Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
TANGAN TERPUTUS


__ADS_3

Ledakan besar menggema dan menggetarkan jiwa. Dinding besi bergemuruh. Sean keluar dari kamar dan memanjat tangga dengan cepat untuk mencari tahu. Ledakan kedua lebih besar menggema, memecahkan kaca jendela. Pegangan Sean terlepas dari tangga, karena daya ledakan yang besar, hingga dia jatuh menimpa seorang kru di bawah.


Lampu seketika padam, dan secerca cahaya yang berasal dari jendela membuat orang-orang bisa melihat jalur tangga. Suara teriakan orang, menyuruh semua orang keluar. Kerasnya ledakan membuat Lena terkejut hingga membuatnya tersadar dan bingung karena terdengar teriakan orang-orang penuh kepanikan.


Sean yang terkilir di tangan, sudah berada di geladak kapal, lalu menurunkan tandu ke bawah, dimana David membaringkan Lena di tandu. Tandu itu ditarik oleh Sean dan kru, menggunakan tali, dimana David masih memegangi tandu dari bawah agar tandu itu tidak memeluntir.


Semua orang berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. David kembali menggendong Lena di depan, dia berlari saat melihat besarnya asap hitam yang membumbung ke langit. Api berkobar meluap-luap di geladak bagian depan dan terasa sangat panas.


"Kalian turun!" Paolo menodongkan moncong senapan untuk merebut sebuah sekoci dari kru kapal. Kemudian David menggendong Lena, lalu duduk di sekoci. Para kru kapal langsung terjun ke laut menggunakan pelampung, sehingga tidak ada orang yang akan menurunkan sekoci.


Kapten yang baru keluar dari anjungan melihat kesulitan penyusup tadi, lalu membantu melepas tali sekoci dari pinggiran kapal, mengabaikan suhu udara panas yang membuat keringatnya mulai bercucuran.


"Sean cepat naik!" Paolo menunjuk sekoci yang dinaiki David dan Lena. "Ini berbahaya bisa ada ledakan lain!"


"Tidak!" Sean menggelengkan kepala dan menolak, dia bertekad untuk menyelamatkan adiknya lebih dulu.


"Cepat! Kita tidak punya waktu! Kau itu tidak tahu teknik terjun yang aman, yang ada tubuhmu nanti lumpuh, lalu kau kesulitan menjaga Lena," bentak David.


"Sudah! Jangan keras kepala!" Paolo mendorong tubuh Sean ke sekoci.


Jantung Sean berdebar melihat kobaran api, yang berasal dari sekitar kontainer, dimana tempat tadi menyekap Lena. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya menetes saat melihat rambut Lena yang kusut dan mata bengkak. Pasti adiknya terus menangis. Dek, apa jadinya kalau Abang terlambat sedikit saja ?


Paolo dan kapten terjun ke laut bersamaan, lalu berenang mengarungi ombak dan naik ke sekoci. Tiga pria itu mendayung dan segera menjauhkan sekoci dari kapal. Kontainer-kontainer yang terapung dilewatinya.

__ADS_1


Ledakan besar kembali terjadi, Api membumbung tinggi dan meluap-luap. Lusinan kontainer terlempar ke laut, menciptakan medan puing-puing yang berjatuhan. Mereka semua mendongak dan sontak keluar dari sekoci karena satu kontainer melayang di atasnya dan menjadi gelap di atas mereka.


"Awas, menjauh!" Paolo berteriak. Dia menyelam ke dalam air dan mencari permukaan kemudian saat tekanan begitu kuat do sekitarnya disertai gelembung udara dalam air. Paolo menyesuaikan pandangannya yang gelap dan perih di dalam air laut. Tangannya terus bergerak mencari permukaan yang terhalang oleh kontainer.


David menarik tubuh Lena ke permukaan dengan mudah, istrinya itu mangap-mangap dengan mata terbuka. David langsung mengelap wajah Lena yang bersandar di bahunya. Kemudian lelaki itu meraup wajahnya sendiri sambil mengambil napas dalam-dalam. Tampak Paolo muncul dari ujung kontainer. Dia melihat sekitar dan berputar melihat sekitar. "Sean mana?"


Dengan sekuat tenaga Paolo menyelam lebih dalam, mengitari sekoci yang tersangkut di bawah kontainer. Dia menemukan kaki Sean yang tersangkut di tali dan tampak Sean berusaha melepas tali dengan tangan kiri. Paolo menarik pisau dari tempat pisau di kaki, lalu menggorok sebuah tali yang terjepit diantara container dan sekoci.


Paolo langsung membawa tubuh Sean yang mulai tak sadarkan diri, dan berenang ke permukaan, ke arah cahaya. Jantungnya berdebar kuat, dia berkejaran dengan waktu karena kondisi tangan kanan Sean yang terputus.


Di permukaan, David megoper tubuh Lena pada tim penolong yang baru turun dari helikopter. Sementara saat David akan menyelam ke bawah, tampak Paolo membawa Sean, di mana air menjadi keruh di sekitar Sean. Mata David membelalak begitu mendapati tangan Sean tinggal sesikut dan berlumuran darah. Bahkan David memerlukan waktu untuk mencerna, saat Paolo memberikan tubuh Sean ke dadanya.


"Dia harus cepat naik ke atas!" teriak David. Dia mendongak pada tim penolong yang baru sampai di helikopter.


Dengan cekatan Paolo sudah melepas kaos hitam berlengan panjang, lalu menggubet sikut kanan Sean. Wajah Sean tampak begitu pucat dengan mulut membiru.


Sementara David dan Paolo naik ke kapal, yang dikirimkan Axel. Sebelum pergi, Paolo berbicara pada tim penolong bahwa ,sebelumnya dia bersama nahkoda kapal, tetapi belum melihat kapten. Angkatan Laut Italia mulai berdatangan dan berpapasan dengan kapal yang dikendarai David.


Lena dengan setengah sadar, mendengar suara berisik, matanya terbuka dan mendapati seorang duduk di sampingnya. Dia menoleh ke kiri pada Sang Kakak yang terpejam. "Kak? Kakak!"



Dirumah sakit, Lena duduk dengan memeluk dada David. Air matanya telah mengering, pikirannya melamun, memikirkan sungguh malang nasib sang kakak, dia tak ingin mengeluh dan terus berdoa demi keselamatan dan kesuksesan operasi sang kakak. Dia masih belum bisa mencerna situasinya kenapa semua itu terjadi, yang dia tahu tangan kakaknya terputus.

__ADS_1


David mengelus rambut Lena. "Kita mau kabari bapak- ibu atau tidak? Atau kita jemput saja mereka dulu, baru kita beritahukan di sini?"


"Mas, aku takut Bapak darah tingginya kambuh. Jadi, aku setuju. Bapak dan Ibu dijemput dulu, dan kita beritahu mereka disini," suara Lena parau. Tenaganya entah hilang kemana dan dirinya begitu sedih.


Axel melirik ponsel nyonya yang berdering, dia mendapati nomer Niko. Ponsel milik nyonya, diperiksanya atas perintah tuan. Dia langsung melapor dengan segera, bahwa Niko akan terbang ke Italia.


"Pelik-pelik," gumam Axel, tak tahu apa jadinya jika si Niko itu tahu kondisi Sean. Sejujurnya, dia malas berurusan dengan orang sekuat Niko.


Walau dari segala sisi, Niko dapat dengan mudah untuk disudutkan, tetapi mental pemuda itu begitu kuat. Terkadang Tuannya juga mengeluh pada mental yang dimiliki Niko yang pantang menyerah. Karena modal kekuatan mental, keberanian dan teknik tarung yang bagus, pria itu menjadi sulit diserang.



Sebulan sejak keluar dari rumah sakit, Sean mengurung diri di kamar. Pria itu hanya memandang ke luar jendela, dan tak berbicara pada siapapun. Bapak dan Ibu yang sempat syok dengan kondisi tubuh Sean yang cacat, terus berusaha memberikan semangat.


Sean menjadi sangat sensitif terutama pada David. David pun harus ke Swiss, dia mengajak Lena menemaninya. Sementara Axel menuruti kemauan sang tuan.


Sean melirik ke arah pintu yang baru dibuka oleh Axel, matanya terpaku,dadanya bergetar saat melihat Niko berdiri di ambang pintu. Sean langsung berlari. "Nikooo!" Begitupun Niko yang sempat mematung dan melempar tatapan aneh pada tangannya yang cacat.


Sean menumpahkan tangisan pilunya di bahu Niko. Hanya sahabatnya yang akan tahu bagaimana perasaannya dari luar dalam. "Kau di sini?"


"Sean," panggil Niko bergetar dan matanya mulai mengembun. Dia mengelus punggung Sean dengan hati-hati. "Aku datang untuk mu. Mengapa kau kurus gini, tinggal tulang? Kau semakin kerempeng!"


"SH**it! Sahabat seperti apa kau? Seharusnya katakan yang baik-baik." Sean dengan suara parau sambil memukul pelan punggung Niko.

__ADS_1


Niko tertawa dengan penuh kegetiran, menyembunyikan rasa tidak teganya yang menyentuh sampai ke ulu hati. Bagaimana kau akan hidup ke depan hanya menggunakan tangan kiri? Apa kau siap menghadapi cibiran dunia yang keras ini, seperti ini?


Niko pun kesulitan menghibur Sean, dia hanya membantu menemani sahabatnya di masa-masa tersulit.


__ADS_2