
"Apapun masalah kalian. Tidak baik kamu mengumbar kemesraanmu di tempat umum dengan perempuan yang bukan tunanganmu. Terlebih perempuan yang sudah menjalin hubungan."
"Aku akan membatalkan pertunangan dengan Shinta," kata David dengan sangat tenang pada Kakeknya. Dia duduk berhadapan di sofa, di rumah kakek yang tidak jauh dari hotel milik ayah.
"Jaga sikapmu itu di tempat umum, apa kamu mau publik menyerangmu balik. Mereka akan menuduhmu sebagai pihak yang bersalah di sini."
"Ini hidupku dan aku tak peduli dengan publik, Kakek." Tangan David terkepal di pangkuan.
"Tidak ada yang boleh mencoreng nama baik keluarga Xavero," imbuh Leora dengan melinting kertas warna-warni di tangannya
"Perselingkuhan masalah kecil. Semua bisa diatur dan kembali ke tempat semula," imbuh Leora. Dia melempar kertas lipat, berbentuk bintang ke dalam vas kaca yang di atas meja marmer lonjong.
David tersenyum masam seperti habis makan buah Lemon. "Kecil?"
"Kalau begitu Shinta akan kunikahkan dengan Tara," ujar Leora mengambil kertas persegi dengan warna berbeda.
"Aku tak peduli, Kakek," suara David bergetar dan menatap protes ke mata tajam milik sang kakek.
"Yakin?"
David terguncang dan kepalanya langsung tertunduk hingga merintih tak bersuara. "Dia melakukan hal yang tidak pantas, yang dilakukan dengan pria lain," suara David tercekik.
"Kurang apa aku, Kek?" David tak kuasa menahan air matanya hingga dia menyembunyikan muka ke sandaran sofa, dengan memeluk kepalanya.
"Aku menyayanginya, tetapi dia membuatku," pekik David tak mampu meneruskan kata-kata.
"Kecewa," cebiknya lagi.
"Aku hanya bertanya padamu, David Leora. Kau bisa menerima? setelah kau memutuskan pertunangan maka Shinta akan kunikahkan segera dengan Tara?"
"Jangan! itu terlalu menyakitiku, kek. Apa kakek membiarkan mereka bahagia di atas penderitaan ku?"
"Jika begitu, kamu cepat nikahi Shinta." Leora melempar kertas lipat ke kepala David.
"Tidak akan," suara David makin tercekik, ada sesuatu jatuh ke kerah di tengkuknya. Itu pasti ulah kakek.
"Kau harus memilih salah satunya. Kau bisa membenci Shinta, tetapi ingat David, kau keturunanku yang sangat beradab. Keluarga ningrat yang tidak mengijinkan adanya kekeliruan. Jika kamu tak mau menikahi Shinta, lepaskan dia."
"Tidak." Bom dalam diri David meledak. "Aku akan membuat mereka mendatangiku dengan berdarah-darah. Aku takkan memaafkan mereka selama aku hidup!" David erbayang perbuatan hina mereka, dan itu sangat menguras tenaga.
"Kau pendendam, David. Dendam akan membakarmu sendiri dari dalam. Kau hidup untuk dendam bukan untuk dirimu sendiri. Katakan Shinta bukan jodohmu, maka kau akan bisa menemukan perempuan lain. Namun, dia datang bersamamu ke sini, kau membawanya. Bertanggungjawab lah dan bawa dia pulang dengan selamat ke orangtuanya."
"Kakek, sekuat apa pun kakek akam melindungi Shinta ke depan. Aku sendiri yang akan membuat dia menderita, tak peduli jika kakek mencoretku dari daftar ahli waris. Aku benar-benar tak peduli."
Leora menggertakkan gigi gemas. Dia membanting vas kaca menggunakan tongkat kayu hingga pecahan kaca bertebaran dan bercampur tak beraturan dengan oregami di lantai marmer. "Tidak ada pendendam dalam keluarga kami, David!"
"Aku mencintai Shinta sangat dalam! Apa balasannya? wanita itu bersemangat saat bercinta dengan Tara dan menjadikanku bahan tawaan. Mereka merendahkan 'ku ditengah perbuatan mereka yang tidak terpuji!
Aku melihatnya sendiri. Coba tanyakan pada mereka? Mengapa harus melakukan di kamarku! bahkan juga di tempat umum. Itukah Shinta yang kakek sayangi. Pantas kah orang seperti itu masuk dan menjadi bagian keluarga Xavero?"
David tertawa getir dan menggosok air mata dengan punggung tangannya. "Mereka Sampah! Kenapa kakek kini lebih peduli dengan mereka?"
"Aku peduli padamu. Namun, kau itu harus tahu dan perhatikan kakakmu. Dia akan menduduki posisi dewan di emerintahan. Kau memutuskan pertunangan, lalu jika Tara dan Shinta menderita kebangkrutan, setelahnya. Sudah jelas ke mana mata publik tertuju?
__ADS_1
"Mereka melihatmu sebagai pendendam, lalu seluruh keluarga besar Xavero yang terkenal penuh cinta, terkena dampak gara-gara kamu. Kami yang menjaga nama itu selama bertahun-tahun. Kami takkan membiarkanmu merusaknya!"
"Ah, Ya Tuhan, Kakek? Tak kasihan sedikitpun pada David! Tidak ada yang peduli David di sini? Nah! kita lihat apa Mama dan Papa masih akan melihatku?" Kepala David sudah mau pecah. Dia melenggang pergi dengan putus asa.
Leora memandang punggung David yang bergetar. "DAVID, Kau harus tetap menikahinya! Mengalah untuk kakakmu!" Tangan Leora meringsek kertas di tangannya, dan panggilannya tak dihiraukan sang cucu yang sudah menghilang dibalik pintu.
...----------------...
Satu hal yang tidak akan pernah meninggalkan David, tidak peduli seberapa keras atau seberapa baik hidupnya. Alat-alat fitnessnya tidak akan pernah berbohong padanya. Itu satu hal yang akan selalu ada di sisinya dan memberi tahu bahwa 'selalu ada ruang untuk perbaikan' dalam hidup.
David menatap pergerakan kakinya di cermin, yang menutupi seluruh area dinding. Dia mencari tahu mengapa dia begitu patah hati, dengan harapan pertanyaan ini bisa membuat dia merasa lebih baik dari sebelumnya.
Satu hal yang akan bekerja sesuai keinginan. Dia mengatur latihan dan membuat dirinya dalam kesadaran utuh. Setiap tetes keringat yang keluar dari kulit mungkin membantunya mengatasi hal yang menyebabkan patah hati.
Latihan sakit fisik, seperti menjadi satu cara untuk melupakan apapun yang menyebabkan rasa sakit emosionalnya.
Menyiksa diri sendiri dengan rasa sakit, membuat dia melupakan alasan yang membuat dia bodoh mengurung diri di kamar yang sepi dan sekuat tenaga untuk tidak menangis.
David dapat melawan tantangan apa pun dalam hidupnya. Dia adalah pria yang tak pernah kehilangan harapan dan tidak pernah menyerah pada apa pun yang terjadi, tetapi untuk Shinta, dia tak berdaya.
Tidak ada perbaikan. Dia rasa dia tidak pernah sembuh dari patah hati, meskipun David berusaha untuk tidak sakit. Itu tidak kembali seperti semula. Sakit itu terus menjalar di beberapa tempat di dadanya.
Lebih buruk lagi, dia TAHU Shinta tidak layak. David tidak bisa menghentikan reaksinya sendiri. Dia belum pernah menjadi menyeramkan sebelumnya. Jadi, nalurinya adalah memikirkan setiap kesalahan kecil yang bisa dia lakukan diluar kendalinya pada Shinta.
David berlari di treat Mill dengan kecepatan 60 km/jam, dengan musik menggelegar di ruang fitness kedap suara. Itu terletak satu lantai di bawah kamarnya. Musik yang terus menggaungkan kata-kata motivasi, sedikit mengembalikan jati dirinya. Dia terus berikrar sambil berlari, tak peduli kaos tipis itu sudah basah kuyup.
"Kelimpahan di sekitarku. Aku siap untuk prospektif dan uang. Kelimpahan adalah uang. Pikiranku adalah kekuatanku. Terimakasih dunia aku bisa meraih semua tujuanku dan bisa fokus dengan itu.
Apa yang dibutuhkan ada di sekitarku. Aku mencintai hidupku. Uang dengan mudah datang padaku. Aku terbuka dengan hidupku. Aku lebih fokus menghasilkan uang, dan kehebatan lain.
Uang selalu di sekitarku.
Pemasukanku makin tinggi dan lebih tinggi. Kelimpahan disekitar ku. Limpahan cinta di sekitarku."
"Ini selalu tentang diri sendiri." Lena berusaha memecah pikirannya, berusaha sadar bahwa kebahagiaan tidak pernah didasarkan pada seseorang yang tinggal atau pergi. Dia mencoba memahami bahwa emosi itu seperti pengunjung, biarkan datang dan pergi. Jangan melekatkan diri pada perasaan. Perasaan itu pada akhirnya akan mengecewakannya.
"Terikat pada diri sendiri. Fokus pada diri sendiri. Kembangkan diri Anda. Ciptakan kembali dirimu. Semua akan berlalu, " kata Lena pada dirinya sendiri.
Dia akan melemparkan dirinya pada pesta kasihan.
Akan tetapi Lena tidak mengakui terluka, bahkan tidak mau memikirkan tentang 'Luka dan teman-temannya'. Kaki mungil itu melangkah, hanya perlu melangkah. Hanya cuci muka tak masalah, tak perlu mandi pagi, tak masalah. Apapun asal dia tetap bergerak.
Terpaku, Lena mematut dirinya di cermin, dan menemukan sorot matanya yang menyedihkan. Seharusnya, tidak seperti ini. Dia merasa seolah-olah baru bangun dari tidur panjang, yang kemudian menemukan seperti bukan dirinya. Dia berlatih tersenyum. Ini menjadi sangat aneh, karena itu terlihat sangat tidak tulus.
Lena berdeham dan mulai bersuara setenang mungkin, saat menjawab panggilan dari sang Kakak. "Pagi, Abang Sean."
"Pagi cantikku, apa kabar mu hari ini? Cie! yang lagi liburan ama ayang, sombong. Sudah tak ingat Abang rupanya?"
Lena menghela nafas panjang. "Kak, aku di luar, nanti aku telepon lagi."
"Wow! ada apa suaramu? Pagi-pagi sudah loyo. Belum makan?"
__ADS_1
"Sudahlah Abang, to the point." Lena protes karena nada bicara Abang yang lebay.
"Kaosku, Dek! sudah ditandatangani Messi belum?"
"Sepertinya hari ini, kak. Sudah dulu, ya."
"Dek, gimana kabar Niko?"
"Baik." Lena menggerutu. Dia yakin kakak sudah chat dengan Niko. Ah kenapa orang 'itu' lagi.
"Oh, yakin?"
"Sudahlah, kak. Aku sedang sibuk."
"Ketus amat, Dek! Kirimin foto kamu dan Niko naik unta. Ibu katanya pengen lihat foto Niko yang naik unta."
"Kakak!" sentak Lena. Hatinya yang tadi membeku, seolah meleleh dan kembali perih. Tidak, dia tidak mau terluka. "Jangan menyebut namanya lagi, kak," ucap Lena sangat datar.
"Kenapa, Dek? memang kalian berantem?" Sean terdengar datar. Lena meyakini laga-lagaknya kakak sudah tahu tahu ini semua, soalnya mereka sahabatan dari jaman SMA.
"Dek, kamu salah paham! Bicaralah dulu dengan Niko." Sean meyakinkan, tetapi perkataan kakaknya itu membuat Lena kecewa.
"Kami putus." Lena berbicara datar dan mematikan telepon, lalu mengelus dada kirinya yang perih.
"TIDAK APA-APA, Lena." Berulangkali Lena mengulangi kalimat yang ditujukan pada dirinya sendiri.
Lena memblokir nomer Niko, lalu menghapus itu dari buku kontak. Puluhan chat masuk dari pria itu tidak dibuka, melainkan langsung dihapusnya. Dia sangat tidak terima Niko menyebut namanya sebagai 'nama kucing' di depan perempuan bernama Marsha. Dia benar-benar merasa ditipu, pasti Abang belum tahu soal ini. "Jika tahu, apa reaksi Abang?"
Lena pergi ke Museum Islam seorang diri setelah absen. Sendiri memang tidak menyenangkan, tetapi ini hal terbaik menurutnya. Di dalam museum, Lena bertemu dengan Ika yang datang dengan bule. Dia pun diminta ikut Ika, dan menjadi obat nyamuk.
Benar-benar menyebalkan, Lena benar-benar menantikan untuk menerima sms David. Apa gunanya punya nomer telepon, tetapi tidak digunakan untuk menghubungi. Apa David tidak menemui ku? Huft.
Ika melirik Lena yang sedikit memisahkan diri di belakang sedang memandangi barang-barang kuno. Dia mengabari Axel hanya karena iseng dan kasihan melihat Lena yang uring-uringan. Dia kembali bercengkerama dengan Rafa-kekasihnya. Selepas dari museum, Ika di ajak pacarnya makan siang di sebuah restoran di Mall terbesar di Qatar. Awalnya Lena menolak, tetapi setelah dibisikin makan gratis, Lena pun langsung bersemangat.
Keluar dari Restoran, Lena berpapasan dengan David. Dia melirik pria itu yang tumben seperti tak mengenalinya, bahkan Axel juga tak menoleh padanya. "Aneh."
"Kenapa, Len?" tanya Ika dan menoleh ke belakang.
"Aku pulang saja, Ka. Aku ingin tidur siang.Terimakasih untuk makan siangnya, Kak Rafa." Lena pun melihat kepergian mereka, setelh Rafa juga mengucapkan terimakasih.
Lena masuk ke dalam restoran dan melihat sekitar. Dia bolak balik melihat ke dalam, tetapi orang kaya itu tidak terlihat. Dia berbalik dengan ragu, mulai meninggalkan restoran. Sebelumnya, dia berpikir David, datang untuknya. Ternyata bukan,dia jadi merasa sebal .
"David, mau bertemu siapa? Dia tidak melihatku? aneh sekali orang papasan di pintu, masa nggak lihat. Memang mata mereka rabun? Tidak mungkin kan David akan melupakanku, setelah tawarannya kemarin?"
Tiga haripun berlalu ...
Lena tidak kunjung mendapat kabar dari David. Dia sudah tahu pada akhirnya akan seperti ini. Namun, dia tidak menyerah.
Tak peduli apa kata dunia, perempuan itu mendatangi hotel David dan menunggu di lobi. David adalah teman yang sangat baik untuk saat ini. Plus makanan enak gratis, karena dia sangat suka makan.
Sampai David datang, tetapi datangnya dari luar hotel bersama dua perempuan muda, yang memeluk lengan David. Pria itu mengabaikan Lena, padahal gadis itu sudah mengirimi pesan ke David terlebih dulu. Memang si, Lena tak mendapat balasan, tetapi Lena memiliki sedikit keyakinan bahwa David masih mau untuk bertemu.
"Dav," serak Lena. Dia mengikuti ke arah lift khusus. Mengapa David digelayuti cewek, dia jadi ilfeel. Namun, kaki Lena masih mengikuti dan masuk ke lift dan memandangi David. Pria itu menatapnya dengan tatapan tak bisa ditebak, tetapi juga tak mengusirnya.
__ADS_1
...----------------...