
"Tanggal?" David melirik Lena, yang ternyata ikut memesan tiket penerbangan lewat ponsel Oppo, tetapi kelas ekonomi yang berharga 11 juta per kursi. "Eh? Kamu belum pesan tiket pulang?"
"Belum." Lena terkikik dan langsung mendapat duselan hidung David pada hidungnya secara tiba-tiba. Lena tergagap dan berhenti tertawa, dia pikir pria itu akan menciumnya. Ternyata justru kini menariknya untuk duduk berdampingan.
"Aku pesankan, ya?" David dengan suara berat dan antusias, jarinya sudah mau memilih dua kursi kelas bisnis yang harganya 44 juta per kursi, tetapi jarinya ditarik oleh jari mungil.
"Aku pesan sendiri, Dav." Lena condong ke David, hingga lengan saling bersentuhan dan mengeklik 1 penumpang di ponsel David. Dia kembali pada ponselnya dan sesekali melempar senyum karena tatapan protes David.
"Untuk apa pesan tiket bareng, kalau duduknya berjauhan. Aku bayarin, ya?" David menghela nafas berat karena gelengan kepala Lena. "Yaudah aku ikut pesan di ponsel kamu, dua kursi, aku yang bayar." Satu alis David terangkat karena gelengan kepala Lena lagi.
"Kamu pesan sendiri," gerutu Lena. "Kan itu syaratnya."
"Bandel." David dengan sewot, lalu merengkuh tubuh Lena dari samping.
"David, tunggu." Lena menyingkirkan jari panjang dari ponselnya. Namun, dia kalah pendek saat David menarik ponsel Oppo dan langsung berdiri. Pria itu memesan kelas ekonomi dua.
"Sudahlah, kamu kan cuma bilang aku pesan tiket sendiri. Ini sudah sendiri." David mengabaikan Lena yang loncat-loncat dan jinjit untuk menggapai ponsel. Tangan kekarnya sampai untuk bergelantungan Lena sampai gadis itu ngos-ngosan.
David terkekeh dan duduk di sofa, dia menarik tangan Lena agar duduk di sampingnya, daripada berdiri. "Lena, aku sudah mengalah untuk ganti kelas. Sini bantu aku masukan nomer paspormu."
Lena dengan lesu akan membuka data di catatan ponsel, tetapi justru David menunjukan sebuah catatan dari ponsel pria itu. Kenapa kamu memiliki nomer pasporku!
Setelah memasukan nomer paspor milik David, dan memilih kursi, pria itu membayar langsung membayarnya. Lena menerima pemberitahuan Email. "Kan, jadi, aku hutang padamu. Berikan nomer rekeningmu."
"Tidak perlu. Sekarang kamu sudah mau jadi kekasihku?" Mata David melebar , menunggu jawaban.
"Berikan nomer rekeningmu dulu. Aku tak mau punya hutang." Lena mengerucutkan bibirnya lima senti.
"Sudahlah, Len. Aku juga tidak tahu." Padahal harga tiket itu juga tak seberapa. Bukankah yang di dalam amplop itu juga nilanya 30 kali lipat dari harga tiket.Jadi, ini mah kecil.
Lena berjalan ke meja karambol dan di susul David. Tangan mungil itu meletakkan amplop berisi uang di pangkuan David. "Jangan seperti ini, lah, Dave. Aku tidak suka caramu. Tidak semua hal bisa kamu nilai dengan uang."
David menekuk bibirnya. "Bukan begitu, Len. Aku cuma ingin kamu jalan-jalan mumpung di sini. Karena aku nggak bebas menemani lagi."
"Kalau cuma jalan-jalan aku juga punya uang. Sudahlah, jangan bahas uang. Simpan dulu uangmu, aku nggak mau melihatnya, Dav. Apa nanti kata orang tuaku jika aku main terima uang."
David berdiri dan menyimpan uang di sebuah kamar yang tidak jauh dari balkon. Lena masih melongo melihat tiket yang sudah dibayar, perasaan tidak nyaman seketika menyelimuti hatinya. Awalnya dia pikir David takkan menyanggupi syarat itu, lagi-lagi dia merasa terjebak karena ulahnya sendiri.
Dia masih tidak percaya David mau ikut, lalu nanti mau tidur di mana pria itu. Ayah pasti menolak keras, apalagi kalau sampai tahu David memiliki tatto.
__ADS_1
Lagipula tidak semudah itu dari Niko yang sudah dijalaninya selama tiga tahun, yang ada dia hanya semakin merasa bersalah pada David.
Apa boleh beralih pada David? Caranya? Mungkin saja David hanya sedang marah dengan Shinta?
Siang terasa begitu cepat berlalu, setelah David mengajarinya bermain karambol. Tentu saja Lena kalah terus, jangan samakan dengan yang sudah pro. David berulangkali juga menerima panggilan telepon dari pekerjaannya. Sampai Lena terkantuk-kantuk karena David berbicara sangat lama di pinggir balkon.
Angin sepoi menerpa rambut dan bau minyak kasturi di rumah itu membuat rumah seperti di surga. David kembali dari teleponnya, dan menemukan posisi kepala Lena yang tertunduk.
Pada saat yang sama Axel datang dan melirik tuannya. Seakan tahu Axel masuk ke dalam kamar dan keluar membawa kain dan bantal. Kalau dulu si tuannya dengan teman-teman akan tidur siang dengan angin laut seperti ini. Ternyata, sekarang juga tuannya menggunakan selimut itu untuk menutupi sebagain tubuh nona yang tidur terduduk.
David mencoba berbaring dengan sangat pelan dan kepalanya kini paha Lena, gadis itu bahkan tak terbangun. Dia melirik takut-takut bila Lena bangun, lalu mengusirnya. Aroma kenanga memabukkannya, dia masih belum sempat ganti baju dan justru ikutan mengantuk.
Mereka tak tahu, bahwa Leora di ruang kerja, di rumahnya sendiri, memiliki akses cctv online rumah itu. Kakek tua itu mengelus-ngelus dagu dan berpikir. Ucapannya tak diindahkan David. Dia perlu menemui gadis itu langsung.
...----------------...
Aroma daging tercium dari lantai dua, Lena mengendus-ngendus dalam dan perutnya makin keroncongan. Dia belun makan siang. Matanya memejap berulangkali, mencari seseorang, tetapi justru suara berisik muncul dari bawah.
"Selimut?" Lena merem4s selimut yang perasaan tadi tidak ada. Dia melipat rapih, dan karambol sudah berada di sudut ruangan. Dia menapaki ke pinggir balkon.
"WOW, itu benar David?"
"Nona, anda sudah bangun." Axel membawa paper bag dan memberikannya pada gadis yang baru menoleh. "Mandi dulu, mumpung Tuan David masih sibuk."
"Terimakasih, Tuan Axel. Boleh aku bertanya?"
Axel masih berdiri dengan mengangguk. "Silahkan."
"Mengapa rumah sebesar ini kosong?" Lena melirik sekitar dengan heran.
"Papa, Mama, Satu kakak pria, dan dua adik perempuan, dari Tuan David, di Napoli -Italia. Rumah ini hanya persinggahan saat liburan. Apa ada pertanyaan lagi?"
Axel mengangkat satu alis dengan penuh penasaran kenapa uang- yang kalau di rupiahkan, 307 juta dikembalikan. Atau justru itu trik untuk mendapatkan yang lebih besar?
"Cukup, Tuan Axel. Terimakasih." Lena menerima paper bag dan dilirik isinya. Padahal, dia tak perlu ganti, juga tak masalah.
Lena tersenyum girang karena mendapat baju baru. Dia berjalan ke kamar mandi yang ditunjukan Axel di sebuah kamar yang ada foto David. Bathtub membuatnya terkesiap, dia masuk ke dalam dan punggungnya menekan pintu hingga tertutup rapat. Dia cepat-cepat melorotkan semua pakaiannya dan berjingkrak saat memasuki Bathub dengan badan polosnya.
Jemarinya bergerak lincah dan mencoba-coba untuk memutar kran yang lebih dari satu. Namun, dia sempat bingung cara menutup lubang pembuangan, sampai tak sengaja menginjaknya saat mencari semacam tombol. Penutup lubang air itu pun tertutup tanpa sengaja dan mulai terisi air dingin. Dia mengikuti petunjuk dengan memutar 'HOT'. Wah keren airnya jadi panas. Seumur-umur baru kali ini merasakan mandi di dalam bathtub, kalau ceburan di pantai-laut mah sering.
__ADS_1
Matanya tertuju pada aneka botol di dalam piring oval. Dia mengambil yang bertuliskan Vanila, dan dituangkan untuk menyabuni tubuhnya. Ah pokonya dia tidak tahu caranya. Asal saja, dan lama-lama airnya berbusa kaya di film-film entah, kenapa bisa berbusa.
"Lena!" David membuka pintu karena Lena sangat lama, dia berpikiran macam-macam, bahwa Lena telah pinngsan.
Perempuan itu langsung membenamkan diri ke depan hingga kepalanya masuk air dan perih. Dia mengangkat kepala dengan masih membungkuk, dengan meraup busa dari wajah. "Keluar, Dav!"
David masih mendelik menatap punggung polos putih mungil. Dia meneguk saliva, dan tahu fakta bahwa itu lebih indah daripada milik Shinta. Cekungan tulang belakang dan bahu dan tengkuk terekspos. Sayangnya yang lain tertutup busa.
"Keluar David! Kau lihat apa!"
Lena makin panik karena lupa mengunci saking kegirangan pada kemewahan kamar mandi. Pria itu menelan liur yang siap meluncur ke ujung bibir dan hanya menatap Lena dengan tatapan meredup, menjadi gelap, lalu pintu tertutup tanpa suara keluar dari mulut David.
Merinding mulai menjalar di bawah kulit, di sekujur tubuh yang polos dan sekejap berdiri. Air berombak suara kecipak-cipak jelas terdengar saat dia melangkahi bathtub dengan masih sedikit berbusa menempel di perut dan dadanya. Jantung berdebar tak terkendali dan tubuhnya menjadi panas dingin. Pikiran semakin campur aduk saat berlari dengan langkah kecil ke arah pintu. Tangannya terulur akan meraih gagang pintu dan akan mengunci pintu, menyelamatkan diri, lalu semua beres.
David membuka pintu lagi, dan jantungnya siap meledak, jeritan Lena yang berdiri tepat di celah pintu, memekakkan gendang telinganya. Justru membuat David yang terkejut dan tidak siap langsung membekap mulut Lena dengan menatap mata Hazel dengan pikiran pada kecepatan penuh dan menangkap kilatan memori yang barusan terjadi.
"Diam! Sorry aku tak sengaja," suara David berat.
Otak David tiba-tiba mati. Dia melihat ke belakang, dengan debaran jantung yang kuat seperti habis maraton. Bahkan tangan kekar itu gemetar saat membekap bibir dan kepala Lena. Baginya ini super intim.
"Mmmmmph mmmpphh!"
"Iya! aku keluar. Aku tidak lihat, tenang saja! Aku mundur, aku keluar, aku takkan buka pintu lagi. Aku cuma mau bilang, aku tunggu di bawah-"
"Mhhhh!" Lena menarik kemeja di punggung kekar, agar David cepat menjauh. Dia bergidik karena pria itu terlalu dekat. Jantungnya mengembang maksimal seperti sudah terlempar ke luar angkasa. Dia ingin menangis dan malunya tidak ketulungan.
David berbalik ke pintu dengan penuh sesal, dan berbalik saat akan menutup pintu. Lagi-lagi matanya tertuju pada tubuh polos terutama V, dan secepat kilat Lena menutupi dua area vital, saat itupun telah terekam jelas pada selang-selang memori otak David, pada anugrah surga duniawi.
Axel di lantai bawah melihat tuannya yang menuruni tangga, dengan langkah seperti Zombie. "Tuan, jangan melamun. Kaki Anda bisa terpeleset."
David melirik ke ujung tangga pada Axel. Dia kini menatap masing-masing anak tangga yang dilewatinya. Jantung dan pikirannya pun entah sedang hilang kemana. Tampilan tiap tampilan otaknya sangat kotor. Dia tidak bisa mengatur 'itu' untuk hilang dari bayang-bayang pandangannya.
*Aku akan bertanggung jawab, Lena. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu. Aku akan menikahimu. Maaf kan mataku, yang ternyata mengagumi keindahanmu.
Ya Tuhan! Kembalikan otak ku yang tak mau bekerja. Sepertinya, karma tengah bekerja padaku. Aku mendapat keindahan 1000x lebih baik*.
Jantung David berdebar-debar saat duduk di meja taman belakang dengan pemandangan ombak, angin di tepi pantai dan matahari baru saja terbenam. Berulangkali dia menggelengkan kepalanya karena pikiran ca**ul nya. Dia malu sendiri. Sangat malu pada Lena. Apa yang akan dikatakannya.
...----------------...
__ADS_1