Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 25 : NAIK UNTA


__ADS_3

Jam enam pagi David telah menyambangi Mess Lena setelah semalam hanya bertemu Lena sebentar. Dia mendapati Ika yang duduk di ruang tamu dan menyapanya.


"Hai, tuan tampan, Lena masih tidur, perlukah aku membangunkannya?" Ika melirik sebentar pada David yang melengos begitu saja dan masuk ke dalam. "Huh, sombongnya. Awas kalau sampai butuh bantuan lagi aku takkan membantumu!"


David melewati kursi yang di duduki Ika, tanpa menggubris gerutuan teman Lena. Pintu kamar Lena pun diketuk tanpa memanggil Lena, cukup lama sampai pintu terbuka. Mata hazel seperempat terbuka. Namun, David terdiam sejenak melihat Lena dari atas kebawah dan ke atas lagi hingga terhenti di dada dan berlama-lama tak berkedip.


"Apa si Ika?" Lena menggosok matanya yang berat. Bahkan dia jalan dengan sering terpejam. Namun, temannya tak menjawab, hingga Lena memaksa membuka mata lebih lebar.


"Ahhg!" Gadis itu membulatkan mata begitu itu adalah seorang pria dan langsung loncat ke belakang dengan secepat kilat. Dia berusaha meraih selimut tetapi terlambat.


Langkah kaki panjang David makin cepat dan merengkuh Lena dari belakang, tanpa menutup pintu. "Pagi, bidadariku, kamu cantik sekali."


"Seksi," bisik David sambil tertunduk di atas kepala Lena. "Kamu mungil sekali si?"


"Ngapa pagi-pagi amat." Lena yang belum kumpul nyawanya, masih mencoba loading. Dia pikir itu Ika. "Masih pagi nggak usah main asal peluk."


David menikmati suara serak Lena, dia melepas gadis itu yang langsung loncat dan meraih selimut untuk menutupi hingga cuma menampakkan kepala. Tentu saja David telah merekam bentuk indah di balik singlet longgar satin ungu tanpa b.r.a, dan celana pendek sangat pendek dan membuatnya makin bergair4h. "Jalan-jalan, yuk. Tidak akan ada yang mengganggu waktu kita lagi mulai sekarang, termasuk kakek."


"Tapi aku mau pergi sama Ika." Lena masih berdiri dan melangkah limbung mencari pakaian di lemari. "Aku mau naik unta dengan Ika dan Rafa."


"Kemari, sayang .... " Suara David serak karena melihat tumit indah Lena yang satu terangkat, hingga menampakkan telapak mungil yang berwarna merah.


"Aku belum sikat gigi." Lena menggelung pakaian inti di dalam kaos. Lalu berbalik dan terhipnotis pada tatapan memohon David. Dia pun berdiri di depan David, dan masih tak bisa mencerna saat jari telunjuk pria itu membelah belahan selimut, lalu mulai berjalan di leher dan ke bawah, hingga memisahkan cengkeraman tangan mungil dari ujung selimut.


Lena dan David menelan saliva dengan gugup secara hampir bersamaan karena mata David tertuju pada dada kiri yang tak tertutup selimut. Pria itu begitu menatap penuh minat di sana, seolah dari tatapan itu pria itu bisa memandangi isinya. Wajah Lena menghangat dan langsung menutupi mata David dengan tangan kiri. Dia dapat merasakan napas David yang makin berat dan cepat.


"Uh kenapa kamu tutup, Sayang." David tertawa berat dan pelan. "Na, singkirkan tanganmu dari mataku."


"Aku mandi sebentar, kamu tunggu di luar." Lena dengan suara serak saat dua tangan David meraba perutnya dan membuat geli. Dia langsung berjalan terbirit-birit ke kamar mandi, dengan jantung yang berdebar-debar dan sangat malu.


David menghirup napas dalam -dalam setelah kepergian Lena. Seiring suara air mengucur dari shower, pikirannya melalang buana pada air yang mewati bahu indah, lalu turun terus. Oh Otaknya semakin tak terkendali hingga David berjalan ke arah pintu untuk membuang pikiran ca**bulnya.


Di ruang tunggu, David sudah menjumpai seorang pria tengah duduk di samping Ika dengan sibuk menunjukkan sebuah foto, hingga mereka tak sadar dengan keberadaanya. David duduk di depan mereka, membuat pria berambut keriting itu, melirik ke arahnya sejenak dan detik berikutnya kembali asik dengan ponsel.


"Ika?"


Gadis itu tak menggubrisnya, tadi dia sudah diabaikan oleh David. Sampai tuan kaya itu terus memanggilnya dengan geram dan Rafa langsung bertanya. "Apa masalah bila kau berbicara dangan santai?"


David terkekeh geli. Dia mengulurkan tangan ke depan. "David Leora, pacar Lena."


"Pacar?" Ika lalu tertawa geli.


"Anda bermimpi?" tanya Rafa tak percaya. Namun, dia menyambut tangan pria itu. "Rafa."


"Aku mandi dulu." Ika bangkit dan meninggalkan ponselnya di tangan sang pacar, lalu beralih pada David. "Hei, Tuan David, jangan macam-macam pada pacar saya, atau kuadukan kamu pada Lena."


Rafa terkekeh, dia menggedikkan bahu saat David menatapnya dengan tajam. David banyak bertanya pada Rafa, tak perlu waktu lama dalam sepuluh menit mereka sudah akrab, karena Rafa berasal dari Spanyol dan bergerak di industri makanan juga. Ternyata Rafa juga baru berpacaran dengan Ika.


Ketika Lena ke kamar Ika, temannya itu sedang berdandan. Para perempuan keluar dari kamar dan tertegun karena David dan Rafa kini duduk berdampingan sambil tertawa. Lena dan Ika saling berpandangan dengan penuh tanya. Mereka ber empat pun bergegas menuju ke tempat tujuan.

__ADS_1


Sebelumnya, Ika protes pada sang pacar saat Rafa mengemudi mobil yang di sewa. Namun, Rafael mengingatkan, bahwa tak masalah menambah teman. Akhirnya, Ika makin bete, gara-gara diabaikan David tadi pagi karena sikap sombong David yang tak membalas pertanyaannya, bikin keki.


"Temenku Amar juga akan ikut," kata Rafael. "Kita bertemu di sana."


"Terserah," gerutu Ika sambil chat dengan Lena.


-Kapan kamu jadian?- (Ika)


-Semalam. Kenapa- (Lena)


-Yakin David bukan mata keranjang. Nanti kalau Shinta marahin kamu lagi, gimana?- (Ika)


-Lawanlah- Lena menggunakan emoticon tertawa. (Lena)


-Gue bantuin!- Ika menggunakan icon acungan jempol.(Ika)


...----------------...


David dan Rafa membayar 100 Riyal Qatar atau sekitar 430 ribu rupiah dengan durasi 20 menit, untuk masing-masing unta.


"Luar biasa, aku merasa sangat tinggi,” kata Ika setelah unta yang ditumpanginya berdiri. Matanya berbinar terus melempar senyum secara bergantian pada Lena dan Rafa.


Lena naik ke unta yang tengkurab, lalu unta itu bergerak ke atas. Wah benar-benar terangkat tinggi. Lebih tinggi dari yang aku kira. Lena berpegangan kuat di depan karena taku jatuh.



Ketika David baru Naik, Lena berpaling ke suara di belakang. Niko baru saja turun dari mobil yang masih menyala. Lena dan Niko sempat bersitatap dengan penuh debaran, tak menyangka akan bertemu. Pandangan dua orang itu lalu teralihkan pada Marsha yang baru turun dan langsung bergelayut manja pada Niko.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya David di punggung unta yang bersebelahan dengan kekasihnya. Dia risih karena Lena tampak memelintirkan bibir dengan mata terus membesar dengan tidak suka ke arah Marsha. "Apa kita batalkan?"


Lena menggelengkan kepala ragu. "Untuk apa batal?" jawab Lena dengan nada kesal dan makin meninggi saat Niko membantu menutup dress putih Marsha yang sempat tersingkap ke atas.


Uh! Pegang-pegang, ternyata begitu, ya? batin Lena dan beralih ke David, saat pacarnya menyuruh si penarik unta agar berangkat.


Niko mengabaikan Marsha yang terus mengajaknya bicara. Kini Amar berjalan paling depan di sisi Rafa, dia tak menyangka Rafa itu pacarnya Ika. Jika tahu begini, dia takkan mau diajak kemari. Dadanya bergemuruh karena dari belakang sini dia bisa melihat cara pria asing itu memandang Lena. Sungguh terlihat pria itu mencari perhatian pada Lena.


Perjalanan Niko menjadi sangat tidak enak, naik unta saja sudah sakit, dia harus melihat orang yang dicintainya dengan pria lain. Dia selalu hampir berteriak saat David sekadar menyentuh bahu Lena dan Lena tampak terus menghindar, tetapi penuh tawa. Dia bahkan jadi terbayang pria itu mencium Lena, itu sangat meruntuhkan rasa cintanya yang telah tumbuh, setelah naksir Lena sejak Niko kelas dua SMA.


Sekali lagi Niko sangat menyesal. Seharusnya dari awal dia tidak perlu menerima tawaran kakaknya Marsha. Namun, jika tidak begitu, tabungan untuk pernikahannya dengan Lena, tak kunjung penuh. Padahal dia ingin pesta pernikahan yang patut. Tapi apa ini, uang 7 juta yang adalah uang yang diberikan dari kakaknya Marsha, justru membuat hubungannya kini hancur.


Jika bukan karena Marsha yang suka delusinya kambuh, pasti dia akan mampu menjelaskan pada Lena dengan penuh keterbukaan sekarang. Namun, apa Lena mau mempercayainya? Atau dia harus bersabar seperti kata Amar, yang menyebut bahwa Lena dan pria itu akan segera berjauhan setelah pesta bola ini selesai. Jadi, dia tidak perlu menceritakan soal David pada Sean, kan?



Lena baru duduk di lesehan dan beristirahat dengan David, lalu minum minuman rempah khas Qatar di dalam salah satu tenda. Perempuan itu masih tertawa karena cerita David soal Wazir. Begitu juga Rafa dengan Ika, ikut tertawa ringan menanggapi Sikap David yang keterlaluan karena meninggalkan Wazir di gurun siang-siang demi menunggu ayah Wazir menjemput Wazir. Sementara David naik unta sendirian.


Niko yang baru masuk terkesiap mendengar tawa Lena yang tanpa beban. Sampai Lena menoleh ke belakang, dan bersitatap lagi dengannya. Lagi-lagi Marsha menyusul dan mendekapnya dari belakang, hingga mata Lena langsung berkedut dan melongo tampak geram. Niko dapat menangkap perubahan wajah Lena yang kini tertekuk. Begitu juga dengan David. Dia kini mendapat tatapan tajam dari orang-orang di dalam tenda.


Lena menatap David sebentar, dia bangkit karena ruangan tenda ini menjadi sangat sesak. Dia berlalu saja tanpa melihat Niko lagi, bahkan Lena sempat menabrak kasar Niko yang menghalangi jalan. Suara manja Marsha sangat mengiritasi hatinya. Dia berjalan di bawah teriknya matahari jam 10 pagi dan membuang nafas panjang berulangkali untuk membuang dadanya yang terus begitu sesak.

__ADS_1



Mencoba tersenyum, Lena tanpa sadar mengikuti orang Badui yang akan menerbangkan Elang. Dia tidak mau menoleh ke belakang, dan rasanya ingin segera pergi dari tempat ini, sejauh-jauhnya.


Niko berbalik saat Marsha telah duduk dan berbicara dengan Amar. Dia melihat di kejauhan ke arah Lena dengan tatapan nanar. Ingin sekali meraih tangan mungil itu, menggenggamnya. Memikirkan itu membuat jantungnya berdebar makin kencang.


Ingin sekali membisikan kata-kata lembut, lalu melihat senyuman terindah Lena- yang pernah dia jumpai hanya padanya. Niko menjadi sangat merindukan waktunya berdua dengan Lena. Namun, dia harus bersabar dulu.


Karena Niko yakin Lena akan mengerti. Namun, kakinya tidak patuh dan terus bergerak keluar dari tenda dan semakin cepat seakan tubuh ini sudah mengenali pada tujuan hidupnya. Ingin dia memeluk tubuh mungil itu saat melihat rambut sepunggung Lena yang tergerai terbawa angin. Mengapa Lena tak menutupi lehernya, bukankah aku pernah menyuruhnya?


"Jangan." David menarik lengan Niko dan menatap tajam netra coklat. "Kami itu sekarang pasangan kekasih. Sedangkan, kamu adalah orang asing bagi Lena."


Kata-kata David adalah tamparan keras untuknya. Pria Jakung itu menghampiri Lena dan Niko makin membeku. Niko menunduk dan mengusap air mata kepahitan. Bibirnya terus berkedut karena marah dan kembali memikirkan ucapan Shinta. Hanya usulan Shinta yang akan membuat David pergi jauh-jauh dari Lena.


Lalu nanti apa pendapat orang tua Lena, terutama Sean yang akan sangat kecewa padanya. Tidak. Sean adalah sahabat terbaiknya. Dia takkan mengecewakan Sean.


Niko kembali ke tenda dengan wajah suram dan pandangan putus asa pada Amar, yang tahu soal hidupnya. Sahabatnya itu juga menggedikan bahu, seakan tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Mata kamu merah?" Marsha tersenyum hangat dan mulai menyentuh pipi Niko, tetapi langsung ditepis Niko.


"Sorry, Sha. Ini gatal." Niko hanya meraih kasar gelas yang diberikan Marsha.


Ika saling berpandangan dengan Rafa. Ika menjadi bersimpati dan kasihan pada Niko. Rafa juga tahu hubungan mereka, karena Ika sangat terbukan padanya soal Lena, teman barunya.


Udara diluar walaupun terik, tetapi menyenangkan. David yang baru memakai sarung tangan, lalu mengangkat lengan dan menerbangkan Elang. Dia tak ingin Lena terfokus pada Niko. "Kamu lihat, Len. Kamu mau mencoba?"


"Ahhh kerennya." Lena membulatkan mata pada Elang yang terbang menjauh berputar-putar di langit biru tanpa awan. Dua sudut bibir Lena terangkat dan dia bertepuk tangan dengan riang karena Elang dari ketinggian menukik tajam ke arahnya dan kembali ke tangan David membuat Lena tertawa.


Perempuan itu tak menyangka, kenapa burung itu kembali dan tidak pergi padahal bisa terbang. "Aku mau coba, Dav!"


David tersenyum penuh kehangatan dan memberikan elang itu pada orang badui. Dia bersitatap dengan Lena dan saling melempar senyum gereget karena Lena tampak tak sabar saat dia memindahkan sarung yang tadi terpasang di tangannya kini dipasangkan ke tangan mungil. "Kamu cantik."


Lena menyipitkan mata malu, lalu membuang muka ke kejauhan pada dataran pasir dan hanya ada pasir. "Kamu juga ganteng, Mas."


"Tunggu. Apa itu 'Mas' Kenapa kamu selalu menyebut 'Mas' " David dengan satu alis terangkat dan jantungnya kain tak tentu. Huh dia bisa serangan jantung tiap kali menunggu jawaban dari Lena, takut bila jawaban itu tak membuatnya senang. Tangan David selesai memasangkan sarung.


Lena tertawa geli saat Elang itu berpindah ke lengannya. "Mas geli!" Lena tertawa lepas. "Kamu ambil lagi ini, tolong! Apa dia tidak akan mematukku?"


"Uh!" Lena melirik lengan panjang David dan David sudah di belakangnya, untuk membantu dia menggerakkan lengan mungil. Mata Lena terpejam saat David memeluk perutnya. Dia merasakan udara di depan wajahnya dari kepakkan sayap Elang yang lepas landas.


Lena mendongak untuk mengikuti arah terbang Elang hingga dia melihat wajah David di atasnya yang tersenyum dengan wajah merah sepertinya karena kepanasan. Jantungnya sepertinya tak normal dan dia baru sadar pada posisinya yang terlalu dekat. Perut panas David di punggungnya. "Aku jadi ingin seperti burung dan terbang bebas, Mas."


"Mas itu apa?"


"Mas itu panggilan sayang." Lena terkikik ingin mengerjai David yang kini wajah tampan itu memerah dan begitu menggemaskan.


"Kalau gitu panggil aku Mas!"


Lena dan David tertawa, tetapi tapi mereka terhenti sesaat karena burung Elang sudah mau kembali ke tangan Lena dan David mengarahkan dengan sigap dan menarik Lena sedikit mundur takut ditabrak Elang, hingga mereka jatuh tersungkur di pasir dan Elang itu terbang. Lena tak sengaja bertumpu di atas perut David yang keras. Uh jantungku seperti mau copot Lena memandangi David yang setengah duduk dan menatapnya tajam.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2