
Malam itu, David tidak bisa tidur. Dia memeluk Lena erat-erat, tetapi hatinya begitu gelisah. Mengapa hatinya begitu sakit tanpa Alasan. Dihirupnya dalam-dalam aroma Vanila dari pucuk kepala Lena.
Seharusnya kita sudah baik-baik saja kan. Siapa yang mengambil CCTV hotel di pusat kota. Kamar siapa yang sebenarnya aku masuki malam itu. Kenapa pihak hotel menyembunyikan si penyewa kamar, padahal aku hanya ingin meminta maaf.
Pagi-pagi sekali, Lena bangun. Dia melirik jam lima pagi. Lena menatap wajah David berlama-lama. Kening, pipi, hidung David yang hangat dikecupinya. Wajah tak berdosa David makin membuatnya diserang rasa bersalah.
"Maaf, Mas. Kau pantas menyalahkan aku. Aku memang sudah keterlaluan. Aku senang mengenalmu. Semoga kamu bahagia, Mas."
Kecupan lama dan penuh kehati-hatian mendarat di bibir David. Sekali lagi dia memeluk David yang mendengkur ringan, sangat erat begitu lama hingga tak mau dilepas. Kamu sangat spesial, Mas.
Lena beranjak dari tempat tidur dengan setengah hati. Dia membawa tas mini, dan menatap terakhir kali pada David yang sangat tampan. Sungguh tampan, beruntung sekali yang akan menikahi David. Jika, boleh jujur, dia akan akan selalu merindukan moment berdua di ruang redup yang penuh kehangatan dan kedamaian seperti ini.
Lena keluar dari tenda dengan jantung berdebar kuat dan pikiran penuh waspada, bahkan pada suara tenda yang berderak karena angin. Suasana masih sepi, langit masih abu-abu. Lena sudah mempelajari situasi ini, saat kemarin bangun jam 5 juga.
Kini Lena berjalan cukup jauh, tubuhnya berkeringat. Dia menelpon taksi, yang sudah kemarin sempat di save nomernya. Seperti mimpi menghabiskan hari-hari bersama David. Ini pasti tak nyata.
⚓
Saat David bangun, Lena tidak ada di tenda. Dia menghubungi Lena dan telepon sang kekasih tidak aktif. David memutuskan pulang dulu ke hotel miliknya karena dia ada meeting pagi ini. Meeting ini pun penting sebelum rencana kepergiannya selama satu bulan di Indonesia.
Di tempat lain, Marcho dari pagi duduk di sebuah kafe dengan tampang bodoh. Sampai dia sarapan masih terus mengamati toko kurma. Sampai dia melihat seorang pegawai membuka toko kurma, Marcho bergegas keluar dari kafe.
Dia mengucapkan salam pada pegawai, lalu Marcho bergegas naik ke lantai tiga. Diketuknya pintu berulangkali sampai Anna membuka pintu. Sebelum Anna menghalangi jalan, Marcho masuk lebih dulu ke dalam ruangan.
"Kenapa kau memperlakukan perempuan seperti itu, Marcho? Kau menyakitiku." Anna dengan nada penuh kecewa.
"Menyakiti? Maaf aku tak bisa meminta kakek agar tidak membawa Stef kemari. Maaf pasti kamu tahu ini dan marah-" kata-kata Marcho terhenti saat Stefanie menjauh, lalu menarik kertas yang begitu familiar.
"Kau dengan kakek sama saja. Makan uangmu ini!" Anna menaruh secarik kertas di telapak tangan Marcho, sampai membuat pria itu mangap-mangap dan mendelik.
"Sayang, darimana kamu dapatkan ini?"
Anna tertawa pelan, lalu terdiam dengan tangan terlipat di depan dada. "Keluar dari tokoku. Aku tidak mau berbicara denganmu sampai kamu minta maaf padanya."
"Tunggu, tetapi ... apa saja yang dia katakan padamu?" Marcho mendadak merasakan debaran jantung yang tak karuan dan dia mengusap keringat di alisnya.
Telunjuk Anna mengayun ke arah pintu dan tak bersuara lagi. Marcho menggigit bibir bawah dan melangkah keluar. Baru dia berbalik, pintu itu telah ditutup dan dikunci.
"Damit!" Mata Marcho berputar kenapa Anna begitu marah. Dia bertanya-tanya apa Lena menceritakan kesalahan yang dilakukannya, tentang malam panas itu.
Bergegas Marcho mengarahkan mobil ke mess Lena. Dia akan membuat perhitungan pada gadis itu. Awalnya dia kira Lena akan menerima cek itu, kenapa si4lnya justru dikembalikan dan itu ke Anna. Jelas, Lena membuat masalah padanya.
Sesampai di mess, jantung Marcho berdebar kencang dan siap menumpahkan semua amarah kekesalan. Namun, baru dia mengetuk pintu, pintu kamar lain terbuka, dan tampak gadis yang menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
"Maaf, anda mencari siapa?" Ika sambil berpikir dan bertanya-tanya. Siapa lagi pria ini ?
Marcho mengabaikan perempuan itu, yang dia kira hanya mencari perhatian. Pintu kamar Lena digedornya. Dia ingat betul, kamar ini yang kemarin didatanginya. "Manis, keluar!"
Ika geleng-geleng kepala pada pria yang tak sopan karena menggedor terlampau keras sampai ketua tim di kamar samping saja, ikut keluar. "Lena sudah pulang."
"Pulang .... " Marcho berbalik dan menghampiri gadis tadi. "Pulang kemana?"
"Lena sudah ke bandara dan pulang ke Indonesia. Apa ada pesan nanti biar aku kabari dia?"
Marcho menelan saliva kasar dan rahangnya bagai jatuh ke bumi. Dia tidak salah mendengar, perempuan itu pergi begitu saja setelah membuat kekacauan ini. "Kapan dia pulang."
"Sepuluh menit lalu, sepertinya masih perjalanan ke bandara." Ika belum selesai berbicara, lelaki itu bahkan tak berterimakasih dulu, asal malah melengos.
"Pulang?" gumam Marcho dan langsung berlari. Jangan sampai dia kehilangan Lena sebelum gadis itu memaafkannya. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Dia menggigit bibir bawah kenapa Lena tak bilang-bilang jika akan pulang dan membuatnya susah seperti ini.
Sudah mondar-mandir di tempat sebelum pemeriksaan tiket. Marcho juga menelpon Lena, tetapi tak kunjung diterima. Sampai Marcho mendengar dering ponsel, dan dia mencari asal suara. "Lena .... "
Marcho berlari menghampiri dan langsung membeku saat gadis itu mendongak dengan mata merah dan basah. Sedih menelusup kedalam relung hati Marcho saat mata hazel membulat, gadis itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Hai .... "
"Tunggu kamu mau kemana?" Marcho merasa dirinya bodoh, karena masih pakai tanya. Jelas, Lena ke bandara karena akan pulang. Dia menghalangi langkah gadis itu.
"Hei Lena Paramita, jangan begitu dong. Aku berbicara denganmu. Apa kamu tuli tak pernah mau mendengarkanku? Apakah kamu bisu tak pernah mau menjawab setiap pertanyaanku? Setidaknya jelaskan padaku dong ini kamu kenapa bawa-bawa ke koper ke bandara."
Lena melirik jam dan makin berdebar. "Minggir." Dengan kesal Lena menendang kaki panjang itu sampai dia ngos-ngosan karena itu tak membuat lelaki itu kesakitan. Padahal dirinya sudah bukan hanya kesal, dia marah sampai kepalanya begitu mendidih. Pria itu membungkuk di depannya dengan kepala sejajar. Lena menyeringai dan semakin menguntungkannya.
"Seharusnya kau tahu malu. Kau br3ngs3k yang sudah mencuri kesempatan saat aku tak sadarkan diri! kau juga mempermainkan hati kak Stef dan Kak Anna. Ya ampun si4l ! kenapa aku ... harus bertemu lelaki seb4j1ngan seperti kamu!" cebik Lena dengan nada rendah penuh penekanan, yang bisa didengar Marcho, tetapi tidak terlalu mempermalukan Marcho, karena Lena yakin, orang lain takkan mampu mendengar suaranya.
"Oh! jadi sekarang kamu marah karena kesucian mu? kenapa kau tak minta tanggung jawab padaku? lalu kita sama-sama membuat David dan kakek terluka dengan hubungan kita?" Marcho terkekeh. Satu alisnya terangkat. "Kau tak boleh pergi sebelum kau memaafkan ku dan bilang ke Anna bahwa kau telah memaafkan aku!"
Plak!
Marcho menyeringai dan mengelus pipi kanannya yang panas dan perih. Tamparan itu tidak terlalu keras baginya. Embun bening berjatuhan dari mata hazel itu, justru yang membuat dia tiba-tiba sakit hati hingga membuat tenggorokan Marcho panas. Kenapa juga dia berbicara kasar. Dia kesini untuk minta maaf dan berharap Lena memaafkannya. Seharusnya, seperti itu begitu mudah.
Apa yang aku cari dari mengganggu pacar dari dikku? Ya. Aku senang. Senang melihat bukan aku sendirian yang menangis dengan tidak berdaya. Ada orang lain yang harus merasakan lebih sakit daripada aku! Terutama David ! (Marcho)
"Hargai orang kalau kau juga mau dihargai, Tuan Marcho." Lena dengan suara rendah dan penuh penghormatan. Dia melepaskan jari-jari Marcho dari pegangan koper. Wanita itu tersenyum dengan tulus, walau hatinya hancur berantakan dan ingin melolong panjang seperti serigala untuk melegakan perasaanya yang dipendam-pendam. Disini dia yang direbut kesuciannya dan dia jadi harus meninggalkan David, kehilangan harapan indahnya bersama David.
Lena lalu menganggukkan kepala dengan penuh penghormatan. "Saya berharap tidak akan pernah bertemu denganmu di kemudian hari, Tuan Marcho."
Tahan, tidak, tahan, tidak. Marcho terus berkecamuk dengan pikiran dan hatinya. Dia merasa senang seharusnya. Marcho mengepalkan tangan karena Lena telah berjalan jauh, sebelum dia bisa menghalanginya.
Lena menghela nafas panjang dan begitu lelah. "Yang paling membuatku sedih, tidak bisa melihat David lagi. Mungkin ini kesedihan sesaat seperti dulu aku pada Niko?" Lena terus memperhatikan setiap langkah dan sneaker hijaunya yang terdapat sedikit pasir.
__ADS_1
"Hai kau sneaker! kau jadi saksi betapa indahnya akan kenangan kami. Kau mengenali indahnya gurun berkat David. Dia sangat baik, sayangnya aku bukan orang baik untuknya." Lena menggosok matanya yang basah dengan ujung jemari. Dia menoleh ke belakang ke arah pria yang telah merebut semua darinya.
Mengapa aku tak bisa melihat dan mengingat apa yang dilakukan pria itu terhadapku - di malam itu. (Lena)
"Aku yakin ini yang aku ingin." Marcho bergumam ragu saat Lena hanya melihatnya dari kejauhan. Seolah tatapan itu menaruh suatu harapan, tetapi dia tidak tahu harapan yang diinginkan Lena. Sudah jelas dari awal, Lena tak pernah menjawab pertanyaan yang baginya penting.
"Apa aku harus menghalangi pergi dan menariknya kembali? agar wanita itu mau mengatakan kemauannya? Tapi untuk apa?" Dia tidak tahu alasan dadanya yang terasa begitu panas dan sesak. Apa karena Lena lancang memberikan cek itu pada Anna, sampai Anna jadi memarahinya.
Atau karena cek itu ditolak oleh Lena sendiri. Seharusnya dia senang karena gadis saingannya itu telah pergi. Dia takkan melihat David bersenang-senang lagi. Namun, yang pasti yang salah telah diluruskan. Lena yang telah ditidurinya takkan tidur dengan adiknya.
"Kenapa hatiku sakit begini." Marcho memegangi hatinya. Dia kembali ke dalam mobil dengan bahu melorot. Namun, dia ragu sekarang apa keputusannya tepat. "Mungkin karena tidak ada orang yang bisa kunusili lagi sekarang. Kenapa Lena orangnya sangat menyenangkan?"
Marcho geleng-gelang kepala dan menyalahkan anggapannya, lalu menyalakan mesin mobil. "Menyenangkan apa! Yah, atau mungkin karena gadis itu bisa membuat Anna tersenyum lepas. Pasti seperti itu. Lagipula, aku jarang melihat Anna memiliki seorang teman."
⚓
Meeting baru selesai, David keluar dari ruang meeting menuju kantor direktur. Ponselnya dibuka, tetapi belum ada balasan dari Lena. Lagi-lagi hatinya mendadak gelisah. Entah mengapa hari ini dia terus terpikirkan Lena. Padahal baru semalam dia berpelukan dan sentuhan jemari mungil di dadanya sangat nakal.
Sementara di tempat lain, Marcho tengah memandangi Anna sedang memeriksa arus kas dagangan kurma. Anna adalah gadis berbeda, walau hidup hanya sebatas cukup, tetapi tak pernah mau menerima bantuan finansial darinya. Namun, baru kali ini pikirannya bisa teralihkan pada gadis selain Anna, apalagi saat sedang bersama Anna seperti ini. Ini seperti bukan dirinya.
Marcho teringat pada pertemuan terakhir dengan Lena, dan seketika rasa bersalah menyelimutinya. Dia merasa sudah menghancurkan kebahagiaan dua hati manusia. Ini jalan satu-satunya dan dia tidak memiliki pilihan lain.
Apa bahkan gadis berponi itu sudah menimum pil kehamilan. Aku tak mau sampai memiliki anak selain dari Anna dan Stefanie. Kenapa aku selalu lupa untuk tanya soal ini! (Marcho)
"Marcho? Kamu apakan bukuku! katanya mau membantu dan sekarang apa ini?!kau malah mencoretnya. Ya ampun, kamu itu melamunkan apa si? Aku sudah memaafkan mu dan kamu masih melamun!" Anna menjewer telinga Marcho begitu kencang sampai Marcho terus mengadu dan memohon untuk dibebaskan jewerannya.
"Itu kwintasi asli untuk distributor! kamu malah mencoretnya. Astaga, Marcho!"
"Ampun, Anna! tolong! aku akan membereskannya!" Marcho mengelus telinga yang perih dan panas Huh! gara-gara Lena!
⚓
Setelah selesai meeting, David mampir ke toko dan membeli puding ala Qatar. Dia mengemudikan mobil sendiri dan sudah membeli tiket bioskop untuk menonton dengan Lena di Mall terbesar bergaya sungai Venice Italia.
Sampai di mes diketuk nya pintu kamar Lena. Dia melirik buket bunga mawar di dalam genggamannya, dan tentengan puding. Berulangkali pintu itu diketuk dan berpikiran Alena sedang tidur karena mungkin kelelahan setelah kemarin katanya banyak memeriksa tiket. Namun, mengapa tidak terdengar pergerakkan dan sangat senyap.
Padahal saat dulu, walau Lena mengantuk, pasti berjalan sambil tidur untuk membuka pintu. Lampu kamar juga tidak menyala sama sekali. Sampai pintu kamar Ika terbuka, dan David melirik pada wajah yang begitu pucat. "Kau sakit?"
Ika menggelengkan kepala dan menggigit bibir bawah dengan begitu kuat. Jantungnya berdebar kencang seperti bertemu malaikat maut. "Maaf, David."
"Maaf untuk apa?" David menerima uluran amplop coklat tebal dari tangan mungil, yang langsung dibukanya. "Uang Dollar Qatar? Apa ini, lalu minta maaf ... ?" Dibalikin lagi uang itu dengan perasaan makin tidak tenang.
"David Leora, kamu buka semua dulu, lalu cari tahu sendiri isinya." Ika menggigit bibir bawah dan gemetar, lalu meraih sebuah kunci dari dalam saku daster, diulurkan ke David yang tampak membeku. "Kunci kamar Lena."
__ADS_1