Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
LENA INGIN PULANG


__ADS_3

...🇵🇱 Kalimantan 🇵🇱...


"Kamu tidak berkompromi denganku dulu, merubah seenak hati rencana yang kita buat sejak lama!" Kemarahan Shinta pecah diikuti dadanya yang turun-naik, setelah menunggu dua hari di markas-Kalimantan, penungguannya sia-sia.


"Tenang, Amore." Geroge berjalan ke depan Shinta, memegangi bahu wanita hamil itu agar diam dan tidak mondar-mandir.


*Amore : sayang.


"Lalu bagaimana dengan David?" Shinta meringis kesal.


"Tenang dulu." George menyeringai. Niko masih berada dalam genggamannya. Dia bisa menggunakan Sean untuk mengantisipasi pemberontakan Niko.


"Tenang, tenang, kau bilang tenang!" Shinta membuang muka dengan wajah merah padam. Merasa jengah pada pria itu. "Kau tidak menghargai rencanaku di sini. Mereka pasti akan bersatu lagi!"


"Sssst. Sekarang duduk dulu. Kamu belum mendengarkanku, Amore." George mengarahkan Shinta duduk dan wajah wanita itu semakin judes.


"Katakan, apa rencanamu? Tahu begitu kemarin aku satu mobil dengan Lena. Aku bisa membawanya sendiri, mengapa kau membawa-bawa Niko juga! Sampai kapanpun Niko akan membawa masalah. Damn! Aku yakin dia membawa masalah ke depannya." Shinta memukul George dengan bantal. "Kau harus membunuh Lena! Dan Niko!"


"Begini, dengar dulu." George duduk di sofa di samping Shinta dan berbicara dengan nada penuh seringai. "Lena tidak akan kembali lagi ... apalagi ke Italia, setahun, dua tahun, bahkan selamanya."


Bibir Shinta yang cemberut langsung membentuk garis lurus, dan alisnya perlahan jatuh ke kelopak mata. "Maksudmu? Dia mati?"


George terdiam sejenak. Dia berpikir, Shinta tidak perlu tahu soal ini. "Kalau kau tidak percaya lihat saja ke depan."


"Jadi, rencana untuk aku menemui David nanti-"


"Gagal. Sementara ini rencana soal David semua batal." George mengangguk saat Shinta tampak penasaran. "Kamu kembali ke Jepang. Jangan sampai David tahu kamu di sini. Jika kau mengancam David menggunakan Lena, hanya semakin membuatnya membenci kamu. Lebih baik tunggu tiga bulan lagi, aku akan mengatur waktu agar kau tidak sengaja bertemu David. Kau bisa mendekatinya perlahan. Gimana?"


Wajah Shinta mendadak cerah, dua sudut bibirnya terangkat begitu tinggi membentuk senyuman. Keberuntungan.


"Kau tampak tidak terlibat di sini. Karena mereka fokus pada Niko yang menjadi pelaku. Posisimu aman, biar orang lain melakukan pekerjaan kotor. Mengerti, Amore?"


George tertawa diikuti senyuman bangga Shinta. Mereka lalu saling berpagutan. Mereka jelas merasa senang bisa memainkan keluarga Leora dan berharap keluarga itu hancur berantakan.


...****************...


...🇮🇹 Napoli 🇮🇹...


Tiga bulan berlalu .... Sean menatap kasihan pada Stef yang membereskan barang-barang di kantor dan bersikeras mengundurkan diri dari Xaverio Grup. Wanita itu dituduh telah berkhianat pada perusahaan karena suatu hal yang berujung pada kontaminasi salmonella beberapa waktu lalu.


Kak Stef bahkan menjual kepemilikan saham ke orang lain karena begitu kecewa pada Kakek Leora lebih percaya Paman Ketiga daripada Kak Stef. Ya jelas si, dimana-mana orang akan lebih percaya anaknya daripada menantu dari sang cucu.


Mengacak-ngacak rambut, Sean rasanya ingin menangis. Dia duduk loyo, menelan pil kekecewaan pada sahabatnya. Kemana Niko membawa Lena.


"Sean." Stef menyentuh ujung jari lelaki itu. Lalu kepala pria itu menjauh dari meja.


"Kak ... Kalau kau pergi, aku sendiri di kantor ini. Kakak bisa mengurungkan niat, kan?"


Stef tersenyum masam dan menggelengkan kepala. "Kau jadi antar aku ke rumah orang tuaku nanti sore? Aku sudah beres-beres"


Sean mengangguk lemah. Dia melihat kepergian wanita hamil itu dari kantor. Stef akan keluar dari rumah Marcho karena Marcho sibuk dengan Anna. Juga, tidak ada saat-saat adik mertuanya menyerang dan menjatuhkan harga diri Stef di perusahaan. Kasian sekali wanita itu.


...****************...


Leora dan Hans, mendatangi rumah David. Anak itu tidak pernah datang ke acara keluarga yang diadakan setiap bulan. Tampak minggu pagi, David duduk di bawah pohon besar yang menghadap ke pantai, di pinggir tebing tengah melamun dengan kemeja santai yang bahkan tidak dikancingkan dan rambut itu tampak berantakan, kumis itu pun tak dirawat. Sungguh terlihat menyedihkan bagi Leora.


Kakek Leora duduk di kanan David, sedangkan Hans di kiri David. Bahkan, David seperti tidak menyadari kedatangan mereka dan menatap kosong pada pin volunter. Mereka tahu, itu jelas milik Lena.


“Kita akan menemukannya.” Hans merangkul bahu sang putra, menarik kepala David ke bahunya.


“Dua bulan lagi Lena lahiran. Aku bahkan belum tahu jenis kelamin anakku, Pha?” David dengan suara berat dengan mata terpejam. Membayangkan apa yang dilalui Lena. Apa bayinya selamat. Sungguh kejam Niko bila melukai bayinya.


"Yah, kita harus berjuang lebih keras, satu bulan ini. Papah akan minta bantuan Kakek Lewis. Kupikir dia tahu wilayah Indonesia di bawah kekuasaan Lion." Hans melirik Leora dan mendapat anggukan kemudian


“Kita harus menemukannya, sebelum bayi itu lahir, Pah. Aku tak yakin cara Niko memperlakukan bayiku nanti.” David menghela napas kasar. Mungkin Niko akan melukai sang bayi karena kebencian padanya.


“Kudengar Shinta merayakan kelahiran putrinya. Keluarga kita diundang, aku akan mengirim hadiah dan konfirmasi ketidakdatangan dari pihak kita.” Kakek Leora melirik Hans, menunggu jawaban David.


“Aku akan mewakili dan datang dengan Paman Ketiga.” David mengginggit bibir bawah.


“Apa?” Tanya Hans terkejut. Leora hanya terdiam, tidak tahu apa yang direncanakan David dengan datang ke acara si mantan.


David mengelap embun bening yang jatuh di pipinya. Betapa dia merindukan Lena dan kemanapun akan dia cari petunjuk sekecil apapun. Bermula dari list semua orang yang tidak menyukai Lena. Lalu mencari tahu, mengapa seorang Niko yang dulu tidak tahu apa-apa, bisa menyembunyikan Lena tiga bulan ini tanpa meninggalkan jejak. Siapa sebenarnya yang membantu Niko.


“Mobil yang dibawa Niko, terlacak, tetapi itu mobil rental yang disewa turis asing. Bahkan turis asing itu tidak tahu apa-apa karena identitasnya dipinjam lalu diberi uang. Bahkan malam pagi itu semua kendaraan lalu-lalang diperiksa di perbatasan. Banyak orang ditempatkan Jefri di bandara, pelabuhan, dan tempat-tempat biasa menyelundupkan orang. Apa Lena dibawa melalui jalur penyeludupan lewat malaysia?” David terus menebak-nebak.


“Atau masih di Kalimantan,” imbuh Leora.


“Mungkin dibawa ke Pulau Sumatera, Sulawesi, Papua? Tempat yang sepi. Apa Niko memiliki saudara jauh dan teman lama?” Hans ikut berpikir. Dia juga mengkhawatirkan keberadaan cucunya. Bagaimana kalau nutrisi cucunya tidak terpenuhi lalu berdampak pada kesehatan saat lahir.


"Lalu siapa yang membawa orang tua Niko. Aneh, jika kedua orang tua Niko hampir hilang bersamaan saat Niko menculik Lena." David mengepalkan tangan.


...****************...


Pesta kelahiran putri Shinta diadakan meriah. Bisa dilihat bagaimana pentingnya itu karena penyambutan cucu pertama di keluarga Luigi - yang basicnya, keluarga itu masuk dalam jajaran keluarga yang cukup dihormati.


Masyarakat, tahunya Luigi dipandang peduli dan banyak berpartisipasi mendengar aspirasi rakyat di pemerintahan. Walau Leora dan David, sebenarnya tahu akan bagaimana cacatnya keluarga itu atas kasus korupsi besar-besaran di pemerintahan hingga kekayaan Luigi meningkat sepuluh kali lipat di tahun ini.


Tara. Selaku sang ayah dari sang bayi juga datang, bersama pacar barunya. Marcho terpaksa datang karena menyangkut bisnis mutiara di Jepang, dengan membawa Anna.


Tentu saja George datang, adalah aneh, jika orang-orang kalangan atas tidak mengundang George. Karena banyaknya penggemar George akibat bantuan George, walau mereka tahu George kadang menggunakan cara kotor.


Stef tahu kedatangan Marcho. Dia sendiri diundang karena termasuk keluarga bangsawan dan datang mewakili keluarga Ailiy. Namun, yang menjadi sangat memalukan saat orang-orang menatapnya dan berbisik.


Menghembus napas kasar, Stef tahu dirinya menjadi sorotan utama malam ini, sebagai menantu yang dianggap berkhianat pada pabrik coklat Leora. Belum lagi soal, kedatangan Anna. Lalu masalah suaminya yang justru datang dengan perempuan lain daripada istrinya yang sedang hamil besar. Lebih baik dia menutup telinga dari bisikan jahat mereka.


"Apa karena Marcho tahu pengkhianatan Stef, jadi pria itu berselingkuh," bisik seorang model kalangan atas, yang berada di dekat Stef, membuat Stef sakit hati.


"Apa gunanya kaya, cantik, cerdas, suaminya saja tidak mau menganggapnya hahaha," cibir perempuan lain membuat Stef mencengkeram baju yang dikenakannya.

__ADS_1


Memang siapa yang mau seperti ini, sialan. Bilang aja kalian iri. Batin Stef berusaha menguatkan diri. Dia jadi teringat akan hujatan di media sosial yang sudah membuatnya down.


.


.


“Marcho,” bisik Anna. “Ini takkan berhasil. Stef bahkan sama sekali tidak memandangmu, padahal dia pasti tahu kita di sini.”


“Bertahanlah, An. Tolong bantu aku.” Marcho kesulitan untuk berakting dengan Anna. Anna saja tidak mau walau hanya dipegang tangan.


“Dia sendirian, kau tidak kasian? Dia membawa perut besar begitu. Tiga minggu lagi, padahal mau melahirkan kan?”


Marcho berdecak dan melihat ke sisi lain ada Paman Ketiga yang melirik ke arah sini. Lelaki itu sedang mengawasinya. Tunggu. Mata Marcho melebar, di belakang Paman Ketiga, ada David diikuti Kakek Leora. Ah, lagi-lagi ada Sean!


“Ayo, kita temui Shinta dan segera pergi.” Marcho mengayunkan kepala ke depan, menyilakan Anna maju lebih dulu.


“Oh, ada Anna rupanya.” Paman Ketiga menyapa dan Marcho menatap dingin pada pria bermuka dua itu.


“Paman Josh.” Anna berusaha menyapa.


“Cantik sekali, cocok.” Paman Ketiga tersenyum pada Anna dengan mengayunkan pandangan pada Marcho. “Kalian cocok,” katanya lagi menerangkan dan tampak mata Anna berkedut.


“Kau tidak lihat ada Stef? Kau tak menemuinya, membawa bersamamu dan meninggalkan penjual kurma.” Leora dengan sindiran ekstrim ke Marcho, tidak suka melihat Anna dibawa ke circle ini, yang dianggapnya sangat tidak pantas. “Memalukan,” kata Leora tanpa bersuara dan menatap jijik pada Marcho.


Sebuah genggaman tangan Marcho membuat Anna terkejut, ingin dia melepaskan diri. Kalau bisa pergi saja dari tempat ini.


“Oh, istriku, rupanya dia di sini. Bahkan, dia tidak memberitahuku loh.” Marcho menggigit bibir bawah. Kakek selalu bikin bete.


“Bagaimana kau akan diberitahu? kalau kau sibuk -dengan orang yang tidak penting. Kacau. Jika aku di berada di posisi Stef, kurasa aku juga malas hanya melihatmu, Bajing*n!” Leora berdecak kesal bukan main dan menatap tajam pada Anna sambil berkata. ”Ada yang tidak tahu malu di sini.”


“Cukup Kakek! Tidak bisakah anda diam!” bentak Marcho, mengambil alih semua tamu undangan dan khususnya Shinta.


Marcho sangat buruk dalam pengendalian emosi tetapi kakeknya selalu menyudutkan Anna, yang paling membuatnya tidak suka. Padahal, Marcho sedang minta tolong pada Anna.


“Beraninya, kau seperti itu, pada Kakekmu. Terus membela penjual kurma. Siapa dia membuatmu seperti ini? Kurang ajar,” geram Leora sambil mengepalkan tangan di tongkat hingga cincin di telunjuk begitu terpelintir.


Pria tua yang selalu dipandang pandang penyayang oleh khalayak itu berdecih, sampai orang-orang terkejut melihat ekspresi pendiri pabrik coklat, yang baru dilihat mereka.


Harga diri Leora merasa diinjak-injak di sini, dibentak oleh cucu yang selalu membuat malu di depan kalangan atas. Bahkan oleh sang cucu yang akan digadang-gadang akan memegang kepemimpinan Xaverio Grup selanjutnya. Benar membuatnya kecewa.


“Sepertinya, aku salah memilihmu, ya? Kau bukan lelaki bertanggung jawab. Keluargamu sendiri selalu kau nomer duakan, das*lar cucu tidak becus. Diberi kepercayaan, malah kau permainkan?” suara Leora bergetar terdengar teredam. Mungkin saking lelahnya dengan sikap Marcho. "Masa bodoh denganmu sekarang, lakukan sesukamu. Keluar dari keluarga Xaverio. Kupikir Ayah Xaver juga kecewa memiliki keturunan sepertimu!"


Bibir Marcho berkedut. Embun bening melesak ke pelupuk mata. Tega sekali kakek mengucapkan itu, setelah selama ini terlalu mengatur hidupnya. Tangan terkepal sampai berbunyi gemertuk, bahkan usapan Anna yang biasanya mampu meredam kekecewaan, kini tak berhasil.


"Ya, aku bukan, keluarga Xaverio maupun Leora. Aku hanya anak tidak tahu diri. Walau dilahirkan di keluarga sempurna, sayangnya aku juga hidup dalam bayangan semu selama ini. Tidak ada yang mau mendengar apa mauku dan keinginanku. Khususnya anda tidak peduli dan mau melihatku secara murni sebagai seorang anak yang normal dan memiliki keinginan." Marcho menunjukkan dada sendiri dengan penuh emosi. "Di sini, anda tidak melihat keinginanku di dalam ini. Anda menjalankan semua sesuai keinginan di kepala Anda. Menganggap aku menyukai coklat, padahal dari kecil aku benci makanan manis! Sama seperti kepura-puraan berlapis gula yang anda gaungkan di depan khalayak m Omong kosong! Kenyataan kita semua tak pernah akur selain berkompetisi?"


Plak!


Marcho menganga, mengelus pipinya yang panas, mencoba tersenyum di tengah hati yang berantakan. Sakit bukan main. Dia melirik David yang tampak kasihan padanya.


" .... " Marcho melihat ke arah Stef, dan hampir-hampir dia menangis saat mendapati tatapan Stef, tampak tetesan embun bening itu jatuh. Ya dia tahu Stef masih mencintainya, kan! Kenapa meminta cerai kalau masih cintax keras kepala! Memelintir bibir, Marcho melirik Anna di samping, yang malah tampak tertekan.


Marcho sampai tidak tahu, tangannya atau tangan Anna yang gemetaran. Dia tak bermaksud membawa Anna pada situasi ini. Padahal, kedatangan ini juga harapan terakhirnya untuk menahan Stef. Tetapi semua sekarang seperti hancur berantakan. Tak ada yang mau berdiri di sisinya, selain Anna.


"Sean ikut aku!" geram Leora setelah meludah ke sepatu Marcho.


Sean mendapat tatapan tajam dari Marcho lalu mengikuti Kakek Leora untuk menjauh.


Ana melihat ke sudut kanan dan tidak sengaja bersitatap dengan lirikan kebencian Stef, yang melihat ke arah tangannya, sedang digenggam Marcho. Ya, sepertinya berhasil membuat Stef cemburu, mungkin Stef akan mengurungkan perceraian sesuai tujuan Marcho.


Anna bersitatap dengan David, tetapi ada yang berbeda dengan David. Terakhir kali bertemu dengan David di Indonesia, lelaki itu masih ramah. Mengapa sekarang dia menatap sekelebat kebencian dari mata David. Apa ini karena dia bersama Marcho. Ya, pasti karena itu. Dia jadi tidak berani menanyakan soal hilangnya Lenna.


“Ck!” David berdecak dan bibirnya berkedut. Rasa kasihan barusan tak bisa menghilangkan kekesalan. Dia menarik tangan Marcho dan berniat memisahkan diri dari Anna.


“Apa?” Marcho menahan tangan David. Dia meraih Anna di tangan kiri.


“Dia takkan terluka walau kamu meninggalkannya lima menit. Kamu sudah mencuri waktuku bukan lima menit, tapi tiga bulan bahkan lebih- YANG SEHARUSNYA AKU BERSAMA LENA.”


“Apa maksudmu, David?”


“Kalau bukan gara-gara dia,” David melirik dengan sinis ke Anna dengan bibir terkatub rapat, hampir-hampir mengumpat Anna.


“Anna itu tidak ada hubungannya dengan hilangnya Lena.” Marcho menggelengkan kepala, tahu pikiran adiknya.


“Sialan, kau memang!” David menahan genangan embun bening yang baru melesak dan mengaburkan pandangan. Semua kemarahan berakumulasi di dalam dada. “Sialan Kau!” David menarik kasar Marcho ke arah pintu, diikuti pandangan orang-orang.


“Hai, Nona Anna. Biarkan saja, itu kan masalah lelaki.” Paman Ketiga menghalangi Anna, yang akan mengikuti mereka. Wanita itu jelas tidak senang. “Tak usah khawatir, sebentar lagi semua juga berjalan seperti biasa.


Senyuman licik pria ekslusif itu membuat Anna tidak nyaman. “Anda harusnya melerai mereka.”


“Itu bukan urusan saya, Nona Anna. Bukannya anda dengar sendiri. Mereka meributkan anda, bukan?” Paman Ketiga tertawa remeh. "Sepertinya, seru jika anda menjadi bagian keluarga Leora. Aku pikir kamu cocok menjadi istri Marcho setelah wanita itu ya," kata Paman Ketiga sambil mengayunkan pandangan ke Stef yang tidak jauh darinya. "Aku menunggu hahaha!"


Anna bergidik. Tampak sekali niat buruk dari mata lelaki itu. Persis seperti sang ayah-Leora, yang baginya begitu sombong.


Setengah pengunjung menuju pintu keluar untuk melihat keributan. Layar proyektor juga menampilkan perkelahian David dan Marcho. Para pengunjung tidak tahu siapa yang memulai, tetapi para tamu justru berpendapat bahwa David tidak terima bila Marcho membawa perempuan lain padahal ada Stef di sini. Dari dulu memang semua orang tahu hubungan Stef dengan David yang dekat, jelas pasti David membela Stef.


“Anak itu, benar-benar. Tahu begitu aku tak perlu mengajak David,” umpat Leora meninggalkan Stef, menuju pintu keluar.


Padahal, Leora belum selesai berbicara dengan Stef untuk meminta Stef kembali ke Xaverio Grup. Namun, jika dia tidak bergerak, tidak akan ada yang bisa menghentikan perkelahian dua orang itu kecuali dia. Bahkan Hans juga bisa kelimpungan, menghadapi dua anak keras kepala.


“Kak Stef ….” Sean ikut sedih karena wajah Stef jadi seperti kusut.


“Bisa kau antar aku pulang?” Stef berjalan ke arah pintu keluar tanpa menunggu jawaban Sean. Dia tahu Sean mengikutinya. Untuk melangkah rasanya sulit, sungguh sepertinya orang-orang senang melihatnya begitu menyedihkan seperti ini 'wanita hamil terlantar'.


“Bantu aku, Sean.” Stef mengulurkan tangan kiri, dia menggandeng tangan kanan Sean setelah pria itu maju ke depan. Tangan lainnya memegangi pinggang. “Tolong jalan sedikit cepat.”


.


.

__ADS_1


Shinta di lantai dua menyunggingkan senyuman melihat dua orang di bawah berkelahi. “Ini hadiah yang sangat indah, George. Hahaha.”


“Apa maksudmu?”


Shinta menoleh ke belakang. “Tara?” Dia menoleh ke sekitar. Sialan, George tidak bilang-bilang kalau pergi. Mendadak senyuman itu pudar. Tara menggangu kesenangan saja.


“Kau menyebut George?” Tara mengernyitkan kening.


“Telingamu salah mendengar.”


“Oh, tapi aku tidak salah kalau aku mendengar tawamu.” Tara melirik ke bawah. Dia menggigit bibir bawah karena tadi, dia diabaikan David. Sampai sekarang sahabatnya itu tidak mau memaafkannnya. “Kau senang melihat mereka berantem?”


“Dari dulu mereka seperti itu, kan? Hallo, apa kau mulai peduli pada David? Dia bahkan membuat masalah di perusahaan ayahmu?”


“Sudahlah, Shint. Kuharap kau bukan penyebab hilangnya Lena. Hanya kau yang punya motif ini kan?"


Deg. Shinta terdiam sesaat. Tulang seperti lolos dari tubuhnya. Dia merasakan kepergian Tara lalu menoleh ke belakang dengan tangan mencengkeram pagar besi.


Dulu Shinta dan Tara pernah bekerjasama untuk menculik Niko di Qatar, menyuruh menjauhkan Lana dari David, tetapi Niko menolak saat itu. Jangan-jangan Tara tahu! Ah, pasti Tara hanya menduga-duga saja, kan?


Shinta kembali melihat ke bawah. Mulutnya ternganga karena kakek tua itu sudah di sekitar David. Dia menunggu, siapa yang kali ini akan dibela Leora.


.


.


“Kalau bukan karena kamu ke Qatar, aku akan menjaga Lena sendiri,” kata David dengan jas formal yang dalam keadaan berantakan. Dua kancing sudah terlepas akibat tarikan sang kakak. Tangannya mencekal leher Marcho kuat-kuat, mengunci sang kakak yang tidak bisa berkutik.


“Sial, kau mau membunuh kakakmu?” cebik Marcho yang dalam keadaan tengkurap tertindih tubuh David, di pelataran. Orang-orang bodoh itu, bahkan tidak membantu memisahkannya dan cuma menonton.


Marcho meraih kepala David, bergeser ke telinga dan rambut David, mencengkeram, tetapi David berusaha menghindar. “Kau senang menjadi tontonan mereka? Huk! Huk! Lepas brengs*k!”


“Seharusnya, kau ikut tanggung jawab! Malah asik di Qatar dan baru pulang?” Tinjuan kuat melayang ke hidung Marcho, disusul Marcho yang batuk tak berdaya memuntahkan darah amis hingga meleleh mengenai tangan David yang mencengkeram mulut sang kakak. Tinjuan kedua penuh kekecewaan mengenai hidung Marcho.


Tangan David bergeser mencengkeram dasi Marcho dengan napas turun naik. Mendekat ke wajah Marcho yang telah ungu menghitam karena hampir kehabisan oksigen dan kini dalam keadaan lemas.


“Bantu aku karena dua bulan lagi, istriku melahirkan! Bila dalam dua bulan kau tidak menemukan Lena. Aku bersumpah membuatmu dan Anna, menyesal!” kata demi kata di David dengan kegeraman dan nafas tersengal.


“Shit!” umpat David karena Marcho hanya batuk-batuk dan dengan pandangan mata itu kabur. Ingin sekali terus menghajar Marcho. Pukulan terakhir di perut Marcho membuat Marcho terkapar dengan mata kiyip-kiyip nyaris tak sadar. David menyingkir dari atas dada Marcho dan berusaha duduk di paving, menggeser kaki yang sakit karena tadi dipukuli Marcho.


Kini David mendapati kakeknya berdiri di depan dengan aura sangat gelap dan mampu membuat dia menciut ketakutan. Dia seperti seekor semut dihadapkan kakek, David yakin karena pembawaan emosional yang dari kecil kakek tanamkan padanya.


Bugh!


David mengemu cairan kental amis dengan rasa besi, lalu meludah ke sisi kiri. Dia mengelus pipi yang ngilu, melebihi rasa sakit akibat pukulan Marcho. Walau, kakek sudah tua, tenaga itu bisa sekuat ini.


Dengan putus asa, David mendongak dan mendapati Kakek yang menatapnya dengan tatapan membunuh, membuat bergidik. Dia menunduk saat tangan kakek melayangkan ke udara, dia ketakutan seperti saat dia masih kecil. Delapan detik tamparan itu tak kunjung datang. David mengangkat wajah dan matanya melebar.


“Kakek, jangan.”


Leora melirik samping dan hidungnya berkedut makin kesal pada orang luar, yang ikut campur ke urusan keluarganya. Tangan terkepal saat Shinta menahannya.


Leora melirik anak buah di ujung, mereka pun mendekat. “Kirim Marco ke rumahnya sendiri. Pulangkan penjual kurma itu ke negaranya dan buat tidak bisa memasuki negara ini lagi.”


“David …. “ Shinta berjongkok dan menarik lengan David agar bangkit, tetapi dia menahan kesal karena David menepis tangannya. Membuat malu saja!


.


.


Stef menghembus napas kasar, menyaksikan tontonan barusan. Dia melanjutkan jalan. Moodnya jadi sangat buruk. Bila pulang ke rumah mama, pasti mama akan menertawakan. Berita kekacauan ini pasti sudah sampai di telinga mama dari para pengawal.


Lagi-lagi David dan Marcho membuat media tidak pernah kehabisan pemberitaan. Tapi bagus menurut Stef, semoga itu menenggelamkan isu yang saat ini soal dia atas tuduhan berkhianat. Yang terburuk, bila issue Anna muncul, tidak enak karena harus menguatkan hati sekali lagi, tetapi mungkin bagus begini untuk alasan perceraiannya. Ya.


Sebenarnya, mama berniat membantu membersihkan nama baiknya, tetapi Stef meminta agar sang mama tidak ikut campur. Dia sudah muak dengan keluarga Leora, karena itu dia menjual sahamnya, dan mulai memikirkan hidupnya sendiri.


Cukup membahagiakan diri sendiri, dengan Romeo, dan putra keduanya nanti. Persetan dengan Marcho yang selalu perkataannya tidak pernah bisa di pegang. Ya, dia takkan bisa menjadi nomer satu di hati Marcho, karena dari dulu memang selalu Ana .... Dan Anna. Mengapa wanita itu terlalu spesial di hati Marcho. Apa yang kau lihat Marcho darinya? Aku menyerah. Terserah kamu, aku tak peduli .


.


.


Di ruangan pribadi. George dan Paman Ketiga bersulang. Lalu masuklah Shinta dengan wajah cemberut dan menghempaskan diri di samping George. Lelaki itu menyodorkan sampanye yang telah diminum sedikit.


“Amore, kau harus bersabar sedikit. Minum.” George menahan gelas diujung bibir Shinta dan wanita itu mendengus lalu merebut gelas dan menyesap secara perlahan.


“Mereka bahkan belum sempat mengucapkan selamat padaku. Siapa yang membiarkan Anna masuk?” Shinta dengan ketus, acaranya jadi rusak.


“Bukannya, ini tujuan kita? Secara tidak langsung. Semakin cepat posisi Marcho bergeser, semakin kita menguasai Xaverio Grup. Semakin hubungan ayahku dan keponakanku berantakan, semakin mereka tidak bisa menem-” Mata Paman Ketiga terpejam.


Nyaris keceplosan, 'semakin mereka tidak akan semakin menemukan Lena' Untung saja, George sempat mendelik dan mengingatkannya. “Ah, aku ingin ke toilet. Pokoknya baguslah.”


“Minum lagi." George mengulurkan gelas selanjutnya.


“Stop, aku harus menyusui.” Shinta mendorong gelas sampanye dan beranjak dari sofa. Lalu menatap George. “Cepatlah pulang, jangan menonjol.”


“Siap, Amore. Besok datanglah ke tempatku.” George mengedipkan mata dengan genit.


...****************...


...🇵🇱Indonesia 🇵🇱...


Di jam empat pagi, Lena menangis tersedu-sedu, mengadakan tangan ke langit. Berdoa dengan putus asa walau di dalam hati yang terdalam, ada sedikit keyakinan jalan keluar. Tiga bulan sholat malam, terus memohon, sampai dia sudah kehabisan energi atas pengharapan.


Dirinya menjadi lelah. Suara burung pagi mulai satu persatu berkicau dan jarum jam panjang terus bergeser. Tendangan bayi mulai menemaninya, membuat semakin enggan beranjak dari sajadah.


Ya Allah aku menyerah.


Tidak, tidak. Aku tidak akan menyerah, bayiku.

__ADS_1


Em, nama. Nama untuk kamu. Nama yang telah papa siakan untukmu. Mengapa aku menjadi ingat itu .... Sepertinya, papamu sangat merindukan kita. Kapan kita bisa berkumpul dengan papa ya, Nak ?


David pasti mencariku. Aku di hutan. Ya allah aku di hutan .... Bagaimana David bisa tahu aku di sini. Aku ingin pulang. Aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang, Ya Allah !


__ADS_2