Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BERTEMU AYAH LENA


__ADS_3

"Lena aku aku mencintaimu ....


Tak peduli seberapa besar kemarahanmu dengan ku, aku datang jauh-jauh ini hanya untukmu seorang. Sejak beberapa malam sebelum kepergianmu, kau tahu aku sudah memberikan rasa cinta, rasa hormat dan membuka hatiku untukmu, tetapi .... " David menatap Lena dengan mata berkaca-kaca dan penuh cinta, layaknya anak anjing pada sang tuannya.


Lena ikut turun dan mengelus bahu David, pria itu sangat melow. Bahkan David begitu tak kuasa sampai kening itu menempel di bahu Lena, saat pria itu mulai berbicara dengan nada gemetar ke mic yang dipegang. Semua orang ikut berdiri menggelilingi, dan beberapa ada yang memeluk pasangannya. Sementara Sean masih membeku di tempat duduk, karena posisi meja ini paling depan.


"Aku bukan seperti tipikal laki-laki lain. Aku memiliki semua kebebasan untuk kamu melakukan apa pun, kamu bisa memiliki pria sebagai teman dan melakukan hal-hal yang kamu inginkan, aku tidak akan menghentikankanmu." David menyedot ingusnya dan duduk tegap, dia sangat malu, terlebih saat melihat semua orang yang seakan menaruh harapan untuk tahu semua unek-unek dalam kepalanya.


David berbicara lebih keras penuh kekuatan sampai bergetar dan menggebu. "Aku tidak bisa mengurungmu karena aku MENCINTAIMU. Namun aku tahu, bahwa itu berarti aku dapat ditinggalkan olehmu untuk pria lain, ditipu atau disakiti tetapi kebebasan dan kenyamananmu tidak boleh dipertaruhkan, jadi aku bersedia mengambil risiko.


Jangan merusak kepercayaanku, tetapi jika kamu yakin bahwa aku tidak akan merajuk atau menangis selamanya. Aku pasti akan menikah dan memiliki keluarga. Pengkhianatan tidak akan menghentikanku dari menjalani hidup.


Jadi, kamu memiliki hati, kepercayaan, dan dukunganku, tetapi seiring dengan itu kamu memiliki tanggung jawab hubungan kita." David tersenyum sendu.


Aku merasa tidak enak karena ini adalah percakapan yang tidak biasa. Aku belum pernah mendengar ada pasangan yang melakukan percakapan seperti ini. Aku selalu mendengar, 'Aku mencintaimu' dan 'akan mati untukmu' hal-hal klise di film dan dari teman.


Akan tetapi, sebanyak patah hatiku mendengar kebenaran yang pahit. Aku semakin jatuh cinta pada kejujuran David. Dia secara terbuka memberi tahuku hal-hal tanpa lapisan gula. ( Lena)


"Mas, aku belum pernah mendengar hal seperti ini dari teman dan mantan pacar, bagaimanapun apa yang kamu ucapkan itu adalah kebenaran. Aku senang kamu ... jelas tentang harapanmu dariku. Juga, aku baik-baik saja dengan itu dan aku setuju dengan kamu bahwa meskipun kita hancur, aku juga tidak akan menghancurkan atau menutup pintu hatiku selamanya. Aku simple seperti kamu, jangan khawatir."


David berdiri, tangan kekar itu membantu Lena berdiri. "Apa itu itu, Lena? Apa kita bisa memperbaiki semuanya ke depan. Apa kali ini kamu takkan meninggalkanku?"


"Mas, kamu jauh-jauh ke sini, jadi bukankah sudah jelas aku akan mendukung usahamu untuk memperbaiki semua hal tentang kita? Aku ... selalu menjadi milikmu." Lena mengucapakan itu dengan penuh keharuan dan senyuman tak pernah pudar. "Aku memikirkan kamu satu bulan ini, semua sikapku salah, pulang ke Indonesia tanpa bilang-bilang. Tolong maafkan aku, Mas. Ijinkan aku memperbaiki hubungan kita juga -"


"Yeeh! Yah yah yah! Kak, kamu dengar itu!" David dengan mata melebar, meminta konfirmasi.


"Yah, kau benar." Marcho mengangguk dengan senyuman bangga pada sang adik.


David merengkuh tubuh kecil yang empuk dan hangat, erat-erat. Dia tersenyum dengan haru, begitu juga mata Marcho yang ikutan berkaca-kaca. Sementara, Sean hanya memandangi Lena dengan bingung. Semua orang yang berdiri di ruangan itu, langsung bertepuk tangan, kecuali Sean.


Aroma Citrus yang begitu dirindukannya kini memerangkapnya. Lena membenamkan wajah mungil itu di dada bidang yang panas dan hanya terisak. Dia menangis dan menangis. Jantung itu rasanya mau meledak. Dia dapat dengan jujur ​​mengatakan bahwa, itu adalah momen paling emosional yang pernah dia alami.


David menaruh mic di atas meja, lalu Marcho meraih mic itu. Pria dengan kemeja krem, berjalan ke atas panggung. Dia berbisik pada pemain-pemain pemanggung, lalu meminjam gitar. Lantunan lagu Italia itu dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, setelah menyuruh para pengunjung resto untuk duduk kembali.


Lantunan musik romantis membuat Lena yang masih dipenuhi perasaan emosional, makin menyembunyikan diri di dalam pelukan David. Seolah-olah di ruangan itu tidak ada orang dan David hanya melirik Sean yang semakin gelap seakan kakaknya Lena itu dipenuhi amarah. Pancaran kasih sayang dan tatapan mereka- Lena dan Davi itu membuat iri siapapun, yang melihatnya. Termasuk Anna yang diam-diam mengintip di balik pintu masuk, karena jalan Lena tidak sesulit jalannya, walaupun keluarga Lena tampaknya jauh lebih minus daripadanya.


🎵🎼Apa yang harus saya lakukan untuk mencintai wanita ini?


Saya harus membuat taman bunga mawar yang cantik, taman yang cantik di sekitar sini, untuk membuatnya jatuh cinta.


Permata berharga dan emas murni, saya akan menggali air mancur yang bagus.


Di tengah air mancur yang bagus, tempat mata air ... mengalir mata air.


Saya akan menaruh burung penyanyi di atas.


Seekor burung penyanyi itu dinyanyikan dan diistirahatkan: keindahan, katanya,


untukmu aku sudah menjadi burung untuk tidur di sampingmu, nona cantik.

__ADS_1


Aku telah jatuh cinta dengan cara Anda berjalan dan berbicara.


Jika kamu tidak secantik ini, aku tidak akan jatuh cinta.


Kamu marah, apa yang kamu inginkan dariku?


Ibumu tahu dan aku ingin memberitahumu juga🎶🎵


Marcho bernyanyi dengan membayangkan rasa cintanya pada Anna, tak lama Anna telah berdiri di sudut ruangan, ternyata gadis itu menyusul dari hotel. Marcho memanggil Anna untuk bergabung. Marcho melanjutkan dengan dua lagu, setelah Anna duduk di sampingnya. Dia terus. Dia terus bernyanyi dan terus memandang Anna dengan tatapan penuh cinta, dan kekasihnya pun tersenyum padanya bagai bidadari yang baru turun dari Surga.


Sean yang menyaksikan itu penuh tanda tanya, tadi Marcho memeluk Lena, sekarang justru bersikap romantis dengan wanita bernama Anna. Eh aku sampai tak sadar kehilangan David dan Lena. Kamu asal meninggalkanku saja, Dek! keterlaluan, siapa ini yang akan bayar?


"Boleh aku duduk di sini? sorry, hanya meja ini yang kosong." Seorang wanita menarik kursi, tanpa persetujuan lalu duduk di samping pria yang sedang sendirian.


Sean tak berkedip saat aroma wangi dari pakaian mahal wanita itu, tas yang baru diletakkan di atas meja juga branded yang pasti harganya selangit. Dia tidak heran dengan pengunjung di sini, harga makannya saja sepertiga dari gajinya. "Silahkan, saya juga sendiri."


Lama Sean diam, wanita itu mulai banyak mengajukan pertanyaan setelah memperkenalkan nama. Sean seolah terhipnotis oleh tatapan mata hitam yang bersinar itu. "Apa kamu datang sendirian?"


"Saya sendirian karena sedang patah hati, jadi saya mencoba mencari udara segar dan suasana baru dengan keluar dari rumah," kata Secha pada pria yang juga ternyata ramah.


"Secha kamu bilang ingin mencari udara segar? Kalau kamu memberi ijin, biarkan aku mengajakmu jalan-jalan ke pinggir pantai dan merasakan bau asin yang menyenangkan. Kita bisa mendengarkan keindahan suara ombak." Sean hanya beralasan untuk keluar, daripada nanti ditagih Bill oleh petugas, bisa rontok tabungannya.


Secha berdiri dan mengangguk, dia menunggu pria itu berjalan di depan sambil menanyakan nama pria itu. "Sean? Wah! Nama yang bagus."



"Mas, sejak kapan kamu kemari?"


"Itu sejak seminggu lalu." David dengan gugup, makin mencengkeram bahu Lena. Sejujurnya, dia ingin membawa Lena ke hotel, ingin melepaskan semua rasa rindunya. Ah dia sampai lupa berbicara dengan Sean.


Tangan David yang lain menjinjing sepatu pantofel. "Aku mengurus pabrik sambil belajar bahasa Indonesia, sebetulnya aku sudah sangat ingin menemuimu di malam pertama, tetapi aku kebingungan nanti cara berkomunikasi dengan semua keluargamu. Sekarang aku sedikit bisa bahasa Indonesia karena memaksa Axel berbicara sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia."


"Habat! Kamu dengan cepat mampu menguasainya." Lena tersenyum dengan perasaan takjub pada sang kekasih, yang selalu membuat jantungnya berdebar saat berada di dekatnya. Dia tak bisa jauh-jauh dari kehangatan berbau citruz ini.


"Aku melakukan semua demi kamu. Sekarang aku sangat penasaran, aku ingin tahu soal kamu dengan Niko. Dimana dia, katanya kau akan menikah dengannya?" David menyipitkan mata dengan tak sabar.. Dadanya makin bergemuruh saat menunggu jawaban. Dia ingin mendengar dari Lena langsung, walau Axel telah memberitahu.


"Niko .... " Lena terdiam sejenak teringat kemarahan Niko sebelum Niko kembali ke Palembang. "Aku dan Niko sudah putus srksk Qatar, walau Niko memberi tahu hubungan dia dengan Marsha, tetapi perasaanku telah berubah. Kemudian saat kepulanganku, aku dan Niko bertemu di pesawat. Kemudian dia menginap di kamar kakak, seperti biasa. Lalu .... " Lena membelalakkan mata karena kecupan di pipi kanannya. Ciuman David terbenam di pipi Lena.


Lena menjatuhkan sandal dan merengkuh leher David. Dia memandangi David saat hidung mereka saling menempel sampai nafas mereka saling menghangatkan wajah. "Aku snagt kangen kamu, Mas," serak Lena.


"Aku ingin marah padamu! Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Aku terus bertanya-tanya apa salahku, tetapi aku bingung dan tak menemukan jawaban. Padahal aku berusaha melakukan semua dengan sempurna selama ini?" David dengan ekspresi seperti anak anjing, dia mengecup bibir Lena dengan gemas dan bau kenanga saat memabukkan.


Cukup lama Sean menemani Secha, sampai dia mendapati adiknya akan berciuman dengan David di pinggir pantai, lekas dia berlari dan meninggalkan Secha.


"Lena berhenti! Apa yang kalian lakukan?" Teriakan Sean berhasil menghentikan Lena, dan mereka beralih menatapnya dengan terkejut. Sontak adiknya menjauh dari David hingga setengah meter. Dia menarik tangan mungil, hingga Lena berdiri di belakangnya. "Kamu ya, Tuan David, jangan asal menyentuhnya. Bilang baik-baik pada keluargaku dulu, bila kamu memang punya itikad baik!"


Ketel dalam diri Sean mendidih. Hubungannya dengan Niko terancam karena amarah Niko pada Lena. Semua ini gara-gara lelaki asing ini. Padahal dia yakin pria asing pasti akan begitu mudahnya meninggalkan Lena, nanti bila ada apa-apa dengan Lena, dia juga tak punya biaya untuk terbang jauh-jauh ke Italia bila lelaki ini kabur.


"Kak Sean!" Lena menarik lengan kakaknya hingga mundur, karena kakaknya yang juga ahli judo, itu ditakutkan akan menyerang David.

__ADS_1


"Ayo ke rumah! Kau harus bertanggung jawab!" tegas Sean sambil menarik tangan Lena.


"Kak sandalku!" Lena akan meraih sandal, tetapi Kakaknya menarik.


"Tenang Lena, aku akan membawa ini." David mengambil sandal Lena. Dia berjalan lebih cepat di samping Lena dan akan memegangi tangan Lena, tetapi dihantam oleh tangan Sean hingga dia mengadu. Sakit juga!


...----------------...


Baru tiba di rumah, Lena dibuat bingung karena ayah dan ibunya telah bersiap-siap dengan tas. Sujatmiko mengerutkan kening karena ada tamu asing, mana sudah jam 10 malam dan celana sang putri basah penuh pasir. Ayah Lena itu duduk berhadapan, setelah bersalaman dengan pria bernama David.


Tak Lama, Lena keluar dengan membawa teh hangat untuk ayah dan es air bening untuk David. Debaran jantungnya kian meningkat karena tatapan ayah yang terus terang-terangan mengamati David dari atas ke bawah.


"Aku mana, dek?" Sean dengan kepala terayun, melihat nampan kosong. "Masa, Abang nggak dibawain minum?"


Lena duduk di samping Sean lalu berbisik. "Kakak ambil sendiri dong, kan tadi udah makan enak karena aku dah ajak kakak.l!"


"Kamu ini, ya!"


"Ekhem!" Sujatmiko menatap Sean hingga putranya itu diam, tampak Lena memeluk leangan sang kakak. Gelagat putrinya sangat mencurigakan. Dia beralih pada pria dengan wajah sangat tampan, lebih tampan dari pria tadi. "Perkenalkan siapa Ananda ini dan ada maksud apa malam-malam datang ke gubug kecil kami?"


"Ananda?" David mengingat-ngingat lebih dalam sambil mengeluarkan teleponnya, dia bermaksud menerjemahkan.


Lena garuk-garuk kening. "Ananda itu maksudnya 'Mas'."


"Oh .... " David tersenyum kikuk. "Papa Sujatmiko .... "


"Papa? Papat Sujatmiko?" Sean mengulangi kata-kata David sambil memegangi perut, Walau sudah ditahan untuk tidak tertawa justru dia langsung tertawa terbahak-bahak karena cara David memanggil, sedang Lena lagi-lagi menggaruk hidung yang tidak gatal.


"Maksud saya, Tuan Sujatmiko .... " David mengernyitkan alis karena tawa Sean yang makin menjadi.


"Sean? Masuk ke dalam." Sujatmiko menatap tajam sang putra, tetapi putranya terus tertawa bahkan itu terdengar sampai Sean sudah di dalam kamar.


"Bapa, atau panggil 'Pa' saja." Lena dengan senyum hangat, karena wajah David penuh kebingungan. Sujatmiko mengangguk membenarkan apa kata Lena.


"Bapa Sujatmiko, saya David Leora. Saya asli Italia, tetapi sering tinggal di Qatar. Di Qatar ini saya bertemu dengan Lena tanpa sengaja. Beberapa hari di sana, saya dan Lena, bersama-sama mengunjungi tempat wisata di Qatar.


Ternyata kami seperti memiliki perasaan lebih dalam. Saya pun datang kemari, karena Lena meninggalkan saya tanpa ada kabar hingga membuat saya sangat sedih." David dengan tenang sambil menunggu reaksi ayah Lena.


Sujatmiko menatap sang putri yang kini terus menunduk. "Lena Paramita ... ceritakan ada apa ini?" Sujatmiko tahu kesedihan di wajah pria tampan itu tampak jujur. Dia jadi teringat amlam terakhir Niko di rumah ini, pertengkaran hebat terjadi antara Niko dan putrinya. Dia sampai malu karena tetangga mendengar pertengkaran putrinya. Dia jadi bertanya-tanya apa lelaki ini penyebabnya.


"Bapak, Mas David adalah adik dari Kak Marcho, yang tadi sore ke rumah. Saat di Qatar, Keluarga Mas David telah mengenal Lena. Sampai Mas David dan keluarganya sudah mau datang ke mari untuk melamar Lena.


Akan tetapi, saat itu Lena pulang diam-diam dari Mas David karena suatu kesalahpahaman, padahal Kakeknya Mas David sudah mencharter satu pesawat-" Lena meringis, dia tak mampu melanjutkan kata-kata karena wajah murka sang ayah, walau ayahnya hanya diam.


"Nak David, bisakah sekarang Nak David kembali ke rumah dulu? Ini sudah malam, sangat tidak baik bertamu di atas jam delapan malam. Sekali lagi maaf. Nak David nanti bisa kabari Lena lagi saat akan datang kemari." Sujatmiko tak tahan lagi, padahal dia juga akan ke rumah sakit mengunjungi saudaranya, tetapi justru putrinya membuat ulah besar.


Semua otot-otot David menegang, dia bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang dia telah perbuat. "Baik, Bapa. Malam ini saya undur diri dulu." David akan memperagakan mencium punggung tangan Sujatmiko seperti apa yang Axel peragakan, justru ditolak ayah Lena.


Mata Lena membulat, jantungnya berdebar kencang. Tak biasanya sang ayah menolak kecupan di punggung tangan. Apalagi sosok ayah adalah panutannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2