
Semua orang di pesta pernikahan Emma-Niko, terpanah saat David melangkah dengan aura di wajah yang dipenuhi cinta. Terutama saat di ujung tangga lalu mencium kening Lena.
Orang bisa salah sangka kalau pengantinnya adalah Lena dan David!
Shinta, mengerutkan bibir. Meski, di sampingnya kini Tara berdiri, dan berniat mengajaknya menikah dan dia setuju demi anaknya. Namun, tetap Tara tidak bisa dibandingkan dengan David.
Ini bukan dilihat dari segi finansial, karena keluarga Shinta sendiri kini memiliki usaha yang berkembang dengan baik, dia tidak memerlukan dari segi materi itu.
David adalah sesuatu istimewa tersendiri di sepanjang hidupnya. Bahkan, sampai detik ini dia belum pernah bisa membenci David.
Dimasa lampau apa yang dilihat dari keluarganya hanya kesibukan papanya. Shinta kecil bermandikan barang-barang mewah. Meski, terlahir dengan sendok emas, bukan berarti dia bahagia. Suka tidak suka, mamanya harus mengikuti papa yang hobi berbisnis lintas negara. Satu tahun tak kurang dari tiga negara, membuatnya sulit untuk memiliki teman.
Suatu hari saat di pesawat ayahnya bilang, "Shinta putriku, mulai sekarang dan seterusnya, kita akan menetap di Italia. Kamu senang ?"
"Apakah Papa tidak akan sibuk lagi? Jadi, Papa bisa mengantar Shinta ke sekolah seperti teman-teman Shinta!" Mata Shinta berbinar karena anggukan papanya.
Apakah kata hanyalah sebatas kata? Dia terus menunggu dan mencoba percaya akan tiba saatnya mendapat perhatian papa. Semoga itu bukan cuma khayalan indah, yah ?
Ibu, yang dulu masih mengantar sekolah saat di luar negeri, kini mulai sibuk. Semua urusan, memandikan, masak, menidurkan dilakukan oleh seorang asisten rumah tangga bernama Bibi Cherry.
Rumah itu lebih besar, tapi jarak dia dengan orangtuanya semakin jauh. Kamarnya ditempatkan di lantai dua. Orangtuanya bilang, supaya dia mudah dipantau oleh keamanan. Sedangkan kamar mama di lantai lima karena tidak suka bising demi waktu istirahat yang berkualitas tanpa ada gangguan katanya. Haruskah sejauh itu ?
Ataukah Shinta yang pengganggu karena setiap papa dan mama pulang malam, setiap kali itu juga saya mendatangi kalian? Dan kalian tidak membukakan pintu dengan alasan tertidur. Batin Shinta kecil makin berkecil hati.
Rumah besar itu menerima para tamu malam itu. Mama datang mengecek penampilan Shinta, yang sudah sempurna dengan gaun biru sangat indah dengan rok mengembang seperti putri kerajaan. Dia mendapat ciuman sepintas di kening yang seolah keharusan dari pada pernyataan rindu atau kasih sayang itu sendiri.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba mengejutkannya. Shinta yang menyendiri di ujung taman lalu melirik ke suara ponsel yang berisik !
"Hai, aku David Leora," kata anak laki-laki dengan setelan jas formal putih sambil mengulurkan tangan kanan. "Kenapa kamu sendirian ?"
Shinta menunduk dan memainkan pita di gaunnya. Berulangkali melirik ke balkon di lantai dua. Mamanya sedang tertawa dengan orang-orang, sedangkan ia ingin menangis dan memeluknya.
"Nama kamu Shinta Luigi, kan?" Anak laki-laki itu mengulurkan ponsel. "Coba mainkan ini, mari berteman! Aku suka game ini."
"Aku tidak boleh main game. Itu membuat otak jadi bodoh!"
"Kita masih anak-anak, kita juga perlu bermain."
"Aku tidak butuh bermain!" Shinta membuang ponsel asal. Suara pecahan kaca mengalihkan pandangan dan mendadak orang mengerumuninya.
Luigi menatap tajam ke arah Shinta. Pada saat yang sama David berdiri di samping, lalu membungkuk sangat dalam dan meminta maaf telah menyebabkan keributan.
Luigi menyentuh pundak David. Namun berikutnya, Luigi sendiri langsung membungkuk pada ayah dari anak laki-laki itu. Tanpa menyerah, David menjelaskan bahwa pria itu telah mengganggunya lebih dulu. .
"Benar, apa yang dikatakan Tuan Muda David?" Tanya Luigi dalam posisi jongkok.
Shinta yang ketakutan tak bisa menjawab dan justru sesenggukan.
"Kalau Papa bertanya, jtu jawab!" sentak Luigi.
Shinta merasakan momentum tangan ayahnya yang ditangkap oleh tangan pria dewasa lain, di atas kepalanya. Dia tidak tahu apa, tetapi sekujur tubuhnya langsung dingin dan gemetar.
"Apakah anda selalu bermain tangan terhadap putrimu sendiri, Tuan Luigi?"
Shinta mendongak dengan takut, kalau tidak salah itu ayah David.
"Shinta masih kecil dan anda akan memukulnya?"
Shinta menangis histeris karena mama David memarahi ayahnya. Dia menghentak tangan David yang baru memegangnya.
"Saya cuma menghukum karena dia membuat putra anda tidak nyaman." Luigi dengan wajah pucat dan tangan gemetaran.
Shinta tak ingat lagi apa, karena mendadak disekitarnya gelap. Keesokannya saat bangun, ada David mengenakan kaos dan topi putih, duduk samping tempat tidur.
"Ciao Bella, kamu sudah bangun. Well, papaku sudah pergi karena kamu tidak bangun-bangun. Jadi mari kita susul papaku, aku mau belajar Golf!" David dengan bersemangat.
Shinta mengelengkan kepala. Dia bingung karena tidak di kamar sendiri. "Bibi Cherry .... "
"Pengasuhmu itu akan segera kemari. Ini di rumahku! Tadi malam, papa dan mamamu harus ke luar negeri, ya pas kamu pingsan. Jadi kata mamaku, kamu tinggal bersama kami dulu. Katanya kamu tidak boleh takut. Kita adalah keluarga."
Wajah Shinta tertekuk. "Keluarga? Kenapa Mama bahkan kini meninggalkanku? Mereka selalu saja pergi tanpa aku ."
__ADS_1
"Ada aku Shinta. Sekarang kamu tak kesepian lagi, karena kata mamaku, kamu boleh main ke sini kapanpun kamu mau!"
Sejak itu, David kecil yang ceria, sering mengajaknya bermain. Tidak peduli , bila semua teman David adalah laki-laki. Kemudian dia tumbuh dengan kebiasaan laki-laki.
Dari cara berpakaian segala macam, hanya rambutnya yang panjang terikat gaya ekor kuda yang menandakan dia perempuan.
Bahkan Shinta sampai memakai korset khusus yang menekan dadanya hingga nyaris tak terlihat karena begitu nyaman dengan gaya laki-laki.
Lalu perasaannya pada David mulai berubah. Shinta yang tidak tahu apa itu perawatan perempuan, mengikuti pelatihan menjadi lebih feminim. Para pria mulai melihatnya dengan pandangan berbeda. Kemanapun dia pergi menjadi selalu pusat perhatian.
Suatu malam di pesta prom yang meriah, tanpa dia sadari seorang laki-laki membawanya menjauh dari kerumunan. Dia saat itu tidak mengerti apa-apa, lalu pria itu akan berbuat tidak baik padanya. David datang menolong dan menghajar pria yang lima tahun lebih tua. Lalu setelah pria tercela itu dibawa teman David, David membentaknya,
"Ini pasti karena pakaian konyol ini. Apa yang kamu kenakan belakangan ini semakin berani! Kamu bukan perempuan murahan, kan, Shint?" suara David meninggi seperti saat marah pada Marcho.
"Apa maksudmu?" Teriak Shinta dengan wajah terbakar karena tersinggung.
"Cara berpakaianmu dan semua hal-hal konyol itu!" David melirik ke arah bawah dan Shinta melirik sepatu berhak 10 senti.
"Dav, ini pesta prom, semua gadis mengenakan ini, apa lalu mereka juga dikatakan murahan!"
"Ini tidak cocok untuk gayamu!" David melepas jasnya dan melemparkan ke wajah Shinta. "Tutupi bahu itu dan pulang sendiri."
Shinta menarik jas wangi sitrus dari wajah dan melihat punggung David yang lima meter darinya. Dia mencengkeram jas dengan sakit hati dan berteriak. "Tentu saja aku melakukan hal bodoh ini karenamu! Dasar lelaki tak punya perasaan, teganya mengatakan itu padaku!"
David berhenti dengan tangan terkepal.
"Aku sudah begini karena menyukaimu! Sial! Omong kosong apa penderitaan ini, bodoh sekali aku. Setidaknya kamu hargai usahaku!" Shinta berjongkok dengan marah,melepas kedua sepatu hak tinggi. "Kakiku sampai sakit!" Shinta berdiri dengan terus beruraian air mata.
Wanita itu membeku saat David kembali padanya dan melangkah lalu melihat ke arah kakinya. Lelaki itu berjongkok sambil memutar dan menggendongnya di belakang.
"Turunkan aku! kamu tadi kan menyuruhku pulang sendiri!" Shinta mengarahkan hak sepatu dengan dongkol ke bahu David, sampai pria itu meringis.
"Kau tidak perlu sebodoh itu kan? Hey, apa kau akan terus mau memukulku dan baru berhenti setelah aku mati?"
"Kalau perlu, David! Kau menjengkelkan, aku sampai menyewa pelatih model! Astaga agar aku bisa berjalan melenggak-lenggok seperti model!".
"Pft!"
Shinta melongok ke depan. "Jangan tertawa itu adalah penderitaanku selama satu bulan ini, huh karena kamu!"
"Jangan keras-keras, mereka bisa mendengarkan ucapanmu!" bisik Shinta dengan marah.
"Kenapa memang, bagus mereka mendengarnya. Kecuali, kamu takut kehilangan penggemarmu?"
"Rese, turunkan aku! Aku tidak suka kita jadi tontonan!"
"Bukannya, kamu sendiri yang mengeluh karena gangguan para laki-laki? Tapi kamu memakai baju seperti mengundang mereka untuk datang?"
"David itu karenamu!" Shinta meringis rasanya ingin menangis.
"Lihat, itu ulahmu sendiri. Kenapa jadi menyalahkan aku! Sekarang puas dengan gaya pakaianmu?"
Shinta mendengus, dan berpangku pada bahu David. "Apa kamu tidak suka aku berpakaian bodoh seperti ini?" Shinta menoleh ke kiri karena David tak kunjung menjawab. "Jawablah!"
Namun, lelaki itu terus diam sampai ke parkiran. Pria itu menurunkannya di kap mobil, mendudukkannya. David memutar tubuh, memandangnya. Tangan kuat itu bertumpu di kap mobil.
"Aku lebih suka melihatmu seperti yang dulu kulihat? Tapi, aku tak memiliki hak untuk melarang cara berpakaianmu. Kalaulah memang menimbang pendapatku, pakailah sesuatu yang lebih tertutup."
"Tapi- ini hanya dress tanpa lengan!"
"Bagaimana jika hanya aku yang boleh melihat bahu indahmu?"
Wajah Shinta terasa terbakar, dia sedikit menunduk.
"Aku juga tidak senang seseorang melihat lututmu," ucap David dengan penuh penekan.
"Ah- " Shinta melihat jas David di tangannya, dia mencoba memakai jas David agar menutupi bahunya yang gemetar dan terekspos. Itu dilakukan dengan berdebar karena tangan David masih memerangkap di samping paha hingga gerakannya tak bebas. "Seperti ini?"
"Ya! Bella."
Shinta tak kuasa menahan malu, untuk pertama kalinya David memanggilnya cantik. "Jadi, kamu sekarang sudah mau jadi pacarku?"
__ADS_1
David berdiri dengan tegak dengan sedikit mengangkat dua sudut bibirnya. Apa itu sebuah senyuman? Pria itu lalu berjalan ke arah pintu pengemudi. "David, jawab aku!
Sebulan sejak kejadian itu, Shinta yang blak-blakan terus mempertanyakan statusnya, karena David tidak menjawab melainkan tersenyum dengan cara aneh!
Suatu malam, Shinta ke rumah David karena pria itu tak menjawab status hubungannya. Sedikit bingung karena ada Emma. Dia masuk dengan Emma dan melirik kesana-kemari di kediaman Tuan Hans-ayah David.
"Om Hans dan Tante Bilqis keluar kota. Kalau Marcho masih di Qatar." Emma menggandeng lengan Shinta, dan menuntun ke arah taman.
Shinta terpukau. Meja dengan empat piring. "Eh, Kak Paolo?"
Emma tertawa. "David mengundang kami makan malam. "
"Apa aku mengganggu?" Tanya Shinta bingung. Dia duduk di kursi yang baru ditarik Emma.
"Tidak, kami yang mengganggu." Paolo tertawa meledek.
"Mengganggu siapa?" Shinta yang bingung lalu teralihkan ke arah David yang membawa balon bertuliskan I Love You.
"David?" Shinta memegangi dada saat David duduk di samping.
"Beginilah ..... Paol dengarkan ceritaku, Shinta selalu bertanya kepadaku soal status hubungan kami." David membuka suara.
"David!" bisik Shinta dengan rasa malu luar biasa, sambil menusuk pergelangan tangan David yang di atas pangkuan dengan kukunya.
Paolo dan Emma menyunggingkan senyuman, dan David seakan menikmati Shinta yang wajah cantik itu sudah semerah tomat.
Paolo bersiul dan berkata. "Tidak apa Shinta, jangan malu!"
Emma pura-pura batuk. "Selama ini, kami sudah tahu, kok, kalau Kak Dav juga suka-"
"Kalian diamlah," kata David dengan kesal. Lalu melihat ke arah Shinta lagi dengan lembut. "Balon warna orange! Sesuai warna kesukaan kamu, Shint. Jadi, apa yang tertulis itulah perasaanku. Kalau kamu menerima.
Artinya, setelah balon ini di tanganmu,maka detik itulah status persahabatan kita berubah!"
Shinta menutup mulutnya yang ternganga dan pipinya terbakar karena malu.
"David, kamu memang belum pernah pacaran, tapi caramu menyatakan cinta itu benar-benar membuatku malu sendiri." Paolo menutup mata dengan kedua tangan, yang lalu tangan itu melebar mengintip. Dia mendapati David yang meringis dengan kesal.
"Kalau kalian tidak merusak rencanaku, kupikir ini romantis, sialan! Kalian yang membawa dua kursi itu ke taman dan memaksa tinggal sampai detik ini!" David menggigit bibir kesal.
"Ih, ini keren tahu! Kami kan juga mau menjadi bagian cerita sejarah kalian. " Emma mengangkat dua sudut bibirnya.
"David .... " Shinta menarik benang dari balon bertuliskan I Love You.
David langsung menggaruk kening. "Shinta, kau lihat kan, sekarang bahkan mereka mengganggu proses penting kita .... Dan menjadi berantakan." David menekuk bibir dan Saat Shinta akan berbicara.
"Pacaran!" Paolo dan Emma dengan iseng hingga mendapat lirikan kesal David tapi lalu David menggedikan bahu.
"Kalian resmi pacaran!" Emma bersorak gembira.
"Tunggu, aku mengundang seseorang." David berkata dengan lembut pada Shinta dengan cara menyalakan korek api dalam cahaya temaram.
Beberapa orang mendekat membawa kanvas dan sebuah kursi. Serang pemuda lalu memilin cat air hingga keluar dari tube ke palet.
"David?" Shinta dengan bingung.
"Aku ingin kita mengingat malam ini, jadi aku mengundang pelukis agar melukis kita berdua," sahut David.
"TIDAK! Kalian bisa melakukan itu lain kali. Kami sudah di sini. Kenapa tidak kita berempat yang dilukis, pastilah lebih berharga!" Paolo dengan tangan melipat di depan dada.
"Kak Dave, benar itu. Masa kau biarkan aku dan Paol yang sudah jauh-jauh ke sini menganggur-" Bibir Emma mengkerut. "Aku kan pengen dilukis!"
"Sial, kalian yang datang tak diundang!"suara David meninggi.
"Kita dilukis berempat itu bagus! Kanvas itu besar, cukupkan!" Shinta dengan tatapan memohon dan David mengangguk dengan malu seraya menggenggam tangan Shinta.
Jadilah sebuah lukisan berisi empat. David memeluk Shinta dari belakang untuk pertama kalinya. Ikatan persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang berbeda, menjadi ikatan sepasang kekasih.
Lamunan Shinta terbuyar. Mungkinkan David masih menyimpan lukisan itu di balik ruangan kerja atau sudah dibuang? Dia menghela napas kasar. Bisa-bisanya dia mengingat dengan jelas hari jadiannya, seakan itu baru saja dilaluinya.
Karena itu dia begitu mati-matian berusaha memiliki David seumur hidup. Tak ada yang bisa menggantikan posisi David, dia ingin terus menghabiskan waktunya dengan David sampai mati. Namun, seolah kini hatinya melihat kebenaran ini.
__ADS_1
Bahwa, tatapan lembut David itu kini bukan lagi, untuknya.
Menghela napas putus asa. Shinta benar-benar menyerah. Perasannya tak boleh membatasi kebahagiaan David. Karena bila dia tetap memaksa, maka dia takkan pernah melihat senyuman lembut itu lagi.