Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 19 : UNDANGAN MAKAN


__ADS_3

"Kerjamu tidak bagus." Leora mendorong kepala kasar kepala Axel menggunakan ujung tongkat hingga Axel yang babak belur itu mendongak. "Perempuan ini masih di sekitar cucuku dan sekarang dia di dalam?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Saya baru masuk ke kamar." Axel berbohong, lalu pengawal melepasnya, hingga dia yang tadi duduk berlutut, langsung tersungkur.


Kakek tua itu melangkah ke dalam dengan bantuan tongkat kayu dan masih membawa tas hitam. Di dekat tempat tidur, pandangan Leora mengitari sekitar. "Cari gadis itu!"


Empat orang langsung berpencar, ke ruang bioskop, kamar mandi dan walking closet. Pria tua itu mengangkat ujung sprei menggunakan tongkat. "Jangan berpura-pura tidur, Cucuku."


"Wah, ada kakek," ucap David dengan begitu manis seraya memerjapkan mata berulangkali. "Aku baru beristirahat loh, tidak ada yang pura-pura."


Leora melihat bubur yang tinggal sebagian, di meja stenles. Dia geram karena David memasukan perempuan ke dalam kamar. Pengawal pun kembali dan memberitahu, bahwa semua tempat kosong, termasuk balkon kamar.


"Di mana gadis itu? Kamu tidak makan bubur, kan?"


"Memang kakek mencari gadis yang mana. Kenapa mencari ke kamar? Mana mungkin aku membawa kemari. Aku sedang tidak enak badan, jadi lagi ingin makan bubur."


"Axel, panggil Jamal." Leora memerintah Axel yang baru berdiri di samping. Dia ingin tahu sampai kapan akting itu terus berlanjut.


"Tidak perlu mengundang Jamal." David melirik Axel yang tertunduk ketakutan. "Aku hanya kurang tidur."


"Kau pikir aku percaya? Coba makan bubur itu."


David langsung pucat pasi karena kakek tahu dia tidak bisa makan bubur. David duduk dan tangannya gemetar begitu menyentuh piring. Dia mual menelan makanan dengan texture aneh. Isi perutnya justru naik ke tenggorokan, dan berusaha dia telan kembali. Mata David panas dan berair saat menahan jijik, yang mengingatkan itu pada muntahan bayi.


Leora tertawa dalam hati pada ekpresi aneh cucunya. "Kau bilang tidak enak badan? Apa itu efek setelah kamu pergi dengan dua perempuan bayaran? atau itu karma karena kamu membuat Shinta menangis."


"Aku tidak percaya karma. Jika ada karma ... mengapa orang yang selingkuh tak kena karma?"


"Dav, jangan bodoh, pakai otakmu. Mau ditaruh dimana wajahku di depan keluarga Luigi? Kita berhutang banyak pada keluarga Luigi, ingat Dave. Bawa pulang Shinta Luigi ke Napoli sekarang."


David menaruh piringnya pelan. Kemudian dia mengelap mulut dengan tisu, dan menggelengkan kepala dengan cepat.


"Kenapa harus aku? Biarkan saja Tara yang membawa Shinta? Kakek memiliki 11 cucu, tetapi kenapa kakek begitu sibuk dengan ku? apa gunanya cucu yang lain untuk kakek? Xaverio Grup dan pencalonan Kakak Marco, bukan tanggung jawabku. Bila perlu suruh cucu kakek yang lain menikahi Shinta. Selesai kan masalahnya? atau minta pada keenam putra-putri kakek untuk menghasilkan bayi lagi?"


Leora terkekeh, lalu menyundul paha David menggunakan ujung tongkat dengan gemas. "Bagaimana bila kau saja dengan Shinta?"


David menggeram. "Dia perempuan kotor!"


"Perlukah pemilik tas ini dikirim kembali? Cepat temui Shinta dan minta maaf. Aku sudah menyingkirkan tiga paparazi untuk menutup belangmu dengan dua perempuan bayaranmu. Bocah tidak patuh! Sekarang biar ku pastikan pemilik tas ini tidak bisa memasuki negara ini."


"Aku akan menemui Shinta, Kek!" David turun dari tempat tidur dan mengejar kakeknya hingga ruang tamu. Dia menghela nafas berat dan menyerah. "Berikan tas milik Lena, dan aku akan menemui Shinta."


Leora menyeringai menang dan menemukan 'senjata baru' untuk melawan cucunya. Dia duduk di sofa, dan membuka isi tas. Satu amplop diambilnya dari dari dalam, lalu menatap David. "Ini pacarmu, ternyata mata duitan?"


"Cuma sedikit?" Leora terkekeh pada David yang masih berdiri dengan muram. Dia melirik isi amplop dan mengeluarkan dua gepok uang pecahan 100 dolar Amerika. Leora melempar dua gepok ke kaki David dan tertawa mengejek.


Leora mengambil ponsel Oppo hitam dari dalam tas. Ponsel menampilkan foto gadis itu dengan seorang pria. Leora makin tergelak tawa, lalu menggoyangkan layar telepon ke sang cucu. "Kau tidak lihat, siapa pria ini? Kau tidak dianggap dan kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan pria ini? Apa gadis itu berniat mendekatimu hanya demi keuntungan?"


"Jangan berbicara buruk tentangnya, kek. Uang itu aku yang memberinya, bukan dia yang minta."


"Berhenti bermain-main," kata Leora dengan serius saat wajah cucunya sudah seperti banteng hendak menyeruduk. Dia berdiri setelah mengambil tali rambut, yang ada beberapa rambut terlilit, dari dalam tas, lalu memasukan ke saku celana. Kemudian kakek yang bercelana selutut dan kemeja putih itu, berjalan ke arah pintu bersama empat pengawal. "Sore ini jam empat, datanglah bersama Shinta."


David melirik ke arah dua gepok uang di ujung sandal bulunya dengan dongkol. Setelah menatap punggung kakek yang bungkuk, dia beralih menatap tajam Axel yang pipi kiri itu lebam. "Bisa-bisanya kau melupakan tas Lena?"


"Maaf Tuan, saya salah. Tapi di mana nona?" Axel mengernyitkan kening dengan bingung setelah kepergian Leora. Mengapa bisa nona tidak ditemukan ?


"Telepon taksi untuk Lena dan arahkan ke bassement. Cepat! Jangan lupa bawakan makanan untuk Lena."


"Baik, Tuan."


David kesal dengan wellpaper Lena. Foto dengan tatapan Lena dan Niko yang saling cinta di sebuah air terjun. Walau tak mesra, kenapa tatapan mereka membuatku iri saja.


David mengganti wellpaper itu. Kini terpampang foto Lena bersamanya. Itu di langit Qatar dengan menggunakan Paralayang.


Pria itu masuk ke menu buku telepon. Dia merubah nama 'David' menjadi 'Pacar'. Dia pikir Lena tidak akan marah. Lagipula bagus kan, bisa membantu Lena melupakan Niko.


Setelah kepergian Axel, David masuk ruang rahasia. Tampak Lena tertidur di sofa. "Na, bangun."


Perempuan itu menghindar dari sentuhan David. Dia bangkit dan menjauh dari David. "A-ku a-kan berangkat."


David tidak mengerti kenapa Lena tidak berbicara, bahkan sampai di lift bassement. "Nanti, aku kirim alamat rumah papa, ya? Di sana kosong."


Lena mengangguk dengan cepat, hanya karena ingin segera pergi. "Dav, terimakasih."


"Yah, jangan lupa telepon aku, ya." David memajukan bibir akan mengecup kening Lena, tetapi gadis itu menghindar. Dia mengedipkan mata bingung. "Ya sudah selamat jalan, kamu mungkin akan terlambat lima menit."


Lena menoleh kebelakang pada David yang begitu tampan dan keren di depan Lift. Apa iya jika semua itu hanya kamuflase dari luar untuk menyembunyikan sisi gelapnya? Dia melangkah diantarkan Axel yang babak belur, yang baru datang dari arah parkiran. Tampaknya Axel terluka karena kakek?


...----------------...


Lena turun dari taksi, lalu melewati parkiran dengan membawa dua bingkisan makanan. "Semoga aku tidak dimarahin ketua tim."


"Lena!"


"Niko?" Lena mencari arah suara dan tampak pria itu baru turun dari mobil. Lena langsung berlari untuk menjauh dari Niko, tetapi dia kalah cepat dari sang mantan yang badannya sangat bugar dan tangkas.


"Tunggu, Len!" Niko berhasil menghalangi jalan Lena, geser ke kanan dan kiri tak memberi jalan. "Lena, jangan seperti ini. Kedua orang tuamu menghubungiku. Aku bingung menjawab apa pada mereka?"


"Bilang saja hubungan kita selesai, mudahkan?" Lena rasanya ingin menangis. Tenggorokan ini panas setiap kali teringat tatapan Marsha yang merendahkannya. "Minggir, aku terlambat."


"Sebelum itu kamu janji dulu, nanti malam mau kujemput. Lalu aku akan menyingkir sekarang."


"Ya sudah, cepat menyingkir!" Lena mendelik karena ingin segera pergi. "Cepat, aku terlambat."


"Janji?" Wajah Niko memelas, dan Lena mendorongnya dengan kesal, tetapi Niko masih menghalangi jalan. "Janji?"


"Iya!"


Niko tersenyum masam, lalu menyingkir dan Lena langsung berlari. Pria itu tidak mau bila Lena terus salah paham dan dia harus cepat menjelaskan tentang kondisi Marsha.

__ADS_1


Niko kembali menuju mobil, lalu terdapat mobil hitam berhenti mendadak. Pintu mobil itu terbuka. Empat orang keluar bersamaan, langsung menarik tubuh Niko secara tiba-tiba ke dalam mobil APV.


Niko tidak sempat melawan, mulut dibekap hingga membuat pandangan itu berkunang-kunang. Tubuhnya makin terasa lemas dan perlahan seperti melayang. Pandangan matanya juga menjadi gelap dan suara orang-orang mulai samar.


...----------------...


David memasuki ruang rahasia di area terdalam. Dia berdiri di depan meja besar yang terdapat banyak berkas penting. Dia mendongak ke papan pada foto Shinta, Tara, dan keluarga target utama.


Diad uduk dan terpaku pada buku catatan yang jadi miring, padahal terakhir tegak lurus dengan garis meja. Sehelai rambut diraihnya dan dibentangkan. Rambut panjang, siapa lagi. Sudah jelas.


"Lena?" David menggeram dengan marah begitu menemukan halaman buku yang biasanya terlipat, kali ini justru lurus. Dia membalik halaman tiap halaman, ada satu jejak sobekan kertas di bagian tengah, pasti Lena mencatat sesuatu. Dia meyakini karena letak pena yang sudah berpindah tempat.


Dia meneliti satu persatu kertas karton berisi informasi. Setelah dingat-ingat, ternyata semua posisi itu telah berubah. Tidak tahu sampai batas mana Lena mengetahui, tetapi perempuan itu sangat lancang.


David terpejam mencoba sabar di tengah dadanya yang mulai mendidih. Dia menarik laci di sisi kanan, terlihat semua berubah. Dibukanya arsip satu-satu dan diambil berkas milik Lena.


"Hahaha .... Dalam waktu sesingkat ini, kamu juga membuka data milikmu, Sayang? Kau sudah tahu pada apa yang tak boleh kamu tahu. Haruskah aku menghukum mu?" David menyeringai kesal dan kecewa kepada Lena.


...----------------...


"Makanan enaknya, cantik. Terimakasih," kata Ika dengan penuh ketulusan. Mereka di ruang istirahat. Dia menumpuk kotak bekal yang telah kosong.


"Sama-sama Ika." Lena mengambil ponsel dari dalam tas, mumpung masih istirahat. Jantung Lena berdebar saat menyalakan ponsel. "Kenapa berubah jadi David?"


"Ada apa dengan David?" celetuk Ika, lalu merebut ponsel sahabtnya. "Wah! Keren! Coba aku mau lihat! Kapan ini, Len?"


"Aku lupa kapan," kata Lena bingung saat Ika melihat layar ponsel bergambar David yang merangkul bahunya.


"Kamu sudah jadian sama David? Bukankah terlalu cepat?"


"Kami hanya berteman kok," lirih Lena. Dia membuka ponselnya dan membuka chat dari ayah. Benar kata Niko. Ayah Sujatmiko baru mempertanyakan kabar hubungannya dengan Niko.


Jika bukan karena Marsha, hubungannya pasti mulus-mulus. Apalagi Ayah dan Ibu sangat mendukung. Jadi, mereka sangat percaya pada Niko.


Dia kini menjadi takut pulang ke rumah. Rumah itu terutama kamar kakak. Itu mengingatkannya pada Niko yang sejak Niko SMA suka curi-curi pandang saat dia berbicara dengan Abang.


Kenapa hidupku sekarang menjadi gelap. Untuk apa David mencari tahu soal Niko? Apa dia mau menyakiti Niko?


...----------------...


Di meja makan terhampar pasta dan roti. Leora mengamati cucunya yang begitu bersikap dingin pada Shinta. Pasta yang diambilkan Shinta pun juga tidak disentuh oleh David.


"Saya akan pulang lebih awal dari jadwal. David, jangan ke laut lagi." Leora menyipitkan mata karena David terus menatap ke arah lain tanpa menjawab.


Leora beralih ke Shinta. "Jaga kekasihmu, jangan biarkan dia ke laut. Kau tahu kan Shinta, mungkin fase trauma cucuku akan kambuh setiap kali berenang di laut."


"Kakek, Shinta akan menjaganya. Kemarin Shinta tidak enak badan, sampai Shinta tidak tahu David pergi ke laut." Shinta lalu mengusap lengan David. "Kamu tidak akan berenang di laut lagi, kan, Sayang?"


"Sudahlah, Shin. Habiskan makananmu dan kita harus pulang." David menarik tangan mungil yang menjijikan agar menjauh dari lengannya.


Huh apa bahkan tangan itu memegangi milik Tara ! (David)


Gebrakkan dari tangan keriput membuat Shinta sontak duduk tegak dan gemetar. Dia menunduk ketakutan pada tatapan m3mbunuh kakek. Mengapa David harus memiliki kakek seperti itu.


"Jangan kasar pada perempuan!" Dada Leora langsung turun-naik karena David terang-terangan menolak Shinta.


Leora beralih ke Shinta. "Nak, kembalilah ke hotel bersama David. Tinggallah di sana. Saya telah menyuruh mereka mempersiapkan untukmu di lantai 49, tepat di bawah kamar David."


"Terimakasih, Kakek Leo!" Shinta berbinar penuh kemenangan karena David tidak akan bisa kabur lagi. Rasa sakit tangannya tak seberapa. Dia akan membuat David tidak bisa berkutik lagi. "Kakek Leo memang paling tahu."


"Tidak bisa begitu, ini kakek ikut campur lagi." David menekan rahangnya begitu keras dan tangannya terkepal di atas meja.


"Terserah, atau kalian segera pulang saja bersama kakek." Leora tersenyum dengan satu sudut bibirnya.Dia menatap David tajam, hingga cucunya tidak bisa melawan. Dia benar-benar menikmati wajah kekesalan cucunya kini.


"David, aku akan mengumumkan berita gembira untukmu. Kakek menyetujui jika pernikahan kita dipercepat. Enam bulan lagi saat aku libur. Kita akan menikah, Dav." Shinta menjelaskan dengan mata berbinar.


"Terserah." Bibir David berkedut. Dia menyeringai licik pada tatapan kakek yang sama tajam dan tidak mau mengalah.


Kita lihat siapa yang menang, kakek atau aku. Karena aku bukan alat untuk menyenangkan hati kakek tersayang. ( David )


Sejauh mana kamu mau bermain, cucuku? Aku nahkoda dan kamu kapalnya. (Leora)


Aku telah berhasil memenangkan Kakek. Tinggal Nenek dan mamanya David. Jika mereka semua bisa takluk padaku. Keluarga Xavero akan ada dalam genggamanku. (Shinta)


Ponsel Shinta berdering. "Sebentar ya, Kek, ada telepon." Shinta meletakan sendok, setelah mendapat anggukan kakek. Dia berjalan keluar membawa tas dan berhenti di taman.


"Jangan telepon jika aku belum telepon." Shinta dengan sinis sambil melirik ke belakang.


"Saya tidak dapat menghubungi bos Tara. Jadi, lelaki ini mau diapakan? Dia sudah bangun dan berhasil meremukkan kursi kayu. Tubuhnya masih terantai, tetapi tenaganya terlalu kuat," kata seorang pria di seberang.


"Tunggu, aku akan segera ke sana. Ku dengar dia ahli Judo. Jangan teledor, aku sudah membayarmu mahal. Sudahlah habis ini aku ke sana."


David mengintip dari balik kaca, dia tidak dapat mendengar obrolan Shinta. Mungkin itu dari Tara. Ada baiknya juga bila Shinta di hotel, dia akan bisa mudah mengawasi gerak-gerik mencurigakan itu.


...----------------...


Lena menunggu di mobil Niko. Dia tidak tahu ke mana Niko kenapa ponselnya tidak aktif. Tadinya dia langsung akan pulang, tetapi kasian juga karena mobil ini sudah di parkiran.


Sampai jam 12 malam, tempat makin sepi dan lehernya makin menggigil tersapu angin. Lena menaikan penutup kepala dan jarinya makin keriput. "Kemana si?"


Ponsel Lena berdering dan muncul tulisan 'Pacar'. "Kapan aku menulis Pacar? Ini nomor David benar kok." Tanpa pikir panjang Lena mengangkat walau dia sendiri takut pada pria yang sedang merencanakan hal gila.


"Selamat malam, Cantik? " suara bass dari balik telepon.


"Malam, Dav. Kamu mengganti wellpaper ku? Yang punya foto ini hanya kamu," gerutu Lena saat bis yang angkatan terakhir, baru datang.


"Iya dong. Biar kamu Move on. Kamu sedang apa?"


"Aku baru mau naik bis terakhir di Stadion." Lena berjalan sedikit cepat, dia menggigil. Seperti masuk kolam es. Mungkin Niko meninggalkan mobil di sini.

__ADS_1


"Bis? Kenapa malam sekali? Aku telponkan taksi, ya?"


"Tidak usah, ini sudah mau jalan. Dav, besok sepertinya aku tidak bisa pergi. Aku ingin tetap di mess." Lena mengamati malam sunyi di luar jendela. Dirinya kosong, tetapi tidak tahu mengapa.


"Kamu sakit? Bila kamu di mess aku tidak bisa datang. Gimana kusuruh orang menjemputmu, lalu aku akan merawatmu dan kupanggilkan dokter."


"Tidak usah, Dav. Terimakasih. Sudah dulu, ya. Malam David." Lena mematikan panggilan dan menonaktifkan panggilan. Dia menangkup wajah, rasanya ingin menghilang dari dunia.


Mengapa aku masih berharap padanya? Jelas pasti Niko bersama Marsha. Wanita itu yang akan dinikahi Niko. Bukan Aku !


Sesampai di Mess, Lena uring-uringan di tempat tidur. Satu bungkus coklat dari Niko yang masih utuh, dibuka, lalu dipatahkan sepotong. Dia menghisap rasa manis dan matanya coba terpejam.


"Abang Sean .... Lena capek," rintih Lena, lalu tengkurab. "Abang, Lena kangen."


Saat-saat seperti ini hanya pelukan abang yang paling cocok. Pelukan David masih kalah dengan Abangnya. Walau Abang bau kecut, tetapi Abang pendengar yang baik.


Lena tidak tahu mengapa David memiliki data Niko dan Marsha. Jadi, Marsha adalah selebgram, pantas dia seperti pernah melihat di mana.


Lena bergidik pada catatan David, apa David sangat pendendam? Dia ingat betul isi catatan itu :


~~Aku bersumpah akan m3mbunuhmu Tara, kau akan senang bersama Shinta- Aku akan mengirim kalian ke neraka! ~~



Lena bermimpi pocong hingga membuat langsung membuka mata dan langsung duduk terengah-engah. "Kenapa harus bermimpi pocong dililit ular." Dia melirik jam enam pagi. Tangannya meraba-raba tali rambut. "Eh, tali rambutku di mana ya?"


Bantal di bolak-balik, selimut di kibaskan. Dia menyinari kolong kasur, mencari ke laci, tas, kamar mandi. "Kemana tali rambutku, Ya Tuhan."


Lena berjalan ke kamar mandi, dan meloloskan semua pakaian. Rambutnya digelung dan ditancap menggunakan pena. Habisnya tali rambut satu-satunya entah ke mana. Perasaan seharian kemarin nggak diikat, karena Niko tidak mengijinkan dia mengikat rambut.


"Tapi kenapa aku harus patuh? Nanti diikat saja. Tapi mau diikat pakai apa?"


Sampai Lena membersihkan kamar, tali rambut tidak ketemu. Padahal biasanya selalu dijadikan gelang tangan. Sepertinya terakhir di tas, apa jatuh?


Lena membuka pintu karena gedoran ringan. "Hai, Ika, pagi."


"Ada orang gila neriakin namamu!" Ika mendorong Lena ke depan sampai di ruang bertemu. Di luar gerbang ada perempuan yang berteriak-teriak membawa pemukul sampai di lihat orang-orang.


"Eh? Marsha?" pekik Lena. Kenapa aura itu lebih menyeramkan dari pada mimpi pocong dililit ular. Lena merinding. "Mau apa dia?"


"Telepon keamanan cepat, Tita!" Ika mendorong Tita si ketua tim di mes ini. "Kenapa dia manggil namamu. Jangan diam aja dong?"


"Niko keluar! Lena kucing kampung keluar! Niko kamu keluar! Sayang keluar! Kamu di sini, kan!"


Lena berlari ke dalam kamar dan gemetar memengangi ponsel. Ponselnya terjatuh. Dia duduk di lantai dingin dan menelpon Niko.


TUT


Panggilannya selalu mati. Lena menghubungi Sean.


"Abang halo? Abang, Niko punya nomer lain nggak?"


"Apa sih, Dek?" suara serak Sean khas bangun tidur. "Nomer apa? kayanya .... Nomer lama, tetapi kayanya udah nggak aktif."


"Cepat, kirimin sekarang!"


"Huh, apa sih ini bocah. Kenapa suaramu ketakutan?" terdengar suara lebih serius dari balik telepon.


"Sudah cepet!" Lena mematikan telepon. Semenit kemudian nomer dikirim. Dia menghubungi dan itu tersambung, tetapi tidak diterima. "Apa ini masih nomer Niko?"


Lena mengirim chat dan terkirim. Dia berjalan keluar lagi. Entah insting saja muncul untuk mencari nomer Niko. "Tidak mungkin kan Niko diculik, siapa yang bisa ngalahin Judonya. David saja kalah," gumamnya.


"Kamu bisa kena masalah dari management, Len." Tita memperingatkan.


"Maaf, kak Tita. Tolong jangan laporin soal ini, kak." Lena menggigit jarinya dan menatap Tita dengan penuh pengharapan, saat Ika mengelus bahunya.


Di tempat lain, Axel melapor pada David ada serang dari Marsha di Mess Lena, yang baru dilaporkan salah satu anak buah Axel.


David yang di ruang kerja, langsung melalukan panggilan video call. Dia masih kesal saat semalam Lena mematikan telepon, bahkan ponsel perempuan itu tidak aktif. Sekarang ... Lagi, Lena mematikan panggilannya.


Pria itu gemas, seumur-umur baru ini dia dipermainkan yang seperti ini, sampai dia sendiri harus mengalah dan menurunkan harga dirinya. "Angkat Lena!"


Axel tersentak karena teriakan tuannya, sampai kertas yang ditanda tangani Axel meleset hingga terdapat coretan panjang, mana dokument penting. Dia melirik tuannya yang menatap serius pada layar sampai membungkuk, lalu duduk tegap dengan wajah merah padam tiap kali tak berhasil melakukan panggilan.


"Ayo, Axel ke sana!"


"Anda tidak diijinkan menemui Lena."


"Culik dia!"


"Dia akan membenci anda jika anda melakukannya."


"Suruh orangmu video call, dan berikan ke Lena teleponnya."


Axel menghubungi keamanan di mess Lena dan video tersambung. Kini tampaklah wajah nona yang sangat kesal. Diberikan ponsel Axel pada tuannya yang berbinar dengan senyuman licik.


"Hola, Lena Sayang? Gimana pagimu, pasti menyenangkan?"


Axel merinding pada nada tuannya. Dia menebak ada sesuatu seram di balik nada penuh penekanan itu.


"David, bisa tidak, kau tidak menggangguku?"


"Siapa yang mengganggumu?" David menyeringai, tangannya memberi isyarat agar Axel keluar.


"Apa pagi-pagi?" gerutu Lena dengan sewot.


"Apa maling harus di hukum?" sindir David setelah Axel keluar dari ruang kerja.


...---------------...

__ADS_1



__ADS_2