Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 70 : INTERLAKEN SWISS


__ADS_3

David bernyanyi sambil membalik potongan daging sapi di teflon, seketika suara daging mendesis membuat liur Lena hampir keluar dari mulut. Aroma daging panggang memenuhi dapur. Mereka menyewa villa, di pinggir air terjun yang tingginya 297 m.


Lelaki itu terus melempar tatapan nakal saat mengamati tubuh istrinya yang hanya memakai celana inti dan kaos putih kebesaran milik David. Dia membiarkan Lena menaburkan daun Thyme segar dan basil, di atas teflon. Jari-jari mungil itu sangat menggoda hingga David begitu ingin memakan jemari sang istri.


Lena terus melempar senyuman saat David sesekali menggunakan gagang spatula sebagai mic dan terus menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, yang baru dihafalnya beberapa hari ini.


"Kamulah mahluk tuhan, yang tercipta yang paling seksi. Cuma kamu yang bisa membuatku terus menjerit. Aw Aw Aw!" David menggoyangkan gagang spatula dengan dua tangan kekar memparodikan ala penyanyi terkenal.


David melihat istrinya tersipu seperti remaja yang baru saja jatuh cinta, dia puas menggoda Lena, karena dari sore tadi sang istri terus cemberut dan sedikit kesal gara-gara dia menjatuhkan ponsel milik Lena di pinggir tebing.


Nyanyian itu adalah yang termanis yang pernah Lena dengar, karena suaminya sedang sangat genit dan sejak siang tadi sikap suaminya berlebihan sejak tahu dia hamil.


Bagi Lena, tidak perlu kencan pantai, atau seikat 1000 mawar dan hadiah lucu untuk menunjukkan sebuah cinta, melainkan yang dibutuhkan dia adalah hal sederhana seperti ini, sebuah dukungan. Ya, waktu bersama membuat hatinya tetap menghangat di tengah cuaca dingin.


"Pa, apa yang kamu harapkan, apakah anak laki-laki atau perempuan dulu?" Lena menaruh piring di meja, dimana di atasnya terdapat satu lampu putih gantung, yang setinggi kening David.


"Jika laki-laki, aku akan mengajarinya matematika, kami akan berolahraga dan aku akan mengajarinya bagaimana berperilaku dan seterusnya." David membalikkan teflon di atas piring. Kemudian membawa ke balkon dengan pemandangan air terjun yang tersorot lampu.


"Lalu bagaimana jika itu perempuan?" Lena membawa jus Alpukat-pisang yang baru diblender dan dicampur serbuk protein, lalu menyusul David yang telah menempatkan piring di atas meja kaca berbentuk bundar.


"Kalau perempuan, aku tidak perlu mengajarinya apapun. Karena dia akan menjadi orang yang akan mengajariku tentang semua hal.

__ADS_1


Lagi, seperti cara berpakaian, cara makan, apa yang harus dikatakan, apa yang tidak boleh dikatakan. 


Singkatnya, dia akan menjadi ibu kedua saya dan dia akan menganggap saya sebagai pahlawannya, bahkan jika saya tidak melakukan sesuatu yang istimewa, dia akan selalu mengerti ketika saya menolaknya untuk sesuatu.


Dia akan selalu membandingkan suaminya dengan saya. Tidak peduli berapa umurnya, dia akan selalu ingin agar aku selalu memperlakukannya seperti boneka bayiku.


 Dia akan bertarung dengan dunia untukku dan jika seseorang menyakitiku, dia tidak akan pernah memaafkan orang itu."


Lena duduk di kursi semi ranjang, dengan alas busa tipis nan empuk. David masuk ke dalam ruangan dan membawa keluar jus jeruk, juga keripik Jagung kesukaan David. Lelaki itu masuk lagi dan keluar membawa selimut tipis, lalu menutupi paha Lena.


"Mah,  menjadi seorang ayah dari seorang putri adalah kebanggaan bagi setiap pria." David duduk di sisi Kanan. Tangan kekar itu memotong steak daging menjadi bagian terkecil, lantas memberikan piringnya pada Lena. Sang isteri langsung duduk di pangkuannya.


"Tapi, dia tidak akan bersama kita selamanya." Lena mengulurkan suapan pertama pada David, lalu dia memasukan dua potongan besar pada mulutnya sendiri. Ini sudah ke lima kali dia makan berat hari ini.


"Huuuu .... "Lena tersenyum malu saat David menyatukan rambut sebahunya dan mengikat dengan gaya ekor kuda.


Sebuah Syal diambil di sandaran kursi, lalu dilingkarkan ke leher Lena, tangan kekar itu memasukan kain wol hingga menutupi rambut Lena. Sementara tangan mungil sibuk menghabiskan tenderloin dengan berat 250 gram. Suaminya hanya makan satu suapan, karena David lebih memilih minum jus alpukat-pisang yang dicampur serbuk protein. Suaminya membatasi makanan yang masuk ke perut six pack itu, sedangkan Lena sendiri butuh banyak asupan untuk sang jabang bayi.



"Interlaken. Seperti namanya, kota ini terletak di antara dua danau besar di Swiss. Kita berada di tengah-tengah, Danau Brienz dan Danau Thun." David menarik bahu Lena hingga merapat ke dadanya. Sang istri telah selesai makan dan mata sang istri sudah setengah tertutup. Dia seperti menjadi pendongeng, selimut dinaikan sampai menutupi dada Lena dan kembali memeluk sang istri.

__ADS_1


David sendiri merasa kedinginan walau sudah memakai celana panjang. Namu, Lena sering mendorong selimut dan bilang kepanasan padahal suhu 10 derajat.


"Ini adalah pintu gerbang ke beberapa gunung dan lembah utama. Ada dua lembah penting, Grindelwald dan Lauterbrunnen, yang sama-sama indah. Apa kita besok mau ke dua lembah itu?"


"Terserah Papah," suara Lena parau, dia sudah makan, tetapi masih tak bertenaga. Pelukan dada David terasa sangat nyaman baginya, apalagi dengan pemandangan kampung di bawah air terjun. Sayangnya, dia sampai villa ini sudah mulai gelap, membuatnya tak bisa melihat keindahan air terjun.


"Love You, Lena." David tak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Love you too, Papah."


"Aku tahu kita sudah menikah, aku masih ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, Mah. Aku tidak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama tetapi aku ingin menghabiskan seluruh hidupku dengan kamu."


David mengecup pucuk penutup rambut Lena. Dia begitu pening setiap kembali teringat kepulangannya nanti. Cepat atau lambat Lena akan bertemu Niko.


Lena sangat senang, banyak perasaan melompat danmenari di dalam dada membuat dia gugup. "Mas, mari kita jaga kesehatan. Semoga kita bisa terus bersama sampai hari tua. Aku tidak bisa berjanji seperti apa katamu saat pertemuan kita di Bali. Tetap saja, aku akan memberikan 100% usahaku pada hubungan kita." Lena menjauhkan wajah dan mendapati tatapan mata biru yang penuh arti.


"Setiap momen adalah spesial, setiap detik bisa menjadi berarti. Tidak ada seperangkat aturan halus yang membuat hubungan apa pun istimewa dan berharga, orang-oranglah yang membuatnya lebih indah dan istimewa. Keberadaanmu di dalam hidupku membuat setiap waktuku menjadi istimewa, Mah."


"Papah juga sangat berati untukku." Lena mengecup bibir sang suami. Dia turun dan berjongkok, tangannya menepis sang suami yang akan menariknya.


David meng**erang karena kenakalan istrinya. Tubuh pria itu menge**Jan karena pelepasan. Tangan kekar itu langsung menarik tubuh sang istri ke pangkuan.

__ADS_1


Sontak David berdiri dan menggendong sang istri dan membaringkan hati-hati di tempat tidur, dan memagut bibir sang istri yang beraroma pandan. David yang kelelahan menutup tubuh Lena dengan selimut sampai leher Lalu merengkuhnya. "Ayo, dedek bayi harus bobo, makannya Mamah juga bobo. Selamat malam isteri dan buah hatiku "


"Selamat malam suamiku sayang," suara Lena makin parau. Dia melirik pintu balkon yang belum tertutup, Lalau memilih terpejam karena semakin lelah setelah berusaha membahagiakan sang suami.


__ADS_2