
Langkah Lena langsung terhenti di garis pintu ketika David baru saja memutar kepala dan menatap ke arahnya. Sepasang netra deepblue menghunus dengan tajam membuat tubuh mungil panas-dingin. Lena menggelengkan kepala, dia tak sanggup di dekat David.
"Lena ..." panggil David dengan penuh kehati-hatian. Pria itu langsung beranjak dari kursi kayu dan menjauh dari halaman belakang.
Lena ingin sekali menghilang dari bumi ini. Mata hazel melotot dengan waspada dan kaki mungil tanpa sadar terus berjalan mundur. Tumitnya berputar 180 derajat dan langsung berlari.
"Lena tunggu!"
Langkah kaki kecilnya terasa makin berat saat sandal rumah berderap dan makin konstan mendekati dari arah belakang. Lena merinding dan debaran jantungnya kian kencang pada aroma citrus yang terbawa angin. Dia ngos-ngosan dan terjebak di ruang tamu. Mata hazel membulat penuh. Dia berharap dirinya memiliki waktu untuk kabur atau melewati pintu kayu berwarna hitam.
Harapan Lena menjadi sia-sia, tangan besar itu bersandar pada pintu dan hawa panas menguar di belakang punggung, dan mengungkungnya. "David!"
"Kamu mau kemana?" David dengan penuh kengerian.
Lena menyusut ketakutan dan tubuhnya bergetar menghadap pintu. "Jangan dekat-dekat!"
"Tenang, Len. Tenang." David berjongkok dengan jantung berdebar saat Lena merosot, dia menyentuh hati-hati bahu mungil dan tangannya justru disentak.
"Menjauh dariku!" Lena semakin terpejam, tubuhnya panas dingin dan jijik pada sentuhan hangat barusan di bahunya yang menjadi sangat terasa aneh.
"Sorry aku tidak sengaja. Aku pikir kamu pingsan. Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahimu, Len. Kau dengar?" David berbicara cepat dan wajah tampan itu makin pucat.
Mata Hazel membulat dan makin gemetar menempel ke pintu berharap ada ruang untuk menjauh. Dia sulit mengendalikan ledakan ketakutan dari dalam diri. "Pokoknya, aku mau pulang!"
"Jangan pulang sekarang, besok saja. Waktu kita tinggal semingguan, loh." David berbicara dengan nada meninggi dan berusaha meyakinkan kekasih barunya.
"Aku nggak mau lihat kamu!" Lena bergidik, ingin mencolok mata David agar tak melihat ke arahnya lagi. "Aku mau pulang! kamu minggir."
"Jangan melihat ke arahku," suara Lena makin pelan. Dia menelan kasar salivanya yang kental dan mematung saat merasakan David makin menjauh.
"Kau tidak mempercayaiku?" suara David dengan penuh kekecewaan, lalu berdiri.
"Tidak akan lagi!" teriak Lena begitu melengking. Siapa yang akan mempercayai tatapan ca** bul. Walau sebelumnya dia yang salah karena tidak mengunci pintu, tetapi David lebih salah karena membuka pintu untuk ke dua kalinya. Padahal sudah tahu saat itu dia tak memakai baju.
"Aku akan membuat kamu percaya. Aku akan bertanggungjawab setelah kejadian tadi sore." David dengan kelabakan mencari cara menenangkan Lena agar tidak takut padanya lagi. "Mungkin kita atur pernikahan?"
Lena mendongak dengan ragu dan menatap mata deepblue yang baru saja melebar. "Apa?"
"Aku takkan menyakitimu. Kemari," suara David dengan penuh kelembutan.
Pria itu mendekat lagi dan tubuh Lena semakin tegang. Si jakung duduk di lantai dengan kesulitan, dengan mantap mengurangi jarak. "Aku ingin menikah dengan kamu, itu niat dari sini."
Suara berat dan gentle sambil telunjuk panjang menunjuk dada sendiri dengan berulangkali, membuat Lena terpesona sesaat. Otak Lena mati. Pria itu mengangkat kaos hitam ke atas, membuat Lena terbelalak dan punggung mungil itu menekan pintu di belakang dengan was-was karena ulah David.
"Lihat dadaku ini, pokoknya aku mau tanggung jawab dan aku akan telepon mamaku. Aku ambil telepon dulu," suara David berat dan penuh keseriusan. Si jakung berdiri dan kaki berambut keriting itu ditahan oleh tangan mungil Lena.
__ADS_1
"Untuk apa telepon mamamu?" Perempuan itu menatap tangannya sendiri, lalu melepas cekalan karena texture rambut keriting, makin membuat geli. Lena mematung, karena tangan kekar terulur padanya.
Seketika ketakutan dan malu itu seakan sirna darinya. Aura mendominasi begitu kuat. Namun, dia terhipnotis karena kata-kata dan raut wajah David yang kini begitu meyakinkan. Tangan mungil dengan ragu menumpuk di atas dua telapak tangan David, hingga pria itu menariknya untuk berdiri.
Lena berjalan dengan langkah terseret. Dia memperhatikan jari-jari mungil di dalam genggaman turis asing. Lalu mata hazel terpaku ke arah rambut belakang dan tengkuk David, seketika dadanya terasa hangat. Dirinya bagai tersesat di dunia lain, seperti di alam mimpi. Ini sangatlah tidak nyata.
Lena terbengong-bengong saat David membawanya duduk dengan manis di sofa. Lampu kuning yang makin membuat ruangan mewah itu makin berkilau. Debaran jantungnya tak mereda saat menatap ke jari panjang yang hangat, yangmana melingkar di pinggangnya. Sangat hangat dan nyaman.
Perempuan itu menoleh pada panggilan video David yang baru terhubung. Sekarang David menghadapkan kamera ke wajah David. Lena dapat melihat wajah seorang perempuan yang sangat cantik sedang di kamar. Bahkan seorang pria tampak di belakang wanita itu, semuanya menatap David dengan penuh cinta.
"Malam, Mama Bilqis dan Papa Adrian tersayang," sapa David dengan suara kekanak-kanakan yang membuat Lena melongo.
"Sore, Jagoanku." Bilqis menyapa dengan suara renyah, lalu terpaku pada corak sofa yang di duduki sang putra. "Kamu di rumah?"
"Benar, Mah. Baru hari ini aku bisa pulang, dan Bibi mendadak masak daging unta kesukaan Papah."
"Wah enaknya! sayangnya jauh sih, kalau dekat pasti sudah Papah habiskan sendiri. Kamu sendirian?" tanya Adrian, papanya David. Satu alis terangkat penuh tanya. "Di mana Shinta?"
"Untuk apa menanyakan Shinta? Sudah jelas-jelas putra kita di rumah. Untuk apa dia bawa-bawa orang asing ke rumah," kata Balqis dengan sinis.
"Dia calon istrinya dan bukan orang asing. Apalagi semakin cepat kasih cucu, semakin baik. Bukan begitu, Jagoanku?" tanya Adrian tak mau kalah dari istrinya.
"Sudah-sudah. Kalian ribut melulu." David melirik pada wajah Lena yang langsung pucat pasi dan menggelengkan kepala seakan tidak mau dikenalkan pada orang tuanya.
"Eh kau dengan siapa?" Ardian memajukan kepala hingga kini pipinya menempel dengan pipi sang istri. Sepertinya, ada orang di samping David.
"Mah, ingat tidak?" David mengabaikan sang papa yang jarang mendukung keputusannya.
"Yang mana, ya? Apa yang kamu tanyakan, soal gadis relawan berponi. Kenapa memang, ada cerita apa lagi?" Balqis memutar otak pintarnya dengan cepat, sebelum kesempatan mengobrol dengan sang putra, itu diserobot sang suami.
"Gadis relawan?" Ardian mengintrupsi dengan kebingungan. Lagi-lagi dia ketinggalan informasi.
"Papa apaan si! Ini urusan seorang ibu dan putranya, Papa nggak usah ikut-ikutan." Bilqis menjauh dari sofa dan berjalan ke kamar, tetapi suaminya terus mengekor di belakang dengan penuh penasaran.
"Kalian menyembunyikan apa, ya?"
"Yang pakai parfum kenanga seperti milik mama itu?" Bilqis mencoba mengingat-ingat. Dia mendapati mata sang putra berbinar dan mengangguk dengan cepat. "Kenapa?"
"Mah, aku mau menikah dengan dia! Dengan gadis itu. Tolong restui aku, Mah!"
"APA!" Ardian berteriak tepat di telinga sang istri, membuat dia langsung dipelototi sang istri. "David, jangan main-main kamu?"
"Nak, kamu tadi bilang apa?" suara Balqis retak dan jantungnya seperti berhenti mendadak, sampai dia memegangi dadanya dan kembali mengelus telinga yang berdenging akibat ulah Ardian. Namun, ponselnya ditarik sang suami.
"Kamu tak boleh bermain-main. Kan sudah dewasa." Adrian dengan suara rendah, sepertinya sang putra sedang ngambek karena Ayah Leora terus mendorong putranya agar cepat-cepat ke pelaminan.
__ADS_1
"Ini enggak benar, kan? Bilang bahwa kamu ini cuma sedang marah pada kakek?" Adrian dengan penuh harap, tetapi justru putranya tersenyum.
"Nak?" Bilqis merebut ponselnya lagi. "Oh, apa kamu tenggelam gara-gara kamu mau berenang dengan gadis itu? Jawab dong cepat. Jangan buat kami penasaran."
Bilqis menganga dan berkedip berulangkali. Putranya yang baik dan selalu patuh, kini merangkul seorang gadis keturunan Asia. "Oh oh? Papah ...! "
Adrian yang melihat wajah sang istri berubah tegang, lalu makin penasaran, langsung mendekat. "A .... " Matanya melotot, dia tak dapat berkata apa-apa. Bagaimana bisa ada perempuan. Oh dimana sosok sang putra yang tak mengenal perempuan dan hanya Shinta yang selalu dipuja-puja, justru kini ....
"Apa ini, David Leora?" Adrian dengan alis menyatu, dan hidung berkedut dan menahan marah.
Bilqis tertawa lepas, melihat ekpresi suaminya. "Ah, mamah tahu! Kamu kan Le, Le, Lea ya? Hai, Cantik Lea?"
"Lena, Mamah." David dengan penuh penekanan sambil menggaruk rambutnya.
"Oh, Lalu yang namanya Lea itu gadis yang mana lagi?" Satu alis Bilqis terangkat, saat wajah gadis itu tampak berpikir keras dan makin tertekuk. Bilqis tertawa renyah, mengabaikan suaminya yang yang terus menggosok-gosok lengannya karena minta diberi kesempatan untuk berbicara.
"David tidak pernah menyebut Lea." David meringis, telinga mamahnya sepertinya perlu diperiksakan ke THT.
Bilqis kembali tertawa, lalu berdeham. Dia menikmati ekpresi kebingungan di wajah putranya dan gadis itu. "Lena Paramita?"
"Nah!" David langsung berbinar. "Itu baru benar.
Lena mangap-mangap, dadanya seketika panas. Entah energi apa di dalam dirinya, seperti mau meledak karena tak mengira sama sekali. Bagaimana mungkin mamahnya David tahu nama lengkapnya.
Oh apa dia benar menceritakan aku pada mamanya? Cerita apa? Bunga kenanga? Apa sih maksudnya? (Lena)
Adrian mengusap alisnya berulangkali yang berkeringat. Jika istrinya sudah bilang A maka A. Bilang B maka B. Jika Istrinya ramah-ramah pada ucapan gila putranya, lalu dia dan putra sulungnya mau bagaimana?
"Lena," panggil Bilqis dengan tatapan tajam dan senyuman terindah. "Kenapa diam saja?"
"Mamah. Ah! Tante maksud Lena," kata Lena tergagap tak siap, dan mendorong pipi David agar tak menempel ke pipinya karena aura gelap dari Adrian di belakang Bilqis.
"Kau panggil apa 'Mamah' ?" Bilqis makin tertawa dan David makin mengacak-ngacak rambut kekaaih barunya.
"Kau mau menerima David apa adanya?" tanya Bilqis dengan serius.
"Apa adanya .... " Adrian mengulang sang istri setuju. Tampak sang putra terdiam sesaat mengamati gadis Asia itu.
...----------------...
Di tempat lain Niko batu saja di didorong keluar mobil hingga pria itu tersungkur ke paving di Stadion. Niko menyipitkan mata pada mobi MPV hitam dan coba mengafalkan plat mobil. Dia melepaskan ikatan tangan yang mengendur, lalu menarik lakban yang membungkam mulutnya.
Pria itu mengabaikan pandangan heran orang-orang, bahkan ada yang mau membantu, tetap diabaikannya. Dia berjalan terseret ke mobilnya. Dia buru-buru mencharger kedua ponselnya yang mati. Kursi mobil dibuat landai, dan dia memejamkan mata, lalu mengingat-ngingat dan bangun lagi untuk mencatat nomer plat mobil dan semua yang diingatnya selama penyekapan.
__ADS_1