
David menunggu di ruang kerja kakek siang itu. Jari-jarinya terus mengetuk meja dengan bosan hingga sang kakek akhirnya melangkah masuk ke kantor, tampak penuh waspada. Seorang anak buah kakek, mengulurkan surat salinan - pengajuan penjualan saham Xaviero Grup milik David.
Leora menatap dengan tidak senang ke arah kertas di depan meja, yang cuma dilirik sang cucu. "Kau jual sahammu pada mereka yang selalu menentang kepentingan perusahaan? atau ini semacam peringatan?"
David tersenyum masam. "David tidak pernah main-main pada ucapan yang keluar dari mulut David. Bagus bukan, jika kakak ipar membelinya. Bukankah Kakakku akan senang karena mendukungnya? Toh aku juga sibuk pada perusahaanku sendiri. Belum lagi hotel milik Papa. Aku bosan dan ingin penyegaran."
Leora mencengkeram pegangan kursi kuat-kuat. Dia seperti tidak mengenali sosok cucu tersayangnya. Jelas sang cucu menghalangi jalannya untuk membongkar korupsi yang dilakukan keluarga Luigi dalam pemerintahan.
Padahal Leora bermaksud akan mengambil suara dari para pendukung Luigi untuk Marco, kakaknya David yang sedang maju di pemerintahan. Lalu Xaviero Group, perusahaan industri makanan ringan, terutama pabrik coklatnya, akan diserahkan pada David tanpa gangguan dari Marco.
"Aku akan melamar Lena, dengan atau tidak persetujuan dari kakek. Aku bebas memilih kehidupanku dan aku tidak harus menikahi Shinta. Mulai sekarang aku bukanlah cucu Kakek karena Kakek benar-benar membuatku kecewa. Segera sore ini, Keluarga Luigi akan tahu betapa bejat kelakukan putri kesayangan mereka."
David berkata dengan menggebu-gebu. Dia ingin kakeknya itu tahu betapa kecewanya dia pada kakek yang lebih mengutamakan kepentingan Marco dan mengorbankan kehidupannya. Jelas, kakeknya tak menganggap dia manusia. Daripada dia dianggap sebagai alat, lebih baik tak dianggap pernah lahir ke dunia saja sekalian.
David menghela nafas berat saat melihat tatapan terkejut dan penuh luka di mata sang kakek. Dia meninggalkan sang Kakek dengan wajah suram. David tahu kakeknya sangat mencintai dia, sampai dia selalu mendapat tatapan tidak suka dari Paman dan Bibi yang selalu merasa terancam posisinya karena keberadaan dia di Xavierio.
Anak-anak mereka (paman dan bibi) kalah Pamor dan kalah pintar dari otaknya, yang selalu membuat perusahaan selalu meraih keuntungan berlipat-lipat. Sedangkan yang lain, mereka lebih hobi menghabiskan uang daripada memutar uang itu sendiri.
"Maaf Kek, kali ini kakek sudah keterlaluan. Aku juga manusia yang menginginkan kebahagiaan, sama seperti kakek," ucapnya sebelum menutup pintu ruang kerja.
Bahkan David masih bisa menangkap mata biru kakeknya yang berembun. Tentu saja ini semakin menghancurkan hatinya. Dia akan berkorban untuk siapa yang mau berkorban untuknya.
David tidak akan mengorbankan kewarasannya hanya untuk membahagiakan orang lain. Kebebasan adalah segalanya. Kebebasan adalah kebahagiaan. Dengan kita membahagiakan diri kita sendiri, baru kita bisa menebarkan kebahagiaan ke banyak orang.
Begitulah prinsipnya, dia tidak mau dibodohi orang atau dimangfaatkan orang. Biarkan orang mencarinya dan membutuhkannya. Maka, dari itu dia sempat tidak terima bila ada seorang gadis mini, bahkan tak membutuhkannnya sama sekali. Tapi, siapa sangka, dia melanggar prinsipnnya sendiri untuk Lena. Astaga otaknya seketika melalang buana.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain sore itu David baru selesai melakukan meeting dengan Jefri, seorang anak buah Mafia yang mempunyai banyak akses orang-orang penting di Indonesia. Sebuah kerja sama baru saja di tandatangani. Dia akan membuka bisnis baru di Bali tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia berhasil mendapat pinjaman bank untuk mengakuisisi sebuah pabrik makanan yang telat pailid.
David sekalian akan menghabiskan waktu di Indonesia untuk mengambil hati kedua orang tua Lena sambil berbinis. Menurut informasi yang dikumpulkan, kedua orang tua Lena sangat ramah, jadi dia meyakini akan mudah mengambil hati mereka. Jika Sean yang orangnya keras, mungkin dia perlu memikirkan cara lain.
...----------------...
Mata Lena berbinar setelah baru saja mengantongi tanda tangan Mbape, kesayangannya, di kaos milik sang kakak. Jam tugasnya telah berakhir, Lena berjalan dengan mengamati fotonya dengan Mbape.
"Bagus, Ya?"
Lena mendongak dan terbelalak di parkiran Stadion. Dia meneliti wajah tampan sang mantan. "Niko, kamu kemana saja?" suara Lena dengan sendirinya berubah lembut saat Niko langsung meraih ponsel Lena.
"Belum. Katakan kamu kemarin-kemarin ke mana?" Lena seperti lupa dengan kemarahannya terhadap Niko dan dia menjadi berdebar-debar penuh tanya.
Niko memutar matanya dan tersenyum hangat. Namun, begitu melirik layar wellpaper, Oppo terlepas dari tangannya dan seketika terjatuh di paving. Dia bagai disambar petir di siang bolong. Dia tahu Lena hanya mencintainya, tetapi mengapa Lena bisa berubah sesingkat ini.
Ucapan Shinta sepertinya bukanlah hal main-main, dan membuatnya tak tenang. Dia membungkuk dan merebut ponsel yang baru diraih Lena. Alis Niko berkerut sangat dalam.
"Apa ini, Lena? Ini tidak mungkin! Setelah dia menciummu dengan paksa, bukannya itu menjelaskan bahwa dia bukanlah pria sopan."
"Ganti ini Lena, mengapa kau bahkan mau berfoto dengannya?" Niko dengan cepat membuka setingan welppaper, tetapi tangannya ditahan tangan mungil. Dia mengatubkan bibir dengan geram. "Lepas, kamu seharusnya menjauhi dia!"
Lena tak sengaja melirik di kejauhan pada sosok David berlatar langit malam yang menuju kemari, membuat wajahnya kian menegang. "Kamu yang lepas, dia pacarku, Niko. Kamu urusi calon istrimu sendiri dan larang dia datang ke messku."
__ADS_1
"Tapi dia bukan, bukan-" Niko menggigit bibir bawah begitu Lena mendapatkan ponselnya dan David tampak baru datang menatapnya dengan tajam. Dada Niko bergemuruh, apa dia harus menuruti usul Shinta. Bukannkah itu terlalu kejam, bila sampai dia harus mengambil kesucian Lena.
"Bukan apa? Tak bisa Jawab kan?" Lena meninju dada Niko hingga terdorong saking kecewanya. Dia berbalik meninggalkan David dan Niko begitu saja, menuju bis dengan terus mengelapi sesuatu dingin yang baru mengalir di pipinya.
Bis itu jalan, dan Dia melihat David yang mencari keberadaanya hingga David menemukannya dan berusaha mengejar, tetapi bis makin melaju kencang.
"Permisi .... "
Lena menoleh ke kanan pada seorang gadis yang mengulurkan sebuah tisu di tengah perjalanan dan menunjuk pipinya.
"Terimakasih." Lena berusaha tersenyum tulus dan mengelap ujung mata serta ingusnya. Ini sangat memalukan. Dia pasti terlihat begitu menyedihkan saat ini.
Sesampai di ruang tunggu mess, Lena terbelalak, karena David tiba lebih dulu. Netra deepblue itu dingin hingga Lena semakin merasa bersalah. Dia dengan ragu duduk di samping David dan langsung merengkuh dada kekar. Dekapan tangan kekar memerangkapnya dengan bau citrus. Seakan tahu, David hanya diam dan mendekap tubuh hangat Lena lebih dalam dan makin mengendus bau kenanga yang sedikit bercampur asam.
Axel keluar dari ruangan, dan menunggu di luar gerbang. Dia baru saja mendapat laporan bahwa rekaman cctv di kamar David yang telah di blur di area tertentu oleh ahli IT perempuan, telah membuat gempar keluarga Luigi. Tentu saja dia tahu, karena seorang mata-mata telah di kirim sebagai pelayan di rumah itu.
Saat Axel akan masuk mobil, dia mengurungkan niatnya dan mendekati mobil yang baru datang. Dia mengetuk kaca samping di kursi sebelah pengemudi. Axel pun duduk kursi depan, setelah Niko membuka kunci.
Tanpa basa-basi Axel menawarkan posisi penting di sebuah perusahaan, dengan syarat Niko menjauhi Lena. Dia memberi waktu Niko berpikir dan meminta Niko pergi dari tempat ini sekarang.
Tangan Niko terkepal pada kesombongan orang-orang kaya. Mereka pikir bisa menghalalkan segala cara dengan uang. Mereka pikir bisa mudah menyingkirkannya dari Lena menggunakan uang. "Sangat naif."
...----------------...
__ADS_1