Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 35 : DOUBLE DATE


__ADS_3

David dengan rakus melihat paha Lena. Namun, mendengar rintihan itu membuatnya merasa tak tega, seakan dia merasakan sakit yang lebih menyakitkan. "Kamu berbaring dulu."


"Mau apa?" Lena masih duduk di pinggir tempat tidur dengan kening berkerut.


"Mengobatimulah. Jangan banyak pertanyaan, Sayang. Nanti keburu parah." David menunggu Lena berbaring, lalu menutupi wajah mungil itu dengan selimut. "Jangan ngintip."


"Kamu mau apa si? kenapa wajahku ditutup .... ?" Lena menggantung pertanyaan di udara. Dia belum pernah memakai bawahan yang hanya ditutupi handuk di depan pria, entah mengapa dia percaya dan asal mematuhi David. Siapa yang tidak akan bertanya-tanya bila ditutupi seperti ini. Suara berderak di lantai membuat Lena makin tak karuan karena David sibuk sendiri membuat paha mungil terasa diliputi gelombang dingin.


David sudah melorotkan celana training, lalu melepas celana kolor. Kemudian dia memakai celana panjang lagi. "Buka matamu, pakai ini," kata David. Rasa malu luar biasa menjalar di tubuhnya.


Lena menjatuhkan pandangan ke pangkuan, ke kain elastis berwarna abu-abu dan menjerengnya. Kolor ?


"Cepat pakai," katanya berbalik dan membaca petunjuk krim dalam bahasa Arab. "Kamu kan nggak mau aku lihat, jadi pakai itu untuk menutupi. Bekasku tidak apa-apa, kamu tidak jijik kan?"


Lena tersenyum semeringah, lalu memakai celana kolor milik David yang terasa hangat di balik selimut. Ya ampun, seriusan? kamu unyu sekali, Mas.


"Mas, biar aku olesi sendiri saja." Lena membeku karena selimut itu diangkat oleh tangan kekar yang dimulai dari ujung kaki hingga ke pahanya dan menampakkan sedikit celana kolor milik David.


Krim putih dioleskan tipis-tipis oleh telunjuk pria itu secara perlahan dan hati-hati. Kulit memerah di atas lutut itu semua telah telah terlapisi salep. Tampak keseriusan wajah tampan David membuat Lena dimabuk kepayang.


"Kenapa nggak hati-hati? Kalau gini kan kamu repot sendiri." David menutup tube salep dan menaruh di telapak tangan mungil. "Kamu ngelamunin apa sampai tehnya tumpah? Jangan bilang teringat dengan Messi, ya!"


"Enggak ngelamun, Mas. Tapi tahu-tahu itu tumpah, kok."


"Kalau mau tumpah pun liat-liat. Jangan di atas tubuhmu." David berpindah dari lantai dan duduk di tempat tidur. Mereka saling memandang. Lena dengan keingintahuan, David dengan penuh perhatian.


"Mana aku tahu kalau teh itu mau tumpah." Bibir mungil langsung mengerucut, karena sudah terluka masih saja dimarahin. "Emang aku sengaja melukai diri?"


Geli menjalar di sekujur tubuh Lena, karena usapan jari panjang di belakang telinganya. Sesuatu lembut yang hangat mendarat di kening diikuti embusan panas yang menerpa wajah mungil. "Ma-s."


"Jangan cemberut. Maaf ya, aku sayang kamu, Lena." David masih menyerang seluruh wajah Lena dengan kecupan lembut, kecuali di bibir. Terutama di hidung Lena yang dia sukai.


"Senyum dong, Sayang. Aku akan obati kesalmu ini dengan kecupan unlimited." David mendaratkan bibirnya pada bibir mungil yang hangat dan lembut. Kecupan dua kali itu mampu membuat wajah Lena memerah karena tersipu.


Lena mengangguk dan melihat ke paha. "Mas, tadi malam aku mimpiin kamu."


"Mimpi?"


"Kamu sedang memeluk aku, itu mimpinya."


"Itu bukan mimpi. Semalam aku datang lalu tidur di sini sembari memeluk perut kamu, Sayang." David menatap Lena tanpa berkedip, ingin menemukan jawaban atas pertanyaannya. Jari-jari mungil itu dimainkan, tampak Lena pun tidak marah.


"Lena Sayang, semalam ada pria yang masuk ke tenda ini saat aku memelukmu. Aku nggak tahu itu siapa. Lebih baik rencana berkemah tiga hari kita sudahi."


David menangkap kegelisahan di wajah Lena dan netra hazel yang kini sayu. Dia tak mau menceritakan penelusup itu adalah kakaknya. Gadis itu menatapnya lagi selama satu menit penuh.


"Mas, aku nggak mau pulang dan aku ingin kemah." Lena dengan lesu dan rasanya ingin menangis.


Gadis itu menggigit bibir bawah dengan tidak tenang. " Aku senang kalau semalam Mas ternyata peluk aku beneran. Kalau bisa mas tidur disini saja temani aku nanti malam. Soalnya, aku yakin kalau mas takkan macam-macam denganku."


Kehangatan menelusup ke dalam hati pria itu, karena Lena yang mempercayainya. David memutar mata dengan senang. "Jadi, kau tak takut?"


"Ma-s." Lidah panjang panas itu meluncur ke lehernya, menyebabkan merinding. Setelah jeda singkat, David membayanginya dan tatapan deep blue yang tajam seakan menembus wajahnya.


David menggambar pola rumit di leher jenjang dan dengan jelas merasakan kehangatan kulit gadis itu yang membakar. David melihat denyut nadi tepis di leher, dan dia merasakan dada Lena yang naik turun. Wanita itu yang kini sangat menarik hatinya, yang dari awal menabraknya dengan tatapan mata hazel yang menusuk dan sangat diinginkannya.


"Mas, aku laper," des4h Lena. Dia tidak tahan dan merinding di seluruh tubuhnya.


David menggigit leher Lena dengan kencang sampai terdengar rintihan indah. Jari-jari panjangnya masuk ke dalam kos Lena dan membel4i perlahan di sekujur punggung mungil. Kehangatan memerangkap dengan aroma kenanga dan Citrus. Aroma tubuh mereka juga menjadi sangat wangi dan begitu menggugah hati.


"Mas, berhenti-"


David menggigiti kecil di sepanjang leher Lena sampai meninggalkan jejak merah ungu dan berpindah ke atas mendusel telinga mungil dan bau kenanga makin menyeruak. Panas menyelimuti tubuh kekarnya yang kian terbakar oleh semangat. Kelopak mata itu dikecupi dan semakin lama , dia telah berlabuh pada daging manis yang selalu menggodanya karena des4han dan rintihan kecil.


Baru ciuman itu dimulai, saat lidah panjang membelah bibir Lena, gadis itu menarik diri karena teriakan dari luar yang mengganggunya. David menggeram kesal, susah-sudah mencari moment, tetapi lagi-lagi kakaknya itu mengganggu. Dengan gemas David menggosok bibirnya yang panas di sekujur permukaan bibir mungil, lalu langsung duduk berlutut di lantai dengan meraih salep.


"David! katanya mau naik jet Ski?" teriak Marcho dengan kesal dan menarik resleting tenda ke atas. "Aku sudah pesankan, loh! aku masuk ya. Kalian ngapain sih?" Marcho melirik ke dalam tampak Lena di tempat tidur sedang duduk menunduk hingga wajah mungil tertutupi rambut indah, dan David terlihat mengoles sesuatu dia atas lutut.


"Begitu saja lama. Apa parah?"


"Ya, ini mau keluar." David menahan suara, dan nafasnya yang memburu ditekan kuat-kuat. Jantungnya seperti mau copot karena ulah kakaknya. "Tidak ada yang parah, tunggu di luar."


"Enak saja, nanti kalian nggak keluar-keluar. Cepat aku tunggu di pintu. "Marcho melewati pintu dengan membungkuk, dan menunggu di luar.



Lena memeluk pelampung yang dikenakan David. Kekasihnya itu mengendarai Motor Jet Ski dengan tak terkendali membuat jantung Lena dag did dug. Gemercik air menerpa wajah dan membuat tubuhnya yang sudah basah, kian terasa segar di tengah panasnya matahari di jam sepuluh pagi. Tubuh Lena menerjang angin dan rambutnya yang masih kering sebagian, berterbangan karena David kian mempercepat laju motor.


"Mas pelan-pelan! nanti jatuh!" teriak Lena di tengah derak angin yang membuatnya tuli.


David tertawa lepas dan sering membuat belokan tajam, karena saat itu dia merasakan cengkraman tangan mungil yang menguat di pahanya. Terkadang kecepatan sengaja diturunkan untuk mendengarkan suara bergetar kekasihnya. "Aku suka bermain air dan segala hal tentang laut, Sayang. Kamu suka air?"


"Aku suka kalau itu denganmu, Mas." Lena menggelitik telinga David dan ternyata menyenangkan saat pria itu memiringkan kepala karena kegelian. Kini dia memeluk punggung David lagi dengan melihat lautan hijau. "Aku merasa sangat kecil sebagai manusia saat di tengah lautan yang luas ini. Aku tak membayangkan bila aku tenggelam dan kelelahan berenang, lalu tidak ada yang menolong ku."


David terdiam sesaat dan wajahnya menjadi suram. "Aku ingin bebas berenang untuk bisa menolongmu."

__ADS_1


"Apa kamu bisa berenang, Mas?"


"Aku bisa, Lena, " suara David retak. Dia menarik gas motor mendadak membuat Lena hampir terjengkang.



Kini Leora sudah dipinggir pantai dan duduk di sebelah Marcho yang mengamati David. "Kau di sini? Di mana penjual kurma?"


"Anna," kata Marcho tanpa menoleh. "Dia sedang mandi. Kenapa Kek? Kakek sibuk-sibuk perjalanan setengah jam begitu tahu David menyentuh air laut."


"Kenapa apanya? Kau telepon putra mu. Dia sakit, kau malah tak peduli." Leora menyalakan cerutu dan mengabaikan tatapan tidak suka netra coklat.


Marcho memilih mengajukan pertanyaan dengan penuh sindiran. "Kalau aku yang menyentuh air laut, akankah kakek buru-buru datang untuk memeriksa dan mengawasi seperti apa yang kakek lakukan pada David?"


"Marcho! kau seharusnya sudah tahu kondisi adikmu!"


"Aku tahu! Namun, kakek juga tak mau tahu saat aku begitu menginginkan hotel itu, tetapi kakek memberikan semuanya pada David!"


"Lihat alasanmu dulu, Cucuku. Semua itu tergantung niatmu. David dengan penuh kecintaan ingin memajukan hotel itu. Setiap tahun selalu ada pembugaran yang dilakukannya dan berusaha membeli lahan-lahan di sekitarnya. Kau tahu apa tujuannya? Hanya demi bisa memperkerjakan lebih banyak orang. Bahkan selalu menyerap pegawai-pegawai dari luar negeri.


"Sedangkan kamu? kamu masih menginginkan hotel itu hanya demi perempuan itu. Lalu apa baiknya dirimu."


"Kakek," suara Marcho gemetar. Sakit begitu menyelimuti hatinya. "Jadi cucu yang dianggap kakek hanya mereka yang bisa memajukan semua perusahaan Kakek?" Marcho tertawa dengan keras sampai rahangnya begitu kaku.


"Maaf," kata Anna yang tak sengaja mendengar semua itu hingga dua orang yang sedang berseru menoleh serempak.


"Anna," suara Marcho retak dan wajah maskulin itu langsung menegang. Tangannya terayun. "Kemari, Anna."


"Duduklah, pedagang kurma," kata Leora datar dan langsung mendapat protes dari Marcho yang selalu protes dengan panggilan.


"Kakek memang sangat tidak adil. Sulit sekali memanggil pacarku dengan nama? Kenapa kakek bisa memangil gadis itu Lena dengan mudanya?" Marcho merasakan genggaman erat Anna setelah Anna duduk di samping.


"Sudah, Mas," kata Anna mengingatkan. Dia kembali mengelus punggung tangan Marcho yang gemetar karena marah. "Jangan berbicara seperti itu pada Kakek."


"Kamu yang harus tahu tempat, sudah berapa tahun dan kau masih terus mengekorinya. " Leora tertekeh dan menatap tajam ke arah Anna.


"Dia lebih baik dari Lena! Kakek menerima Lena begitu saja yang baru beberapa hari di sini, padahal kakek belum tahu belang aslinya Lena? Tapi kakek padahal sudah tahu Anna seperti apa, jangan terus berbicara tidak baik pada perempuan yang aku cintai, kakek. Tidak ada yang bisa menggantikan Anna di hatiku dan kakek tahu itu."


Leora menggelengkan kepala, lalu tersenyum sinis sembari bangun dan menjauh dari gazebo. Jelas, dia jadi selalu teringat pada pembicaraan Ayahnya Anna saat dulu, saat hubungan mereka baru dimulai. Begitu jelas perkataan Ayahnya Anna yang akan memanfaatkan Marcho. Dia tak setuju dengan tipe orang tua seperti orangtuanya Anna yang hanya menggunakan putrinya seperti alat.


Teropong baru diulurkan anak buahnya, Leora meneropong wajah cucu kesayangannya yang tertawa lepas dimana wajah Lena tampak ketakutan dan kadang-kadang ikut tertawa dengan David. "Berapa kali aku melarang mu. Kau tetap saja kembali ke laut, David."


Anna menggeser b0k0ng hingga berada di ujung gazebo. "Marcho ...." Dia terkejut saat kepala Marcho justru bersandar di pahanya. Biasanya dia melarang segala hal int1m, tetapi wajah suram itu, membuatnya tak berdaya. "Kudengar putramu sakit?"


"Kesalahan." Marcho terpejam dengan begitu lesu.


Marcho membuka mata. "Bila aku melakukan sebuah kesalahan. Apa kamu mau memaafkannya?"


"Kenapa tidak?"


"Tetapi ini sangat fatal." Marcho meminjam tangan mungil untuk menutupi matanya. "Aku lelah."


"Aku percaya padamu."


"Aku ingin hidup denganmu."


" .... "


"Anna Zaenab, aku mencintaimu."


"Cobalah berdamai dengan David." Anna memilih mengalihkan pertanyaan.


"Dia mengambil kesempatan ku."


"Kita ambil positifnya saja. Kakek sudah memberitahumu alasannya. Mungkin kamu perlu mencoba melupakan aku dan tunjukan siapa dirimu sendiri. Jika kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi."


"Kamu tak cemburu pada Lena? Kamu lebih baik daripadanya, kenapa Kakek membelanya?"


"Untuk apa aku cemburu? aku sudah bersyukur karena mengenalmu dan mendapat cinta tulus mu itu." Anna meringis saat telapak tangannya digigit dan mata coklat menyipit dengan tajam.


"Berteriaklah kalau kau sakit! jangan cuma diam. Kau juga manusia yang bisa melawan, jangan memendam sendirian," rengek Marcho kesal karena Anna selalu tampak baik-baik di luar, tetapi dia pernah menjumpai wanita itu menangis karena penghinaan kakek.


"Ayo, kita double date, lalu tunjukan keindahan Pulau Safliya ke Lena. Kita perlu mencoba, banana boat." Anna tertawa ringan. "Kau tak ingat? kita dulu sering melakukannya."


Marcho tertawa getir. "Pikirkan itu untuk dirimu. Mengapa kau selalu memikirkan kebahagiaan orang lain? Baik, aku kabulkan keinginan mu, kali ini aku membuatmu bahagia, Anna 'ku."


"Aku tahu hanya kamu yang mempedulikanku." Anna memperhatikan Marcho yang bangkit dari tidur dan mata hitamnya membulat saat mendapat kecupan di pipi. Anna mendorong bibir Marcho dan bergegas meninggalkan pria itu dengan wajah tersipu. Dia kesal karena Marcho justru tersenyum penuh kemenangan.



Mereka telah sampai di Pulau Safliyah, satu-satunya pulau yang terdekat di Qatar. Dari sini tampak pemandangan indah Corniche- bangunan-bangunan tinggi. Tempat yang sangat menenangkan tentang Alam dan jauh dari hiruk pikuk Orang-orang. Tidak sembarang orang bisa mengakses tempat ini. Biaya kapal pesiar pun mahal.


Lena senang buka main, mata hazel terus berbinar dan tanpa sadar dia tersenyum hangat pada Marcho. Demi Tuhan , Lena melupakan siapa itu Marcho, karena dirinya jauh lebih sibuk menghabiskan waktu dengan kesayangannya. Lena terus melempar senyum jahil pada David yang memakaikan helm dan pelampung padanya.


Sepertinya, Marcho juga tidak mau kalah, dan menyusul ikut memakaikan peralatan keamanan pada Anna yang sempat menolak. Marcho terus menggoda Anna yang memasang tampang marah karena lelaki itu terlalu banyak menyentuh tubuh wanita itu walau hanya lengan, kaki dan pinggang. Tetap saja, Anna tak terima, tetapi lagi-lagi dia kalah oleh tatapan tajam Marcho.

__ADS_1


Setelah menggunakan pelampung, Lena memperhatikan arahan David dalam bermain kayak. Pacarnya itu sudah seperti instruktur profesional. Ini pengalaman pertama Lena yang terasa mendebarkan. Dua kakinya masuk ke dalam perahu kayak dan instruktur aslinya mendorong kayaknya ke air. Dia nyaris kehilangan keseimbangan dan akan miring ke kanan, tetapi instruktur perempuan mengarahkan Lena dengan dibantu David.


Butuh beberapa waktu sampai Lena tenang dan kayaknya tidak terlalu bergoyang-goyang. Namun, ada yang mencuri perhatiannya karena Kakek Leora dan para pengawal menyusul dengan Kapal pesiar. Ternyata ada Adrian dan juga Bilqis. Para orang tua sibuk duduk di kursi portabel dan menikmati teriknya matahari tanpa menyentuh air.


Ardian menggigit bibir bawah kesal. "Kenapa pedagang kurma ada di sini?"


"Sudahlah, Pah-" Bilqis langsung terdiam karena lirikan tajam ayah mertua.


"Undang saja Stefanie cepat kemarin," titah Leora. "Sekalian, sebelum terbang ke Bali."


"Telepon, Mah," titah Ardian pada istrinya. Sontak Bilqis meraih ponsel dan menghubungi Stefanie, dia memilih mengalah saat di depan ayah mertua -Leora. Daripada kena ceramah atau amarah berhari-hari.


"Wow." Lena menggayung ke kanan dengan hati-hati dan papan biru meluncur ke depan. Sayangnya angin kencang, cukup menyulitkannya mendayung karena kayak itu sendiri melawan angin dan ombak kecil. Dia menyeringai senang dan Kak Anna mengangguk dengan senyuman terindah.


"Ayo, Lena. Menyenangkan bukan, bisa merasakan tenaga doronganmu sendiri?"


Lena terkekeh. "Iya, Kak. Apa kakak sering bermain di sini?"


"Dahulu, waktu kami masih pacaran."


Lena tersenyum sangat manis dan kembali menggayung ke kiri, merasakan sensasi yang luar biasa yang belum pernah dirasakannya. Dia jadi teringat saat kecil bermain menggunakan pohon pisang yang dibuat perahu lalu menggunakan itu di sungai, tetapi ini lebih luar biasa. Lena menatap ke depan pada David yang sangat tampan saat pria itu tertawa lepas karena mengundangnya untuk datang.


Ya Tuhan, aku semakin kesulitan untuk melepasmu. Tiga hari ke depan akan menjadi sesuatu terindah dalam hidupku. Sebelum aku melupakanmu, Mas. Maaf.



Lena duduk di tepi kapal pesiar dan menatap keindahan matahari terbenam dengan kain putih menyelimuti tubuhnya karena angin berhembus kencang, membuat siapa saja masuk angin bila kondisi tubuhnya tidak fit. Dia melirik ke samping pada Marcho yang baru duduk di sampingnya.


Cukup lama tidak ada yang bersuara, sampai Marcho berdeham dan melirik ke samping pada gadis manis pilihan hati adiknya. Dia mulai diliputi keraguan saat melihat kebahagiaan David, tetapi tetap .... tidak bisa. Bagaimana pun Lena telah tidur dengannya.


"Jika kamu mau, kau bisa menjadi istri tersembunyi ku saat kau sudah kembali ke Bali," bisik Marcho setelah melirik ke belakang. Tentu saja dia berusaha bersikap wajar. Walau Kakek Leora dan orang tua sudah pulang, tetapi pengawal masih mengawasi di kapal pesiar lain.


"Terimakasih tawarannya, Kak. Perlu Kakak ingat, malam itu tak sengaja. Bukan berarti saya mau menerima segala tawaran Anda, bukan? Anggap saja saat itu saya sedang sangat malang karena perbuatan tidak bertanggungjawab seseorang."


"Si4lan kau, Manis. Sekali saja kau tak membuatku jengkel, bisa, kan? Aku bukan lelaki seperti itu. Aku lelaki paling bertanggung jawab. Enak saja, mulutmu itu ingin aku lem. Kamu sepertinya perlu sekolah kesopanan lagi."


"Huh-" Mata Lena melotot dan tetap memandang ke matahari orange. Terserah elu lah, bikin kesel !


"Kalau aku tidak bertanggungjawab, aku takkan mau menawari mu ini. Banyak perempuan mengantri. Seharusnya, kau ambil kesempatan itu." Marcho berdecak.


"Oh, kasihan sekali Kak Ana, harus menyukai orang seperti Kakak?" Lena meringis dan mulutnya langsung ditutupi dengan kedua tangan. Kenapa bisa aku kelepasan si.


"Kamu ini ya?" geram Marcho dan melirik ke belakang saat David bangkir dari kursi karena sudah selesai telepon. "Jangan menyebut dia dengan mulutmu, Manis. Kau tidak boleh."


Lena terdiam pada nada terluka barusan. Dia jadi penasaran, tampak perasaan Marcho dan Anna sangat dalam, tetapi mengapa mereka hanya berteman.



Hari mulai gelap, Lena masih terdiam di antara daratan kecil yang kanan-kirinya laut. "Mas, aku akan merindukan tempat ini bersamamu?" Lena menatap di kejauhan pada lampu warna-warni di kejauhan. Celananya dilipat selutut, dia sesekali terpejam merasakan pelukan hangat David, di perutnya.


"Kita bisa sering datang kemari setelah menikah. Kita bisa bolak-balik Napoli, Roma, Doha dan Bali. Atau bila kamu mau, kamu juga bisa ikut aku setiap mengunjungi anak perusahaan ku di beberapa negara, Sayang."


Glek. Lena menelan Saliva dengan kasar. Impian keliling dunia adalah impiannya saat SMP. Sepertinya, itu nyaris jadi kenyataan. Akan benar-benar menjadi kenyataan saat dia memilih mengabaikan Marcho. Ini Mustahil, Mas. Semoga kamu mendapatkan penggantiku secepatnya.


"Ayo, pulang." David menatap mata hazel dalam kegelapan. Dia membungkuk dan terpejam, lalu memagut dengan lembut daging kecil dengan penuh emosi. Sejujurnya, David membenci malam, karena dia selalu merasa kesepian saat malam. Dia ingin cepat-cepat menikahi Lena agar tak merasakan rasa sakitnya akibat sendirian.


"Hei, pulang, dingin ini!" teriak Marcho dengan nafas memburu. Dia melirik tajam pada mata hazel yang berkedut. Kemudian David merangkul Lena dan berjalan sangat lambat.


Si4lan, aku jadi teringat ciuman panas di atas ranjang. Kenapa aku jadi merindukan itu. Mentang-mentang sudah enam tahun terakhir kali berc1nta dengan Stefanie, dan itu tak sengaja. Sekarang lagi-lagi aku tak sengaja dengan Lena. Astaga, memikirkannya membuatku pusing.



Setelah mampir sebentar di Hublot watch Piala Dunia dan berfoto berempat. Marcho mengantar Anna pulang. David memutuskan pindah ke perkemahan tenda yang terdapat kamar mandi dan pintu, demi keamanan Lena.


Ketika David selesai mandi dan hanya memakai celana kolor elastis dan jubahnya. Dia meminta bantuan pada Lena yang telah sangat ayu seperti Dewi saat memakai gaun tidur satin longgar tanpa lengan dan cuma tergantung oleh seutas tali di bahu mungil. David memilih itu karena dia berniat akan menarik tali itu saat Lena tertidur. Lena tampak memakai semacam kemben yang tak ada talinya. Ah betapa menyiksanya melihat ini dan satu ruangan dengan Lena.


Bukan bermaksud membandingkan, Shinta dulu sangat agresif, jadi dia tak secanggung ini. Sedangkan Lena sangat kalem, dia yang akan menyentuhnya menjadi takut dimarahi. "Sayang bantu aku."


Akhirnya dia berbicara! setelah cuma melihatku! Ah sepertinya keputusanku salah untuk satu kamar dengan David! Lena menerima tube yang baru diambil David dari dalam tas hitam milik David.


Pria itu berjalan dan duduk di tengah tempat tidur dan menunggu Lena yang masih mematung tampak takut. "Olesi di semua inisial,ini sudah mulai gatal dan kering.


Wangi Citrus kulit David yang sangat mulus memabukkan Lena. Dada perempuan itu terasa seperti terbakar karena kesal saat kini melihat inisial SL (Shinta Luigi) yang sebesar bola basket di punggung David. Dulu dia kagum pada keindahan tato ini, bahkan di tengah rasa takutnya. Sekarang dia tak suka melihatnya, apalagi menyentuh ini membuah kepalanya terasa mendidih. Ah kalau gini aku jadi tergoda, nggak mau pergi darimu, kan Mas! Aku nggak rela kalau kamu kembali ke Shinta. Aku cemburu kamu pernah terlalu mencintainya. Aku jadi ingin lebih spesial dari Shinta.


"Kenapa diam? ayo cepat, aku kedinginan, Sayang." David menoleh kebelakang pada wajah suram kekasihnya. "Apa perlu aku minta bantuan Axel?"


"Tidak Mas, aku saja." Lena mengolesi bekas tatto yang teksturenya kering seperti bekas luka terkena aspal yang telah mengering. "Mas, aku sayang kamu."


"Aku lebih menyayangimu. Kamu ingat dengan kontrak kita saat awal-awal. Ajaib ya? kupikir kamu tidak akan mampu mengalihkan duniaku dari 'gelap' . Ternyata sudah beberapa hari ini aku sudah tak ingat dia sama sekali alias melupakannya."


Lena tahu yang dimaksud 'dia' adalah Shinta. Ketika Lena selesai mengoles bagian punggung, tangannya ditarik ke depan hingga duduk dipangkuan David. Telunjuknya yang terdapat krim dan belum sempat dioleskan justru mendadak: mulut mungilnya terblokir oleh bibir panas beraroma mint. Setiap sentuhan David di punggungnya membuat Lena lupa diri. Lidah nakal itu menyelusuri setiap inchi langit-langit mulutnya dan membuat seluruh tubuh gadis itu terasa terbakar. Terutama di area leher dan wajah Lena. Berulangkali lehernya diserbu serangan bibir David yang tebal dengan aktifitas s3nsu4l.


"Mas ... hhhh-" Lena kesulitan menolak antara suatu keinginan dari dalam diri dan rasa takut karena aura mendominasi dan maskulinitas David yang memerangkapnya dengan cum6u4n yang terus menyebabkan merinding. Untuk menguasai perasaan dan gel0mb4ng itu saja sudah membuat 0taknya mati.


Sepanjang hari dia telah memakai kaos yang menutupi leher atau syal, agar bekas gigitan merah itu tidak terlihat. Namun, sekarang David telah membanjiri gigitan manis, sampai ke bahu dan lengan atas yang membuatnya sud4h tak menginjak bumi.

__ADS_1


Dirinya bagai terbang ke luar angkasa pada setiap aktifitas David yang membuat kew4nit44nnya terasa basah, padahal dia tak sedang mens. Pinggulnya pun terasa seperti terem4s di dalam atau seperti merasakan ada kupu-kupu terbang di dalam pinggulnya. Geli dan demam.



__ADS_2