Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 54 : MALAM PERTAMA


__ADS_3

David menaikkan hijab basic, hingga melewati wajah istrinya, lalu meletakan di kasur dengan memandangi wajah istrinya yang terus mengumbar senyuman. "Na, nggak kerasa ya, akhirnya perjuanganku tidak sia-sia dan sekarang kamu menjadi istriku."


"Waktu berjalan begitu cepat. Padahal, ku kira kamu akan melupakanku." Lena memeluk David saat bibir David mengecup dengan lembut rambutnya. Dia mengingat saat menabrak mobil yang dikendarai Marcho, karena terlampau gelap pikirannya dan mengira takkan memiliki kesempatan untuk melihat David lagi.


Air matanya mengalir ke dada David, bagaimana pun dia tak bisa hidup tanpa David, tangannya mencengkeram kuat kemeja David sampai lelaki itu mengeratkan dekapannya begitu kuat. Mereka berpelukan secara harafiah sekitar dua menitan karena karena Lena makin mengeratkan pelukan dan membuat David sulit bernapas.


David mendorong bahu Lena dari dadanya dengan cepat. Telapak tangan kekar membekap ke dua pipi Lena, lalu bergeser menutupi kedua telinga Lena dengan jantung berdebar. "What is going on, Len? Did I do something wrong that made you cry, Nana! Tell me how you feel now? Don't confuse me alone!"


*Apa yang terjadi, Len? Apa aku melakukan kesalahan hingga membuatmu menangis, Nana! Katakan padaku bagaimana perasaanmu sekarang? Jangan membuatku bingung sendirian!"


Lena menghela nafas berat dan menyipitkan mata, bibir mungil itu bergetar dan tenggorokannya terasa panas. "I don't understand my feelings and I don't know how I should feel, and if something happens I feel so confused with my feelings. What should I feel?"


*Aku tidak mengerti perasaanku dan aku tidak tahu bagaimana perasaanku, dan jika sesuatu terjadi aku merasa sangat bingung dengan perasaanku. Apa yang harus saya rasakan?"


"Kamu .... mungkin hanya bingung, apa yang kau cemaskan?" David menatap mata hazel yangerah saat dua cairan bening itu meluncur ke pipi Lena, yang langsung dihapus dengan jempolnya.


"Maaf aku telah mengacau. Aku janji ini tidak akan terjadi lagi." Lena menarik nafas panjang memandangi air muka David yang berubah cemas.


"Lebih baik kamu ceritakan apa yang kamu rasakan? Kamu harus jujur dengan perasaanmu pada suamimu? Ini malam pertama dan kau justru termakan kecemasanmu sendirian, sedangkan di sini ada aku di sisimu sekarang. Jadi katakan, Sayangkuuu."


"Aku sangat takut hal itu terulang, Dav." Lena menghela nafas berat, kemeja David dicengkeramnya. "Saat kau tak mengabari ku sebulan kemarin ...." Air mata bening meluncur kembali tanpa bisa dibendungnya. Lena bisa bertahan saat Niko tidak mengabarinya selama tiga bulan, tetapi saat David melakukan itu baru sebulan dia seperti dikubur di tempat yang sepi gelap dan hampa udara yang begitu menyesakkan.


"Itu takkan terjadi lagi, Sayang! Aku senang kamu membuka ini tanpa menutupi. Kupikir aku saja yang merasakan itu sendirian." Dia dengan hati bergetar mengecup kening Lena berkali-kali.


"Maaf, Sayang membuatmu tak nyaman, tetapi kita harus melepas ini dulu." David menarik dan menurunkan resleting di sepanjang tulang punggung Lena dengan buku jari menikmati kelembutan kulit sehalus beludru yang lembab.


Lena meringis dan dadanya membusung karena sentuhan David. Dia merem4s sprei di pinggiran tempat tidur oleh jari-jari berbahaya. "Jangan berpaling dariku, Mas. Kupikir aku takkan bisa menghadapi itu jika sampai kamu tega melakukannya."


"David Leora takkan melakukan itu, Na." David merentangkan kelima jemari dan menyusuri seluruh penampakan punggung putih mulus, diraba-rab4nya ke bawah dengan nafas tertahan. Pikirannya berkecamuk antara ingin, kangen dan jadi terpikirkan apa yang Lena pikirkan. "Aku takkan melakukan apa yang kamu takutkan. Itu hanya ketakutanmu. Kau tak perlu khawatir. Kamu bisa mengikuti kemana pun aku pergi lalu kau tak perlu cemas lagi.


Sekali gerakan David sudah melepas Br*a warna kulit dan seketika itu Lena memegang kedua dada sambil menatap mata deep blue yang lebih gelap. Detik berikutnya David melahap bibir Lena dengan gemas dan keinginan tertahan, tangan kekarnya tak bisa diam dan mencengkeram, membelai perut dan pinggang sang istri seakan ini hari terakhirnya berduaan. Dua orang itu begitu menikmati momentnya, nafas mereka lebih tertahan saat suara musik terhenti karena pergantian jeda lagu di luar kamar.


"Mas, aku ingin melepasnya sendiri," des4h Lena dengan deguban jantung tak beraturan, di sela ciuman.


"Biar aku membantumu, ini milikmu semua sekarang, kan." Jemari panjang memelorotkan gaun dari bahu Lena dengan tidak sabar hingga melorot ke lengan dan berakhir di perut Lena. David menelan air liur dan mengelap sedikit liur yang menetes di ujung mulut.


Mata biru tak pernah berkedip pada pemandangan punggung indah yang membuatnya ingin segera menerkamnya. David membungkuk, bibir tebalnya mendarat di leher Lena bersamaan dengan reaksi Lena yang tersentak tiap kali dia menggigit kulit kenyal dan harum bercampur sedikit aroma keringat, saat tangan mungil itu juga merem4s pahanya.


Gelombang merinding menghinggapi Lena di titik David mengecupi di sepanjang leher dan punggung ke pinggang. David merosot ke bawah tempat tidur saat Lena membungkuk seolah menghindari kecupan yang membuat wanita itu tak karuan. Tangan mungil itu kini mencengkeram sprei sambil menahan rintih4n di tengah suhu badannya yang semakin terasa panas.


TOK TOK! Suara ketukan pintu membuat Lena sontak duduk dengan menekan hidung David yang masih terbenam di pinggangnya. Wanita itu masih mengatur nafas sembari berdiri, menaikan gaunnya kembali ke bahu dan bersembunyi di balik pintu.


"Tuan, saya membawa air panas."


Kunci diputar, David menarik pintu sampai terbuka setengah , lalu mendapat tatapan Axel terus berbinar. Axel tak sengaja melirik ke atas kasur pada gandum dan kelopak bunga yang sudah menyebar dengan posisi sudah tidak mengumpul. Axel pikir mereka sudah memulainya.


Sang asisten mendekatkan dua ember baru berisi air sedikit panas, ke dekat pintu dan satu ember kosong, di mana tuannya dengan gagah tampak memindahkan itu ke dalam. Axel senyum-senyum sendiri karena rona merah di wajah David dan tatapan penuh gelor4 tuannya yang tampak begitu jelas. Saat pintu tertutup, Axel lalu menuju ke sudut ruang tamu untuk menunggu perintah selanjutnya. Dia duduk di sana sambil makan, setelah dari siang belum sempat makan.

__ADS_1


Huh! mereka sedang enak-enak. Kapan aku bisa libur? Axel menghela napas berat, lalu mengirimi sang istri pesan. Istrinya juga tak kalah cantik dari istri tuannya. Walau yang tercantik baginya adalah sang mantan.


"Na, aku akan melepas seluruh pakaianmu," bisik David dengan seringai nakal, di telinga sang istri.


Wajah Lena makin memerah, lalu mengangguk. Lelaki itu menatap tubuh Lena dari ujung rambut ke bawah dan menikmatinya selama dua menit saat Lena justru mengelap hidungnya seakan gerogi. David menarik nafas panjang untuk menenangkan debaran jantungnya yang lebih kencang dua kali.


"Jangan terlalu memandangi aku. Maluu ..." Lena menelan Saliva karena senyuman menawan sang suami. Dia merinding hebat saat jari-jari milik David menurunkan gaun dengan perlahan, melewati setiap inchi kulitnya dengan sentuhan David yang tampak disengaja hingga kain berbahan burkat teronggok di lantai.


David yang berjongkok, lalu mendongak pada Lena yang masih memegangi pakaian inti atas. Dia mengangkat dua sudut bibir saat kaki mungil itu ditarik bergantian dari gaun itu, lalu menaruh gaun di atas meja rias.


"Mas," lirih Lena tak tahan pada tatapan berbinar suaminya. Wanita itu mendaratkan b0k0ng dengan gugup di pinggir tempat tidur. Tampak David menuangkan air hangat dengan gayung ke handuk, di atas ember kosong. Tangan kekar itu memegang handuk bergantian, karena kepanasan, lalu memeras air.


"Ya, Sayang." David menyeka leher sisi kanan milik Lena dua kali, lalu leher kiri dua kali sampai seluruh leher. Dia kembali membersihkan handuk dan menyeka punggung Lena dari tulang punggung ke arah kanan, lalu ke kiri dengan hati-hati. Jangan ditanya kegagahannya yang sudah dalam mode On.


Setiap sekaan handuk hangat menempel di kulitnya dan tekanan kuat David mampu membuat ketegangan di tubuh Lena mengendur. Dia memandang David dengan penuh antusias sampai bulir keringat mengalir di kening David. Lena terlonjak karena tangan kekar itu menyeka tulang selangka, dan menyingkirkan tangan mungil yang masih memegangi Br*a. Tampak pupil David membesar, begitu Br*a itu lolos ke perut. Suaminya juga terus-menerus meneguk saliva saat menyeka dadanya.


Aku sangat maluuuu! (Lena)


Semua tubuh Lena telah diseka oleh David, pria itu telah melihat keseluruhannya. Dia duduk di tepi tempat tidur dimana Lena berbaring dan sudah diselimuti selimut abu-abu. David melepas semua kain yang menempel kecuali celana inti dan menyeka tubuh sendiri.


Cahaya lampu kuning 10 watt dan sedikit redup membuat Lena kian terpesona saat sedikit mengintip dari terpejamnya saat David melepas celana inti. Jantung Lena berdebar dan langsung memejamkan mata, tak percaya dengan apa yang ditangkap pandangan matanya.


David melirik sebentar ke Lena, rasanya lega saat terbebas dari celana intinya yang sudah lengket oleh keringat. Dia terbiasa dengan Ac, tetapi seharian rasanya seperti di oven. Handuk itu terus menyeka miliknya yang sudah sangat keras sambil menatap kelopak mata Lena yang bergetar saat terpejam.


Sebuah celana bersih, lalu dikenakan David. Bajunya telah siap karena Axel menaruhnya di atas meja rias. Tubuhnya kini terasa ringan dan bersih. Dia membuka daun pintu lemari kayu jati, lalu memandangi ke seluruh rak sambil mengusap bibir sambil berpikir. Tumpukan Br*a di lemari membuat pupil matanya membesar. "Baju tidurmu, di mana, Sayang?"


Lena menyipitkan mata dan memeriksa sekitar, setelah tahu David memakai celana, lalu Lena bersuara. "Di rak ke dua dari atas, sisanya di rak ketiga."


"Na, diam saja tetap berbaring." David masuk ke dalam selimut, jemarinya menyusuri pinggang Lena dan memeluknya. "Tempat tidurnya berisik."


"Iya mas. Mas juga jangan terlalu banyak gerak, ntar di dengar dari luar."


"Lalu kita gimana dong?"


Wajah Lena memerah dan mengalihkan pertanyaan. "Gandum sama berasnya mengganjal dan sedikit geli."Lena yang terbiasa tempat tidurnya bersih menjadi risih.


"Sabar, sayang, itu tradisi." David mengecup rambut Lena, lalu menyatukan tubuh mungil dengannya hingga menempel. Hangat dan empuk saat kulit dada mereka tanpa penghalang, menempel untuk perdana."Besok malam kita langsung tidur di rumah milik kita, Sayang."


Kelopak mata Lena bergetar di tengah rasa hangat pelukan David. Jemari berbahaya bermain di punggungnya dengan pola aneh. Dia menjelajahi punggung David juga hingga nafas mereka pun mulai beradu saat berhadapan.


"Lena, kamu milikku dan tidak ada yang boleh menyentuhmu." David memandang Lena dengan penuh cinta, dengan tidak sabar lalu melahap bibir sang istri yang menggoda. Tangan kekar itu membawa tangan mungil ke bawah, meminta Lena dengan bisikan yang paling manja.


David tak tahan pada sentuhan sang istri, cairnnya lalu meledak tanpa bisa ditahannya. Aroma pandan menyeruak di antara mereka. Baik Lena dan David masih terengah-engah. Sang suami merangkak ke bawah selimut saat Lena kebingungan dengan cairan kental lengket di tangannya.


Seketika mata Lena membelalak, tetapi dia tak berani menurunkan selimut. Tangan besar panas menahan kedua paha bagian dalamnya. Serangan lembut dari sesuatu basah dan panas mendarat pada miliknya. Otak Lena mati, dia seperti disengat listrik bertegangan tinggi dan dirinya melayang.


Nafas Lena seperti orang gila, dan Lena menggigit guling disampingnya walau David hanya membel4i diluar, tetapi dia mendadak ingin pipis. "Mas .... awas ...." bisik Lena sambil mendorong kepala David. Semakin dia mendorong semakin David membuatnya tak ketulungan dan David tak mau mendengarkan permohonan yang dipenuhi rintih4n. Kaki mungil menegang, Lena meringis dan tak sadar melenguh panjang. Beruntung suara musik di luar meredamnya. David yang masih bisa mendengarkan itu menyeringai menang, dan menikmati jus perdananya.

__ADS_1


Mendadak tekanan darah Lena seperti menurun drastis, kakinya seperti tak bertenaga. David kembali merangkak ke atas, alu merengkuh tubuh Lena yang lemas dan terkulai ke dalam dada bidangnya.



Pagi-pagi sekali, David yang bangun jam lima akan ke kamar mandi. Dia mengabari Axel 10 menit sebelum ke kamar mandi, karena sang asisten akan membersihkan dan menyiram banyak cairan kamar mandi.


Axel tahu, tempat seperti ini jelas bau pesing saat banyak orang seperti ini. Axel sendiri sampai memakai sarung tangan dan masker, tentu saja hal itu dilakukan diam-diam, walau mereka para tukang masak mungkin mendengar suara dia menggosok kamar mandi. Ketika bau pesing itu sudah hilang, dan menyiapkan air panas dalam ember besar, Axel lalu memanggil sang tuan. Tuannya itu keluar dengan celana panjang dan kaos hitam ketat.


Semua mata para tukang masak terpaku pada wajah dan tubuh bagus yang nilainya 9,8 dari 10. David sedikit risih, tetapi dia sedikit tersenyum hanya karena mereka tetangga dan keluarga Lena. David bingung karen tak ada closet, tetapi perutnya sakit, dia sampai mikir apa makanan mereka tak higenis atau karena dia hampir tak pernah memakan pedas.


Dengan susah payah kaki panjangnya berjongkok. Baru berjongkok satu menit, dia tak tahan dan hampir jatuh, dia tak suka memiliki kaki panjang, selain sulit dan tidak bisa berjongkok, kemana pun selalu jadi tontonan orang. Bolak-balik David bersin karena uap sambal masuk ke dalam kamar mandi. Alhasil dia belum sepenuhnya selesai, menyudahi rutinitas paginya.


Semprotan kamar mandi tiap menit, tak mampu menyingkirkan aroma sambil di dalam kamar mandi. David bergegas mengguyur badannya dengan air hangat dari ember besar. Saat David menghanduki diri sampai memakai baju, dia masih saja terus bersin-bersin. Begitu keluar, beberapa ibu-ibu menggodanya dan meminta maaf karena membaut David bersin-bersin.


David menunggu Lena untuk mandi besar, lalu mereka sholat subuh berjamaah. Lena bahkan yang memakaikan sarung pada David. Selesai sholat, Lena membuat teh Chamomile untuk David, dan kopi untuk bapa. Bapak dan menantu itu duduk berhadapan pada kursi sambil mengobrol sedikit soal rencana David yang akan membawa Lena ke Napoli. Sebelumnya, David sudah bercerita, tetapi belum begitu detail.


"Sebenarnya, David berencana mengajak Sean, hanya saja David sungkan mengatakannya pada Kak Sean. David ingin mengajak Kak Sean bergabung pada perusahaan pabrik coklat Kakek saya." David merem4s celana di bagian pahanya dan menatap mata hitam Sujatmiko yang pupil itu langsung melebar.


"Apa tidak merepotkanmu nanti?"


"Tidak akan merepotkan. Saya kira juga itu lebih baik untuk menambah pengalaman kakaknya Lena. Terlebih Kak Sean juga pandai bahasa Inggris, dia takkan kesulitan."


"Nanti bapak akan sampaikan padannya, ya?"


David m3ngulum senyuman, dia mengembus nafas lega. "Pabrik yang di sini, nanti bapak yang mengawasi. Jadi, mulai besok bapak sudah siap ikut ke Pabrik?"


Sujatmiko tertawa ringan. "Bolehkah, bapak bawa dua teman bapak? Kasihan, jadi apa saja boleh. Yangs satu dia harus mengobati orangtuanya yang cuma berbaring di tempat tidur. Yang satu istri mudanya sedang hamil tua. Dua-duanya menganggur."


"Boleh bapak, sebenarnya itu juga sudah milik Lena, hanya aktanya keluar dalam waktu dua bulan lagi. Lena juga sudah akan menyerahkan pabrik itu ke Bapak. David harap bapak selalu menjaga kesehatan bapak dan rutin mengikuti chekup kesehatan tiap bulan dari perusahaan. Jika bapak sehat, Lena juga tenang selama menetap di Napoli."


"Jangan kuatir, bapak sehat." Sujatmiko mengedipkan mata dengan senyuman bangga pada David.



Di tempat lain, Marcho menekan tombol kamar hotel. Dia bisa sebenarnya masuk dengan minta kunci kamar lagi. Bersyukur untuk ke berapa kalinya akhirnya pintu itu dibuka. "Sayang .... Kenapa kau terus marah?"


Stefanie mengencangkan jubah tidur, semalam dia tak bisa tidur karena Marcho terus menekan bel kamar. "Siapa yang marah?" suara Stef ketus. Dia bingung sendiri selama dua hari ini Marcho pasti masih berhubungan dengan Anna.


"Itu kau tak mengijinkan aku tidur di sini selama dua malam, dan mengunciku di luar."


"Kamu bisa tidur di kamar lain, sepertinya biasanya." Stef pasrah saat Marcho memutar tubuhnya hingga suaminya kini memeluknya.


"Katakan apa yang kau obrolkan dengan Jefri kemarin di hotel?" Marcho mencium ada yang tidak beres dari gelagat pria itu.


"Apa peduliku? Kau bisa dekat-dekat perempuan, kenapa aku tak boleh mengobrol dengan pria lain?"


"Sayang, dia terlihat tidak baik." Marcho mengepalkan tangan di belakang punggung Stef.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu panggil-panggil sayang?Jangan menyebutku seperti apa yang kau sebutkan pada pacarmu itu! Aku tak sudi" Stefanie terengah-engah dan kepalanya sudah seperti berasap.


"Terus aku harus memanggil Mami?" Marcho melengkungkan alis dengan bingung. "Aku sudah tak menemui Anna sejak dari rumah Lena." Marcho dengan suara lirih dan menatap mata hijau dalam-dalam. Marcho tak mengerti dengan perasaannya dan bingung sendiri setelah usahanya pada Anna selama ini di tolak Anna dengan mentah-mentah.


__ADS_2