
Dasi David yang dikenakan dalam acara pernikahan dipotong-potong di atas panggung, ini adalah tradisi selanjutnya. David dan Lena lalu kembali berkeliling menjual potongan Dasi ke keluarga David.
"Aku membelinya, berikan aku yang paling besar.... " Marcho menarik uang 10juta rupiah dalam gepokan dari tas istri.
"Kamu akan akan mendapatkan potongan terkecil karena kamu banyak membuat Lena susah." David mengambil potongan paling kecil dari Nampan, Lalu Leora dan anak-anaknya tertawa.
Marcho memasang wajah tertekuk, saat dia melihat Kakek Loera memberikan uang dalam dolar Amerika dalam pecahan 100 dolar segepok dan Kakek mendapatkan potongan paling besar. "Curang, Kakek, katanya cuma pecahan rupiah bisanya."
"Sudahlah." Stefanie mengelus punggung tangan suaminya.
Ardian memberikan uang seratus ribu satu lembar ke atas nampan yang dipegangi menantunya, Lena. "Berikan aku yang besar .... "
"Berikan papah mu yang kecil," balas Bilqis dengan tersenyum sangat manis hingga membuat Ardian menyerah, tetapi dia akhirnya mendapat dua potong dasi. Wajahnya seketika langsung sumringah.
Axel ikut memberikan uang sepuluh ribu. Para tetangga yang penasaran juga ikut membeli potongan Dasi yang diedarkan, ada yang 5ribu, 50 ribu. Lena dan David terbengong saat sisa satu. Dia merangkul sang istri menuju Sean. Lalu memberikannya pada Sean.
__ADS_1
"Ini gratis untuk kamu, Kak." David memanggil Kakak walaupun Sean dua tahun dibawahnya .
"Enak saja, aku juga punya uang." Sean mengeluarkan semua isi dompet 245.000. "Wah, adanya segini, Dek? Tak apa, ya?"
Lena memeluk abangnya dengan rasa rindu luar biasa. "Terimakasih Abang, terimakasih." Dia merasakan elusan tangan menenangkan sang Abang. Tatapan Kakaknya yang penuh cinta membuat mata Lena berkaca-kaca.
"Hiduplah dengan bahagia, Dek." Sean mengecup kening sang Adek, lalu melepas pelukan dengan hati bergetar. Dia menggosok matanya yang panas dan basah, lalu membuka dompet. Dia berkata pada David sambil memasukan potongan Dasi ke dalam dompet di bagian tempat foto. "Ingat, Dav. Kau ingat potongan dasi ini, aku menyimpannya di sini. Agar kau ingat seumur hidupmu. Hatiku adikku telah kamu curi dariku. Sampai kemanapun dan kapanpun, aku akan tetap bersamanya. Dia bahagia, aku bahagia dan begitulah sebaliknya." Sean melongo mendapat pelukan dari Davi. Karena mendapat tatapan semua keluarga David dan keluarganya, dia membalas pelukan David.
Tamu masih asik hiburan malam musik sampai jam 10 malam. Keluarga David menunggu prosesi selanjutnya, dan mata mereka mulai berkaca-kaca saat David menggendong Lena dan pamit pada undangan. Setiap langkah demi langkah David menggetarkan hati keluarga David karena bagi mereka itu sangat sakral. Tandanya mereka akan menempuh kehidupan baru untuk berumah tangga.
Pintu didorong David dan diputar kuncinya. Dia memandangi sang istri sambil melepas jas, lalu digantungkan ke gantungan di belakang pintu yang ditunjuk Lena. Suara musik diluar tak bisa menghilangkan kegugupan Lena dan David.
"Sayang, di dalam kamar tidak ada kamar mandi. Kita jadi susah?" David menggaruk tengkuk dan menatap Lena yang terus memutar mata gelisah.
"Sama saja kan, Mas? di luar juga apa susahnya?" Lena menggigit bibir bawah sambil merem4s kelopak mawar yang baru diambil dari dekat kakinya.
__ADS_1
"Pura-pura nggak tahu, ya? Kita mandi nya kan jadi jauh dan nggak bebas?" David dengan dua sudut bibir terangkat, matanya berseri-seri saat melepas kancing kemeja. Kemudian duduk di samping Lena, tetapi suara tempat tidur timbul suara kayu berderak. "Apa kita nggak perlu bebersih dulu?"
"Mas, banyak orang. Memang kita mau apa?" Lena meringis, otaknya tiba-tiba tumpul.
"Mau tidur. Seperti biasa, kan bebersih dulu." David belum sampai memikirkan malam pertama. "Tempat tidurnya berisik, Sayang. Aku gerak dikit bunyi."
Wajah Lena menghangat karena sentuhan jemari David di tangannya. Lena menarik tangannya menjauh karena tak tahan gugup, mendadak sentuhan David jadi terasa begitu panas. "Iya, tempat tidurnya berisik, soalnya alasnya anyaman Darin bambu."
David menelan Saliva dan membantu Lena melepas kerudung pengantin putih yang dipasang Mamah. "Biar aku minta air hangat, ya? biar aku bisa membasuh badan kamu, Sayang."
Sekujur tubuh Lena merinding mendengar suara David yang lembut. "Biar aku keluar dulu, aku rebuskan air, atau mas mau mandi sendiri di kamar mandi?"
"Tidak usah, aku telepon Axel." David meraih ponselnya lalu menelpon Axel sebelum Lena berbicara lagi. Lelaki itu berbicara tidak lama sambil memunggungi Lena. Lalu mematikan telepon dan menaruh di atas meja rias.
David duduk dengan hati-hati dan menatap sang kekasih yang melepaskan peniti dari hijab. "Sekarang aman, Sayang. Axel akan bawa ember berisi air hangat. Sebentar lagi, tunggu, ya? Dengan begini, kamu tidak perlu dilihat orang. Biar aku saja yang lihat kamu di malam spesial ini."
__ADS_1
"Uhuk Uhuk!" Lena keselek liur sendiri. Dia terkejutnya karena nada sensual suaminya yang membuat merinding.