Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 43 : CCTV


__ADS_3

Siang itu Shinta mendatangi kantor David. Wanita itu duduk di depan David yang masih sibuk dengan laptop nya.


"Leo, aku akan pulang. Apa kamu tak berniat pulang?" Shinta menatap mantan kekasihnya yang katanya baru keluar dar rumah sakit.


"Untuk apa? melihat mu dengan Tara?" David tertawa kecil tanpa menghadap mantan kekasihnya.


"Kau menjebakku, sebulan lalu. Seharusnya, kau juga sudah pulang. Mengapa kau masih sibu kemari. Dengar Shinta jangan main-main denganku, kau akan menyesal nanti. Sampai sekarang aku masih menahan untuk tidak membuka kedok busuk dari orang tuamu di depan publik. Kau bisa tanyakan sendiri pada papamu, kalau kau tak percaya. Sekarang aku bertanya, apa tujuanmu menjebakku?" David mematikan laptop dan menatap Shinta yang kini berwajah pucat.


"Leo, bukankah kamu sangat senang malam itu?" Shinta bertanya sungguh-sungguh. "Kamu bercin*ta denganku, lalu kau meninggalkanku begitu saja."


"Apa kamu tidak salah orang? Dengarkan aku Shinta, malam itu saat kau di kamar mandi, aku langsung keluar. Kau tahu? aku langsung pulang. Kau bisa chek cctv aku keluar dari kamarmu." David tersenyum puas karena Shinta tak mendapatkan apa yang wanita itu inginkan.


"Kamu salah David. Itu kamu," kata Shinta dengan ragu teringat bau parfum asing.


"Silahkan keluar Shinta, aku harus pergi. Terimakasih, berkat perselingkuhanmu aku jadi menemukan sosok perempuan yang hebat bagiku." David mengatubkan dua tangan di depan dada. Dia memutar kursi menghadap pemandangan luar dan tertawa sinis, membuat wajah Shinta itu kini seperti kertas kusut.


"Lalu kau tidur dengan siapa, Shinta? Apa kau tak penasaran? Mengapa aku jadi penasaran siapa yang mendatangi kamarmu, bagaimana dia bisa memasuki kamarmu padahal aku sudah mengunci rapat. Atau itu hanya karanganmu dengan pria sewaanmu. Sebarkan saja video itu sesuatu kemauanmu. Karena kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."


"Terimakasih Shinta, berkatmu ... aku memiliki waktu indah dengan Lena." David beranjak dari kursi dan menatap datar pada mantan kekasihnya.


David meninggalkan Shinta begitu saja, menuju ke tempat sang kakek untuk meminta bantuan. Ketika dia sudah di pertengahan jalan, Ika menelponnya dan memintanya untuk ke bandara. Di sana juga ada Axel yang bahkan belum mengabarinya soal Ika.


Axel masih duduk di samping Ika di sebuah kafe bandara, dia menahan Ika yang akan pulang ke Indonesia dan itu memaksa Ika untuk mengatakan apa yang sebenarnya pada sang tuan. David, dengan kelihaiannya membuat Ika, yang tadi tak mau mengatakannya di depan Axel, akhirnya mau menceritakan semua kepada David tanpa ditutupi lagi.


David hanya berkedip pelan. Satu bulan bukanlah hal mudah untuk melupakan Lena. Kemarahannya yang lama terpendam kini makin membuat pikirannya menjadi bertambah gelap. Dia langsung bergegas ke rumah kakek, berlari mencari Marcho di rumah besar itu dan mengabaikan pertanyaan sang kakek.

__ADS_1


Begitu menemukan Marcho bogeman mendarat di hidung Marcho saat pria itu baru berdiri. Berkali-kali tendangan kekecewaan dia lepaskan sampai Marcho tersungkur di atas pasir. Dia masih ingin menghabisi kakaknya yang baginya jauh lebih buruk daripada iblis.


"Kamu! kakakku dan kau tega mengambil kesucian calon istriku! Kau yang membuat dia pergi, kan!" David membanting kursi ke udara, lalu dilayangkan pada Marcho.


Marcho yang tadi melindungi wajah dengan tangan, kini mencoba mengintip dan jantungnya berdebar di tengah rasa ngilunya. Tangannya dijauhkan dari wajah karena kursi telah melayang jauh. "Aku hanya menolong, dia yang menggodaku!"


"Apa aku percaya?" David menggelengkan kepala. "Dia bukan orang seperti itu."


"Tuan Besar menunggu kalian di ruangannya. Ini soal Nona Lena," sela Jimmy yang baru datang, lalu membantu Marcho berdiri.


"Masuk," kata Leora saat Jimmy mengetuk pintu kaca. Dia duduk di sofa berhadapan dengan dua cucunya yang duduk saling berjauhan. Jimmy pun elesai membubuhkan cairan pembersih luka pada wajah dan sikut Marcho yang lecet. Kemudian Jimmy pun menyalakan sebuah rekaman CCTV.


Leora menunggu reaksi cucunya yang masih terkejut dan saling pandang dengan penuh kebencian, lalu Leora mulai berbicara. "Baru dua hari ini didapatkan Jimmy, setelah berminggu-minggu kesulitan mendapatkan rekaman cctv di Bar dan Club di pusat kota Doha.


"Shinta?"gumam Marcho bergidik pada wanita yang terus dihindarinya. Namun, dia salah mendapat kunci. "Ini tidak benar, aku harus cari pegawai itu! Gara-gara dia aku jadi masuk ke sarang nenek lampir."


"Apa kau pantas mengucapkan itu setelah kau menidurinya yang sedang mabuk dan hamil? Menyebalkan sekali kau kak! "


"Kau harusnya bersyukur! karena aku menyelamatkan Lenamu dari gangguan orang tak bertanggungjawab. Kenapa kau jadi menyalahkan aku sih? Kamar itu gelap, dan kupikir itu Lena, kalau itu Shinta mana aku mau."


"Awhh!" David meringis lagi saat terkena sab3tan kakek lagi karena dia akan memukul Marcho.


"Leo! dia kakakmu. Kau harus menjaga sikapmu sedikit lebih sopan." Leora mengingatkan David dengan mengetuk-ngetukan tongkat kayu di atas meja kaca.


"Oh, jadi kalau itu Lena kau juga akan menidurinya!" David akan menggerakkan tangan dan ingin meninju, tetapi diurungkan karena lirikan kakek.

__ADS_1


"Berisik kamu. Bilang terimakasih, bisakan! Kau berhutang padaku, Dav. Si4lan! Berikan hotelmu karena aku telah menolong Lenamu? Itu, kalau kau memang tahu terimakasih," gerutu Marcho. "Bukannya malah memukulku. Si4lan adik tak tahu diri."


David langsung menunduk. "Tapi, kamu mengganggu Lena. Jika bukan karenamu dia takkan pergi. Seandainya, pernikahan itu telah berlangsung mungkin Lenaku sudah hamil hari ini, aku juga kan ingin memiliki anak sepertimu." David melirik Marcho dengan sendu.


"Kau haru minta maaf pada Shinta," imbuh David lagi dengan tegas. Dia jadi merasa bersalah pada Shinta. "Dia kebingungan dan mengira malam itu tengah bersamaku."


"Si4lan! dia yang mendatangiku duluan malam itu. Sampai kiamat aku tak sudi melihatnya."


"Pergi temui Shinta dan mintalah maaf, sebelum dia terbang besok pagi." Leora menunjuk Marcho dengan tongkat. "Aku takkan merestui mu dengan Anna sampai kamu menemui Shinta."


"Oh, Baik akan kulakukan. Awas kalau kakek sampai menghalangiku dengan Anna lagi. Pegang janji kakek, Ya?" Marcho melangkah keluar. Anna segalanya, dia rela minta maaf pada perempuan yang tak mau ditemuinya selama ini.


"Dan kau harus meminta maaf pada Lena, setelahnya. Kusiapkan tiket penerbanganmu besok ke Bali, Marcho."


"Apa?" Marco berhenti melangkah, Lalau berbalik menuju sang kakek. "Ayolah, jangan Lena, Kek! Dia menyebalkan .... " Marcho melirik David.


"Aku takkan memberikan hotel itu kalau Kakak tak minta maaf pada Lenaku. Kamu yang bikin dia pergi, Kan?" David dengan mata melebar dan penuh harapan.


Marcho kehabisan kata-kata. Dia akan menurunkan harga dirinya di depan Lena. "Apa betul kau mau menyerahkan hotelmu?" Marcho menghela nafas berat karena anggukan David. Dia bersitatap dengan kakek, sepertinya Kakek menyetujui kemauan David untuk menyerahkan hotel Pearl Island. "Tak masalah! cuma Lena kan?"


"Keduanya harus memaafkanmu."


"Astaga, Kakek!" Marcho menggigit bibir bawah dan berjalan keluar dengan kesal.


"Lalu bagaimana kamu dengan Lena?" tanya Leora pada David yang kelihatan penuh kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2