
Axel datang ke kamar tuan karena Miscall dua menit lalu, dan sebuah pesan berisi perintah untuk mengusir Shinta. Segera Axel mendapati Shinta di belakang tuan dengan wajah bingung hingga Axel menarik Shinta yang enggan beranjak dari tempat tidur. Tidak sampai disitu, sebelum pergi, Axel juga menggeledah tas LV dan mengambil kunci kamar agar Shinta tidak bisa naik lift yang memiliki akses ke lantai precident suit.
"Kau berani sekali, Axel. Kupastikan kakek Leora mengirim mu ke luar angkasa!" bentak Shinta yang tak terima dan melihat kopernya sedang dimasukan ke mobil hotel.
"Tenang saja, Nona Shinta. Saya akan mengirim Tara ke hotel yang anda tuju. Silahkan atau saya menyuruh mereka." Axel menunjuk security yang berjajar dan mengitari Shinta agar tidak berlari ke arah tangga.
Shinta meremas tas LV, dia benar-benar merasa dihinakan oleh calon suaminya. Dia memasuki mobil dan duduk dengan tidak tenang. Tangannya siap menelpon kakek Leora yang selalu membelanya.
Darimana David tahu? tetapi David tak mungkin tahu bahwa aku dan Tara sampai berc1nt4 kan? (Shinta)
Setelah mobil yang ditumpangi Shinta pergi, Axel membawa manager ke ruangan yang terletak di belakang resepsionis. Dia berbicara empat mata dan memberi ultimatum pada manager untuk melarang Shinta dan Tara memasuki area hotel dan Bar sampai ada perintah selanjutnya. Bahkan manager hotel langsung membuat Tara keluar dari kamar hotel pada detik itu.
Axel kembali ke kamar tuan, dan sikap tuannya menjadi ikutan dingin padanya. Sang tuan yang masih terpejam dan terlentang dengan selimut menutup sebatas dada, mulai berbicara dengan suara sangat datar hingga Axel justru merinding sekaligus merasa kasian.
"Kamu perlu menetralkan aku dari sihir yang dipake Lena. Ambil alih segera saat aku pro padanya. Kau harus memastikan aku tidak hilang kendali di depan gadis itu. Tetapi kau harus selalu membuatnya sesering mungkin untuk berada di sekitarku. Jika kau tak berhasil mengalihkan pikiranku dari Shinta dalam dua Minggu ini, aku langsung potong tunjanganmu bulan ini dan bulan depan kau takkan mendapat gaji mu."
"Baik, Tuan." Axel menarik nafas panjang, lagi-lagi gajinya yang jadi sasaran sang tuan.
"Kamu harus buat dia tunduk dan membutuhkan ku. Dia yang harus mencari ku." David membuka mata, lalu menatap mata Axel dengan dingin. "Kirim salinan kontraknya besok pagi dan pastikan Lena membaca semua poinnya."
Axel kembali ke kamar, dan menyiapkan semua, lalu dia tidur beberapa saat. Jam dua pagi, dia bangun dan kembali bekerja menyesuaikan jadwal tuannya yang direncanakan pulang lebih awal tak sampai sebulan. Segelas susu dihabiskan hingga badannya tak lagi menggigil. Axel yang hanya terlilit handuk karena akan pergi mandi, tetapi sang tuan menelponnya.
"Sudah dikirimkan?"
"Tuan, saya kirimkan jam enam. Sekarang nona mungkin masih tidur."
"Kau tinggal bangunkan dia!"
Telepon itu langsung terputus. Axel bergegas mandi. Dia buru-buru sampai memakai dasi sambil jalan ke lift. Ketika sampai di lobi, dijumpai tuannya yang baru tiba sudah berpakaian rapih tengah menuju ke mobil hingga Axel berlari mendahului dan membukakan pintu. Axel heran tuannya sangat wangi, wajahnya begitu segar. Tanpa bertanya, Axel tahu pasti tuannya mau mengerjai nona Lena.
Kenapa tuan terlalu berpakaian formal pagi-pagi? Mungkin akan pergi ke tempat lain juga kah?
Setelah menempuh jarak sejauh 20 km, Alex menemui temannya yang memang berjaga di situ untuk mengawasi Lena. Dia lalu ke kamar Lena dan mengetuk pintu kamar berulang kali. Tuannya tampak semakin memasang wajah masam, mungkin tidak sabar hingga menariknya untuk menjauh. Kemudian Sang tuan menggedor pintu sendiri tanpa jeda.
Axel menghembus nafas panjang. Baru tadi malam Axel mendapat wangsit panjang x lebar, kini tuannya sudah hilang kendali lagi. Jadi, Axel diam saja mengamati tuannya yang tampak gemas sampai membuang nafas dengan kasar berulangkali.
Lena masih mengantuk dan matanya tidak mau terbuka, tetapi suara gaduh di pintu membuatnya tak enak pada anak-anak satu tim. Dia meraba mencari ponsel dan ini masih jam setengah lima pagi. "Uh, siapa, sih. BENTAR."
Suara gedoran semakin keras, Lena lalu terlentang dan berusaha membuka mata. Dia mengumpulkan nyawa yang masih entah di mana dan bangkit, kakinya melangkah dengan limbung. Kunci diputar, handle belum disentuh, tetapi bergerak sendiri dan pintu langsung membentur kakinya. "Ahhhhh!"
__ADS_1
David melirik perempuan yang menjauh dan berjongkok, lalu mengelus jempol kanan. Saat wajah imut itu mendongak, David melihat mata hazel masih setengah tertutup tampak begitu mengantuk. "Kenapa kamu di situ?"
"Ini gara-gara kamu." Lena mengadu karena jempolnya lecet dan pria itu berdiri dengan satu tangan masuk saku celana, benar-benar sok kegantengan. "Kenapa kamu bisa masuk sini?" Lena bingung di luar ada gerbang yang digembok. Dia memberikan tangannya pada David karena uluran tangan kekar itu.
"Sudah cepat jangan banyak tanya, tak usah mandi."
Mata perempuan itu terus menyipit, seperti tidak bisa menahan kantuk dan masih berdiri di dekat pintu. David masuk dalam kamar semi gelap, dan Axel ikut melengos dan mencari lampu hingga ruangan pun terang. Axel dan tuannya hampir bersamaan melirik cup kain yang sebagian tertindih bantal, lalu tuannya menatapnya dengan tajam, seolah itu adalah hal yang paling tidak boleh terlihat.
Axel menduga nona tidak memakai b.r.a hingga matanya gatal melirik ke dada dan deheman keras dari David, mengalihkan pandangan Axel yang merinding langsung menoleh sebelum sempat melihat bentuk cetakan dada Lena. Tuannya jelas memelototi seolah tahu pikiran Axel, dia menganggukkan kepala mengerti, lalu segera keluar setelah menaruh salinan kontrak di meja.
David masih memegang boneka milik Lena di pangkuan, tadi dia mau duduk eh ada boneka kelinci. Kini dia memelototi cetakan dada Lena di balik daster, sepertinya gadis itu tak sadar dan masih bingung menatap Axel yang baru pergi. Hampir saja itu dilihat oleh asistennya. Pemandangan indah lalu terhalang dua tangan mungil Lena yang berusaha menutupi dada.
"kamu lihat apa!" Lena menyilangkan tangan di dada, berusaha menutupi sesuatu lancip di tangannya dan berharap David berpaling, tetapi dia merasa dirantai oleh mata deepblue yang mengarahkan tidak hanya ke dada tetapi juga bibir Lena. Tatapan pria itu seperti anak panah yang ditembakkan dari busur, terbang untuk mengenai sasaran. Untuk pertama kalinya dalam hidup Lena, kontak mata menyebabkan badai ketakutan sekaligus kegembiraan.
Lena duduk di samping David hanya untuk menghindari tatapannya, tetapi aura mendominasi begitu membuatnya merinding. Dia menarik bantal untuk menutupi br4anya. Semoga David tidak melihat barang ini, yang teramat memalukan. "Ayo, bicara di luar kamar."
"Cepat, siap-siap kura-kura."
"Siap-siap kemana? aku masih ngantuk juga." Lena menunduk, lalu menguap dibalik tangannya. "ini jam tidur." Lena membeku karena David sudah di depan wajahnya.
"Kura-kura .... apa aku harus membuatmu mengerti." David menatap dalam, menjilat bibir atas dan pandangannya bergeser ke bawah.
Baru semalam Lena bisa menarik nafas lega sekaligus senang karena dia pikir David tak mengganggunya lagi setelah tidak jadi bertemu semalam, setelah tidak ada telepon dari nomer baru. Namun pagi ini, orang-orang masih tertidur pulas, ini David malah sudah menjadi tamu tak diundang Lena.
Sedan BMW hitam yang dikemudikan Axel menepi di pinggir laut. Axel keluar dengan senyap dan menutup pintu mobil tanpa menimbulkan suara, lalu menikmati udara laut di jam 5 pagi. Sementara David mencondongkan wajah ke dekat pipi Lena dan mengamati, ingin sekali dia memberi bahunya untuk bersandar Lena daripada kepala mungil itu terkantuk-kantuk ke depan.
Setelah menunggu satu jam, David melirik ke samping pada Lena, padahal ini sudah jam enam pagi masih saja Lena belum ada tanda-tanda akan terjaga. Bibir itu sangat mungil, wajah yang tak berdosa dan begitu lelah seperti semalaman tidak tidur. Bulu mata lentik itu bergetar seolah sadar pada ancaman. David menarik tubuhnya dan menatap ke luar pada Axel yang masih lari pagi di kejauhan.
Benar saja, terdengar pergerakan di belakang dan suara serak khas bangun tidur yang membuat jantung David tiba-tiba bergetar. David menoleh pada Lena yang menggosok mata, dan mengerang begitu manja membuat otak David traveling. Sejujurnya dia belum pernah senakal ini, memikirkan indahnya pulau kapuk bersama Lena membuatnya b3rd3s1r. Padahal dia tak senakal itu dengan Shinta. Dia keluar dari mobil langsung membenarkan posisi celananya yang terasa sempit.
Bagaimana bisa ini dalam mode on hanya karena suara baru bangun tidur. SIAL4N. (David)
"Dav, tunggu." Lena menggelengkan kepala untuk mengusir kantuk. Udara segar beraroma asin dan bau pasir perlahan menghilangkan rasa kantuk setelah tadi malam teleponan dengan Niko sampai jam dua pagi. Lena melepas jaketnya dan mengikat di pinggang sambil terus mengikuti David.
Budaya khas italia yang tidak sesantai budaya Amerika- Amerika santai memakai hodie dan legging. David terlanjur terbiasa dengan adat untuk menggunakan pakaian terbaik. Tak jarang rata-rata orang di Italia walau di rumah, mereka lebih suka mengenakan pakaian bermerk kapan saja. Mereka pikir jika tak mengikuti kebiasaan sekitar, maka mereka akan siap jadi bahan ejekan. Namun, sepertinya dia terlalu berlebihan di sini sampai memakai jas dalam dan jas luar seperti mau acara amal dan menemui awak media saja.
Laut disini hampir tak berombak, matahari pagi hangat menerpa pipi Lena yang sudah semu-semu merah. David sebenarnya ingin terus melihat pesona Lena di pagi hari, seperti layaknya orang-orang yang kasmaran. Namun, kalau dipikir-pikir ada yang kurang lengkap.
"Xel, Coffe Latte, dan Latte," ucapnya pada earpiece. Latte : susu.
__ADS_1
Kemudian terlihat di kejauhan Axel bergegas menggunakan mobil dan keluar dari pantai. Dia berbalik menghadap Lena karena suara ngos-ngosan pendek di dekatnya. David ingin tersenyum, tetapi ditahan hingga ujung bibirnya hanya terangkat setengah senti.
"Hari pertama, apa yang bisa kau tawarkan, Len?"
Lena mengatur nafas, benar-benar dongkol, sudah dipaksa bangun, sekarang jalan jauh. Dia mengerucutkan bibir tiga senti dan berpikir untuk mencari jawaban. Dia memelintir bibirnya saking jengah nya melihat pria songong di depan karena tak terlihat merasa bersalah sedikitpun. Lena melipat tangan di depan dada.
Nyebelin ! ( Lena)
"Tuan David Leora, yang paling tampan ! mungkin kita bisa pergi ke bukit pasir jika biaya bukanlah hal masalah bagimu. Tetapi jam 9 aku, harus absen dulu. Lalu jam setengah 2, harus sudah di stadion. Tapi, jika aku terlalu banyak jalan denganmu, sepertinya tubuh ini tak kuat. Di stadion saja aku mondar-mandir siang sampai malam bisa 10 km. Jangan kuras tenagaku, Dav."
Lena memelas, lalu menyeka keringat di leher dengan punggung tangan. Untung tadi maksa mandi, kalau tidak pasti sekarang bau asam. Terlihat David mengelus dagu sambil berpikir. "Dav, aku paling males ngomong sama orang yang banyak diam. Nggak nyambung. Jika kamu ingin ini berhasil, kamu harus banyak ngomong."
Aneh nggak si, hanya suara Lena saja membuat apa yang ada di dalam diri David terpukau. Tidak masuk diakal, setelah kemarin Lena ketakutan dibawah kungkungannya, sekarang gadis ini justru berani menceramahi.
"Jika begitu, kau jangan menolak ini." David berbalik memunggungi Lena, lalu lutut ditekuk mengurangi ketinggian. "Aku tidak suka mengulangi perintah. Naik cepat."
Lena memegang bahu David, lalu melingkarkan tangan ke leher David bersamaan lompat ke pinggang David dengan tenaga kuat, biar David tahu rasa! Tubuhnya terangkat saat David memegangi pahanya begitu kuat. "Benarkah, ini tidak apa-apa?" rasanya Lena seperti dibawa oleh raksasa beraroama Citrus. Rambut pria itu sangat harum mint, tetapi ada perasaan menyenangkan di dada Lena saat melihat butiran pasir jauh di bawahnya.
"Dengan begini kakimu takkan lelah. Suruh siapa memiliki kaki pendek!"
"Sepertinya, kakimu yang kepanjangan."
"Dan kau menggunakan kaki yang kepanjangan itu, sekarang." David menoleh saat Lena meliriknya dengan wajah memerah. "Sekarang kaki panjang ini berguna untukmu?"
Lena mengangguk malu, ada benarnya omongan David. Lumayan, lah, dia tak capai, kalau bisa sekalian saja mengerjai David sampai tepar. Jadi, David takkan mau mengganggunya Lagi. Lena di dalam hati tertawa dengan pikiran jahatnya.
Aroma kenanga, Citrus, dan aroma Asin mempengaruhi hati David yang mulai pulih dari sekarat tadi malam. "Jadi, apa yang kau tawarkan untuk membuatku lupa pada pengkhianat." Kembali David menoleh ke kanan, ingin dia mencium bibir Lena seperti saat di restoran.
"Aku bukan psikiater. Aku tahunya jalan-jalan ke tempat baru, mengenal orang-orang baru, bisa membantu mengalihkan pikiran." Lena terkikik pada gaya bicaranya dan ingat ide jahatnya.
"Jadi, kau harus lakukan itu padaku. Bawa aku ke banyak tempat."
"Aku ahlinya, asal gratis." Lena masih terkikik. Menikmati udara segar dan merasakan punggung dan tangan besar yang kokoh. Beruntung sekali pacar David, pikir Lena sedikit cemburu. Seandainya Niko sedikit agresif seperti David.
"Dan kau mendapatkan gratis. Apa kau mau yang lebih asik dari ini?" suara David mulai luwes tidak sekaku tadi ketika baru bertemu Lena.
Lena mengangguk, aroma rambut David yang memabukkan, membuat Lena tak sadar menyandarkan dagunya pada bahu kanan David.
...----------------...
__ADS_1