
Lena asik berkirim pesan dengan Abang Sean. Dia mengulurkan sebungkus Chiki, ke mulut yang terbuka dan mendapati seplastik Chiki telah kosong. Dia meremas plastik itu lalu membuangnya ke tong sampah di samping tempat tidur.
Sepuluh kantong jajan yang dibelikan David seminggu yang lalu telah ludes, karena setiap Ika dari kamarnya, pasti temannya itu selalu meminta dan membawa pergi satu bungkus. Toh, dia tak mungkin membawa Chiki itu pulang, biaya bagasi cuma dibatasi beberapa kg. Dia tak mau kena biaya tambahan bagasi pesawat.
Lena cuci tangan, lalu merebahkan diri. Rasanya tulang punggungnya seperti terbelah menjadi dua karena seharian menangani banyak pengunjung tanpa bisa duduk. Dia merasa beruntung memiliki David yang sangat perhatian karena mengirimkan makanan hotel untuk makan malam di Stadion.
Ternyata begini rasanya memiliki pasangan yang peka. Sampai sekarang dia juga ingin tertawa sendiri setiap membaca chat dari David. Apalagi setelah masa kekosongan tiga bulan kemarin saat Niko tidak ada kabar sama sekali. Apa yang terjadi sekarang sangat kontras, dia dipenuhi perhatian dan kasih sayang yang dipenuhi ketulusan dan membuat hidupnya terasa sempurna berkat si jakung.
-Kamu besok ingin kemana, Na Sayang?- (David)
-Terserah kamu, Mas Sayang. Udah malam kamu tidur!- (Lena)
Dulu dia bisa memimpikan pernikahan dengan Niko, tetapi hubungannya kandas. Sekarang bahkan dia tak berani memimpikan hubungannya dengan David. Lena menarik buku catatan dari tas, lalu duduk dengan memeluk lutut. Dia kembali mencoret tanggal hari ini. Jadi, dia di Qatar tersisa 4 hari lagi, lalu akan pulang ke Indonesia.
Tulang belikatnya bersandar pada dinding yang begitu dingin. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, saat Lena mengeklik photo profile milik David yang baru berubah. Sekarang David menggunakan foto David bersamanya, saat Paralayang. Lena mengulas senyum dan dadanya menghangat. Panggilan Video tiba-tiba masuk, dan tampak wajah David yang sangat lucu yang sebagian terbenam di bantal.
"Kenapa kamu belum tidur? sini datang, aku mau peluk kamu biar kamu bisa tidur." David dengan nada serius.
"Aku dah ngantuk." Lena menutupi mulut dengan kedua tangan dan menguap. Diamati baik-baik wajah David yang mempesona. "Terimakasih Mas Sayang, untuk semuanya. Tak terasa seminggu berlalu dan ternyata waktu berjalan begitu cepat."
David tersenyum dengan penuh cinta. "Makannya kamu itu tidur sekarang. Nanti jam 5 aku sudah di situ, lalu aku gendong kamu dibawah sinar matahari pagi biar kamu bebas tidur lagi di punggung aku, Sayang. Aku ingin menghabiskan waktu pacaran kita di Qatar, sebelum terbang ke Bali."
"Boleh," suara Lena dengan serak khas orang mengantuk. Namun, Lena tetap berusaha membuka matanya yang berat untuk menyimak cerita David tentang seluruh keluarganya yang siapa akan menyusul ke Bali.
Ponsel Oppo terlepas dari tangan mungil dan jatuh menimpa dadanya. "Uh Mas! aku ngantuk." Lena mengarahkan camera ke wajahnya kembali. Kemudian membuka mata paksa karena wajah seksi David. "Aku mau tidur."
__ADS_1
"Iya sudah sana tidur. Selamat beristirahat, Nanaku sayang. Mimpiin Mas ya?"
"Iya, Mas juga mimpiin aku." Lena berbicara dengan mata terpejam dan tangannya terkulai begitu saja tanpa mematikan panggilan. Tubuhnya sangat ringan dan dia tahu sudah di alam mimpi karena dia sering mengalami cupid dream.
"Mas, aku telah melakukan kesalahan besar," kata Lena sambil meremas jemari di pangkuan dengan memandang takut pada wajah kekasihnya.
"Kesalahan apa? aku tak peduli apapun kesalahanmu, yang penting kita akan tetap selalu bersama."Senyuman David sangat mempesona dan jari panjang itu membel4i wajah mungil dengan kelembutan.
"Tapi Kakakmu telah memperkos4ku .... " Lena terdiam menunggu jeda beberapa detik sampai kelopak mata David bergetar.
"Kamu sama saja dengan Shinta! Jangan pernah temui aku lagi Lena! Kamu pengkhianat! Aku membenci pengkhianatan!"
Lena berlari mengejar David yang barlari sangat kencang. "Kamu bilang kita akan terus bersama, Mas!"
Lena berputar dan memandangi sekitar saat tubuh David menghilang dan hanya terdengar suara murka kekasihnya yang terus menyerukan "Penghianat!"
"Mas!" teriak Lena dengan bergidik. Matanya terbuka dan melihat ke seluruh sudut kamar dan mengingat barusan. Itu hanya mimpi, David tidak bersamanya. Kaos tebalnya telah basah dan menempel di dadanya. Jemarinya gemetar saat menyeka keringat di kening dan kelopak mata.
Pikirannya teringat dia begitu sedih dan menangis tersedu-sedu di dalam mimpinya. Jujur saja dia selalu paranoid dengan segala mimpi yang penuh emosi. Dia menarik ponsel dan mencari arti mimpi menangis tersedu-sedu. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Perasaan dia baru saja tidur, tetapi kenapa dia harus bermimpi buruk.
Lena terus dibelenggu pikirannya. Bahkan sampai sekarang ketika di atas gendongan David di tepi pantai tengah kota. Dia makin memeluk leher David. "Jangan-jangan pergi dariku, Mas."
"Siapa yang pergi?" David tersenyum sembari menatap wajah pucat kekasihnya yang terbenam sebagian di bahu kekar. Hati pria itu tersentuh pada nada manja sang kekasih. "Aku terus di sampingmu. Semua keluargaku sudah setuju. Mengapa kau tak segera menelpon orang tuamu? ceritakan soal aku pada mereka."
Hati Lena mengkerut, dalam hati menangis. Mimpi itu membuatnya semakin tak mau kehilangan David. Dalam mimpi saja dia sudah menangis tersedu-sedu, apalagi dalam kenyataan.
__ADS_1
"Mas, kita akan video call mereka sebelum penerbangan ya?"
"Baiklah, Lena Sayang. Beritahu apa kesukaan mereka?" David sudah mulai ngos-ngosan.
David telah menggendong Lena di sepanjang tepi pantai. Walau kakinya mulai lemas, tetapi hati ini terus menari-nari, bahkan itu terus dirasakannya dalam beberapa hari terakhir setiap bertemu Lena. Dia seperti menemukan semangat baru yang belum pernah dia temukan sebelumnya. Terimakasih Lena Sayang.
⚓
Bunga warna warni nan harum berserakan di meja Rumah Ardian. Siang itu Lena menghabiskan waktu dengan Bilqis dan Bianca. Setelah Lena sempat absen di stadion, David lalu meninggalkannya di sini, sementara David mengurus pekerjaanya sendiri di hotel.
Bukan tanpa alasan David meninggalkan Lena dengan keluarganya. Lelaki itu berharap mereka menjalin kedekatan sebelum terbang ke Bali. Terutama David menargetkan supaya hati papanya luluh.
Hal utamanya adalah David akan berpindah agama, karena papa dan kakeknya telah memberi ijin tadi malam, dengan satu catatan bahwa David akan menetap tinggal di Italia. Tentang tempat tinggal, David belum memberitahukan itu kepada Lena, dia masih ragu Lena akan mau pindah ke Napoli.
Ketika Lena memindahkan vas bunga berisi bunga Latulip ke sudut di ruang tamu, suara langkah kaki di belakang membuat dia menoleh. Dia meletakkan Vas pada tempatnya dan melirik curiga pada tatapan Marcho.
"Kau masih di sini rupanya." Marcho melirik ke belakang sebentar. "Mundur sebelum aku membuka aibmu."
"Bukan aibku, perlu ku koreksi. Aib kita." Suara Lena bergetar dan tangannya mengepal kuat. "Aku sedang memikirkan itu. Tolong jangan ganggu aku selama itu."
"Kau serius? bisakah kamu melakukannya dalam empat hari?" tanya Marchi serius. "Kamu harus meninggalkannya. Jangan bermimpi. Sebelum orang lain mengetahui ini dan kamu akan kesulitan sendiri. Saat itu terjadi, aku takkan membantumu. Cepat putuskan."
Lena membeku dan mengamati kepergian Marcho, yang masuk ke dalam ruangan. Tangannya bersandar pada dinding karena rasanya dia tak mampu berdiri. Apa aku harus pulang sendiri diam-diam? Atau pulang lebih cepat dari jadwal tanpa sepengetahuan David, dan menelpon David bahwa dia ingin putus saat di Bali.
__ADS_1