Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
CAIRAN KIMIA


__ADS_3

David duduk di kamarnya. Dia melirik botol rum di atas meja, meraihnya. Dia membuka tutup botol itu, sambil berpikir kira-kira siapa yang dia lihat di rumah Marcho?


Arah tembakan di punggung Marcho, mengisyaratkan bukan pria bertopeng yang menembaknya. Dua orang itu pasti berhubungan.


Lalu pria tua di rumah sakit, yang tertangkap masih belum mau mengakui di suruh siapa. Marcho nyaris meregang nyawa kedua karena kehabisan oksigen.


Aku sepertinya, harus mulai memperhatikan Marcho. Kasian sekali.


Ponsel berdering, David menaruh botol rum sebelum sempat meminumnya. Dia melirik nama Anna di layar ponsel. Tangannya meremas, tetapi dia sudah berjanji agar ada untuk kakaknya.


"Hallo, Dav," suara Anna tampak sungkan.


"Ya .... "


"Apa benar Marcho di rumah sakit?"


"Siapa yang memberitahumu .... "


"Teman Marcho .... Aku tahu kau marah. Gara-gara aku, Lena menghilang. Tapi Dave, aku melihat salah satu penculiku muncul di tempat Shinta saat pesta itu."


David memutar mata, sepertinya ini tak penting.


"Aku merahasiakan ini dari Marcho. Itu, apa kamu tidak mencurigai Shinta? Apa penculikku tidak ada hubungannya dengan Shinta?"


"Sekarang kamu menuduh Shinta." David menghela napas kasat dan meraih botol rum. Dia akan menenggak.


"Dav, aku memiliki datanya, aku tidak yakin. Orangku akan mengirim data itu ke nomer Axel. Aku perlu meminta ijin mu, karena orang itu sekarang di Indonesia."


David menelan saliva dan menaruh botol rum lalu menutupnya. "Indonesia-"


"Tiket penerbangan ke Kalimantan Timur. Bukankah itu tempat Lena menghilang?"


DEG. Mungkin itu hanya kebetulan.


"Kalau begitu akan ku kirimkan sekarang. Ngomong-ngomong, bantu aku menjenguk Marcho diam-diam, aku ingin melihatnya, Dave." Anna terdengar khawatir dan nada memelas.


"Okey, akan ku atur. Jangan telepon aku sampai Axel mengatur segalanya untukmu." David mematikan telepon karena dia masih sebal dengan Anna.


Keluar dari kamar, Axel nyaris menabraknya. David hampir mencengkeram kepala Axel dengan gemas.


"Dia mengakui, Bos."


"Siapa yang menyuruh?"


"GEORGE .... "

__ADS_1


David berbalik dan menatap mata Axel.


"George?"


*


*


Niko masuk ke dalam rumah George, setelah penjaga mengijinkannya masuk. Dia menunggu di markas di sekitar rumah besar itu karena George sedang ada tamu.


Masuk ke dalam rumah besar itu, Niko mendapati seorang pelayan tengah membawa minuman kesukaan George. Lalu mengikuti pelayan itu dan berhenti dengan menjaga jarak


Begitu pelayan itu pergi, Niko mendekat dan mengintip George di sela ukiran kayu. Dia mendapati pria tua yang entah siapa.


"David sudah semakin gencar mencari pelaku, kita tidak bisa tinggal diam," ucap pria berusia lima puluhan yang berpakaian ekslusif.


"Tenang, aku menanganinya."


"Kudengar kau memperkerjakan Niko dia anak baru? Bukankah kau banyak profesional, suruh mereka mengatasi David secepatnya."


Geroge tertawa remeh. "Semua anak buahku sedang dimata-matai David dan Paolo. Aku tak mau mengambil resiko."


"Niko itu membuat kekacauan. Kau tidak profesional lagi. Aku akan menyingkirkan Niko, setelah dia menyingkirkan David."


"Sabar? Lalu pria bertongkat itu seperti harimau, siap memporandak-porandakan kita semua, bahkan kau, kau Geroge."


"Dia ayahmu, aku banyak kesulitan karenanya. Bisnis harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bersabarlah sedikit."


"Saya tidak mau ada pria Asia lagi dalam rencana ini. Kau ganti atau saya jalan sendiri?"


Niko melirik koper yang baru didorongkan pria itu.Tampak George membuka koper berisi map, lalu George tampak senang.


Niko menjauh dan mencari kamar George. Jika dilihat dari peta yang telah dipelajari benar, lantai delapan posisi kamar itu.


Lagi-lagi balkon. Bedanya kali ini, dia memakai sarung wajah, berjalan lewat balkon kamar lain yang tidak terkunci, lalu berjalan menyamping di sisaan cor selebar 20 cm tanpa pengaman. Terus bergeser sejauh tiga meter. Niko naik ke pagar ke balkon kamar George.


Di dalam kamar, Niko mencari sesuatu. Dia menyuntikkan sesuatu ke dalam pasta gigi. Lalu keluar dari ke kamar mandi dan meninggalkan kamar itu dengan berusaha tidak meninggalkan jejak.


Di lantai satu, Niko membuang gumpalan sarung tangan, sarung wajah dan jarum suntik ke closed.


Dengan sabar, Niko menunggu di markas sampai di datangi George. Pria pirang itu menyalahkannya karena mengira dia yang menembak Marcho, walau George tetap senang. Padahal, bukan dia yang menembak Marcho.


"Akan kumaklumi, tapi waktumu sisa tiga hari atau kuanggap kau tak becus, mengerti?"


Niko mengangguk mengerti. Dia bergegas keluar dari rumah George karena sakit ditangannya yang terasa terbakar. Dia ke tempat Emma. Ketika masuk ke dalam, pas sekali Emma keluar dari kamar mandi!

__ADS_1


Wanita itu syok karena cuma pakai pakaian tidur tipis. Dia kemudian berlari ke tempat tidur dan langsung berselimut, memakai cardigan tidur di dalam selimut.


"Jadi begini?" Tanya Emma denga marah. "Caramu memasukan surat ke dalam tasku?"


Niko menjatuhkan diri di karpet empuk dengan masih memakai sepatu. Alih-alih menjawab, Niko gelisah dengan cairan yang dimasukkan ke dalam botol rum di meja David. Nanti, Emma tahu dia pelakunya jika terjadi sesuatu dengan David.


Niko meringkuk menghadap sprei kasur.


"Kenapa kamu tidur di bawah, apa kamu berbuat sesuatu?" Tanya Emma dengan penasaran. "Niko, jawab aku!"


"Saya tidak tahu," suara Niko tertahan dan mata dalam keadaan terpejam.


"Kamu tidak membawa ransel? Di mana ranselmu?" Tanya Emma sambil berjongkok, mendapati bahu Niko yang gemetar dalam semi kegelapan.


"Kamu sudah makan belum? Akan kumasakan, apa kamu mau?" Emma tak mendapat jawaban. "Aku masak sekarang, ya?" Dia menyelimuti Niko karena dia pikir Niko gemetaran kalau tidak kedinginan ya kelaparan.


Lima belas menit kemudian, Emma kembali membawa makanan dan pria itu masih meringkuk menghadap bagian bawah tempat tidur. Dia menarik selimut dan menyentuh kening Niko yang berkeringat dingin, tetapi tidak demam. Ditariknya bahu itu hingga kini Niko terlentang dan mata itu terbuka menatap ke atas tampak kesakitan.


"Kamu membuatku takut."


"Tanganku kotor," suara Niko sangat pelan hingga Emma mendekatkan telinga dengan jarak sekilan.


"Cuci tanganmu. Ayo ke kamar mandi." Emma memapah Niko ke kamar mandi dan mendudukan di bathtub. Mata wanita itu terkejut melihat kulit kesepuluh tangan Niko yang melepuh, menggelembung dan ada yang mengerut, pantas seperti ada bau daging matang. "Niko!"


Wanita itu menyalakan kran air dingin, memajukan shower dan menyiram di tangan Niko yang kemerahan dan nyaris kulit itu menghitam.


"Jangan panggil dokter," rintih Niko nyaris tak terdengar.


Kini Emma tahu apa yang membuat lelaki itu gemetar, bahkan mulut pria itu terkatub rapat. "Apa kau begitu bodoh sekali? Kenapa menahannya , kamu pasti sakit!" Emma menghela napas kasar. "Itu sebenarnya apa, ceritakan padaku? Biar aku tahu obatnya!"


Niko menggelengkan kepala dengan gelisah.


"Aku akan telepon temanku, aku janji tidak akan ada yang tahu. Tunggu."


Niko tak bisa fokus dan mencerna apa kata Emma, dia berkutat pada sakit dijarinya. Tampak Emma kembali dan berbicara video call dengan temannya yang terdengar bangun dari tidur. Emma mengarahkan kamera ke tangan Niko.


Setelah dipaksa Emma, akhirnya Niko mengakui kandungan zat kimia yang mengenai jari Niko. Lima belas menit kemudian, teman pria Emma datang dan membawa koper.


Kesepuluh jari Niko telah dibalut kasa, teman pria Emma diam-diam menyuntikan obat penenang agar Niko beristirahat. Sementara Emma terlihat perdebatan alot dengan sang teman pria yang adalah petugas laboratorium.


Tiga hari berlalu, Niko begitu lemas dan berada di kamar Emma. Wanita itu bersyukur karena Paolo masih diluar kota!


Saat tenaga Niko mulai pulih, pria itu pergi ke kamar Paolo dan mengambil tambang milik Paolo untuk ke kamar David. Pagi seperti ini, kemungkinan besar David bekerja.


Masuk ke dalam kamar David, Niko mengehela napas lega saat mendapati botol rum masih utuh. Dia mengambil itu dan pada saat yang sama mendengar pintu berderit terbuka.

__ADS_1


__ADS_2