. Sebaiknya, saya memberi saran agar jajaran anda tidak mengijinkan siapapun masuk ke ruangan perawatannya."


"Tidak Kak Dav, Niko bukan pembunuh!" Emma bersikeras.


David menggelengkan kepala. "Kenapa kau membela penculik istriku, Emma Sayang?"


Emma menyusul David yang keluar dari ruang kantor pengaduan. Seorang anak buah Axel tinggal di tempat untuk menjelaskan ke polisi. Sementara, David sudah kembali ke mobil dan meninggalkan Emma tanpa memberi tumpangan, padahal Emma yang memberitahu posisi Lena.


"Keterlaluan ..... " Emma menghentakkan kaki melihat mobil David pergi dari parkiran. Dia menuju mobil pengawal David, mereka juga meninggalkannya. "Nyebelin kau, Kak! Aku kan banyak membantumu!"


.


.


Menangis meraung-raung, Lena tak dapat terlepas dari cengkraman penjagal. Dia berakhir di rumah besar itu lagi. "David bajing*n!"


Satu bulan berlalu ....


Lena selalu sedih setiap dia ditangai orang, yang katanya menjanjikan dia ketemu Niko. Banyak pertanyaan yang diajukan beberapa orang itu, dia harus menjawab bila dia ingin bertemu Niko.


Terakhir, Lena menyerah ....


"Nona, saya Tamara .... Masih ingat anda dengan saya?" Wanita itu mengajukan pertanyaan pembuka pada Lena yang masih kekeh memegangi foto seorang pria. "Jika, anda mau menjawab, satu pertanyaan, saya akan membawa anda menemui Niko."


Lena berbaring dan menutup wajah dengan bantal.


"Coba anda lihat foto ini .... Bukankah ini Niko?"


Lena menarik bantal dan mengintip ke ponsel yang dipegang wanita itu. Matanya melebar dan langsung bangkit. Dia merebut ponsel itu tapi kalah cepat.


"Jawad dulu pertanyaan saya."


"Niko, sakit?"


"Anda tidak ingat siapa ibu anda?"


"Niko sakit?"


"Jawab dulu pertanyaan saya. Lalu saya akan menjawab pertanyaan anda."


Lena menggelengkan kepala. "Ibu .... " Lena memeras otaknya dan kepalanya sakit, hanya sakit.


"Okay, anda tidak tahu?"


Lena mengangguk. "Niko sakit? Aku ingin melihatnya!" Dia berdiri dan menggedor pintu. "Buka! Aku mau melihat Niko," pintanya dengan tangis memohonkan. "Tolong, suamiku sakit ...."


*


*


Di sebuah rumah sakit, Lena berlari begitu pintu terbuka. Dia akan meraih Niko tetapi dadanya di peluk dari belakang.


Tangan terkepal, David begitu siap meledakkan magma yang sudah terbentuk di dadanya belakangan ini. Dia berdiri di luar pintu dan menelan benjolan kekecewaan di tenggorokannya melihat pengawal wanita memeluk Lena karena menahan rontaan Lena yang menangis histeris dan bersikeras memegang Niko. Lelaki itu belum kunjung sadar. David menahan tangan Emma yang akan masuk. "Diam di sini!"


"Lalu apa?" Emma menatap tajam pada David. Emma terkejut karena dari belakang tangannya di cekal Sean. "Kak se? Kamu di sini."


Sean menarik Emma menjauh dari David ke lorong yang sedikit sepi. Lelaki itu masih mencengkeram tangan Emma. "Katakan padaku, Em? Kenapa kau terus mendatangi kamar rawat inap Niko?"


"Kakak tahu darimana .... " Emma menunduk.


"Kenapa kau mendatanginya. Aku ingin mendengar jawabanmu dan lihat aku."


Emma mendongak dengan tangan meremas pegangan tas kuat-kuat. "Dia teman kita," kata wanita itu terdengar ragu bagi Sean.


"Hanya teman?"


"Ya." Emma melirik samping, hatinya mendadak gelisah. Sean membuatnya tidak nyaman.


"Dia menculik Lena dan mungkin membunuh-"


"Ya! Niko menculik Lena, benar! Tapi bukan dia pembunuh Paman Alfonso!"


"Emma kenapa kau berteriak?" Sean bersuara dengan pelan dan masih terkejut. "Okay, dia bukan pembunuh Tuan Alfonso, tak perlu berteriak kan?"


"Maaf Kak Se." Emma menghela napas kasar. Dia tak tahu lagi harus bilang apa. Kepalanya pening dipelintir, dia bingung dan menjauh dari Sean.


"Emma," panggil Sean dengan putus asa menyusul dan menarik Emma dalam dekapannya. "Maaf."


""Ah, ini tak perlu minta maaf!" Lagi suara Emma meninggi tanpa bisa dikontrol, dia mendorong dada Sean. "Aku sedang ingin sendiri dan tolong jangan hubungin aku sementara waktu," lirihnya rasanya ingin menangis. Dia tak tahu apa yang membuatnya sedih.


Sean mengikuti Emma, tetapi wanita itu berhenti dan berbalik menatapnya dengan ketegasan, seolah di mata itu terdapat keputusan.


"Jangan ikuti aku."

__ADS_1


Sean tetap mengikuti Emma dengan jarak sangat jauh. Lagi, Emma memasuki kamar Niko. Kenapa Niko?


__ADS_2