Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 14 : KONTRAK NIKO DENGAN REZA


__ADS_3

"Niko, tunggu dulu." Lena meraih lengan pacarnya di pintu. Dia juga mendapati David dengan muka pucat dan punggung tangan David yang terdapat perban bekas infus.


David dan Niko saling menatap tajam. Niko melepaskan tangan Lena dari lengannya. Dia sudah tak tahan lagi di tempat ini.


"Nik, tolong, aku belum selesai bicara," pinta Lena sambil menghapus air matanya saat melewati David. Namun, tangannya ditarik David.


Niko berbalik menghadap Lena dan menyipitkan mata pada cengkeraman David yang kuat. Dia membanting tangan David hingga tangan Lena terbebas.


"Jangan asal menyentuhnya, hei!" Niko beralih ke Lena. "Masuk cepat, lalu kunci pintu, jangan memberi dia celah, Lena. Telepon keamanan untuk mengusir pria tak sopan ini," gumam Niko pelan.


Lena mulai melangkah menuju kamar dengan patuh, tangan kirinya ditarik kasar lagi oleh David hingga Lena berbalik menghadap dua pria.


"Kamu harus melihatnya langsung, Len. Biar kau tahu akal busuk orang ini," ujar David sambil menunjuk Niko.


"Apa maksudmu, kamu yang mengganggu kekasihku. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali, atau kulaporkan kamu atas tuduhan p3lecehan. Kau tahu, Lena tak mungkin mau dicium olehmu jika tak kau paksa!"


Niko mendelik dengan otot-otot menonjol di kening semu-semu merah dan dalam gerakan cepat mendorong, lalu mengangkat dan membanting punggung David ke lantai.


"Niko! jangan aku akan masuk! kamu pulang." Lena berteriak saat kaki David terjepit di perut Niko, dan sikut Niko terus memukuli perut David bertubi-tubi. Lena histeris terus menarik lengan Niko yang kaku. Dia memeluk kepala Niko saat Axel datang dan berniat menjejak kepala Niko. "BERHENTI!"


"Niko sudah! Tolong, lepaskan David!" bentak Lena saat wajah David merah padam tampak begitu kesakitan. Jelas walau David lebih tinggi, Niko adalah mantan atlet Judo nasional.


"Nona minggir." Axel menarik Lena sedikit keras dan menendang Niko, tetapi tendangannya tertangkap tangan Niko yang cepat dan memelintir kaki Axel yang tak siap itu hingga tubuh Axel, jatuh dan terbanting. Dari belakang Niko terkunci lengan David yang mencengkeram leher Niko, dengan keras.


Mata Niko mendelik oleh cengkeraman kuat pria di belakangnya. Namun, ada Marsha di dekat pintu yang membuat matanya kian membelalak. "Marsh..."


"Niko! David lepas!" Lena meninju keras lengan David, sampai menggigit telinga David hingga pria tinggi yang terlanjur mengamuk itu mengadu dan melepas jeratan dari leher Niko.


Lena maju dan menarik tangan seorang perempuan yang baru datang langsung memeluk Niko. "Kamu lepas!"


"Kamu tidak apa-apa, Nik?" Marsha mengabaikan tarikan seorang cewek, lalu memegangi leher Niko yang membiru dengan cemas. Dia berbalik dan menendang pria yang menc3kik Niko. Tasnya memukul pria itu, tetapi dihalangi pria yang barusan menjemputnya yang bernama Axel. "Kamu melukai Niko ku!"


"Lena masuk," bisik Niko sambil bangkit, dan mendorong Lena ke kamar. "Aku akan menjelaskan nanti.


"Tapi, siapa dia?" serak Lena sambil menoleh ke kanan karena dihalangi pandangannya oleh Niko. "Kenapa dia peluk-peluk kamu."


"Niko, siapa dia?" Marsha menarik lengan Niko, tetapi ditepis Niko.


"Aku pacar Niko," lirih Lena gemetar sambil berjinjit.


"Lena masuk," bisik Niko sambil menahan dorongan dua tangan Lena di dadanya.


"Pacar? Eh Niko sudah melamarku, dan kau bilang pacar? kau bercanda?" Marsha menggeram sambil menunjukkan cincin berlian di jari manisnya.

__ADS_1


"Melamar?" rintih Lena sambil menatap Niko penuh tuntutan. Niko masih memeluknya seakan menghalangi dia melihat perempuan itu. "Niko."


"Len, plis. Kau percaya aku?" des4hnya pada Lena yang terlanjur tampak kecewa.


Marsha menarik pinggang Niko dan mendorong dada perempuan itu. "Lepaskan dia, Nik! jangan peluk-peluk!"


David mengelus telinganya, dan masih memegang perut kiri dan dibantu Axel berdiri. David berjalan ke Lena. "Lepaskan dia Niko Alfafizi."


"Jadi calon istrimu adalah Marsha, kan. Oh atau Lena," tanya David dengan tenang dan menarik tangan Lemas Niko yang menghalangi Lena.


"Lena? Bukannya itu nama kucing kamu di kampung, Nik?" tanya Marsha bingung dan Lena tertawa getir tak percaya.


"Kucing?" Lena mendorong Niko dengan putus asa.


"Ayo, Nik, kita harus cari bahan untuk gaunku." Marsha menarik tangan Niko hingga mundur beberapa langkah.


"Kapan, anda mau menikah nona Marsha?" tanya David dengan tenang.


"Empat bulan lagi, di Jakarta. Iya, kan, Nik?" tanya Marsha sambil tersenyum penuh arti.


"Len," lirihnya dengan tatapan nanar pada Lena yang wajahnya tertekuk, seolah mata hazel itu tengah menumpahkan ribuan cacian.


"Silahkan pergi, Tuan Niko. Mengapa hanya diam?" David menarik bahu Lena hingga menempel.


"Maaf, aku hanya tak ingin kamu kehilangan muka di depan perempuan itu," kata David pada Lena yang masih melihat ke ujung pintu.


"Terimakasih, Dav. Untuk perhatianmu. Aku bisa minta tolong. Aku ingin libur hari ini menemuimu. Kamu pergilah sekarang," kata Lena tak bertenaga. Mengabaikan hatinya yang tidak baik-baik saja, bahkan dia tak menangis karena ini.


David mengangguk. "Telepon aku bila kamu butuh sesuatu. Aku juga ingin membuatmu mengalihkan pikiran dari pengkhianat itu."


...----------------...


Ika ikutan duduk di sebelah Lena, setelah melayani pengunjung sore itu. "Nanti malam tidur kamarku. Temenin aku dong. Aku ingin nonton film horor, keburu langganan HBO gue habis."


"Iya." Lena menatap beberapa pengunjung yang dilayani volunter lain. Mata hazel menyipit pada Shinta yang mengajak seorang tante dan seorang gadis lebih muda. Shinta memelototi tetapi tak berkomentar hingga mereka berlalu.


"Heran orang kaya hobinya bolak-balik nonton. Uangnya apa nggak habis-habis. Mana VIP, lagi. Dia tunangan David, kan?" bisik Ika.


"Kamu tidak ingat seorang pria asal Inggris yang membeli 30 tiket?" tanya Lena, agar Ika tidak selalu membahas David.


"Oh, yang bahkan makan siang, sore, malam di Stadion. Gila mengapa mereka banyak uang sih," gerutu Ika. "Len, kamu tumben nggak buka hp."


"Aku matikan hp, pusing." Lena dengan wajah datar.

__ADS_1


"Huh, Niko apa David?" Ika mulai mengenali hubungan rumit tetangga kamarnya. Dia selalu mendengar keributan di depan kamar.


"Nggak dua-duanya. Sudahlah jangan bahas mereka." Lena beranjak, lalu pergi ke toilet dengan jalan seperti zombie.


Ketika Lena dan Ika pulang jam sepuluh malam, Niko datang menghalangi jalan Lena agar mau pulang di antarnya.


"Aku ada janjian dengan, Ika," kata Lena dingin tanpa menatap Niko


Dia melewati samping Niko dan menarik tangan Ika menuju bis.


"Len, dengarkan aku! Hanya kamu yang aku cintai! Aku tak peduli dengan kesalahan yang kau buat, aku tak pernah berkhianat padamu!"


Bergidik, Lena setengah berlari, meninggalkan Ika. Dia tak ingin mendengar suara itu, atau memikirkannya. Pikirannya benar-benar di blokir dari 'Perasaan dan Pria.'


"Len, kau nggak kasian," kata Ika di tengah nafasnya yang tersengal karena ikutan Lari.


"Jangan bahas mereka lagi, Ka. Aku mual." Lena memeluk tas mini , bahkan dia masih belum mengaktifkan ponsel dari pagi.


"Tapi dia berlari mengejar bis, wah, sepertinya-" Ika tak meneruskan kata-katanya.


Sesampai di kamar Lena tiduran di kamar Ika sambil nonton bareng dari ponsel Ika, walau kasur ukuran single mereka enjoy berdesak-desakan dalam kehangatan.


...----------------...


Keesokan pagi, Lena menatap kalung emas bermata hijau, di masukan ke dalam kotak kecil. Semua itu dijadikan satu dengan barang-barang pemberian Niko, termasuk baju-celana Niko yang sempat dipinjamnya dan sudah di cuci.


Ketukan pintu konstan terdengar. Lena keluar dari kamar dan menguncinya. Dia membawa kardus kecil, dan terus berjalan dengan diikuti Niko ke mobil.


Niko sigap membuka pintu mobil, karena dia kira Lena akan ikut. Namun, kardus diletakan. Lena langsung berlari menjauh dan naik bus, hingga Niko tak mau mengejar karena takut Lena semakin membencinya.


Ponselnya Niko berdering, dia berdecak dan mengangkat telepon, tak peduli pagi ini di luar sangat terik.


"Nik, kau gimana sih? Marsha nangis-nangis, cepat temui dia!" sentak Reza dari balik telepon.


"Kenapa kau tak urus sendiri ke sini, adikmu yang psiko!"


"Jaga mulutmu, Nik. Kau sendiri yang menyetujui kontrak ini dan aku mundur dari kandidat kenaikan jabatan."


"Si4lan kau, Za! Dia menghancurkan hubunganku dengan Lena! Kau puas! Urusi saja adikmu aku tak peduli jika dia bunuh diri."


"Nik, sabar! Okey-okey, maafkan aku. Tolong sabar, beri aku waktu untuk berdiskusi dengan keluargaku. Setidaknya tolong di sampingnya sampai 4 kali konsulnya. Aku akan membantumu berbicara dengan Lena setelah itu, Kumohon, Nik."


Niko mematikan sambungan dan menendang ban mobil berkali-kali. Dia sudah kehilangan segalanya, dunianya, bahkan Lena tak mau melihat dan mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2