
Bilqis menyunggingkan senyuman dan menarik tangan Shinta yang tak mau beranjak dari memandangi keuwuan sang sang putra. "Katanya mau bantu Tante di dapur? Ayo, bantu cuci piring. Biarkan mereka bersama Shinta. Kamu juga perlu bahagia seperti mereka dengan Tara."
Shinta mengerucutkan bibir. Dia kesini bukan untuk jadi tukang cuci, padahal di rumah tidak pernah mencuci. Lagipula kemana pembantu rumah ini. Terpaksa Shinta mau menuruti mencuci piring, dengan diajarin oleh tante Bilqis. Bahkan dia memecahkan dua piring karena piring kaca itu begitu licin terkena sabun.
Begitu pekerjaan melelahkan itu selesai, Shinta mencari David, tetapi tidak ada di rumah dan mobil mewah itu pun telah hilang dari halaman. Shinta menelpon ponsel David, tetapi tidak aktif. "Kamu benar-benar, aku datang kesini buat kamu dan kamu pergi dengan Lena!"
Sesampai di Stadion Lena tersenyum dengan sangat manis dan kembali berinisiatif memagut bibir manis David lebih dulu sebelum keluar dari mobil. Rasa mint itu sangat membuatnya ketagihan. "I Miss you, Mas Sayang."
"I Miss you to, Na Sayang." David bersemangat keluar dari mobil, lalu mengulurkan tangannya saat Lena akan keluar dari mobil. Dia terus memeluk pinggang Lena dan berjalan sangat pelan saat mengimbangi langkah yang sangat mungil.
Sesampai di gerbang khusus Volunter, kening berponi dikecup dengan kelembutan. Tangan kekar melambaikan gerakan perpisahan sebelum Lena hilang di balik gerbang. Hatinya menghangat, dia sama sekali tak terusik oleh Shinta di rumah tadi. Toh, dia tak melakukan hal buruk pada Shinta. Namun, dia sebaiknya mencari tahu siapa gadis semalam, dan mungkin akan meminta maaf.
⚓
Sore ketika langit berwarna oranye, dan sorot matahari begitu menyilaukan di pintu masuk Stadion, Marco membawa sang mantan yang penduduk lokal untuk menonton bola. Matanya tak berkedip pada si pemeriksa tiket dengan tidak percaya. Oh dia jadi berpikiran kotor, seketika miliknya dalam mode on membuat celananya sesak teringat pada racauan dan kenikmatan semalam.
"Ana, kamu masuk lebih dulu." Marco memberikan selembar tiket yang sudah dibelinya untuk sang mantan. Dia memang jauh-jauh ke negara ini untuk bertemu dengan Ana-mantan kekasihnya. "Aku mau telepon Kakek Leora dulu."
"Huh! jangan lama-lama."Ana maju lebih dulu. Dadanya panas hanya mendengar nama Leora. Gara-gara kakek tua itu merendahkan martabat kedua orangtuanya, hubungan dengan Marco kandas karena tak mendapat restu orang tua. Sampai dia harus merelakan Marco menikah dengan perempuan dari Italia, padahal saat itu Marco masih mencintainya.
Ana pun sampai sekarang masih melajang, karena dia masih trauma untuk menjalin hubungan, atau mungkin dia masih memiliki perasaan pada Marco. Hubungan Marco yang sedang berantakan dengan sang istri, seperti angin segar baginya. Apalagi Marco langsung terbang ke Qatar saat dia bercanda mengajak Marco untuk menonton bola.
Sebuah tiket baru diulurkan jemari panjang. Lena membaca tiket VIP yang harganya 25 juta. Lagi-lagi orang kaya, kenapa mereka mau membuang-buang uang untuk satu kursi!
__ADS_1
Suara jepretan foto membuat Lena mendongak pada pria yang tinggi menjulang. Dia melongo saat pria itu tahu-tahu di samping, dan saat Lena menoleh ke depan, jepretan kembali dilakukan. Memang ini bukan pertama kali para penggemar minta foto bareng volunter, tetapi mereka biasanya minta ijin lebih dulu.
"Siapa nama Anda?" Marco terus menyunggingkan senyuman saat melirik ke hasil jepretan. Dia masih terkesiap pada tatapan netra hazel yang bingung, itu seperti magnet baginya. "Dari mana asalmu?"
"Nama saya Lena dan saya dari Bali, Sir." Lena kembali mengurus tiket dan menandainya. Dia kembali menyerahkan tiket pada pria dengan tatapan netra coklat yang sangat lapar dan sangat dalam, yang membuat tidak nyaman. Apa sih? apa ada yang aneh dan salah di wajahku?
"Marco! panggil aku Marco saja!" Marco mengedipkan satu mata dengan menggoda. Mata hazel gadis itu sempat berkedut, atau pura-pura terkejut. Padahal semalam meracau begitu hebatnya.
Buku kuduk Lena meremang, lagi-lagi pria mata keranjang. Lena berusaha tersenyum wajar sekaligus ngeri dan menghindari tatapan netra coklat. Lena mengerutkan kening saat pria itu menyodorkan ponsel.
"Bisa minta nomermu, Amora ?
"Maaf, tanpa bermaksud menyinggung, saya tidak bebas memberikan nomor saya pada sembarang orang." Lena menelan Saliva kasar dan bulu kuduknya meremang saat bahasa Italia yang artinya cinta di ucapkan dengan nada nakal oleh pria itu. Apalagi disertai senyuman nakal. Dia ternganga saat pria itu membungkuk dan berbisik di telinganya.
Bagai disambar petir, lutut Lena langsung lemas dan gemetaran. Gelombang dingin mulai menjalar dari ujung telapak kaki sampai naik keatas ke kepalanya hingga dia nyaris pingsan jika tidak berpegangan pada Ika yang baru memeganginya. Dia mendadak mual dan menatap ngeri pada mata coklat, lalu berkedip pelan.
Otaknya terpicu dan ingatannya mendadak muncul pada pria yang dilihatnya di bar semalam. Dia mendongak dan benar tinggi yang sama saat dia meminum es teh yang rasanya aneh sedikit pahit seperti bersoda. Tubuhnya gemetar hebat pada bibir pria itu yang tersenyum licik.
Marco menyeringai saat mata perempuan itu membulat dengan wajah pucat pasi seperti melihat hantu. Dia kira akting gadis ini sangat profesional. Sungguh dengan keahlian itu pasti banyak lelaki bertekuk lutut di bawah jeratan busuknya. Pura-pura polos di luar dan buas di ranjang. Marco mengecup udara dengan tatapan redup dan wanita itu makin membelalakkan mata, dia yakin wanita itu teringat kecupan liar semalaman.
Marco masuk dan menscan barcode. Hatinya berdebar kencang saat badannya tiba-tiba jadi sangat panas pada ekpresi seksi barusan.Oh sungguh gila. Aku jadi ingin merasakannya lagi.
"Len, kenapa? dia mengganggumu?" Ika menepuk Lena beberapakali. Namun, temannya itu menggelengkan kepala dengan gelengan nyaris tak terlihat. "Kamu sakit? kenapa pucat sekali? Loh malah menangis? Kenapa, Len?
__ADS_1
Ika membawa Lena ke ruang kesehatan dan memeriksa kondisi Lena yang kata dokter temannya itu hanya shock, mungkin mendengar sesuatu besar yang sangat mengucang. Ika tidur miring di samping Lena di ranjang pasien, dia mengusap wajah Lena.
"Katakan Len, kenapa? Semalam saat aku balik kamu sudah nggak ada. Kata keamanan mess, kamu tak pulang. Sebenarnya kamu semalam kemana? Siapa pria tadi, aku tahu tatapan int1m itu apa dia mengetahui rahasiamu lalu mengancammu? Ceritakan atau aku akan laporkan sikap anehmu pada David!"
Isakkan Lena makin menjadi dan pandangannya kosong pada langit-langit ruangan. Lena teringat tadi pagi di kos, dia menemukan noda aneh dijaket bagian dalam dan berbau pandan. Lena menggelengkan kepala dan Ika menahan kepalanya sambil terus menghapus lelehan airmatanya yang hangat dan menyebar ke pipi dan pelipisya.
"Aku diperkos4, Ika. Seseorang membawaku ke hotel dan membuatku tak memakai apapun. Milikku sangat perih, dan pria tadi aku TIDAK tahu kenapa dia berkata kotor padaku. Dia semalam sempat diberdiri di sampingku.
Tubuhku terasa sangat ringan dan pandanganku kabur, semakin lama aku sangat mengantuk. Pokoknya, aku cuma ingat yang terakhir sedang bersandar di meja bar. Sepertinya dia yang mengirim fotoku di bar, ke nomor Niko. Lalu Niko pagi-pagi datang ke mes dan menyuruhku memutuskan David atau melaporkan aku pada orang tuaku menggunakan foto itu.
Aku apes banged, Ika. Sekarang aku tak tahu cara menceritakan itu ke David. David pasti akan marah dan meninggalkanku. Aku taku mau itu terjadi, tetapi aku takut membohongi pasanganku. Aku harus apa ya Tuhan!!"
Ika gemetar mendengar suara serak Lena. Tubuh Lena yang gemetar memeluknya membuat pikiran Ika seketika gelap. Semalam dia dicekoki minuman oleh teman-teman Rafa sampai tak sadar jika Rafa membawanya keluar untuk menghirup udara segar dan saat dia kembali Lena tak ada, si4lnya hp milik Ika mati.
Sementara Rafa tidak memiliki nomer Lena. Rafa menyuruh Ika agar tenang dan berkata bahwa Lena sudah besar jadi akan bisa menjaga diri sendiri. Ika pun memutuskan mempercayai Rafa dan pulang ke apartemen milik Rafa sampai tadi pagi. Saat Ika bertanya pada Lena, sahabatnya tampak baik-baik saja dan bilang sudah pulang dari semalam, nyatanya Lena berbohong karena berusaha menyembunyikan hal mengerikan sendirian.
Jika David tahu dia yang membawa Lena, sumpah demi apa David bisa m3mbunuhnya. Ika ingat betul saat perkelahian David dan Niko di depan kamarnya, dia mengintip sampai kepergian David. Dari tatapan David pada Lena itu, Ika tahu perasaan David bukanlah hubungan main-main.
"Kamu harus menyembunyikan ini dari David, Lena," pinta Ika dengan menelan Saliva kentalnya. Jangan sampai David murka padanya karena ini.
"Aku tak bisa membohongi pasanganku, Shinta." Lena makin tenggelam di ceruk leher Ika. "Aku takut David meninggalkanku. Aku tak bisa jauh darinya. Tetapi pria tadi jauh lebih mengerikan dari pada David."
__ADS_1