Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Di Pantai?


__ADS_3

Ketika masuk ke dalam kamar, David berkedip beberapa kali. Wajah familiar membuatnya syok sebelum akhirnya berlari menyusul Niko yang mencoba kabur dengan membawa botol Rum. Botol rum itu terlempar ke luar pagar disusul suara pecahan dari bawah. Niko bergantungan di katrol sambil menekan tombol dan dalam waktu singkat berpindah di kamar Paolo. Niko terlihat cekatan mencabut sistem kaitan itu hingga David yang telah lompat pagar nyaris jatuh karena satu tangannya berpegangan pada tali yang mendadak terlepas dari pagar.


"Damn!" David melirik Niko yang masuk kamar sebelah. Kedua kaki yang tergantung saat dia berpegangan kuat pada pagar luar, dia melirik ke bawah, nyaris jatuh dari lantai dua. Matanya terpaku pada pecahan botol rum yang berasap, tampak sedikit mendidih. Itu seperti cairan keras. David mengangkat satu kakinya untuk meraih pinggiran pagar.


Setelah melompati pagar, David kembali ke kamar dan mengambil tali miliknya. Lalu meluncur di tali ke kamar Paolo Dia melihat kembali ke pecahan botol beralkohol itu. Mengapa, benarkah itu cairan keras atau hanya paving yang sedang panas akibat cahaya matahari.


David memeriksa sekitar dengan pandangan sekilas karena melihat pintu kamar yang terbuka. Dia melewati garis pintu dan berbelok tajam, pada saat yang sama membentur sesuatu.


"Aduh!" pekik seorang wanita.


"Agh!" David memeriksa siapa gerangan, ternyata Emma. "Dimana Niko, Emma?"


"Apa?" Emma menggelengkan kepala. "Maxudmu apa?" Tanyanya sambil melihat ke kanan-kiri, mengikuti pandangan David.


"Ada Niko di rumah ini!" David melirik wanita itu sambil menunjuk ke arah berlawanan secara bergantian. "Aku ke sini, kamu ke sana. Cepat cari!"


"Tapi-" Emma membeku melihat David yang berlari ke arah kamarnya. Alih-alih menjalankan perintah, Emma lebih memilih mengikuti David dengan jantung berdebar kencang.


Kamar mandi, walking closed, balkon sudah diperiksa David, tetapi tidak ada Niko. Lelaki itu, melewati Emma yang kebingungan. Tanpa minta persetujuan, David ke lantai bawah dan melepas anjing labrador. Sontak anjing bernama Charlie itu langsung melompat dan pergi ke lantai atas.


David tahu Charlie sensitif pada bau orang asing. Dia mengikuti Charlie, tetapi anjing itu justru dipeluk oleh Emma. "Biarkan dia mencari Niko, Emma!"


"Mana mungkin ada Niko di sini!" Emma memeluk erat-erat anjingnya yang gelisah. Sepertinya, tahu ada bau pria asing. Emma meringis saat David menyingkirkan tangannya dari Charlie.


Sontak anjing itu masuk ke kamar Emma dan terus mengendus-ngendus, pertama ke kamar mandi, ke tempat sampah, menumbangkan tempat sampah itu sampai terdapat kain kasa bekas berceceran ....


David mengendus bau parfum Emma, barusan tak sekuat ini, ini seperti habis disemprotkam. Dia mengerutkan kening, tetapi lalu memegangi badan anjing itu dan mendorong ke luar. "Bukan itu, Boy! Cari penyusup!" David kembali berjalan di belakang anjing yang mengendus-ngendus lantai, seolah tahu maxud David.


Anjing itu terus menggonggong ke arah balkon. David berjongkok dan menarik sebuah sapu tangan, dihirupnya, ini bukan bau EmmA. Dilirik arah pandangan anjing itu ke halaman belakang. David terdiam, Lalu berlari lagi dan mengundang Charlie.


Emma ikut berlari ke halaman belakang ke arah anjing itu yang berlari cepat, dia menganga saat melihat bagian rumput yang sedikit penyok. Anjingnya berhenti dan tak berani melompati pagar rumput setinggi pinggang.


David mundur mengambil ancang-ancang dan melompati pagar dari tumbuhan, berakhir terguling di rerumputan. Pria itu kembali ke rumah dan Emma kembali ke rumah sendiri dengan merasa was-was. Apa benar Niko berlari ke rumah David? Rumput itu apakah rusak oleh Niko.


.


.


Axel berlari dengan gelisah ke dalam rumah. Tuannya yang di tunggu di mobil tidak kunjung datang. Padahal, katanya cuma akan mengambil pin volunteer milik Lena di kamar, tetapi ini begitu lama.


Berhenti melangkah di dekat sofa ruang keluarga, Axel terbengong melihat baju David kusut kotor oleh daun dan rumput. Wajah sang tuan tampak kesal dan berkeringat.


"Tuan, ada kabar buruk- "


"Aku melihat Niko, aku melihat Niko barusan!" kata David memotong ucapan Axel.


"Apa?" Axel melihat lantai atas. "Di mana Niko, Tuan?"


"Dia kabur." David menghela napas putus asa. " Tadi dia ke kamarku. Kamu periksa segera kamarku, apa dia menaruh atau mencuri sesuatu."


"Baik, Tuan. Tapi ada kabar mendesak. Tuan George dikabarkan masuk rumah sakit karena keracunan tadi pagi. Barusan, katanya meregang nyawa."

__ADS_1


DEG. David tercengang dengan kelopak mata bergetar, mencoba menarik kerah Axel dengan gemas. "Kau bilang apa? Serius?"


"Soal kematian itu sendiri masih ditutupi pihak keluarga George. Tuan .... Jangan terkejut .... Nona Shinta bersama Tuan George dari semalam. Jadi, Nona Shinta sekarang ditahan di kantor polisi."


David menganga dan membelalakkan mata, lalu berjalan ke kamarnya dengan kepala tertunduk. Melihat bayangan Shinta di setiap lantai yang diinjaknya. Kenapa Shinta ....


Kenapa Shinta.


.


.


David selesai mandi keramas meringankan sedikit beban pikiran yang sudah hampir memecahkan kepala. Dia melangkah keluar dari kamar mandi dan mendapati Paolo sudah duduk manis di sofa sambil tersenyum tengil.


"Kamu pulang kapan?" Tanya David, menghandukki rambut yang basah.


"Emma cerita, katanya kau melihat Niko? Jadi aku langsung kemari." Paolo melihat David mengangguk.


"Aneh, kenapa dia masuk ke kamarku dari kamarmu. Memangnya kemana orang-orang di rumahmu, kenapa dia bisa masuk ke rumahmu?"


"Aku sudah periksa cctv. Memang Niko menyelinap dengan mudah, memanfaatkan rumah yang sepi. Tenang, aku sudah mengarahkan semua orang untuk mencari Niko, di dalam kota."


Menjatuhkan diri di sofa, David condong ke Paolo. "George tewas .... Apa pria itu bisa mati dengan mudah, padahal dikelilingi banyak pengawal? Aku masih tidak percaya!"


"Aku tahu dari pagi, sejak George masuk rumah sakit. Karena ini aku langsung kembali." Paolo mengeluarkan buku dari dalam jas. "Lihat ini analisa ku."


David membuang handuk ke sofa lain. Dia menelpon Axel agar datang. Lalu meraih buku dari tangan Paolo. "Aku tidak mengerti apa ini?"


"Coba ingat kembali ke acara penyambutan kelahiran anak Shinta." Paolo menunggu David membayangkan. "Anak buahku tidak sengaja melihat Paman ketiga menyelinap masuk ke sebuah ruangan. Setelah itu terlihat George masuk ke dalam. Kemudian juga Shinta!"


"Diam, dulu .... Biar aku jelaskan, Dav. " Paolo terdiam lama dan memandangi David. "Setelah kutelusuri, penyusup yang menyamar sebagai petugas medis, yang akan membunuh Marcho, diketahui pernah bekerja dengan Paman Ketiga."


"Aku mungkin tidak percaya, kenyataannya seperti itu." Paolo menunggu David mencerna kalimatnya yang tampak susah di terima David. "Orang yang tempo hari, menembak Marcho. Dilihat dari peluru, senjata itu berasal dari daerah China. Kau tahu pemborong senjata itu siapa? Paman Ke empat!"


David tersentak dan menggeser duduk menjauh. "Apa? Apa kau bilang Paman Josh dan Paman Alfonso. Mereka berniat membunuh Marcho? Keponakannya sendiri!"


"Dan mereka akan menargetkanmu-" suara Paolo pelan karena telinganya berdenging akibat teriakan David.


"Omong kosong!" David tak percaya. Syok bagai dihantam truk berkecepatan tinggi. "Tidak mungkin keluargaku segila itu." Dia menggeram dan mengepalkan tangan di dalam tangkuban tangan lain sampai berbunyi gemertuk. Semua kecurigaan Axel selama ini, seolah mulai menemui titik terang.


"Selam ini mereka menemui George, tapi kini George tewas. Sedangkan mantan kekasihmu bersama George disaat terakhir hidup George. Hidupmu sesial ini?" Paolo menepuk-nepuk bahu David yang loyo.


David bernapas sering pendek. Terus berpikir cepat. Dia berdiri dengan gelisah dan melirik kanan dan kiri.


"Aku menyekap asisten Paman Josh, yang memberitahu Informasi sejauh ini. Paman Ketigamu itu menghilang, seperti di telan bumi! Terakhir kali Sean melihat Paman Ketiga, jatuh di kantor, terlihat syok, lalu orang mengira Paman Josh itu pergi ke rumah sakit. Namun, sekarang bahkan ponsel itu tidak aktif! Mobilnya ditemukan di Mall sejak pagi. Dia menggunakan taksi berdasarkan cctv Mall!"


David mundur dan kehilangan keseimbangan saat meraba sesuatu di belakang. Tubuh itu terhempas ke kursi dan merasakan mual yang tidak tertahankan. Dia melihat tak fokus ke langit-langit kamar karena pening. "Mereka ingin membunuh aku dan Marcho."


"Mereka semua membencimu dan Marcho karena Xaverio Grup. Eh, apa kau tak berpikir Shinta memiliki hubungan George."


"Uhc." David memegangi kening. "Ambilkan aku air ..... "

__ADS_1


Menunggu David tenang, Axel yang baru masuk kebingungan karena David sudah menghabiskan tiga botol air mineral berukuran sedang. Axel duduk di depan David sambil mempelajari nama-nama orang di dalam buku Paolo.


"Pertama, Shinta mengajak Marcho berbisnis mutiara di jepang. Lalu, Anna diculik hingga membuat Marcho menyusul ke Qatar," ujar David.


"Itu memancing kemarahan Stefanie, dan berujung wanita itu menjual semua saham," jawab Paolo.


"Saham itu dijual pada seseorang, yang tidak disadari Stef bahwa orang itu adalah suruhan Bibi Kedua. Bibi kedua juga yang memfitnah Stef berkhianat atas tuduhan penyebaran data-data penting perusahaan Leora. Juga, kasus salmonella itu adalah perbuatan George melalui anak buah yang menyusup di pabrik Lecitin," imbuh Paolo.


David menganga seperti orang bodoh. "31 persen .. saham itu secara tidak langsung sudah menjadi milik Bibi Kedua .... "


Paolo menyambung kalimat David. "Belum lagi, digabungkan dengan saham milik Paman Ketiga dan Paman Ke Empat, semakin menguntungkan kubu mereka. Proses penjualan saham milik Marcho sudah berlangsung dan akan menguntungkan mereka ke depan, terlebih Marcho dalam keadaan koma sekarang."


Paolo menghela napas kasar. "Kau tak memiliki saham di sana. Kini tersisa saham Kakek Leora, yang bisa jadi nanti diberikan padamu untuk melawan pembelotan mereka. Maka dari itu mereka juga coba menyingkirkan mu lebih dulu. Meski begitu, suara Kakek Leora tetap kalah duluan di sini.


Dengan hanya memancing kemarahan Kakek Leora dan Marcho di pesta rumah Shinta, agar Marcho begitu marah pada Kakek dan nyatanya benar berujung Marcho menjual saham tersisa. Sialnya, Kakek justru menyetujui. Mereka pasti sudah merencanakan ini semua."


David membungkuk dan mengigit getir ibu jari. "Tapi, kau bilang Paman Ketiga menghilang. Lalu apa yang dilakukan Paman Josh, atau dia mempersiapkan kejutan lain."


"Kita perlu mencari bukti sebanyak-banyaknya, atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Marcho. Paman Ke tiga dan Paman Ke empat yang harus bertanggung jawab. Kau harus mengumpulkan bukti."


David mengangguk. "Lalu kenapa si penculik Anna juga ke Kalimantan, padahal dia bukan orang Indonesia," gumamnya lalu bertanya pada pada Axel. "Sudah mendengar kabar dari Jefri belum? Lalu kemana tujuan penculik ini?"


"Sementara, Jefri masih memberitahu bahwa si penculik Anna sedang berkeliaran di dekat hutan Kalimantan Tengah."


"Kau bilang Kalimantan timur?"


"Sekarang, GPS mereka benar-benar terlacak di Kalimantan Tengah." Axel menunjukkan lokasi anak buahnya yang bergabung bersama anak buah Jefri.


"George pernah bersama Nona Shinta di Jepang, di kamar pasangan selama seminggu. Itu dapat dipastikan sebelum wanita itu melakukan perjalanan bisnis dengan Tuan Marcho," kata Axel dengan hati-hati, tidak mau menyinggung tuannya.


Marcho dan Axel saling berpandangan.


Dalam pikiran David, dia tidak mengerti kenapa Shinta harus memesan kamar pasangan bersama dengan George. Shinta bukan seperti itu. Meski, nyatanya Shinta berselingkuh dengan Tara, dia tak yakin apa Shinta menjalin hubungan dengan George.


"Tuan David .... " Axel memanggil David yang melamun. "Penculik Anna itu juga pernah bertemu dengan George. Jadi, George mengenal orang itu."


"Atau George justru yang mengendalikan semua orang ini," timpal Paolo. "Coba pikir, betapa liciknya dia, banyak orang pernah terlibat masalah karena rayuan yang manis George."


Lalu untuk apa Shinta bersama George? Batin David. Lelaki itu berdeham. "Apa Shinta dijebak George?"


"Di jebak George? Kurasa kurang tepat, kalau George akhirnya tewas duluan." Paolo menaikan alis. "Atau George dan Shinta bekerjasama!" Mata Paolo membesar. "Jangan bilang, Shinta belum move on dari kamu, Dav. Lalu meminta tolong George agar menculik Lena! Soalnya kan ... penculikan Lena terjadi setelah penculikan Anna. Mereka seperti, sambil menyelam minum air."


David memiringkan kepala. "Mungkin?" Dia melihat ke Axel.


"Saya yakin begitu, Tuan." Axel menatap mata sang Tuan dengan tercengang. "Pantas, aku melihat dari mata Nona Shinta saat anda mabuk, sepertinya dia sangat berharap pada anda?"


...****************...


Ketika David pulang dari kantor jam delapan, David menelpon Jefri dan terus meminta Jefri agar segera menangkap si penculik Anna segera. Dia ingin tahu apa penculik itu tahu soal Lena.


Tiba-tiba getaran kuat mobil da rem berdecit, David terkejut saat Axel berbelok tajam, ke arah jalan berlawanan, dia bisa melihat nyaris mobil dari arah berlawanan menghantam tepat di sisinya. Dia tak sempat berpikir lagi saat getaran ledakan mengguncang dengan cepat, tak terhindarkan dari belakang, membuat tubuh terasa terlempar berputar-putar di dalam mobil dengan membentur tak karuan.

__ADS_1


Batuk-batuk karena nafas sesak. Telinga David berdenging dalam pandangan masih gelap dan tubuhnya terasa bergeser. David perlahan membuka mata dan melihat bayangan tak jelas pada wajah Axel dan dia mulai merasakan tubuhnya tertarik dengan perlahan oleh Axel dan melewati lubang jendela. Tampak tubuh Axel penuh darah dan terlihat payah dan lemah. Suara keributan samar terdengar dari orang sekitar, diikuti suara sirine ambulan. Berikutnya semua pandangan menjadi gelap.


David dengan bingung karena dia berada di suatu tempat pasir putih. Dia yakin tadi melihat pelipis Axel berdarah hingga ke baju, juga kilatan kobaran api membumbung tinggi yang berada tidak jauh darinya, sepertinya mobil yang dia tumpangi lalu seperti tersulap dan terbakar. Tapi .... Mengapa kini dia kini menjadi di pantai.


__ADS_2