Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 57 : RUMAH LENA DAVID - PINGGIR TEBING LAUT


__ADS_3

Sean melewati pintu kedatangan bandara dan pandangan terus mengamati orang-orang yang saling berpelukan, dia juga ingin seperti itu ada yang menyambutnya dengan pelukan. Dia tak percaya sudah berada di negara Gladiator dengan sejuta pesona. Sean merasa diberkati karena bisa ikut Lena ke negara yang terkenal dikelilingi oleh pemandangan yang luar biasa mulai dari Pegunungan Alpen yang tertutup salju di utara hingga kebun zaitun di selatan.


Lelaki itu juga penasaran dengan ucapan seorang teman wanita. Temannya mengatakan jika Italia tidak pernah gagal memberikan kejutan. Kemudian dia tergerak hati ingin membuktikan sampai batas mana kejutan itu.


Mereka berhenti di depan mobil sedan merk Lancia, yang adalah produk anak perusahaan FIAT. Mobil itu yang terlihat paling mewah dari mobil penjemput lainnya. Sean ternganga dan tak percaya dengan apa yang akan dinaikinya. Dia baru sadar, begitu Axel membuka pintu belakang. Salah satu pengawal, mempersilahkan Sean untuk duduk di depan.


Mata Sean tak beralih dari memandang sepanjang jalan sejak mobil keluar dari Naples Capodichino Airport (NAP). Atmosfer bangunan bergaya Eropa yang dilewatinya terasa begitu kental. Ya Tuhan, aku di Naples. Mashallah tabarakallah!


Lena m3ng**ulum senyuman, dia dapat merasakan kekaguman sang kakak. Dirinya juga sama-sama berdebar akan seperti apa, rasanya hidup di negara orang. Dia mengelus dengan penuh kasih sayang pada tangan David yang telah terbebas dari gips dan senyuman David membuat hatinya berbunga-bunga.



Taman sisi selatan rumah milik Lena-David langsung disuguhkan dengan pemandangan lautan biru. Sean penasaran ingin berhenti sejak memasuki pintu gerbang dengan penjagaan khusus, karena view laut dari ketinggian perbukitan jauh lebih terasa menenangkan, menyenangkan dan menjadi sesuatu tersendiri.


Angin semilir berbau asin, terus menerpa wajah. Sean mendorong pintu koboi kayu, dengan perasaan luar biasa, lalu meraih ponsel dari saku celana. Dia memfoto laut, dengan pagar rumput sepinggang di depannya untuk turut di foto. Ternyata dia berada di pinggir tebing yang berada di pinggir laut. Gila, David ternyata keren, bisa dapat rumah di sini !


Rindangnya pohon menggelitik hati Sean hingga dia langsung duduk bersandar pada dahan dan menikmati surga dunia ini. Dia jadi kangen si gembrot, Love bird nya. Barusan dia telah mengirim foto ke Bapak, pasti bapak akan senang.


Cukup lama Sean terbel4i angin sepoi-sepoi hingga matanya mulai terkantuk-kantuk. Dia terjaga karena tawa renyah suara perempuan. Lelaki itu lalu berdiri sembari menggosok mata, bahkan ponsel miliknya tak sadar tertinggal di rumput. Asal suara itu berasal dari seorang gadis dengan singlet warna merah mawar. Celana wanita itu sangat pendek sepaha dan sedang bermain boneka dengan anak perempuan.


Mereka para wanita tersadar sedang dipandangi Sean. Gadis dewasa itu menyipitkan mata ke arah Sean, dengan pandangan yang seolah tidak nyaman. Sedangkan si anak kecil tersenyum manis pada turis asia. Namun, wanita dewasa itu memberikan tiga boneka ke anak kecil, kemudian sebuah kain yang tadi sebagai alas dibawa pergi untuk menjauh. Mereka berjalan menuju rumah sebelah.


Sean termenung, dia memegangi pagar rumput setinggi pinggang, yang memisahkan taman rumah ini dengan taman rumah sebelah. Seanpun kembali ke pohon besar, lalu mendongak ke gemerisik dedaunan. Sinar matahari mengintip dari balik daun hijau yang lebat. Pikirannya mendadak kalut katena teringat canda-tawa mereka.


"Tuhan ini membingungkan, bisakah aku betah, karena tidak ada yang kukenal di sini?"



Lena mengolesi tangan dengan handbody, dia menjauh dari meja rias saat suaminya baru selesai mandi. Dengan gemas Lena membantu menyisir rambut ikal milik suaminya. Dia lalu bergelayut manja ke dada yang tertutup kaos tipis putih.


"Nanti malam, aku ke rumah temanku. Seminggu lagi kan kita pesta resepsi. Jadi , aku ada obrolan bisnis dengannya." David mengecup kening Lena, lalu duduk di pinggir ranjang saat sang istri mau mengolesi serum di rambutnya.


"Aku baru selesai mens." Lena tersipu malu, dia menunggu moment penting ini. Bahunya langsung di tertarik tangan besar yang hangat, hingga tubuh mungil terhempas ke tempat tidur.


Tanpa ba-bi-bu, David merangkak ke atas Lena. Jari-jari panjang membel4i sang istri dengan gemas. Keinginan dari dalam diri muncul tiba-tiba setelah sebulan selalu mendapat gangguan. Dia mulai terbenam ke dada sang istri, yang empuk tanpa pakaian inti dan bau kenanga. Kecupan lembut mendarat ke atas dengan tidak sabar, tangan kekar menelusup ke kulit sehalus beludru.


Lena mencengkeram rambut ikal David, membalas pagutan yang penuh kelembutan. Nafas David terdengar meningkat dan makin terasa panas. Lena pun melirik ke bawah saat lelaki itu turun ke bawah ke pahanya, lalu kembali memberikan kesenangan tak terkira.


"Mas, aku mau mmmm-" Lena begitu sangat ingin pelepasan, tetapi sang suami menggoda dan mempermainkannya. Setiap kali Lena akan menuju puncak, David menggagalkan keinginan Lena hingga Lena terus merint1h dengan tak terhankan. Seluruh tubuhnya begitu terasa panas dan diselimuti merinding dan demam. Lena sampai memohon dan hampir menangis.

__ADS_1


David tak tahan sendiri pada suara manis menggoda dari sang istri. Tangannya memelorotkan celana hingga tersisa kaos putihnya. Perlahan, perlahan, perlahan untuk pertamakali.


Setiap gerakan lambat, sekecil usaha, diresapi. Baik oleh Lena maupun David. Mereka tersenyum satu sama lain. Lena mengangguk dan mencoba menyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa. David lalu menambah tenaga, walau dia juga berusaha selembut mungkin. Lelaki itu meringis dan menahan nyeri untuk pertamakali dalam hidupnya.


Lena meringis dan semua otot di tubuhnya mulai menegang. Dia memandangi wajah putih David yang semu-semu merah dengan keringat sebesar bulir-bulir jagung yang dingin. Keringat-keringat yang wangi jatuh menimpa ke wajahnya.


"Oh! Kau menggigit ku, Sayang." David merint1h pada sensasi dipelintir. Gelombang semangat menjalar di setiap inchi punggungnya. Seolah miliknya terus dipijat didalam, membuat David semakin pusing, lalu otomatis menambah dorongan.


"Aku akan gila karenamu, istriku. Kamu sangat cantik!" David menatap sang istri yang begitu menggoda hingga dia ingin meremukkan tulang-tulang Lena hingga selelah-lelahnya, dengan cinta dan gel0ra.


Sekali hentakan membuat Lena memekik. Wanita itu menggigit pergelangan tangan David yang berkeringat. Rasa asin dari keringat, kini tertutupi rasa manis dari liur David. De**sa**Han Lena terbungkam dan hanya suara napas mereka yang terdengar bergemuruh.


Sang istri yang membuat kulit-kulit kepala David, bagai terlepas. Dia begitu menahan keinginan untuk bergerak cepat. Air mata sang istri yang membasahi pipi dikecupi. "Aku akan pelan, Sayang, maaf ... atau kita sudahi?"


Lena menggelengkan kepala dengan masih menggigit pipi bagian dalam. Perih, panas, sepertinya sobek. Dia tak yakin pada dorongan berikutnya yang siap akan datang. Seolah-olah dia merasa bahwa dirinya dibagi menjadi dua bagian. Perasaan tak mampu menampung milik David, menghantui. Hentakan ke dua membuatnya ngilu parah, seakan-akan di dalam perutnya terasa penuh.


Menit-menit penyesuaian dengan sabar dilalui David, hingga sang istri tak menampakkan wajah tersisksa lagi. David m3*Ng*ulum senyuman. Aku yang merebut kesucian mu, Sayang.


Mata David tak pernah lepas dari cairan merah yang mengenai sprei putih ... dia semakin bersemangat dan totalitas membuat Lena terus memekik dengan tak berdaya. Dia sengaja berhenti untuk memandangi kecantikan istrinya yang sangat merona bercahaya dan wajah berkeringat itu terus direkam dalam memori otaknya. Dia menunggu untuk mendengar permintaan sang istri, sampai benar-benar memohon dengan suara indah serak yang baru didapatinya sekarang.


"Kamu milikku seutuhnya, istriku. Aku juga milikmu .... "


Keringat panas membasahi kulit mereka dan membanjiri permukaan selimut, seolah mereka tengah mandi sauna. David melepas keperja*kaannya. Begitupun Lena yang akhirnya tersenyum semeringah saat kesu**ciannya telah terenggut oleh sang suami tercinta.



Sean merasa kesepian. Burung kesayangannya 'si gembrot' Love bird yang dikirim lewat penerbangan terpisah, baru tiba besok siang. Malam itu, David datang ke kamarnya dengan membawa paperbag. David menunggu di ujung tempat tidur sampai Sean keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti baju.


"Ka, besok saya akan membawamu ke tukang cukur langganan aku. Maaf tanpa bermaksud menggurui, orang-orang kami nomer satu paling terpenting, adalah memperhatikan penampilan. Jika mungkin di negara lain si perempuan yang sibuk mematut diri, di sini laki-laki juga sangat memperhatikan detail rambut. Jika ada yang tidak rapih sedikit, kita akan dikatakan buruk oleh mereka. Jadi, ijinkan saya untuk membantumu."


David yang sudah mengambil pomade di tangan, menunggu persetujuan Sean, untung kali ini iparnya tak banyak komplain. Dia lalu memulai mengatur rambut Sean setelah Sean duduk di depan cermin. David lalu melirik Sean dari atas ke bawah. "Ini fashion Italy, terasa nyaman dan lebih percaya diri, kan?"


Sean mengangguk dan masih memandangi dirinya di dalam pantulan cermin. Ya, dirinya tampak sangat berbeda hanya karena pengaturan rambut sang ipar. Biasanya rambut ini hanya disibak ke belakang, kini seperti lebih rapi formal, dan tampak keren.


Sean pun berkumpul pada acara mewah, di rumah yang lebih mewah. Dia berkenalan dengan 10 orang, yang adalah teman bisnis sekaligus, teman main David. Mereka lebih sering berbicara bahasa Inggris ketimbang Italia, dan selalu menggunakan pantomim saat berbicara.


Tangan mereka sungguh tak bisa diam. Rasanya, Sean ingin membebat tangan mereka agar mau diam, karena hal ini asing baginya. Walau sebelum ini, dia juga melihat seluruh keluarga David juga berbicara dengan nada keras dan tangan tak bisa diam. Tetap saja dia masih perlu penyesuaian.


__ADS_1


Keesokannya, David mengajak Sean berkeliling pabrik. Pegawai mereka tampak sangat menghormati David, hingga di dalam hati Sean tergelitik. Mereka pegawai saja begitu senang dengan kedatangan dan setiap kali diajak bicara oleh David. Sean jadi tidak enak hati bila dia bersikap dingin kepada adik ipar.


Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, Sean terus termangu sembari menatap Axel yang mengemudi. Dia ingin bersikap baik pada David. Namun, dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya.


Sean tak mau seperti orang-orang, yang langsung bersikap baik, hanya karena orang itu telah memberikan keluarganya dengan limpahan materi. Dia takkan luluh. Ini membuat pikiran dan hatinya menjadi terus berkecamuk.


Sebuah pusat perbelanjaan didatangi Sean. Dia bingung karena diminta memilih banyak pakaian berbeda. Kata Axel untuk bekerja besok.


Setelah dari Mall, Axel menyuruh empat anak buahnya menempatkan belanjaan di kamar. "Tuan, maaf, hari ini Tuan David belum bisa menemani anda untuk potong rambut. Jadi, besok, stylish rambut akan datang kemari untuk memotong rambut Anda."


"Tidak apa-apa, terimakasih,"kata Sean ramah pada Axel, karena Axel hanya orang yang bekerja. Dia mengerutkan kening saat Axel mengulurkan sebuah kartu.


"Tuan, tolong terima ini. Besok, anda bisa jalan-jalan sendiri dengan bantuan sopir. Maaf, besok saya harus berada di kantor bersama Tuan. David. Jadi, khusus besok, anda sebaiknya mencari udara segar di kota ini dan memulai mengenal sudut kota Naples. Tolong diterima, atau saya yang akan mendapat hukuman dari Tuan David."


"Terimakasih." Sean menerima dengan ragu-ragu. Begitu Axel pergi, dia menatap semua belanjaan di lantai. "Maaf, Niko. Tidak begini maksudku."



Hari berganti hari, Sean pergi ke luar jalan-jalan, dia memaksa sopir agar ikut makan bersamanya. Supir itu lalu menceritakan semua tentang tempat yang dikunjungi. Bagi Sean, apa yang dilihat di sepanjang jalan adalah sangat aneh, orang-orang seperti mau datang ke gedung pernikahan. Pesepeda saja memakai sepatu klimis dan jas warna terang yang lembut, persis seperti di atas lantai catwalk.


Sekarang, Sean memiliki sepatu semacam sneaker dari berbagai bahan dan warna. Jasnya juga semi formal dan formal, dengan kebanyakan warna terang yang lembut. Dia hari ini memakai celana warna putih, di rumah ada celana warna maroon, coklat, bahkan ada yang motif kotak-kotak.


Dapat dilihat semua para lelaki di sini memiliki garis perut kecil, jadi mempesona saat mereka memakai kemeja berbalut jas ketat. Dia menenteng dompet sedikit besar untuk tempat ponsel dan ATM. Sepertinya membawa tas seperti ini adalah hal lumrah di sini.


Lena melakukan panggilan video pada abangnya, dia tak ingin menemani Abang, karena dia lemas akibat ulah David di atas ran**jang. Setelah melakukan panggilan video, Lena menyirami tanaman di lantai tiga di balkon yang menghadap jalan. Ini berada di sisi paling barat bagian rumahnya. Dia mendapati seorang tetangga yang tengah bermain bersama anjing menggunakan bola, di halaman rumput terawat. Lena mendapat senyuman manis dari anak kecil.


20 menit kemudian .... Lena telah di taman pinggir tebing, dengan berkenalan pada tetangga samping. Lena sudah membagikan batik dari Bali yang dibawa untuk berjaga-jaga saat di Italia.


"Terimakasih, Lena ... Apa kamu mau mampir?"


"Boleh, terimakasih kembali, Emma." Lena tertawa penuh kehangatan. "Di sini tidak ada pintu, aku harus putar jauh ke depan menggunakan mobil hehehe."


"Sepertinya kita perlu membuat pintu dengan memotong rumput ini, atau menggempur tembok kita," kata Emma dengan penuh minat.


Lena pun diantar sopir memutari lewat gerbang depan yang jaraknya sekitar 500 meter ke rumah Emma. Dia membawa buah, untuk sebatas kesopanan. Dia menyambangi rumah yang begitu sangat penuh nuansa feminitas.


Lena loncat ke sofa saat tiba-tiba dia dijeguk anjing dari arah pintu. Suara geraman Anjing yang menampilkan taring-taring mengerikan membuat tubuhnya bergetar.


Jantungnya berdetak seperti orang gila. Anjing besar itu berlari ke arahnya dengan tatapan memburu. "Emmmaaaaa!" teriak Lena. Dia bergidik histeris dengan menghalangi diri dengan bantal sofa. Seolah-olah inilah adalah akhir hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2